cerpenQ

Malam 20 februari
Aku berjalan melewati gang dosen, gang kecil menuju kampus yang tak pernah luput dari hiruk pikuk mahasiswa kampusku. Sesekali kusunggingkan senyumku ketika ada orang yang menyapaku. Sesekali aku berhenti, bercengkrama, dan bercanda sejenak dengan teman sekelas atau seorganisasi yang kebetulan juga lewat gang itu. Beberapa menit kemudian, aku sampai di depan kelas. Aku masuk dan seperti biasa aku mengambil tempat tepat di depan meja dosen. Aku ikuti kuliah hari pertama setelah libur panjang ini dengan ogah-ogahan. Mungkin karena otakku terlalu lama berhibernasi. Kuperhatikan seisi ruanganku, cuma ada dua temanku yang tidak masuk. Tidak sedikit teman sekelasku yang berasal dari Madura. Kelas-kelas lainpun mungkin juga demikian. Penghuni kosku juga didominasi oleh orang Madura. Di lingkungan organisasi, organ-organ Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) baik itu BEM Fakultas maupun BEM Institut pun dipimpin oleh orang Madura. Sungguh mengerikan jika membandingkan fenomena ini dengan kerusuhan Sampit satu tahun silam, yang melibatkan suku Dayak dan suku Madura.
Tragedi di Sampit hanyalah salah satu rangkaian peristiwa kerusuhan yang terjadi oleh etnis Madura yang sejak berdirinya Kalimantan Tengah telah melakukan lebih dari enam belas kali kerusuhan besar dan banyak sekali kerusuhan kecil yang banyak mengorbankan warga non Madura. Berawal dari tahun 1972 di Palangka Raya, seorang gadis Dayak digodai dan diperkosa, terhadap kejadian itu diadakan penyelesaian dengan mengadakan perdamaian menurut hukum adat. Sepuluh tahun kemudian, terjadi kasus pembunuhan, pelakunya tidak tertangkap, penyelesaian secara hukum tidak ada. Menyusul tahun berikutnya, terjadi kasus pembunuhan di Kasongan. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1996, terjadi kasus pembunuhan di Palangka Raya. Semua itu dilakukan oleh suku Madura atas suku Dayak. Banyak masalah -misalnya masalah sengketa tanah, penambangan emas, dan balas dendam keluarga- antara orang  Dayak dan orang Madura yang berujung pada pertikaian dan pembunuhan. Ironisnya, menilik dari tahun 1972 hingga tahun 2001, penyelesaian secara hukum atau pengusutan yang dilakukan terasa berat sebelah. Jika orang Madura yang bersalah maka hukuman yang diberikan sangat ringan atau bahkan tidak ada penyelesaian secara hukum. Namun jika orang Dayak yang bersalah, mereka langsung dihukum berat. Pihak berwenang nampaknya belum mampu menyelesaikan secara tuntas.
“Ayu, kamu nunggu siapa? yang lain udah pada pulang tuch.” suara Kaka, teman sekelasku, membuyarkan lamunanku.
“Eh… oh… nggak nunggu siapa-siapa kok. Aku lagi ngelamunin kamu, nggak tahu kenapa akhir-akhir ini aku tertarik buat ngelamunin orang Madura.” jawabku sekenanya.
“Nggak usah bingung kali… kita emang menarik buat dilamunin, apalagi cowok cakep kayak aku ini.” candanya sambil melangkah pergi.
“Mau ke kantin ya?” tebakku.
“Tau aja! Perhatian banget sich sama aku.” teriaknya sambil keluar dari ruangan. Kaka memang suka bercanda, tingkah konyolnya tidak pernah ada habisnya. Dia mulai akrab denganku kira-kira dua bulan yang lalu, ketika dia nyomblangin aku sama Syahriel, kakak angkatanku, empat tingkat di atasku, yang kebetulan tinggal sekos sama Kaka dan satu organisasi di IKAMADU (Ikatan Mahasiswa Madura).
Setelah sadar bahwa aku sedang di kelas sendirian, aku segera meninggalkan kelas. Aku ingin segera menuangkan pikiranku ini di atas kertas yang tak pernah membantahku jika aku salah dan tak pernah memujiku jika aku benar. Begitu sampai di kos, ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Lelah, penat, pusing serasa membebaniku. Linda, Alma, dan Dina sedang bercerita, entah apa yang mereka bicarakan. Maklumlah, setelah libur panjang roomateku selalu bawa oleh-oleh segudang cerita. Mereka semua adalah anak Madura. Sembilan dari tiga belas penghuni kosku adalah asli Madura. Mereka selalu menggunakan bahasa Madura setiap kali bertemu dengan lawan bicara sesama Madura. Sehingga tak lama tinggal satu kos dengan mereka membuatku banyak tahu tentang bahasa Madura.
“Kamu kok kelihatan bingung gitu? Wah pasti mau nelur nich. Ngomong-ngomong mau nulis artikel tentang apa, Yu?” Dina mencoba menebak apa yang ada dalam pikiranku.
“Tambah pinter aja kamu, Din. Yup! Kamu bener banget, aku lagi bingung mikir artikelku, tentang orang Madura.” jawabku jujur.
“Emang ada apa dengan orang Madura? Cantik-cantik dan cakep-cakep yach?” Linda yang sedang duduk di samping pintu kamar bertanya penasaran.
“Ye… narsis banget sich. Ntar aja baca sendiri, mungkin minggu-minggu ini udah kelar kok.” jawabku bikin mereka tambah penasaran.
“Oke dech, nggak apa-apa kalau emang kamu nggak mau cerita. Tapi kamu tanggungjawab ya kalau sampai jerawatku tambah banyak, abis…kamu selalu bikin penasaran.” sahut Linda.
“Pesanku, kamu jangan asal nulis, pikir juga konsekuensinya. Kamu nggak pengen kejadian dulu itu terulang lagi kan? Ketika kamu nulis artikel berjudul my lecture, my rival? Kamu di drop out selama satu minggu. Nggak enak juga kan kalau kita sampai ketinggalan materi kuliah…” kata Alma mengingatkanku.
“sok bijak kamu, Ma.” ledek Linda. Spontan Alma melempar bantal ke arah Linda tapi…
“Au!? Dasar kamu Alma, tambah pusing nich kepalaku.” kataku kesakitan sambil mengelus-elus kepalaku.
“Hwahaha… salah sasaran.” tawa Linda seolah tak berdosa.
Lindapun beranjak dan menuju kamar mandi, hendak mengambil air wudlu, sudah masuk waktu sholat ashar. Aku menyusul dibelakangnya. Alma dan Dina masih asyik bercerita di kamar.
Tanggal 20 Februari 2002….
Artikel berjudul “Apa maumu, orang Madura?” yang kutulis dua hari lalu dimuat di salah satu buletin di kampusku. Hari ini, kuikuti kuliah dengan penuh semangat dari jam pertama sampai jam terakhir. Begitu mata kuliah terakhir selesai, tepatnya pukul empat sore, aku segera meninggalkan kelas. Namun tiba-tiba ada yang memangggilku dari belakang. Aku menoleh.
“ada apa, Kaka?”
“Yu, Aku pengen ngajak kamu ke camp IKAMADU sekarang. Penting banget, jadi nggak bisa ditunda.”
“Tumben kamu kelihatan serius? Biasanya aja kamu pasang tampang ala Tukul Arwana?”
“Ayolah!” serentak dia menarik tanganku dan mengajakku pergi. Aku mencoba mengelak namun tak bisa. Dia bahkan sudah tak peduli lagi dengan semua mata yang melihat tingkahku dan dia. Akhirnya, dengan terpaksa aku mengiyakannya dan diapun melepas genggamannya. Aku berjalan di belakangnya, mengikuti langkahnya. Begitu sampai di camp IKAMADU aku langsung dibawa ke ruangan sempit kira-kira berukuran 3X4 meter dengan putung rokok berserakan di atas asbak yang terletak tepat di samping computer pentium empat yang sepertinya baru saja dibeli  satu minggu lalu, baju dan tas menggantung di salah satu sudut ruangan, Koran tertanggal 17 februari 2002 berserakan di atas lantai. Aku masih berdiri dan Kaka memintaku untuk duduk di atas kasur yang terletak disamping komputer.
“Kalau kamu mau sholat, kamu ke belakang aja, disana ada kamar mandi dan itu mukenanya, di atas rak itu” jelasnya sambil menunjuk rak buku yang ada dibelakangku. Setelah itu, dia langsung pergi. Aku sendirian, sesekali kulihat orang lewat depan kamar, sepertinya mau ke kamar mandi. Diantara mereka ada yang kukenal dan sebagian lagi tidak. Sempat kulihat juga Syahriel, dia hanya menoleh dan tak mengucapkan apapun.
Setelah aku sholat Isya’, Syahriel nyelonong masuk ke ruangan dimana aku berada. Dia sendirian. Jantungku berdebar tak karuan, lebih kencang dari yang pernah kurasakan dulu, ketika dia menyatakan cinta kepadaku. Masih tercatat dalam memori ingatanku, dua bulan lalu dia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Syahriel, dia memang cowok kriteriaku. Perawakannya tinggi tegap, wajahnya khas Madura, otaknya encer, senyumnya indah, siapapun akan terpesona olehnya, tatapan matanya penuh cinta, dia aktivis, pengetahuannya luas. Tapi aku menolak cintanya, mungkin karena aku kurang suka dengan kecongkakannya. Di samping itu, aku ingin tetap komitmen pada janjiku pada diriku sendiri. Aku belum ingin membebani pikiranku dengan hadirnya lelaki yang mencoba mengisi kekosongan hatiku.
Lama aku dan dia terdiam. Akhirnya aku mencoba memecah keheningan,
“Kenapa kau undang aku kesini?”
“Langsung saja jelaskan! Kenapa kamu mengklaim kita seperti itu?”
“Tapi sebelumnya aku ingin tahu, apa yang bisa kamu tangkap dari tulisanku?”
“Dalam artikelmu kamu menuliskan kekhawatiranmu akan kemungkinan terjadinya pengambilalihan kekuasaan oleh suku Madura atas yang lainnya, kamu mengatakan demikian karena kamu berkaca pada kasus tragedi Sampit. Bukankah begitu?”
“Ya, kamu benar. Perlu kamu ketahui, tulisanku itu bermula dari keherananku atas fenomena yang ada di kampus kita. Kamu pasti tahu siapa yang dominan di kampus, siapa pemimpin BEM baik itu BEMF maupun BEMI. Bukannya su’udzon, aku hanya membuat perbandingan saja antara fenomena tersebut dengan tragedi Sampit satu tahun silam, tepatnya tanggal 17-20 februari 2001, yang melibatkan suku Madura dan suku Dayak dimana suku Maduralah yang pertama melakukan penyerangan.”
