Profesionalisme tenaga BK

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Era yang semakin maju dan modern di dalam bidang pendidikan saat ini mempengaruhi berbagai aspek kehidupan baik sosial, budaya maupun ekonomi, terutama mempengaruhi aspek-aspek dalam bidang pendidikan seperti kurikulum, alat-alat pelajaran, metode dan guru-guru kelas maupun siswa dan sebagainya. Dalam perjalanan pengajaran di sekolah antara siswa, kurikulum, metode, alat-alat peraga dan guru-guru di sekolah saling terkait dan menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam proses belajar mengajar sering kali timbul problem-problem yang dihadapi oleh siswa baik masalah pribadi maupun masalah pelajaran-pelajaran di sekolah.
Oleh sebab itu perlu adanya suatu badan atau wadah untuk menampung berbagai masalah siswa dan menanggulanginya atau membantu penyelesaiannya supaya dalam proses pembelajaran bisa menjadi lebih efektif dan efisien. Badan atau wadah yang bertanggung jawab dalam hal di atas biasa disebut sebagai Tenaga Bimbingan dan Konseling (Tenaga BK). Untuk membentuk suatu tim guru BK yang profesional maka perlu diadakan beberapa kualifikasi guru BK dan tenaga BK yang berpendidikan BK. Dengan demikian tenaga BK akan mampu menghadapi tantangan-tantangan yang ada. Untuk mendukung jalannya bimbingan yang dilakukan oleh guru BK, peran guru kelas sangatlah berpengaruh dalam pencapaian tujuan bersama.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja kualifikasi tenaga BK?
2. Apa saja pendidikan tenaga BK?
3. Bagaimanakah peranan guru dalam bimbingan dan konseling?
4. Apa saja tantangan bagi seorang konselor?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui kualifikasi tenaga BK
2. Untuk mengetahui pendidikan tenaga BK
3. Untuk mengetahui peranan guru dalam bimbingan dan konseling
4. Untuk mengetahui tantangan bagi seorang konselor

D. Batasan Masalah
Ruang lingkup permasalahan dalam makalah ini adalah tenaga BK di suatu institusi pendidikan formal sebagai acuan dasar tambahan informasi bagi seorang konselor khususnya juga para pembaca umumnya. Namun dirasa sangat luasnya pembahasan tentang tenaga BK sehingga penulis memberikan batasan masalah pada penulisan makalah ini yakni pada masalah kualifikasi tenaga BK, pendidikan tenaga BK, guru sebagai tokoh kunci dalam BK, serta tantangan konselor . Penulis menggali informasi seputar tenaga BK dari Koordinator BK Sekolah Menengah Atas Negeri 15 Surabaya. Kemudian penulis mencoba mengkomparasikan teori-teori yang ada terkait tenaga BK dengan faktualitas pelaksanaannya di SMAN 15 Surabaya.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kualifikasi Tenaga BK
Masih banyak orang yang memandang bahwa pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa pun juga, asalkan mampu berkomunikasi dan berwawancara. Di Indonesia memang belum ada rumusan tentang unjuk kerja profesional konselor yang standar. Usaha untuk merintis terwujudnya rumusan tentang unjuk kerja itu telah dilakukan oleh Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) pada Konvensi Nasional VII IPBI di Denpasar, Bali (1989). Upaya ini lebih dikonkretkan lagi pada Konvensi Nasional VIII di Padang (1991). Rumusan tentang unjuk kerja itu mengacu kepada wawasan dan keterampilan yang hendaknya dapat ditampilkan oleh para lulusan program studi Bimbingan dan Konseling. Keseluruhan rumusan unjuk kerja itu meliputi 28 gugus, yaitu:
1. Mengajar dalam bidang psikologi dan bimbingan dan konseling (BK)
2. Mengorganisasikan program BK
3. Menyusun program BK
4. Memasyarakatkan pelayanan BK
5. Mengungkapkan masalah klien
6. Menyelenggarakan pengumpulan data tentang minat, bakat, kemampuan, dan kondisi kepribadian
7. Menyusun dan mengembangkan himpunan data
8. Menyelenggarakan konseling perorangan
9. Menyelenggarakan BK kelompok
10. Menyelenggarakan orientasi studi siswa
11. Menyelenggarakan kegiatan ko/ekstrakurikuler
12. Membantu guru bidang studi dalam mendiagnosis kesulitan belajar siswa
13. Membantu guru bidang studi dalam menyelenggarakan pengajaran perbaikan dan program pengayaan
14. Menyelenggarakan bimbingan kelompok belajar
15. Menyelenggarakan pelayanan penempatan siswa
16. Menyelenggarakan bimbingan karier dan pemberian informasi pendidikan/jabatan
17. Menyelenggarakan konferensi kasus
18. Menyelenggarakan terapi kepustakaan
19. Melakukan kunjungan rumah
20. Menyelenggarakan lingkungan klien
21. Merangsang perubahan lingkungan klien
22. Menyelenggarakan konsultasi khusus
23. Mengantar dan menerima alih tangan
24. Menyelenggarakan diskusi professional
25. Memahami dan menulis karya-karya ilmiah dalam bidang BK
26. Memahami hasil dan menyelenggarakan penelitian dalam bidang BK
27. Menyelenggarakan kegiatan BK pada lembaga/lingkungan yang berbeda
28. Berpartisipasi aktif dalam pengembangan profesi BK
Berbicara mengenai syarat-syarat bagi suatu jabatan atau pekerjaan, hal ini menyangkut analisa jabatan. Analisa jabatan yaitu menganalisa syarat-syarat yang dibutuhkan oleh suatu jabatan agar dapat memperoleh orang-orang yang sesuai dengan tuntutan jabatan tersebut.
Begitu juga jabatan sebagai seorang tenaga BK di sekolah (baca: guru BK). Supaya guru BK dapat menjalankan pekerjaanya dengan baik dan profesional, maka guru BK harus memiliki beberapa kualifikasi, diantaranya yaitu:
1. Sekurang-kurangnya harus seorang Sarjana
2. Mempunyai pengetahuan yang cukup luas, baik segi teori ataupun segi praktek.
3. Di dalam segi psikologi, seorang guru BK akan dapat mengambil tindakan yang bijaksana jika guru BK telah cukup dewasa.
4. Sehat jasmani maupun psikisnya.
5. Mempunyai sikap kecintaan terhadap pekerjaannya atau terhadap anak atau individu yang dihadapinya.
6. Mempunyai inisiatif yang cukup baik.
7. Bersifat supel, ramah tamah, dan sopan santun.
8. Mempunyai sifat-sifat yang dapat menjalankan prinsip-prinsip serta kode-kode etik dalam bimbingan dan penyuluhan dengan sebaik-baiknya.

B. Pendidikan Tenaga BK
Penyiapan Konselor dilakukan melalui program pendidikan prajabatan, program penyetaraan, ataupun pendidikan dalam jabatan. Khusus tentang penyiapan konselor melalui program pendidikan dalam jabatan, waktunya cukup lama, dimulai dari seleksi dan penerimaan calon mahasiswa yang akan mengikuti program sampai para lulusannya diwisuda.
1. Seleksi/Penerimaan Mahasiswa
Seleksi calon mahasiswa merupakan tahap awal dalam proses penyiapan konselor. Prayitno (1990) menyarankan bahwa untuk dapat mengikuti program pendidikan konselor berlaku persyaratan untuk menjadi calon guru yang baik pada umumnya, yaitu menyayangi anak-anak dan menyukai orang lain, dapat berkomunikasi verbal secara baik, serta cerdas.
2. Pendidikan Konselor
Untuk melaksanakan tugas-tugas dalam bidang bimbingan dan konseling secara baik, para konselor dituntut memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang memadai. Dari sisi keilmuannya, perlu diperhatikan betapa besarnya urgensi dasar keilmuan terhadap kompetensi bimbingan dan konseling. Dalam hal itu perlu dikatakan bahwa praktik konseling harus berakar secara kokoh pada ilmu. Dalam hal ini, psikologi merupakan ilmu yang memberikan sumbangan besar terhadap bimbingan dan konseling (Mc. Cully,1969). Selanjutnya dikatakan juga bahwa orientasi pada ilmu saja tidak cukup. Hal-hal yang bersifat pribadi, seperti kemampuan mengarahkan diri sendiri, kebebasan pribadi, perbedaan perorangan, dan tujuan-tujuan pribadi amat perlu diperhatikan dalam bimbingan dan konseling.
Kurikulum program pendidikan konselor mengacu kepada standar kemampuan konselor yang mampu melaksanakan tugasnya dengan baik di lapangan. Materi kurikulum program studi meliputi:
a. Materi inti, yaitu materi tentang perrtumbuhan dan perkembangan individu, dasar-dasar ilmu sosial dan kebudayaan, teori tentang pemberian bantuan, dinamika kelompok, gaya hidup dan perkembangan karier, pemahaman individu, riset dan evaluasi, orientai professional.
b. Studi lingkungan dan studi khusus, yaitu materi tentang studi lingkungan dan materi khusus sesuai dengan keperluan mahasiswa untuk bekerja dalam lingkungan tertentu.
c. Pengalaman tersupervisi, yaitu kegiatan praktek langsung pelayanan bimbingan dan konseling baik melalui kegiatan di laboraturium, praktikum, maupun praktek pengalaman lapangan yang sesuai dengan cita-cita karier mahasiswa dan kesempatan berinteraksi dengan teman sejawat dan organisasi profesional.
Untuk memenuhi tuntutan di lapangan yang menyangkut berbagai variasi yang ada di masyarakat, pendidikan konselor juga perlu mengisi program-programnya dengan pengalaman-pengalaman yang bervariasi, misalnya pengetahuan yang menyangkut anak cacat, anak berbakat, kelompok minoritas, umur dan jenis kelamin, status keluarga dan perkawinan, dunia usaha dan industri, pertahanan dan keamanan, perbedaan adat dan budaya, peranan seni dalam konseling, dan lain-lain.
Di samping penguasaan wawasan dan materi keilmuan serta ketrampilan, konselor juga perlu membina diri dalam sikap dan keteguhan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling. Salah satu contoh misalnya adalah pengembangan sikap berkenaan dengan asas kerahasiaan sebagai “asas kunci” dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Dalam diri konselor harus benar-benar tertanam pemahaman dan tekad untuk melaksanakan asas tersebut.
Lebih jauh, pada akhir studi mereka, yaitu ketika mereka diwisuda mereka diminta mengucapkan semacam ikrar atau janji di hadapan khalayak ramai bahwa mereka akan menjalankan tugas-tugas sebagai konselor sebagaimana diharapkan.
Dalam standar yang dikemukakan tersebut, pendidikan konselor diselenggarakan minimal 2 tahun sesudah jenjang setingkat sarjana muda. Sedangkan program doktornya meliputi 4 tahun akademi, termasuk di dalamnya program intership selama satu tahun penuh. Selain pengalaman tersupervisi di dalam dan di luar kampus, mahasiswa tingkat doktoral perlu diberi kesempatan berperan serta aktif di dalam lokakarya, seminar, konferensi, program latihan dan kegiatan sejenis dalam bimbingan dan konseling.
3. Akreditasi
Lembaga pendidikan konselor perlu diakreditasi untuk menjamin mutu lulusannya. Akreditasi itu meliputi penilaian terhadap misi, tujuan, struktur dan isi program, jumlah dan mutu pengajar, prosedur, seleksi, mutu penyelenggaraan program, penilaian keberhasilan mahasiswa dan keberhasilan program, potensi pengembangan lembaga, unsur-unsur penunjang, dan hubungan masyarakat. Untuk dapat diselenggarakannya akreditasi secara baik perlu terlebih dahulu ditetapkan standar pendidikan konselor yang berlaku secara nasional. Penyusunan standar ini menjadi tugas bersama organisasi profesi BK dan pemerintah.
4. Sertifikasi dan Lisensi
Sertifikasi merupakan upaya lebih lanjut untuk lebih memantapkan dan menjamin profesionalisasi bimbingan dan konseling. Para lulusan pendidikan konselor yang akan bekerja di lembaga-lembaga pemerintah, misalnya di sekolah-sekolah, diharuskan menempuh program sertifikasi yang diselenggarakan oleh pemerintah. Sedangkan mereka yang hendak bekerja di luar lembaga atau badan pemerintah diwajibkan memperoleh lisensi atau sertifikat kredensial dari organisasi profesi BK.
5. Pengembangan Organisasi Profesi
Tujuan organisasi profesi dapat dirumuskan ke dalam ”tri darma organisasi profesi”, yaitu:
a. Pengembangan ilmu
b. Pengembangan pelayanan
c. Penegakan kode etik profesional
Organisasi profesi di bidang BK disebut Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI). IPBI sejak awal telah berusaha melaksanakan ketiga darma oganisasi tersebut diantaranya melalui penyusunan unjuk kerja konselor dan kode etik anggota IPBI. Disamping itu IPBI berusaha bekerja sama dengan lembaga pendidikan konselor dalam rangka penyusunan kurikulum pendidikan konselor, berpartisipasi dalam penataran para petugas bimbingan di sekolah, dan melaksanakan upaya-upaya lainnya demi pengembangan pelayanan BK secara luas.
C. Peranan Guru Dalam BK
1. Guru Sebagai Tokoh Kunci Dalam BK
Apabila Kepala sekolah merupakan tokoh kunci dalam organisasi program bimbingan di seluruh sekolah, maka guru (termasuk wali kelas) adalah tokoh kunci dalam kegiatan–kegiatan bimbingan di dalam kelas. Guru selalu berada dalam hubungan yang erat dengan anak didik. Ia banyak mempunyai kesempatan untuk mempelajari anak didik, mengawasi tingkah laku dan kegiatannya, dan apabila ia teliti serta menaruh perhatian ia akan dapat mengetahui sifat-sifat anak didik, kebutuhannya, minatnya, masalah-masalahnya, dan titik-titik kelemahannya serta kekuatannya.
Oleh karena pendidikan dan kedudukanya tersebut, guru berwenang sepenuhnya dan mampu untuk mempelajari dan memahami anak didiknya, bukan saja sebagai individu tetapi juga sebagai anggota kelompok atau kelasnya.
Karena itulah guru merupakan anggota utama diantara petugas-petugas bimbingan. Pada umumnya guru lebih mudah untuk mengetahui masalah-masalah, sikap, dan kebutuhan anak didik sehingga guru bisa memberi bantuan kepada anak didik yang memerlukannya. Namun demikian, apabila dikehendaki informasi atau pengaturan yang khusus maka anak didik yang bersangkutan perlu didampingi oleh seorang penyuluh yang terlatih.
2. Mengetahui Anak Didik Sebagai Individu
Tugas guru dalam bimbingan adalah mengetahui atau mengenal anak didik. Apabila guru mau berhasil dalam tugasnya sebagai guru BK maka ia perlu mengetahui kebiasaan-kebiasaan anak didik dalam belajar dan bekerjanya, dalam bermain dan keadaan kesehatannya, asal-usulnya, teman karibnya, bahkan latar belakang sosial-ekonominya.
Guru yang baik perlu pula mencatat bagaimana hubungan tiap anak didik dengan teman-teman sekelasnya dan orang-orang lain. Dengan jalan mengadakan observasi, pembicaraan dengan anak didik dan orang tuanya serta sahabat-sahabatnya, tes sosiometri, mempelajari data mengnai dirinya, memungkinkan guru mengetahui apakah anak didik itu mempunyai keseimbangan dalam segi-segi sosial, perasaan, dan pendidikannya.
3. Mengetahui Sebab-Sebab, Interpretasi dan Perbaikan Tingkah Laku Anak Didik
Pengetahuan mengenai bagaimana guru harus menafsirkan tingkah laku anak didik dengan tepat merupakan salah satu dasar pokok bagaimana pelaksanaan bimbingan yang efektif. Ahli-ahli mental hygiene percaya bahwa guru akan lebih mampu untuk menafsirkan tingkah laku anak didik, apabila ia memahami gagasan-gagasan yang berikut.
Pertama, pada umumnya perkembangan tingkah laku seseorang dimulai dari sikap ke-aku-annya (ego–sentries), untuk kemudian baru menaruh perhatian pada kesejahteraan seluruh kelompok. Kedua, perasaan yang tak berdaya pada diri anak selama masa kanak-kanak mengakibatkan timbulnya perasaan harga diri kurang. Ketiga, setiap individu pada pokoknya membutuhkan rasa kasih sayang. Keempat, tiap individu megalami pertentangan batin.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, petugas-petugas bimbingan atau guru perlu memberikan bantuan kepada anak didik agar ia mampu mengembangkan potensinya. Mereka harus berusaha pula agar tidak timbul pertentangan-pertentangan baru yang dapat mengakibatkan timbulnya tingkah laku anak yang tidak diinginkan. Dalam hubungan ini jelas bahwa pribadi guru memegang peranan yang penting dalam bimbingan.
Faktor lain yang perlu juga diperhatikan untuk menghasilkan pekerjaan yang efektif dan disiplin yang baik dari pihak guru ialah sikap yang menunjukkan respek atau hormat terhadap individualitas tiap-tiap anak didik dan terutama terhadap anak didik yang memperlihatkan hasil usaha yang paling baik.
4. Pentingnya Pertemuan Guru – Anak Didik
Sewaktu timbul kebutuhan, maka guru perlu mengadakan pertemuan dari hati ke hati dengan anak didik. Pertemuan itu dapat dilaksanakan sebelum kegiatan belajar mengajar di sekolah dimulai, pada waktu jam istirahat atau setelah kegiatan belajar mengajar di sekolah usai. Data berharga dapat terkumpul pada pertemuan itu. Kemudian guru memberikan bantuan yang memadai kepada anak didik yang memerlukan tersebut.
5. Pentingnya Pertemuan Guru – Orang Tua Anak Didik
Hubungan sekolah-rumah yang sehat dan pelayanan bimbingan yang efektif sering kali dimungkinkan oleh pertemuan-pertemuan antara guru dan orang tua anak didik. Secara tidak langsung, pertemuan itu membantu guru untuk memahami kebutuhan-kebutuhan, sifat-sifat dan keadaan anak didik.
Ditinjau dari tempat bertemunya, pertemuan guru – orang tua anak didik dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Pertemuan di rumah
Kujungan ke rumah anak didik mempunyai nilai yang besar apabila dilakukan oleh guru yang bijaksana. Usaha ini membuat guru menjadi kenal dengan orang tua anak didik serta dapat memperoleh data yang berharga mengenai anak didiknya, sehingga guru dapat memahami kebutuhan mereka dan membibingnya dengan baik.
b. Pertemuan di sekolah
Pertemuan ini akan memberikan kepada orang tua kesempatan yang baik untuk melihat sekolah, perlengkapan-perlengkapannya, petugas-petugasnya, jenis pekerjaan yang sedang dilakukan anak didik, serta metode yang sedang digunakan dalam proses belajar mengajar.

D. Tantangan Konselor
Menjadi seorang konselor mungkin pekerjaan yang mudah. Tetapi untuk menjadi konselor yang profesional adalah pekerjaan yang tidak mudah. Banyak tentangan yang dihadapi oleh seorang konselor, diantaranya yaitu:
1. Tantangan untuk mampu meminimalisir bahkan menghapus kesalahpahaman masyarakat tentang konselor dengan cara melaksanakan tugas-tugasnya sebagai tenaga BK dengan baik. Diantara kesalahpahaman itu adalah sebagai berikut:
a. Guru BK di anggap sebagai polisi di sekolah
b. Guru BK dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasehat
c. Guru BK dibatasi pada penanganan masalah yang bersifat insidental
d. Guru BK dibatasi hanya untuk klien-klien tertentu saja
e. Pekerjaan sebagai Guru BK dapat dilakukan oleh siapa saja
f. Menganggap hasil pekerjaan BK harus segera dapat dilihat
2. Tantangan untuk memiliki kompetensi-kompetensi tertentu
Perlu bagi konselor untuk memilki kompetensi diri agar mampu menjalankan tugasnya secara profesional. Kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang konselor adalah sebagaimana telah dijelaskan dalam rumusan unjuk kerja yang meliputi 28 gugus.
3. Tantangan untuk memenuhi kualifikasi tenaga BK, supaya guru BK dapat menjalankan pekerjaanya dengan baik dan professional.

BAB III
ANALISIS DATA

Sebagaimana penelitian pada umumnya, makalah ini mengulas data yang diperoleh menjadi analisis data meskipun hanya sedikit pembahasannya. Makalah ini sebenarnya sebagaimana makalah-makalah pada umumnya. Hanya saja referensi dalam makalah tugas mata kuliah BP di Madrasah ini lebih banyak. Selain bersumber dari buku, makalah ini juga bersumber dari hasil wawancara dengan koordinator guru BK SMAN 15 Surabaya. Oleh karena itu, disini penulis mencoba memadukan antara teori yang sudah mapan dengan kenyataan di lapangan, apakah sudah atau belum sesuai dengan teori.
Walaupun bukan penelitian sesungguhnya tetapi penulis mencoba membuat laporan sejenis dengan penelitian yang awalnya berangkat dari adanya sebuah permasalahan. Data tentang tenaga BK di sekolah ini penulis peroleh ini melalui wawancara dan observasi secara langsung pada obyek yang diteliti yakni SMAN 15 Surabaya.
Wawancara atau interview adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari orang yang diwawancarai tentang suatu permasalahan yang diangkat sebagai sebuah penelitian. Sedangkan observasi adalah kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek penelitian dengan menggunakan keseluruhan alat indra.
Adapun wawancara yang dilakukan penulis terhadap koordinator guru BK SMAN 15 termasuk wawancara yang tidak terstruktur, karena penulis hanya membuat kerangka pertanyaan yang mencakup poin-poin materi pembahasan akan tetapi dalam pelaksanannya mengalami perluasan pembahasan namun tetap dalam lingkup pembahasan tenaga BK. Wawancara dilakukan langsung dengan Pipit Wijayanti, S. Pd. selaku koordinator guru BK. Untuk observasi dalam penelitian ini, penulis sekedar mengamati profesionalitas kerja tenaga BK di SMAN 15 Surabaya melalui arsip-arsip terkait termasuk struktur tenaga BK dan pembagian wilayah kerjanya.
Dari hasil wawancara dan observasi yang penulis lakukan, dapat dijelaskan beberapa hal penting dan menarik mengenai tenaga BK yang ada di SMAN 15 Surabaya, yaitu:
a. Kualifikasi tenaga BK di SMAN 15 adalah sebagaimana telah dijelaskan dalam kajian teori di atas. Namun ada beberapa hal yang menjadi tambahan dan ini sangat penting, yakni:
1. Tenaga BK di SMAN 15 Surabaya harus lulusan sarjana konsentrasi BK
2. Menguasai Informasi dan Teknologi (IT). Penguasaan terhadap IT ini penting karena hampir seluruh kelas di SMAN 15 Surabaya sudah tersedia LCD dan proyektor sehingga guru dituntut untuk bisa mengoperasikannya sendiri.
3. Mempunyai jaringan yang luas, khususnya hubungan dengan para psikolog. Psikolog suatu saat dibutuhkan ketika ada siswa yang berkebutuhan khusus.
4. Mempunyai pengetahuan luas tentang peluang ketenagakerjaan di Indonesia. Mengetahui peluang kerja di bidang-bidang tertentu ini penting untuk memberikan pengarahan kepada siswa yang hendak melanjutkan studinya ke Perguruan Tinggi.
b. Pendidikan seluruh tenaga BK di SMAN 15 Surabaya adalah sarjana pendidikan dengan konsentrasi BK. Adapun nama-nama tenaga BK di SMAN 15 Surabaya adalah:
1. Drs. Mujahidin, M. Si
2. Hj. Anisah, S. Pd
3. Dra. Army Astuti
4. Dra. DC. Ismawati
5. Pipit Wijayanti
c. Dapat ditambahkan pula tantangan-tantangan seorang konselor sebagaimana kasus faktual yang ada di SMAN 15 Surabaya, yaitu:
1. Ketika ada masalah yang tidak mampu menyelesaikan hanya dengan melibatkan siswa, Guru BK memanggil orang tua siswa untuk menghadap ke sekolah. Hal ini sering menimbulkan adanya perselisihan antara guru BK dengan wali anak didik
2. Pada saat-saat tertentu, guru BK harus berhadapan dan berselisih pendapat dengan guru kelas. Misalnya, saat hendak penjurusan siswa kelas XI yang naek ke kelas XII
3. Guru BK harus bisa memilih waktu yang tepat untuk melakukan panggilan terhadap siswa-siswa yang bermasalah. Waktu tersebut diharapkan tidak mengganggu proses belajar mengajar di kelas
4. Guru BK dituntut untuk dekat dengan siswa
Dari hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan peneliti dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan dan pengolahan BP/BK di SMAN 15 Surabaya mendekati nilai sesuai dengan teori yang selama ini peneliti telah pelajari. Penerapan layanan BK telah terlaksana dengan baik. Tenaga BK yang ada sudah profesional. Program kerja BK disana sudah ada dan terstruktur sesuai yang diharapkan teori yang ada. Namun tetap ada kekurangan didalamnya, diantaranya yaitu program-program yang telah dirancang dengan baik, pelaksanaannya masih kurang maksimal.

BAB IV
KESIMPULAN

A. Kualifikasi Tenaga BK
Di Indonesia memang belum ada rumusan tentang unjuk kerja profesional konselor yang standar. Usaha untuk merintis terwujudnya rumusan tentang unjuk kerja itu dikonkretkan pada Konvensi Nasional VIII di Padang (1991). Rumusan tentang unjuk kerja itu mengacu kepada wawasan dan keterampilan yang hendaknya dapat ditampilkan oleh para lulusan program studi Bimbingan dan Konseling. Keseluruhan rumusan unjuk kerja itu meliputi 28 gugus yang dapat dirumuskan menjadi beberapa poin sebagai berikut:
1. Sekurang-kurangnya harus seorang Sarjana
2. Mempunyai pengetahuan yang cukup luas, baik segi teori ataupun segi praktek.
3. Di dalam segi psikologi, seorang guru BK akan dapat mengambil tindakan yang bijaksana jika guru BK telah cukup dewasa.
4. Sehat jasmani maupun psikisnya.
5. Mempunyai sikap kecintaan terhadap pekerjaannya atau terhadap anak atau individu yang dihadapinya.
6. Mempunyai inisiatif yang cukup baik.
7. Bersifat supel, ramah tamah, dan sopan santun.
8. Mempunyai sifat-sifat yang dapat menjalankan prinsip-prinsip serta kode-kode etik dalam bimbingan dan penyuluhan dengan sebaik-baiknya.

B. Pendidikan Tenaga BK
Penyiapan Konselor dilakukan melalui program pendidikan prajabatan, program penyetaraan, ataupun pendidikan dalam jabatan. Khusus tentang penyiapan konselor melalui program pendidikan dalam jabatan, waktunya cukup lama, dimulai dari seleksi dan penerimaan calon mahasiswa yang akan mengikuti program sampai para lulusannya diwisuda.
1. Seleksi/Penerimaan Mahasiswa
2. Pendidikan Konselor
3. Akreditasi
4. Sertifikasi dan Lisensi
5. Pengembangan Organisasi Profesi

C. Peranan Guru Dalam BK
1. Guru Sebagai Tokoh Kunci Dalam BK
2. Mengetahui Anak Didik Sebagai Individu
3. Mengetahui Sebab-Sebab, Interpretasi dan Perbaikan Tingkah Laku Anak Didik
4. Mengadakan Pertemuan Guru – Anak Didik
5. Mengadakan Pertemuan Guru – Orang Tua Anak Didik

D. Tantangan Konselor
Banyak tentangan yang dihadapi oleh seorang konselor, diantaranya yaitu:
1. Tantangan untuk mampu meminimalisir bahkan menghapus kesalahpahaman masyarakat tentang konselor dengan cara melaksanakan tugas-tugasnya sebagai tenaga BK dengan baik.
2. Tantangan untuk memiliki kompetensi-kompetensi tertentu
3. Tantangan untuk memenuhi kualifikasi tenaga BK, supaya guru BK dapat menjalankan pekerjaanya dengan baik dan professional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: