Feeds:
Tulisan
Komentar

Pendahuluan Ushul Fiqih

A. Resume Pendahuluan dari Buku “Membangun Metodologi Ushul Fiqh: Telaah Konsep Al-Nadb & Al-Karahah dalam Istimbath Hukum Islam”
Penulis: Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, MA.
I. DEFINISI HUKUM SYAR’IE DAN PEMBAGIANNYA
Arti al-Hukm Secara Bahasa
 al-hukm berarti al-hikmah (bijaksana)
 al-hukm berarti al-‘ilm dan al-fiqh, yakni pengetahuan dan pemahaman
 al-hukm berarti al-man’u (mencegah), mencegah dari kelaliman
 al-hukm berarti al-qadlau bi al-‘adl (putusan secara adil), bentuk pluralnya adalah ahkam.
Makna Epistemologi al-Syar’u
Secara epistemologis, lafadz al-syar’u dan al-syariatu mempunyai arti yang sama, yaitu apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi para hamba-Nya yang berbentuk ketetapan-ketetapan serta aturan-aturan.
Al-Hukm al-Syar’ie
Menurut Ulama ushul fiqh, terminologi al-hukm al-syar’ie adalah khitab Allah yang berhubungan dengan tingkah laku para mukallaf (almuta’allaqu bi af’ali al-mukallifin) mengenai suatu permintaan (al-iqtidha), atau pilihan (al-takhyir) atau al-wadh’u.
Penjabaran definisi
Al-Khithab digunakan untuk perkataan yang dapat digunakan untuk memberikan pemahaman, baik pemahaman melalui aksi (amal) atau tidak
Almuta’allaqu bi af’ali al-mukallifin berarti terikat dengan tingkah laku mukallaf dengan format menerangkan sifat af’al karena diminta untuk dilaksanakan seperti shalat, puasa, dan haji dan yang lainnya atau diminta untuk ditinggalkan seperti zina, membunuh atau karena dibolehkan seperti makan dan minum.
Al-iqtidla’ berarti permintaan untuk mengerjakan sesuatu atau meninggalkan sesuatu, secara pasti dan merupakan suatu keharusan. Maka al-iqtidla ini memuat empat macam yaitu al-ijab dan an-nadb yaitu jika permintaan untuk mengerjakan sesuatu tersebut secara pasti atau tidak, serta al-Tahrim dan al-karahah jika permintaan untuk meninggalkan sesuatu tersebut secara pasti atau tidak.
At-takhyir adalah penyamaran antara pelaksanaan sesuatu atau meninggalkan tanpa ada prioritas pada salah satu di antara keduanya.
Al-Wadl’u berarti ketetapan pembuat hukum, bahwa sesuatu akan menjadi sebab terjadinya sesuatu yang lain, atau menjadi syarat dalam sesuatu yang lain, atau menjadi pencegah pelaksanaan sesuatu yang lain.
II. PEMBAGIAN HUKUM SYAR”IE
Ada tiga macam hukum syar’i: iqtidzaiy, takhyiry, dan wadz’iy. Banyak juga ahli ushul fiqh yang memasukkan hukum al-takhyiry dalam al-hukm al-iqtidzaiy, menjadikan sebagai satu term yang disebut dengan al-hukm al-taklify. Menurut kelompok ini hukum syara’ terbagi menjadi dua: taklify dan wadl’iy.
Al-hukm al-taklify adalah yang melazimkan permintaan untuk mengerjakan, meninggalkan atau memilih antara mengerjakan dan meninggalkannya. Hukum taklify ini terbagi menjadi lima bagian:
 al-ijab, permintaan untuk mengerjakan sesuatu, secara pasti dan mengikat (al-ilzam dan al-tahtim)
 al-tahrim, permintaan untuk meninggalkan suatu pekerjaan secara pasti dan mengikat (al-ilzam dan al-tahtim)
 al-nadb, permintaan untuk mengerjakan sesuatu secara tidak pasti dan tidak mengikat
 al-karahah, permintaan untuk meninggalkan sesuatu secara tidak pasti dan tidak mengikat
 al-ibahah, permintaan untuk memilih di antara mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya.
Al-hukm al-wadl’i adalah khitab yang menerangkan bahwa sesuatu perkara berkaitan erat dengan perkara yang lain, baik menjadi sebab terjadinya sesuatu atau menjadi syarat di dalam perkara lain, atau menjadi pencegah dari perkara yang lain. Sejatinya hukum itu ada jika terdapat sebab yang mengadakannya atau jika terdapat syarat-syarat di dalamnya, dan hukum itu menjadi tidak ada jika terdapat pencegah terjadinya hukum itu atau tidak adanya sebab dan syarat.
Perbedaan hakikat antara hukum wadl’i dan hukum taklifi adalah bahwasanya hukum dalam khitab wadl’i merupakan ketentuan syara’ dalam mensifati hukum tersebut sebagai sebab, atau syarat atau pencegah, sedangkan khitab taklif untuk meminta dikerjakannya apa yang telah ditetapkan melalui sebab, syarat, ataupun pencegah.
Sedangkan perbedaan dari sisi hukumnya adalah bahwa khitab taklif ini mensyaratkan pemahaman mukallaf dan kemampuannya untuk menunaikan suatu perintah, dan juga bahwa dalam khitab taklif ini mukallaf akan dibalas sesuai dengan apa yang ia laksanakan, seperti shalat, puasa dan haji, sedangkan khitab wadl’i tidak disyaratkan apa-apa darinya kecuali beberapa hal, yaitu:
 Sebab-sebab yang merupakan sebab dikenakannya hukuman (‘uqubat) yaitu jinayah seperti pembunuhan yang menyebabkan qishash.
 Perpindahan harta, seperti jual beli, hibah, wasiat, dan yang lainnya.

B. Resume Pendahuluan dari Buku “Ushul Fiqh Jilid I”
Penulis: H. Amir Syarifuddin
I. PENGERTIAN SYARI’AH, FIQH DAN HUKUM ISLAM
Menurut para ahli, definisi Syari’ah adalah segala titah Allah yang berhubungan dengan tingkah laku manusia di luar yang mengenai akhlak. Sedangkan Fiqh berarti ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliah yang digali dan ditemukan dari dalil-dalil yang tafsili. Adapun Hukum Islam berarti seperangkat peraturan berdasarkan wahyu Allah dan sunnah Rasul tentang tingkah laku manusia mukallaf yang diakui dan diyakini mengikat untuk semua yang beragama Islam.
II. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN FIQH
Fiqh pada Masa Nabi saw. (masa pembinaan Fiqh)
Telah dijelaskan bahwa pengertian fiqih adalah hasil penalaran seseorang yang berkualitas mujtahid atas hukum Allah atau hukum-hukum amaliah yang dihasilkan dari dalil-dalilnya melalui penalaran atau ijtihad. Apabila penjelasan dari Nabi yang berbentuk Sunnah itu merupakan hasil penalaran atas ayat-ayat hukum, maka apa yang dikemukakan Nabi itu dapat disebut fiqh atau lebih tepat disebut “Fiqh Sunnah”.
Sebenarnya masih ada perbedaan pendapat para Ulama mengenai kebolehan atau kemungkinan Nabi berijtihad. Dalam kenyataan, memang beliau pernah berijtihad untuk memahami dan menjalankan wahyu Allah dalam hal-hal yang memerlukan penjelasan dari Nabi yang sebagiannya dibimbing wahyu. Dalam hal-hal yang tidak mendapat koreksi dari Allah, maka hal itu muncul sebagai Sunnah Nabi yang wajib ditaati. Dengan demikian, sebagian Sunnah Nabi adalah berdasarkan pada ijtihadnya.
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa fiqh sudah mulai ada semenjak Nabi masih hidup dengan pola yang sederhana sesuai dengan kesederhanaan kondisi masyarakat Arab yang menjalankan fiqih pada waktu itu.
Fiqh pada Masa Sahabat (masa pengembangan Fiqh)
Ada tiga hal pokok yang berkembang waktu itu sehubungan dengan hukum,
 Banyak muncul kejadian baru yang membutuhkan jawaban hukum yang secara lahiriah tidak dapat ditemukan jawabannya dalam al-Qur’an maupun Sunnah Nabi. Untuk itu, para sahabat mencoba mencari jawabannya dengan pamahaman lafadz (mafhum) dan pemahaman alasan atau ‘illat suatu kasus baru yang dihubungkan kepada dalil nash yang memiliki ‘illat yang sama dengan kasus tersebut (qiyas).
 Timbul masalah-masalah yang secara lahir telah diatur ketentuan hukumnya dalam al-Qur’an maupun Sunnah Nabi, namun ketentuan itu dalam keadaan tertentu sulit untuk diterapkan dan menghendaki pemahaman baru agar relevan dengan perkembangan dan persoalan yang dihadapi.
 Dalam al-Qur’an ditemukan penjelasan terhadap suatu kejadian secara jelas dan terpisah. Bila hal tersebut berlaku dalam kejadian tertentu, para sahabat menemukan kesulitan dalam menerapkan dalil-dalil yang ada.
Dapat disimpulkan bahwa pada masa sahabat sumber yang digunakan dalam mermuskan fiqh adalah al-Qur’an, Sunnah, dan ijtihad yang terbatas pada qiyas dan ijma’ sahabat.
Fiqh pada Masa Imam Mujtahid
Terdapat dua kecenderungan dalam kadar penerimaan Sunnah dan ijtihad:
 Dalam menetapkan hasil ijtihad lebih banyak menggunakan hadits Nabi dibandingkan dengan menggunakan ijtihad. Kelompok ini biasa disebut “Ahlal Hadits” diantaranya adalah kelompok Madzhab Malikiyah. Kelompok ini banyak tinggal di wilayah Hijaz, khususnya Madinah.
 Dalam menetapkan hukum fiqh lebih banyak menggunakan sumber ra’yu atau ijtihad dari pada hadits. Kelompok ini disebut “Ahl al-Ra’yu” diantaranya adalah kelompok Madzhab Hanafiyah. Kelompok ini banyak terdapat di wilayah Irak, khususnya Kufah dan Basrah.
 Dalam menetapkan hukum fiqh seimbang dalam menggunakan hadits dan ijtihad. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Madzhab Syafi’iyah, Madzhab Hanabilah
 Dalam pemahaman ayat-ayat al-Qur’an lebih banyak berpedoman kepada zhahir lafadz dan menghindarkan diri dari membawa pemahamannya ke luar (di balik) lahir lafadz. Kelompok ini disebut Madzhab Zhahiriyah
Periode ini ditandai oleh beberapa kegiatan ijtihad yang menghasilkan fiqh dalam bentuknya yang mengagumkan. Pertama, menyusun kaidah Ushul Fiqh. Kedua, penetapan istilah-istilah hukum yang digunakan dalam fiqh. Ketiga, menyusun kitab fiqh secara sistematis.
Fiqh dalam Periode Taklid
Kegiatan ijtihad pada masa ini terbatas pada usaha pengembangan, pensyarahan dan perincian kitab fiqh dari imam mujtahid yang ada (terdahulu), dan tidak muncul lagi pendapat atau pemikiran baru.
III. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP USHUL FIQH
Ushul Fiqh adalah ilmu tentang kaidah-kaidah yang membawa kepada usaha merumuskan hukum syara’ dari dalilnya yang terperinci. Adapun pokok pembahasan Ushul Fiqh adalah:
a. dalil-dalil atau sumber hukum syara’;
b. hukum-hukum syara’ yang terkandung dalam dalil itu;
c. kaidah-kaidah tentang usaha dan cara mengeluarkan hukum syara’ dari dalil atau sumber yang mengandungnya.

C. Resume Pendahuluan dari Buku “Ilmu Ushul Fikih”
Penulis: Prof. Dr. Abdul Wahhab Khallaf
Definisi
Ilmu Fikih menurut syarak adalah pengetahuan tentang hukum syariah yang sebangsa perbuatan yang diambil dari dalilnya secara detail. Sedangkan ilmu Ushul Fikih menurut istilah syara’ adalah pengetahuan tentang kaidah dan pembahasannya yang digunakan untuk menetapkan hukum-hukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan manusia dari dalil-dalilnya yang terperinci.
Obyek Fikih dan Ushul Fikih
Obyek pembahasan ilmu fikih adalah perbuatan orang mukallaf ditinjau dari ketetapannya terhadap hukum syara’. Sedangkan obyek pembahasan ilmu Ushul Fikih adalah dalil syara’ yang bersifat umum ditinjau dari ketetapannya terhadap hukum syara’ yang umum pula.
Tujuan Fikih dan Ushul Fikih
Tujuan ilmu Fikih adalah menerapkan hukum syara’ pada semua perbuatan dan ucapan manusia. Sedangkan tujuan ilmu Ushul Fikih adalah menerapkan kaidah dan pembahasannya pada dalil-dalil yang detail untuk diambil hukum syara’nya.
Pertumbuhan dan Perkembangan Fikih dan Ushul Fikih
Hukum Fikih pada periode pertama terdiri dari hukum Allah dan Rasul-Nya. Kemudian pada periode kedua terdiri dari al-Qur’an, al-Sunnah, dan ijtihad sahabat. Adapun periode ketiga hukum fikih terdiri dari al-Qur’an, al-Sunnah, Ijtihad sahabat dan ijtihad imam-imam mujtahid. Pada abad ini dimulailah pembukuan hukum-hukum syara’ seiring pembukuan hadis. Kitab yang pertama kali disusun dan sampai kepada kita adalah kitab al Muwaththa’ susunan Imam Malik bin Anas.
Ushul Fikih mulai tumbuh pada abad ke dua Hijriyah. Orang yang pertama kali menghimpun kaidah yang tersebar ke dalam satu kitab tersendiri adalah Imam Abu Yusuf, penganut faham Abu Hanifah. Sedangkan orang yang pertama kali membukukan kaidah-kaidah ilmu ushul fikih disertai pembahasannya secara sistematis yang didukung dengan metode penelitian adalah Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i.

PTK

PENGUMPULAN DATA, ANALISIS DATA,
DAN TINDAK LANJUT
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Upaya peningkatan mutu pendidikan haruslah dilakukan dengan menggerakkan seluruh komponen yang menjadi subsistem dalam suatu sistem mutu pendidikan. Mutu pendidikan pada hakikatnya adalah bagaimana kegiatan belajar mengajar berlangsung secara bermutu dan bermakna. Oleh karena itu, upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas harus selalu dilakukan. Salah satu upaya tersebut adalah dengan melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Suatu penelitian termasuk PTK yang baik dan terpercaya adalah penelitian yang dilakukan dengan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah dan metodologi yang sesuai dengan standar ilmiah. Salah satu cara untuk melihat derajat kepercayaan suatu penelitian adalah dengan melihat validitas dan kredibilitas penelitian. PTK yang tergolong bertradisi kualitatif dengan sifatnya yang deskriptif dan naratif memiliki cara-cara tersendiri dalam melakukan validasi dan reliabilitas.
Oleh karena itu, kami pandang perlu untuk mengadakan pembahasan secara terperinci mengenai pengumpulan data, analisis data, dan tindak lanjut dalam PTK.

B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami hanya membatasi pembahasan kami pada:
- Pengumpulan Data Dalam PTK
- Analisis Data Dalam PTK
- Tindak Lanjut PTK

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas dan untuk memberikan bahan kepada pembaca tentang pengumpulan data, analisis data, dan tindak lanjut dalam Penelitian Tindakan Kelas sebagai wacana mengenai Penelitian Tindakan Kelas.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengumpulan Data Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Pengumpulan data dalam PTK dilakukan dengan menggunakan instrumen. Instrumen tersebut harus valid dan reliabel. Yang dimaksud valid adalah mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Sedangkan reliabel adalah konsisten (tepat/akurat). Validitas instrumen PTK mensyaratkan adanya pengakuan dan keyakinan seluruh anggota kelompok penelitian tindakan bahwa alat yang digunakan dalam PTK itu layak digunakan. Hal ini disebut dengan practical validity atau validitas praktis.
Strategi yang bisa digunakan dalam meningkatkan validitas menurut Lather (dalam Priyono, 2000: 11) meliputi empat langkah, yaitu:
a. Face validity (validitas muka). Setiap anggota kelompok action research saling mengecek, menilai, dan memutuskan validitas suatu instrumen dan data dalam proses kolaborasi dan action research.
b. Triangulation (triangulasi), menggunakan berbagai sumber data untuk meningkatkan kualitas penilaian. Triangulasi juga bisa berarti suatu cara untuk mendapatkan keakuratan data dengan menggunakan berbagai cara agar data yang diperoleh dapat dipercaya kebenarannya.
c. Critical reflection (refleksi kritis). Setiap siklus action dirancang untuk meningkatkan kualitas pemahaman.
d. Catalic validity. Validitas dihasilkan oleh action research dan tergantung pada kemampuan action research sendiri dalam mendorong perubahan.

Berikut ini beberapa macam pengumpulan data yang dapat digunakan dalam PTK:
1. Pengamatan atau Observasi
Observasi sangat cocok untuk merekam data kualitatif, misalnya perilaku, aktivitas, dan proses lainnya. Ada tiga fase utama dalam melakukan observasi kelas yaitu:
a. Pertemuan perencanaan. Pihak guru sebagai peneliti menyajikan rencana pembelajaran yang akan diterapkan dalam PTK dan pihak pengamat mendiskusikannya.
b. Observasi kelas. Pihak guru dan pengamat melakukan observasi terhadap proses pembelajaran di kelas.
c. Diskusi balikan. Guru bersama pengamat mempelajari hasil observasi dan mendiskusikan langkah-langkah berikutnya.
Adapun teknik untuk melakukan observasi adalah sebagai berikut:
 Observasi Terbuka. Sang pengamat mencatatkan secara langsung segala sesuatu yang terjadi di kelas selengkapnya sehingga urutan-urutan kejadian tercatat semuanya
 Observasi Terfokus. PTK dilakukan sesuai fokus permasalahan yang ingin diteliti.
 Observasi Terstruktur. Penelitian dilakukan terhadap subjek atau objek penelitian yang bersifat terstruktur.
 Observasi Sistematik. Penelitian dilakukan terhadap subjek atau objek penelitian yang bersifat kuantitatif dengan menggunakan skala-skala.
2. Wawancara
Wawancara digunakan untuk mengungkap data yang berkaitan dengan sikap, pendapat, atau wawasan. Wawancara dapat dilakukan secara bebas atau terstruktur. Adapun langkah-langkah wawancara adalah sebagai berikut:
a. Persiapan
1) Menyusun petunjuk wawancara
2) Menyusun pertanyaan wawancara
b. Uji Coba Wawancara
Untuk meningkatkan validitas dan reabilitas wawancara sebagai alat pengumpul data, perlu dilakukan uji coba pertanyaan-pertanyaan yang sudah disusun.
c. Pelaksanaan Wawancara
1) Penentuan pihak yang diwawancarai
2) Menentukan dan mengatur waktu dan tempat wawancara
3) Tanya jawab
d. Kegiatan Akhir
Kegiatan ini dilakukan berupa pengecekan dan penilaian terhadap kebenaran, ketepatan dan kelengkapan data atau informasi sebagai hasil wawancara. Di samping itu, juga mengecek apakah ada jawaban yang masih samar-samar dan meragukan.
3. Angket atau Kuesioner
Angket atau kuesioner merupakan instrumen di dalam teknik komunikasi tidak langsung. Dengan instrumen ini data yang dapat dihimpun bersifat informatif dengan atau tanpa penjelasan atau interpretasi berupa pendapat, buah pikiran, penilaian, ungkapan perasaan, dan lain-lain. Angket dapat disebut juga sebagai wawancara tertulis.
Dari segi rekonstruksi pertanyaannya, kuesioner dapat dibagi menjadi beberapa bentuk:
a. Kuesioner pertanyaan bebas (tidak berstruktur)
Uraian jawaban kuesioner diserahkan sepenuhnya kepada responden. Untuk membatasi jawaban agar tidak bertele-tele, dapat dilakukan dengan menyediakan ruangan kosong di bawah setiap pertanyaan (item) kuesioner atau angket, dengan harapan responden hanya akan menjawab sesuatu yang penting saja dari aspek yang dipertanyakan.
b. Kuesioner pertanyaan terikat (terstruktur)
1) Kuesioner dengan pertanyaan tertutup
Contoh: Bagaimana pendapat kalian terhadap pembelajaran yang baru berlangsung tadi?
a. sangat baik b. baik c. sedang d. kurang e. sangat kurang
2) Kuesioner dengan pertanyaan terbuka
Contoh: Pembelajaran yang bagaimanakah yang kalian sukai?
(a) Pembelajaran yang menyenangkan
(b) Pembelajaran yang humoris
(c) Pembelajaran yang santai
(d) Pembelajaran yang komunikatif
(e) ……………………………………………
Alternatif (e) dimaksudkan untuk memberikan jawaban sesuai dengan pendapat responden, apabila empat jawaban di atasnya tidak ada yang tepat.
c. Angket dengan jawaban singkat
Angket bentuk ini merupakan gabungan atau kombinasi antara angket tidak berstruktur dengan angket berstruktur. Oleh karena itu, dalam angket bentuk ini ada kebebasan dalam menjawab pertanyaan namun jawaban harus singkat, khusus dan tertentu (terarah).
Adapun langkah-langkah penyusunan angket adalah sebagai berikut:
a) Tahap Persiapan:
(1) Menyusun kisi-kisi kuesioner
(2) Menyusun pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan rincian aspek-aspek atau fokus PTK secara berurutan
(3) Setiap pertanyaan sebaiknya hanya mengandung satu aspek dari gejala di dalam variabel yang diungkapkan
(4) Dalam menyusun pertanyaan kuesioner berstruktur, penyusunan alternatif jawaban harus dilakukan dalam sudut pandang responden
(5) Pertanyaan tidak mengandung kata-kata yang mengandung sugesti yang menggiring responden agar memilih alternatif jawaban tertentu sesuai keinginan peneliti
(6) Pertanyaan tidak mengandung kata-kata yang mendorong responden menjawab secara tidak jujur, menimbulkan rasa takut atau malu karena pertanyaan bersifat mengungkapkan aib responden
(7) Diusahakan ada satu jawaban yang termasuk kategori terbaik (ideal)
(8) Memilih cara menjawab yang paling mudah
(9) Dimulai dari pertanyaan yang sederhana ke pertanyaan yang lebih kompleks
(10) Menggunakan kata-kata yang sopan dan netral
(11) Kuesioner yang sudah siap dianjurkan untuk dikonsultasikan dan didiskusikan dengan teman sejawat
(12) Menyusun “Petunjuk Mengisi Angket”, diletakkan pada bagian atas lembar pertama kuesioner.
b) Tahap Uji Coba Kuesioner
(1) Memeriksa kemungkinan pertanyaan-pertanyaan yang kurang jelas
(2) Memeriksa kemungkinan terdapat kata-kata yang asing
(3) Memeriksa kemungkinan terdapat pertanyaan-pertanyaan yang terlalu dangkal
(4) Memeriksa kemungkinan terdapat pertanyaan yang tidak relevan dengan masalah dan tujuan PTK
c) Penyebaran dan Pengisian Kuesioner
4. Pedoman Pengkajian Data Dokumen
Ada beberapa dokumen yang dapat membantu peneliti dalam mengumpulkan data penelitian yang ada relevansinya dengan permasalahan dalam PTK, seperti:
a. silabus dan RPP
b. laporan-laporan diskusi
c. berbagai macam hasil ujian dan tes
d. laporan rapat
e. laporan tugas siswa
f. bagian-bagian dari buku teks yang digunakan dalam pembelajaran
g. contoh essay yang ditulis siswa (Elliot, 1991 dalam Rochiati 2005).
5. Tes
Tes adalah sejumlah pertanyaan yang disampaikan pada seseorang atau sejumlah orang untuk mengungkapkan keadaan aspek psikologis di dalam dirinya. Berkaitan dengan tes sebagai instrumen PTK dapat dibedakan menjadi dua jenis tes, yaitu:
a. Tes Lisan
b. Tes Tertulis, yang terdiri dari dua bentuk:
1) Tes Essay atau Uraian
2) Tes Objektif
6. Rekaman, Foto, Slide, Tape, dan Video
Alat-alat elektronik seperti rekaman, foto, slide, tape, dan video dapat digunakan untuk membantu mendeskripsikan apa yang peneliti catat di catatan lapangan.
7. Catatan Harian
Catatan harian adalah catatan pribadi tentang pengamatan, perasaan, tanggapan, penafsiran, refleksi, firasat, hipotesis, dan penjelasan. Penulisan catatan harian harus mencantumkan tanggal kejadian. Demikian juga dengan hal-hal yang mendetail dari PTK, seperti waktu, pokok bahasan, serta kelas di mana PTK dilaksanakan.
8. Catatan Lapangan
Catatan lapangan adalah catatan yang dibuat oleh peneliti atau mitra peneliti yang melakukan observasi terhadap subjek atau objek PTK. Pada umumnya catatan lapangan dibuat dengan tulisan tangan si peneliti, yang hanya dimengerti oleh dirinya saja.

contoh proposal PTK

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MATA PELAJARAN FIQIH
SISWA KELAS VII DENGAN MENGGUNAKAN MULTIMEDIA
DI SMPN 1 GONDANG NGANJUK

PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan untuk memenuhi tugas UAS Mata Kuliah
Penelitian Tindakan Kelas

Disusun Oleh :
Siti Qurroti A’yun
D01207214

Dosen Pembimbing:
Achmad Fauzi, M. Pd.

FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2009
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sumber media berupa orang saja sebagaimana kebanyakan terjadi pada madrasah kurang efektif digunakan untuk masa sekarang. Dalam pola interaksi ini, guru kelas memegang penuh kendali atas berlangsungnya pengajaran sedangkan siswa cenderung pasif. Hal ini bertentangan dengan kurikulum saat ini (baca: KTSP) yang menuntut siswa untuk aktif dalam proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan baik itu tujuan mata pelajaran maupun tujuan satuan pendidikan. Selain itu, sumber media berupa orang saja membuat suasana kelas menjadi monoton dan tidak menarik bagi siswa. Hal ini kemudian berdampak pada motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Upaya peningkatan kualitas pendidikan, mutlak diperlukan melaui terobosan-terobosan, mulai dari pengembangan kurikulum, inovasi pembelajaran dan pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan. Salah satu cara meningkatkan prestasi pendidikan guru dituntut untuk membuat media pembelajaran yang lebih inovatif untuk mendorong siswa belajar lebih optimal baik secara mandiri ataupun di dalam kelas.
Dari hasil pengamatan di SMPN 1 kecamatan Gondang kabupaten Nganjuk ditemukan bahwa pelaksanaan pembelajaran Fiqih masih kurang menggembirakan. Indikatornya antara lain adanya kecenderungan semakin menurunnya tingkat prestasi belajar siswa dan rendahnya partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran Fiqih. Ini bisa dilihat dari hasil ulangan harian Fiqih siswa kelas VII yang masih menunjukkan kurang menggembirakan. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan penulis, sejumlah faktor yang diduga sebagai faktor penyebab rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fiqih antara lain adalah:
1. Penggunaan media pembelajaran kurang maksimal sehingga tidak dapat membantu pemahaman siswa sehingga siswa menjadi kurang aktif dan kurang memahami materi.
2. Guru terlalu banyak memberikan penjelasan sehingga pembelajaran menjadi kurang efektif.
3. Guru kurang memberikan motivasi belajar kepada siswa sebelum pelajaran dimulai sehingga kurang aktif dalam mengikuti pelajaran.
Dari hasil refleksi awal terhadap masalah di atas, penulis berpendapat bahwa untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman siswa terhadap Pendidikan Agama Islam mata pelajaran Fiqih, diperlukan media pembelajaran yang sesuai. Adapun media yang penulis pilih adalah Multimedia. Media pembelajaran Multimedia merupakan penggunaan berbagai jenis media secara bersama dan serempak melalui satu alat saja. Oleh karena itu penulis merumuskan hipotesis tindakan “Media pembelajaran Multimedia dapat meningkatkan hasil belajar PAI mata pelajaran Fiqih siswa kelas VII SMPN 1 Gondang Nganjuk”.
Multimedia adalah salah satu media pembelajaran yang dipandang dapat memberikan pengalaman belajar yang secara langsung berkenaan dengan gambaran-gambaran nyata objek yang disiswai. Sehingga dengan menggunakan multimedia sebagai media pembelajaran Fiqih diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajaran materi Fiqih.
Alasan lain penggunaan Multimedia adalah melihat sistem pendidikan dewasa ini telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Berbagai cara telah dikenalkan serta digunakan dalam proses belajar mengajar (PBM) dengan harapan pengajaran guru akan lebih berkesan dan pembelajaran bagi murid akan lebih bermakna. Sejak beberapa tahun belakangan ini teknologi informasi dan komunikasi telah banyak digunakan dalam proses belajar mengajar, dengan satu tujuan mutu pendidikan akan selangkah lebih maju seiring dengan kemajuan teknologi.
Perkembangan teknologi multimedia telah menjanjikan potensi besar dalam merubah cara seseorang untuk belajar, untuk memperoleh informasi, menyesuaikan informasi dan sebagainya. Multimedia juga menyediakan peluang bagi pendidik untuk mengembangkan teknik pembelajaran sehingga menghasilkan hasil yang maksimal. Demikian juga bagi siswa, dengan multi media diharapkan mereka akan lebih mudah untuk menentukan dengan apa dan bagaimana siswa untuk dapat menyerap informasi secara cepat dan efisien. Sumber informasi tidak lagi terfokus pada teks dari buku sematamata tetapi lebih luas dari itu. Kemampuan teknologi multimedia yang telah terhubung internet akan semakin menambah kemudahan dalam mendapatkan informasi yang diharapkan.
Indikator keberhasilan yang akan diukur dalam penelitian ini adalah meningkatnya hasil belajar siswa yang diukur melalui pre test dan post test serta proses pembelajaran.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dalam penelitian ini yang menjadi masalah utama adalah kesulitan siswa kelas VII SMPN 1 Gondang Nganjuk dalam memahami dan menerapkan mata pelajaran PAI mata pelajaran Fiqih sehingga mempengaruhi hasil belajar siswa atau ketercapaian tujuan pembelajaran. Masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaaan media pembelajaran Multimedia dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam mata pelajaran Fiqih siswa kelas VII SMPN 1 Gondang Nganjuk?”

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam mata pelajaran Fiqih siswa kelas VII SMPN 1 Gondang Nganjuk melalui media pembelajaran Multimedia.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Bagi guru PAI khususnya dan guru lainnya, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan acuan dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran menggunakan media pembelajaran yang sesuai. Selain itu, dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas guru dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.
2. Bagi siswa, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap PAI mata pelajaran Fiqih.
3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam melakukan upaya-upaya dalam rangka meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar siswa sekolah yang bersangkutan.
4. Bagi Masyarakat, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai ukuran ketercapaian tujuan pembelajaran yang tercermin dari peningkatan kualitas out put sekolah bersangklutan. Dengan ini, masyarakat bisa membedakan antara sekolah yang berkualitas dengan sekolah yang tidak berkualitas.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Hasil Belajar Siswa
Dalam kamus umum bahasa indonesia disebutkan bahwa hasil belajar merupakan sesuatu yang diadakan, dibuat, dijadikan oleh suatu usaha atau dapat juga berarti pendapat atau perolehan atau buah. (Poerwadarminta, 1996: 337). Pendapat lain mengatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar yang diperoleh siswa adalah sebagai akibat dari proses belajar yang dilakukan oleh siswa. Proses belajar merupakan penunjang hasil belajar yang dicapai siswa. (Nana Sudjana, 1989:111). Dimyati dan Moedjiono (1994:4) mengatakan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari suatu intraksi tindak mengajar atau tindak belajar.
Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu.
Hasil belajar dibagi menjadi tiga macam yaitu keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita-cita yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah, (Nana Sudjana, 2004:22).
Menurut Gagne (1988) ada lima kemampuan hasil belajar yaitu:
1. Keterampilan-keterampilan intelektual, karena keterampilan itu merupakan penampilan yang ditunjukan oleh siswa tentang operasi intelektual yang dapat dilakukannya
2. Penggunaan strategi kognitif, karena siswa perlu menunjukkan penampilan yang baru
3. Berhubungan dengan sikap-sikap yang dapat ditunjukkan oleh perilaku yang mencerminkan pilihan tindakan terhadap kegiatan-kegiatan belajar
4. Hasil belajar adalah informasi verbal
5. Keterampilan motorik.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu:
1. Faktor Internal (dari dalam individu yang belajar).
Faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar. Adapun faktor yang mempengaruhi kegiatan tersebut adalah faktor psikologis, antara lain motivasi, perhatian, pengamatan, tanggapan dan lain sebagainya.
2. Faktor Eksternal (dari luar individu yang belajar).
Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan faktor dari luar siswa. Adapun faktor yang mempengaruhi adalah mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, dan pembentukan sikap.

B. Media Pembelajaran Multimedia

Media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya. Penggunaan media secara kreatif akan memungkinkan audien (siswa) untuk belajar lebih baik dan dapat meningkatkan performan mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Setiap media pembelajaran yang direncanakan hendaknya dipilih, ditetapkan dan dikembangkan sehingga dapat menimbulkan interaksi siswa dengan pesan-pesan yang dibawa media pembelajaran. Pemilihan media pembelajaran dapat mempertimbangkan beberapa hal yakni:
• Tujuan yang ingin dicapai
• Karakteristik siswa/sasaran
• Jenis rangsangan belajar yang diinginkan (audio, visual, gerak)
• Keadaan lingkungan setempat
• Luasnya jangkauan yang ingin dilayani
• Kriteria tambahan yaitu biaya, ketepatgunaan, keadaan siswa, ketersediaan,dan mutu teknis
Untuk mengatasi masalah kesulitan siswa dalam memahami dan menerapkan mata pelajaran PAI mata pelajaran Fiqih, dapat dilakukan dengan menggunakan media pembelajaran Multimedia yang merupakan penggunaan berbagai jenis media secara bersama dan serempak melalui satu alat saja.
Media pembelajaran Multimedia adalah penggunaan media baik yang bersifat visual, audial, projected still media maupun projected motion media secara bersama dan serempak melalui satu alat saja. Media pembelajaran Multimedia diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa sekaligus meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI mata pelajaran Fiqih.
Definisi lain menyebutkan bahwa Media Multimedia adalah kombinasi berbagai macam media (teks, audio, animasi, video, simulasi) dalam suatu paket di mana berbagai media saling bersinergi dalam menyampaikan informasi secara optimal. Interaktivitas multimedia lebih menonjol dibandingkan media lain. Interaktivitas multimedia meliputi interaktivitas mental dan fisik. Multimedia pembelajaran memiliki kecenderungan kuat untuk mendorong pengguna melakukan interaksi dengan komputer.
Karakteristik media di dalam multimedia adalah kurang kuat bila digunakan sebagai media untuk memberikan motivasi, mata cepat lelah ketika harus menyerap materi melalui teks yang panjang dan padat pada layar komputer, teks dapat digunakan untuk menyampaikan informasi yang padat (kondensed), teks dapat digunakan untuk materi yang rumit dan komplek, teknologi untuk menampilkan teks pada layar komputer relatif lebih sederhana dibandingkan teknologi untuk menampilkan media lain, konsekuensinya media ini juga lebih murah bila dibandingkan media-media lain, sangat cocok sebagai media input maupun umpan balik (feedback).
Macam-macam media yang digunakan dalam Multimedia diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Teks
Media ini membantu pembelajar fokus pada materi yang disiswai karena pembelajar cukup mendengarkan tanpa melakukan aktivitas lain yang menuntut konsentrasi, serta sangat cocok bila digunakan sebagai media untuk memberikan motivasi. Akan tetapi media teks di dalam multimedia memerlukan tempat penyimpanan yang besar di dalam komputer, serta memerlukan software dan hardware yang spesifik agar suara dapat disampaikan melalui komputer.

2. Audio
Media audio memudahkan dalam mengidentifikasi obyek-obyek, mengklasifikasikan obyek, mampu menunjukkan hubungan spatial dari suatu obyek, membantu menjelaskan konsep abstrak menjadi konkret
3. Graphics
Media Grafik mampu menunjukkan obyek dengan idea, menjelaskan konsep yang sulit, menjelaskan konsep yang abstrak menjadi konkrit, menunjukkan dengan jelas suatu langkah procedural.
4. Animasi
Media Animasi mampu menunjukkan suatu proses abstrak di mana pengguna ingin melihat pengaruh perubahan suatu variabel terhadap proses tersebut. Namun media Animasi menyediakan suatu tiruan yang bila dilakukan pada peralatan yang sesungguhnya terlalu mahal atau berbahaya (misal simulasi melihat bentuk tegangan listrik dengan simulasi oscilloscope atau melakukan praktek menerbangkan pesawat dengan simulasi penerbangan).
5. Video
Video mungkin saja kehilangan detail dalam pemaparan materi karena siswa harus mampu mengingat detail dari scene ke scene. Umumnya pengguna menganggap belajar melalui video lebih mudah dibandingkan melalui teks sehingga pengguna kurang terdorong untuk lebih aktif di dalam berinteraksi dengan materi. Video memaparkan keadaan riil dari suatu proses, fenomena atau kejadian sehingga dapat memperkaya pemaparan. Video sangat cocok untuk mengajarkan materi dalam ranah perilaku atau psikomotor.
Penggunaan multimedia dalam pendidikan memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
• Sistem pembelajaran lebih inovatif dan interaktif
• Pengajar akan selalu dituntut untuk kreatif inovatif dalam mencari terobosan pembelajaran
• Mampu mengabungkan antara teks, gambar, audio, musik, animasi gambar atau video dalam satu kesatuan yang saling mendukung guna tercapainya tujuan pembelajaran
• Mampu menimbulkan rasa senang selama proses PBM berlangsung. Hal ini akan menambah motivasi siswa selama proses PBM hingga didapatkan tujuan pembelajaran yang maksimal
• Mampu memvisualisasikan materi yang selama ini sulit untuk diterangkan hanya sekedar dengan penjelasan atau alat peraga yang konvensional
• Media penyimpanan yang relatif gampang dan fleksibel
Namun demikian ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam multimedia pendidikan, yaitu:
 Pengoperasian yang mudah dan familer (user frendly)
 Mudah untuk install ke komputer yang akan digunakan oleh pengguna
 Media pembelajaran yang interaktif dan komunikatif
 Sistem pembelajaran yang madiri. Artinya siswa dapat belajar dengan mandiri baik di sekolah maupun di rumah tanpa harus ada bimbingan dari guru
 Sedapat mungkin dengan biaya yang ringan dan terjangkau

C. Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa dengan Menggunakan Multimedia
Pembelajaran merupakan proses untuk meramu sarana dan prasarana pendidikan untuk mencapai kualitas yang diharapkan. Kualitas lulusan pendidikan sangat ditentukan oleh seberapa jauh guru mampu mengelola dan mengolah segala komponen pendidikan melalui proses belajar mengajar. Artinya keberhasilan pembelajaran sangat tergantung pada kemampuan seorang guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar sehingga mencapai hasil sesuai dengan apa yang diinginkan pada tujuan pendidikan. Meskipun sarananya lengkap tetapi jika guru tidak mampu mengolah sarana melaluli proses belajar mengajar, maka kualitas pendidikan akan rendah.
Proses belajar mengajar (PBM) seringkali dihadapkan pada materi yang abstrak dan di luar pengalaman siswa sehari-hari, sehingga materi ini menjadi sulit diajarkan guru dan sulit dipahami siswa. Visualisasi adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengkonkritkan sesuatu yang abstrak. Gambar dua dimensi atau model tiga dimensi adalah visualisasi yang sering dilakukan dalam PBM. Pada era informatika visualisasi berkembang dalam bentuk gambar bergerak (animasi) yang dapat ditambahkan suara (audio).
Sajian audio visual atau lebih dikenal dengan sebutan multimedia menjadikan visualisasi lebih menarik. ICT dalam hal ini komputer dengan dukungan multimedia dapat menyajikan sebuah tampilan berupa teks nonsekuensial, nonlinear, dan multidimensional dengan percabangan tautan dan simpul secara interaktif. Tampilan tersebut akan membuat pengguna (user) lebih leluasa memilih, mensintesa, dan mengelaborasi pengetahuan yang ingin dipahaminya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi multimedia mampu memberi kesan yang besar dalam bidang komunikasi dan pendidikan karena bisa mengintegrasikan teks, grafik, animasi, audio dan video. Multimedia telah mengembangkan proses pengajaran dan pembelajaran ke arah yang lebih dinamik. Namun yang lebih penting ialah pemahaman tentang bagaimana menggunakan teknologi tersebut dengan lebih efektif dan dapat menghasilkan idea-idea untuk pengajaran dan pembelajaran. Pada masa kini, guru perlu mempunyai kemahiran dan keyakinan diri dalam menggunakan teknologi ini dengan cara yang paling berkesan, suasana pengajaran dan pembelajaran yang interaktif, serta lebih menggalakkan komunikasi aktif antara berbagai hal. Penggunaan komputer multimedia dalam proses pengajaran dan pembelajaran adalah dengan tujuan meningkatkan mutu pengajaran dan pembelajaran.
Dengan berkembangnya teknologi multimedia, unsur-unsur video, bunyi, teks dan grafik dapat dikemas menjadi satu melalui Pembelajaran Berbasis Komputer (PBK). Sekarang ini, materi proses belajar mengajar telah banyak ditemukan dipasaran yang disediakan dalam bentuk CVD atau DVD. Contoh-contoh yang dapat kita temukan seperti ensiklopedia, kamus elektronik, buku cerita elektronik, materi pembelajaran yang telah dikemas dalam bentuk CD atau DVD dan masih banyak lagi yang dapat kita temui. Konsep permainan dalam pembelajaran digabung untuk menghasilkan pengalaman pembelajaran yang menyenangkan. Model – model ini dapat digunakan dalam pembelajaran di dalam kelas atau pembelajaran sendiri. Bisa juga digunakan untuk pembelajaran di rumah dan di sekolah. Sesi pembelajaran bisa disesuaikan dengan tahap penerimaan dan pemahaman siswa.
Pencapaian dan keberhasilan siswa akan diuji. Jika siswa tidak mencapai tahap yang memuaskan, maka sesi pemulihan akan dilaksanakan. Rekord pencapaian siswa akan disimpan supaya prestasi siswa bisa diawasi. Konsep pembelajaran sendiri dapat dilaksanakan bila informasi tersebut menarik dan memotivasikan siswa untuk terus belajar. Ini dapat dicapai jika materi atau informasi direka dengan baik menggunakan multimedia. Suasana pengajaran dan pembelajaran yang interaktif akan menggalakkan komunikasi berbagai hal (siswa-guru, siswa-siswa, siswa-komputer).
Gabungan berbagai media yang memanfaatkan sepenuhnya indra penglihatan dan pendengaran mampu menarik minat belajar. Namun yang lebih utama ialah pencapaian objektif pengajaran dan pembelajaran dengan berkesan. Harus diingat bahwa teknologi multimedia hanya bertindak sebagai pelengkap, tambahan atau alat bantu kepada guru. Multimedia tidak akan mengambil alih tempat dan tugas guru.
Multimedia adalah sebagai saluran pilihan dalam menyampaikan informasi dengan cara yang lebih berkesan. Komputer hanya digunakan jika dipandang perlu dan merupakan pilihan yang baik. Jikalau terdapat pilihan lain yang lebih berkesan untuk menyampaikan informasi, maka pilihan lain ini bisa digunakan. Hasil belajar secara efektif dengan menggunakan multimedia akan dicapai apabila:
• Guru mengenal keunggulan dan kelemahan dari setiap media teknologi yang dipergunakan. Penggunaan teknologi auditif bukan berarti lebih buruk daripada media audiovisual karena ada beberapa materi pembelajaran yang akan lebih baik ditayangkan dengan mempergunakan teknologi auditif untuk merangsang imajinasi siswa dan melatih kepekaan pendengaran.
• Menentukan pilihan materi yang akan ditayangkan, apakah sesuai dengan penggunaan media auditif, visual, atau audiovisual. Misalnya untuk melatih kepekaan siswa dalam memahami percakapan bahasa inggris, akan lebih baik kalau dipergunakan media auditif. Sementara untuk mengetahui ragam budaya masyarakat berbagai bangsa tentu lebih relevan dengan mempergunakan tayangan audiovisual.
• Menyiapkan skenario tayangan yang tentunya berbeda dengan satuan pelajaran karena disini menyangkut terhadap model tayangan yang akan disajikan sehingga menjadi menarik. Dari sini nantinya akan mampu mengembangkan berbagai aspek kemampuan (potensi) dalam diri siswa. Tidak kalah pentingnya, adalah bagaimana membuat anak tetap fokus kepada tayangan yang disajikan, dan mengukur apa yang telah dilakukan siswa dengan menyiapkan lembar tugas atau quiz yang harus dikerjakan siswa ketika menyaksikan tayangan pembelajaran.
Upaya membuat anak betah belajar di sekolah dengan memanfaatkan teknologi multimedia merupakan kebutuhan, sehingga sekolah tidak lagi menjadi ruangan yang menakutkan dengan berbagai tugas dan ancaman yang justru mengkooptasi kemampuan atau potensi dalam diri siswa. Untuk itu, peran serta masyarakat dan orang tua, komite sekolah merupakan partner yang dapat merencanakan dan memajukan sekolah.
Pemanfaatan teknologi merupakan kebutuhan mutlak dalam dunia pendidikan sehingga sekolah benar-benar menjadi ruang belajar dan tempat siswa mengembangkan kemampuannya secara optimal, dan nantinya mampu berinteraksi ke tengah-tengah masyarakatnya. Lulusan sekolah yang mampu menjadi bagian intergaral peradaban masyarakatnya. Keinginan tersebut tidak mudah dicapai apabila sekolah-sekolah yang ada tidak tanggap untuk melakukan perubahan.

BAB III
RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang dilakukan dalam situasi yang wajar (natural setting) dan data yang dikumpulkan umumnya bersifat kualitatif. Metode kualitatif berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri.
Responden dalam metode kualitatif berkembang terus (snowball) secara bertujuan (purposive) sampai data yang dikumpulkan dianggap memuaskan. Alat pengumpul data atau instrumen penelitian ialah si peneliti sendiri. Jadi peneliti merupakan key instrument, dalam mengumpulkan data si peneliti harus terjun sendiri ke lapangan secara aktif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik angket tidak digunakan dalam pengumpulan data.

B. Subjek penelitian
Subjek Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas VII SMPN 1 Gondang Nganjuk yang berjumlah 34 orang.

C. Setting penelitian
Penelitian Tindakan Kelas akan dilaksanakan di kelas VII SMPN 1 Gondang Nganjuk.

D. Waktu penelitian
Penelitian Tindakan Kelas direncankan dalam kurun waktu minggu ke-1 bulan Februari sampai dengan minggu ke-3 bulan Maret 2010.

E. Desain penelitian
1. Siklus penelitian
Desain penelitian adalah berupa Peneitian Tindakan Kelas dengan alur kegiatan sebagai berikut:
Siklus I
Refleksi Awal Perencanaan Tindakan I Pelaksanaan Tindakan I Observasi I Refleksi I Evaluasi I
Siklus II
Perencanaan Tindakan II Pelaksanaan Tindakan II Observasi II Refleksi II Evaluasi II
Siklus III
Perencanaan Tindakan III Pelaksanaan Tindakan III Observasi III Refleksi III Evaluasi III
2. Tahapan siklus PTK
a. Refleksi awal
Pada tahap ini dilakukan identifikasi kesulitan siswa kelas VII SMPN 1 Gondang dalam memahami PAI mata pelajaran Fiqih
b. Perencanaan Tindakan
Masalah yang ditemukan akan diatasi dengan melakukan langkah-langkah perencanaan tindakan, yaitu menyusun instrumen penelitian berupa Rencana Program Pembelajaran (RPP), membuat multimedia untuk pembelajaran, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), soal tes, dan lembar observasi.
c. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini dilakukan tindakan berupa pelaksanaan program pembelajaran, pengambilan atau pengumnpulan data hasil soal tes dan lembar observasi. Materi pelajaran pada tahap pelaksanaan tindakan I adalah materi Thaharah, pelaksanaan tindakan II adalah materi Shalat, pelaksanaan tindakan III adalah materi Shalat Jamaah dan Shalat Munfarid.
d. Pengamatan
Tahap ini dilakukan untuk mengumpulkan data-data dan menganalisanya untuk kemudian dapat diambil kesimpulan dari penelitian ini. Observasi mencakup prosedur perekaman data tentang proses dan hasil implementasi tindakan yang dilakukan. Guru peneliti mengadakan observasi terhadap proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi siswa.

e. Refleksi
Guru peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan PTK pada tiap siklus dan menganalisis serta menarik kesimpulan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah direncanakan dengan melaksanakan tindakan tertentu. Apakah pembelajaran yang dirancang dengan PTK dapat meningkatkan kualitas pembelajaran atau memperbaiki masalah yang diteliti.

F. Metode pengumpulan data
Valid atau tidaknya suatu penelitian tergantung pada jenis pengumpulan data yang dipergunakan serta pemilihan metode yang tepat sesuai dengan jenis dan sumber data dalam penelitian. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode observasi, soal tes, dan data respon siswa.
1. Observasi atau pengamatan
Observasi atau pengamatan adalah penginderaan secara langsung terhadap suatu benda, kondisi, situasi, proses atau prilaku. Dalam hal ini peneliti mengamati dan mencatat secara langsung untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran PAI mata pelajaran Fiqih dengan menggunakan multimedia
2. Test
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengatahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok.
Perangkatan test peneliti ini adalah pre test dan pos test. Pre test diadakan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebelum pembelajaran dengan multimedia dilaksanakan. Drs. Sumanto, MA mengatakan bahwa pre test digunakan untuk melihat apakah kelompok-kelompok tersebut variable dependent sama atau tidak. Dengan kata lain pre test digunakan untuk melihat kemampuan kedua kelompok sama atau tidak. Dari hasil pre test kemudian ditentukan siswa yang termasuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sedangkan post test digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh atau tidak penggunaan multimedia dalam upaya meningkatkan hasil belajar PAI mata pelajaran Fiqih siswa kelas VII di SMPN 1 Gondang Nganjuk. Test ini dilakukan setelah seluruh materi pelajaran selesai dan bentuk test yang digunakan adalah pilihan ganda (Multiple Choices).
3. Data respon siswa
Data respon siswa terhadap penggunaan multimedia diperoleh dengan menggunakan observasi partisispasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap siswa kelas eksperimen setelah mengikuti pembelajaran. Tujuannya untuk mengetahui respon atau komentar siswa terhadap proses pembelajaran yang berlangsung sesuai dengan menggunakan multimedia.

G. Instrumen pengumpulan data
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar laporan hasil observasi, soal tes, dan data respon siswa.

H. Teknis analisis data
Analisis data merupakan teknik yang digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil kegiatan penelitian tersebut yang termakna dan teruji. Dalam hal ini diperlukan cara-cara tertentu dalam menganalisanya. Dalam penelitian ini, hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis statistik data kualitatif.
1. Analisis statistik deskriptif.
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis data kemampuan guru dalam mengelola kelas, data aktifitas peserta didik serta data respon peserta didik dalam penggunaan multimedia dalam pembelajaran dengan pengajaran langsung pada PAI mata pelajaran , adapun analisis tersebut sebagai berikut:
- Analisis data kemampuan guru dalam mengelola kelas.
Data hasil pengamatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan menggunakan multimedia dianalisis dengan menghitung rata-rata dari nilai beberapa kali pertemuan pada setiap indikator, setelah itu di hitung pula rata-rata dari setiap aspek. Kemudian hasil rata-rata tersebut dikonfirmasikan dengan kriteria sebagai berikut:
no Kriteria Kategori
1
2
3
4 1,00 ≤ nilai < 1,75
1,75 ≤ nilai < 2,50
2,50≤ nilai < 3,25
3,25≤ nilai < 4,00 Tidak baik
Kurang baik
Baik
Sangat baik
- Analisis data aktifitas peserta didik
Data hasil penilaian untuk aktifitas peserta didik selama pembelajaran dianalisis deskriptif dengan menentukan jumlah aktifitas peserta didik aktif dan jumlah aktivitas peserta didik pasif. Jika jumlah rata-rata aktivitas peserta didik aktif lebih besar dari jumlah rata-rata aktivitas peserta didik pasif, maka dalam pembelajaran dengan menggunakan multimedia ini aktifitas peserta didik tergolong aktif.
- Analisis data respon peserta didik
Untuk mengetahui respon peserta didik atau komentar peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan multimedia, data respon peserta didik dianalisis dengan menggunakan rumus persentase sebagai berikut:

Untuk mengidentifikasi respon peserta didik atau komentar peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan multimedia dengan pengajaran langsung maka respon peserta didik tersebut dikatakan positif apabila paling sedikit 80% peserta didik menjawab "ya" dari jumlah seluruh peserta didik.
2. Analisis statistik data kualitatif.
Data kualitatif diperoleh dari skor tes. Data ini dianalisis untuk mengetahui adanya perbedaan hasil belajar antara peserta didik yang mengikuti pembelajaran menggunakan multimedia dengan peserta didik yang mengikuti pembelajaran tanpa menggunakan multimedia. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan uji-t. Adapun langkah-langkah yang dilakukan sebelum menggunakan uji-t adalah sebagai berikut:
- Uji normalitas
1) menghitung mean(X) dan standar deviasi (a n-1)
2) membuat daftar frekuensi observasi dan observasi ekspektasi
3) menghitung nilai X2 (chi kuadrat)
4) menentukan derajat kebebasan
5) menentukan nilai X2 dari daftar
6) penentuan normalitas
- Uji homogenitas 2 variansi
1) menghitung nilai f
f = Vb
Vk
Keterangan:
Vb: variasi besar
Vk: variasi kecil
2) menentukan derajat kebebasan
db1= n1-1
db2= n2-1
keterangan:
db1: derajat kebebasan pembilang
db2: derajat kebebasan penyebut
n1: ukuran sampel variasi besar
n2: ukuran sampel variasi kecil
3) menentukan nilai f dari daftar
4) menguji homogenitas
- Uji-t bila normalitas dan homogenitas sampel dipenuhi. Bila tidak dipenuhi maka akan menggunakan uji lain.
1) Menentukan hipotesis
2) Mencari deviasi standar gabungan

3) Mencari nilai t
4) Menentukan derajat kebebasan

db= n1+n2-2
5) Menentukan nilai t dari daftar
6) Pengujian hipotesis

DAFTAR PUSTAKA

Asnawir & Basyiruddin Usman. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Pers Nurgana, Endi. 1985. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: CV Permadi.
Sumanto. 1995. Metodelogi Penelitian Social dan Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset
Tim Penulis Sosiologi. 1997. Panduan Belajar. Jakarta: Yudistira

A. Konsep Umum Perencanaan Dan Desain Pembelajaran PAI
1. Pengertian Perencanaan Pembelajaran PAI
Perencanaan merupakan kegiatan menentukan tujuan dan merumuskan serta mengatur pendayagunaan sumber-sumber daya: informasi, finansial, metode dan waktu yang diikuti dengan pengambilankepustusan serta penjelasannya tentang pencapaian tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan jadwal pelaksanaan program.
Menurut Comb dan Harjanto mendifinisikan “Perencanaan pengajaran dalam arti luas adalah suatu penerapan yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan murid dan masyarakat”.
Dengan kata lain, perencanaan pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar serta mencapi tujuan pengajaran yang telah ditetapkan dengan langkah-langkah penyusunan ateri pelajaran, penggunaan media pengajaran, penggunaan metode dan pendekatan pengajaran, dan penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan dalam waktu tertentu.
2. Pengertian Desain Pembelajaran PAI
Desain pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang “perlakuan” berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa, dipandu oleh guru, atau dalam latar berbasis komunitas. Hasil dari pembelajaran ini dapat diamati secara langsung dan dapat diukur secara ilmiah atau benar-benar tersembunyi dan hanya berupa asumsi.
Desain Pembelajaran menurut Istilah dapat didefinisikan:
• Proses untuk menentukan metode pembelajaran apa yang paling baik dilaksanakan agar timbul perubahan pengetahuan dan ketrampilan pada diri pemelajar ke arah yang dikehendaki (Reigeluth)
• Rencana tindakan yang terintegrasi meliputi komponen tujuan, metode dan penilaian untuk memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan (Briggs)
• Proses untuk merinci kondisi untuk belajar, dengan tujuan makro untuk menciptakan strategi dan produk, dan tujuan mikro untuk menghasilkan program pelajaran atau modul (Seels & Richey)
3. Pentingnya Perencanaan Dan Desain Pembelajaran
Menurut Udin Syaefudin Sa’ud dan Abin Syamsudin Makmun, Perencanaan memiliki arti penting sebagai berikut:
o Diharapkan tumbuhnya suatu pengarahan kegiatan dengan adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan kepada pencapaian tujuan.
o Dapat dilakukan suatu perkiraan (fore casting) terhadap hal-hal dalam masa pelaksanaan yang akan dilalui, mengenai potensi-potensi dan prospek-prospek perkembangan, juga tentang hambatan-hambatan dan risiko-risiko yang mungkin dihadapi.
o Memberikan kesempatan untuk memilih berbagai alternatif tentang cara terbaik (the best alternatif) atau kesempatan memilih kombinasi cara yang terbaik (the best combination)
o Dilakukan penyusunan skala prioritas, memilih urutan-urutan dari segi pentingnya suatu tujuan, sasaran maupun kegiatan usahanya.
o Ada suatu alat pengukur atau standar untuk mengadakan pengawasan atau evaluasi kinerja usaha atau organisasi, termasuk pendidikan.
4. Fungsi Perencanaan Dan Desain Pembelajaran PAI
Fungsi perencanaan dan desain pembelajaran adalah:
 Sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
 Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan.
 Sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur guru maupun murid.
 Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat diketahui ketetapan dan kelambatan kerja.
 Untuk bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja.
 Menghemat waktu, tenaga, alat dan biaya.
 Meningkatkan kemampuan Pembelajar (instruktur, guru, widya iswara, dosen, dan lain-lain)
 Menghasilkan sumber belajar
 Mengembangkan sistem belajar mengajar
 Mengembangkan Organisasi menjadi organisasi belajar.

B. Model-Model Desain Pembelajaran
1. Pengertian Model-Model Desain Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan suatu rencana mengajar yang memper-hatikan pola pembelajaran tertentu, hal ini sesuai dengan pendapat Briggs (1978:23) yang menjelaskan model adalah “seperangkat prosedur dan berurutan untuk mewujudkan suatu proses” dengan demikian model pembelajaran adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk melaksanakan proses pembelajaran.
Sedangkan yang dimaksud dengan pembelajaran pada hakekatnya merupakan proses komunikasi transaksional yang bersifat timbal balik, baik antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Komunikasi transaksional adalah bentuk komunikasi yang dapat diterima, dipahami dan disepakati oleh pihak-pihak yang terkait dalam proses pembelajaran sehingga menunjukkan adanya perolehan, penguasaan, hasil, proses atau fungsi belajar bagi si peserta belajar.
2. Macam-Macam Model-Model Desain Pembelajaran PAI
Joyce (2000) mengemukakan ada empat rumpun model pembelajaran yakni; (1) rumpun model interaksi sosial, yang lebih berorientasi pada kemampuan memecahkan berbagai persoalan sosial kemasyarakat. (2) Model pemorosesan informasi, yakni rumpun pembelajaran yang lebih berorientasi pada pengusaan disiiplin ilmu. (3) Model pengembangan pribadi, rumpun model ini lebih berorientasi pada pengembangan kepribadian peserta belajar. Selanjutnya model (4) behaviorism Joyce (2000:28) yakni model yang berorientasi pada perubahan prilaku.
Beberapa model pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran pendidikan agama Islam, diantaranya adalah: model classroom meeting, cooperative learning, integrated learning, constructive learning, inquiry learning, dan quantum learning.
3. Perbedaan Model-Model Desain Pembelajaran PAI
a. Model Classroom Meeting
Menurut Glasser dalam Moejiono (1991/1992: 155) sekolah umumnya berhasil membina prilaku ilmiah, meskipun demikian adakalanya sekolah gagal membina kehangatan hubungan antar pribadi. Agar sekolah dapat membina kehangatan hubungan antar pribadi, maka dipersyaratkan; (a) guru memiliki rasa keterlibatan yang mendalam, (b) guru dan siswa harus berani menghadapi realitas, dan berani menolak prilaku yang tidak bertanggung jawab, dan (c) siswa mau belajar cara-cara berprilaku yang lebih baik. Agar siswa dapat membina kehangatan hubungan antara pribadi, guru perlu menggunakan strategi mengajar yang khusus. Karakteristik PAI salah satunya adalah untuk menghantarkan peserta didik agar memiliki kepribadian yang hangat, tegas dan santun. Model pertemuan tatap muka adalah pola belajar mengajar yang dirancang untuk mengembangkan pemahaman diri sendiri, dan rasa tanggung jawab pada diri sendiri dan kelompok. Strategi mengajar model ini mendorong siswa belajar secara aktif. Kelemahan model ini terletak pada kedalaman dan keluasan pembahasan materi, karena lebih berorientasi pada proses, sedangkan PAI di samping menekankan pada proses tetapi juga menekankan pada penguasan materi, sehingga materi perlu dikaji secara mendalam agar dapat dipahami dan dihayati serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
b. Model Cooperative Learning
Untuk mengem-bangkan kemampuan bekerja sama dan memecahkan masalah dapat menggunakan model cooperative learning. Model ini dikembangakan salah satunya oleh Robert E. Slavin (Johnson, 1990). Model ini membagi siswa dalam kelompok-kelompok diskusi, di mana satu kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang, masing-masing kelompok bertugas menyelesaikan/memecahkan suatu permasalahan yang dipilih.. Beberapa karakteristik pendekatan cooperative learning, antara lain:
1) Individual Accountability, yaitu; bahwa setiap individu di dalam kelompok mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh kelompok, sehingga keberhasilan kelompok sangat ditentu-kan oleh tanggung jawab setiap anggota.
2) Social Skills, meliputi seluruh hidup sosial, kepekaan sosial dan mendidik siswa untuk menumbuhkan pengekangan diri dan pengarahan diri demi kepentingan kelompok. Keterampilan ini mengajarkan siswa untuk belajar memberi dan menerima, mengambil dan menerima tanggung jawab, menghor-mati hak orang lain dan membentuk kesadaran sosial.
3) Positive Interdependence, adalah sifat yang menunjukkan saling keter-gantungan satu terhadap yang lain di dalam kelompok secara positif. Keberhasilan kelompok sangat ditentukan oleh peran serta anggota kelompok, karena siswa berkolaborasi bukan berkompetensi.
4) Group Processing, proses perolehan jawaban permasalahan dikerjakan oleh kelompok secara bersama-sama.
Langkah-langkahnya:
1) Guru merancang pembelajaran, mempertimbangkan dan menetapkan target pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran.
2) Dalam aplikasi pembelajaran di kelas, guru merancang lembar observasi kegiatan dalam belajar secara bersama-sama dalam kelompok kecil.
3) Dalam melakukan observasi kegiatan siswa, guru mengarahkan dan membimbing siswa baik secara individual maupun kelompok, dalam pemahaman materi maupun mengenai sikap dan perilaku siswa selama kegiatan belajar.
4) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil kerjanya.
c. Model Integrated Learning
Hakikat model pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik. Pembelajaran terpadu akan terjadi apabila peristiwa-peristiwa otentik atau eksplorasi topik/tema menjadi pengendali di dalam kegiatan belajar sekaligus proses dan isi berbagai disiplin ilmu/mata pelajaran/pokok bahasan secara serempak dibahas. Konsep tersebut sesuai dengan beberapa tokoh yang mengemukakan tentang model pembelajaran terpadu seperti berikut ini:
Rancangan pembelajaran terpadu secara eksplisit merumuskan tujuan pembelajaran. Dampak dari tujuan pengajaran dan pengiringnya secara langsung dapat terlihat dalam rumusan tujuan tersebut. Pada dampak penggiring umumnya, akan membuahkan perubahan dalam perkembangan sikap dan kemampuan berfikir logis, kreatif, prediktif, imajinatif. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996/1997:3)
Ciri-ciri pembelajaran terpadu:
1) Holistik, suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam dalam pembelajaran terpadu dikaji dari beberapa bidang studi/pokok bahasan sekaligus untuk memahami fenomena dari segala sisi.
2) Bermakna, keterkaitan antara konsep-konsep lain akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari dan diharapkan siswa mampu menerapkan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata di dalam kehidupannya.
3) Aktif, pembelajaran terpadu dikembangkan melalui pendekatan diskoveri inkuiri. Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, yang tidak secara langsung dapat memotivasi siswa untuk belajar.
d. Model Constructivist Learning
Model konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan diri (self-regulation). Dan akhirnya proses belajar, pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya (Bell, 1993:24, Driver & Leach, 1993:104).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam merancang model pembelajaran konstruktivisme adalah:
1) Mengakui adanya konsep awal yang dimiliki siswa melalui pengalaman sebelumnya.
2) Menekankan pada kemampuan minds-on dan hands-on
3) Mengakui bahwa dalam proses pembelajaran terjadi perubahan konsep-tual
4) Mengakui bahwa pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif
5) Mengutamakan terjadikan interaksi sosial
Tahapan model pembelajaran ini, meliputi:

Alur Model Pembelajaran Konstruktivisme
e. Model Inquiry Learning
Model inkuiri dapat dilakukan melalui tujuh langkah yaitu:
1) merumuskan masalah
2) merumuskan hipotesis
3) mendefinisikan istilah (konseptualisasi)
4) mengumpulkan data
5) penyajian dan analisis data
6) menguji hipotesis
7) memulai inkuiri baru. James Bank (dalam Suniti, 2001: 58)
f. Model Quantum Learning
Quantum Learning merupakan pengubahan berbagai interaksi yang ada pada momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar yang efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. (De Potter, 1999:5) Dari kutipan tersebut diperoleh pengertian bahwa pembelajaran quantum merupakan upaya pengorgani-sasian bermacam-macam interaksi yang ada di sekitar momen belajar.
Pembelajaran quantum memiliki banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman belajar. Unsur itu dibagi menjadi dua kategori yaitu Konteks dan Isi. Kerangka
Rancangan Pembelajaran Quantum
1) Tumbuhkan minat dengan selalu mengarahkan siswa terhadap pemahaman tentang apa manfaat setiap pelajaran bagi diri siswa
2) Alami: Buatlah pengalaman umum yang dapat di mengerti oleh semua siswa.
3) Namai: Guru harus menyediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi sebagai masukan.
4) Demonstrasikan: Sebaiknya guru menyediakan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan apa yang mereka sudah ketahui.
5) Ulangi: Guru harus menunjukkan cara mengulangi materi dan menegas-kan ”Aku Tahu Bahwa Aku Memang Tahu”.
6) Rayakan: Guru harus memberikan pengakuan terhadap setiap penyele-saian, partisipasi dan pemerolehan keterampilan dan pengetahuan siswa.

C. Langkah-Langkah Dalam Menyusun Kompetensi Dasar, Indikator Hasil Belajar, Dan Materi Pelajaran
1. Kompetensi Dasar
Kompetensi Dasar (KD) adalah tujuan akhir untuk setiap unit atau satuan pembelajaran. Rumusan KD menunjukkan secara operasional hasil yang diharapkan dicapai siswa di akhir satu unit pembelajaran. Dengan kata lain, KD adalah kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh lulusan yang harus dicapai setelah siswa menyelesaikan suatu jenjang pendidikan untuk satu mata pelajaran.
Rumusan KD seharusnya dibuat dengan kata-kata operasional dan cukup spesifik. KD sebagai tujuan pembelajaran harus secara jelas menunjukkan apa yang dapat dilakukan siswa diakhir satu unit pembelajaran. Rumusan KD yang operasional memungkinkan ketercapaiannya dapat diukur dan diamati melalui indikator yang relevan. Suatu KD hakikatnya adalah suatu pernyataan tentang kompetensi. Ke-operasional-an suatu rumusan KD penting agar mudah dijabarkan dalam indikator-indikator yang akan dijadikan dasar perumusan komponen-komponen yang lain yang terdapat dalam silabus. KD operasional dan KD tak operasional diberi batasan sebagai berikut:
Rumusan Operasional Rumusan Tidak operasional
• Memuat pernyataan tentang suatu kompetensi (apa yang diharapkan dapat didemonstrasikan siswa).
• Menggunakan kata kerja tindakan ranah penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.
• Hanya terdiri dari satu kompetensi
• Dapat dicapai dengan satu tahapan kegiatan pembelajaran yang pendek • Memuat lebih dari satu kompetensi.
• Bukan pernyataan tentang kompetensi.
• Menggunakan kata kerja tindakan ranah pengetahuan dan pemahaman.

Pemetaan Kompetensi Dasar
Sebelum menyusun silabus terlebih dahulu dilakukan pemetaan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang diambil dari standar isi untuk membantu guru mengelompokkan dan mengurutkan kompetensi dasar (KD) yang akan disajikan kepada peserta didik.
Pemetaan ialah penyusunan kompetensi dasar (KD) yang memiliki krasteristik dan aspek yang sama untuk dikelompokkan dan diurutkan dalam satu semester serta menentukan jenis penilaian bagi masing-masing Kompetensi Dasar. Tujuan melakukan pemetaan adalah menselaraskan dan mengurutkan KD dengan menyesuaian aspek kompetensi sehingga materi ajar saling mempunyai keterkaitan.
Pemetaan dilakukan dari KD yang terdapat dalam standar isi pada satuan pendidikan menurut bidang studi masing-masing. KD disusun secara berurutan sesuai dengan keterkaitan karakteristik dan aspek yang dimiliki masing-masing kompetensi. Apabila urutan KD yang terdapat dalam standar isi sudah dikaji dan dianalisa ternyata sudah sesuai dengan urutan menurut aspek dan krakteristiknya sehingga tinggal menentukan penilaian sesuai indikator masing-masing KD. Berikut ini langkah-langkah pemetaan:
a. Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum dalam standar isi dengan meperhatikan hal-hal berikut :
1) Di antara KD mempunyai hubungan fungsional, seperti bidang studi pendidikan agama Islam dalam aspek fiqih KD tentang ketentuan thaharah (bersuci) mempunyai hubungan dekat dengan KD tentang tatacara shalat
2) Mengurutkan KD dengan mendahulukan KD yang menurut perkiraan lebih mudah dilakukan peserta didik
3) Menyusun urutan KD perlu memperhatikan dukungan sarana dan prasarana penunjang dengan mendahulukan KD yang lebih mendapat dukungan sarana dan prasarana
b. Mengurutkan KD berdasarkan aspek dan krakteristiknya
c. Menetapkan jenis penilaian bagi masing-masing KD
2. Indikator
Indikator adalah penanda ketercapaian suatu kompetensi dasar. Indikator dijabarkan oleh guru atas dasar analisis terhadap KD yang telah disusun oleh Badan Standart Nasional Pendidikan maupun Peraturan Menteri Agama. Indikator pembelajaran adalah karakteristik, ciri-ciri, tanda-tanda, perbuatan atau respon yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh siswa, untuk menunjukkan siswa tersebut telah menguasai kompetensi dasar tertentu. Indikator merupakan kompetensi dasar yang lebih spesifik. Apabila serangkaian indikator dalam satu kompetensi dasar sudah dapat dicapai oleh siswa, berarti target kompetensi dasar tersebut sudah terpenuhi. Berikut mekanisme pengembangan indikator:
a. Menganalisis tingkat kompetensi dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan minimal kompetensi yang dijadikan standar secara nasional. Sekolah dapat mengembangkan indikator melebihi standar minimal tersebut. Tingkat kompetensi dapat dilihat melalui kata kerja operasional yang digunakan dalam SK dan KD.
b. Menganalisis karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah
Pengembangan indikator mempertimbangkan karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah karena indikator menjadi acuan dalam penilaian. Sesuai Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005, karakteristik penilaian kelompok mata pelajaran adalah sebagai berikut.
Kelompok Mata Pelajaran Mata Pelajaran Aspek yang Dinilai
Agama dan Akhlak Mulia Pendidikan Agama Afektif dan Kognitif
Kewarganegaraan dan Kepribadian Pendidikan Kewarganegaraan Afektif dan Kognitif
Jasmani Olahraga dan Kesehatan Penjas Orkes Psikomotorik, Afektif, dan Kognitif
Estetika Seni Budaya Afektif dan Psikomotorik
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Matematika, IPA, IPS
Bahasa, dan TIK. Afektif, Kognitif, dan/atau Psikomotorik sesuai karakter mata pelajaran
Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu yang membedakan dari mata pelajaran lainnya. Perbedaan ini menjadi pertimbangan penting dalam mengembangkan indikator.
c. Menganalisis kebutuhan dan potensi
Kebutuhan dan potensi peserta didik, sekolah dan daerah perlu dianalisis untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan indikator. Penyelenggaraan pendidikan seharusnya dapat melayani kebutuhan peserta didik, lingkungan, serta mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Peserta didik mendapatkan pendidikan sesuai dengan potensi dan kecepatan belajarnya, termasuk tingkat potensi yang diraihnya.
Dalam merumuskan indikator perlu diperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
a. Setiap KD dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi tiga indikator
b. Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam kata kerja yang digunakan dalam SK dan KD. Indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal KD dan dapat dikembangkan melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik.
c. Indikator yang dikembangkan harus menggambarkan hirarki kompetensi.
d. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua aspek, yaitu tingkat kompetensi dan materi pembelajaran.
e. Indikator harus dapat mengakomodir karakteristik mata pelajaran sehingga menggunakan kata kerja operasional yang sesuai.
Prinsip pengembangan indikator adalah Urgensi, Kontinuitas, Relevansi dan Kontekstual. Keseluruhan indikator dalam satu KD merupakan tanda-tanda, perilaku, dan lain-lain untuk pencapaian kompetensi yang merupakan kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten.
3. Materi Pelajaran
Materi pelajaran adalah bagian dari struktur keilmuan suatu bahan kajian yang dapat berupa pengertian konseptual, gugus isi atu konteks, proses, bidang ajar, dan ketrampilan. Pokok bahasan memuat materi pembelajaran yang merupakan bahan untuk mencapai KD yang ditargetkan. Bahan pembelajaran ini harus benar-benar dapat menghantarkan tercapainya KD yang telah ditentukan. Mengidentifikasi materi pokok/ pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:
a. Potensi peserta didik;
b. Relevansi dengan karakteristik daerah;
c. Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik;
d. Kebermanfaatan bagi peserta didik;
e. Struktur keilmuan;
f. Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
g. Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan;
h. Alokasi waktu.

D. Pemilihan Metode, Media Dan Alat Evaluasi
1. Pemilihan Metode
Menurut Nana Sujana, metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Variabel metode pembelajaran diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu:
a. Strategi pengorganisasian (Organizational srategy)
Strategi pengorganisasian adalah metode untuk mengorganisasi isi bidang studi yang telah dipilih untuk pembelajaran. Mengorganisasi mengacu pada suatu tindakan seperti pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, format, dan lain-lain yang setingkat dengan itu. Strategi pengorganisasian PAI adalah suatu metode untuk mengorganisasi isi bidang studi PAI yang pilih untuk pembelajaran.
b. Strategi penyampaian (Delivery strategy)
Strategi penyampaian adalah metode untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik dan atau menerima serta merespon masukan yang berasal dari peserta didik. Sumber belajar merupakan bidang kajian utama dari strategi ini. Strategi penyampaian pembelajaran PAI adalah metode-metode penyampaian pembelajaran PAI yang dikembangkan untuk membuat siswa dapat merespon dan menerima pelajaran PAI dengan mudah, cepat, dan menyenangkan. Strategi penyampaian ini berfungsi sebagai penyampai isi pembelajaran kepada peserta didik dan menyediakan informasi yang diperlukan peserta didik untuk menampilkan unjuk kerja (hasil kerja).
c. Strategi pengelolaan (management strategy).
Strategi pengelolaan adalah metode untuk menata interaksi antara peserta didik dan variabel metode pembelajaran yang lain. Variabel strategi pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran dibedakan menjadi strategi pengorganisasian pada tingkat makro dan mikro.
2. Pemilihan Media
Pemilihan media pembelajaran PAI sekurang-kurangnya dapat mempertimbangkan beberapa hal yakni kecermatan representatif, tingkat interaktif yang mampu ditimbulkan, tingkat kemampuan khusus yang dimilikinya, serta tingkat motivasi yang mampu ditimbulkannya dan tingkat biaya yang diperlukannya.
Interaksi peserta didik dengan media berarti bagaimana peran media pembelajaran dalam merangsang kegiatan belajar peserta didik. Setiap media pembelajaran PAI yang direncanakan hendaknya dipilih, ditetapkan dan dikembangkan sehingga dapat menimbulkan interaksi peserta didik dengan pesan-pesan yang dibawa media pembelajaran.
Strategi pengelolaan pembelajaran adalah metode untuk menata interaksi antara peserta didik dengan komponen-komponen metode pembelajaran lain, seperti pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran. Strategi pembelajaran dapat ditinjau dari segi ilmu, seni dan atau keterampilan yang digunakan pendidikan dalam upaya membantu (memotivasi, membimbing, membelajarkan, memfasilisasi) peserta didik.
3. Pemilhan Alat Evaluasi
Dalam hasil pembelajaran PAI adalah mencakup semua akibat yang dapat dijadikan indikator tentang nilai dari penggunaan metode pembelajaran PAI di bawah kondisi pembelajaran yang berbeda. Hasil pembelajaran PAI dapat berupa hasil nyata (actual out-come) dan hasil yang diinginkan (desired out-come). Actual out-come adalah hasil belajar PAI yang dicapai peserta didik secara nyata karena digunakannya suatu metode pembelajaran PAI tertentu yang dikembangkan sesuai dengan kondisi yang ada. Sedangkan desired out-come merupakan tujuan yang ingin dicapai yang biasanya sering mempengaruhi keputusan perancang pembelajaran PAI dalam melakukan pilihan suatu metode pembelajaran yang paling baik untuk digunakan sesuai dengan kondisi pembelajaran yang ada. Indikator keberhasilan pembelajaran PAI dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu:
a. Keefektifan
Pembelajaran dikatakan efektif jika pembelajaran tersebut mampu memberikan atau menambah informasi atau pengetahuan baru bagi siswa. Adapun keefektifan pembelajaran dapat diukur dengan kriteria:
1) Kecermatan penguasaan kemampuan atau perilaku yang dipelajari
2) Kecepatan unjuk kerja sebagai bentuk hasil belajar
3) Kesesuaian dengan prosedur kegiatan belajar yang harus ditempuh
4) Kuantitas unjuk kerja sebagai bentuk hasil belajar
5) Kualitas hasil akhir yang dapat dicapai
6) Tingkat alih belajar
7) Tingkat retensi belajar
b. Efisiensi
Pembelajaran yang efisien adalah pembelajaran yang menyenangkan, menggairahkan dan mampu memberikan motivasi bagi siswa dalam belajar8
c. Daya Tarik
Daya tarik yang dimaksud dalam hal ini adalah pembelajaran itu diukur dengan mengamati kecendurungan peserta didik untuk berkeinginan terus belajar.

E. Kalender Pendidikan
Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.
a. Alokasi Waktu
Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.
b. Penetapan Kalender Pendidikan
Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan, Kepala Daerah Tingkat Kabupaten/Kota, dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus. Pemerintah Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu pada dokumen Standar Isi dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah.

Teknik pembelajaran Jigsaw

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masih banyak guru yang menggunakan metode ceramah dan strategi yang kurang tepat dalam proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar di kelas dilakukan secara monoton. Pembelajaran yang demikian disebut sebagai pembelajaran konvensional. Pembelajaran tersebut mengakibatkan banyak siswa menjadi bosan atau tidak nyaman dalam proses belajar mengajar di kelas, sehingga hasil belajar siswa berakhir dengan tidak tuntas.
Dari fenomena seperti kenyataan di atas, pihak ahli pendidikan melakukan berbagai uji coba penerapan model pembelajaran. Beberapa percobaan dilakukan menunjukkan hasil yang memuaskan dalam peningkatan hasil belajar, sehingga percobaan berbagai model pembelajaran terus ditingkatkan.
Dalam dekade terakhir ini, para ahli pendidikan mengembangkan model pembelajaran dan berhasil mendorong minat siswa dalam kerja sama yang diterapkan di kelas. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran kooperatif. Tipe model pembelajaran kooperatif yang akan dijelaskan dalam makalah ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dikembangkan dan diujicobakan pertama kali oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001). Teknik ini kemudian dikembangkan oleh Aronson sebagai metode Cooperative Learning. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara.

B. Rumusan Masalah
Oleh karena pembahasan mengenai model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini sangat luas maka kami hanya membatasi pembahasan makalah ini pada masalah:
1. Deskripsi Tentang Model Pembelajaran Jigsaw
2. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Jigsaw
3. Pembagian Peran Dalam Model Pembelajaran Jigsaw
4. Materi Belajar Yang Bisa Menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw

C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui deskripsi tentang model pembelajaran Jigsaw, langkah-langkah model pembelajaran Jigsaw, pembagian peran dalam model pembelajaran Jigsaw, serta materi belajar yang bisa menggunakan model pembelajaran Jigsaw.
2. Memenuhi tugas mata kuliah Pengelolaan Kelas

BAB II
PEMBAHASAN

A. Deskripsi Tentang Model Pembelajaran Jigsaw
Terdapat beberapa pendapat mengenai pengertian Model pembelajaran Jigsaw. Model pembelajaran Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. (Arends,2007)
Pendapat lain mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif di mana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggungjawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus di pelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain. (Arends, 2007)
Dapat disimpulkan bahwa metode Jigsaw adalah teknik pembelajaran kooperatif dimana siswa, bukan guru, yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan dari Jigsaw ini adalah mengembangkan kerja tim, keterampilan belajar koopenatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi sendirian.
Model pembelajaran Jigsaw menggunakan teknik “pertukaran dari kelompok ke kelompok“ (group-to-group exchange) dimana setiap peserta didik mengajarkan sesuatu kepada peserta didik yang lainnya. Dalam proses pengajaran itu terjadi diskusi. Dalam diskusi pasti ditemukan beberapa perbedaan pendapat yang dikarenakan oleh perbedaan pemahaman atas materi yang dipelajari oleh masing-masing peserta didik. Oleh karena itu, Setiap kali seorang peserta didik mengajarkan sesuatu kepada yang lainnya berdasarkan apa yang telah dipelajarinya, akan terjadi timbal balik dari pihak pembelajar berdasarkan materi yang dipelajarinya pula.
Dalam model pembelajaran Jigsaw akan terjadi kombinasi antara materi yang disampaikan peserta didik selaku pengajar dengan materi yang telah dipelajari oleh peserta didik lain selaku pembelajar. Dari sini dapat dibuat sebuah kumpulan pengetahuan yang bertalian. (Melvin L. silberman, active learning, Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2007)
Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Pada model pembelajaran Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.
Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut (Arends, 1997):
Gambar. Ilustrasi Kelompok Jigsaw

Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topik pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim / kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Model pembelajaran Jigsaw mempunyai kelebihan dan kekurangan. Diantara kelebihannya adalah sebagai berikut:
1. Melibatkan seluruh peserta didik dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain. (Hisyam Zaini, Bermawy Munthe, Sekar Ayu Aryani, Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta : Pustaka Insan Madani, 200delapan).
2. Meningkatkan rasa tanggungjawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain.
3. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompok yang lain.
4. Siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan“. (Lie, A, 1994).
5. Melatih peserta didik agar terbiasa berdiskusi dan bertanggungjawab secara individu untuk membantu memahamkan tentang suatu materi pokok kepada teman sekelasnya. (Ismail SM,M.Ag, Strategi pembelajaran agama islam berbasis PAIKEM, Semarang: RaSAIL Media Group, 200delapan)
Pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan model pembelajaran Jigsaw tidaklah selalu berjalan dengan mulus meskipun rencana telah dirancang sedemikian rupa oleh karena adanya beberapa hal yang menghambat proses kegiatan belajar mengajar. Disinilah letak kekurangan model pembelajaran Jigsaw. Hal-hal yang dapat menghambat proses pembelajaran dalam penerapan model pembelajaran Jigsaw diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Kurangnya pemahaman guru mengenai penerapan pembelajaran model Jigsaw.
2. Jumlah siswa yang terlalu banyak yang mengakibatkan perhatian guru terhadap proses pembelajaran relatif kecil sehingga hanya segelintir orang yang menguasai arena kelas sedangkan yang lain hanya sebagai penonton.
3. Kurangnya sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran model Jigsaw.
4. Kurangnya buku sumber sebagai media pembelajaran.
5. Terbatasnya pengetahuan siswa akan sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.

B. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Jigsaw
Model pembelajaran Jigsaw merupakan suatu pembelajaran yang dirancang oleh guru, dimana siswa belajar secara kelompok kecil, yang terbagi atas kelompok asal dan kelompok ahli (Counterpart Group), dengan tujuan setiap siswa mengetahui dengan benar materi yang dipelajari bersama, dengan langkah-langkah tertentu. Perlu diperhatikan bahwa dalam menggunakan Jigsaw perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Adapun langkah-langkah Model pembelajaran Jigsaw adalah sebagai berikut:
1. Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok. Jumlah anggota kelompok menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya. Kelompok ini disebut kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji).
2. Setiap siswa anggota kelompok asal diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut.
3. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG).
4. Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal.
Berikut ini contoh penerapannya:
Misalnya suatu kelas terdiri dari empat puluh siswa dan lima bagian materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya. Maka dari empat puluh siswa akan terdapat lima kelompok ahli yang beranggotakan delapan siswa dan delapan kelompok asal yang terdiri dari lima siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal.

Gambar Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw

5. Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
6. Guru memberikan evaluasi

C. Pembagian Peran Dalam Model Pembelajaran Jigsaw
Dalam model pembelajaran Jigsaw, guru berperan sebagai fasilitator baik itu fasilitator kelompok asal maupun fasilitator kelompok ahli. Sedangkan siswa menjalani dua peran yaitu sebagai peneliti dan pengajar.
1. Siswa sebagai peneliti
Ketika seorang siswa berperan sebagai peneliti atau pencari jawaban atas materi yang telah dibagi, siswa tersebut akan tergabung dengan kelompok ahli. Dalam kelompok ahli ini, siswa yang mempunyai materi yang sama saling bertukar pendapat terhadap materi yang dipelajari. Kelompok ahli yang diisi oleh siswa dari kelompok asal ini akan mempelajari lebih dalam terhadap materi yang telah ditentukan. Semua anggota kelompok ahli diharuskan untuk menyampaikan pemahamannya terhadap materi sehingga anggota kelompok ahli yang lain dapat memiliki tambahan pemahaman. Dan pemahaman inilah yang dijadikan sebagai bekal oleh setiap siswa untuk menjalankan perannya yang kedua yakni peran sebagai pengajar.

2. Siswa sebagai pengajar
Setelah siswa berdiskusi di kelompok ahli, siswa akan menjalankan perannya yang kedua yaitu menjadi orang yang mengajarkan. Setiap anggota dari kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal. Kelompok asal inilah yang biasanya disebut kelompok Jigsaw. Dalam kelompok asal, setiap siswa akan memberi pemahaman materi sesuai dengan yang telah didiskusikan dalam kelompok ahli kepada anggota lain dalam kelompok Jigsaw. Hal tersebut dilakukan secara bergantian sampai materi yang dipelajari semuanya telah dijelaskan.

D. Materi Belajar Yang Bisa Menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw
Tidak semua materi suatu mata pelajaran dapat menggunakan model pembelajaran Jigsaw. Model pembelajaran Jigsaw ini dapat digunakan apabila:
1. Materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian.
2. Materi yang akan dipelajari tidak mengharuskan urutan penyampaian.
Adapun materi Pendidikan Agama Islam yang bisa menggunakan model pembelajaran Jigsaw ini adalah semua aspek mata pelajaran PAI yakni Qur’an Hadits, Aqidah Akhlak, Fiqih, dan SKI.
Agar pelaksanaan pembelajaran Cooperative Learning dapat berjalan dengan baik, maka upaya yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Guru senantiasa mempelajari teknik-teknik penerapan model pembelajaran Cooperative Learning khususnya tipe Jigsaw dan menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.
2. Pembagian jumlah siswa yang merata, dalam artian tiap kelas merupakan kelas heterogen.
3. Diadakan sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran Cooperative Learning.
4. Meningkatkan sarana pendukung pembelajaran terutama buku sumber.
5. Mensosialisasikan kepada siswa akan pentingnya sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.

BAB III
KESIMPULAN

A. Deskripsi Tentang Model Pembelajaran Jigsaw
Metode Jigsaw adalah teknik pembelajaran kooperatif dimana siswa, bukan guru, yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan dari Jigsaw ini adalah mengembangkan kerja tim, keterampilan belajar koopenatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi sendirian.
Pada model pembelajaran Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. Model pembelajaran Jigsaw mempunyai kelebihan dan kekurangan.

B. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Jigsaw
Langkah-langkah Model pembelajaran Jigsaw adalah sebagai berikut:
1. Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok. Jumlah anggota kelompok menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya. Kelompok ini disebut kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji).
2. Setiap siswa anggota kelompok asal diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut.
3. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG).
4. Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal.
5. Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
6. Guru memberikan evaluasi

E. Pembagian Peran Dalam Model Pembelajaran Jigsaw
Dalam model pembelajaran Jigsaw, guru berperan sebagai fasilitator baik itu fasilitator kelompok asal maupun fasilitator kelompok ahli. Sedangkan siswa menjalani dua peran yaitu sebagai peneliti dan pengajar.

F. Materi Belajar Yang Bisa Menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw
Tidak semua materi suatu mata pelajaran dapat menggunakan model pembelajaran Jigsaw. Model pembelajaran Jigsaw ini dapat digunakan apabila:
1. Materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian.
2. Materi yang akan dipelajari tidak mengharuskan urutan penyampaian.

Pengantar Dasar Matematika

1. Definisi Matematika
Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema
yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika dalam
bahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya
berkaitan dengan penalaran.
Ada yang berpendapat bahwa Matematika berasal dari bahasa Yunani mathematika yaitu studi besaran, struktur, ruang, relasi, perubahan, dan beraneka topik pola, bentuk, dan entitas. Dalam pandangan formalis, matematika adalah pemeriksaan aksioma yang menegaskan struktur abstrak menggunakan logika simbolik dan notasi matematika; pandangan lain tergambar dalam filsafat matematika. Para matematikawan merumuskan konjektur dan kebenaran baru melalui deduksi yang menyeluruh dari beberapa aksioma dan definisi yang dipilih dan saling bersesuaian.

2. Karakteristik Matematika
Ciri utama matematika adalah sebagai berikut:
a. Berpola pikir Deduktif namun pembelajaran dan pemahaman konsep dapat diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi.
b. Memiliki Kajian Objek Abstrak.
c. Bertumpu Pada Kesepakatan.
d. Memiliki Simbol yang Kosong dari Arti. Rangkaian simbol-simbol dapat membentuk model matematika.
e. Memperhatikan Semesta Pembicaraan. Konsekuensi dari simbol yang kosong dari arti adalah diperlukannya kejelasan dalam lingkup model yang dipakai.
f. Konsisten Dalam Sistemnya. Dalam matematika terdapat banyak sistem. Ada yang saling terkait dan ada yang saling lepas. Dalam satu sistem tidak boleh ada kontradiksi. Tetapi antar sistem ada kemungkinan timbul kontradiksi.

3. Sistem dan Struktur dalam Matematika
Disiplin utama dalam matematika didasarkan pada kebutuhan perhitungan dalam perdagangan, pengukuran tanah dan memprediksi peristiwa dalam astronomi. Ketiga kebutuhan ini secara umum berkaitan dengan ketiga pembagian umum bidang matematika: studi tentang struktur, ruang dan perubahan.
Pelajaran tentang struktur dimulai dengan bilangan, pertama dan yang sangat umum adalah bilangan natural dan bilangan bulat dan operasi arimetikanya, yang semuanya itu dijabarkan dalam aljabar dasar.
Ilmu tentang ruang berawal dari geometri, yaitu geometri Euclid dan trigonometri dari ruang tiga dimensi, kemudian belakangan juga digeneralisasi ke geometri Non-euclid yang memainkan peran sentral dalam teori relativitas umum. Mengerti dan mendeskripsikan perubahan pada kuantitas yang dapat dihitung adalah suatu yang biasa dalam ilmu pengetahuan alam, dan kalkulus dibangun sebagai alat untuk tujauan tersebut. Konsep utama yang digunakan untuk menjelaskan perubahan variabel adalah fungsi. Banyak permasalahan yang berujung secara alamiah kepada hubungan antara kuantitas dan laju perubahannya, dan metoda untuk memecahkan masalah ini adalah topik dari persamaan differensial. Untuk merepresentasikan kuantitas yang kontinu digunakanlah bilangan riil, dan studi mendetail dari sifat-sifatnya dan sifat fungsi nilai riil dikenal sebagai analisis riil. Untuk beberapa alasan, amat tepat untuk menyamaratakan bilangan kompleks yang dipelajari dalam analisis kompleks.
Agar menjelaskan dan menyelidiki dasar matematika, bidang teori pasti, logika matematika dan teori model dikembangkan. Bidang-bidang penting dalam matematika terapan ialah statistik, yang menggunakan teori probabilitas sebagai alat dan memberikan deskripsi itu, analisis dan perkiraan fenomena dan digunakan dalam seluruh ilmu.

4. Menentukan Kebenaran dalam Matematika
Ada dua teori tentang kebenaran dalam Matematika, yaitu teori korespondensi dan teori koherensi.
a. Teori Korespondensi
Teori korespondensi (the correspondence theory of truth) menunjukkan bahwa suatu pernyataan akan bernilai benar jika hal-hal yang terkandung di dalam pernyataan tersebut sesuai atau cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. Contoh, “Semua manusia akan mati,” merupakan suatu pernyataan yang bernilai benar karena kenyataannya memang demikian.
b. Teori Koherensi
Teori koherensi menyatakan bahwa suatu kalimat akan bernilai benar jika pernyataan yang terkandung di dalam kalimat itu bersifat koheren, konsisten, atau tidak bertentangan dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Contohnya, pengetahuan Aljabar telah didasarkan pada pernyataan pangkal yang dianggap benar. Pernyataan yang dianggap benar itu disebut aksioma atau postulat.

5. Perkembangan Matematika
Sejarah matematika dimulai ketika orang harus mencatat jumlah yang lebih besar daripada satu. Suku Nomaden kuno menghitung dan mencatat kawanan ternak meskipun mereka tidak memiliki sistem bilangan tertulis. Untuk menghitung mereka memungut kerikil atau biji dan memasukkannya ke dalam kantong. Untuk bilangan besar, mereka menggunakan jari untuk melambangkan bilangan 10 dan 20. Mereka mengembangkan konsep bilangan sebagai lambang yang terpisah dari benda yang dihitung.
Sewaktu pencatatan dan perhitungan menjadi lebih rumit, orang menemukan alat untuk membantu proses itu. Abakus adalah salah satu alat yang paling awal. Orang Romawi menyebutnya dengan sebutan calculus, dari situ muncul kata kalkulasi. Pada awal abad pertengahan, swipoa dari Timur muncul di Timur tengah. Sabak juga dipakai dengan menggunakan kerikil.
Secara Geografis, Mesopotamia adalah daerah yang menentukan sistem bilangan pertama kali, dan juga menemukan sistem berat dan ukur. Kemudian Babilonia menggunakan sistem desimal dan π=3,125, mengenal Geometri sebagai basis perhitungan astronomi, Geometrinya bersifat aljabaris. Pada masa ini, mulai menggunakan pendekatan untuk akar kuadrat, Aritmatika tumbuh dan berkembang baik menjadi aljabar retoris, juga mulai mengenal teorema Pythagoras. Ilmuwan Babilonia merupakan Penemu kalkulator pertama kali. Kemudian disusul Mesir Kuno, Yunani Kuno, India, lalu China

6. Tujuan Pendidikan Matematika
Di dalam GBPP mata pelajaran matematika SD disebutkan bahwa tujuan yang hendak dicapai dari pembelajaran matematika sekolah adalah:
a. Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung (menggunakan bilangan) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari
b. Menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialihgunakan, melalui kegiatan matematika
c. Mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal lanjut di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)
d. Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin. (Depdikbud, 1993:40)
Sedangkan tujuan mata pelajaran matematika yang tercantum dalam KTSP pada SD/MI adalah sebagai berikut:
a. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
b. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
c. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
d. Mengkomunkasikan gagasan dengan simbol, table, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
e. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2006 : 417).

7. Pola Pikir Dalam Matematika Sekolah
Pembelajaran Matematika di sekolah sangat terbatas sehingga kebutuhan anak terhadap Matematika belum seluruhnya terpenuhi. Pola pembelajaran Matematika di sekolah diakui masih kurang menyenangkan bagi anak. Hal itu dikarenakan pembelajaran Matematika di sekolah seolah-olah direduksi hanya persoalan hitung-menghitung. Aktivitas yang bersifat mekanistik tersebut membosankan anak. Padahal, belajar Matematika ialah bagaimana anak dengan informasi yang dia bangun mampu menyelesaikan permasalahan.
Prinsipnya adalah pembangunan pola pikir anak dalam memecahkan masalah. Jika anak belajar pada level pengetahuannya, anak tidak akan terlalu takut terhadap Matematika. Kalau anak belajar tidak sesuai dengan levelnya, anak ketakutan dan terjadi penumpukan materi yang tidak dikuasai.
Belajar Matematika seharusnya diawali dengan pemberian motivasi. Guru, terutama, harus dapat menggambarkan kepada anak didiknya manfaat belajar Matematika dalam kehidupan. Belajar Matematika juga dimulai dengan hal yang mudah dan beranjak ke materi lebih sulit. Metode belajar Matematika juga harus bervariasi.

8. Arah Peserta Didik Dalam Pembelajaran Matematika
Matematika berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui materi pengukuran dan geometri, aljabar, peluang dan statistika, kalkulus dan trigonometri. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika yang dapat berupa kalimat dan persamaan matematika, diagram, grafik atau tabel. Dengan pembelajaran matematika, peserta didik diarahakan untuk:
a. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikian, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi.
b. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi,
dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
c. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
d. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan,
grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan.

9. Strategi, Metode, Teknik Dalam Pembelajaran Matematika
Metode pemecahan masalah merupakan pertanyaan yang harus dijawab atau direspon. Suatu pertanyaan akan menjadi masalah jika pertanyaan itu menunjukkan adanya suatu tantangan yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui si pelaku. Pada saat memecahkan masalah diperlukan strategi yang jika digunakan siswa bisa bermanfaat dalam kehidupan nyata mereka. Strategi dimaksud antara lain adalah:
a. Membuat diagram dan mengidentifikasi masalah.
b. Dimulai dengan soal-soal yang sederhana
c. Membuat tabel, utuk membantu menganalisis permasalahan atau jalan pikiran.
d. Menemukan pola, mencari keteraturan untuk menemukan penyelesaian
e. Memperhitungkan setiap kemungkinan
f. Berpikir logis
g. Mencoba-coba, supaya ada gambaran umum dari apa yang diketahui.

10. Tantangan Menjadi Guru Matematika
Menjadi seorang guru tidaklah mudah, termasuk guru Matematika. Selain dituntut untuk memiliki kompetensi-kompetensi seorang guru, guru Matematika juga dituntut untuk dapat melewati tantangan-tantangan yang ada. Diantara tantangan-tantangan itu adalah guru matematika harus:
a. Mampu mengubah paradigma masyarakat mengenai bidang studi matematika yang susah dan menakutkan menjadi sesuatu yang mudah dipahami, menyenangkan, dan mampu memberikan kontribusi yang nyata di dalam kehidupan sehari-hari.
b. Memilih berbagai konsep dan metode pembelajaran yang efisien, efektif, dan tepat guna agar peserta didik mampu dengan mudah memahami dan menguasai ilmu matematika yang merupakan dasar-dasar dari ilmu-ilmu yang lain.
c. Menjadi pendidik yang esensial dalam menyampaikan konsep pembelajaran yang sudah dirancang sedemikian rupa. Baik tidaknya pemahaman dan penguasaan materi seorang siswa sangat bergantung juga dari profil, karakter, kepribadian, dan cara menyampaikan materi oleh guru matematika.
d. Mampu menguasai materi yang akan disampaikan kepada peserta didik.
e. Bijaksana. Mampu mengambil tindakan yang tegas dalam mengambil statu keputusan yang tidak memberatkan nemun juga tidak memanjakan siswa.
f. Berwibawa. Memiliki ketegasan dan karakter yang kuat dalam menguasai situasi pembelajaran baik di dalam ataupun di luar kelas dalam konteks pembelajaran matematika sehingga siswa menghormati guru dan tidak menyepelekan guru.
g. Komunikatif.
h. Menarik. Berpenampilan menarik agar terlihat eksentrik dan menawan namun tetap dalam batas yang wajar.
i. Kreatif dan inovatif

11. Himpunan
Himpunan adalah Kumpulan benda atau objek yang didefinisikan (diterangkan) dengan jelas. Himpunan dilambangkan dengan huruf kapital misalnya A, B, C, D, …,Z dan objek-objek dari himpunan itu ditulis diantara dua kurung kurawal dan dipisahkan dengan tanda koma . Yang dimaksud diterangkan dengan jelas adalah benda atau objeknya jelas mana yang merupakan anggota dan mana yang bukan anggota dari himpunan itu.
Contoh:
A adalah himpunan bilangan asli kurang dari 10
A = { 1,2,3,4,5,6,7,8,9}
Macam-macam himpunan
a. Himpunan Kosong, adalah himpunan yang tidak memiliki anggota dan dilambangkan dengan { } atau 
b. Himpunan Lepas, adalah dua himpunan yang tidak kosong dikatakan saling lepas jika kedua himpunan itu tidak mempunyai satupun anggota yang sama.
c. Himpunan Tidak Saling Lepas, adalah dua himpunan yang tidak kosong dikatakan tidak saling lepas (berpotongan) jika kedua himpunan itu mempunyai anggota yang sama.
d. Himpunan Semesta, adalah himpunan yang memuat semua objek yang dibicarakan.
e. Himpunan Bagian. A adalah himpunan bagian dari himpunan B apabila setiap anggota himpunan A juga menjadi anggota himpunan B, dilambangkan dengan A  B.
f. Himpunan Sama, dua himpunan dikatakan sama apabila setiap anggota kedua himpunan itu sama bentuk dan jumlahnya.
g. Himpunan Equivalen, Dua himpunan dikatakan Ekuivalen apabila jumlah anggota kedua himpunan itu sama tetapi bendanya ada yang tidak sama.
Rumus Banyaknya Himpunan Bagian
Jika suatu himpunan mempunyai anggota sebanyak n(A) maka banyaknya himpunan bagian dari A adalah sebanyak 2n(A)
Irisan Dua Himpunan (Interseksi)
Irisan himpunan A dan B ditulis A  B adalah himpunan semua objek yang menjadi anggota himpunan A sekaligus menjadi anggota himpunan B
Gabungan Dua Himpunan ( Union)
Gabungan himpunan A dan B ditulis A  B adalah himpunan semua objek yang menjadi anggota himpunan A atau menjadi anggota himpunan B
Diagram Venn
Langkah-langkah menggambar diagram venn
a. Daftarlah setiap anggota dari masing-masing himpunan
b. Tentukan mana anggota himpunan yang dimiliki secara bersama-sama
c. Letakkan anggota himpunan yang dimiliki bersama ditengah-tengah
d. Buatlah lingkaran sebanyak himpunan yang ada yang melingkupi anggota bersama tadi
e. Lingkaran yang dibuat tadi ditandai dengan nama-nama himpunan
f. Selanjutnya lengkapilah anggota himpunan yang tertulis di dalam lingkaran sesuai dengan daftar anggota himpunan itu
g. Buatlah segiempat yang memuat lingkaran-lingkaran itu, dimana segiempat ini menyatakan himpunan semestanya dan lengkapilah anggotanya apabila belum lengkap

12. Fungsi
Fungsi dalam istilah matematika adalah pemetaan setiap elemen sebuah himpunan kepada elemen himpunan yang lain. Konsep fungsi adalah salah satu konsep dasar dari matematika dan setiap ilmu kuantitatif. Istilah “fungsi”, “pemetaan”, “peta”, “transformasi”, dan “operator” biasanya dipakai secara sinonim.
Notasi Fungsi
Untuk mendefinisikan fungsi dapat digunakan notasi berikut.

Dengan demikian kita telah mendefinisikan fungsi f yang memetakan setiap elemen himpunan A kepada B. Notasi ini hanya mengatakan bahwa ada sebuah fungsi f yang memetakan dua himpunan, A kepada B. Tetapi bagaimana tepatnya pemetaan tersebut tidaklah terungkapkan dengan baik. Maka kita dapat menggunakan notasi lain.

atau
Fungsi sebagai Relasi
Sebuah fungsi f dapat dimengerti sebagai relasi antara dua himpunan, dengan unsur pertama hanya dipakai sekali dalam relasi tersebut.
Domain dan Kodomain
Domain adalah daerah asal, Kodomain adalah daerah kawan, sedangkan Range adalah daerah hasil
Jenis-jenis fungsi
a. Fungsi satu-satu
b. Fungsi kepada
c. Fungsi injektif

sejarah MAtematika

Matematika (dari bahasa Yunani: μαθηματικά – mathēmatiká) secara umum ditegaskan sebagai penelitian pola dari struktur, perubahan, dan ruang; tak lebih resmi, seorang mungkin mengatakan adalah penelitian bilangan dan angka’. Dalam pandangan formalis, matematika adalah pemeriksaan aksioma yang menegaskan struktur abstrak menggunakan logika simbolik dan notasi matematika.
A. Matematika Zaman Kuno
Sejarah matematika dimulai ketika orang harus mencatat jumlah yang lebih besar daripada satu. Suku Nomaden kuno menghitung dan mencatat kawanan ternak meskipun mereka tidak memiliki sistem bilangan tertulis. Untuk menghitung mereka memungut kerikil atau biji dan memasukkannya ke dalam kantong. Untuk bilangan besar, mereka menggunakan jari untuk melambangkan bilangan 10 dan 20. Mereka mengembangkan konsep bilangan sebagai lambang yang terpisah dari benda yang dihitung.
Sewaktu pencatatan dan perhitungan menjadi lebih rumit, orang menemukan alat untuk membantu proses itu. Abakus adalah salah satu alat yang paling awal. Pertama – tama Abakus berupa permukaan pasir, sabak lilin, atau batu lebar dengan tanda yang menunjukkan letak bilangan dan kerikil yang digunakan sebagai penghitung. Orang Romawi menyebut kerikil semacam itu dengan sebutan calculus, dari situ muncul kata kalkulasi. Abakus kuno dari pulau salamis di Yunani berupa bongkah marmer sepanjang 1,5 meter dan diperkirakan telah digunakan di sebuah kuil oleh para penukar uang.
Pada awal abad pertengahan, swipoa dari Timur muncul di Timur tengah. Alat ini berupa kerangka kotak dengan biji – biji pada sejumlah batang. Sabak juga dipakai dengan menggunakan kerikil yang berada diatas dan dibawah garis pemisah ditandai dengan angka Romawi menurut kolom-kolomnya .
Secara Geografis, Mesopotamia adalah daerah yang menentukan sistem bilangan pertama kali, dan juga menemukan sistem berat dan ukur. Kemudian Babilonia menggunakan sistem desimal dan π=3,125, mengenal Geometri sebagai basis perhitungan astronomi, Geometrinya bersifat aljabaris. Pada masa ini, mulai menggunakan pendekatan untuk akar kuadrat, Aritmatika tumbuh dan berkembang baik menjadi aljabar retoris, juga mulai mengenal teorema Pythagoras. Ilmuwan Babilonia merupakan Penemu kalkulator pertama kali
Mesir Kuno mulai mengenal rumus untuk menghitung luas dan isi, mengenal sistem bilangan dan simbol pada tahun 3100 SM, mengenal tripel Pythagoras, sistem angka bercorak aditif dan aritmatika. Pada tahun 300 SM, masih menggunakan sistem bilangan berbasis 10.
Di Yunani Kuno, banyak ilmuwan yang menemukan konsep matematika. Mereka adalah Pythagoras membuktikan teorema Pythagoras secara matematis, Al Khwarizmi mencetuskan konsep nol, Archimedes mencetuskan nama parabola, Hipassus menemukan bilangan irrasional, Diophantus menemukan aritmatika, Archimedes membuat geometri bidang datar. Pada masa itu juga mulai mengenal bilangan prima.
Di India, Aryabtha (4018 SM) menemukan hubungan keliling sebuah lingkaran, memperkenalkan pemakaian nol dan desimal. Brahmagyupta menemukan bilangan negatif, rumus a2+b2+c2 telah ada pada “Sulbasutra”, geometrinya sudah mengenal tripel Pythagoras, teorema Pythagoras, transformasi dan segitiga pascal.
China Mengenal sifat-sifat segitiga siku-siku tahun 3000 SM, Mengembangkan angka negatif, bilangan desimal, sistem desimal, sistem biner, aljabar, geometri, trigonometri dan kalkulus. Kemudian juga menemukan metode untuk memecahkan beberapa jenis persamaan yaitu persamaan kuadrat, kubik dan qualitik. Aljabarnya menggunakan sistem horner untuk menyelesaikan persamaan kuadrat.
Adapun tokoh-tokoh yang mempunyai andil besar dalam perjalanan sejarah matematika adalah sebagai berikut:
1. Thales (624-550 SM)
Dapat disebut matematikawan pertama yang merumuskan teorema atau proposisi, dimana tradisi ini menjadi lebih jelas setelah dijabarkan oleh Euclid. Landasan matematika sebagai ilmu terapan rupanya sudah diletakan oleh Thales sebelum muncul Pythagoras yang membuat bilangan
2. Pythagoras (582-496 SM)
Pythagoras adalah orang yang pertama kali mencetuskan aksioma-aksioma, postulat-postulat yang perlu dijabarkan terlebih dahulu dalam mengembangkan geometri.
3. Socrates (427-347 SM)
Ia merupakan seorang filosofi besar dari Yunani. Dia juga menjadi pencipta ajaran serba cita, karena itu filosofinya dinamakan idealisme.
4. Ecluides (325-265 SM)
Euklides disebut sebagai “Bapak Geometri” karena menemukan teori bilangan dan geometri. Subyek-subyek yang dibahas adalah bentuk-bentuk, teorema Pythagoras, persamaan dalam aljabar, lingkaran, tangen,geometri ruang, teori proporsi dan lain-lain. Alat-alat temuan Eukluides antara lain mistar dan jangka.
5. Archimedes (287-212 SM)
Dia mengaplikasikan prinsip fisika dan matematika. Dan juga menemukan perhitungan π (pi) dalam menghitung luas lingkaran. Ia adalah ahli matematika terbesar sepanjang zaman dan di zaman kuno. Tiga karya Archimedes membahas geometri bidang datar, yaitu pengukuran lingkaran, kuadratur dari parabola dan spiral.
6. Appolonius (262-190 SM)
Konsepnya mengenai parabola, hiperbola, dan elips banyak memberi sumbangan bagi astronomi modern. Ia merupakan seorang matematikawan yang ahli dalam geometri. Teorema Appolonius menghubungkan beberapa unsur dalam segitiga.
7. Diophantus (250-200 SM)
Ia merupakan “Bapak Aljabar” bagi Babilonia yang mengembangkan konsep-konsep aljabar Babilonia. Seorang matematikawan Yunani yang bermukim di Iskandaria. Karya besar Diophantus berupa buku aritmatika, buku karangan pertama tentang sistem aljabar.

SEJARAH MASUKNYA ISLAM
DI DUSUN BONGGAH PLOSO NGANJUK

Pada tahun berapa tepatnya Islam masuk di dusun Bonggah Ploso Nganjuk tidak ada yang mengetahui. Namun sebagian orang di dusun mengetahui awal perkembangan Islam. Dikatakan bahwasanya Islam mulai berkembang di Bonggah pada tahun 1940. Orang yang pertama kali mengembangkan Islam di Bonggah adalah K. H. Abdullah Hasyim (mbah Hasyim). Beliau awalnya tidak tinggal di Bonggah tapi di salah satu dusun di Nganjuk entah apa nama dusunnya lupa. Beliau pindah ke Bonggah tepatnya tahun 1940.
Awalnya, Islam yang awalnya memang sudah ada disitu tidak begitu berkembang. Islam belum menjadi budaya disana. Masyarakat masih sangat kental dengan budaya yang berbau mitos. Di dusun tersebut ada satu pohon besar yang dijadikan sesembahan oleh masyarakat setempat walaupun sebenarnya mereka sudah Islam. Setiap tahunnya ada upacara sesembahan yang menyajikan pertunjukan kledek, jaranan, dan ludruk. Di tengah-tengah upacara sesembahan tersebut masyarakat menyediakan sesajen yang diletakkan di bawah pohon besar sesembahan mereka. Di setiap pertunjukan, tidak jarang ada diantara penonton pria yang mendampingi si penari wanita untuk berjoget lalu mabuk oleh karena minuman keras.
Melihat kondisi yang demikian, mbah Hasyim resah dan mulai berpikir bagaimana mengarahkan masyarakat pada budaya Islam dengan tidak membuang budaya mereka. Mbah Hasyim pun mulai mengajak sedikit demi sedikit orang untuk mengkaji al-Qur’an. Seperti model pembelajaran yang umum digunakan waktu itu, mbah Hasyim pun menggunakan merode sorogan. Selain itu mbah hasyim juga mulai mengajak masyarakat untuk mengikuti tahlilan, ceramah-ceramah agama, dan lain sebagainya. Di awal perjalanannya, mbah Hasyim tak gentar meskipun hanya sebagian kecil masyarakat yang megikutinya. Di tengah-tengah upayanya menyebarkan syiar Islam di Bonggah, ada beberapa orang yang datang untuk nyantri kepada beliau. Sebagian besar mereka adalah orang asal Saradan Madiun. Akhirnya beliau pun mendirikan pondok kecil-kecilan yang diberi nama ”Al-Huda” yang berarti petunjuk.
Untuk lebih melancarkan syiar Islam di dusun Bonggah, mbah Hasyim berpikir untuk mendirikan masjid dan hal ini terealisasi pada tahun pada tahun 1964. sebagaimana pondoknya, masjid itu diberi nama ”Al-Huda”. Dengan ini, mbah Hasyim berharap masyarakat Bonggah benar-benar dibukakan pintu hidayah-Nya sehingga bisa menjalankan ajaran-ajaran Islam dengan ikhlas. Satu tahun berikutnya, berdiri musholla ”Mujahidin” yang tidak jauh dari masjid al-Huda. Adapun budaya-budaya tidak islami masyarakat sedikit demi sedikit mulai berkurang bahkan akhirnya hilang.
Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, orang yang berdatangan untuk nyantri kepada mbah Hasyim semakin banyak. Model pengajaran lama yang hanya sistem sorogan dirasa tidak cukup untuk memenuhi tuntutan santri yang haus akan ilmu agama. Untuk itu, pada tahun 1975 beliau mendirikan Madrasah Diniyah yang menampung baik itu santri yang ada di pondok pesantren al-Huda maupun santri sekitar Bonggah. Madrasah diniyah ini berlangsung setelah maghrib hingga pukul delapan malam. Pembelajaran yang ada menjadi lebih sistematis karena ada struktural kepengurusan yang bertanggung jawab atas perkembangan madrasah diniyah tersebut.
Beberapa tahun kemudian mbah Hasyim wafat. Perjuangan penyebaran dan pengembangan ajaran Islam di Bonggah dilanjutkan oleh putra bungsunya, K. H. Ahmad Badrus Sholeh. Kyai Ahmad tidak hanya berdakwah di lingkungan Bonggah akan tetapi juga mengembangkannya hingga ke beberapa dusun sebelah dengan cara mengisi pengajian-pengajian dalam forum kecil-kecilan. Majelis pengajian yang beliau ampu ini ada bermacam-macam, ada majelis pengajian ibu-ibu, ada pula majelis pengajian bapak-bapak.
Usaha beliau yang merupakan terobosan baru adalah mendirikan Taman Pendidikan Al-Qur’an Al-Huda (TPQ Al-Huda) pada tahun 1995. Pada awal berdirinya, jumlah santri tidak lebih dari 50 siswa. Selanjutnya, setiap tahun jumlah santri terus meningkat hingga 200 sampai 300 santri. Hingga saat ini jumlah santri kurang lebih 350 santri. TPQ ini masuk pukul 14.30 sampai pukul 16.15. Selain itu, kyai Ahmad juga menambahkan durasi waktu madrasah diniyah karena menurut beliau porsi ilmu agama yang diperoleh oleh anak jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan ilmu umum yang diperolehnya. Jam diniyah menjadi pukul 18.30 hingga pukul 20.00 bagi kelas bawah (kelas sifir), dan hingga pukul 20.30 bagi kelas atas (tsanawiyah dan aliyah).
Pada tahun 2006, kyai Ahmad bersama putra sulungnya dan Ustadz Imam Mahmud, mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI Al-Huda). Sebagaimana perkembangan yang ada di TPQ dan Madrasah Diniyah, MI al-Huda ini juga berkembang begitu pesat. Melihat perkembangan-perkembangan yang ada bisa disimpulkan bahwa dakwah Islam di dusun Bonggah diterima baik oleh masyarakat setempat, hingga saat ini.

Contoh Manual pembelajaran

Manual Media Pembelajaran

Mata Pelajaran : Fiqih
Materi : Haji dan Umrah
Tingkat : SMP/MTs
Bahan : Slide Power Point tentang Haji dan Umrah, kertas karton warna, dan double tape
Media : Pohon Haji dan Umrah

Langkah-langkah Penggunaan :
1. Guru menjelaskan materi dengan media Slide Power Point
2. Setelah penjelasan selesai, guru menggambar batang dan cabang pohon (4 pohon) di papan tulis. Di atas setiap pohon masing-masing diberi judul ”Rukun Haji”, ”Wajib Haji”, ”Rukun Umrah”, serta ”Wajib Umrah”.
3. Guru meminta perwakilan kelompok, masing-masing kelompok tiga siswa (jumlah 18 siswa), untuk mengambil 18 potongan kertas berbentuk daun dan bunga yang berisikan tulisan tentang salah satu dari beberapa rukun haji, wajib haji, rukun umrah, serta wajib umrah.
4. Guru meminta siswa yang telah mendapat potongan kertas kembali ke kelompoknya untuk mendiskusikan dimanakah potongan kertas itu akan ditempelkan, di pohon rukun haji, wajib haji, rukun umrah, atau wajib umrah. Siswa hanya diberi waktu tiga menit untuk berdiskusi.
5. Siswa yang mendapat potongan kertas tadi menempelkannya di papan tulis pada cabang-cabang batang yang ada, menyesuaikan dengan judul pohon.
6. Setelah semua tertempel, guru bersama siswa mengamati dan membetulkan jika ada kesalahan dalam menempel.
7. Guru mereview proses pembelajaran
8. Siswa dapat menemukan dan membedakan beberapa rukun haji, wajib haji, rukun umrah, serta wajib umrah.

Program BK

A. LATAR BELAKANG
Kegiatan administratif manajemen tidak berakhir setelah perencanaan tersusun. Kegiatan selanjutnya adalah melaksanakan perencanaan itu secara operasional. Salah satu kegiatan administratif manajemen dalam pelaksanaan suatu rencana disebut organisasi atau pengorganisasian. Organisasi adalah system kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Pengorganisasian secara harfiah berarti membuat sesuatu menjadi organis, artinya menetapkan hubungan-hubungan operatif antara seluruh komponen agar terdapat keselarasan usaha.
Pengorganisasian disini sangatlah penting dalam pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling disekolah, karena organisasi yang baik dan teratur dapat menciptakan hubungan administrative yang jelas dan tegas antara pihak bersangkutan tergabung dalam staf bimbingan dan konseling disekolah, disamping itu setiap anggota staf bimbingan dan konseling dapat memahami tugas-tugas, tanggung jawab dan wewenangnyadidalam seluruh layanan bimbingan dan konseling disekolah, serta setiap petugas bimbingan dan konseling menyadari perannya, dan bentuk-bentuk hubungan kerjasama dengan petugas lain dalam melakasanakan tugas-tugasnya.

B. RUMUSAN MASALAH
Dalam penulisan makalah ini, adapun rumusan masalah yang mendasar yaitu :
1. Bagaimanakah struktur organisasi dan program BK/BP?
2. Apa saja prinsip-prinsip dan pola organisasi BK?
3. Bagaimanakah seorang konselor disuatu sekolah menyusun perencanaan program kegiatan BK?
4. Sebutkan komponen-komponen program BK!
5. Sebutkan ciri-ciri program BK yang baik!

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui struktur organisasi dan pola program BK
2. Untuk memperoleh informasi lebih terkait prinsip-prinsip dan pola program BK
3. Mengetahui bagaimana cara menyusun perencanaan program kegiatan BK
4. Untuk menambah pengetahuan tentang komponen-komponen apa saja yang menyusun program Bk
5. Untuk memahami ciri-ciri program BK yang baik

D. BATASAN MASLAH
Ruang lingkup permasalahan dalam penulisan makalah ini seputar struktur dan pola program BK disuatu institusi pendidikan formal sebagai acuan dasar tambahan informasi lebih bagi seorang konselor, namun dirasa sangat luasnya pembahasan persoalan tersebut, sehingga penulis memberikan batasan masalah pada penulisan makalah ini. penulis menggali informasi seputar pengetahuan BK yang menggunakan obyek penelitian Madrasah Aliyah Negri Sidoarjo, sehingga penulis mencoba mengkoparasikan antara teori-teori yang ada terkait struktur dan pola program BK dengan faktualitas pelksanaanya di MAN Sidoarjo.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung.
Layanan bimbingan dan konseling disekolah atau madrasah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Pelayanan bimbingan dan konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok, dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik.

A. STRUKTUR ORGANISASI DAN POLA PROGRAM BK

Garis Komando
Garis Koordinasi
Garis Konsulatasi

Keterangan:
a. Kepala Sekolah = Adalah penanggung jawab pelaksaaan teknis bimbingan dan konseling disekolahnya.
b. Koordinator BK/Guru = Adalah pelaksana utama yang mengkoordinasi pembimbing semua kegiatan yang terkait dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling disekolah.
c. Guru Mata Pelajaran = Guru Mata Pelajaran dan pelatih adalah pelaksana pengajaran dan pelatihan serta bertanggung jawab memberikan informasi tentang peserta didik untuk kepentingan bimbingan dan konseling.
d. Wali Kelas/Guru Pembina = Adalah guru yang diberi tugas khusus disamping mengajar untuk mengelola status kelas siswa tertentu dan bertanggung jawab membantu kegiatan bimbingan dan konselina dikelasnya.
e. Peserta Didik/Siswa = Adalah peserta didik atau siswa yang berhak memerima pengajaran, pelatihan, dan pelayanan bimbingan dan konseling.
f. Tata Usaha = Adalah pembantu kepala sekolah dalam penyelenggaraan administrasi bimbingan dan konseling.
g. Komite Sekolah = Adalah Badan mandiri yang mewadai peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan disatuan pendidikan, baik pada pendidikan pra sekolah, jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah.
Agar kegiatan bimbingan dan penyuluhan disekolah dapat berhasil dengan baik, maka perlu disusun atau dibuat program yang sebaik-baiknya. Suatu program bimbingan disekolah harus menunjuk dengan jelas: dasar umum, program jangka panjang, program jangka pendek, program umum, program khusus, prosedur kerja, personalia, program bimbingan dan penyuluhan, perlengkapan/fasilitas,pembelajaran dan sebagainya.
Program khusus dari seluruh progrsm bimbingan antara lain meliputi: a) program testing, b) program orientasi, c) program pengumpulan data, d) program counseling, e) program penempatan dan f) program follow-up/evaluasi.
a) Program testing
Program testing ini didasarkan pada prinsip:
1) Bahwa setiap anak akan belajar dan bekerja sesuai dengan kapasitas masing-masing. Kapasitas ini harus diketahui oleh sekolah agar murid dapat mencapai hasil yang maksimal dalam kegiatan belajarnya.
2) Ada perbedaan individual antara murid-murid dalam aspek-aspek bakat (aptitude), kecakapan (achievement), kecerdasan (intelegent), sikap (attitude), dan minat (interest).
3) Guru akan menghadapi murid-murid yang relative berbeda dari tahun ketahun.
Adapun tujuan dari program testing ini adalah:
• Untuk keperluan seleksi yaitu untuk mendapatkan murid-murid yang memiliki kemampuan yang sesuai dengan tuntutan sekolah.
• Untuk penempatan murid-murid sesuai dengan kemampuannya masing-masing dalam program pendidikan pada umumnya.
• Untuk palaksanaan kegiatan bimbingan sehari-hari.
b) Program orientasi
Tujuan program orientasi ini adalah untuk memberikan informasi kepada murid-murid tentang kegiatan pendidikan dan situasi pendidikan yang ditempuhnya.
Pelaksanaan program orientasi ini dapat dilaksanakan dengan mempergunakan teknik-teknik antara lain: ceramah, diskusi, observasi, demonstrasi, rekreasi, pertemuan, karya wisata, program homeroom, dan sebagainya.
c) Program pengumpulan data
Tujuan program ini adalah untuk memperoleh keterangan-keterangan atau informasi tentang murid-murid selengkap mungkin.
d) Program counseling (penyuluhan)
Tujuan program ini adalah untuk memberikan bantuan berupa penyuluhan kepada individu atau murid-murid yang mengalami kesulitan-kesulitan pribadi. Kesulitan pribadi tersebut antara lain kesulitan yang berhubungan dengan masalah sekolah, rumah atau keluarga, masyarakat, masa depan, penggunaan waktu senggang, keuangan, perkembangan, kesehatan, persahabatan, dan sebagainya.
e) Program penempatan (placement)
Tujuan program ini adalah membantu murid-murid agar berada dan menempati posisi yang tepat sesuai dengan keadaan dirinya. Baik yang menyangkut bakat, potensi, pribadi, kecakapan, jasmani, kesehatan dan sebagainya.
f) Program follow-up dan evaluasi
Program ini didasarkan pada prinsip bahwa sekolah tetap mempunyai tanggung jawab terhadap berhasil tidaknya murid-murid yang telah menamatkan sekolahnya dalam masyarakat.

B. PRINSIP DAN POLA ORGANISASI BK
Prinsip-prinsip bimbingan dan konseling sangatlah penting untuk diketahui dan difahami secara benar dan mendasar, karena secara tidak langsung akan dapat menghindarkan diri dari kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan dalam pratik pemberian layanan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsip tersebut dapat ditinjau dari prinsip-prinsip secara umum, dan prinsip-prinsip khusus. Prinsip-prinsip khusus adalah prinsip-prinsip bimbingan yang berkenaan dengan sasaran layanan, prinsip yang berkenaan dengan permasalahn individu, prinsip yang berkenaan dengan program layanan, dan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling yang berkenaan dengan pelaksanaan layanan.
1. Prinsip-prinsip umum
a. Karena bimbingan itu berhubungan dengan sikap dan tingkah laku individu, perlulah diingat bahwa sikap dan tingkah laku individu itu terbentuk dari segala aspek kepribadian yang unik dan ruwet.
b. Perlu dikenal dan dipahami perbedaan individual daripada individu-individu yang dibimbing, ialah untuk memberikan bimbingan yang tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh individu yang bersangkutan.
c. Bimbingan harus berpusat pada individu.
d. Masalah yang tidak dapat diselesaikan disekolah harus diserahkan kepada individu atau lembaga yang mampu dan berwenang melakukannya.
e. Bimbingan harus dimulai dengan identifikasi kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan oleh individu yang dibimbing.
f. Bimbingan harus feksibel sesuai dengan kebutuhan individu dan masyarakat.
g. Program bimbingan harus sesuai dengan program pendidikan disekolah yang bersangkutan.
h. Pelaksanaan program bimbingan harus dipimpin oleh seorang petugas yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan sanggup bekerjasama dengan para pembantunya serta dapat dan bersedia menggunakan sumber-sumber yang berguna diluar sekolah.
i. Terhadap program bimbingan harus senantiasa diadakan penilaian teratur untuk mengetahui ampai dimana hasil dan manfaat yang diperoleh serta penyesuaian antara pelaksanaan dan rencana yang dirumuskan terdahulu.

2. Prinsip-prinsip khusus
I. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan, yaitu:
a) Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, agama, dan status social ekonomi.
b) Bimbingan dan konseling berurusan dengan pribadi dan tingkah laku individu yang unik dan dinamis
c) Bimbingan dan konseling memperhatikan sepenuhnya tahap dan berbagai aspek perkembangan individu
d) Bimbingan dan konseling memberikan perhatian utama kepada perbedaan individual yang menjadi orientasi pokok pelayanannya.
II. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan individu, yaitu:
a) Bimbingan dan konseling berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental/fisik individu terhadap peyesuaian dirinya dirumah, disekolah serta dalam kaitannya dengan kontrak social dan pekerjaan, dan sebaliknya pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental/fisik individu.
b) Kesenjangan sosial, ekonomi, dan kebudayaan merupakan factor timbulnya masalah pada individu dan kesemuanya menjadi perhatian utama pelayanan bimbingan.
III. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program layanan, yaitu:
a) Bimbingan dan konseling merupakan begian integral dari pendidikan dan pengembangan individu, karena itu program bimbingan harus disesuaikan dan dipadukan dengan program pendidikan serta pengembangan peserta didik.
b) Bimbingan dan konseling harus feksibel, disesuaikan dengan kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga,
c) Program bimbingan dan konseling harus disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan yang terendah sampai yang tertinggi.
d) Terhadap isi dan pelaksanaan program bimbingan dan konseling perlu adanya penilaian yang teratur dan terarah.
IV. Prinsip-prinsip bimbingan dan konseling yang berkenaan dengan pelaksanaan layanan. Yaitu:
a) Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu membimbing diri sendiri dalam menghadapi permasalahan
b) Dalam proses bimbingan dan konseling keputusan yang diambil dan hendak dilakukan oleh individu hendaknya atas kemauan individu itu sendiri, bukan karena kemauan atau desakan dari pembimbing atau pihak lain.
c) Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.
d) Kerjasama antara pembimbing, guru, dan orang tua yang amat menentukan hasil pelayanan bimbingan.
Pengembangan program pelayanan bimbingan dan konseling ditempuh melalui pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran dan penilaian terhadap individu yang terlihat dalam proses pelayanan dan program bimbingan dan konseling itu sendiri.

C. PERENCANAAN PROGRAN DAN KEGIATAN BK
a) Perencanaan Kegiatan
1. Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran, bulanan serta mingguan.
2. Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan jabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung; (b) substansi layanan/kegiatan pendukung; (c) jenis layanan/kegiatan pendukung, serta alat bantuyang digunakan; (d) pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat; (d) waktu dan tempat.
3. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masing-masing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor.
4. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran.
5. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah.
b) Pelaksanaan Kegiatan
Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya, konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin, insidental dan keteladanan. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pihak-pihak yang terkait.
1) Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling
a. Di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah: Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, kegiatan instrumentasi, serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di dalam kelas. Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal.
Kegiatan tidak tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi, kegiatan konferensi kasus, himpunan data, kunjungan rumah, pemanfaatan kepustakaan, dan alih tangan kasus.
b. Di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah: Kegiatan tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan orientasi, Bimbingan dan Konseling perorangan,, bimbingan kelompok, Bimbingan dan Konseling kelompok, dan mediasi, serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling, diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). Volume dan waktu untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam kelas dan di luar kelas setiap minggu diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas, dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler, serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah.
c) Penilaian Kegiatan
1. Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: Penilaian segera (LAISEG), yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN), yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG), yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik.
2. Penilaian proses kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsur-unsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG, untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan.
Pengembangan diri ALLSON 20 s.d 21 September 2006 7
3. Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG
4. Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif.
d) Pelaksana kegiatan
1. Pelaksana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling adalah konselor sekolah/madrasah.
2. Konselor pelaksana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling disekolah/madrasah wajib Menguasai spektrum pelayanan pada umumnya, khususnya pelayanan profesional Bimbingan dan Konseling. Merumuskan dan menjelaskan peran profesional konselor kepada pihak-pihak terkait, terutama peserta didik, pimpinan sekolah/ madrasah, sejawat pendidik, dan orang tua. Melaksanakan tugas pelayanan profesional Bimbingan dan Konseling yang setiap kali dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan, terutama pimpinan sekolah/madrasah, orang tua, dan peserta didik. Mewaspadai hal-hal negatif yang dapat mengurangi keefektifan kegiatan pelayanan profesional Bimbingan dan Konseling. Mengembangkan kemampuan profesional Bimbingan dan Konseling secara berkelanjutan.
3. Beban tugas wajib konselor ekuivalen dengan beban tugas wajib pendidik lainnya di sekolah/madrasah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
4. Pelaksana pelayanan Bimbingan dan Konseling Pelaksana pelayanan Bimbingan dan Konseling di SD/MI/SDLB pada dasarnya adalah guru kelas yang melaksanakan layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, dan penguasaan konten dengan menginfusikan materi layanan tersebut ke dalam pembelajaran, serta untuk peserta didik Kelas IV, V, dan VI dapat diselenggarakan layanan Bimbingan dan Konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan Bimbingan dan Konseling kelompok. Pada satu SD/MI/SDLB atau sejumlah SD/MI/SDLB dapat diangkat seorang konselor untuk menyelenggarakan pelayanan Bimbingan dan Konseling. Pada satu SMP /MTs /SMPLB, SMA/MA/SMALB/SMK/MAK dapat diangkat sejumlah konselor dengan rasio seorang konselor untuk 150 orang peserta didik.
e) Pengawasan kegiatan
1. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah/madrasah dipantau, dievaluasi, dan dibina melalui kegiatan pengawasan.
2. Pengawasan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan secara: interen, oleh kepala sekolah/madrasah. Dan eksteren, oleh pengawas sekolah/madrasah bidang Bimbingan dan Konseling.
Pengembangan diri ALLSON 20 s.d 21 September 2006 8
3. Fokus pengawasan adalah kemampuan profesional konselor dan implementasi kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang menjadi kewajiban dan tugas konselor di sekolah/madrasah.
4. Pengawasan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan secara berkala dan berkelanjutan.
5. Hasil pengawasan didokumentasikan, dianalisis, dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah/madrasah.
Pelayanan bimbingan dan konseling disekolah dan madrasah terlaksana melalui sejumlah kegiatan bimbingan. Kegiatan – kegiatan tersebut diselenggarakan melalui suatu program bimbingan (guidance program). Dan secara umum program bimbingan merupakan suatu rancangan atau rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu.
Berdasarkan makna program secara umum di atas, dapat di susun rumusan program bimbingan dan konseling sebagai berikut : suatu rangkaian kegiatan bimbingan dan konseling yang tersusun secara sistematis, terencana, teroganisasi, dan terkoordinasi selama periode waktu tertentu.
Dalam menyusun rencana program bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah, harus melibatkan berbagai pihak terkait (stakeholders) seperti kepala sekolah, guru BK, para guru, tenaga administrasi, orang tua, siswa, komite sekolah, dan tokoh masyarakat. Keterlibatan pihak- pihak di atas mengingat manfaat layanan BK di seekolah tidak saja akan dirasakan pihak sekolah dan madrasah dalam hal ini siswa tetapi juga oleh para orang tua dan masyarakat.
Berkenaan dengan perencanaan program BK di sekolah dan madrasah, perlu dilakukan dan dipersiapan hal – hal sebagai berikut :
1) Studi Kelayakan.
Studi kelayakan merupakan refleksi tentang alasan- alasan mengapa diperlukan suatu program bimbingan. Studi kelayakan juga perlu di lakukan untuk melihat program mana yang lebih layak untuk dilaksanakan dalam bentuk layanan bimbingan terhadap siswa. Dan dari hasil studi kelayakan akan diperoleh kesimpulan bidang-bidang atau lingkup bimbingan mana yang layak untuk di tuangkan dalam bentuk program bimbingan dan koseling. Adapun studi kelayakan ini dilakukan sebelum penyusunan program dilakukan.
2) Penyusunan Program Bimbingan.
Penyusunan program bimbingan dapat dikerjakan oleh tenaga ahli bimbingan atau guru BK atau konselor sekolah dan madrasah atau koordinator BK penyusunan program bimbingan harus merujuk kepada kebutuhan sekolah dan madrasah secara umum dan lingkup layanan bimbingan konseling di sekolah dan madrasah.

Dalam menyusun rencana program BK, harus diperhatikan hal – hal sebagai berikut:
 Pola dasar mana yang sebaiknya di pegang dan strategi mana yang paling tepat untuk diterapkan.
 Bidang – bidang atau lingkup bimbingan mana yang perlu diperioritaskan.
 Bidang – bidang atau jenis layanan mana yang sesuai untuk melayani kebutuhan para siswa.
 Keseimbangan yang wajar antara pelayanan bimbingan secara kelompok dan secara individual.
 Pengaturan pelayanan konsultasi.
 Cara mengadakan evaluasi program.
 Pelayanan rutin dan pelayanan insidental.
 Tingkatan – tingkatan kelas yang akan mendapat layanan- layanan bimbingan tertentu.
 Petunjuk- petunjuk atau instruksi- instruksi yag diberikan oleh instansi yang berwenang dan sebagainya.
Penyusunan program BK merupakan tindak lanjut dari studi kelayakan, oleh sebab itu bisa dilaksanakan pada awal tahun ajaran atau setelah program semester berakhir.
3) Penyediaan Sarana Fisik dan Teknis.
Program BK perlu di dukung oleh srana fisik dan teknis. Sarana fisik adalah semua peralatan atau perlengkapan yang dibutuhkan dalam rangka penyusunan program BK seperti:ruang kerja tenaga bimbingan, ruang kerja guru BK beserta peralatannya sseperti : almari data, perpustakaan BK, ruang tata usaha BK dan lain- lain.
4) Penentuan Sarana Personil dan Pembagian Tugas.
Adapun sarana personil dalam penyusunan rencana program BK adalah orang – orang yang akan dilibatkan dalam penyusunan program Bk dan mereka akan diberi tugas apa. Diantaranya yakni; konselor, kepala sekolah, guru mata pelajaran, pegawai administrasi, dan lain sebagainya.
5) Kegiatan- kegiatan Penunjang.
Dalam penyusuna rencana program BK di sekolah dan madrasah diperlukan kegiatan-kegiata pendukkung terutama pertemuan staf bimbingan dan hubungan dengan masyarakat atau instansi lain yang terkait dengan rencana program BK yang akan di susun. Misalnya rencana penyusunan program BK yang berkenaan dengan bidang karir, bisa melibatkan lembaga-lembaga karir tertentu dan sebagainya.

D. KOMPONEN-KOMPONEN PROGRAM BK
a. Paradigma, Visi, dan Misi
1) Paradigma
Paradigma Bimbingan dan Konseling adalah pelayanan bantuan psiko-pendidikan dalam bingkai budaya. Artinya, pelayanan Bimbingan dan Konseling berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi pendidikan serta psikologi yang dikemas dalam kaji-terapan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang diwarnai oleh budaya lingkungan peserta didik.
2) Visi
Visi pelayanan Bimbingan dan Konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar peserta didik berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia.
3) Misi
Misi pendidikan, yaitu memfasilitasi pengembangan peserta didik melalui pembentukan perilaku efektif-normatif dalam kehidupan keseharian dan masa depan.
Misi pengembangan, yaitu memfasilitasi pengembangan potensi dan kompetensi peserta didik di dalam lingkungan sekolah/ madrasah, keluarga dan masyarakat.
Misi pengentasan masalah, yaitu memfasilitasi pengentasan masalah peserta didik mengacu pada kehidupan efektif sehari-hari.
b. Bidang Pelayanan Bimbingan dan Konseling
Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan social yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas.
Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri.
Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.
c. Fungsi Bimbingan dan Konseling
Pemahaman, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memahami diri dan lingkungannya.
Pencegahan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mampu mencegah atau menghindarkan diri dari berbagai permasalahan yang dapat menghambat perkembangan dirinya.
Pengentasan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mengatasi masalah yang dialaminya.
Pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memelihara dan menumbuh-kembangkan berbagai potensi dan kondisi positif yang dimilikinya.
Advokasi, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memperoleh pembelaan atas hak dan atau kepentingannya yang kurang mendapat perhatian.
d. Kegiatan Pendukung
Aplikasi Instrumentasi, yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri peserta didik dan lingkungannya, melalui aplikasi berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes.
Himpunan Data, yaitu kegiatan menghimpun data yang relevan dengan pengembangan peserta didik, yang diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematis, komprehensif, terpadu, dan bersifat rahasia.
Konferensi Kasus, yaitu kegiatan membahas permasalahan peserta didik dalam pertemuan khusus yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik, yang bersifat terbatas dan tertutup.
Pengembangan diri ALLSON 20 s.d 21 September 2006 4
Kunjungan Rumah, yaitu kegiatan memperoleh data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik melalui pertemuan dengan orang tua dan atau keluarganya.
Tampilan Kepustakaan, yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan sosial, kegiatan belajar, dan karir/jabatan.
Alih Tangan Kasus, yaitu kegiatan untuk memindahkan penanganan masalah peserta didik ke pihak lain sesuai keahlian dan kewenangannya.
e. Format Kegiatan
Individual, yaitu format kegiatan Bimbingan dan Konseling yang melayani peserta didik secara perorangan.
Kelompok, yaitu format kegiatan Bimbingan dan Konseling yang melayani sejumlah peserta didik melalui suasana dinamika kelompok.
Klasikal, yaitu format kegiatan Bimbingan dan Konseling yang melayani sejumlah peserta didik dalam satu kelas.
Lapangan, yaitu format kegiatan Bimbingan dan Konseling yang melayani seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau lapangan.
Pendekatan Khusus, yaitu format kegiatan Bimbingan dan Konseling yang melayani kepentingan peserta didik melalui pendekatan kepada pihak-pihak yang dapat memberikan kemudahan.
f. Program Pelayanan
1. Jenis Program
Program Tahunan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah.
Program Semesteran, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.
Program Bulanan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran.
Program Mingguan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.
Program Harian, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari
Program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling.
2. Penyusunan Program
Program pelayanan Bimbingan dan Konseling disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi.
Substansi program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi keempat bidang, jenis layanan dan kegiatan pendukung, format kegiatan, sasaran pelayanan, dan volume/beban tugas konselor.

E. CIRI-CIRI PROGRAM BK YANG BAIK
Adapun ciri-ciri program BK yang baik sebagai berikut :
Untuk tercapainya suatu program bimbingan yang baik, harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut :
1. program bimbingan hendaknya merupakan usaha bersama dan perkembangannya dilakukan setahap demi setahap.
2. program bimbingan harus mempunyai tujuan yang ideal dan cara pelaksanaan hendaknya realistis.
3. program bimbingan hendaknya mendorong komunikasi yang terus menerus antara anggota semua staf dari sekolah yang bersangkutan.
4. program bimbingan hendaknya mempunyai fasilitas-fasilitas yang khusus.
5. program bimbingan hendaknya saling berhubungan dengan program pendidikan dan pengajaran.
6. program bimbingan hendaknya diberikan kepada semua murid.
7. program bimbingan hendaknya menjalankan peranan yang penting dalam hubungan dengan masyarakat.
8. program bimbingan hendaknya memberikan kesempatan untuk melaksanakan penilaian terhadap diri sendiri.
9. program bimbingan hendaknya menjamin keseimbangan penerimaan pelajaran bimbingan dalam hal :
a. pelajaran kelompok dan individual
b. pelajaran oleh berbagai jenispetugas bimbingan
c. studi individual danpenyuluhan individual
d. penggunaan teknik alat pengumpul data yang subyektif dan obyekyif
e. pemberian jenis-jenis bimbingan
f. penyuluhan secara umum dan penyuluhan secara khusus
g. pemberian bimbingan tentang berbagai program sekolah
h. penggunaan sumber disekolah dan diluar sekolah
i. kebutuhan individual dan masyarakat
j. kesempatan untuk berfikir. Merasa, dan berbuat.

selain itu terdapat pada referensi lain yang menjelaskan tentang ciri-ciri program BK yang baik yang diketahui dari cirri-ciri sekolah tertentu, seperti tersebut dibwah ini :
Ciri-ciri evaluatif eksternal
1. Rasio konselor : siswa adalah seorang konselor full-time menangani 250 – 300 siswa.
2. Konselor minimal berpendidikan sarjana S1 bimbingan dan konseling.
3. Catatan-catatan tentang siswa tersedia dan dapat digunakan dengan segera, sehingga memungkinkan guru dan konselor memahami dan membantu mereka. Catatan tersebut tidak hanya digunakan untuk studi demografi, melainkan juga untuk (1) membantu siswa dalam memperoleh pemahaman diri sehingga mereka dapat mengambil suatu keputusan secara tepat, (2) memudahkan guru, konselor, dan orangtua memahami siswa, sehingga program pendidikan dapat diadaptasikan dengan kebutuhan setiap anak dan sesuai dengan perkembangan mereka masing-masing.
4. Material-material informasional harus tersedia dan dapat di-acess. Hal ini berarti bahwa material yang up-to-date harus tersedia yang menggambarkan adanya ciri-ciri perubahan mutakhir dari kesempatan pendidikan dan jabatan.
5. Data hasil pengukuran tentang anak harus tersedia dan digunakan oleh personil sekolah untuk membantu anak sehubungan dengan penyesuaian, perencanaan dan perkembangan mereka secara individual.
6. Personil harus berorientasikan pada evaluasi diri dan pengalaman.
7. Program bimbingan yang efektif tidak dimaksudkan untuk satu tingkatan kelas atau satu tingkatan sekolah saja, melainkan untuk keseluruhan perkembangan karier anak secara individual.
8. Fasilitas fisik yang memadai tersedia bagi bimbingan.
9. Adanya dukungan finansial yang memadai. Berapakah yang ideal? Tahun 80-an, di Amerika sekitar $125 sampai $150 per anak per tahun (proyeksikan untuk Indonesia sekarang).

Ciri-ciri evaluatif internal
1. Program bimbingan dihargai oleh orang lain atas dasar kebutuhan anak. Sukses atau gagalkah program bimbingan memenuhi kebutuhan anak? Kebutuhan diartikan sebagai keadaan kurang sesuatu yang diperlukan untuk kesejahteraan organisme atau untuk memudahkan orang bertingkahlaku.
2. Program bimbingan melaksanakan fungsi-fungsi korektif, preventif, dan developmental secara seimbang.
3. Kualitas program merupakan sesuatu yang berarah-tujuan. Komponen program, konseling misalnya, tidak berhenti pada konseling itu sendiri, tetapi harus dapat ditarik benang merahnya menuju ke arah sasaran utama. Begitu juga dengan komponen program lainnya.
4. Keseimbangan merupakan kualitas esensial dari program bimbingan yang baik. Program bimbingan yang efektif harus dapat menjaga dari kemungkinan timbulnya ketidakseimbangan yang seringkali ditemukan dalam program yang tidak efektif yang disebabkan oleh (1) personil yang hanya tertarik ke satu program saja, (2) personil yang mencoba untuk menarik keuntungan bagi dirinya sendiri, (3) pertumbuhan yang cepat dari program.
5. Stabilitas program –kemampuan untuk menyesuaikan kekurangan personil tanpa mengalami kekurangan efektivitas— secara langsung berhubungan dengan kualitas program.
6. Organisasi yang fleksibel.
7. Staf yang memiliki pengakuan dan penghargaan yang tinggi secara moral dan dapat bekerjasama dengan baik.
8. Personil yang baik menghindari jawaban yang cepat dan menghadapi realita bahwa bimbingan memiliki kawasan kerja yang luas.
9. Konselor memahami peran dan fungsinya secara tepat
10. Siswa tidak memandang remeh terhadap konselor sekolah.
11. Program bimbingan dibawah kepemimpinan seorang yang telah dipersiapkan dengan matang.

BAB III
ANALISIS DATA

A. TEKNIK ANALISIS DATA
Dalam sebuah penelitian apapun didalamnya pasti terdapat analisis data, begitu juga dengan penelitian yang dilakuka oleh penulis dalam rangka menyelesaikan tugas mata kuliah BP di Madrasah, walapun bukan penelitian sesungguhnya tetapi penulis mencobamembut laporan sejenis dengan penelitian yang awalnya berangkat dari adanya sebuah permasalahan. Data yang diperoleh dalam makalah yang penulis sajikan ini melalui metide pengumulan data diantaranya; penulis melakukan wawancara dan observasi secara langsung pada obyek yang diteliti. Wawancara atau sering disebut dengan interview adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari orang yang diwawancarai tentang suatu permasalahan yang diangkat sebagai sebuah penelitian. Sedangkan metode observasi adalah kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek penelitian dengan menggunakan keseluruhan alat indra. Interview yang dilakukan penulis termasuk wawancara yang tidak terstruktur, karena penulis hanya menggunakan silabus saja sebagai pedoman menyusun pertanyaan yang diajukan. Interview dilakukan langsung dengan Drs.SUPA’AT selaku koordinator BP dan guru sejawat lainnya. Untuk observasi dalam penelitian ini terwujud dalam pengumpulan data yang berupa file-file yang dibutuhkan, peneliti mengamati dengan cermat data terkait dengn struktur organisasi BP di MAN Sidoarjo.
Dari hasil wawancara dan observasi yang telh dilkukan peneliti dapat menyimpulkan bahwa pelaksanaan dan pengolahan BP/BK di MAN Sidoarjo mendekati nilai sesuai dengan teori yang selama ini peneliti telah pelajari. Penerapan 4 layanan BK telah terlaksana dengan baik. Program kerja BK disana sudah ada dan terstruktur sesuai yang diharapkan teori yang ada. Namun tetap ada kekurangan didalamnya, yaitu diantaranya kurangnya tenag guru yang sesuai dengan faknya, dengan kat lain diMAN Sidoarjo hanya ada beberapa guru yang mempunyai ijasah khusus konseling, penerapannya jumlah guru konseling murni yang minim dalam kinerjanya dibantu oleh guru mata pelajaran. Jumlah guru BP 7 orang, 3 orang yang murni guru BP sisanya adlah guru bidang study. Secara jelas gambaran BK di MAN Sidoarjo akan dijelaskan berikutnya dari data yang diperoleh peneliti.

B. LAMPIRAN DATA PENELITIAN LAPANGAN
Adapun data yang diperoleh peneliti dari obyek teliti MAN Sidoarjo adalah sebagai berikut :
1. VISI dan MISI BK MAN Sidoarjo
VISI bimbingan dan konseing : terwujudnya perkembangan diri dan kemandirian secara optimal dengan hakikat kemanusiaanya sebagai hamba Tuhan YME, sebagai makhluk individu dan sosial dalam berhubungan dengan manusia dan alam semesta.
MISI bimbingan dan konseling :
Menunjang perkembngan diri dan kemandirian siswa untuk dapat menjalani kehidupan sehari-hari sebagai siswa secara efektif, kreatif dan dinamis serta memiliki kecakapan hidup untuk masa depan karir dalam :
• Beriman dan bertakwa terhadap Tuhan YME
• Pemahaman perkembangan diri dan lingkungan
• Pengarahan diri kearah dimensi yang spiritual
• Pengambilan keputusan berdasarkan IQ,EQ, dan SQ
• Pengaktualisasian diri secara optimal
2. 4 Bidang pelayanan bimbingan siswa MAN Sidoarjo
BP diMAN Sidoarjo untuk pelayanan konseling telah sesuai dengan teori yang ada dalan penerapannya, BP diMAN sidoarjo telah menerapkan 4 bidang layanan yaitu diantaranya :
1. Bimbingan pribadi siswa MAN
• Pemantapan sikap dan kebiasaan serta wawasan dalam beriman dan bertakwa terhadap tuhan yang maha esa
• Pemantapan pemahaman tentang kekuatan diri dan pengembangan untuk kegiatan yang kreatif dan produktif
• Pemantapan pemahaman tentang kelemahan diri dan usaha penanggulangannya
• Pemantapan kemampuan dan mengambil keputusan
• Pengembangan kemampuan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang telah diambilnya
• Pemantapan dalam perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat baik secara rohaniah maupun jasmaniah
2. Bimbingan sosial siswa MAN
• Pemantapan kemamouan berkomunikasi baik pesan maupun tulisan secara efektif
• Pemantapan kemampuan menerima dan mengemukakan pendapat serta berargumentasi secara dinamis, kreatuf dan produktif
• Pemantapan kemampuan dalam beriskap dalam berhubungan sosial baik dirumah, disekolah, tempat bekerja maupun dalam masyarakat
• Pemantapan kemampuan pengembangan kecerdasan emosi dalam hubungannya yang dinamis, harmonis dan produktif dengan teman sebaya baik dilingkungan sekolah yang sama maupun luar sekolah
• Pemantapan pemahaman tentang peraturan , kondisi sekolah dan upaya pelaksanaannya secara dinamis serta bertanggung jawab
• Orientasi tentang hidup berkeluarga
3. Bimbingan belajar siswa MAN
• Pemahamn sikap, kebiasaan dan ketrampilan belajar yang efektif, efisien dan produktif dengan sumber belajar yang lebih bervariasi
• Pemantapan belajar dan disiplin berlatih baik secara mandiri maupun kelompok
• Pemantapan penguasaaan materi program disekolah lanjutan tingkat atas sesuai perkembngan ilmu dan teknologi dan kesenian
• Pemahamn dan pemanfaatan kondisi fisik, sosial dan budaya yang ada disekolah, lingkungan sekitar danmasyarakat secara luas
• Orientasi belajar untuk tambahan pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi
4. Bimbingan karir siswa MAN
• Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecendrungan karir yang hendak dikembangkan
• Pemantapan orientasi dan informasi karir pada umumnya, khususnya karir yang hendak dikembangkan
• Pemantapan pengembangan diri berdasarkan IQ,EQ,SQ untuk pengambilan keputusan pemilihan karir sesuai potensi yang dimilikinya
• Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kepentingan hidup

3. Tugas-tugas perkembangan siswa MAN Sidoarjo
• Mencapai kematangan dalam beriman dan bertakwa terhadap Tuhan YME
• Mencapai kematangan dalam hubungan antar teman sebaya, serta peranannya sebagai ria dan wanita
• Mencapai kematangan pertumbuhan jasmani sehat
• Mengembangkan penguasan ilmu, teknilogi dan seni sesuai dengan program kurikulum da persiapan karir atau melanjutkan pendidikan tinggisera berperan dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas
• Mencapai kematangan dalam pilihan karir
• Mencapai kematangan dalam gambaran sikap tentang kehidupan mandiri baik secara emosional, sosial, intelektual, dan ekonomi
• Mencapai kematangan gambran dan sikap tentang kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara
• Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual, sert apresiasi seni
• Mencapai kematangan dalam etika sistem dan nilai

4. Matriks tugas-tugas perkembangan siswa MAN Sidoarjo

5. truktur organisasi BK/BP MAN Sidoarjo

Tulisan Sebelumnya »