Pendahuluan Ushul Fiqih

A. Resume Pendahuluan dari Buku “Membangun Metodologi Ushul Fiqh: Telaah Konsep Al-Nadb & Al-Karahah dalam Istimbath Hukum Islam”
Penulis: Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, MA.
I. DEFINISI HUKUM SYAR’IE DAN PEMBAGIANNYA
Arti al-Hukm Secara Bahasa
 al-hukm berarti al-hikmah (bijaksana)
 al-hukm berarti al-‘ilm dan al-fiqh, yakni pengetahuan dan pemahaman
 al-hukm berarti al-man’u (mencegah), mencegah dari kelaliman
 al-hukm berarti al-qadlau bi al-‘adl (putusan secara adil), bentuk pluralnya adalah ahkam.
Makna Epistemologi al-Syar’u
Secara epistemologis, lafadz al-syar’u dan al-syariatu mempunyai arti yang sama, yaitu apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi para hamba-Nya yang berbentuk ketetapan-ketetapan serta aturan-aturan.
Al-Hukm al-Syar’ie
Menurut Ulama ushul fiqh, terminologi al-hukm al-syar’ie adalah khitab Allah yang berhubungan dengan tingkah laku para mukallaf (almuta’allaqu bi af’ali al-mukallifin) mengenai suatu permintaan (al-iqtidha), atau pilihan (al-takhyir) atau al-wadh’u.
Penjabaran definisi
Al-Khithab digunakan untuk perkataan yang dapat digunakan untuk memberikan pemahaman, baik pemahaman melalui aksi (amal) atau tidak
Almuta’allaqu bi af’ali al-mukallifin berarti terikat dengan tingkah laku mukallaf dengan format menerangkan sifat af’al karena diminta untuk dilaksanakan seperti shalat, puasa, dan haji dan yang lainnya atau diminta untuk ditinggalkan seperti zina, membunuh atau karena dibolehkan seperti makan dan minum.
Al-iqtidla’ berarti permintaan untuk mengerjakan sesuatu atau meninggalkan sesuatu, secara pasti dan merupakan suatu keharusan. Maka al-iqtidla ini memuat empat macam yaitu al-ijab dan an-nadb yaitu jika permintaan untuk mengerjakan sesuatu tersebut secara pasti atau tidak, serta al-Tahrim dan al-karahah jika permintaan untuk meninggalkan sesuatu tersebut secara pasti atau tidak.
At-takhyir adalah penyamaran antara pelaksanaan sesuatu atau meninggalkan tanpa ada prioritas pada salah satu di antara keduanya.
Al-Wadl’u berarti ketetapan pembuat hukum, bahwa sesuatu akan menjadi sebab terjadinya sesuatu yang lain, atau menjadi syarat dalam sesuatu yang lain, atau menjadi pencegah pelaksanaan sesuatu yang lain.
II. PEMBAGIAN HUKUM SYAR”IE
Ada tiga macam hukum syar’i: iqtidzaiy, takhyiry, dan wadz’iy. Banyak juga ahli ushul fiqh yang memasukkan hukum al-takhyiry dalam al-hukm al-iqtidzaiy, menjadikan sebagai satu term yang disebut dengan al-hukm al-taklify. Menurut kelompok ini hukum syara’ terbagi menjadi dua: taklify dan wadl’iy.
Al-hukm al-taklify adalah yang melazimkan permintaan untuk mengerjakan, meninggalkan atau memilih antara mengerjakan dan meninggalkannya. Hukum taklify ini terbagi menjadi lima bagian:
 al-ijab, permintaan untuk mengerjakan sesuatu, secara pasti dan mengikat (al-ilzam dan al-tahtim)
 al-tahrim, permintaan untuk meninggalkan suatu pekerjaan secara pasti dan mengikat (al-ilzam dan al-tahtim)
 al-nadb, permintaan untuk mengerjakan sesuatu secara tidak pasti dan tidak mengikat
 al-karahah, permintaan untuk meninggalkan sesuatu secara tidak pasti dan tidak mengikat
 al-ibahah, permintaan untuk memilih di antara mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya.
Al-hukm al-wadl’i adalah khitab yang menerangkan bahwa sesuatu perkara berkaitan erat dengan perkara yang lain, baik menjadi sebab terjadinya sesuatu atau menjadi syarat di dalam perkara lain, atau menjadi pencegah dari perkara yang lain. Sejatinya hukum itu ada jika terdapat sebab yang mengadakannya atau jika terdapat syarat-syarat di dalamnya, dan hukum itu menjadi tidak ada jika terdapat pencegah terjadinya hukum itu atau tidak adanya sebab dan syarat.
Perbedaan hakikat antara hukum wadl’i dan hukum taklifi adalah bahwasanya hukum dalam khitab wadl’i merupakan ketentuan syara’ dalam mensifati hukum tersebut sebagai sebab, atau syarat atau pencegah, sedangkan khitab taklif untuk meminta dikerjakannya apa yang telah ditetapkan melalui sebab, syarat, ataupun pencegah.
Sedangkan perbedaan dari sisi hukumnya adalah bahwa khitab taklif ini mensyaratkan pemahaman mukallaf dan kemampuannya untuk menunaikan suatu perintah, dan juga bahwa dalam khitab taklif ini mukallaf akan dibalas sesuai dengan apa yang ia laksanakan, seperti shalat, puasa dan haji, sedangkan khitab wadl’i tidak disyaratkan apa-apa darinya kecuali beberapa hal, yaitu:
 Sebab-sebab yang merupakan sebab dikenakannya hukuman (‘uqubat) yaitu jinayah seperti pembunuhan yang menyebabkan qishash.
 Perpindahan harta, seperti jual beli, hibah, wasiat, dan yang lainnya.

B. Resume Pendahuluan dari Buku “Ushul Fiqh Jilid I”
Penulis: H. Amir Syarifuddin
I. PENGERTIAN SYARI’AH, FIQH DAN HUKUM ISLAM
Menurut para ahli, definisi Syari’ah adalah segala titah Allah yang berhubungan dengan tingkah laku manusia di luar yang mengenai akhlak. Sedangkan Fiqh berarti ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliah yang digali dan ditemukan dari dalil-dalil yang tafsili. Adapun Hukum Islam berarti seperangkat peraturan berdasarkan wahyu Allah dan sunnah Rasul tentang tingkah laku manusia mukallaf yang diakui dan diyakini mengikat untuk semua yang beragama Islam.
II. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN FIQH
Fiqh pada Masa Nabi saw. (masa pembinaan Fiqh)
Telah dijelaskan bahwa pengertian fiqih adalah hasil penalaran seseorang yang berkualitas mujtahid atas hukum Allah atau hukum-hukum amaliah yang dihasilkan dari dalil-dalilnya melalui penalaran atau ijtihad. Apabila penjelasan dari Nabi yang berbentuk Sunnah itu merupakan hasil penalaran atas ayat-ayat hukum, maka apa yang dikemukakan Nabi itu dapat disebut fiqh atau lebih tepat disebut “Fiqh Sunnah”.
Sebenarnya masih ada perbedaan pendapat para Ulama mengenai kebolehan atau kemungkinan Nabi berijtihad. Dalam kenyataan, memang beliau pernah berijtihad untuk memahami dan menjalankan wahyu Allah dalam hal-hal yang memerlukan penjelasan dari Nabi yang sebagiannya dibimbing wahyu. Dalam hal-hal yang tidak mendapat koreksi dari Allah, maka hal itu muncul sebagai Sunnah Nabi yang wajib ditaati. Dengan demikian, sebagian Sunnah Nabi adalah berdasarkan pada ijtihadnya.
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa fiqh sudah mulai ada semenjak Nabi masih hidup dengan pola yang sederhana sesuai dengan kesederhanaan kondisi masyarakat Arab yang menjalankan fiqih pada waktu itu.
Fiqh pada Masa Sahabat (masa pengembangan Fiqh)
Ada tiga hal pokok yang berkembang waktu itu sehubungan dengan hukum,
 Banyak muncul kejadian baru yang membutuhkan jawaban hukum yang secara lahiriah tidak dapat ditemukan jawabannya dalam al-Qur’an maupun Sunnah Nabi. Untuk itu, para sahabat mencoba mencari jawabannya dengan pamahaman lafadz (mafhum) dan pemahaman alasan atau ‘illat suatu kasus baru yang dihubungkan kepada dalil nash yang memiliki ‘illat yang sama dengan kasus tersebut (qiyas).
 Timbul masalah-masalah yang secara lahir telah diatur ketentuan hukumnya dalam al-Qur’an maupun Sunnah Nabi, namun ketentuan itu dalam keadaan tertentu sulit untuk diterapkan dan menghendaki pemahaman baru agar relevan dengan perkembangan dan persoalan yang dihadapi.
 Dalam al-Qur’an ditemukan penjelasan terhadap suatu kejadian secara jelas dan terpisah. Bila hal tersebut berlaku dalam kejadian tertentu, para sahabat menemukan kesulitan dalam menerapkan dalil-dalil yang ada.
Dapat disimpulkan bahwa pada masa sahabat sumber yang digunakan dalam mermuskan fiqh adalah al-Qur’an, Sunnah, dan ijtihad yang terbatas pada qiyas dan ijma’ sahabat.
Fiqh pada Masa Imam Mujtahid
Terdapat dua kecenderungan dalam kadar penerimaan Sunnah dan ijtihad:
 Dalam menetapkan hasil ijtihad lebih banyak menggunakan hadits Nabi dibandingkan dengan menggunakan ijtihad. Kelompok ini biasa disebut “Ahlal Hadits” diantaranya adalah kelompok Madzhab Malikiyah. Kelompok ini banyak tinggal di wilayah Hijaz, khususnya Madinah.
 Dalam menetapkan hukum fiqh lebih banyak menggunakan sumber ra’yu atau ijtihad dari pada hadits. Kelompok ini disebut “Ahl al-Ra’yu” diantaranya adalah kelompok Madzhab Hanafiyah. Kelompok ini banyak terdapat di wilayah Irak, khususnya Kufah dan Basrah.
 Dalam menetapkan hukum fiqh seimbang dalam menggunakan hadits dan ijtihad. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Madzhab Syafi’iyah, Madzhab Hanabilah
 Dalam pemahaman ayat-ayat al-Qur’an lebih banyak berpedoman kepada zhahir lafadz dan menghindarkan diri dari membawa pemahamannya ke luar (di balik) lahir lafadz. Kelompok ini disebut Madzhab Zhahiriyah
Periode ini ditandai oleh beberapa kegiatan ijtihad yang menghasilkan fiqh dalam bentuknya yang mengagumkan. Pertama, menyusun kaidah Ushul Fiqh. Kedua, penetapan istilah-istilah hukum yang digunakan dalam fiqh. Ketiga, menyusun kitab fiqh secara sistematis.
Fiqh dalam Periode Taklid
Kegiatan ijtihad pada masa ini terbatas pada usaha pengembangan, pensyarahan dan perincian kitab fiqh dari imam mujtahid yang ada (terdahulu), dan tidak muncul lagi pendapat atau pemikiran baru.
III. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP USHUL FIQH
Ushul Fiqh adalah ilmu tentang kaidah-kaidah yang membawa kepada usaha merumuskan hukum syara’ dari dalilnya yang terperinci. Adapun pokok pembahasan Ushul Fiqh adalah:
a. dalil-dalil atau sumber hukum syara’;
b. hukum-hukum syara’ yang terkandung dalam dalil itu;
c. kaidah-kaidah tentang usaha dan cara mengeluarkan hukum syara’ dari dalil atau sumber yang mengandungnya.

C. Resume Pendahuluan dari Buku “Ilmu Ushul Fikih”
Penulis: Prof. Dr. Abdul Wahhab Khallaf
Definisi
Ilmu Fikih menurut syarak adalah pengetahuan tentang hukum syariah yang sebangsa perbuatan yang diambil dari dalilnya secara detail. Sedangkan ilmu Ushul Fikih menurut istilah syara’ adalah pengetahuan tentang kaidah dan pembahasannya yang digunakan untuk menetapkan hukum-hukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan manusia dari dalil-dalilnya yang terperinci.
Obyek Fikih dan Ushul Fikih
Obyek pembahasan ilmu fikih adalah perbuatan orang mukallaf ditinjau dari ketetapannya terhadap hukum syara’. Sedangkan obyek pembahasan ilmu Ushul Fikih adalah dalil syara’ yang bersifat umum ditinjau dari ketetapannya terhadap hukum syara’ yang umum pula.
Tujuan Fikih dan Ushul Fikih
Tujuan ilmu Fikih adalah menerapkan hukum syara’ pada semua perbuatan dan ucapan manusia. Sedangkan tujuan ilmu Ushul Fikih adalah menerapkan kaidah dan pembahasannya pada dalil-dalil yang detail untuk diambil hukum syara’nya.
Pertumbuhan dan Perkembangan Fikih dan Ushul Fikih
Hukum Fikih pada periode pertama terdiri dari hukum Allah dan Rasul-Nya. Kemudian pada periode kedua terdiri dari al-Qur’an, al-Sunnah, dan ijtihad sahabat. Adapun periode ketiga hukum fikih terdiri dari al-Qur’an, al-Sunnah, Ijtihad sahabat dan ijtihad imam-imam mujtahid. Pada abad ini dimulailah pembukuan hukum-hukum syara’ seiring pembukuan hadis. Kitab yang pertama kali disusun dan sampai kepada kita adalah kitab al Muwaththa’ susunan Imam Malik bin Anas.
Ushul Fikih mulai tumbuh pada abad ke dua Hijriyah. Orang yang pertama kali menghimpun kaidah yang tersebar ke dalam satu kitab tersendiri adalah Imam Abu Yusuf, penganut faham Abu Hanifah. Sedangkan orang yang pertama kali membukukan kaidah-kaidah ilmu ushul fikih disertai pembahasannya secara sistematis yang didukung dengan metode penelitian adalah Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i.

idul fitri

IDUL FITRI

Shalat Idul Fitri disyari’atkan pada umat islam pada tahun pertama dari hijrah Rasulullah SAW. Hukum dari shalat Idul Fitri itu sendiri adalah sunat muakkad.
Perbuatan-perbuatan yang disunnahkan ketika hendak melaksanakan sholat ‘Ied:
Mandi Sebelum ‘Ied. Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk hari raya karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk sholat. Namun, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah.
Makan di Hari Raya.
Memperindah (berhias) Diri pada Hari Raya. Perlu diingat, anjuran berhias saat hari raya ini tidak menjadikan seseorang melanggar yang diharamkan oleh Allah, diantaranya larangan memakai pakaian sutra dan emas bagi laki-laki.
Berbeda jalan antara pergi ke tanah lapang dan pulang darinya. Hikmahnya sangat banyak sekali di antaranya, agar dapat memberi salam pada orang yang ditemui di jalan, dapat membantu memenuhi kebutuhan orang yang ditemui di jalan, dan agar syiar-syiar Islam tampak di masyarakat. Disunnahkan pula bertakbir saat berjalan menuju tanah lapang.

Hal-Hal yang Terkait Sholat ‘Ied Secara Ringkas
• Dasar disyari’atkannya: QS. Al Kautsar ayat 2, dan hadits dari Ibnu Abbas, beliau berkata, “Aku ikut melaksanakan sholat ‘Ied bersama Rosululloh, Abu Bakar dan Umar, mereka mengerjakan sholat ‘Ied sebelum khutbah.” (HR. Buhori dan Muslim)
• Waktu sholat ‘Ied: Antara terbit matahari setinggi tombak sampai tergelincirnya matahari (waktu Dhuha),
• Tempat dilaksanakannya: Disunnahkan di tanah lapang, jika terdapat udzur dibolehkan di masjid.
• Tata cara sholat ‘Ied: Dua roka’at berjama’ah, dengan tujuh takbir di roka’at pertama (selain takbirotul ihrom) dan lima takbir di roka’at kedua (selain takbir intiqol/takbir Qiyam).
• Tidak ada adzan dan iqomah
• Khutbah setelah sholat ‘Ied dengan dua khutbah, dengan takbir 9 kali pada khutbah pertama dan 7 kali pada khutbah kedua.
• Membaca takbir mulai terbenamnya matahari pada malam ‘Ied hingga imam datang untuk memulai sholat ‘Ied
• Qodho’ sholat ‘Ied jika terluput: Tidak perlu meng-qodho’, menurut pendapat yang terkuat.

Kemungkaran yang Biasa Dilakukan Tatkala ‘Iedul Fitri
 Tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang kafir dalam pakaian dan mendengarkan musik/nyanyian
 Tabarruj-nya (memamerkan kecantikan) wanita, dan keluarnya mereka dari rumahnya tanpa keperluan yang dibenarkan syariat agama.
 Laki-laki berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahrom.
 Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya ‘Ied. Ziarah kubur memang termasuk ibadah yang disyariatkan, namun, pengkhususan waktu untuk ziarah saat ‘Iedul Fitri bukanlah tuntunan Nabi
 Begadang saat malam ‘Iedul Fitri untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Ada di antara kaum muslimin yang menjadikan malam ‘Ied untuk begadang dengan bermain catur, kartu atau sekedar ngobrol tanpa tujuan. Akibatnya, tatkala pagi datang, kebanyakan dari mereka sulit menjalankan sholat subuh secara berjamaah. Bahkan ada yang sampai ogah-ogahan menjalankan sholat ‘Ied.

hikmah puasa

HIKMAH PUASA

Puasa di bulan Ramadhan adalah suatu ibadah yang sangat istimewa bagi kita kaum Muslimin. Bulan ramadhan ibarat tanaman atau ladang yg subur, siap untuk ditaburi benih-benih kebaikan, amal ibadah yang pahalanya berlipat ganda. Ibadah yang dikerjakan pada bulan ramadhan mendapat pahala yang berlipat ganda, sehinga merugilah bagi mereka yang melewatinya dengan amalan yang sia2.
Beberapa hikmah menjalankan puasa di bulan Ramadhan adalah:
1. Meningkatkan ketaqwaan. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 183 disebutkan, “ Wahai orang-orang beriman, ditetapkan bagimu puasa sebagaimana telah ditetapkan bagi orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa “.
2. Melatih kedisiplinan.
3. Menumbuhkan Empati. Dengan puasa, kita menahan rasa haus dan lapar sehingga secara tidak langsung kita ikut merasakan penderitaan fakir miskin.
4. Menumbuhkan rasa syukur.
5. Mengendalikan hawa nafsu.
6. Melatih keikhlasan.

Pengaruh Puasa Terhadap Kesehatan Fisik
Puasa yang bagaimanakah yang dapat memberikan manfaat pada kesehatan? Kesehatan dalam bentuk apa yang dapat dipelihara atau ditingkatkan melalui aktivitas puasa?
Untuk menjawab pertanyaan pertama, perlu diketahui bahwasanya tujuan utama puasa adalah untuk mengagapai taqwa dan taat kepada Allah. Namun demikian, puasa juga memberikan manfaat secara fisik walaupun itu bukan tujuannya. Berikut mekanisme kerja lambung pada saat puasa.
 Sahur (pukul 04.00)
 Makanan diproses menjadi bubur dalam lambung (selama 4 jam)
 Diproses menjadi sari-sari makanan dalam usus kecil (selama 4 jam)
 Disupplai ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah (pukul 12.00)
 Buka puasa (pukul 18.00).
Jadi, selama kurang lebih enam jam alat-alat pencernaan mengalami istirahat.
Puasa mempunyai dampak terhadap kesehatan jasmani, diantaranya dampak terhadap:
a. Fungsi kimiawi tubuh (Metabolisme)
b. Fungsi Fisiologi
Tubuh manusia memiliki Hemeostatis, yaitu mekanisme alamiah untuk mengatasi kondisi-kondisi yang tidak diinginkan, agar tetap dalam kondisi normal. Tubuh masih memiliki cadangan energi dalam bentuk lemak yang berasal dari karbohidrat.
c. Fungsi therapy atau pengobatan
Penyakit-penyakit yang biasanya disembuhkan oleh puasa adalah penyakit yang diakibatkan oleh karena terlalu banyak mengkonsumsi salah satu zat gizi; baik itu karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral.

lailatul qodar

LAILATUL QADAR

A. Pengertian Lailatul Qadar
Secara terminologi Lailatul Qadar berarti malam kemuliaan yang lebik baik dari seribu bulan ( 83 tahun 4 bulan). Hal ini berdasarkan Al-Qur’an surat Al-Qadar.
Secara terminologi Lailatul Qadar terdiri dari dua suku kata, yaitu laila yang berarti malam dan Al-Qadar yang mempunyai beberapa arti, yakni:
1. At-ta’dzimi : kemuliaan
2. At-tadhyiiq : kesempitan
3. Al-Qadar : penentuan takdir, ketetapan
B. Waktu Terjadinya Lailatul Qadar
Para ulama masih berbeda pendapat mengenai turunnya Lailatul Qadar, namun mayoritas ulama meyakini bahwa Lailatul Qadar terjadi pada tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Romadlon. Hal ini berdasarkan hadist
تحر وا (وفى روايت : التمسوا) ليلة القدر في التر من العشر الاواخر من رمضان ( رواه : بخارى وا مسلم )
Artinya : “Carilah Lailatul Qadar dimalam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan romadlon.”(HR.Bukhari Muslim)
Adapun hikmah disamarkanya waktu Lailatul Qadar adalah untuk mengagungkan sunnah-sunnah yang lain serta agar manusia tekun dan bersungguh-sungguh dalam mencari dan mendapatkanya.
C. Tanda-Tanda Lailatul Qadar
1. Dari Ubay, ia berkata : rosulullah SAW bersabda “pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak ada sinar yang menyilaukan seperti bejana hingga meninggi. (HR.Muslim)
2. Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Rosulullah SAW bersabda “malam Lailatul Qadar adalah malam yang indah, tidak panas, tidak juga dingin, dan keesokan harinya matahari melemah kemerah-merahan. (HR. Ath-Thalayisiy, Ibnu Khuzaimah, Al-Bazzar)
3. Air laut jernih. 4. Anjing-anjing tidak banyak menggonggong.
D. Keutamaan Lailatul Qadar
1. Malam Lailatul Qadar merupakan malam keutamaan yang khusus diberikan kepada umat Muhammad.
2. Malam diturunkanya Al-Qur’an.
3. Malam turunnya para malaikat yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah kerikil di bumi. Mereka memberi ucapan selamat kepada orang-orang yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan ibadah.
4. Diturunkanya berkah, rahmah, dan maghfiroh dan Allah SWT menerima taubat hamba-hamba-Nya.
5. Setiap amal kebajikan yang dilakukan pada malam itu bernilai pahala yang lebih banyak dibandingkan dengan waktu yang lain.
E. Menghidupkan Lailatul Qadar
1. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari bulan Romadlon dengan menjauhkan diri dari dosa dan maksiat.
2. Melakukan I’tikaf semampu dan sekuatnya.
3. Menghidupkan malam dengan qiyamullail, dzikir dan tilawah Al-Qur’an
4. Bershodaqoh dan berbagi rizki.
5. Memperbanyak doa dan memohon ampunan dan keselamatan dari Allah SWT.
اللهم انك عفو تحب العفو فاعف عنى
Artinya : “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.”

ibadah puasa & psikologis remaja

Ibadah Puasa Ditinjau dari Aspek Psikologis Remaja

“Puasa adalah ladang tempat terciptanya niat yang teguh serta tempat dimana manusia dekat dengan Tuhannya melalui kepatuhan yang sempurna dan kepasrahan diri” (Sayyid Quthb)
Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulum al-Din, memaparkan tiga tingkatan puasa. Pertama, shaum al-‘umum atau “puasa raga” yang berarti puasa dengan mengendalikan nafsu perut dan kelamin (seks). Kedua, shaum al-khushush atau “puasa rasa” yang berarti puasa dengan mengendalikan nafsu inderawi, yaitu mata, telinga dan mulut serta mengendalikan semua anggota badan agar terhindar dari dosa dan tindakan yang sia-sia. Ketiga, puasa shaum khushush al khushush atau “puasa jiwa” berarti puasa dengan menghindarkan pikiran dan hati dari rendahnya nafsu dan hasrat keduniaan yang fana, serta mengosongkan konsentrasi dan ketertarikan diri kepada selain Tuhan. Dalam hadis disebutkan, “….Puasa adalah khusus bagian-Ku (Allah). Dan Aku sendiri pula yang akan memberikan imbalannya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari hadis tersebut di atas, maka puasa yang benar-benar sesuai adalah puasa jiwa. Maka melalui ibadah puasa jiwa ini seseorang dapat melatih dirinya untuk senantiasa menjadi hamba, mengharapkan, dengan ketakutan, mencari kedekatan, dan siap menerima takdirNya dihadapan Sang Khalik. Sifat penghambaan ini akan membuat manusia menjadi abdi Allah, yang siap melakukan apa saja yang disenangi Allah. Inilah yang dimaksud dengan surat Al-Baqarah ayat 183, “ Wahai orang-orang beriman, ditetapkan bagimu puasa sebagaimana telah ditetapkan bagi orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa “.
Jiwa remaja -yang merupakan peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa- cenderung tidak stabil. Disinilah pencarian jati diri dimulai, mencari jawaban atas pertanyaan “who am I?”. Dalam komunitasnya, remaja mempunyai loyalitas yang tinggi bahkan terkadang lebih mendahulukan kepentingan gengnya daripada keluarga. Nasehat teman sebaya lebih didengar dari pada nasehat orang tua. Semua ini dilakukan untuk mendapat pengakuan atas keberadaan (eksistensi) dirinya dalam komunitasnya. Hal ini akan menjadi masalah besar apabila remaja terjebak pada lingkungan yang “tidak sehat”. Pengaruh buruk dengan mudahnya akan merubah hidup mereka.
Mengingat puasa bukan hanya puasa raga, rasa, namun juga jiwa maka puasa merupakan salah satu terapi yang tepat bagi penstabilan jiwa remaja. Remaja islam yang mampu menjalankan puasa tidak hanya sebagai ritual saja namun juga sebagai usaha meraih kemenangan menuju kesempuranaan taqwa, dia akan mengalami perubahan yang berarti dalam dirinya.
Bagaimana agar kita bisa mencapai hasil akhir Taqwa itu di bulan suci Ramadhan kali ini dan berhasil mempertahankannya ketika keluar dari bulan Ramadhan? Berikut beberapa langkahnya:
Persiapkan fisik dan ruhani, lewat latihan puasa dan memperbanyak ibadah sunnah sejak mulai bulan Sya’ban.
Belajar. Pelajari semua aspek Ramadhan, seperti adab, rukun ibadah, do’a-do’a dan zikir.
Rencanakan aktivitas hari-hari Anda selama Ramadhan. Seperti sholat malam, tadarrus, dan ta’lim.
Tumbuhkan semangat kita untuk shalat berjama’ah, menimba ilmu di majelis ta’lim, dan sebagainya.
Usahakan tidur awal dan bangun pada sepertiga malam untuk shalat tahajjud.
Bawalah mushaf Al-Qur’an kemanapun pergi, kecuali tempat-tempat terlarang seperti WC.
Bukalah pintu maaf mulai sekarang, serta minta maaflah kepada yang lain.
Kendalikan lidah dengan memperbanyak zikir dan istighfar.
Mudahlah memberi serta sifat qana’ah yang memperhalus budi kita.
Memohon kepada Allah agar tidak termasuk kelompok orang yang gagal melalui Ramadhan kali ini.
Dengan begitu banyaknya persiapan menyambut bulan Ramadhan dan banyaknya aktifitas ibadah, baik ibadah fisik maupun ibadah hati.

aqiqah

1. Apa pengertian Aqiqah secara bahasa dan istilah?
Dari segi bahasa Aqiqah berarti rambut yang tumbuh di kepala anak yang baru dilahirkan. Dan dari segi istilah hukum (syara’) Aqiqah adalah hewan yang disembelih ketika mencukur rambut anak.
2. Apa hukum Aqiqah? Dan apa dasarnya?
Aqiqah hukumnya tidak wajib sebagaimana dijelaskan oleh hadits Abu Dawud “barang siapa yang suka untuk beribadah untuk anaknya, maka lakukanlah.” Aqiqah dilakukan bukan karena membayar denda tindak kejahatan dan bukan pula merupakan nadzar. Maka hukumnya tidak wajib sebagaimana pada kurban.
3. Berapa kambing untuk anak laki-laki dan berapa kambing untuk anak perempuan?
Yang paling utama adalah dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan. Hal ini berdasarkan hadits at-Turmudzi yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, “Rasulullah saw. Memerintahkan kami untuk menyembelih dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan.”
4. Kapan pelaksanaan Aqiqah?
Aqiqah dilaksanakan dari sejak kelahiran keseluruhan tubuh si anak hingga si anak berusia baligh. Disunnahkan pada hari ketujuh dari kelahiran si anak. Jika si anak sudah baligh maka gugurlah tuntutan hukum untuk orang selain si anak tersebut. Yang baik adalah si anak beraqiqah untuk dirinya sendiri sebagaimana telah dijelaskan di dalam hadits bahwa Nabi saw. beraqiqah untuk dirinya sendiri setelah masa kenabian.
5. Kapan pemberian nama kepada bayi? Bagaimana nama yang baik dan bagaimana nama yang buruk?
Disunnahkan memberi nama pada hari ketujuh, karena Nabi saw. memerintahkan pemberian nama untuk anak pada hari ketujuh kelahirannya dan membuang hal-hal yang menyakitkannya dan beraqiqah, sebagaimana diriwayatkan oleh at-Turmudzi. Diperbolehkan memberi nama sebelum dan sesudah hari ketujuh.
Nama yang baik adalah nama-nama yang dikaitkan dengan kehambaan kepada salah satu nama-nama Allah swt. seperti Abdullah, Abdur Rahman, dan Abdul Khaliq. Boleh menggunakan nama Nabi atau Malaikat seperti Musa atau Jibril. Penamaan menggunakan nama Muhammad mempunyai beberapa keutamaan, seperti sabda Nabi saw., “pada hari kiamat ada suara yang memanggil, wahai berdirilah orang yang bernama Muhammad dan hendaklah dia masuk surga karena penghormatan kepada nabinya Muhammad saw.”
Nama yang buruk adalah nama yang berarti sesuatu yang diramalkan ada atau tidak ada seperti Barakah, Ghanimah, Nafi’, Yasar, Harb, Murrah, Syihab, Syaitan. Sangat dimakruhkan menggunakan nama sittunnas (enam orang), sittulArab (enam orang Arab), sittul Ulama (enam Ulama), sittul Qudlat (enam hakim), sayyidunnas (raja manusia), ulama, dan al-Arab karena hal itu lebih dari kebohongan. Haram memberi nama dengan malik al-muluk, syahin syah, qadli al-Qudlat karena semua itu hanya pantas untuk Allah swt.

sekilas tentang al-Qur’an dan hadits

  1. Sebelum sanad dilembagakan, kecurangan yang bekenaan dengan hadis-hadis Nabi pada dasarnya berupa pemalsuan matan (isi) hadis. Akan tetapi, setelah itu pemalsuan sanad pun tak terelakkan.
    1. Bagaimana cara paling mudah untuk menggulirkan sebuah hadis yang dipertanyakan dengan sebuah sanad pada waktu itu?

Jawab: caranya adalah dengan cara membuat hadis yang dikatakan berasal  dari Nabi atau beberapa sumber awal yang terpercaya. (Jeffrey Lang, 2006, h.164)

  1.  
    1. Bagaimana bila sanad yang dibuat-buat ini tak pernah didengar? Atau para perawinya tidak pernah saling bertemu?

Jawab: bila demikian, pemalsuan ini biasanya akan segera diketahui. Adapun cara yang lebih efektif untuk menyebarkan hadis palsu adalah membajak sebuah sanad yang sangat mutawattir dan menyambungnya dengan sebuah sanad lain yang masuk akal dan dimulai dengan nama pemalsunya. (Jeffrey Lang, 2006, h.164)

 

  1. Nabi saw. sebagai bagian dari masyarakat yang melakukan aktivitas sebagaimana lazimnya masyarakat pada umumnya, sebenarnya tidak memiliki tempat khusus untuk menyampaikan hadis atau mempraktekkan sunnah. Nabi saw. tidak mempunyai madrasah (sekolah) atau pondok khusus.
    1. Dimana biasanya Nabi saw. menyampaikan hadis atau mempraktekkan sunnah?

Jawab: di mana pun Nabi saw. berada dan memiliki kesempatan, beliau menyampaikan hadisnya, baik dalam suasana perang, dalam bepergian, di rumah ataupun di masjid. Meski demikian kegiatan tersebut lebih sering disampaikan di masjid dengan diikuti oleh banyak sahabat. (Fazlur Rahman dkk., 2002, h.10)

  1.  
    1. Bagaimana cara Nabi saw. menyampaikan hadis?

Jawab: Nabi menyampaikan hadisnya dengan tiga cara. Pertama, secara verbal. Penyampaian secara verbal adalah hal pertama yang dilakukan Nabi karena Nabi adalah seorang penyampai (Muballigh). Penyampaian hadis dengan cara tersebut adakalanya didahului oleh suatu peristiwa, seperti pertanyaan dari sahabat, dan adakalanya tanpa melalui pertanyaan seperti itu. Kedua, secara tertulis. Dilakukan ketika Nabi berdakwah secara terang-terangan. Tulisan tersebut berupa surat ajakan Nabi kepada pemimpin-pemimpin Negara tetangga untuk ber-Islam. Ketiga, secara demonstratif. Penyampaian hadis secara demonstratif adalah perilaku Nabi untuk menjelaskan hal-hal yang sifatnya praktis, seperti shalat, wudlu, tayammum, dan lain-lain. (Fazlur Rahman dkk., 2002, h.10)

 

  1. Hadits di zaman Nabi, sahabat Khulafaur Rasyidin dan Umayyah belum dibukukan seperti yang dikenal sekarang. Hadits baru disusun di zaman Umar bin Abd al-Aziz. Dialah yang berhasil meyakinkan umat Islam akan pentingnya penulisan hadits, meletakkan dasar kodifikasi hadits secara resmi, dan mendorong timbulnya kegiatan pengumpulan hadits. Namun demikian, masa penulisan hadits yang jaraknya demikian jauh dari masa Rasululllah menimbulkan keraguan sebagian orang terhadap keotentikan hadits yang dikumpulkan itu.
    1. Apa sebenarnya makna istilah pembukuan hadis?

Jawab: istilah pembukuan hadis yang berasal dari kata tadwin al-hadis, banyak menimbulkan kesalahpahaman terminologis di antara beberapa ahli. Ada yang mengartikan dengan pencatatan hadis, penulisan hadis, serta pembukuan hadis. Namun, pembukuan hadis yang banyak digunakan oleh ahli hadis adalah pembukuan hadis dalam artian yang bersifat resmi atau massal. Jadi, bukan bersifat individual seperti yang-di antaranya-dilakukan demikian oleh para sahabat sejak masa Nabi saw. (H.M. Erfan Soebahar, 2003, h.159)

  1.  
    1. Sebutkan alasan tidak dibukukannya hadis pada masa Nabi saw.!

Jawab: di antara alasan tidak dibukukannya hadis pada masa Nabi adalah, (H.M. Erfan Soebahar, 2003, h.163)

1)      bahwa Nabi hidup bersama sahabat selama 23 tahun sehingga menuliskan ucapan, perbuatan, dan pergaulan beliau dalam mushaf dan lembaran-lembaran secara utuh, sulit dilakukan dari segi masalah lokasi,

2)      bahwa orang-orang Arab waktu itu masih banyak yang buta huruf, menyandarkan diri kepada ingatan mereka untuk hal-hal yang harus mereka pelihara dan lahirkan kembali, dan

3)      juga dikhawatirkan silapnya sebagian sabda Nabi yang singkat dan padat itu dengan al-Qur’an, karena alpa dan tanpa sengaja. Hal itu mengandung bahaya terhadap kitab Allah, karena pintu keraguan padanya akan terbuka untuk musuh-musuh Islam, yang mereka gunakan untuk jalan menembus pertahanan orang-orang Muslim guna menyeret mereka kepada sikap mengendorkan hukum-hukumnya dan melunturkan wibawanya.

 

  1. Salah satu sifat ilmu pengetahuan adalah dapat diterima oleh rasio/akal. Al-Qur’an memberikan penghargaan yang amat tinggi terhadap akal. Tidak sedikit ayat yang menganjurkan dan mendorong manusia agar mempergunakan pikiran dan akalnya. Dengan penggunaan akal dan pikiran tersebut ilmu pengetahuan dapat diperoleh dan dikembangkan.
    1. Pernyataan apa saja yang dipakai dalam al-Qur’an untuk menggambarkan perbuatan berpikir?

Jawab: ‘Aqala, Nazara, Tadabbara, Tafakkara, Faqiha, Tazakkara, dan Fahima.

  1.  
    1. Jelaskan masing istilah tersebut di atas!

Jawab:

-         ‘Aqala, yaitu yang menggunakan akal dan rasio

-         Nazara, yaitu melihat secara abstrak dalam arti berpikir dan merenung

-         Tadabbara, yaitu merenungkan sesuatu yang tersurat dan tersirat

-         Tafakkara, yaitu berfikir secara mendalam

-         Faqiha, yaitu mengerti secara mendalam

-         Tazakkara, yaitu mengingat, memperoleh peringatan, mendapat pelajaran, memperlibatkan dan mempelajari, yang semuanya mengandung perbuatan berpikir dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan

-         Fahima, yaitu memahami dalam bentuk pemahaman yang mendalam.

 

 

aqiqah

  1. Apa pengertian Aqiqah secara bahasa dan istilah?

Dari segi bahasa Aqiqah berarti rambut yang tumbuh di kepala anak yang baru dilahirkan. Dan dari segi istilah hukum (syara’) Aqiqah adalah hewan yang disembelih ketika mencukur rambut anak.

  1. Apa hukum Aqiqah? Dan apa dasarnya?

Aqiqah hukumnya tidak wajib sebagaimana dijelaskan oleh hadits Abu Dawud “barang siapa yang suka untuk beribadah untuk anaknya, maka lakukanlah.” Aqiqah dilakukan bukan karena membayar denda tindak kejahatan dan bukan pula merupakan nadzar. Maka hukumnya tidak wajib sebagaimana pada kurban.

  1. Berapa kambing untuk anak laki-laki dan berapa kambing untuk anak perempuan?

Yang paling utama adalah dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan. Hal ini berdasarkan hadits at-Turmudzi yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, “Rasulullah saw. Memerintahkan kami untuk menyembelih dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan.”

  1. Kapan pelaksanaan Aqiqah?

Aqiqah dilaksanakan dari sejak kelahiran keseluruhan tubuh si anak hingga si anak berusia baligh. Disunnahkan pada hari ketujuh dari kelahiran si anak. Jika si anak sudah baligh maka gugurlah tuntutan hukum  untuk orang selain si anak tersebut. Yang baik adalah si anak beraqiqah untuk dirinya sendiri sebagaimana telah dijelaskan di dalam hadits bahwa Nabi saw. beraqiqah untuk dirinya sendiri setelah masa kenabian.

  1. Kapan pemberian nama kepada bayi? Bagaimana nama yang baik dan bagaimana nama yang buruk?

Disunnahkan memberi nama pada hari ketujuh, karena Nabi saw. memerintahkan pemberian nama untuk anak pada hari ketujuh kelahirannya dan membuang hal-hal yang menyakitkannya dan beraqiqah, sebagaimana diriwayatkan oleh at-Turmudzi. Diperbolehkan memberi nama sebelum dan sesudah hari ketujuh.

Nama yang baik adalah nama-nama yang dikaitkan dengan kehambaan kepada salah satu nama-nama Allah swt. seperti Abdullah, Abdur Rahman, dan Abdul Khaliq. Boleh menggunakan nama Nabi atau Malaikat seperti Musa atau Jibril. Penamaan menggunakan nama Muhammad mempunyai beberapa keutamaan, seperti sabda Nabi saw., “pada hari kiamat ada suara yang memanggil, wahai berdirilah orang yang bernama Muhammad dan hendaklah dia masuk surga karena penghormatan kepada nabinya Muhammad saw.”

Nama yang buruk adalah nama yang berarti sesuatu yang diramalkan ada atau tidak ada seperti Barakah, Ghanimah, Nafi’, Yasar, Harb, Murrah, Syihab, Syaitan. Sangat dimakruhkan menggunakan nama sittunnas (enam orang), sittulArab (enam orang Arab), sittul Ulama (enam Ulama), sittul Qudlat (enam hakim), sayyidunnas (raja manusia), ulama, dan al-Arab karena hal itu lebih dari kebohongan. Haram memberi nama dengan malik al-muluk, syahin syah, qadli al-Qudlat karena semua itu hanya pantas untuk Allah swt.

makna filosofis idul adha

Idul Adha adalah sebuah hari raya Islam yang mana pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika nabi Ibrahim (Abraham) mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, kemudian digantikan oleh-Nya dengan domba.

Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan shalat Ied berjama’ah, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah shalat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.

Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dulhijah, jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini disertai hari-hari Tasyrik dimana umat Islam diharamkan berpuasa.

Makna utama Hari Raya Idul Adha adalah kesediaan untuk berkorban sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim memiliki dua dimensi makna yang bersifat vertikal dan horizontal. Secara vertikal, kejadian simbolik itu merupakan upaya pendekatan diri (kurban) dan dialog dengan Tuhan dalam menangkap nilai dan sifat-sifat ketuhanan. Secara horizontal, hal itu melambangkan keharusan manusia untuk membumikan nilai-nilai itu dalam kehidupan nyata.

Kalau kita kaji makna filosofis yang ada pada Idul Adha, kita dapati betapa ‘pengorbanan’ itu merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan. Kehidupan ini adalah jihad atau perjuangan (al hayaatu jihaadun), sedangkan setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. Dengan demikian, sifat berkorban adalah sifat keharusan bagi setiap insan. Sehingga, kesadaran untuk kembali kepada sifat ini merupakan suatu keharusan pula.

Dalam konteks waktu pelaksanaannya, -yaitu pada hari pelemparan jamrah Aqabah yang dilakukan oleh jemaah haji- menunjukkan sebuah pengorbanan dalam melakukan perlawanan tanpa akhir dengan musuh-musuh kita. Dengan demikian, perayaan Idul Adha juga berarti suatu kesadaran sejati untuk melawan musuh-musuh manusia dalam kehidupan ini.

Kalau dikontekskan pada kekinian, kesadaran jiwa pengorbanan menjadi tuntutan yang begitu mendesak. Krisis ekonomi yang menimbulkan banyak masalah sosial yang krusial, seperti kemiskinan, pengangguran, anak jalanan, dan kriminalitas adalah realitas kehidupan yang membutuhkan pengorbanan untuk menghadapinya.

Kita berharap Idul Adha kali ini menjadi semangat pengorbanan yang hakiki. Suatu semangat yang melandasi hidup dan kehidupan kita menuju ridha Ilahi, sekaligus menyinari hati nurani kita untuk menengok kebesaran khalik dan realitas kehidupan di sekitar kita.

Kepasrahan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS ini seharusnya menjadi tauladan bagi umat Islam hingga kini, ujarnya.

Makna filosofi dari ibadah kurban, bisa dilihat dari simbolisasi Ismail sebagai suatu benda yang sangat dicintai yang jika dianalogikan pada masa kini antara lain, rumah yang megah, uang yang melimpah, perhiasan yang indah, jabatan yang tinggi, atau tanah yang luas.

Semua yang ada pada kita merupakan titipan dari Allah, yang sewaktu-waktu bisa saja diambil lagi oleh-Nya. Moment Idul Adha ini mengingatkan kita Apakah kita rela mengorbankan semua benda yang kita cintai ini untuk kepentingan di jalan Allah?

Semangat Idul Adha atau jiwa dari ibadah kurban adalah pengorbanan terhadap orang lain yang membutuhkan, bukan sekedar berkurban hewan yang dibagikan kepada fakir miskin.

Tujuan dari ibadah ini selain mendekatkan diri dan mencapai ketaqwaan kepada Allah, juga mengikis sifat-sifat buruk manusia seperti pelit, kikir, tamak, serakah, dan loba menjadi dermawan, peduli, saling menolong, dan berkasih sayang terhadap orang miskin.

tafsir maudhu’i

PENDAHULUAN

A. Definisi Tafsir
Tafsir secara bahasa mengikuti wazan “taf’il”, berasal dari akar kata al-fasr yang berarti menjelaskan, menyingkap, dan menampakkan atau menerangkan makna yang bastrak. Tafsir menurut istilah adalah ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafadz-lafadz Qur’an, tentang petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun serta hal-hal lain yang melengkapinya.
Abu Thalib al-Tsa’laby berkata: Tafsir ialah menjelaskan status lafadz apakah hakikat atau majaz. Tafsir pada asalnya ialah membuka dan melahirkan. Dalam istilah syara’ ialah menjelaskan makna ayat, urusannya, kisahnya, dan sebab diturunkannya ayat, dengan lafadz yang menunjuk kepadanya secara terang.

B. Kegunaan Tafsir
Tafsir Al-Qur’an al-Karim mempunyai banyaka kegunaan dintaranya:
1. Mengetahui maksud Allah yang terdapat di dalam syari’atnya yang berupa perintah dan larangan, sehingga keadaan manusia menjadi lurus dan baik.
2. Untuk mengetahui petunjuk Allah mengenai akidah, ibadah, dan akhlak agar masyarakat berhasil meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
3. Untuk mengetahui aspek-aspek kemukjizatan yang terdapat di dalam al-Qur’an al-Karim.
4. Untuk menyampaikan seseorang kepada derajat ibadah yang paling baik.

C. Hukum Mempelajari Tafsir
Para Ulama sepakat hukumnya mempelajari tafsir adalah fardhu kifayah.

D. Keutamaan Tafsir
Ditinjau dari materi bahasanya, materi tafsir adalah kalam Allah yang merupakan sumber segala hikmah, berisi berita tentang umat terdahulu dan yang akan datang, menjadi hukum bagi manusia, dan keajaibannya tidak akan pernah sirna.
Ditinjau dari aspek tujuannya, tujuan karya tafsir adalah untuk berpegang teguh kepada buhul tali (agama) yang kokoh taat, dan untuk mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya.
Ditinjau dari aspek kebutuhan, kesempurnaan agama dan dunia terletak pada ilmu-ilmu agama, dan hal itu tergantung kepada pengetahuan tentang kitab Allah (al-Qur’an) itu sendiri.

E. Macam-macam Metode Tafsir
1. Metode tahlili
Muhammad Baqir memberi nama metode tahlili dengan nama tafsir tazi’ie. Tafsir tahlili adalah tafsir yang menyoroti ayat-ayat al-Qur’an dengan memaparkan segala makna yang terkandung di dalamnya sesuai dengan urutan bacaan yang terdapat dalam mushaf utsmani.
Metode tahlili mempunyai keunggulan dan juga kelemahan yaitu metode ini sering digunakan mufassir sebagai alat untuk melegitimasi pendapat-pendapatnya dengan dalil-dalil al-Qur’an sehingga nilai objektivitas penafsiran menjadi berkurang.
Akibat dari metode tahlili yang sangat luas, para Ulama kemudian membagi corak penafsiran tahlili menjadi beberapa macam yang antara lain: Tafsir bil Ma’tsur, Tafsir bil Ra’yi, Tafsir Fiqih, Tafsir Sufi, Tafsir al-Falsafi, Tafsir Ilmi dan Tafsir Adabi Ijtima’ie.
2. Metode Ijmali
Metode Ijmali adalah cara menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan menyajikan makna-maknanya secara global. Kelebihan metode Ijmali ini antara lain adalah mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an apa adanya tanpa harus menghubungkan kepada hal-hal lain diluar keagungan arti ayat tersebut, uraian penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an mudah dipahami dan dimengerti, tidak bertele-tele, maksud yang dikandung oleh suatu ayat dapat ditang kap dengan mudah dan cepat, objektivitas penafsiran tetap terjaga. Sedangkan kelemahannya adalah penafsirannya sangat sempit dan terbatas, rahasia-rahasia dan hikmah yang terkandung di dalam ayat tidak terungkap banyak, pembahasan terhadap pokok-pokok masalah tidak tuntas.
3. Metode Muqarran
Metode Muqarran atau perbandingan adalah metode penafsiran dengan membandingkan ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi, yang berbicara tentang masalah yang berbeda, atau redaksi yang berbeda dengan masalah yang diduga sama. Metode ini adalah membandingkan ayat-ayat al-Qur’an dengan hadits-hadits Nabi yang tampaknya bertentangan serta membandingkan pendapat-pendapat Ulama tafsir menyangkut penafsiran ayat-ayat al-Qur’an.
4. Tafsir Maudlu’i
Tafsir Maudlu’i atau tematik adalah cara menafsirkan ayat al-Qur’an melalui penetapan topik tertentu dengan jalan menghimpun seluruh atau sebagian ayat-ayat dari berbagai surat yang berbicara tentang topik tersebut untuk dikaitkan satu dengan yang lain lalu diambil kesimpulan secara menyeluruh.
Dalam makalah tugas Ujian Tengah Semester mata kuliah Ulumul Qur’an ini sengaja kami menggunakan metode Tafsir Maudlu’i. Adapun tema yang kami angkat adalah “sumpah”, yakni putusnya perkawinan karena sumpah Ila’, termasuk juga mengenai talak dan fasakh.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.