“kamu nggak sepenuhnya salah. Memang watak orang Madura keras. Tapi perlu kamu ketahui, sekeras-kerasnya watak kita, nggak mungkinlah kita ngelakuin itu. Kita adalah mahasiswa, orang-orang yang berpendidikan tinggi dan bermoral. Kita sadar benar akan pluralitas bangsa kita. Sedangkan mereka yang terlibat dalam kasus Sampit adalah orang-orang yang berpendidikan rendah, orang pedalaman yang kurang paham tentang moral dan tidak tahu bagaimana hidup rukun berdampingan satu sama lain. Disinilah kesalahanmu, kamu hanya memandang dari satu sisi saja.”
“Oke! Aku terima argumenmu. Aku sadar aku salah. Tapi menurutku sangat tidak menutup kemungkinan orang berpendidikan menjadi otak dalam kasus kerusuhan antar etnis. Jadi mahasiswapun bagiku bisa melakukan hal serupa.”
“Sangat kecil kemungkinan bagi mahasiswa seperti kita untuk menjadi dalang politik karena terlalu kecil bekal kita untuk bisa masuk dalam permainan politik dalam skop nasional.”
“Kalau boleh tahu, dalam tragedi Sampit tahun lalu kenapa suku Madura tidak bermoral barang sedikitpun? Buktinya suku Dayak telah memperlakukan mereka baik-baik, suku Dayak mau menerima mereka. Tapi mereka malah melakukan hal-hal yang tidak toleran terhadap hampir seluruh aspek kehidupan suku Dayak. Bukankah ini merupakan arogansi budaya suku Madura yang memandang remeh budaya lokal suku Dayak? Yang pada akhirnya menimbulkan berbagai gesekan yang mana akumulasi gesekan-gesekan tersebut menimbulkan perseteruan dan perkelahian massal yang membesar dan memuncak dari waktu ke waktu.”
“Kamu tadi mengatakan bahwa warga suku Dayak mau menerima suku Madura siapapun dia. Nah, disinilah letak kesalahannya, mereka menerima siapa saja tanpa melakukam seleksi terlebih dahulu.”
“Lantas bagaimana dengan pertimbangan dari tokoh-tokoh Madura yang menelorkan ancaman-ancaman kepada para petinggi Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah untuk memaksakan kehendak mereka dalam penyelesaian kerusuhan? Apakah mereka tidak berpikir bahwasanya Kalimatan Tengahlah yang menjadi korban kelalaian para tokoh-tokoh suku Madura yang gagal membina warganya yang mencari kehidupan di Kalimantan Tengah?”
“Itu hanya kebodohan suku Dayak, mengapa mereka mau dikebiri begitu saja. Tapi di sisi lain itu juga kesalahan suku Madura karena mereka tidak bisa membina warganya dengan baik”
Aku suka berdskusi dengannya karena dia tahu banyak hal dan pandai berargumen.  Beberapa detik kemudian dia berdiri dan hendak meninggalkan ruangan ini. Tapi sebelumnya dia bertanya padaku,
“Masih pengen ngejomblo?” tanyanya sambil melirik ke arahku.
“iya.” jawabku singkat.
“Oh ya, kamu harus merevisi artikelmu malam ini juga dan besok pagi kamu boleh pulang.” ucapnya tegas.
Entah kenapa mataku begitu sulit untuk kupejamkan. Meski telah kucoba tapi tetap tak bisa. Akhirnya aku putuskan untuk membuat revisi artikelku. Diantaranya aku hilangkan dan aku tambah beberapa paragaraf. Aku  juga mencoba menyimpulkan hasil diskusiku dengan Syahriel. Aku menambahkan diantaranya tentang alternatif solusi atas konflik etnis di negeri ini.
Setelah semua selesai, kucoba untuk memejamkan mataku meski hanya sejenak. Beberapa menit kemudian, aku tertidur. Kulepas semua penatku, kubawa hidupku ke alam mimpi, mimpi indah yang selalu temani malam-malamku.
21 februari 2002….
Mentari pagi itu manyapaku dengan senyum indahnya. Namun senyumku pagi ini tak kalah indahnya dengan senyum sang mentari di balik jendela itu. Puas! Itulah yang kurasa saat ini karena semuanya telah terselesaikan dan beban di kepalaku mulai hilang satu per satu.
Aku keluar dari camp IKAMADU dan menuju kampus pukul 07.30. Aku malas untuk memikirkan penampilanku hari ini. Aku berusaha untuk tidak menampakkan sama sekali kepada siapapun kalau hari ini AYU adalah mahasiswi bekas tawanan semalam. Sampai di kampus, beberapa mata memandangku dengan tatapan tak seperti biasanya. Ada tatapan kagum, benci, heran, dan bahkan kasihan. Masa bodoh dengan semua itu. Aku tetap berjalan tanpa menghiraukan suara-suara yang memanggilku. Akhirnya akupun sampai di kelas dan tak kusangka teman-temanku langsung menyambutku dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Tak kusangka kabar ini begitu cepat terekspose. Aku lebih memilih diam daripada menanggapi pertanyaan-pertanyaan konyol mereka. Aku selalu memilih diam ketika emosiku sedang labil. Aku tidak ingin orang-orang tak bersalah menjadi korban pelampiasan emosiku. Pikiranku melayang, anganku menerawang. Dalan hati ku berucap syukur kepada Sang Rabb karena Dia masih menyayangiku.

Iklan

5 Komentar (+add yours?)

  1. taufiqimam
    Agu 21, 2008 @ 07:45:12

    Bagus banget ….kamu tahu gak artinya I Love YOU. Tapi ama bahasanya kambing . Kalau tahu lo hebat banget…….!!!HiiiiHiiiiHiiii

    Balas

  2. oman
    Agu 21, 2008 @ 07:47:29

    Aku naksir ama kamu….

    Balas

  3. kaconk
    Nov 10, 2008 @ 16:53:07

    boleh juga tuchhhhhhhhhhhh

    Balas

  4. ceppink
    Nov 10, 2008 @ 18:42:09

    semua kejadian itu memang pada dasarnya
    merupakan penyimpangan terhadap bentuk sosial dan budaya.
    tapi seandainya anda bisa, itu semua jangan sampai dijadikan sebuah alasan untuk menggeneralisasi sebagai sikap dan perilaku yang bersifat negatif kepada semua orang madura.

    terlebih lagi, kalau anda sampai bersifat mendeskriminasikan terhadap suatu budaya.

    bukankah anda masih Satu TANAH AIR dan SATU BANGSA dengan madura????
    saya cuma hawatir dalam cerpen anda itu, pemahaman terhadap suatu etnis madura hanya brlandaskan pada alasan-alasan yang bernada emosional, dampak dari realitas dikampus anda.
    melainkan,,,,,,,,,,,,,
    dengan sifat kearifan yang melekat pada diri anda:
    seyogyanya dengan segala yang terjadi dapat dipahami secara proposional dan komtekstual.

    apakah kaum anda sudah lebih naik dari pada kami????

    untuk kaum madura tetaplah semangat dengan semboyan kita:

    ” BENGO’AN POTE TOLANG KATEMBENG POTE MATAH ”

    ………… Potre Madureh ……….

    Balas

  5. ceppink
    Nov 10, 2008 @ 19:30:19

    Terima kasih untuk semuanya dan mohon maaf bila saya ada salah ngomong atau menyinggung perasaan anda, saya hanya manusia biasa yang banyak akan kekurangannya. keyooooooooooooooooooooooooooooooo?
    pissssss yaw yaw yaw yaw yaw yaw yaw yaw yaw.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: