resensi laskar pelangi

Laskar Pelangi Judul    :    Laskar Pelangi

Pengarang    :    Andrea Hirata

Penerbit    :    PT Bentang Pustaka

Tempat terbit    :    Yogyakarta

Tahun terbit    :    2008

Tebal buku    :    533 halaman

Yang begini memang langka dan aneh. Di tengah-tengah sajian sastra bertema urban super-ringan, pornografi, serta hedonistik, Andrea berani mencipta novel yang sama sekali tak sejalan dengan trend pasar tersebut. Ia mampu mengobati dahaga para pecinta buku akan buku-buku Indonesia bermutu. Laskar Pelangi adalah novel pertama dari rangkaian empat karya tetralogi Laskar Pelangi. Novel keduanya adalah Sang Pemimpi, kemudian disusul novel berjudul Edensor yang mana keduanya, novel kedua dan ketiga, mampu mencapai best seller. Adapun novel terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi adalah Maryamah Karpov. Cerita Laskar Pelangi berawal dari sepuluh bocah Melayu Belitong yang bersama-sama memulai pendidikannya di SD Muhammadiyah, sekolah miskin yang termarginalkan. Sejak kehadiran bocah yang disebut-sebut sebagai Laskar Pelangi itu, SD Muhammadiyah seperti menemukan ruhnya. Mereka disebut sebagai Laskar Pelangi karena kegemaran mereka menatap dan menikmati indahnya pelangi. Dengan penuh ketabahan, Pak Harfan dan Bu Mus membimbing murid-muridnya. Mereka berdua adalah sosok guru yang memiliki dedikasi yang tinggi dalam dunia pendidikan. Mereka selalu memberi motivasi dan tak lupa pula membekali murid-muridnya dengan akhlak yang mulia. Anak-anak Laskar Pelangi adalah anak-anak yang luar biasa dan tak pernah menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka. Karena merekalah, sekolah miskin yang tak pernah terdengar gaungnya atau bahkan telah diremehkan banyak orang itu menggeliat bangun dan menunjukkan eksistensinya. Adalah Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya, namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus. Yang cukup mencengangkan disini adalah kejahatan terencana yang dilakukan Mahar dibalik tatanan artistik karnaval buatannya itu, yang membuat teman-temannya tak bisa berbuat apa-apa untuk melawannya. Selang beberapa hari kemudian, datang murid baru pindahan dari sekolah PN (Perusahaan Negara) Timah, Flo namanya. Entah mengapa dia lebih memilih sekolah miskin itu dari pada sekolah PN, sekolah yang sangat bergengsi di Belitong. Jadilah Laskar Pelangi beranggotakan sebelas anak. Semenjak kehadiran Flo sikap Mahar semakin aneh dan tak masuk akal karena mereka berdua memiliki pribadi unik yang paradoks namun mereka sangat kompak dalam segala hal. Tak hanya Mahar, tapi juga Lintang, seorang kuli kopra cilik yang genius, yang juga berhasil mengharumkan nama perguruan Muhammadiyah melalui prestasinya mendapat nilai seratus mutlak dalam Lomba Kecerdasan melawan sekolah-sekolah bergengsi termasuk sekolah PN Timah. Kira-kira bagaimana tatanan artistik karnaval buatan Mahar? Mengapa Flo ingin pindah ke sekolah miskin itu? dan bagaimana jurus Lintang dalam Lomba Kecerdasan? serta bagaimana pula karakter-karakter unik tokoh-tokoh Laskar Pelangi lainnya? Temukan jawabannya dalam novel Laskar Pelangi. Begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam masa kecil para anggota Laskar Pelangi. Novel ini sangat layak dibaca khususnya oleh para pemerhati pendidikan atau siapa saja yang masih percaya akan adanya pintu keajaiban lain untuk mengubah dunia, yakni pendidikan. Setiap orang, bagaimanapun terbatas keadaannya, berhak memiliki cita-cita. Keinginan yang kuat untuk mencapai cita-cita itu mampu menimbulkan prestasi-prestasi lain sebelum cita-cita sesungguhnya tercapai. Keinginan kuat itu juga memunculkan kemampuan-kemampuan besar yang tersembunyi dan keajaiban-keajaiban di luar perkiraan. Namun jangan heran jika anda nantiya merasa jenuh atau kadang harus memeras otak oleh karena bahasa dan juga istilah-istilah yang digunakan terlalu ilmiah atau kadang juga ditemui bahasa-bahasa Melayu Belitong yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja. Namun di bagian akhir novel ini tersedia Glosarium yang cukup membantu pemahaman anda. Sebagai penulis pemula, Andrea sangat menakjubkan. Ia mampu langsung menulis tetralogi dengan gaya realis yang bertabur metafora yang berani, tak biasa, tak terduga, kadangkala ngawur, namun amat memikat. Muatan intelektualitas dan spiritualitas yang tinggi mampu menjadikan karya-karyanya sebagai best seller.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: