my poem

MALAM
Malam…
Gelapmu mengiringi lelahku
Kurebahkan tubuhku
Tuk lepaskan penatku
Resah kurasa
Galau dihati mengelabuhi
Malam…
Dimana bulan dan bintang
Yang selalu terangi auramu
Gelapnya ruang hatiku
Bak ruang gelapmu
Hitam kelam
Tanpa lentera
Tanpa cahaya
Malam…
Meski kelam menyelimutimu
Tapi ku yakin…
Ada setitik cahaya
Hadir di ruang gelapmu
Pun ruang hatiku
Ada pancaran sinar disitu
Meski redup…
Malam…
Tak rindukah engkau
Akan sapa lembut
Bulan dan bintangmu
Bila engkau rindu
Pun juga aku
Hatiku selalu merindu
Akan hadirnya hidayah Sang Rabb
Yang mampu terangi jiwaku…
Niat Suci
Dengan langkah gontai
Kakiku beranjak
Kutinggalkan bumi pertiwi tercinta
Kusatukan niat
Kubulatkan tekat
Perlahan-lahan
Kumantapkan hati
Tuk menggapai lautan ilmu-Mu
Segala cita dan asa
Kuukir dalam memoriku
Tapi…
Badai pun menghantam
Angin menerjang
Batu besar menghalang
Tak kuasa aku melawan
Galau aku dibuatnya
Sejuta cita dan asa
Yang telah terajut indah
Luluh lantah
Hancur berkeping-keping
Semua tinggal serpihan memori
Yang berserakan tiada arti
Ya Allah…
Kembalikan aku pada niat suciku
Untuk menggapai ridlo-Mu
Pun syafaat kekasih-Mu
Agar damai rasa hati
Meski berat untuk kujalani
Tapi kuyakin
Aku bisa…
Karena aliran syafaaat-Mu

new year

A NEW YEAR CELEBRATION
IN PERSPECTIVE ISLAM
Nama: Siti Qurroti A’yun
NIM  : D01207214

A new year is a celebration in which a culture celebrate finishing of year and beginning a next year. The culture that have measure annual calendar have a new year celebration. The day of new year in Indonesia celebrate on January, 1st because Indonesia adapted from Gregorian calendar, like a majority of state in the world.

Many of people celebrate A night of year change with go on vacation to some place, watching a music show, watching television, burn a corn chat with the others, go to seashore and then daydream while look a sea, while stay up and talk all night, sparkler party, play a trumpet in moments entering a new year, leather puppet all night moreover not behind that lately what be a trend in any place apparently, celebrate a new year with held a dzikir together.

Talk about a law of the new year occasion with devout, according to the any reference in the books and internet, and according to the Islamic teacher says, Rasulullah saw. Didn’t show by example for celebrate a new year, moreover celebrate it with dzikir, or every devout. Moreover, in several of reference, mentioned that it’s a bid’ah!!! There are many different opinions about a law of a new year masehi celebration. Part of the people are forbid it and another part are permit it with a requirements.

1.    an opinion that forbid a new year celebration
They who forbid a night of new year masehi celebration, adduce arguments. The night of a new year celebration actually is a worshipping ritual by adherents of a religion in Eropa, either Nasrani or other religion. Finally, a new year masehi celebration is an infidel religion holiday celebration. However, may be there are certain opinion that a new year celebration is in their aim, but at least a muslim who celebrate a night of new year is like an infidel worshipping. And the law of it’s just resemble is forbidden, in the same manner as Rasulullah saw. Says:
من تشبه بقوم فهو منهم
A man who resemble what are doing by a community (certain religion), so he included a part of them.

Forbidding a night of new year celebration to the muslims is the effort to prevent and protect them from negative influence which usual done by immoral man. Celebrate a night of new year arrival is a bid’ah that never do by Rasulullah saw., disciples of Muhammad saw., and salafus shalih.

So the law of new year celebration is bid’ah if exspecially in the night of new year, held a certain ritual worshipping, like a qiyamullail, praying together, istighatsah, night meditation, contemplation of natural, or other mahdhah worshipping, because there are not base of syar’i. A muslim who always a follower celebrate a new year will stricken by misfortunes, they are:
1.    it is ones form of tasyabbuh (resemble) an infidel peoples that prohibited by Rasulullah saw.
2.    Doing the deed of loyalty like a dzikir, read a holy Qur’an, and the others which be specialed to welcomed a new year arrival is a bid’ah which misled.
3.    Ikhtilath (mixed up) between a boy and girl as we seen on almost a whole of new year celebration moreover till fall into sexual acts outside of marriage, na’udzubillahi min dzalika
4.    Wasting a muslims properties, because money that they take out to celebrate it (buy the foods, shared out a gift, play a trumpet, etc.) is unimportance inside Allah swt. And other misfortunes in the form of sin and to be avoided an religious grounds. Wallahua’lam

2.    an opinion that permit a new year celebration
an opinion that permit it is set out by an argument that a new year masehi celebration is not always related with certain ritual worshipping. All of it is in their aim. If aimed to worship or always a follower an infidel man, so it is forbidden. If it is not, so it is not forbidden.

They take a comparison with a muslim vacation in Christmas. In the fact, every red date in calendar because Christmas, a new year, ascension of Jesus, Easter, and the other, muslims follow to official leave, and school vacation. In addition, a syari’ah banking, Islamic school, Islamic boarding school, department of religious affairs, and other Islamic institutions also follow to official leave. Does the muslim vacation because that Kristen holiday included celebrate their holiday? Generally we will answer that it is in their aim. If aimed to worship or always a follower an infidel man, so it is forbidden. If it is not, so it is permitted.

The people habitual to celebrate a night of a new year with drink a wine, zina, and other immoral deed, it’s law is forbidden. But if what they are doing is not immoral, so it is not forbidden. The things which forbidden are their immoral deed, not their night of a new year celebration. For example, a muslim took advantage of night of a new year event to do a positive things, like five the foods to the poor and needy, helps orphanage, cleaning living space and the others.

urgensi organisasi

URGENSI ORGANISASI
Oleh : a’yun el-falasy*

Pertama masuk kuliah semua terasa asing. Meskipun sebelumnya mahasiswa baru telah melalui sederetan acara ospek (Orientasi Studi Pengenalan Kampus) namun proses sosialisasi belum berhenti seiring berlalunya ospek. Status siswa yang dulu disandangnya kini beralih menjadi mahasiswa yang berperan sebagai agent of change sekaligus agent of control sehingga mahasiswa mengemban tanggungjawab moral yang berat.
Mahasiswa merupakan aktor sosial yang diharapkan mampu mempunyai kesadaran dan kepedulian yang tinggi dalam menyentuh realitas sosial yang diakibatkan sebuah kebijakan, serta mampu menciptakan ranah pembelajaran menuju proses dialektika pendewasaan sisi kehidupan,sehingga mampu menjadi bagian dari generasi muda bangsa yang memiliki tangggungjawab untuk memajukan bangsa, dengan bekal pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan serta gagasan-gagasan yang dinamis progresif dan revolusioner.
Untuk merealisasikan harapan tersebut, Organisasi merupakan jalur yang tepat bagi pengaktualisasian diri. Semua yang kita dapat dari bangku kuliah tidak bisa menjamin kesuksesan kita. Tanpa sejuta pengalaman berorganisasi, kita tidak akan mampu bersosialisasi dengan baik nantinya jika terjun ke masyarakat. Lantas apa kata orang jika mahasiswa hanya mencari gelar, tidak mampu membawa perubahan signifikan bagi masyarakat? Disinilah datangnya tuntutan moral bagi mahasiswa namun kebanyakan mahasiswa tidak menyadari hal itu.
Para mahasiswa khususnya mahasiswa baru, nampaknya mulai tahu dan sadar akan urgensi organisasi. Namun dalam praksisnya kita tidak bisa munafik bahwasanya banyak mahasiswa yang pinter ngomong alias mampu mengkritisi realitas sosial namun kurang mampu mentransformasikan sehingga perubahan realitas sosial yang diharapkan jadilah mimpi belaka.
Lantas yang menjadi masalah bagi mahasiswa baru adalah bagaimana memilih organisasi yang kian menjamur ini? Pada dasarnya semua organisasi mengharapkan lahirnya kader yang berkesadaran kritis intelektual humanis. Namun adanya tujuan dasar yang sama bukan berarti memunculkan strategi yang sama pula. Strategi inilah yang sangat signifikan dalam menentukan keberhasilan sebuah organisasi.
Kembali ke permasalahan  pokok, bagaimana mahasiswa baru memilih organisasi yang semuanya terlihat sangat menjanjikan? Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah mencari informasi tentang semua yang ada di dalam organisasi. Brosur-brosur yang beredar semua tampak menjustifikasi organisasi bersangkutan sebagai the best organitation. Sebaiknya kita bertanya kepada awak-awak organisasi yang memotori organisasi tersebut. Namun penilaian mereka cenderung subyektif meskipun ada sebagian kecil yang mampu menilai secara obyektif. Hal ini wajar mereka lakukan karena dorongan loyalitas yang tinggi terhadap organisasi tersebut. Maka lebih tepat lagi kita bertanya kepada orang yang tidak memihak pada organisasi bersangkutan namun benar-benar mengetahui seluk beluk organisasi tersebut. Kira-kira apa saja kegiatannya? Lantas apakah kegiatan tersebut membawa manfaat bagi kita? Bagaimana kalau nantinya kita jadi sering merogoh kocek? Urusan fulush, mayoritas organisasi tidak berkeinginan untuk memberatkan anggotanya. Perlu diketahui bahwasanya uang yang kita keluarkan itu tidak ada apa-apanya dengan pengalaman yang kita peroleh dari organisasi. Banyak mahasiswa yang kurang menyadari hal itu karena mayoritas mahasiswa saat ini adalah manusia-manusia yang berorientasi SO (Sleeping Oriented, Shooping Oriented, SMS Oriented). Maka waspadalah!!! Masa depan mengancammu!
Selain itu, kita juga perlu tahu siapa dalang dari organisasi tersebut? Bagaimana pemikiran ikon-ikonnya? Serta bagaimana kualitas outputnya? Apakah benar-benar menjadi kader yang berkesadaran kritis intelektual humanis?
Tak kalah pentingnya yaitu mengetahui latar historis-empiris organisasi. Dengan demikian kita bisa tahu siapa aktor-aktor yang telah menorehkan tinta sejarah di atas historis of organitation dan bagaimana perjuangannya. Tanpa latar historis-empiris yang jelas maka orang pantas mengklaim organisasi tersebut sebagai organisasi nggak jelas.
So bagi mahasiswa baru jangan mau dikebiri oleh awak-awak organisasi yang berkepentingan. Cobalah untuk telusuri mana organisasi yang baik dan bermanfaat buat kita juga orang-orang di sekitar kita. Sangatlah ironis jika mahasiswa hanya ikut-ikutan tanpa tahu seluk beluk organisasi bersangkutan. Finally, mari kita berpikir kritis terhadap organisasi-organisasi yang sedang gencar-gencarnya merekrut anggota untuk organisasinya. Setelah tahu dan berminat, bulatkan tekat! Kita harus punya komitmen dan siap menerima segala konsekuensinya.

*a’yun, mahasiswi jurusan PAI FT

improve yourself

IMPROVE YOURSELF

Tuhan menciptakan manusia dengan penuh keajaiban. Dia memberikan anugerah yang maha dahsyat kepada makhluk yang bernama manusia. Adalah akal, yang mampu membuat manusia menjadi makhluk yang paling tinggi derajatnya diantara makhluk lainnya, yang bisa melakukan apa saja yang ia kehendaki dengan segala potensi yang dimilikinya. Manusia dianugerahi pertimbangan akal, dia hidup karena menyadari dirinya sendiri, dia memiliki kesadaran akan dirinya sendiri, sesamanya, masa lampaunya, dan kemungkinan masa depannya. Tapi sudahkah manusia benar-benar memanfaatkannya dengan jalan menggali potensi dalam dirinya? Untuk kemudian menemukan potensi tersebut dan terus mengembangkannya?
Sebagai manusia, tidak sedikit diantara kita yang masih buta akan potensi yang kita miliki. Bila telah menggali dan menemukan potensi diri, pun tak sedikit yang enggan mengembangkannya lantaran kita terlalu cepat merasa puas dengan apa yang ada pada diri kita. Nrimo (Indonesia: menerima apa adanya) dijadikan dalih untuk menutupi kemalasan dan keengganan kita untuk terus mengembangkan diri. Memang ada saatnya kita diharuskan merasa puas dengan apa yang kita miliki dalam rangka mensyukuri nikmat Tuhan. Namun apakah cukup dengan merasa puas? Lantas bagaimana manifestasi dari rasa syukur kita atas segala potensi yang diberikan-Nya kepada kita? Mungkin pengembangan potensi diri ini merupakan salah satu manifestasi dari rasa syukur kita kepada-Nya.
Pengembangan diri berarti mengembangkan bakat yang dimiliki, mewujudkan impian-impian, meningkatkan rasa percaya diri, menjadi kuat dalam menghadapi cobaan, dan menjalin hubungan yang baik dengan sesamanya. Hal ini dapat dicapai melalui upaya belajar dari pengalaman, mau menerima saran ataupun kritik dari orang lain sebagai upaya refleksi atas diri kita dan kemudian berusaha merubahnya sedikit demi sedikit, melatih kepekaan individu maupun sosial, memupuk kesadaran, dan mempercayai suara hati. Perkembangan manusai bukan terjadi dengan sendirinya melainkan melalui hubungan dan pergaulan dengan manusia-manusia lain, yaitu interaksi. Setiap manusia akan memasuki suatu tahap menjadi seorang yang produktif sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa “beginilah aku apa adanya” tanpa dibarengi usaha untuk terus menggali potensi diri kita.
Hilangkan segala rasa takut dan ragu. Manusia mempunyai keperluan dan ketakutan, tetapi kelemahan bukan hal yang mengerikan. Itu sama sekali bukan kutukan kalau kita mau menerimanya. Kesulitan dimulai ketika kita membenci diri sendiri karena adanya kelemahan pada diri kita. Kebencian pada diri sendiri inilah yang merusak dari dalam yang mengalahkan kita sebelum mulai bergerak maju. Kita kurang menyadari bahwa hakikat kebebasan yang terutama dalam hidup ini sebenarnya adalah bebas dari rasa takut. Misalnya takut gagal, takut bersalah, takut melangkah, takut ditolak, takut bergaul, bahkan takut mati. Perasaan takut seperti ini dapat membelenggu hidup kita secara lahiriah dan terlebih secara bathiniah. Bahkan pada tingkatan yang lebih tinggi, rasa takut yang berlebihan akan menjadi penyakit jiwa (phobia). Semua bentuk rasa takut diakibatkan oleh trauma yang pernah kita alami dalam mengalami kehidupan. Untuk dapat memperoleh kemerdekaan sejati dan bebas dari perasaan serba takut, kita harus berdamai dengan trauma masa lalu kita. Artinya, memiliki sikap realistis, tidak perfeksionis (karena semua manusia di dunia ini tidak sempurna), meningkatkan kemampuan spiritual sehingga lebih memiliki kepasrahan dengan menyadari bahwa kita tidak memiliki hak sepenuhnya terhadap kelangsungan hidup kita serta memiliki sense of experiencing (tidak menyerah sebelum mencoba). Manusia yang berbahagia adalah mereka yang terbebas dari rasa takut. Kalau kita terus-menerus dijajah oleh rasa takut, kelangsungan hidup dan karir kita akan berjalan di tempat alias stagnan (mandeg). Dan apabila kita tidak berusaha memperoleh kebebasan, kita akan selalu memiliki perasaan insecure (merasa selalu dalam ancaman). Kalau kita mempelajari perjalanan tokoh-tokoh sukses, hampir semuanya adalah mereka yang selalu berjuang di garis depan dan memiliki mental penakluk. Semua pemenang sejati dalam sejarah hidupnya mempunyai sikap positif. Selalu bersikap positif sepanjang waktu memang bukan hal yang mudah. Inilah salah satu alasan mengapa orang sukses selalu menjadi golongan minoritas. Mereka yang bersikap positif dan bermental conqueror selalu menyatakan “the pessimist sees difficulty in every opportunity, but the optimist sees the opportunity in every difficulty”.
Perlu diingat pula, jangan  pernah menunda untuk melakukan sesuatu. Janganlah kita dikendalikan oleh waktu, akan tetapi kita harus dapat melakukan hal-hal yang berarti dalam hidup kita dalam kurun waktu tertentu. Susun batasan waktu dengan tegas guna menghindari rasa bosan dan jenuh karena kebosanan dan kejenuhan pada pekerjaan dapat menimbulkan rasa malas. Kemalasan menyebabkan seseorang menunda-nunda pekerjaan sehingga kita tidak dapat menjalani hidup dengan sepenuhnya.
Selain itu, syarat utama dalam menggali potensi diri yaitu jika kita percaya pada kemampuan dan kekuatan kita sendiri. Tanpa kepercayaan diri, kita akan ragu-ragu dalam segala tindakan kita, bahkan kadang-kadang dapat menyebabkan kita tidak berani berbuat apapun. Kepercayaan diri ini sedikit dipelajari karena kepercayaan diri terbentuk secara perlahan-lahan dalam kehidupan kita. Banyak orang yang merasa tidak mampu berbuta apa-apa dan merasa tidak sebaik orang lain. Mereka merasa akan selalu gagal dalam segala hal sehingga tidak berani berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain, akhirnya banyak yang memilih tidak melakukan apa-apa. Mereka kurang menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini dan dapat melakukan apa saja. Disamping kita dapat melakukan banyak hal, masih ada banyak hal pula yang tak dapat kita lakukan. Sehingga apabila ada sedikit banyak diantara kita yang merasa bahwa diri kita ini rendah atau terbatas, entah perasaan itu berasal dari keadaan fisik atau mental, maka kita harus berusaha memperoleh kepercayaan diri yang dibutuhkan dan sadar akan keterbatasan diri yang ada pada diri kita. Kesadaran akan keterbatasan diri bukan berarti bahwa kita menerima nasib begitu saja. Kesadaran akan keterbatasan diri berarti mengetahui akibat dari keterbatasan itu dan bertindak sebaik mungkin dalam kondisi yang ada.
Kita dibekali oleh Tuhan untuk dapat berpikir dan berkembang. Tidak ada kata terlambat untuk mengerjakan hal-hal yang kita inginkan. Kita harus maju dan melakukan apa saja yang kita inginkan. Kita perlu menjebol keterbatasan kita, juga dapat mengoreksi diri kita sendiri. Dalam bidang apakah yang kita kuasai untuk dapat dikembangkan. Sudah barang tentu kita semua ingin menjadi diri yang khas. Itu biasa dan amat normal, dan sekian banyak manusia di dunia adalah istimewa. Tak seorangpun di dunia ini pernah dan akan persis sama seperti kita. Kita tak ada duanya. Tetapi kita belum sempurna menjadi diri kita dan masih harus terus berkembang. Kita masih berada dalam proses menjadi semakin khas. Oleh karena itu, biarkanlah diri kita berkembang sekarang ini juga, sebab waktu kini adalah kesempatan yang tak bakal terulang kembali. Finally, keep fight n’ chayo!!!

jangan marah dan bersabarlah

JANGAN MARAH DAN BERSABARLAH

Senin, 27 Desember 2004, pukul 22.00
Malam semakin larut, aku belum juga beranjak dari meja belajarku. Entah mengapa tugas fisika dari SMA kurasa begitu berat. Ada satu soal yang kurasa sangat sulit. Sudah beberapa rumus coba kuaplikasikan tapi hasilnya nihil semua jawaban yang kuperoleh tidak sesuai dengan opsi yang ada di LKS. Aku teliti kembali mungkin penghitunganku yang salah, dan aku baca lagi pertanyaannya mungkin ada yang salah dalam pemahamanku sehingga aku kurang tepat menggunakan rumusnya. Malam semakin merangkak dan sunyi seolah tak ada satu kehidupanpun yang terjaga. Jangkrik- jangkrikpun enggan bersuara, hanya suara jam dinding di kamarku yang terdengar sangat keras, kedua jarumnya menunjuk tepat angka dua belas. Sementara tugasku belum selesai. Aku pun memilih diam dan termenung daripada mengerjakan soal. Rupanya kejadian tadi sore masih mengganjal di pikiranku.
Senin, 27 Desember 2004, pukul 14.30
Aku mengajar di Taman Pendidikan Al Qur’an ( TPQ ) Al Huda, salah satu Lembaga Pendidikan Al Qur’an di kota Nganjuk. Kegiatan belajar mengajar berlangsung dari jam setengah tiga hingga jam empat lebih lima belas menit sore. TPQ Al Huda mengasuh lebih dari dua ratus lima puluh santri, yang rata- rata masih duduk di bangku TK dan SD. Karena banyaknya jumlah santri maka tidaklah cukup jika semuanya berada di gedung TPQ, yang berukuran 30 x 8 meter. Namun hal itu tidak menghambat kegiatan belajar mengajar di TPQ karena masih tersedia tempat lain  yang bisa digunakan yakni serambi masjid Al Huda, yang terletak di sebelah selatan gedung TPQ Al Huda. Ada tiga kelas yang bertempat di serambi masjid dan salah satunya adalah kelas yang aku pegang. Jumlah santriku tidak lebih dari dua puluh santri.
Tadi sore aku terlalu capek dan pusing karena tugas yang sangat banyak dari guru SMA, ditambah lagi beban hafalan nadzom dari madrasah diniyah Al Huda karena saat itu selain sebagai murid salah satu SMA Negeri di kota Nganjuk dan ustadzah TPQ, aku juga merupakan salah satu santri diniyah Al Huda yang juga satu yayasan dengan TPQ Al Huda tersebut. Sore tadi, emosiku labil, temperamenku naik, aku tidak bisa obyektif dalam menghadapi masalah sehingga jadilah hari ini hari yang paling mengerikan bagi santri- santriku. Sebenarnya aku tidak ada niatan untuk menjadikan mereka sebagai ajang pelampiasan emosiku. Namun apalah daya aku telah lepas kendali. Awalnya santri- santri nampak seperti hari-hari sebelumnya. Seperti biasa tidak semua santri memperhatikan penjelasanku, masih ada saja diantara mereka yang suka ramai, maklum anak kecil. Saat situasi demikian, biasanya aku berusaha menguasai suasana dan berusaha agar mereka bisa tenang dan memahami apa yang kusampaikan. Namun kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan emosi, aku merasa pusing dan stress menghadapi mereka. Aku lepaskan amarahku hingga merekapun ketakutan.
Sepulang dari ngajar TPQ, aku mengambil air wudlu dan sholat ashar. Setelah itu, aku merenung, mencoba menenangkan diri. Aku mulai sadar bahwa apa yang baru saja aku perbuat tadi di TPQ adalah salah. Namun tak bisa diingkari lagi bahwasanya berupaya agar dalam seluruh hidup sama sekali tidak pernah marah adalah mengingkari kodrat kemanusiaan. Sebab amarah merupakan tabiat dasar perwatakan manusia. Maka akupun tak bisa bermimpi untuk bisa nenghindari sepenuhnya. Alangkah arifnya jika pada saat marah, hal itu dilakukan secara proporsional dan fungsional. Dan alangkah ngerinya sekedar membayangkan sebuah amarah yang lepas tak terkendali. Sebab sudah dapat diduga madharat yang bakal diakibatkannya. Tak henti- hentinya aku merenung hingga aku lupa dengan kitab nadzom yang dari tadi cuma aku pegangin. Sang mentari mulai beranjak ke peraduannya, langit senja hendak berlalu. Aku belum menghafal nadzom satupun. Mulai kucoba menghafalnya kata per kata hingga satu nadzom tapi entah mengapa sulit rasanya aku menghafalnya. Tak biasanya aku seperti ini. Ya Rosyid, berikanlah kemudahan pada hamba.
Selasa, 28 Desember 2004, pukul 00.40
Mataku terasa berat untuk tetap terjaga. Aku sudah mulai ngantuk. Tubuhku terasa lelah. Kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Aku tak peduli dengan tugasku dari SMA yang belum juga aku selesaikan. Dengan menyebut nama-Mu Ya Allah hidupku juga matiku.
Selasa, 28 Desember 2004, pukul 07.00
Begitu memasuki ruang kelas aku langsung  menuju ke bangku temanku yang paling genius di kelasku. Seperti biasa dia pasti sudah ngerjain tugas dan siap buat dicopy. Aku mengcopy satu soal yang semalam belum juga kutemukan jawabannya. Beberapa menit kemudian guruku datang. Syukurlah aku sudah selesai ngerjain tugas dan tadi juga sempat minta penjelasan dari temanku yang aku mintai copy-an tugas. Lumayan jelas sich. Jadi aku sudah siap seandainya nanti kebagian ngerjain dan jelasin soal satu yang sulit itu.
Selasa, 28 desember 2004, pukul 14.30
Aku mengajar seperti hari- hari biasa dan tidak seperti hari kemarin. Emosiku mulai stabil. Syukurlah semua berjalan lancar. Semua santriku tampak seperti biasa. Mereka tidak ketakutan lagi seperti kemarin.
Selasa, 28 Desember 2004, pukul 19.30
Jam istirahat madrasah diniyah. Saatnya melaksanakan sholat isya’ berjamaah. Usai sholat, temanku diniyah yang juga salah satu ustadzah TPQ, Iin namanya, dia menyapaku dan sambil melepas mukenanya dia berkata, “Udah do’ain santri-santrinya belum?“. Oh… aku bingung menjawabnya karena aku sadar kalau akhir-akhir ini aku telah lalai mendo’akan mereka. “Belum“ jawabku singkat. Tapi perlahan-lahan aku coba untuk menceritakan semua masalahku ke dia “In, aku kemarin bla bla bla“ aku jelasin semua dengan gambling. “Jadi kamu marahin mereka tanpa alasan yang jelas?“ tanyanya dengan heran. “Iya. Yach… Cuma gara-gara mereka terlalu rame dan nggak merhatiin pelajaran, itu sich udah biasa terjadi tapi nggak tahu kenapa kemarin aku ngerasa ulah mereka itu keterlaluan“ jawabku. “Ya udah, mulai sekarang coba dech do’ain mereka setiap usai sholat” sarannya. “Ya dech, Insyaallah. Do’ain aku supaya bisa istiqomah ya!”. Thet… thet… bel masuk jam kedua berbunyi. Waduh!!! gimana nich? padahal aku belum membereskan mukenaku. Dengan terburu-buru aku dan Iin beranjak ke kelas.
Rabu, 29 desember 2004, pukul 14.30
Aku mulai mendo’akan mereka dan kuharap aku bisa istiqomah. Setelah kejadian itu, aku mencoba tersenyum ramah kepada mereka seperti dulu. Seperti biasa, setelah salam dan membaca do’a iftitah, mereka kupandu membaca jilid bersama-sama dan subhanalloh, santri-santri semuanya membaca padahal biasanya ada yang masih makan snack, masih ngobrol, tidak mau membaca. Tapi kali ini mereka benar-benar lain. Dalam angan aku bertanya, “Apakah mereka takut aku marahi seperti tempo hari?“ lalu aku perhatikan satu per satu dan tidak ada yang terlihat ketakutan bahkan mereka terlihat ramah. Dalam hati aku berucap syukur kepadaNya, “Alhamdulillah! Ya Allah, Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan do’a hamba-Mu. Terimakasih teman! Kau ingatkan aku yang telah lalai melantunkan do’a untuk santri-santri”.
Mungkin benar bahwasanya “Experience is the best teacher“. Aku banyak mendapat pelajaran dari pengalamanku tersebut. Aku tidak boleh mudah marah, tidak mengambil keputusan untuk bertindak saat emosi sedang labil, dan supaya senantiasa bersabar dalam menghadapi cobaan. Dalam hal ini, Allah berfirman :
“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi yang lain. Sanggupkah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.”(Q.S. Al Furqon : 20).
Abu Hurairah pernah bercerita :
ان رجلا قال للنبي صلىالله عليه وسلم اوصيني قال لا تغضب فرد د مرارا قال لاثغضب ( رواه البخارى ومسلم )
Artinya : “Sesungguhnya pernah berkata seorang lelaki kepada Nabi SAW.: Berilah aku wasiat. Maka Rasulullah menjawab : jangan marah! Lantas orang itu pun mengulanginya lagi  hingga beberapa kali. Dan beliaupun tetap menjawabnya: jangan marah!.” (H.R. Bukhori Muslim).
Maka jelaslah, dari berbagai musibah dan cobaan yang datang, terkandung hikmah agar kita bersabar. “Setiap keletihan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, perlakuan jahat, dan kegalauan yang menimpa seorang muslim, hingga duri yang menusuknya sekalipun, semua itu akan menyebabkan Allah menghapuskan kesalahan (dosa-dosanya).” (H.R. Bukhori, Muslim, Tirmidzi, dan Ahmad).

resensi laskar pelangi

Laskar Pelangi Judul    :    Laskar Pelangi

Pengarang    :    Andrea Hirata

Penerbit    :    PT Bentang Pustaka

Tempat terbit    :    Yogyakarta

Tahun terbit    :    2008

Tebal buku    :    533 halaman

Yang begini memang langka dan aneh. Di tengah-tengah sajian sastra bertema urban super-ringan, pornografi, serta hedonistik, Andrea berani mencipta novel yang sama sekali tak sejalan dengan trend pasar tersebut. Ia mampu mengobati dahaga para pecinta buku akan buku-buku Indonesia bermutu. Laskar Pelangi adalah novel pertama dari rangkaian empat karya tetralogi Laskar Pelangi. Novel keduanya adalah Sang Pemimpi, kemudian disusul novel berjudul Edensor yang mana keduanya, novel kedua dan ketiga, mampu mencapai best seller. Adapun novel terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi adalah Maryamah Karpov. Cerita Laskar Pelangi berawal dari sepuluh bocah Melayu Belitong yang bersama-sama memulai pendidikannya di SD Muhammadiyah, sekolah miskin yang termarginalkan. Sejak kehadiran bocah yang disebut-sebut sebagai Laskar Pelangi itu, SD Muhammadiyah seperti menemukan ruhnya. Mereka disebut sebagai Laskar Pelangi karena kegemaran mereka menatap dan menikmati indahnya pelangi. Dengan penuh ketabahan, Pak Harfan dan Bu Mus membimbing murid-muridnya. Mereka berdua adalah sosok guru yang memiliki dedikasi yang tinggi dalam dunia pendidikan. Mereka selalu memberi motivasi dan tak lupa pula membekali murid-muridnya dengan akhlak yang mulia. Anak-anak Laskar Pelangi adalah anak-anak yang luar biasa dan tak pernah menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka. Karena merekalah, sekolah miskin yang tak pernah terdengar gaungnya atau bahkan telah diremehkan banyak orang itu menggeliat bangun dan menunjukkan eksistensinya. Adalah Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya, namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus. Yang cukup mencengangkan disini adalah kejahatan terencana yang dilakukan Mahar dibalik tatanan artistik karnaval buatannya itu, yang membuat teman-temannya tak bisa berbuat apa-apa untuk melawannya. Selang beberapa hari kemudian, datang murid baru pindahan dari sekolah PN (Perusahaan Negara) Timah, Flo namanya. Entah mengapa dia lebih memilih sekolah miskin itu dari pada sekolah PN, sekolah yang sangat bergengsi di Belitong. Jadilah Laskar Pelangi beranggotakan sebelas anak. Semenjak kehadiran Flo sikap Mahar semakin aneh dan tak masuk akal karena mereka berdua memiliki pribadi unik yang paradoks namun mereka sangat kompak dalam segala hal. Tak hanya Mahar, tapi juga Lintang, seorang kuli kopra cilik yang genius, yang juga berhasil mengharumkan nama perguruan Muhammadiyah melalui prestasinya mendapat nilai seratus mutlak dalam Lomba Kecerdasan melawan sekolah-sekolah bergengsi termasuk sekolah PN Timah. Kira-kira bagaimana tatanan artistik karnaval buatan Mahar? Mengapa Flo ingin pindah ke sekolah miskin itu? dan bagaimana jurus Lintang dalam Lomba Kecerdasan? serta bagaimana pula karakter-karakter unik tokoh-tokoh Laskar Pelangi lainnya? Temukan jawabannya dalam novel Laskar Pelangi. Begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam masa kecil para anggota Laskar Pelangi. Novel ini sangat layak dibaca khususnya oleh para pemerhati pendidikan atau siapa saja yang masih percaya akan adanya pintu keajaiban lain untuk mengubah dunia, yakni pendidikan. Setiap orang, bagaimanapun terbatas keadaannya, berhak memiliki cita-cita. Keinginan yang kuat untuk mencapai cita-cita itu mampu menimbulkan prestasi-prestasi lain sebelum cita-cita sesungguhnya tercapai. Keinginan kuat itu juga memunculkan kemampuan-kemampuan besar yang tersembunyi dan keajaiban-keajaiban di luar perkiraan. Namun jangan heran jika anda nantiya merasa jenuh atau kadang harus memeras otak oleh karena bahasa dan juga istilah-istilah yang digunakan terlalu ilmiah atau kadang juga ditemui bahasa-bahasa Melayu Belitong yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja. Namun di bagian akhir novel ini tersedia Glosarium yang cukup membantu pemahaman anda. Sebagai penulis pemula, Andrea sangat menakjubkan. Ia mampu langsung menulis tetralogi dengan gaya realis yang bertabur metafora yang berani, tak biasa, tak terduga, kadangkala ngawur, namun amat memikat. Muatan intelektualitas dan spiritualitas yang tinggi mampu menjadikan karya-karyanya sebagai best seller.

my dream

Siti Qurroti A’yun
My experiences and my dreams

I began my study in IAIN Sunan Ampel Surabaya at September, 10 2007. I feel apart from my surrounding. Because of unparticipated in OSCAR, I didn’t know all my friends. But I was know some peoples which I knew before in one of organization.
A year ago, I studied in State University of Surabaya ( UNESA ). I was also join to one of organization in IAIN Sunan Ampel  so I had connected with some peoples in IAIN although I was a student in UNESA. I studied in UNESA about one semester and two weeks. In second semester I studied in there just two weeks. Because of sick, I was naught all study programs which I was programed. It’s different with leave ( cuti ).
After six month, I register to IAIN Sunan Ampel  and praise be to God I received there so in 2007 I move from UNESA to IAIN Sunan Ampel. I not take a part in OSCAR so I haven’t many recognize in IAIN, exspecially in Tarbiyah faculty. I think it’s a problem to me so I want to solve that problem. I was experiented be a student on university therefore I know how to opposite a new student of university.
On Monday, the firts day I studied in IAIN, I entering a class to follow  an arab language test. I was late about twenty minutes so I nervous opposite many questions on the text. I refresh myself in order to can answer rightly. After that I follow reading holy Qur’an test.
On Tuesday, I look a result of test on announcement board. Praise be to God I entering class B, which all of people say that it’s favorite intensive class. I shocked. It’s challenge to me. There are humour experience,after look an announcement I entering a class B while brought many language arab books which I took from LPBA. I divided that books to my friends and so gave informations about arab language intensive. Surprised, my friends consider me a dosen assistant.
Wednesday is the first day I attend classes in class F. On the first week many lesson not actived. Once upon a time, I try to write an article its the title “Urgensi Organisasi“ and I send to ‘Kombas’crew. My article published at ‘Kombas’ third edition. Beginning, I affraid if there anyone disagree and then critisize my opinion but I think it’s a consequence to a writer.
I have many targets in a first semester. They are about IP, organization, get a scholarship, and intelectual development. I have to get high IP and not lesson be repeat. I want to active on organization. Consequently, I must manage a time preparly. I musn’t affraid to try write my opinion sistematically. So I follow ‘Kombas’ to create it. I want to get a scholarship because if I can do it I will minimize a cost my study. An organization, is one of choice rightly to evolve my intelectual question. Finally, I hope I can create my dreams in order to make my parent proud of  me.

cerpenQ

Malam 20 februari
Aku berjalan melewati gang dosen, gang kecil menuju kampus yang tak pernah luput dari hiruk pikuk mahasiswa kampusku. Sesekali kusunggingkan senyumku ketika ada orang yang menyapaku. Sesekali aku berhenti, bercengkrama, dan bercanda sejenak dengan teman sekelas atau seorganisasi yang kebetulan juga lewat gang itu. Beberapa menit kemudian, aku sampai di depan kelas. Aku masuk dan seperti biasa aku mengambil tempat tepat di depan meja dosen. Aku ikuti kuliah hari pertama setelah libur panjang ini dengan ogah-ogahan. Mungkin karena otakku terlalu lama berhibernasi. Kuperhatikan seisi ruanganku, cuma ada dua temanku yang tidak masuk. Tidak sedikit teman sekelasku yang berasal dari Madura. Kelas-kelas lainpun mungkin juga demikian. Penghuni kosku juga didominasi oleh orang Madura. Di lingkungan organisasi, organ-organ Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) baik itu BEM Fakultas maupun BEM Institut pun dipimpin oleh orang Madura. Sungguh mengerikan jika membandingkan fenomena ini dengan kerusuhan Sampit satu tahun silam, yang melibatkan suku Dayak dan suku Madura.
Tragedi di Sampit hanyalah salah satu rangkaian peristiwa kerusuhan yang terjadi oleh etnis Madura yang sejak berdirinya Kalimantan Tengah telah melakukan lebih dari enam belas kali kerusuhan besar dan banyak sekali kerusuhan kecil yang banyak mengorbankan warga non Madura. Berawal dari tahun 1972 di Palangka Raya, seorang gadis Dayak digodai dan diperkosa, terhadap kejadian itu diadakan penyelesaian dengan mengadakan perdamaian menurut hukum adat. Sepuluh tahun kemudian, terjadi kasus pembunuhan, pelakunya tidak tertangkap, penyelesaian secara hukum tidak ada. Menyusul tahun berikutnya, terjadi kasus pembunuhan di Kasongan. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1996, terjadi kasus pembunuhan di Palangka Raya. Semua itu dilakukan oleh suku Madura atas suku Dayak. Banyak masalah -misalnya masalah sengketa tanah, penambangan emas, dan balas dendam keluarga- antara orang  Dayak dan orang Madura yang berujung pada pertikaian dan pembunuhan. Ironisnya, menilik dari tahun 1972 hingga tahun 2001, penyelesaian secara hukum atau pengusutan yang dilakukan terasa berat sebelah. Jika orang Madura yang bersalah maka hukuman yang diberikan sangat ringan atau bahkan tidak ada penyelesaian secara hukum. Namun jika orang Dayak yang bersalah, mereka langsung dihukum berat. Pihak berwenang nampaknya belum mampu menyelesaikan secara tuntas.
“Ayu, kamu nunggu siapa? yang lain udah pada pulang tuch.” suara Kaka, teman sekelasku, membuyarkan lamunanku.
“Eh… oh… nggak nunggu siapa-siapa kok. Aku lagi ngelamunin kamu, nggak tahu kenapa akhir-akhir ini aku tertarik buat ngelamunin orang Madura.” jawabku sekenanya.
“Nggak usah bingung kali… kita emang menarik buat dilamunin, apalagi cowok cakep kayak aku ini.” candanya sambil melangkah pergi.
“Mau ke kantin ya?” tebakku.
“Tau aja! Perhatian banget sich sama aku.” teriaknya sambil keluar dari ruangan. Kaka memang suka bercanda, tingkah konyolnya tidak pernah ada habisnya. Dia mulai akrab denganku kira-kira dua bulan yang lalu, ketika dia nyomblangin aku sama Syahriel, kakak angkatanku, empat tingkat di atasku, yang kebetulan tinggal sekos sama Kaka dan satu organisasi di IKAMADU (Ikatan Mahasiswa Madura).
Setelah sadar bahwa aku sedang di kelas sendirian, aku segera meninggalkan kelas. Aku ingin segera menuangkan pikiranku ini di atas kertas yang tak pernah membantahku jika aku salah dan tak pernah memujiku jika aku benar. Begitu sampai di kos, ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Lelah, penat, pusing serasa membebaniku. Linda, Alma, dan Dina sedang bercerita, entah apa yang mereka bicarakan. Maklumlah, setelah libur panjang roomateku selalu bawa oleh-oleh segudang cerita. Mereka semua adalah anak Madura. Sembilan dari tiga belas penghuni kosku adalah asli Madura. Mereka selalu menggunakan bahasa Madura setiap kali bertemu dengan lawan bicara sesama Madura. Sehingga tak lama tinggal satu kos dengan mereka membuatku banyak tahu tentang bahasa Madura.
“Kamu kok kelihatan bingung gitu? Wah pasti mau nelur nich. Ngomong-ngomong mau nulis artikel tentang apa, Yu?” Dina mencoba menebak apa yang ada dalam pikiranku.
“Tambah pinter aja kamu, Din. Yup! Kamu bener banget, aku lagi bingung mikir artikelku, tentang orang Madura.” jawabku jujur.
“Emang ada apa dengan orang Madura? Cantik-cantik dan cakep-cakep yach?” Linda yang sedang duduk di samping pintu kamar bertanya penasaran.
“Ye… narsis banget sich. Ntar aja baca sendiri, mungkin minggu-minggu ini udah kelar kok.” jawabku bikin mereka tambah penasaran.
“Oke dech, nggak apa-apa kalau emang kamu nggak mau cerita. Tapi kamu tanggungjawab ya kalau sampai jerawatku tambah banyak, abis…kamu selalu bikin penasaran.” sahut Linda.
“Pesanku, kamu jangan asal nulis, pikir juga konsekuensinya. Kamu nggak pengen kejadian dulu itu terulang lagi kan? Ketika kamu nulis artikel berjudul my lecture, my rival? Kamu di drop out selama satu minggu. Nggak enak juga kan kalau kita sampai ketinggalan materi kuliah…” kata Alma mengingatkanku.
“sok bijak kamu, Ma.” ledek Linda. Spontan Alma melempar bantal ke arah Linda tapi…
“Au!? Dasar kamu Alma, tambah pusing nich kepalaku.” kataku kesakitan sambil mengelus-elus kepalaku.
“Hwahaha… salah sasaran.” tawa Linda seolah tak berdosa.
Lindapun beranjak dan menuju kamar mandi, hendak mengambil air wudlu, sudah masuk waktu sholat ashar. Aku menyusul dibelakangnya. Alma dan Dina masih asyik bercerita di kamar.
Tanggal 20 Februari 2002….
Artikel berjudul “Apa maumu, orang Madura?” yang kutulis dua hari lalu dimuat di salah satu buletin di kampusku. Hari ini, kuikuti kuliah dengan penuh semangat dari jam pertama sampai jam terakhir. Begitu mata kuliah terakhir selesai, tepatnya pukul empat sore, aku segera meninggalkan kelas. Namun tiba-tiba ada yang memangggilku dari belakang. Aku menoleh.
“ada apa, Kaka?”
“Yu, Aku pengen ngajak kamu ke camp IKAMADU sekarang. Penting banget, jadi nggak bisa ditunda.”
“Tumben kamu kelihatan serius? Biasanya aja kamu pasang tampang ala Tukul Arwana?”
“Ayolah!” serentak dia menarik tanganku dan mengajakku pergi. Aku mencoba mengelak namun tak bisa. Dia bahkan sudah tak peduli lagi dengan semua mata yang melihat tingkahku dan dia. Akhirnya, dengan terpaksa aku mengiyakannya dan diapun melepas genggamannya. Aku berjalan di belakangnya, mengikuti langkahnya. Begitu sampai di camp IKAMADU aku langsung dibawa ke ruangan sempit kira-kira berukuran 3X4 meter dengan putung rokok berserakan di atas asbak yang terletak tepat di samping computer pentium empat yang sepertinya baru saja dibeli  satu minggu lalu, baju dan tas menggantung di salah satu sudut ruangan, Koran tertanggal 17 februari 2002 berserakan di atas lantai. Aku masih berdiri dan Kaka memintaku untuk duduk di atas kasur yang terletak disamping komputer.
“Kalau kamu mau sholat, kamu ke belakang aja, disana ada kamar mandi dan itu mukenanya, di atas rak itu” jelasnya sambil menunjuk rak buku yang ada dibelakangku. Setelah itu, dia langsung pergi. Aku sendirian, sesekali kulihat orang lewat depan kamar, sepertinya mau ke kamar mandi. Diantara mereka ada yang kukenal dan sebagian lagi tidak. Sempat kulihat juga Syahriel, dia hanya menoleh dan tak mengucapkan apapun.
Setelah aku sholat Isya’, Syahriel nyelonong masuk ke ruangan dimana aku berada. Dia sendirian. Jantungku berdebar tak karuan, lebih kencang dari yang pernah kurasakan dulu, ketika dia menyatakan cinta kepadaku. Masih tercatat dalam memori ingatanku, dua bulan lalu dia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Syahriel, dia memang cowok kriteriaku. Perawakannya tinggi tegap, wajahnya khas Madura, otaknya encer, senyumnya indah, siapapun akan terpesona olehnya, tatapan matanya penuh cinta, dia aktivis, pengetahuannya luas. Tapi aku menolak cintanya, mungkin karena aku kurang suka dengan kecongkakannya. Di samping itu, aku ingin tetap komitmen pada janjiku pada diriku sendiri. Aku belum ingin membebani pikiranku dengan hadirnya lelaki yang mencoba mengisi kekosongan hatiku.
Lama aku dan dia terdiam. Akhirnya aku mencoba memecah keheningan,
“Kenapa kau undang aku kesini?”
“Langsung saja jelaskan! Kenapa kamu mengklaim kita seperti itu?”
“Tapi sebelumnya aku ingin tahu, apa yang bisa kamu tangkap dari tulisanku?”
“Dalam artikelmu kamu menuliskan kekhawatiranmu akan kemungkinan terjadinya pengambilalihan kekuasaan oleh suku Madura atas yang lainnya, kamu mengatakan demikian karena kamu berkaca pada kasus tragedi Sampit. Bukankah begitu?”
“Ya, kamu benar. Perlu kamu ketahui, tulisanku itu bermula dari keherananku atas fenomena yang ada di kampus kita. Kamu pasti tahu siapa yang dominan di kampus, siapa pemimpin BEM baik itu BEMF maupun BEMI. Bukannya su’udzon, aku hanya membuat perbandingan saja antara fenomena tersebut dengan tragedi Sampit satu tahun silam, tepatnya tanggal 17-20 februari 2001, yang melibatkan suku Madura dan suku Dayak dimana suku Maduralah yang pertama melakukan penyerangan.”
“kamu nggak sepenuhnya salah. Memang watak orang Madura keras. Tapi perlu kamu ketahui, sekeras-kerasnya watak kita, nggak mungkinlah kita ngelakuin itu. Kita adalah mahasiswa, orang-orang yang berpendidikan tinggi dan bermoral. Kita sadar benar akan pluralitas bangsa kita. Sedangkan mereka yang terlibat dalam kasus Sampit adalah orang-orang yang berpendidikan rendah, orang pedalaman yang kurang paham tentang moral dan tidak tahu bagaimana hidup rukun berdampingan satu sama lain. Disinilah kesalahanmu, kamu hanya memandang dari satu sisi saja.”
“Oke! Aku terima argumenmu. Aku sadar aku salah. Tapi menurutku sangat tidak menutup kemungkinan orang berpendidikan menjadi otak dalam kasus kerusuhan antar etnis. Jadi mahasiswapun bagiku bisa melakukan hal serupa.”
“Sangat kecil kemungkinan bagi mahasiswa seperti kita untuk menjadi dalang politik karena terlalu kecil bekal kita untuk bisa masuk dalam permainan politik dalam skop nasional.”
“Kalau boleh tahu, dalam tragedi Sampit tahun lalu kenapa suku Madura tidak bermoral barang sedikitpun? Buktinya suku Dayak telah memperlakukan mereka baik-baik, suku Dayak mau menerima mereka. Tapi mereka malah melakukan hal-hal yang tidak toleran terhadap hampir seluruh aspek kehidupan suku Dayak. Bukankah ini merupakan arogansi budaya suku Madura yang memandang remeh budaya lokal suku Dayak? Yang pada akhirnya menimbulkan berbagai gesekan yang mana akumulasi gesekan-gesekan tersebut menimbulkan perseteruan dan perkelahian massal yang membesar dan memuncak dari waktu ke waktu.”
“Kamu tadi mengatakan bahwa warga suku Dayak mau menerima suku Madura siapapun dia. Nah, disinilah letak kesalahannya, mereka menerima siapa saja tanpa melakukam seleksi terlebih dahulu.”
“Lantas bagaimana dengan pertimbangan dari tokoh-tokoh Madura yang menelorkan ancaman-ancaman kepada para petinggi Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah untuk memaksakan kehendak mereka dalam penyelesaian kerusuhan? Apakah mereka tidak berpikir bahwasanya Kalimatan Tengahlah yang menjadi korban kelalaian para tokoh-tokoh suku Madura yang gagal membina warganya yang mencari kehidupan di Kalimantan Tengah?”
“Itu hanya kebodohan suku Dayak, mengapa mereka mau dikebiri begitu saja. Tapi di sisi lain itu juga kesalahan suku Madura karena mereka tidak bisa membina warganya dengan baik”
Aku suka berdskusi dengannya karena dia tahu banyak hal dan pandai berargumen.  Beberapa detik kemudian dia berdiri dan hendak meninggalkan ruangan ini. Tapi sebelumnya dia bertanya padaku,
“Masih pengen ngejomblo?” tanyanya sambil melirik ke arahku.
“iya.” jawabku singkat.
“Oh ya, kamu harus merevisi artikelmu malam ini juga dan besok pagi kamu boleh pulang.” ucapnya tegas.
Entah kenapa mataku begitu sulit untuk kupejamkan. Meski telah kucoba tapi tetap tak bisa. Akhirnya aku putuskan untuk membuat revisi artikelku. Diantaranya aku hilangkan dan aku tambah beberapa paragaraf. Aku  juga mencoba menyimpulkan hasil diskusiku dengan Syahriel. Aku menambahkan diantaranya tentang alternatif solusi atas konflik etnis di negeri ini.
Setelah semua selesai, kucoba untuk memejamkan mataku meski hanya sejenak. Beberapa menit kemudian, aku tertidur. Kulepas semua penatku, kubawa hidupku ke alam mimpi, mimpi indah yang selalu temani malam-malamku.
21 februari 2002….
Mentari pagi itu manyapaku dengan senyum indahnya. Namun senyumku pagi ini tak kalah indahnya dengan senyum sang mentari di balik jendela itu. Puas! Itulah yang kurasa saat ini karena semuanya telah terselesaikan dan beban di kepalaku mulai hilang satu per satu.
Aku keluar dari camp IKAMADU dan menuju kampus pukul 07.30. Aku malas untuk memikirkan penampilanku hari ini. Aku berusaha untuk tidak menampakkan sama sekali kepada siapapun kalau hari ini AYU adalah mahasiswi bekas tawanan semalam. Sampai di kampus, beberapa mata memandangku dengan tatapan tak seperti biasanya. Ada tatapan kagum, benci, heran, dan bahkan kasihan. Masa bodoh dengan semua itu. Aku tetap berjalan tanpa menghiraukan suara-suara yang memanggilku. Akhirnya akupun sampai di kelas dan tak kusangka teman-temanku langsung menyambutku dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Tak kusangka kabar ini begitu cepat terekspose. Aku lebih memilih diam daripada menanggapi pertanyaan-pertanyaan konyol mereka. Aku selalu memilih diam ketika emosiku sedang labil. Aku tidak ingin orang-orang tak bersalah menjadi korban pelampiasan emosiku. Pikiranku melayang, anganku menerawang. Dalan hati ku berucap syukur kepada Sang Rabb karena Dia masih menyayangiku.

elfalasy’s poem

loveKenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
Ketika kita menangis?
Ketika kita membayangkan?
Ketika kita berciuman?
Ini karena hal terindah di dunia TIDAK TERLIHAT…
____
Kita semua agak aneh…dan hidup sendiri juga agak aneh….
Dan ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya SEJALAN dengan kita..
kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa
yang dinamakan C I N T A . .
_____
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan.
Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan . .
Tapi ingatlah…melepaskan BUKAN akhir dari dunia . .
melainkan awal suatu kehidupan baru . . .

_____
Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas…
LAGI..
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya . .
tapi..ketika cinta itu mati . . .
kamu TIDAK perlu mati bersamanya . .

_____
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang . .
MELAINKAN mereka yang tetap T E G A R ketika mereka jatuh
Entah bagaimana…dalam perjalanan kehidupan,
kamu belajar tentang dirimu sendiri . . .
dan menyadari . . bahwa penyesalan tidak seharusnya ada . . .
HANYALAH penghargaan abadi atas pilihan2 kehidupan yang telah kau
buat

_____

TEMAN SEJATI . . . mengerti ketika kamu berkata ” A k u l u p a . .”
Menunggu selamanya ketika kamu berkata ” T u n g g u s e b e n t a r “
Tetap tinggal ketika kamu berkata ” T i n g g a l k a n a k u s e n d i r i

Membuka pintu meski kamu BELUM mengetuk dan berkata ” B o l e h k a h
s a y a m a s u k ?”

_____

MENCINTAI . . . BUKANlah bagaimana kamu melupakan . . .
melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN . .
BUKANlah bagaimana kamu mendengarkan . . .
melainkan bagaimana kamu MENGERTI . . .
BUKANlah apa yang kamu lihat . . .
melainkan apa yang kamu RASAKAN . .
BUKANlah bagaimana kamu melepaskan . . .
melainkan bagaimana kamu BERTAHAN . . .

_____
Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati . .
Dibandingkan menangis tersedu2 . . .
Air mata yang keluar dapat dihapus .
sementara air mata yang tersembunyi ,
menggoreskan luka yang tidak akan pernah H I L A N G . . .

_____
Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG menang . .
Tapi ketika CINTA itu T U L U S , meskipun kalah,
kamu TETAP MENANG hanya karena kamu berbahagia . . .
dapat mencintai seseorang . .
LEBIH dari kamu mencintai dirimu sendiri . . .

_____
Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang
BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita
MELAINKAN karena kita menyadari
bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.

_____
Apabila kamu benar2 mencintai seseorang, jangan lepaskan dia . .
jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu benar2 mencintai
MELAINKAN . BERJUANGLAH DEMI C I N T A M U ( ” Fight For Your Dream” )

Itulah: C I N T A S E J A T I . . .
bukannya seperti: ” Easy Come . . . Easy Go “
_____

Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan
DARIPADA berjalan bersama orang “yang tersedia”
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai
DARIPADA orang yang berada di “sekelilingmu”
Lebih baik menunggu orang yang tepat
karena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang dengan hanya
“seseorang”
_____

Kadang kala, orang yang kamu cintai
adalah orang yang PALING menyakiti hatimu
dan kadang kala, teman yang membawamu ke dalam pelukannya
dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari.

my profile

cantik-ayun-2Assalamu’alaikum. Allowww…… pleasa join with me! namaku a’yun, asli kota angin alias bocah nganjuk, east java! Q lahir di Nganjuk 5 April 1988 (tak tunggu kadonya yaw…he..he..) Aku adalah insan lemah yang selalu mengejar mimpi entah kapan akan berhenti. Hidup dengan mimpi itu indah. akan lebih indah lagi jika mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan. wahai kawan! aku butuh teman yang mampu untuk memotivasiku setiap saat. aku menginginkan teman yang punya prinsip hidup dan selalu optimis dalam menjalani manis, getir, dan pahitnya kehidupan. Selamat Datang hai manusia-manusia yang poenya segalanya…

bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu!!!