metode sosiodrama

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Metode pembelajaran adalah cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajikan pelajaran,baik secara individual atau kelompok.
Oleh karenanya kita sebagai calon guru harus memahami berbagai metode yang dapat untuk menciptakan proses belajar mengajar yang menarik.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat kita kupas pada makalah ini antara lain:
1. Bagaimana konsep metode sosio drama itu?
2. Bagaimana langkah-langkah penyajiannya?
3. Materi apa saja yang cocok dengan metode sosio drama?
4. Apa saja kelebihan dan kekurangan metode sosio drama?
5. Bagaimana RPP yang menggunakan metode sosio drama?

C. Tujuan
Adapun tujuan di buatnya makalah ini adalah agar kita memahami dan bisa menerapkan metode sosio drama ketika proses belajar mengajar.

BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP SOSIO DRAMA/BERMAIN PERAN
1. Pengertian sosio drama/Bermain peran.
Metode sosiodrama dan bermain peranan merupakan dua buah metode mengajar yang mengandung pengertian yang dapat dikatakan sama dan karenanya dalam pelaksanaan sering disilih gantikan. Istilah sosiodrama berasal dari kata sosio = sosial dan drama. Kata drama adalah suatu kejadian atau peristiwa dalarn kehidupan manusia yang mengandung konflik kejiwaan, pergolakan, clash atau benturan antara dua orang atau lebih. Sedangkan bermain peranan berarti memegang fungsi sebagai orang yang dimainkannya, misalnya berperan sebagai Lurah, penjudi, nenek tua renta dan sebagainya.
Sosiodrama dimaksudkan adalah suatu cara mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial
Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Kedua istilah ini (sosiodrama dan bermain peranan), kadang-kadang juga disebut metode dramatisasi. Hanya bedanya kedua metode tersebut tidak disiapkan terlebih dahulu naskahnya.
Kedua metode tersebut biasanya disingkat menjadi metode “sosiodrama” yang merupakan metode mengajar dengan cara mempertunjukkan kepada siswa tentang masalah-masalah hubungan sosial, untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Masalah hubungan sosial tersebut didramatisasikan oleh siswa dibawah pimpinan guru, Melalui metode ini guru ingin mengajarkan cara-cara bertingkah laku dalam hubungan antara sesama manusia.

2. Penggunaan sosio drama/ bermain peran dalam pembelajaran.
Peranan sosiodrama dapat digunakan apabila:
1. Pelajaran dimaksudkan untuk melatih dan menanamkan pengertian dan perasaan seseorang.
2. Pelajaran dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa kesetiakawanan sosial dan rasa tanggung jawab dalam memikul amanah yang telah dipercayakan.
3. Jika mengharapkan partisipasi kolektif dalam mengambil suatu keputusan
4. Apabila dimaksudkan untuk mendapatkan ketrampilan tertentu sehingga diharapkan siswa mendapatkan bekal pengalaman yang berharga, setelah mereka terjun dalam masyarakat kelak
5. Dapat menghilangkan malu, dimana bagi siswa yang tadinya mempunyai sifat malu dan takut dalam berhadapan dengan sesamanya dan masyarakat dapat berangsur-angsur hilang, menjadi terbiasa dan terbuka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya
6. Untuk mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki oleh siswa sehingga amat berguna bagi kehidupannya dan masa depannya kelak, terutama yag berbakat bermain drama, lakon film dan sebagainya.
Bila metode ini dikendalikan dengan cekatan oleh guru, banyak manfaat yang dapat dipetik, sebagai metode cara ini :
1. Dapat mempertinggi perhatian siswa melalui adegan-adegan, hal mana tidak selalu terjadi dalam metode ceramah atau diskusi.
2. Siswa tidak saja mengerti persoalan sosial psikologis, tetapi mereka juga ikut merasakan perasaan dan pikiran orang lain bila berhubungan dengan sesama manusia, seperti halnya penonton film atau sandiwara, yang ikut hanyut dalam suasana film seperti, ikut menangis pada adegan sedih, rasa marah, emosi, gembira dan lain sebagainya.
3. Siswa dapat menempatkan diri pada tempat orang lain dan memperdalam pengertian mereka tentang orang lain.
Sebaliknya betapapun besar nilai metode ini ditangan yang kurang bijaksana akan menjadi nihil. Pada umumnya karena guru sendiri tidak paham akan tujuan yang dicapai, atau guru memilih metode ini walaupun sebenarnya kurang tepat untuk tujuan tertentu. Dapat terjadi guru tidak menyadari pentingnya langkah langkah dalam metode ini.
Saran-saran yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan metode ini:
1. Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan melalui metode ini. Dan tujuan tersebut diupayakan tidak terlalu sulit/berbelit-belit, akan tetapi jelas dan mudah dilaksanakan
2. Melatar belakang cerita sosiodrama dan bermain peranan tersbeut. Misalnya bagaimana guru dapat menjelaskan latar belakang kehidupan sahabat Aku Bakar sebelum menceritakan kisah sahabat Abu Bakar masuk Islam. Hal ini agar materi pelajaran dapat dipahami secara gamblang dan mendalam oleh siswa/anak didik
3. Guru menjelaskan bagaimana proses pelaksanaan sosiodrama dan bermain peranan melalui peranan yang harus siswa lakukan/mainkan
4. Menetapkan siapa-siapa diantara siswa yang pantas memainkan/melakonkan jalannya suatu cerita. Dalam hal ini termasuk peranan penonton
5. Guru dapat menghentikan jalannya permainan apabila telah sampai titik klimaks. Hal ini dimaksudkan agar kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dapat didiskusikan secara seksama
6. Sebaiknya diadakan latihan-latihan secara matang, kemudian diadakan uji coba terlebih dahulu, sebelum sosiodrama dipentaskan dalam bentuk yang sebenarnya.

B. Langkah-langkah penyajian metode sosio drama.
Dalam rangka menyiapkan suatu situasi bermain peran di dalam kelas, guru mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Persiapan dan instruksi
a. Guru memiliki situasi/ dilema bermain peran
Situasi-situasi masalah yang dipilih harus menjadi ”sosiodrama” yang menitikberatkan pada jenis peran, masalah dari situasi pamiliar, serta pentingnya bagi siswa. Keseluruhan situasi harus dijelaskan, yang meliputi deskripsi tentang keadaan pristiwa, individu-individu, yang dilibatkan, dan posisi-posisi dasar yang diambil oleh pelaku khusus. Para pemeran khusus tidak didasarkan kepada individu nyata di dalam kelas, hindari tipe yang sama pada waktu merancang pemeran supaya tidak terjadi gangguan hak pribadi secara psikologis dan merasa aman.
b. Sebelum pelaksanaan bermain peran, siswa harus mengikuti latihan pemanasan, latihan-latihan ini diikuti oleh semua siswa, baik sebagai partisipasi aktif maupun sebagai para pengamat aktif. Latihan-latihan ini dirancang untuk menyiapkan siswa, membantu mereka mengembangkan imajinasinya dan untuk membentuk kekompakan kelompok dan interaksi. Misalnya latihan pantonim.
c. Guru memberikan intruksi khusus kepada peserta bermain peran setelah memberikan penjelasan pendahuluan kepada keseluruhan kelas. Penjelasan tersebut meliputi latar belakang dan karakter-karakter dasar melalui tulisan atau penjelasan lisan. Para peserta (pemeran) dipilih secara suka rela. Siswa diberi kebebasan untuk menggariskan suatu peran. Apabila siswa telah pernah mengamati suatu situasi dalam kehidupan nyata maka situasi tersebut dapat dijadikan sebagai situasi bermain peran. Peserta bersangkutan diberi kesempatan untuk menunjukkan tindakan/ perbuatan ulang pengalaman. Dalam brifing, kepada pemeran diberikan deskripsi secara rinci tentang kepribadian, perasaan dan keyakinan dari para karakter. Hal ini diperlukan guna membangun masa lampau dari karakter. Dengan demikian dapat ddirancang ruangan dan peralatan yang perlu digunakan dalam bermain peran tersebut.
d. Guru memberitahukan peran-peran yang akan dimainkan serta memberikan intruksi-intruksi yang bertalian dengan masing-masing peran kepada para audience. Para audience diupayakan mengambil bagian secara aktif dalam bermain peran itu. Untuk itu kelas dibagi dua kelompok, yakni kelompok pengamat dan kelompok spekulator, masing-masing melaksanakan fungsinya. Kelompok I bertindak sebagai pengamat yang bertugas mengamati: (1) perasaan individu karakter, (2) karakter-karakter khusus yang diinginkan dalam situasi, dan (3) mengapa karakter merespon cara yang mereka lakukan. Kelompok II bertindak sebagai spekulator yang berupaya menanggapi bermain peran itu dari tujuan dan analisis pendapat. Tugas kelompok ini mengamati garis besar rangkaian tindakan yang telah dilakukan oleh karakter-karakter khusus.
2. Tindakan dramatik dan diskusi
a. Para aktor terus melakukan perannya sepanjang situasi bermain peran, sedangkan para audience berpartisipasi dalam penugasan awal kepada pemeran
b. Bermain peran harus berhenti pada titik-titik penting atau apabila terdapat tingkah laku tertentu yang menuntut dihentikannya permainan tersebut.
c. Keseluruhan kelas selanjutnya berpartisipasi dalam diskusi yang terpusat pada situasi bermain peran. Masing-masing kelompok audience diberi kesempatan untuk menyampaikan hasil observasi dan reaksi-reaksinya. Para pemeran juga dilibatkan dalam diskusi tersebut. Diskusi dibimbing oleh guru dengan maksud berkembang pemahaman tentang pelaksanaan bermain peran serta bermakna langsung bagi hidup siswa, yang pada gilirannya menumbuhkan pemahaman baru yang berguna untuk mengamati dan merespon situasi lainnya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Evaluasi bermain peran
a. Siswa memberikan keterangan, baik secara tertulis maupun dalam kegiatan diskusi tentang keberhasilan dan hasil-hasil yang dicapai dalam bermain peran. Siswa diperkenankan memberikan komentar evaluatif tentang bermain peran yang telah dilaksanakan, misalnya tentang makna bermain peran bagi mereka, cara-cara yang telah dilakukan selama bermain peran, dan cara-cara meningkatkan efektifitas bermain peran selanjutnya.
b. Guru menilai efektifitas dan keberhasilan bermain peran. Dalam melakukan evaluasi ini, guru dapat menggunakan komentar evaluatif dari siswa, catatan-catatan yang dibuat oleh guru selama selama berlangsungnya bermain peran. Berdasarkan evalusi tersebut, selanjutnya guru dapat menentukan tingkat perkembangan pribadi sosial, dan akademik para siswanya.
c. Guru membuat bermain peran yang telah dilaksanakan dan telah dinilai tersebut dalam sebuah jurnal sekolah (kalau ada) atau pada buku catatan guru. Hal ini penting untuk pelaksanaan bermain peran selanjutnya.
C. Materi yang cocok dengan metode sosio drama.
Dalam pendidikan agama metode sosiodrama dan bermain peranan ini efektif dalam menyajikan pelajaran akhlak, sejarah Islam dan topik-topik lainnya. Dalam pelajaran sejarah, misalnya guru ingin menggambarkan kisah sahabat khalifah Abu Bakar, ketika beliau masuk Islam. Kisah tersebut tentu amat menarik jika disajikan melalui metode sosiodrma dan bermain peranan. Sebab siswa disamping mengetahui proses jalannya khalifah Abu Bakar masuk Islam, juga dapat menghayati ajaran dan hikmah yang terkandung dalam kisah tersebut.
Demikian pula halnya pada pelajaran akhlak. Misalnya bagaimana sosok akhlaqul karimah (seorang yang berakhlak mulia) dan anak yang saleh ketika berhadapan dengan orang tuanya maupun anak durhaka kepada orang tuanya, misalnya sebagaimana cerita “Si Malin Kundang” yang tersohor itu. Dan lain-lainnya yang bersifat sosiodrama dan bermain peranan.
Untuk penghayatan sifat-sifat tertentu dapat diterapkan metode Sosiodrama dan untuk materi cerita dapat diterapkan metode Roll Playing.

D. Kebaikan dan Kelemahan.
Metode sosio drama selain mempunyai kelebihan juga mempunyai beberapa kelemahan,antara lain:
1. Kelebihan metode sosio drama.
a. Melatih anak untuk mendramatisasikan sesuatu secara kreatif serta melatih keberanian.
b. Menarik perhatian anak sehingga suasana kelas menjadi hidup.
c. Menghayati suatu peristiwa sehingga mudah mengambil kesimpulan berdasarkan penghayatan sendiri.
d. Melatih anak untuk menyusun pikirannya secara teratur
e. Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya
f. Bahasa lisan murid dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami
2. Kekurangan metode sosio drama
a. Sebagian anak yang tidak ikut bermain drama menjadi kurang aktif
b. Memerlukan waktu cukup banyak
c. Memerlukan persiapan yang teliti dan matang
d. Kadang-kadang anak tidak mau mendramatisasikan karena malu
e. Tidak dapat mengambil kesimpulan apabila pelaksanaan dramatisasi gagal
f. Kelas sering terganggu oleh suara para pemain dan penonton yang terkadang bertepuk tangan dan prilaku lainnya.

E. RPP
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Atas (SMA)
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam (Aqidah Akhlak)
Kelas/Semester : XI/I
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit (1 x pertemuan)

A. Standar Kompetensi : Membiasakan prilaku terpupji
B. Kompetensi Dasar : Menampilkan contoh-contoh prilaku taubat dan raja’
C. Indikator :
1. Siswa mampu menunjukkan contoh-contoh prilaku taubat
2. Siswa mampu menunjukkan contoh-contoh prilaku raja’
D. Materi Pembelajaran :
1. Pengertian taubat dan raja’
2. Hikma taubat dan raja’
3. Membiasakan diri taubat dan raja’
E. Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan Belajar Metode Media
Kegiatan pendahuluan
a. Guru memberikan apersepsi, pretest pri-laku terpuji
b. Guru menyampaikan tujuan pembela-jaran yang akan di capai
Tanya jawab

Ceramah

Buku paket PAI dan BKS
Kegiatan inti
a. Guru menyuruh 2 siswa kedepan untuk bermain peran tentang contoh prilaku taubat dan raja’
b. Guru menyuruh siswa untuk mendis-kusikan drama yang tentang taubat dan raja’
c. Guru menjelaskan dan menyimpulkan materi contoh-contoh prilaku taubat dan raja’
d. Guru memberi kesempatan kapada siswa untuk bertanya
Sosiodrama

Diskusi

Cerama

Tanya jawab
Skrip dialog, Buku paket, LKS, buku yang relevan
Kegiatan penutup
a. Guru memberikan post test
b. Guru memberikan motivasi untuk berprilaku taubat dan raja’ dalam kehidupan sehari-hari
Tanya jawab
Ceramah

F. Sumber, Materi dan Bahan
Untuk menunjang pembelajaran, diperlukan hal-hal sebagai berikut:
- Buku paket PAI XI/I
- Lembar Kerja Siswa (LKS)
G. Penilaian
Jenis Penilaian : Performance
Kriteria penilaian :
- Keaktifan dalam diskusi kelompok
- Keaktifan dalam kelas
- Keseriusan dalam kegiatan belajar
Format penilaian
No Keaktifan dalam diskusi Keaktifan dalam kelas Keseriusan belajar

Rubrik penilaian
Tingkat Penilaian Kualifikasi Deskripsi
80 – 100
60 – 79
40 – 59
0 A
B
C
D Siswa memenuhi 3 kriteria
Siswa memenuhi 2 kriteria
Siswa memenuhi 1 kriteria
Siswa tidak ikut serta

Jenis penilaian : Project
Kriteria penilaian :
- Kesesuaian
- Orisinilitas
- Kualitas isi
- Kerapian tulisan
Format Penilaian
No Penilaian
Kesesuaian Orisinilitas Kualitas isi Kerapian tulisan

Rubrik penilaian
Tingkat Penilaian Kualifikasi Deskripsi
80 – 100
60 – 79
40 – 59
20 – 39
0 A
B
C
D
E Siswa memenuhi 4 kriteria
Siswa memenuhi 3 kriteria
Siswa memenuhi 2 kriteria
Siswa memenuhi 1 kriteria
Siswa tidak mengumpulkan tugas

LAMPIRAN 1: URAIAN MATERI

Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat marupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya. Agama Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan dan dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari ampunan Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuat manusia. Bahkan Nabi Muhammad telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi: “Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut).”
Raja’ adalah sura hati seorang untuk mencapai sesuatu yang dicintai’ yaitu Allah SWT. Adanya pengertian tersebut berarti mengingatkan kepada seseorang bahwa dirinya hamba yang lemah dan hendaknya selalau berharap lindungan Alla dalam segala hal
Hikmah taubat antara lain:
1. Mendapat kebahagian/ pahala yang berllipat ganda
2. Mendapat kasih saying Allah karena Allah SWT sangat mencintai orang yang bertaubat
3. Menghapus semua kealahan/ dosa yang telah diperbuatnya
Hikmah raja’ antara lain:
1. Mengharapo rahmat Allah dan tidak mudah putus asa
2. Meningkatklan rasa saling menintai sesame manusia
3. Menjadikan dirinya tenang ,aman, dan tidak merasa takut kepaqda siapapun , kecuali kepada Allah SWT
Membiasakan diri bertaubat pada Allah dilakukan dengan cara menjalankan syriatnya dengan tekun dan tepat waktu serta menjaga diri sepenuhnya untuk tidak mengulangi lagi perbuatan buruk/ jahat.
Membmiasakan diri raja’ (mengharap karunia Allah) harus dilakukan setiap saat. Hal ini menunjukkan bahwa manusia hidup tidak lepas dari godaan dunia baik berupa harta maupun anak, karena terkadang harta dan anak menjadi sumber fitnah. Bentuk raja’ ini berupa doa-doa positif pada Allah agar tetap menjaganya dari godaan syetan yang menyesatkan.

LAMPIRAN II: SOAL

1. Apakah yang dimaksud dengan taubat dan raja’?
2. Sebutkan syarat-syarat orang yang bertaubat?
3. Sebutkan contoh-contoh raja’ yang mempunyai sikap dinamis?

JAWAB
1. Taubat adalah memohon ampun Allah dengan benar-benar menyesali perbuatnya dan tidak akan menulangi lagi kesalahan serupa. Sedangkan raja’ adalah mengharap keridhaan Allah SWT dan rahmanya.
2. Syarat-syarat orang-orang yang bertaubat antara lain:
a. Menyesal terhadap perbuatan maksiat yang telah diperbuat
b. Meninggalkan pernuatan maksiat itu
c. Bertekad dan berjanji dengan sungguh-sungguh tudakl akan mengulangi lagi perbuatan itu.
d. Mengikutinya dengan perbuatan baik karena perbuatan baik akan menghapus keburukan.
3. Diantara contoh-contoh raja’ yang mempunyai sikap dinamis antara lain:
a. Seorang petani akan berusaha agar hasil pertaniannya meningkat
b. Seorang pelajar akan meningkatkan kegiatan belajarnya agar ilmunya bertambah

SOSIODRAMA
CONTOH-CONTOH PERILAKU TAUBAT DAN RAJA’
Deskripsi:
1. Siswa I (Rara) : Siswi yang selalu memaafkan orang lain
2. Siswa II (Intan) : Siswi yang melakukan akhlak tercela

Bel bordering menunjukkan waktu istirahat telah tiba. Semua siswa keluar dari kelas untuk menuju kantin sekolah. Dan tanpa sengaja uang Rara terjatuh dilantai.

Rara : Uangku mana ya? Kok ga’ ada… (Sambil merogoh saku dibaju seragamnya)
Intan : Eh ada uang!!! Uang siapa ya? Kuambil aja deh, dari pada ga’ ada yang ngambil.
Rara : (Mencari uang dalam tas, kemudian bertanya kepada Intan) Tan, tadi kamu
liat uangku jatuh ga’?
Intan : Nggak Ra, aku juga baru dating ke kelas. Emangnya tadi kamu taruh mana?
Rara : Tadi waktu mau kekantin udah aku masukkan saku, eh… Ternyata ga’ ada. Tapi yaudahlah ga’ apa-apa mungkin Allah sedang menguji orang yang kurang bersedekah.he…he…he… (Dengan mimik bercanda).
Dua hari kemudian, Intan kehilangan ciincin pemberian mamanya.
Intan : Aduh, mana ya cincinku?
Rara : Ada apa Tan? Kok panik gitu?
Intan : Cincin pemberian mamaku hilang, padahal itu cincin satu-satunya yang aku punya.
Rara : Oh ya Tan… tadi aku nemuin cincin bermata putih dibelakang pintu kelas. Apa ini punya kamu?
Intan : Iya Ra… makasih banyak ya. Kamu memang temenku yang paling baik.
Rara : Kan udah seharusnya kita tidak boleh mengambil hak milik orang lain.
Intan : (Kemudaian teringat kalau dia pernah mengambil uang Rara dan tidak mengembalikan uang tersebut). Ra, aku mau brekata jujur, tapi kamu jangan marah ya?
Rara : Emang ada apa Tan?
Intan : Sebenarnya beberapa hari yang lalu aku yang nemuin uang kamu, tapi malah ga’ aku balikin ke kamu. Apa mau kamu memafkan kesalhanku?
Rara : Oh… tentang itu! Gak apa-apa kok, ya pastilah aku maafin, Allah aja Maha Pemaaf masa’ aku sendiri ga’ bisa jadi orang pemaaf.
Intan : (Tiba-tiba dalam hatinya bergumam, “aku tidak akan mengulangi perbuatan tercela itu lagi dan bertaubat kepada Allah). Terimakasih ya Ra, kamu memang temanku yang paling baik.
Rara : Sama-sama Tan, kita kan sama-sama makhluk Allah yang harus saling memaafkan.
Intan : (Ya Allah aku berharap semoga aku menjadi manusia yhghgfjhhvhgkukjgjhgkjang lebih baik, dan semoga Engkau mendengar semua permohonan maaf hambaMu ini. Amiin…)
Kemudian mereka berdua saling berpelukan deh…

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Sosiodrama dimaksudkan adalah suatu cara mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan social. Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Kedua istilah ini (sosiodrama dan bermain peranan), kadang-kadang juga disebut metode dramatisasi. Hanya bedanya kedua metode tersebut tidak disiapkan terlebih dahulu naskahnya.
Bila metode ini dikendalikan dengan cekatan oleh guru, banyak manfaat yang dapat dipetik, sebagai metode cara ini :
1. Dapat mempertinggi perhatian siswa melalui adegan-adegan, hal mana tidak selalu terjadi dalam metode ceramah atau diskusi.
2. Siswa tidak saja mengerti persoalan sosial psikologis, tetapi mereka juga ikut merasakan perasaan dan pikiran orang lain bila berhubungan dengan sesama manusia, seperti halnya penonton film atau sandiwara, yang ikut hanyut dalam suasana film seperti, ikut menangis pada adegan sedih, rasa marah, emosi, gembira dan lain sebagainya.
3. Siswa dapat menempatkan diri pada tempat orang lain dan memperdalam pengertian mereka tentang orang lain.
Sebaliknya betapapun besar nilai metode ini ditangan yang kurang bijaksana akan menjadi nihil. Pada umumnya karena guru sendiri tidak paham akan tujuan yang dicapai, atau guru memilih metode ini walaupun sebenarnya kurang tepat untuk tujuan tertentu. Dapat terjadi guru tidak menyadari pentingnya langkah langkah dalam metode ini.
Dalam rangka menyiapkan suatu situasi bermain peran di dalam kelas, guru mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Persiapan dan instruksi
a. Guru memiliki situasi/ dilema bermain peran
b. Sebelum pelaksanaan bermain peran, siswa harus mengikuti latihan pemanasan, latihan-latihan ini diikuti oleh semua siswa, baik sebagai partisipasi aktif maupun sebagai para pengamat aktif.
c. Guru memberikan intruksi khusus kepada peserta bermain peran setelah memberikan penjelasan pendahuluan kepada keseluruhan kelas
d. Guru memberitahukan peran-peran yang akan dimainkan serta memberikan intruksi-intruksi yang bertalian dengan masing-masing peran kepada para audience.
2. Tindakan dramatik dan diskusi
a. Para aktor terus melakukan perannya sepanjang situasi bermain peran, sedangkan para audience berpartisipasi dalam penugasan awal kepada pemeran
b. Bermain peran harus berhenti pada titik-titik penting atau apabila terdapat tingkah laku tertentu yang menuntut dihentikannya permainan tersebut.
c. Keseluruhan kelas selanjutnya berpartisipasi dalam diskusi yang terpusat pada situasi bermain peran.
d. Evaluasi bermain peran
a. Siswa memberikan keterangan, baik secara tertulis maupun dalam kegiatan diskusi tentang keberhasilan dan hasil-hasil yang dicapai dalam bermain peran.
b. Guru menilai efektifitas dan keberhasilan bermain peran.
c. Guru membuat bermain peran yang telah dilaksanakan dan telah dinilai tersebut dalam sebuah jurnal sekolah (kalau ada) atau pada buku catatan guru. Hal ini penting untuk pelaksanaan bermain peran selanjutnya.
Dalam pendidikan agama, metode sosiodrama dan bermain peranan ini efektif dalam menyajikan pelajaran akhlak, sejarah Islam dan topik-topik lainnya.
Kelebihan dan kekurangan metode sosiodrama, antara lain:
1. Kelebihan metode sosio drama.
a. Melatih anak untuk mendramatisasikan sesuatu secara kreatif serta melatih keberanian.
b. Menarik perhatian anak sehingga suasana kelas menjadi hidup.
c. Menghayati suatu peristiwa sehingga mudah mengambil kesimpulan berdasarkan penghayatan sendiri.
d. Melatih anak untuk menyusun pikirannya secara teratur
e. Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya
f. Bahasa lisan murid dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami
2. Kekurangan metode sosio drama
a. Sebagian anak yang tidak ikut bermain drama menjadi kurang aktif
b. Memerlukan waktu cukup banyak
c. Memerlukan persiapan yang teliti dan matang
d. Kadang-kadang anak tidak mau mendramatisasikan karena malu
e. Tidak dapat mengambil kesimpulan apabila pelaksanaan dramatisasi gagal
f. Kelas sering terganggu oleh suara para pemain dan penonton yang terkadang bertepuk tangan dan prilaku lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Joko Tri Prasetya. 2005. Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Pustaka Setia.
Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

http://syaifullaheducationinformationcenter.blogspot.com/2008/11/metode-pengajaranpendidikan-agama.html.

http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_b12.html

metode pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Semua perilaku manusia dikendalikan oleh otak. Demikian juga dengan peserta didik. Sifat masing-masing peserta didik juga akan berbeda, karena masing-masing memiliki perbedaan struktur komposisi otak. Adapun kunci membangun karakter pada peserta didik adalah dengan membangun struktur otak secara optimal sejak usia dini. Bangunan karakter inilah yang akan menjadi pembentuk arah hidup dan kehidupan mereka dimasa depan jika mereka sudah tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Oleh karena itu, perlu bagi para pendidik untuk memiliki pribadi yang lembut agar menjadi tempat pertumbuhan karakter yang positif bagi anak. Selain karakter pendidik, lingkungan sekolah juga menjadi penentu perkembangan karakter peserta didik. Maka ada anjuran untuk memilih sekolah yang bebas dari ketakutan, beban, ancaman, dan ejekan. Kalau mungkin, memilih sekolah yang memiliki program eksplisit pendidikan karakter. Seperti Super Brain (Brain Based Learning), Integrated Learning, Cooperative Learning, Contextual Learning, dan lainnya.
B. RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini kami menjelaskan tentang:
1. Bagaimana konsep Metode Pembelajaran Super Brain?
2. Mengapa menggunakan Metode Pembelajaran Super Brain?
3. Bagaimana strategi Metode Pembelajaran Super Brain?
4. Bagaimana aplikasi Metode Pembelajaran Super Brain dalam KBM (kegiatan belajar mengajar)?
C. TUJUAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. menjelaskan konsep Metode Pembelajaran Super Brain
2. menjelaskan alasan menggunakan Metode Pembelajaran Super Brain
3. menjelaskan startegi Metode Pembelajaran Super Brain
4. menjelaskan aplikasi Metode Pembelajaran Super Brain.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Metode Pembelajaran Super Brain
Metode Pembelajaran Super Brain menjelaskan tentang bagaimana merancang kegiatan pembelajaran yang melibatkan semua komponen otak. Yaitu: otak emosional, otak sosial, otak kognitif, otak kinestetik dan otak reflektif.
Menurut Barbara K. Given:
1. Otak emosional berperan dalam membangkitkan hasrat belajar
2. Otak sosial berperan dalam membangun visi untuk melihat apa yang mungkin (peluang)
3. Otak kognitif berperan dalan menumbuhkan niat untuk mengembangkan pengetahuan dan kecakapan
4. Otak kinestetik berperan dalam mendorong tindakan untuk mengubah mimpi/ide menjadi kenyataan
5. Otak reflektif berperan dalam mendorong berpikir tingkat tinggi yang akan membuahkan kebijakan yang membuat seorang pembelajar mampu dan mau berfikir yang senantiasa mengingat dan mengagungkan kebesaran Tuhannya.
Adapun menurut McClean, proses evaluasi mengacu pada tiga bagian otak manusia, yaitu:
1. Otak besar (Neokorteks) yang memiliki fungsi utama untuk berbahasa, berfikir, belajar, memecahkan masalah, merencanakan dan mencipta
2. Otak tengah (sistem limbik) berfungsi untuk interaksi sosial, emosional, dan ingatan jangka panjang
3. Otak kecil (otak reptil) berfungsi untuk bereaksi, naluriah, mengulang, mempertahankan diri, dan ritualis.
Dalam Metode Pembelajaran Super Brain disebutkan bahwa semua pengetahuan pasti ada manfaatnya, karena itu jangan pernah menyesal denga apa yang pernah kita pelajari atau kita baca. Karena suatu saat akan bermanfaat.

Postulat lain menyebutkan bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar baru. Tetapi hanya ada kombinasi-kombinasi baru sehingga ditemukanlah ide baru. Karena itu peserta didik perlu diajari untuk tidak pernah berhenti berfikir. Karena berfikir merupakan proses menyimpan informasi. Semakin banyak otak digunakan untuk berfikir, semakin banyak informasi yang disimpan karena kapasitas otak tidak terbatas.
Pada anak usia dini, fase membangun pondasi struktur otak mempunyai dampak permanent. Karena itu semua pengalaman usia dini memegang peran penting dalam membangun pondasi dan semua kemampuan otak anak itu. Apabila lingkungan kaya dengan beragam stimulasi positif, maka semua potensi anak yang positif juga akan berkembang secara optimal. Sebaliknya apabila lingkungan berstimulasi negative, maka potensi anak tidak berkembang secara positif, bahkan bisa memicu stress.
Anak yang mengalami stress akan lebih menstimulasi bagian otak yang merespon untuk bertahan dan menyelamatkan diri. Bagian otak reptile akan terus distimulasi dan menjadi dominan, sementara bagian otak konteks tidak diaktifkan, sehingga anak pada masa dewasa tidak memiliki kemampuan berfikir dan mengontrol emosi secara baik.
B. Alasan Menggunakan Metode Pembelajaran Super Brain
Sebagai metode baru, Metode Pembelajaran Super Brain cocok untuk diterapkan oleh para pendidik dalam KBM (kegiatan belajar mengajar), diantara beberapa alasannya adalah sebagai berikut:
1. Dapat memberikan perubahan mendasar sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran. Pembelajaran tidak saja menjadi sangat efektif, tapi juga hampir seluruh potensi yang dimiliki peserta didik akan tergarap dan terbangkitkan secara lebih optimal.
2. Meminimalisir adanya perkembangan emosi negatif, perlu diketahui bahwasannya kurangnya stimulasi dan eksplorasi terhadap otak anak akan menghambat perkembangannya. Hal ini dibuktikan pada hewan yang dipelihara dikebun binatang memiliki otak 20% sampai 30% lebih kecil dibandingkan dengan hewan yang dipelihara di alam liar.
3. Menjadikan karakter anak semakin kuat. Dalam membentuk karakter anak, otak kiri dan otak kanan bekerja seimbang. Otak kanan akan menyatukan perasaan benar/salah yang merupakan domain otak kanan, dengan pengetahuan baik dan buruk yang merupakan domain otak kiri.
4. Peserta didik mampu merekam dan menyimpan informasi dengan baik.
5. Pendidik dapat memperbaiki dan melejitkan kualitas pendidikan.
6. Dapat dijadikan rujukan dalam membuat kurikulum.
C. Strategi Metode Pembelajaran Super Brain
Pembelajaran dengan berorientasi kepada upaya pemberdayaan potensi peserta didik ada tiga strategi utama yang dapat dikembangkan dalam implementasi metode super brain. Pertama, menciptakan lingkungan belajar yang menantang lingkungan berfikir peserta didik. Kedua, menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan. Dengan cara menhindari situasi pembelajaran yang membuat peserta didik merasa tidak nyaman dan tidak senang terlibat didalamnya. Ketiga, menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi peserta didik. Peserta didik sebagai pembelajar dirangsang melalui kegiatan pembelajaran untuk dapat membangun pengetahuan mereka. Sedangkan pendidik berusaha membangun situasi pembelajaran yang memungkinkan seluruh peserta didik beraktifitas secara optimal.
D. Aplikasi Metode Pembelajaran Super Brain
Dalam Metode Pembelajaran Super Brain pendidik sering memberikan soal-soal materi pelajaran yang menfasilitasi kemampuan berfikir peserta didik dari mulai tahap pengetahuan (knowledge) sampai tahap evaluasi. Soal-soal pelajaran dikemas seatraktif dan semenarik mungkin misalnya melalui teka-teki, simulasi games, dan sebagainya, agar peserta didik dapat terbiasa untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya dalam konteks pemberdayaan potensi otak siswa.
Selain itu, bisa juga dengan melakukan pembelajaran diluar kelas pada saat tertentu. Untuk pembelajaran dalam kelas diiringi dengan musik yang di desain secara cepat sesuai kebutuhan dikelas, serta melakukan kegiatan pembelajaran dengan diskusi kelompok yang diselingi dengan permainan-permainan menarik.
Disamping itu, bisa mengunakan anggota tubuh untuk merangsang kerja otak. Misalnya mata peserta didik digunakan untuk membaca dan mengamati, tangan peserta didik bergerak untuk menulis, kaki peserta didik bergerak untuk mengikuti permainan dalam pembelajaran dan mulut peserta didik aktif bertanya dan berdiskusi.
Metode Pembelajaran Super Brain dapat dipraktekkan dan dikembangkan diruang kelas sekolah kita. Semua itu tergantung pada kemauan dan kemampuan pendidik dalam mereformasi pengembangan-pengembangan baru dunia pendidikan ditataran praktis.
BAB III
KESIMPULAN

Metode Pembelajaran Super Brain menjelaskan tentang bagaimana merancang kegiatan pembelajaran yang melibatkan semua komponen otak. Yaitu: otak emosional, otak sosial, otak kognitif, otak kinestetik dan otak reflektif.
Diantara beberapa alasan menggunakan Metode Pembelajaran Super Brain adalah dapat memberikan perubahan mendasar sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran, meminimalisir adanya perkembangan emosi negative, menjadikan karakter anak semakin kuat, peserta didik mampu merekam dan menyimpan informasi dengan baik, pendidik dapat memperbaiki dan melejitkan kualitas pendidikan, dapat dijadikan rujukan dalam membuat kurikulum.
Ada tiga strategi utama yang dapat dikembangkan dalam implementasi metode super brain. Pertama, menciptakan lingkungan belajar yang menantang lingkungan berfikir peserta didik. Kedua, menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan. Ketiga, menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi peserta didik.
Metode Pembelajaran Super Brain dapat dipraktekkan dan dikembangkan diruang kelas sekolah kita. Semua itu tergantung pada kemauan dan kemampuan pendidik dalam mereformasi pengembangan-pengembangan baru dunia pendidikan ditataran praktis.
DAFTAR PUSTAKA

Baedowi, Ahmad. http://www.google.com/calak Edu/Otak. Senin, 25 Agustus 2008.
Chaeruman, Uwes Anis. http://www.google.com./. on Tuesday, May 13th 2008.
Guru, Sahabat. http://www.Google.Com/Brain Based Learning/Padang Ekspress/. Juli 10, 2007.
Syafa’at, Asep. Trainer Makmal Pendidikan. http:/www.google.com/
Th.D.Wulandari. <http://www.google.com/ Bisnis> Indonesia/ Mother And Baby/. on Saturday, 07 Juli 2007.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.