PTK

PENGUMPULAN DATA, ANALISIS DATA,
DAN TINDAK LANJUT
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Upaya peningkatan mutu pendidikan haruslah dilakukan dengan menggerakkan seluruh komponen yang menjadi subsistem dalam suatu sistem mutu pendidikan. Mutu pendidikan pada hakikatnya adalah bagaimana kegiatan belajar mengajar berlangsung secara bermutu dan bermakna. Oleh karena itu, upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas harus selalu dilakukan. Salah satu upaya tersebut adalah dengan melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Suatu penelitian termasuk PTK yang baik dan terpercaya adalah penelitian yang dilakukan dengan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah dan metodologi yang sesuai dengan standar ilmiah. Salah satu cara untuk melihat derajat kepercayaan suatu penelitian adalah dengan melihat validitas dan kredibilitas penelitian. PTK yang tergolong bertradisi kualitatif dengan sifatnya yang deskriptif dan naratif memiliki cara-cara tersendiri dalam melakukan validasi dan reliabilitas.
Oleh karena itu, kami pandang perlu untuk mengadakan pembahasan secara terperinci mengenai pengumpulan data, analisis data, dan tindak lanjut dalam PTK.

B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami hanya membatasi pembahasan kami pada:
– Pengumpulan Data Dalam PTK
– Analisis Data Dalam PTK
– Tindak Lanjut PTK

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas dan untuk memberikan bahan kepada pembaca tentang pengumpulan data, analisis data, dan tindak lanjut dalam Penelitian Tindakan Kelas sebagai wacana mengenai Penelitian Tindakan Kelas.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengumpulan Data Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Pengumpulan data dalam PTK dilakukan dengan menggunakan instrumen. Instrumen tersebut harus valid dan reliabel. Yang dimaksud valid adalah mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Sedangkan reliabel adalah konsisten (tepat/akurat). Validitas instrumen PTK mensyaratkan adanya pengakuan dan keyakinan seluruh anggota kelompok penelitian tindakan bahwa alat yang digunakan dalam PTK itu layak digunakan. Hal ini disebut dengan practical validity atau validitas praktis.
Strategi yang bisa digunakan dalam meningkatkan validitas menurut Lather (dalam Priyono, 2000: 11) meliputi empat langkah, yaitu:
a. Face validity (validitas muka). Setiap anggota kelompok action research saling mengecek, menilai, dan memutuskan validitas suatu instrumen dan data dalam proses kolaborasi dan action research.
b. Triangulation (triangulasi), menggunakan berbagai sumber data untuk meningkatkan kualitas penilaian. Triangulasi juga bisa berarti suatu cara untuk mendapatkan keakuratan data dengan menggunakan berbagai cara agar data yang diperoleh dapat dipercaya kebenarannya.
c. Critical reflection (refleksi kritis). Setiap siklus action dirancang untuk meningkatkan kualitas pemahaman.
d. Catalic validity. Validitas dihasilkan oleh action research dan tergantung pada kemampuan action research sendiri dalam mendorong perubahan.

Berikut ini beberapa macam pengumpulan data yang dapat digunakan dalam PTK:
1. Pengamatan atau Observasi
Observasi sangat cocok untuk merekam data kualitatif, misalnya perilaku, aktivitas, dan proses lainnya. Ada tiga fase utama dalam melakukan observasi kelas yaitu:
a. Pertemuan perencanaan. Pihak guru sebagai peneliti menyajikan rencana pembelajaran yang akan diterapkan dalam PTK dan pihak pengamat mendiskusikannya.
b. Observasi kelas. Pihak guru dan pengamat melakukan observasi terhadap proses pembelajaran di kelas.
c. Diskusi balikan. Guru bersama pengamat mempelajari hasil observasi dan mendiskusikan langkah-langkah berikutnya.
Adapun teknik untuk melakukan observasi adalah sebagai berikut:
 Observasi Terbuka. Sang pengamat mencatatkan secara langsung segala sesuatu yang terjadi di kelas selengkapnya sehingga urutan-urutan kejadian tercatat semuanya
 Observasi Terfokus. PTK dilakukan sesuai fokus permasalahan yang ingin diteliti.
 Observasi Terstruktur. Penelitian dilakukan terhadap subjek atau objek penelitian yang bersifat terstruktur.
 Observasi Sistematik. Penelitian dilakukan terhadap subjek atau objek penelitian yang bersifat kuantitatif dengan menggunakan skala-skala.
2. Wawancara
Wawancara digunakan untuk mengungkap data yang berkaitan dengan sikap, pendapat, atau wawasan. Wawancara dapat dilakukan secara bebas atau terstruktur. Adapun langkah-langkah wawancara adalah sebagai berikut:
a. Persiapan
1) Menyusun petunjuk wawancara
2) Menyusun pertanyaan wawancara
b. Uji Coba Wawancara
Untuk meningkatkan validitas dan reabilitas wawancara sebagai alat pengumpul data, perlu dilakukan uji coba pertanyaan-pertanyaan yang sudah disusun.
c. Pelaksanaan Wawancara
1) Penentuan pihak yang diwawancarai
2) Menentukan dan mengatur waktu dan tempat wawancara
3) Tanya jawab
d. Kegiatan Akhir
Kegiatan ini dilakukan berupa pengecekan dan penilaian terhadap kebenaran, ketepatan dan kelengkapan data atau informasi sebagai hasil wawancara. Di samping itu, juga mengecek apakah ada jawaban yang masih samar-samar dan meragukan.
3. Angket atau Kuesioner
Angket atau kuesioner merupakan instrumen di dalam teknik komunikasi tidak langsung. Dengan instrumen ini data yang dapat dihimpun bersifat informatif dengan atau tanpa penjelasan atau interpretasi berupa pendapat, buah pikiran, penilaian, ungkapan perasaan, dan lain-lain. Angket dapat disebut juga sebagai wawancara tertulis.
Dari segi rekonstruksi pertanyaannya, kuesioner dapat dibagi menjadi beberapa bentuk:
a. Kuesioner pertanyaan bebas (tidak berstruktur)
Uraian jawaban kuesioner diserahkan sepenuhnya kepada responden. Untuk membatasi jawaban agar tidak bertele-tele, dapat dilakukan dengan menyediakan ruangan kosong di bawah setiap pertanyaan (item) kuesioner atau angket, dengan harapan responden hanya akan menjawab sesuatu yang penting saja dari aspek yang dipertanyakan.
b. Kuesioner pertanyaan terikat (terstruktur)
1) Kuesioner dengan pertanyaan tertutup
Contoh: Bagaimana pendapat kalian terhadap pembelajaran yang baru berlangsung tadi?
a. sangat baik b. baik c. sedang d. kurang e. sangat kurang
2) Kuesioner dengan pertanyaan terbuka
Contoh: Pembelajaran yang bagaimanakah yang kalian sukai?
(a) Pembelajaran yang menyenangkan
(b) Pembelajaran yang humoris
(c) Pembelajaran yang santai
(d) Pembelajaran yang komunikatif
(e) ……………………………………………
Alternatif (e) dimaksudkan untuk memberikan jawaban sesuai dengan pendapat responden, apabila empat jawaban di atasnya tidak ada yang tepat.
c. Angket dengan jawaban singkat
Angket bentuk ini merupakan gabungan atau kombinasi antara angket tidak berstruktur dengan angket berstruktur. Oleh karena itu, dalam angket bentuk ini ada kebebasan dalam menjawab pertanyaan namun jawaban harus singkat, khusus dan tertentu (terarah).
Adapun langkah-langkah penyusunan angket adalah sebagai berikut:
a) Tahap Persiapan:
(1) Menyusun kisi-kisi kuesioner
(2) Menyusun pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan rincian aspek-aspek atau fokus PTK secara berurutan
(3) Setiap pertanyaan sebaiknya hanya mengandung satu aspek dari gejala di dalam variabel yang diungkapkan
(4) Dalam menyusun pertanyaan kuesioner berstruktur, penyusunan alternatif jawaban harus dilakukan dalam sudut pandang responden
(5) Pertanyaan tidak mengandung kata-kata yang mengandung sugesti yang menggiring responden agar memilih alternatif jawaban tertentu sesuai keinginan peneliti
(6) Pertanyaan tidak mengandung kata-kata yang mendorong responden menjawab secara tidak jujur, menimbulkan rasa takut atau malu karena pertanyaan bersifat mengungkapkan aib responden
(7) Diusahakan ada satu jawaban yang termasuk kategori terbaik (ideal)
(8) Memilih cara menjawab yang paling mudah
(9) Dimulai dari pertanyaan yang sederhana ke pertanyaan yang lebih kompleks
(10) Menggunakan kata-kata yang sopan dan netral
(11) Kuesioner yang sudah siap dianjurkan untuk dikonsultasikan dan didiskusikan dengan teman sejawat
(12) Menyusun “Petunjuk Mengisi Angket”, diletakkan pada bagian atas lembar pertama kuesioner.
b) Tahap Uji Coba Kuesioner
(1) Memeriksa kemungkinan pertanyaan-pertanyaan yang kurang jelas
(2) Memeriksa kemungkinan terdapat kata-kata yang asing
(3) Memeriksa kemungkinan terdapat pertanyaan-pertanyaan yang terlalu dangkal
(4) Memeriksa kemungkinan terdapat pertanyaan yang tidak relevan dengan masalah dan tujuan PTK
c) Penyebaran dan Pengisian Kuesioner
4. Pedoman Pengkajian Data Dokumen
Ada beberapa dokumen yang dapat membantu peneliti dalam mengumpulkan data penelitian yang ada relevansinya dengan permasalahan dalam PTK, seperti:
a. silabus dan RPP
b. laporan-laporan diskusi
c. berbagai macam hasil ujian dan tes
d. laporan rapat
e. laporan tugas siswa
f. bagian-bagian dari buku teks yang digunakan dalam pembelajaran
g. contoh essay yang ditulis siswa (Elliot, 1991 dalam Rochiati 2005).
5. Tes
Tes adalah sejumlah pertanyaan yang disampaikan pada seseorang atau sejumlah orang untuk mengungkapkan keadaan aspek psikologis di dalam dirinya. Berkaitan dengan tes sebagai instrumen PTK dapat dibedakan menjadi dua jenis tes, yaitu:
a. Tes Lisan
b. Tes Tertulis, yang terdiri dari dua bentuk:
1) Tes Essay atau Uraian
2) Tes Objektif
6. Rekaman, Foto, Slide, Tape, dan Video
Alat-alat elektronik seperti rekaman, foto, slide, tape, dan video dapat digunakan untuk membantu mendeskripsikan apa yang peneliti catat di catatan lapangan.
7. Catatan Harian
Catatan harian adalah catatan pribadi tentang pengamatan, perasaan, tanggapan, penafsiran, refleksi, firasat, hipotesis, dan penjelasan. Penulisan catatan harian harus mencantumkan tanggal kejadian. Demikian juga dengan hal-hal yang mendetail dari PTK, seperti waktu, pokok bahasan, serta kelas di mana PTK dilaksanakan.
8. Catatan Lapangan
Catatan lapangan adalah catatan yang dibuat oleh peneliti atau mitra peneliti yang melakukan observasi terhadap subjek atau objek PTK. Pada umumnya catatan lapangan dibuat dengan tulisan tangan si peneliti, yang hanya dimengerti oleh dirinya saja.

contoh proposal PTK

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MATA PELAJARAN FIQIH
SISWA KELAS VII DENGAN MENGGUNAKAN MULTIMEDIA
DI SMPN 1 GONDANG NGANJUK

PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan untuk memenuhi tugas UAS Mata Kuliah
Penelitian Tindakan Kelas

Disusun Oleh :
Siti Qurroti A’yun
D01207214

Dosen Pembimbing:
Achmad Fauzi, M. Pd.

FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2009
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sumber media berupa orang saja sebagaimana kebanyakan terjadi pada madrasah kurang efektif digunakan untuk masa sekarang. Dalam pola interaksi ini, guru kelas memegang penuh kendali atas berlangsungnya pengajaran sedangkan siswa cenderung pasif. Hal ini bertentangan dengan kurikulum saat ini (baca: KTSP) yang menuntut siswa untuk aktif dalam proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan baik itu tujuan mata pelajaran maupun tujuan satuan pendidikan. Selain itu, sumber media berupa orang saja membuat suasana kelas menjadi monoton dan tidak menarik bagi siswa. Hal ini kemudian berdampak pada motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Upaya peningkatan kualitas pendidikan, mutlak diperlukan melaui terobosan-terobosan, mulai dari pengembangan kurikulum, inovasi pembelajaran dan pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan. Salah satu cara meningkatkan prestasi pendidikan guru dituntut untuk membuat media pembelajaran yang lebih inovatif untuk mendorong siswa belajar lebih optimal baik secara mandiri ataupun di dalam kelas.
Dari hasil pengamatan di SMPN 1 kecamatan Gondang kabupaten Nganjuk ditemukan bahwa pelaksanaan pembelajaran Fiqih masih kurang menggembirakan. Indikatornya antara lain adanya kecenderungan semakin menurunnya tingkat prestasi belajar siswa dan rendahnya partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran Fiqih. Ini bisa dilihat dari hasil ulangan harian Fiqih siswa kelas VII yang masih menunjukkan kurang menggembirakan. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan penulis, sejumlah faktor yang diduga sebagai faktor penyebab rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fiqih antara lain adalah:
1. Penggunaan media pembelajaran kurang maksimal sehingga tidak dapat membantu pemahaman siswa sehingga siswa menjadi kurang aktif dan kurang memahami materi.
2. Guru terlalu banyak memberikan penjelasan sehingga pembelajaran menjadi kurang efektif.
3. Guru kurang memberikan motivasi belajar kepada siswa sebelum pelajaran dimulai sehingga kurang aktif dalam mengikuti pelajaran.
Dari hasil refleksi awal terhadap masalah di atas, penulis berpendapat bahwa untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman siswa terhadap Pendidikan Agama Islam mata pelajaran Fiqih, diperlukan media pembelajaran yang sesuai. Adapun media yang penulis pilih adalah Multimedia. Media pembelajaran Multimedia merupakan penggunaan berbagai jenis media secara bersama dan serempak melalui satu alat saja. Oleh karena itu penulis merumuskan hipotesis tindakan “Media pembelajaran Multimedia dapat meningkatkan hasil belajar PAI mata pelajaran Fiqih siswa kelas VII SMPN 1 Gondang Nganjuk”.
Multimedia adalah salah satu media pembelajaran yang dipandang dapat memberikan pengalaman belajar yang secara langsung berkenaan dengan gambaran-gambaran nyata objek yang disiswai. Sehingga dengan menggunakan multimedia sebagai media pembelajaran Fiqih diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajaran materi Fiqih.
Alasan lain penggunaan Multimedia adalah melihat sistem pendidikan dewasa ini telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Berbagai cara telah dikenalkan serta digunakan dalam proses belajar mengajar (PBM) dengan harapan pengajaran guru akan lebih berkesan dan pembelajaran bagi murid akan lebih bermakna. Sejak beberapa tahun belakangan ini teknologi informasi dan komunikasi telah banyak digunakan dalam proses belajar mengajar, dengan satu tujuan mutu pendidikan akan selangkah lebih maju seiring dengan kemajuan teknologi.
Perkembangan teknologi multimedia telah menjanjikan potensi besar dalam merubah cara seseorang untuk belajar, untuk memperoleh informasi, menyesuaikan informasi dan sebagainya. Multimedia juga menyediakan peluang bagi pendidik untuk mengembangkan teknik pembelajaran sehingga menghasilkan hasil yang maksimal. Demikian juga bagi siswa, dengan multi media diharapkan mereka akan lebih mudah untuk menentukan dengan apa dan bagaimana siswa untuk dapat menyerap informasi secara cepat dan efisien. Sumber informasi tidak lagi terfokus pada teks dari buku sematamata tetapi lebih luas dari itu. Kemampuan teknologi multimedia yang telah terhubung internet akan semakin menambah kemudahan dalam mendapatkan informasi yang diharapkan.
Indikator keberhasilan yang akan diukur dalam penelitian ini adalah meningkatnya hasil belajar siswa yang diukur melalui pre test dan post test serta proses pembelajaran.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dalam penelitian ini yang menjadi masalah utama adalah kesulitan siswa kelas VII SMPN 1 Gondang Nganjuk dalam memahami dan menerapkan mata pelajaran PAI mata pelajaran Fiqih sehingga mempengaruhi hasil belajar siswa atau ketercapaian tujuan pembelajaran. Masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaaan media pembelajaran Multimedia dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam mata pelajaran Fiqih siswa kelas VII SMPN 1 Gondang Nganjuk?”

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam mata pelajaran Fiqih siswa kelas VII SMPN 1 Gondang Nganjuk melalui media pembelajaran Multimedia.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Bagi guru PAI khususnya dan guru lainnya, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan acuan dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran menggunakan media pembelajaran yang sesuai. Selain itu, dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas guru dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.
2. Bagi siswa, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap PAI mata pelajaran Fiqih.
3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam melakukan upaya-upaya dalam rangka meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar siswa sekolah yang bersangkutan.
4. Bagi Masyarakat, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai ukuran ketercapaian tujuan pembelajaran yang tercermin dari peningkatan kualitas out put sekolah bersangklutan. Dengan ini, masyarakat bisa membedakan antara sekolah yang berkualitas dengan sekolah yang tidak berkualitas.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Hasil Belajar Siswa
Dalam kamus umum bahasa indonesia disebutkan bahwa hasil belajar merupakan sesuatu yang diadakan, dibuat, dijadikan oleh suatu usaha atau dapat juga berarti pendapat atau perolehan atau buah. (Poerwadarminta, 1996: 337). Pendapat lain mengatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar yang diperoleh siswa adalah sebagai akibat dari proses belajar yang dilakukan oleh siswa. Proses belajar merupakan penunjang hasil belajar yang dicapai siswa. (Nana Sudjana, 1989:111). Dimyati dan Moedjiono (1994:4) mengatakan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari suatu intraksi tindak mengajar atau tindak belajar.
Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu.
Hasil belajar dibagi menjadi tiga macam yaitu keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita-cita yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah, (Nana Sudjana, 2004:22).
Menurut Gagne (1988) ada lima kemampuan hasil belajar yaitu:
1. Keterampilan-keterampilan intelektual, karena keterampilan itu merupakan penampilan yang ditunjukan oleh siswa tentang operasi intelektual yang dapat dilakukannya
2. Penggunaan strategi kognitif, karena siswa perlu menunjukkan penampilan yang baru
3. Berhubungan dengan sikap-sikap yang dapat ditunjukkan oleh perilaku yang mencerminkan pilihan tindakan terhadap kegiatan-kegiatan belajar
4. Hasil belajar adalah informasi verbal
5. Keterampilan motorik.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu:
1. Faktor Internal (dari dalam individu yang belajar).
Faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar. Adapun faktor yang mempengaruhi kegiatan tersebut adalah faktor psikologis, antara lain motivasi, perhatian, pengamatan, tanggapan dan lain sebagainya.
2. Faktor Eksternal (dari luar individu yang belajar).
Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan faktor dari luar siswa. Adapun faktor yang mempengaruhi adalah mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, dan pembentukan sikap.

B. Media Pembelajaran Multimedia

Media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya. Penggunaan media secara kreatif akan memungkinkan audien (siswa) untuk belajar lebih baik dan dapat meningkatkan performan mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Setiap media pembelajaran yang direncanakan hendaknya dipilih, ditetapkan dan dikembangkan sehingga dapat menimbulkan interaksi siswa dengan pesan-pesan yang dibawa media pembelajaran. Pemilihan media pembelajaran dapat mempertimbangkan beberapa hal yakni:
• Tujuan yang ingin dicapai
• Karakteristik siswa/sasaran
• Jenis rangsangan belajar yang diinginkan (audio, visual, gerak)
• Keadaan lingkungan setempat
• Luasnya jangkauan yang ingin dilayani
• Kriteria tambahan yaitu biaya, ketepatgunaan, keadaan siswa, ketersediaan,dan mutu teknis
Untuk mengatasi masalah kesulitan siswa dalam memahami dan menerapkan mata pelajaran PAI mata pelajaran Fiqih, dapat dilakukan dengan menggunakan media pembelajaran Multimedia yang merupakan penggunaan berbagai jenis media secara bersama dan serempak melalui satu alat saja.
Media pembelajaran Multimedia adalah penggunaan media baik yang bersifat visual, audial, projected still media maupun projected motion media secara bersama dan serempak melalui satu alat saja. Media pembelajaran Multimedia diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa sekaligus meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI mata pelajaran Fiqih.
Definisi lain menyebutkan bahwa Media Multimedia adalah kombinasi berbagai macam media (teks, audio, animasi, video, simulasi) dalam suatu paket di mana berbagai media saling bersinergi dalam menyampaikan informasi secara optimal. Interaktivitas multimedia lebih menonjol dibandingkan media lain. Interaktivitas multimedia meliputi interaktivitas mental dan fisik. Multimedia pembelajaran memiliki kecenderungan kuat untuk mendorong pengguna melakukan interaksi dengan komputer.
Karakteristik media di dalam multimedia adalah kurang kuat bila digunakan sebagai media untuk memberikan motivasi, mata cepat lelah ketika harus menyerap materi melalui teks yang panjang dan padat pada layar komputer, teks dapat digunakan untuk menyampaikan informasi yang padat (kondensed), teks dapat digunakan untuk materi yang rumit dan komplek, teknologi untuk menampilkan teks pada layar komputer relatif lebih sederhana dibandingkan teknologi untuk menampilkan media lain, konsekuensinya media ini juga lebih murah bila dibandingkan media-media lain, sangat cocok sebagai media input maupun umpan balik (feedback).
Macam-macam media yang digunakan dalam Multimedia diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Teks
Media ini membantu pembelajar fokus pada materi yang disiswai karena pembelajar cukup mendengarkan tanpa melakukan aktivitas lain yang menuntut konsentrasi, serta sangat cocok bila digunakan sebagai media untuk memberikan motivasi. Akan tetapi media teks di dalam multimedia memerlukan tempat penyimpanan yang besar di dalam komputer, serta memerlukan software dan hardware yang spesifik agar suara dapat disampaikan melalui komputer.

2. Audio
Media audio memudahkan dalam mengidentifikasi obyek-obyek, mengklasifikasikan obyek, mampu menunjukkan hubungan spatial dari suatu obyek, membantu menjelaskan konsep abstrak menjadi konkret
3. Graphics
Media Grafik mampu menunjukkan obyek dengan idea, menjelaskan konsep yang sulit, menjelaskan konsep yang abstrak menjadi konkrit, menunjukkan dengan jelas suatu langkah procedural.
4. Animasi
Media Animasi mampu menunjukkan suatu proses abstrak di mana pengguna ingin melihat pengaruh perubahan suatu variabel terhadap proses tersebut. Namun media Animasi menyediakan suatu tiruan yang bila dilakukan pada peralatan yang sesungguhnya terlalu mahal atau berbahaya (misal simulasi melihat bentuk tegangan listrik dengan simulasi oscilloscope atau melakukan praktek menerbangkan pesawat dengan simulasi penerbangan).
5. Video
Video mungkin saja kehilangan detail dalam pemaparan materi karena siswa harus mampu mengingat detail dari scene ke scene. Umumnya pengguna menganggap belajar melalui video lebih mudah dibandingkan melalui teks sehingga pengguna kurang terdorong untuk lebih aktif di dalam berinteraksi dengan materi. Video memaparkan keadaan riil dari suatu proses, fenomena atau kejadian sehingga dapat memperkaya pemaparan. Video sangat cocok untuk mengajarkan materi dalam ranah perilaku atau psikomotor.
Penggunaan multimedia dalam pendidikan memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
• Sistem pembelajaran lebih inovatif dan interaktif
• Pengajar akan selalu dituntut untuk kreatif inovatif dalam mencari terobosan pembelajaran
• Mampu mengabungkan antara teks, gambar, audio, musik, animasi gambar atau video dalam satu kesatuan yang saling mendukung guna tercapainya tujuan pembelajaran
• Mampu menimbulkan rasa senang selama proses PBM berlangsung. Hal ini akan menambah motivasi siswa selama proses PBM hingga didapatkan tujuan pembelajaran yang maksimal
• Mampu memvisualisasikan materi yang selama ini sulit untuk diterangkan hanya sekedar dengan penjelasan atau alat peraga yang konvensional
• Media penyimpanan yang relatif gampang dan fleksibel
Namun demikian ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam multimedia pendidikan, yaitu:
 Pengoperasian yang mudah dan familer (user frendly)
 Mudah untuk install ke komputer yang akan digunakan oleh pengguna
 Media pembelajaran yang interaktif dan komunikatif
 Sistem pembelajaran yang madiri. Artinya siswa dapat belajar dengan mandiri baik di sekolah maupun di rumah tanpa harus ada bimbingan dari guru
 Sedapat mungkin dengan biaya yang ringan dan terjangkau

C. Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa dengan Menggunakan Multimedia
Pembelajaran merupakan proses untuk meramu sarana dan prasarana pendidikan untuk mencapai kualitas yang diharapkan. Kualitas lulusan pendidikan sangat ditentukan oleh seberapa jauh guru mampu mengelola dan mengolah segala komponen pendidikan melalui proses belajar mengajar. Artinya keberhasilan pembelajaran sangat tergantung pada kemampuan seorang guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar sehingga mencapai hasil sesuai dengan apa yang diinginkan pada tujuan pendidikan. Meskipun sarananya lengkap tetapi jika guru tidak mampu mengolah sarana melaluli proses belajar mengajar, maka kualitas pendidikan akan rendah.
Proses belajar mengajar (PBM) seringkali dihadapkan pada materi yang abstrak dan di luar pengalaman siswa sehari-hari, sehingga materi ini menjadi sulit diajarkan guru dan sulit dipahami siswa. Visualisasi adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengkonkritkan sesuatu yang abstrak. Gambar dua dimensi atau model tiga dimensi adalah visualisasi yang sering dilakukan dalam PBM. Pada era informatika visualisasi berkembang dalam bentuk gambar bergerak (animasi) yang dapat ditambahkan suara (audio).
Sajian audio visual atau lebih dikenal dengan sebutan multimedia menjadikan visualisasi lebih menarik. ICT dalam hal ini komputer dengan dukungan multimedia dapat menyajikan sebuah tampilan berupa teks nonsekuensial, nonlinear, dan multidimensional dengan percabangan tautan dan simpul secara interaktif. Tampilan tersebut akan membuat pengguna (user) lebih leluasa memilih, mensintesa, dan mengelaborasi pengetahuan yang ingin dipahaminya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi multimedia mampu memberi kesan yang besar dalam bidang komunikasi dan pendidikan karena bisa mengintegrasikan teks, grafik, animasi, audio dan video. Multimedia telah mengembangkan proses pengajaran dan pembelajaran ke arah yang lebih dinamik. Namun yang lebih penting ialah pemahaman tentang bagaimana menggunakan teknologi tersebut dengan lebih efektif dan dapat menghasilkan idea-idea untuk pengajaran dan pembelajaran. Pada masa kini, guru perlu mempunyai kemahiran dan keyakinan diri dalam menggunakan teknologi ini dengan cara yang paling berkesan, suasana pengajaran dan pembelajaran yang interaktif, serta lebih menggalakkan komunikasi aktif antara berbagai hal. Penggunaan komputer multimedia dalam proses pengajaran dan pembelajaran adalah dengan tujuan meningkatkan mutu pengajaran dan pembelajaran.
Dengan berkembangnya teknologi multimedia, unsur-unsur video, bunyi, teks dan grafik dapat dikemas menjadi satu melalui Pembelajaran Berbasis Komputer (PBK). Sekarang ini, materi proses belajar mengajar telah banyak ditemukan dipasaran yang disediakan dalam bentuk CVD atau DVD. Contoh-contoh yang dapat kita temukan seperti ensiklopedia, kamus elektronik, buku cerita elektronik, materi pembelajaran yang telah dikemas dalam bentuk CD atau DVD dan masih banyak lagi yang dapat kita temui. Konsep permainan dalam pembelajaran digabung untuk menghasilkan pengalaman pembelajaran yang menyenangkan. Model – model ini dapat digunakan dalam pembelajaran di dalam kelas atau pembelajaran sendiri. Bisa juga digunakan untuk pembelajaran di rumah dan di sekolah. Sesi pembelajaran bisa disesuaikan dengan tahap penerimaan dan pemahaman siswa.
Pencapaian dan keberhasilan siswa akan diuji. Jika siswa tidak mencapai tahap yang memuaskan, maka sesi pemulihan akan dilaksanakan. Rekord pencapaian siswa akan disimpan supaya prestasi siswa bisa diawasi. Konsep pembelajaran sendiri dapat dilaksanakan bila informasi tersebut menarik dan memotivasikan siswa untuk terus belajar. Ini dapat dicapai jika materi atau informasi direka dengan baik menggunakan multimedia. Suasana pengajaran dan pembelajaran yang interaktif akan menggalakkan komunikasi berbagai hal (siswa-guru, siswa-siswa, siswa-komputer).
Gabungan berbagai media yang memanfaatkan sepenuhnya indra penglihatan dan pendengaran mampu menarik minat belajar. Namun yang lebih utama ialah pencapaian objektif pengajaran dan pembelajaran dengan berkesan. Harus diingat bahwa teknologi multimedia hanya bertindak sebagai pelengkap, tambahan atau alat bantu kepada guru. Multimedia tidak akan mengambil alih tempat dan tugas guru.
Multimedia adalah sebagai saluran pilihan dalam menyampaikan informasi dengan cara yang lebih berkesan. Komputer hanya digunakan jika dipandang perlu dan merupakan pilihan yang baik. Jikalau terdapat pilihan lain yang lebih berkesan untuk menyampaikan informasi, maka pilihan lain ini bisa digunakan. Hasil belajar secara efektif dengan menggunakan multimedia akan dicapai apabila:
• Guru mengenal keunggulan dan kelemahan dari setiap media teknologi yang dipergunakan. Penggunaan teknologi auditif bukan berarti lebih buruk daripada media audiovisual karena ada beberapa materi pembelajaran yang akan lebih baik ditayangkan dengan mempergunakan teknologi auditif untuk merangsang imajinasi siswa dan melatih kepekaan pendengaran.
• Menentukan pilihan materi yang akan ditayangkan, apakah sesuai dengan penggunaan media auditif, visual, atau audiovisual. Misalnya untuk melatih kepekaan siswa dalam memahami percakapan bahasa inggris, akan lebih baik kalau dipergunakan media auditif. Sementara untuk mengetahui ragam budaya masyarakat berbagai bangsa tentu lebih relevan dengan mempergunakan tayangan audiovisual.
• Menyiapkan skenario tayangan yang tentunya berbeda dengan satuan pelajaran karena disini menyangkut terhadap model tayangan yang akan disajikan sehingga menjadi menarik. Dari sini nantinya akan mampu mengembangkan berbagai aspek kemampuan (potensi) dalam diri siswa. Tidak kalah pentingnya, adalah bagaimana membuat anak tetap fokus kepada tayangan yang disajikan, dan mengukur apa yang telah dilakukan siswa dengan menyiapkan lembar tugas atau quiz yang harus dikerjakan siswa ketika menyaksikan tayangan pembelajaran.
Upaya membuat anak betah belajar di sekolah dengan memanfaatkan teknologi multimedia merupakan kebutuhan, sehingga sekolah tidak lagi menjadi ruangan yang menakutkan dengan berbagai tugas dan ancaman yang justru mengkooptasi kemampuan atau potensi dalam diri siswa. Untuk itu, peran serta masyarakat dan orang tua, komite sekolah merupakan partner yang dapat merencanakan dan memajukan sekolah.
Pemanfaatan teknologi merupakan kebutuhan mutlak dalam dunia pendidikan sehingga sekolah benar-benar menjadi ruang belajar dan tempat siswa mengembangkan kemampuannya secara optimal, dan nantinya mampu berinteraksi ke tengah-tengah masyarakatnya. Lulusan sekolah yang mampu menjadi bagian intergaral peradaban masyarakatnya. Keinginan tersebut tidak mudah dicapai apabila sekolah-sekolah yang ada tidak tanggap untuk melakukan perubahan.

BAB III
RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang dilakukan dalam situasi yang wajar (natural setting) dan data yang dikumpulkan umumnya bersifat kualitatif. Metode kualitatif berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri.
Responden dalam metode kualitatif berkembang terus (snowball) secara bertujuan (purposive) sampai data yang dikumpulkan dianggap memuaskan. Alat pengumpul data atau instrumen penelitian ialah si peneliti sendiri. Jadi peneliti merupakan key instrument, dalam mengumpulkan data si peneliti harus terjun sendiri ke lapangan secara aktif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik angket tidak digunakan dalam pengumpulan data.

B. Subjek penelitian
Subjek Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas VII SMPN 1 Gondang Nganjuk yang berjumlah 34 orang.

C. Setting penelitian
Penelitian Tindakan Kelas akan dilaksanakan di kelas VII SMPN 1 Gondang Nganjuk.

D. Waktu penelitian
Penelitian Tindakan Kelas direncankan dalam kurun waktu minggu ke-1 bulan Februari sampai dengan minggu ke-3 bulan Maret 2010.

E. Desain penelitian
1. Siklus penelitian
Desain penelitian adalah berupa Peneitian Tindakan Kelas dengan alur kegiatan sebagai berikut:
Siklus I
Refleksi Awal Perencanaan Tindakan I Pelaksanaan Tindakan I Observasi I Refleksi I Evaluasi I
Siklus II
Perencanaan Tindakan II Pelaksanaan Tindakan II Observasi II Refleksi II Evaluasi II
Siklus III
Perencanaan Tindakan III Pelaksanaan Tindakan III Observasi III Refleksi III Evaluasi III
2. Tahapan siklus PTK
a. Refleksi awal
Pada tahap ini dilakukan identifikasi kesulitan siswa kelas VII SMPN 1 Gondang dalam memahami PAI mata pelajaran Fiqih
b. Perencanaan Tindakan
Masalah yang ditemukan akan diatasi dengan melakukan langkah-langkah perencanaan tindakan, yaitu menyusun instrumen penelitian berupa Rencana Program Pembelajaran (RPP), membuat multimedia untuk pembelajaran, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), soal tes, dan lembar observasi.
c. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini dilakukan tindakan berupa pelaksanaan program pembelajaran, pengambilan atau pengumnpulan data hasil soal tes dan lembar observasi. Materi pelajaran pada tahap pelaksanaan tindakan I adalah materi Thaharah, pelaksanaan tindakan II adalah materi Shalat, pelaksanaan tindakan III adalah materi Shalat Jamaah dan Shalat Munfarid.
d. Pengamatan
Tahap ini dilakukan untuk mengumpulkan data-data dan menganalisanya untuk kemudian dapat diambil kesimpulan dari penelitian ini. Observasi mencakup prosedur perekaman data tentang proses dan hasil implementasi tindakan yang dilakukan. Guru peneliti mengadakan observasi terhadap proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi siswa.

e. Refleksi
Guru peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan PTK pada tiap siklus dan menganalisis serta menarik kesimpulan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah direncanakan dengan melaksanakan tindakan tertentu. Apakah pembelajaran yang dirancang dengan PTK dapat meningkatkan kualitas pembelajaran atau memperbaiki masalah yang diteliti.

F. Metode pengumpulan data
Valid atau tidaknya suatu penelitian tergantung pada jenis pengumpulan data yang dipergunakan serta pemilihan metode yang tepat sesuai dengan jenis dan sumber data dalam penelitian. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode observasi, soal tes, dan data respon siswa.
1. Observasi atau pengamatan
Observasi atau pengamatan adalah penginderaan secara langsung terhadap suatu benda, kondisi, situasi, proses atau prilaku. Dalam hal ini peneliti mengamati dan mencatat secara langsung untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran PAI mata pelajaran Fiqih dengan menggunakan multimedia
2. Test
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengatahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok.
Perangkatan test peneliti ini adalah pre test dan pos test. Pre test diadakan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebelum pembelajaran dengan multimedia dilaksanakan. Drs. Sumanto, MA mengatakan bahwa pre test digunakan untuk melihat apakah kelompok-kelompok tersebut variable dependent sama atau tidak. Dengan kata lain pre test digunakan untuk melihat kemampuan kedua kelompok sama atau tidak. Dari hasil pre test kemudian ditentukan siswa yang termasuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sedangkan post test digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh atau tidak penggunaan multimedia dalam upaya meningkatkan hasil belajar PAI mata pelajaran Fiqih siswa kelas VII di SMPN 1 Gondang Nganjuk. Test ini dilakukan setelah seluruh materi pelajaran selesai dan bentuk test yang digunakan adalah pilihan ganda (Multiple Choices).
3. Data respon siswa
Data respon siswa terhadap penggunaan multimedia diperoleh dengan menggunakan observasi partisispasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap siswa kelas eksperimen setelah mengikuti pembelajaran. Tujuannya untuk mengetahui respon atau komentar siswa terhadap proses pembelajaran yang berlangsung sesuai dengan menggunakan multimedia.

G. Instrumen pengumpulan data
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar laporan hasil observasi, soal tes, dan data respon siswa.

H. Teknis analisis data
Analisis data merupakan teknik yang digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil kegiatan penelitian tersebut yang termakna dan teruji. Dalam hal ini diperlukan cara-cara tertentu dalam menganalisanya. Dalam penelitian ini, hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis statistik data kualitatif.
1. Analisis statistik deskriptif.
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis data kemampuan guru dalam mengelola kelas, data aktifitas peserta didik serta data respon peserta didik dalam penggunaan multimedia dalam pembelajaran dengan pengajaran langsung pada PAI mata pelajaran , adapun analisis tersebut sebagai berikut:
– Analisis data kemampuan guru dalam mengelola kelas.
Data hasil pengamatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan menggunakan multimedia dianalisis dengan menghitung rata-rata dari nilai beberapa kali pertemuan pada setiap indikator, setelah itu di hitung pula rata-rata dari setiap aspek. Kemudian hasil rata-rata tersebut dikonfirmasikan dengan kriteria sebagai berikut:
no Kriteria Kategori
1
2
3
4 1,00 ≤ nilai < 1,75
1,75 ≤ nilai < 2,50
2,50≤ nilai < 3,25
3,25≤ nilai < 4,00 Tidak baik
Kurang baik
Baik
Sangat baik
– Analisis data aktifitas peserta didik
Data hasil penilaian untuk aktifitas peserta didik selama pembelajaran dianalisis deskriptif dengan menentukan jumlah aktifitas peserta didik aktif dan jumlah aktivitas peserta didik pasif. Jika jumlah rata-rata aktivitas peserta didik aktif lebih besar dari jumlah rata-rata aktivitas peserta didik pasif, maka dalam pembelajaran dengan menggunakan multimedia ini aktifitas peserta didik tergolong aktif.
– Analisis data respon peserta didik
Untuk mengetahui respon peserta didik atau komentar peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan multimedia, data respon peserta didik dianalisis dengan menggunakan rumus persentase sebagai berikut:

Untuk mengidentifikasi respon peserta didik atau komentar peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan multimedia dengan pengajaran langsung maka respon peserta didik tersebut dikatakan positif apabila paling sedikit 80% peserta didik menjawab "ya" dari jumlah seluruh peserta didik.
2. Analisis statistik data kualitatif.
Data kualitatif diperoleh dari skor tes. Data ini dianalisis untuk mengetahui adanya perbedaan hasil belajar antara peserta didik yang mengikuti pembelajaran menggunakan multimedia dengan peserta didik yang mengikuti pembelajaran tanpa menggunakan multimedia. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan uji-t. Adapun langkah-langkah yang dilakukan sebelum menggunakan uji-t adalah sebagai berikut:
– Uji normalitas
1) menghitung mean(X) dan standar deviasi (a n-1)
2) membuat daftar frekuensi observasi dan observasi ekspektasi
3) menghitung nilai X2 (chi kuadrat)
4) menentukan derajat kebebasan
5) menentukan nilai X2 dari daftar
6) penentuan normalitas
– Uji homogenitas 2 variansi
1) menghitung nilai f
f = Vb
Vk
Keterangan:
Vb: variasi besar
Vk: variasi kecil
2) menentukan derajat kebebasan
db1= n1-1
db2= n2-1
keterangan:
db1: derajat kebebasan pembilang
db2: derajat kebebasan penyebut
n1: ukuran sampel variasi besar
n2: ukuran sampel variasi kecil
3) menentukan nilai f dari daftar
4) menguji homogenitas
– Uji-t bila normalitas dan homogenitas sampel dipenuhi. Bila tidak dipenuhi maka akan menggunakan uji lain.
1) Menentukan hipotesis
2) Mencari deviasi standar gabungan

3) Mencari nilai t
4) Menentukan derajat kebebasan

db= n1+n2-2
5) Menentukan nilai t dari daftar
6) Pengujian hipotesis

DAFTAR PUSTAKA

Asnawir & Basyiruddin Usman. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Pers Nurgana, Endi. 1985. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: CV Permadi.
Sumanto. 1995. Metodelogi Penelitian Social dan Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset
Tim Penulis Sosiologi. 1997. Panduan Belajar. Jakarta: Yudistira

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.