aswaja

ASWAJA; Manhaj al-Fikr PMII

Ahlussunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) menurut istilah berarti golongan yang berpegang teguh pada jalan Rasulullah dan para sahabatnya.

Kilas Historis Aswaja
Secara formal, istilah Aswaja pada masa Rasullah belum mengalami penyimpangan karena Rasulullah sebagai sumber panutan masih ada. Setelah Rasulullah Wafat, baru perkembangan Aswaja mulai menunjukkan adanya penyimpangan mulai dari kholifah Abu Bakar, Umar, Usman, dan puncaknya pada masa kholifah Ali.
Pada masa khalifah Ali terjadi perang shiffin antara Ali dan Mu’awiyah yang dimenangkan oleh golongan Mu’awiyah melalui tahkim atau arbitrase. Peristiwa Arbitrase inilah penyebab utama munculnya aliran-aliran yang dinilai menyimpang dari Aswaja. Di antara aliran itu adalah Syi’ah yang yang menjadi pendukung kholifah Ali, kemudian muncul Khawarij yang awalnya membela Ali namun kemudian membelot karena tidak setuju dengan Tahkim. Kemudian muncul juga Jabariyah sebagai legitimasi kekholifahan Muawiyah. Pada masa tabi’in juga muncul aliran yang bernama Qodariyah dan Murjiah. Di antara ajarannya adalah bahwa manusia itu punya kuasa segala yang dilakukan manusia, Allah tidak turut campur. Pemikiran faham ini sangat bertentangan dengan faham Jabariyah yang mengatakan bahwa manusia tidak bisa apa-apa, yang mengerjakan semua adalah Allah.
Dari beberapa faham ini masih ada komunitas yang masih memegang taguh ajaran Aswaja. Mereka menamakan komunitasnya dengan bermacam-macam nama diantaranya adalah Salafussholih, dengan tokohnya Imam Abu Sa’id Hasan ibn Hasan Yasar al-Bashri (21-110 H/639-728 M), lebih dikenal dengan nama Imam Hasan al-Bashri. Pemikirannya cenderung mengembangkan aktivitas keagamaan yang bersifat kultural (tsaqafiyah), ilmiah dan berusaha mencari jalan kebenaran secara jernih. Komunitas ini menghindari pertikaian politik antara berbagai fraksi politik (firqah) yang berkembang ketika itu. Sebaliknya mereka mengembangkan sistem keberagamaan dan pemikiran yang sejuk, moderat dan tidak ekstrim. Dengan sistem keberagamaan semacam itu, mereka tidak mudah untuk mengkafirkan golongan atau kelompok lain yang terlibat dalam pertikaian politik ketika itu.
Pada masa Imam Hasan al-Bashri ini muncul aliran Mu’tazilah. Kemudian ajaran beliau dilanjutkan oleh empat imam madzhab kemudian dilanjutkan oleh Abu Hasan Al-Asy’ari (w.324 H/935 M) di Mesopotamia, Abu Mansur Al-Maturidi (w.331 H/944 M) di Samarkandi, dan Ahmad Bin Ja’far Al-Thahawi (w.331 H/944 M) di Mesir. Pada tahap inilah Abu Hasan Al-Asy’ari meresmikan Aswaja sebagai aliran pemikiran.

Prinsip Aswaja.
Pertama, prinsip tawassuth, yaitu jalan tengah, tidak ekstrem kanan atau kiri. Dalam paham Ahlussunnah wal Jama’ah, baik di bidang hukum (syarî’ah) bidang akidah, maupun bidang akhlak, selalu dikedepankan prinsip tengah-tengah. Juga di bidang kemasyarakatan selalu menempatkan diri pada prinsip hidup menjunjung tinggi keharusan berlaku adil, lurus di tengah-tengah kehidupan bersama, sehingga ia menjadi panutan dan menghindari segala bentuk pendekatan ekstrem. Khairul umur awsathuha (moderat adalah sebaik-baik perbuatan). Tawassuth merupakan landasan dan bingkai yang mengatur bagaimana seharusnya kita mengarahkan pemikiran kita agar tidak terjebak pada pemikiran agama an sich. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menggali & mengelaborasi dari berbagai metodologi berbagai disiplin ilmu baik dari Islam maupun barat serta mendialogkan agama, filsafat dan sains.
Kedua, prinsip tawâzun, yakni menjaga keseimbangan dan keselarasan, sehingga terpelihara secara seimbang antara kepentingan dunia dan akherat, kepentingan pribadi dan masyarakat, dan kepentingan masa kini dan masa datang. Keseimbangan di sini adalah bentuk hubungan yang tidak berat sebelah yang menguntungkan pihak tertentu dan merugikan pihak yang lain. Tetapi, masing-masing pihak mampu menempatkan dirinya sesuai dengan fungsinya tanpa mengganggu fungsi dari pihak yang lain. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya kedinamisan hidup.
Ketiga, prinsip tasâmuh, yaitu bersikap toleran terhadap perbedaan pandangan, terutama dalam hal-hal yang bersifat furu’iyah, sehingga tidak terjadi perasaan saling terganggu, saling memusuhi, dan sebaliknya akan tercipta persaudaraan yang islami (ukhuwwah islâmiyyah). Toleransi disini bukan hanya toleransi terhadap segala perbedaan akan tetapi juga pada keyakinan sekalipun. Tidak dibenarkan kita memaksakan keyakinan pada orang lain. Yang dianjurkan hanya sebatas penyampaian saja. Adapun keputusannya diserahkan pada otoritas individu dan hidayah dari Tuhan. Dalam diskursus sosial-budaya, Ahlussunnah wal Jama’ah banyak melakukan toleransi terhadap tradisi-tradisi yang telah berkembang di masyarakat. Hal ini pula yang membuatnya menarik banyak kaum muslimin di berbagai wilayah dunia.
Keempat, prinsip amar ma’ruf nahi munkar, yakni menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dengan prinsip ini, akan timbul kepekaan dan mendorong perbuatan yang baik dalam kehidupan bersama serta kepekaan menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan kehidupan ke lembah kemungkaran.
Jika empat prinsip ini diperhatikan secara seksama, maka dapat dilihat bahwa ciri dan inti ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah adalah pembawa rahmat bagi alam semesta (rahmah li al- ‘âlamîn).

Aswaja Sebagai Manhaj Al-Fikr
Ajaran dalam Aswaja mengikuti empat imam madzhab dalam hal fiqih, mengikuti Abu Hasan Al-Asy’ari dan Almaturidi dalam hal akidah serta mengikuti Al-Ghozali dan Junaid Al-Baghdadi dalam hal tasawuf. Inilah yang dikatakan Aswaja sebagai madzhab. Namun di PMII, Aswaja tidak hanya sampai pada tataran itu tetapi Aswaja sudah sebagai manhajul fikr.
Sebenarnya konsepsi Aswaja sebagai Manhajul Fikri pertama kali dilontarkan oleh KH. Said Aqil siraj pada tahun 1991. Namun kemudian sekitar tahun 1995 – 1997, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia meletakkan Aswaja sebagai manhaj al-fikr. Aswaja sebagai metode dan prinsip berpikir dalam menghadapi persoalan-persoalan agama sekaligus urusan sosial-kemasyarakatan; inilah makna Aswaja sebagai manhaj al-fikr. Dengan empat prinsip Aswaja dan dipadukan dengan NDP, PMII melakukan analisa terhadap masalah – masalah yang muncul, dari sinilah PMII mulai melakukan gerakan dalam menyikapi masalah.
Tidak bisa dipungkiri bahwa PMII dahulu lahir dari induk NU. Maka kita juga dituntut untuk dapat melakukan prinsip yang diusung oleh NU yaitu “al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah” memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Hal ini perlu kita lakukan karena konteksnya saat ini di Indonesia khususnya, banyak tejadi aliran-aliran yang berkembang yang tidak peduli dengan tradisi-tradisi. Mereka berani mengklaim golongan yang masih memelihara local wisdom sebagai musyrik.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: