Takhrijul Hadits

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hadits adalah sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’an. Al-Qur’an kebenarannya mutlak karena al-Qur’an berisi wahyu-wahyu Allah. Sedangkan Hadits berupa perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad. Hadits diterima oleh sahabat kemudian oleh para sahabat disebarkan kepada tabi’in dan seterusnya.

Jika menilik sejarah penulisan hadits, pada zaman Nabi hadits dilarang untuk ditulis karena dikhawatirkan akan bercampur dengan al-Qur’an. Namun demikian ada beberapa sahabat yang tetap menulis hadits. Hadits-hadits itu kemudian turun temurun ke generasi selanjutnya. Dalam proses tersebut, mungkin saja ada yang berani memalsukan hadits sehingga tidak semua hadits bisa diterima begitu saja. Oleh karena itulah dirasa perlu untuk melaksanakan penelitian terhadap ke-shahih-an hadits.

B. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini kami menjelaskan:

1. Kajian teoritis tentang takhrijul hadits

2. Hasil penelitian hadits tentang shalat sunah ba’dal jum’at

3. Analisis hadits berdasarkan kuantitas dan kualitas sanad

C. Tujuan

Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Ulumul Hadits. Disamping itu juga untuk meneliti ke-shahih-an hadits tentang shalat sunah ba’dal jum’at.

BAB II

PEMBAHASAN

I. Kajian Teori

A. Pengertian Takhrijul Hadits

Kata takhrij adalah bentuk masdar dari fi’il madhi khorroja yang secara bahasa berarti mengeluarkan sesuatu dari tempat.

Pengertian takhrij menurut ahli hadits memiliki tiga macam pengertian, yaitu:

1. Usaha mencari sanad hadits yang terdapat dalam kitab hadits karya orang lain, yang tidak sama dengan sanad yang terdapat dalam kitab tersebut.

2. Suatu keterangan bahwa hadits yang dinukilkan ke dalam kitab susunannya itu terdapat dalam kitab lain yang telah disebutkan nama penyusunnya.

3. Suatu usaha mencari derajat, sanad, dan rawi hadits yang tidak diterangkan oleh penyusun atau pengarang suatu kitab.[1]

B. Manfaat Takhrijul Hadits

Ada beberapa manfaat dari Takhrijul Hadits, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Memberikan informasi tentang kualitas hadits, shahih, hasan, atau dhoif berdasarkan hasil penelitian matan maupun sanadnya.

2. Memberikan kemudahan bagi orang yang mau mengamalkan atau tidak, setelah tahu makbul (diterima) atau mardud (ditolak) nya hadits.

3. Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadits adalah benar-benar berasal dari Rasulullah saw. yang harus kita ikuti karena adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran hadits tersebut, baik dari segi sanad maupun matan.[2]

C. Kitab-Kitab Yang Diperlukan

Ada beberapa kitab yang diperlukan dalam melakukan takhrij hadits. Adapun kitab-kitab tersebut antara lain:

1. Hidayatul bari ila tartibi ahadisil Bukhori

2. Mu’jam al-Fazi wala siyyama al-gharibu minha atau fihris litartibi ahadisi sahihi Muslim

3. Miftahus Sahihain

4. Al-Bughyatu fi tartibi ahaditsi al-hilyah

5. Al-Jami’us Shaghir

6. Mu’jam al-mufahras li alfadzil hadits nabawi[3]

Namun dalam penelitian ini kami menggunakan kitab mu’jam al-fahras, athraf, tahdzibut tahdzib, tahdzibul kamal fi asmair rijal, al-jamiul shaghir.

D. Langkah-Langkah Takhrijul Hadits

Secara garis besar, takhrijul hadits dapat dibagi menjadi dua cara:

1. Metode Lafdhi, menakhrij hadits yang telah diketahui awal matannya.

2. Metode Maudhu’i, menakhrij hadits dengan berdasarkan topik permasalahan atau tema. Kitab acuannya adalah miftahu kunuzis sunnah.

Adapun langkah-langkah kegiatannya adalah sebagai berikut:

1. Konsultasi kamus

2. Melacak hadits pada kitab

3. Mencatat hadits lengkap dengan sanad

4. Melakukan i’tibar. Dalam hal ini diperlukan kitab sejarah para perawi yakni kitab tahdzibul kamal fi asmair rijal dan kitab tahdzibut tahdzib

5. Menyusun skema sanad

6. Penelitian biografi para perawi

7. Analisa keadaan sanad dari sisi kualitas dan kuantitas

8. Kesimpulan

II. Hasil Penelitian Hadits

A. Hadits yang ditemukan

من كان منكم مصليا بعد الجمعة فليصل اربعا

Hadits yang semakna dengan hadits di atas ditemukan pada:

د = الصلاة بعد الجمعة

م = الصلاة بعد الجمعة

Hadits riwayat Imam Muslim

وحدثني زهير بن حرب حدثنا جرير ح وحدثنا عمرو الناقد وابو كريب قالا وحدثنا وكيع عن سفيان كلاهما عن سهيل عن ابيه عن ابي هريره قال قال رسول الله صلىالله عليه وسلم من كان منكم مصليا بعد الجمعة فليصل اربعا (وليس في حد يث جرير منكم). رواه مسلم

حدثنا يحي بن يحي اخبرنا خالد بن عبدالله عن سهيل عن ابيه عن ابي هريره قال قال رسول الله صلىالله عليه وسلم اذا صلى احدكم الجمعة فليصل بعدها اربعا. رواه مسلم

حدثنا ابو بكر بن ابى شيبه وعمروالناقد قالا حدثنا عبدالله بن اد ريس عن سهيل عن ابيه عن ابي هريره قال قال رسول الله صلىالله عليه وسلم اذا صليتم بعد الجمعة فصلو اربعا (زاد عمرو في روايته قال ابن ادريس قال سهيل) فان عجل بك شيئ فصل ركعتين فىالمسجد و ركعتين اذا رجعت. رواه مسلم

Hadits riwayat Abu Daud

] حدثنا احمد بن يونس, ثنا زهير ح وحدثني محمد بن الصباح البزار, ثنا اسماعيل بن زكريا[, عن سهيل ابيه عن ابي هريره قال: قال رسول الله صلىالله عليه وسلم: قال ابن الصباح قال: “من كان مصليا بعد الجمعة فليصل اربعا” وثم حديثه, وقال ابن يونوس: “ اذا صليتم الجمعة فصلو بعدها اربعا” قال فقال لي ابي: يا بني فان صليت فىالمسجد ركعتين ثم اتيت المنزل اوالبيت فصل ركعتين. رواه ابو داوود

B. Skema Sanad

1. Sanad per mukhorrij

Sanad Imam Muslim

خا لد بن عبد الله

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

ابوهريره

ابو سهيل

سهيل

سفيان

جرير

وكيع

زهير بن حرب

محمد رسول الله

ابوكريب

مسلم

عمروالناقد

عبدالله بن ادريس

ابوبكربن ابىشيبه

يحي بن يحي

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

Sanad Abu Daud

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

ابوهريره

ابو سهيل

سهيل

اسماعيل بن زكريا

زهيربن مؤويه

محمد بن الصباح

احمد بن يونس

ابوداوود

محمد رسول الله

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>


<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

ابوهريره

ابو سهيل

سهيل

سفيان

جرير

وكيع

زهير بن حرب

محمد رسول الله

ابوكريب

مسلم

عمروالناقد

عبدالله بن ادريس

ابوبكربن ابىشيبه

يحي بن يحي

خالد بن عبد الله

زهيربن مؤويه

اسماعيل بن زكريا

احمد بن يونوس

محمد بن الصباح

ابو داوود

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>


C. Biografi para perawi hadits

Secara keseluruhan jumlah perawi yang terlibat dalam periwayatan hadits tersebut sekitar dua puluh orang. Secara rinci biografi mereka adalah sebagai berikut:

1. Abu Hurairah ad-Dausi al-Yamani

Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Shokhr, Abdullah bin ‘Adz, Abdurrahman bin Ghonam. Dia wafat pada tahun 58 H pada usianya yang ke-78 tahun. Ia meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, Ubay bin Ka’ab, Usamah bin Zaid bin Haritsah. Sedangkan yang meriwayatkan hadits darinya antara lain adalah Ibrahim bin Ismail, Ibrahim bin Abdullah bin Hunain, Nafi’ bin Jubair bin Muth’am atau disebut juga Nafi’ Ibn Abi Anas (Abu Suhail).

Menurut Waqidi, ia adalah seorang yang jujur. Bukhori berkata, banyak perawi yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah kira-kira delapan ratus orang atau lebih dari kalangan ahli ilmu, sahabat-sahabat Nabi, tabi’in, dan lain-lain.[4]

2. Abu Suhail

Nama lengkapnya adalah Nafi’ Ibn Abi Anas, Nafi’ bin Jubair bin Muth’am, Nafi’ bin Malik bin Abi Amir al-Ash Habi. Dia lahir di Madinah dan wafat di Madinah pula pada tahun 96 H di akhir pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik. Ia meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Aisyah, Ummu Salamah. Sedangkan yang meriwayatkan hadits darinya adalah Abul Ghusn Tsabit bin Qais al-Madani, Abu Bisyri Ja’far bin Abi Wasyiyah, Harits bin Abdul Malik.

Menurut Muhammad bin Umar, Abu Suhail benar-benar meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, ia adalah orang yang tsiqah, banyak meriwayatkan hadits dari saudaranya. Menurut ‘Ijliy, ia Madani, tabi’i, tsiqah. Abu Zur’ah berpendapat bahwa ia adalah orang yang tsiqah. Menurut Abdurrahman bin Yusuf bin Khars, ia tsiqah dan masyhur.[5]

3. Suhail

Nama lengkapnya Suhail bin Abi Sholih, Muhammad bin Abi Sholih, Abdullah bin Abi Sholih. Nama kunyahnya Abu Yazid al-Madani. Ia wafat tahun 138 H di Madinah. Ia meriwayatkan hadits dari ayahnya, Abi Sholih Dzakwan as-Saman, Harits bin Mukholad, Habib bin Hasan. Orang-orang yang meriwayatkan hadits darinya adalah Ismail bin Zakariya, Zuhair bin Muawiyah, Kholid bin Abdullah.

Suhail adalah orang yang tsabat, La ba’sa bihi maqbul al-akhbar, tsiqah. Nasa’i berkata, Suhail laisa bihi ba’sa.[6]

4. Zuhair bin Muawiyah bin Hudaij

Nama lengkapnya Zuhair bin Muawiyah bin Hudaij bin Ruhail bin Zuhair bin Khaitsamah al-Ju’fiy. Nama kunyahnya Abu Khoitsamah al-Kufiy. Wafat pada tahun 173 H. Ia meriwayatkan hadits dari Suhail bin Abi Sholih, Aban bin Taghlib, Ibrahim bin Uqbah. Sedangkan yang meriwayatkan hadits darinya adalah Ahmad bin Abdullah bin Yunus, Ahmad bin Abi Syu’aib al-Harrani, Ahmad bin Abdul Malik bin Waqid al-Harrani.

Zuhair adalah orang yang tsiqah mutqin, tsabat bakhin bakhin, tsiqah, sidq, tsiqah tsabat, tsiqah makmun.[7]

5. Ahmad bin Yunus

Nama lengkapnya Ahmad bin Abdullah bin Yunus bin Abdullah bin Qais at-Tamimi al-Yarbu’i. Nama kunyahnya Abu Abdillah al-Kufi. Wafat di Kufah bulan Rabi’ul Awal tahun 227 H pada usianya yang ke-94 tahun. Ia meriwayatkan hadits dari Zuhair bin Muawiyah al-Ju’fiy, Ibrahim bin Sa’ad, Isroil bin Yunus. Perawi yang meriwayatkan hadits darinya adalah Bukhori, Muslim, dan Abu Daud.

Menurut Abu Hatim, Ahmad bin Yunus adalah orang yang tsiqah mutqin. Nasa’i berkata, Ahmad binYunus orang yang tsiqah. Menurut Ahmad bin Hambal, ia adalah Syaikh al-Islam.[8]

6. Ismail bin Zakariya

Nama lengkapnya Ismail bin Zakariya bin Marrah al-Khalqani al-Asadi. Wafat tahun 174 H. Ia meriwayatkan hadits dari Hasan bin Hakim, ‘Ashim bin Sulaiman, Suhail bin Abi Sholih. Sedangkan para perawi yang meriwayatkan hadits darinya adalah Sa’id bin Manshur, Sulaiman bin Dawud, Muhammad bin Shobah. Komentar tentang beliau, beliau adalah orang yang tsiqah.

7. Muhammad bin Shobah

Nama lengkapnya Abu Ja’far al-Baghdadi al-Bazzaz. Ia wafat pada 227 H. Ia meriwayatkan hadits dari Ibrahim bin Sa’ad, Abdullah bin Malik, Ismail bin Zakariya. Perawi yang meriwayatkan hadits darinya adalah Abu Abdullah, Muslim, Abu Daud. Komentar tentang beliau, beliau adalah orang yang tsiqah.

8. Abu Daud

Nama lengkapnya Sulaiman bin Asy’ab bin Syaddad bin ‘Amr bin ‘Amir atau Abdurrahman bin Abi Hatim. Lahir tahun 202 H wafat pada 14 Syawal 275 H. Ia meriwayatkan hadits dari Ahmad bin Abdullah bin Yunus al-Yarbu’i, Muhammad bin Shobah ad-Daulabi, Ibrahim bin Basyar ar-Ramadi. Adapun perawi yang meriwayatkan hadits darinya adalah Imam Tirmidzi, Ibrahim bin Hamdan al-‘Aquli, Abu Bakr Ahmad bin Salman an-Najad al-Faqih.

Ia adalah seorang perawi yang faqih, ‘alim, Hafidz, Wara’, Mutqin, Imam ahli hadits pada zamannya.

9. Kholid bin Abdullah

Nama lengkapnya Kholid bin Abdullah bin Abdurahman bin Yazid at-Thohar al-Wasithi. Nama kunyahnya Abul Haitsam atau Abu Muhammad al-Muzanni. Lahir tahun 110 H dan wafat bulan Rajab 179 H. Ia meriwayatkan hadits dari Suhail bin Abi Sholih, Ismail bin Hammad bin Abi Sulaiman, Ismail bin Abi Kholid. Perawi yang meriwayatkan hadits darinya adalah Yahya bin Yahya an-Naisaburiy, Khalf bin Hisyam al-Bazar, Rifa’ah bin Haitsam al-Wasithi. Ia seorang perawi yang tsiqah, Hafidz, haditsnya shohih.

10. Yahya bin Yahya an-Naisabury

Nama lengkapnya Yahya bin Yahya bin Bakar bin Abdurrahman bin Yahya bin Hamad at-Tamimi al-Handzali. Nama kunyahnya Abu Zakariya an-Naisabury. Ia lahir tahun 142 H dan wafat pada malam 4 Rabiul Awal 226 H. Ia meriwayatkan hadits dari Kholid bin Abdullah al-Wasithi, Ibrahim bin Sa’ad az-Zuhri, Azhar bin Sa’ad as-Saman. Sedangkan para perawi yang meriwayatkan hadits darinya adalah Bukhori, Muslim, Ibrahim bin Abdullah as-Sa’di. Ia seorang perawi yang tsiqah,tsiqah tsabat, tsiqah makmun, ahli ilmu, ahli agama, mutqin.

11. Imam Muslim

Nama lengkapnya Muslim bin Hujjaj bin Muslim. Ia lahir tahun 204 H dan wafat pada tahun 261 H. Ia meriwayatkan hadits dari Abu Kuraib dan Muhammad bin Abdullah. Para perawi yang meriwayatkan hadits darinya adalah Muhammad bin Abdul Wahab, Shalih bin Muhammad, Maky bin ‘Abdan. Imam Muslim adalah seorang perawi yang tsiqah.

D. Analisis Nilai Hadits

1. Analisis nilai hadits berdasarkan kuantitas sanad

Seperti yang telah dipaparkan pada skema sanad di depan, bahwa hadits yang menjelaskan tentang melaksanakan shalat sunnah selepas shalat Jum’at, yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Daud secara keseluruhan mulai perawi thabaqat pertama dari kalangan sahabat Nabi sampai mukhrij, melibatkan 19 orang perawi.

Pada thabaqat pertama terdapat satu orang perawi yaitu Abu Hurairah. Demikian pula pada thabaqat kedua yang hanya melibatkan satu perawi yaitu Abu Suhail. Kemudain pada thabaqat ketiga juga ada satu perawi yakni Suhail. Dilihat dari jumlah perawi pada thabaqat pertama, kedua, sampai pada thabaqat ketiga dapat disimpulkan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Daud tersebut dikategorikan sebagai hadits Ahad Gharib karena hanya memiliki satu perawi atau satu sanad pada thabaqat pertama sampai ketiga.

Namun, pada thabaqat berikutnya terdapat enam orang perawi, yaitu Sufyan, Jarir, Kholid bin Abdullah, Abdullah bin Idris, Zuhair bin Muawiyah, dan Ismail bin Zakariya. Pada thabaqat kelima terdiri dari tujuh orang perawi yaitu Muhammad bin Shobah, Ahmad bin Yunus, Abu Bakar bin Abi Syaibah, ‘Amr an-Naqid, Waki’, Zuhair bin Harb, dan Yahya bin Yahya. Dilihat dari jumlah perawi atau sanad pada thabaqat keempat dan kelima, hadits yang bersangkutan dikategorikan sebagai hadits Ahad Masyhur karena diriwayatkan oleh lebih dari tiga perawi.

Kemudian pada thabaqat keenam terdiri dari dua orang perawi yaitu ‘Amr an-Naqid dan Abu Kuraib. Adapun thabaqat terakhir yakni thabaqat para mukhorrij juga terdiri dari dua orang perawi yaitu Imam Muslim dan Abu Daud.

Pada awalnya hadits yang kami teliti dikatakan Ahad Gharib karena pada thabaqat pertama, kedua, dan ketiga diriwayatkan oleh satu orang perawi. Tetapi pada thabaqat keempat dan kelima hadits tersebut menjadi Ahad Masyhur karena pada thabaqat keempat terdapat lebih dari tiga orang perawi. Selanjutnya hadits ini menjadi Ahad Aziz pada thabaqat keenam dan thabaqat mukharrij karena ada dua orang perawi pada thabaqat tersebut. Dengan demikian, maka hadits yang kami teliti ini kalau dilihat dari kuantitas sanad, dikategorikan sebagai hadits Ahad Gharib.

Hadits gharib secara istilah adalah hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi secara sendiri. Dan tidak dipersyaratkan periwayatan seorang perawi itu terdapat dalam setiap tingkatan (thabaqat) periwayatannya, akan tetapi cukup terdapat pada satu tingkatan atau lebih. Dan bila dalam tingkatan yang lain jumlahnya lebih dari satu, maka itu tidak mengubah statusnya (sebagai hadits gharib). Sebagian ulama’ lain menyebut hadits ini sebagai Al-Fard.[9]

Hadits gharib dilihat dari segi letak sendiriannya dapat terbagi menjadi dua macam:

1. Gharib Muthlaq, disebut juga : Al-Fardul-Muthlaq; yaitu bilamana kesendirian (gharabah periwayatan terdapat pada asal sanad/ shahabat).

2. Gharib Nisbi, disebut juga : AL-Fardun-Nisbi; yaitu apabila keghariban terjadi pada pertengahan sanadnya, bukan pada asal sanadnya. Maksudnya satu hadits yang diriwayatkan oleh lebih dari satu orang perawi pada asal sanadnya, kemudian dari semua perawi itu hadits ini diriwayatkan oleh satu orang perawi saja yang mengambil dari para perawi tersebut.[10]

Melihat macam-macam hadits gharib di atas maka dapat disimpulkan bahwa hadits yang kami teliti termasuk hadits Gharib Muthlaq, karena mulai thabaqat sahabat terdapat gharabah, periwayatan oleh seorang rawi.

Pada sisi lain, hadits yang kami teliti sanadnya tidak memiliki syahid karena pada tingkatan pertama atau thabaqat sahabat tidak ada perawi pendukung atau hanya terdapat satu sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut yaitu Abu Hurairah. Namun hadits yang kami teliti memiliki muttabi’ karena pada thabaqat tabi’ut tabi’in yang tepatnya pada thabaqat keempat ada perawi pendukung. Dengan demikian hadits yang dikeluarkan Muslim dan Abu Daud ini disebut dengan istilah hadits Tawabi’.

2. Analisis nilai hadits berdasarkan kualitas sanad

Untuk melengkapi dan menyempurnakan penelitian ini, diperlukan penjelasan rinci tentang deskripsi kualitas masing-masing sanad yang ada pada setiap mukharrij. Analisis hubungan setiap rawi dengan rawi terdekat sebelumnya, serta kualitas pribadi masing-masing perawi adalah sebagai berikut.

Pertama, hadits riwayat Muslim. Hadits ini diriwayatkan melalui empat jalur sanad. Akan tetapi, dari riwayat Muslim kami hanya meneliti satu jalur sanad, yaitu sebagai berikut:

Hadits pertama yang diterima Muslim (w.261 H) melalui

Yahya bin Yahya (w.226 H) dari

Kholid bin Abdullah (w.179 H) dari

Suhail bin Abi Sholih (w.138 H) dari

Abu Suhail (w.96 H) dari

Abu Hurairah (w.58 H) dari

Nabi saw.

Dari sisi persambungan sanad, hadits yang diriwayatkan melalui rangkaian perawi di atas dapat disimpulkan sebagai muttashil. Hal ini dapat dibuktikan bahwa masing-masing perawi dengan perawi terdekat sebelumnya pernah hidup satu generasi dan terbukti ada pertemuan, karena mereka memiliki hubungan guru dan murid.

Dari sisi kredibilitas (dhabit dan adil) para perawi yang tergabung dalam sanad tersebut, dapat disimpulkan memenuhi syarat tsiqat, sebagaimana penuturan para sejarawan (ulama muhaditsin) tentang para perawi yang terlibat dalam transmisi sanad Muslim tersebut. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa sanad Muslim melalui Yahya bin Yahya sampai Abu Hurairah dan Nabi saw. adalah sanad yang memenuhi syarat shahih li dzatihi.

Kedua, hadits riwayat Abu Daud. Hadits ini diriwayatkan melalui dua jalur sanad, yaitu:

Hadits pertama yang diterima Abu Daud (w.275 H) melalui

Muhammad bin Shobah (w.227 H) dari

Ismail bin Zakariya (w.174 H) dari

Suhail bin Abi Sholih (w.138 H) dari

Abu Suhail (w.96 H) dari

Abu Hurairah (w.58 H) dari

Nabi saw.

Dari sisi persambungan sanad, hadits yang diriwayatkan melalui rangkaian perawi di atas dapat disimpulkan sebagai muttashil. Hal ini dapat dibuktikan bahwa masing-masing perawi dengan perawi terdekat sebelumnya pernah hidup satu generasi dan terbukti ada pertemuan, karena mereka memiliki hubungan guru dan murid.

Dari sisi kredibilitas (dhabit dan adil) para perawi yang tergabung dalam sanad tersebut, dapat disimpulkan memenuhi syarat tsiqat, sebagaimana penuturan para sejarawan (ulama muhaditsin) tentang para perawi yang terlibat dalam transmisi sanad Abu Daud tersebut. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa sanad Abu Daud melalui Muhammad bin shobah sampai Abu Hurairah dan Nabi saw. adalah sanad yang memenuhi syarat shahih li dzatihi.

Hadits kedua yang diterima Abu Daud (w.275 H) melalui

Ahmad bin Yunus (w.227 H) dari

Zuhair bin Muawiyah (w.173 H) dari

Suhail bin Abi Sholih (w.138 H) dari

Abu Suhail (w.96 H) dari

Abu Hurairah (w.58 H) dari

Nabi saw.

Dari sisi persambungan sanad, hadits yang diriwayatkan melalui rangkaian perawi di atas dapat disimpulkan sebagai muttashil. Hal ini dapat dibuktikan bahwa masing-masing perawi dengan perawi terdekat sebelumnya pernah hidup satu generasi dan terbukti ada pertemuan, karena mereka memiliki hubungan guru dan murid.

Dari sisi kredibilitas (dhabit dan adil) para perawi yang tergabung dalam sanad tersebut, dapat disimpulkan memenuhi syarat tsiqat, sebagaimana penuturan para sejarawan (ulama muhaditsin) tentang para perawi yang terlibat dalam transmisi sanad Abu Daud tersebut. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa sanad Abu Daud melalui Ahmad bin Yunus sampai Abu Hurairah dan Nabi saw. adalah sanad yang memenuhi syarat shahih li dzatihi.

BAB III

PENUTUP

Takhrijul hadits adalah Usaha mencari sanad hadits yang terdapat dalam kitab hadits karya orang lain, yang tidak sama dengan sanad yang terdapat dalam kitab tersebut. Dalam hal ini kami meneliti hadits tentang sholat sunnah sesudah sholat jum’at. Dari penelitian tersebut dapat diambil beberapa kesimpulan.

Pertama, dari segi jumlah sanad, hadits-hadits tentang sholat sunnah sesudah sholat jum’at, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud bukanlah hadits yang mutawattir karena tidak memenuhi syarat-syarat hadits mutawattir. Namun sanad hadits ini adalah ahad ghorib karena pada thabaqat pertama sampai ketiga hanya terdapat satu orang perawi pada tiap thabaqat. Sebenarnya pada thabaqat tertentu ada ahad aziz ataupun ahad masyhur. Akan tetapi yang paling mendominasi dalam jalur sanad tersebut adalah ahad gharib sehingga kami menyimpulkan bahwasanya sanad hadits tentang shalat sunnah setelah shalat jum’at adalah ahad gharib.

Kedua, Dari hasil penelusuran terhadap biografi para perawi yang tergabung dalam sanad hadits, secara umum dapat dinyatakan memenuhi persyaratan sanad yang shahih. Para perawi yang tergabung dalam hadits terbukti sebagai orang-orang yang memenuhi syarat tsiqat, dan sanad masing-masing terbukti muttashil. Dengan demikian, maka secara umum dapat dinyatakan bahwa masing-masing sanadnya memenuhi persyaratan shahih li dzatihi. Dan hadits-hadits ini dapat dijadikan sebagai hujjah dan landasan beramal ibadah.


[1] Muhammad Ahmad & M. Mudzakir, Ulumul Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), hlm. 131.

[2] Ibid, hlm. 132.

[3] Ibid, hlm. 132-135

[4] Hafidz Jamaluddin Abi Al-Hajjaj Yusuf Al-Mazzi, Tahdzib al-Kamla fi asma’ al-Rijal juz 22, (Kairo: Darul Fikr), hlm. 90-98

[5] Ibid, Tahdzib al-Kamla fi asma’ al-Rijal juz 19, hlm. 17-19

[6] Ibid, Tahdzib al-Kamla fi asma’ al-Rijal juz 8, hlm. 192-194

[7] Ibid, Tahdzib al-Kamla fi asma’ al-Rijal juz 6, hlm. 347-350

[8] Ibid, Tahdzib al-Kamla fi asma’ al-Rijal juz 1, hlm. 182-184

[9] http: //www.google.com./Hadits Ahad<Suryaningsih Site>//

[10] Ibid, —

Fana dan Baqa

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Akhlak Tasawuf merupakan disiplin ilmu murni dalam Islam. Akhlak dan Tasawuf mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebelum bertasawuf, seseorang harus berakhlak sehingga bisa dikatakan bahwasanya At tashawwufu nihayatul akhlaq sedangkan al akhlaqu bidayatut tashawwuf. Dalam tasawuf, digunakan pendekatan suprarasional yaitu dengan intuisi / wijdan.

Intuisi disini maksudnya adalah mengosongkan diri dari dosa. Ditinjau dari paradigma pengalamannya, tasawuf terbagi menjadi tasawuf Salaf, tasawuf Suni, dan tasawuf Falsafi. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang Fana dan Baqa yang merupakan salah satu komponen dari tasawuf Suni. Setelah melalui maqam Fana dan Baqa maka Sufi akan menemui maqam ma’rifat.

  1. Rumusan M asalah

Pe

mbahasan tentang Fana dan Baqa amatlah luas. Namun dalam makalah in kami hanya membatasi pembahasan kami pada:

    1. Pengertian Fana dan Baqa
    2. Konsep Fana dan Baqa menurut beberapa tokohfana-dan-baqa
    3. Faham antara Fana seiring dengan Baqa
    4. Tujuan dan kedudukan Fana serta Baqa
    5. Tokoh yang mengembangkan Fana dan Baqa
    6. Fana dan Baqa dalam pandangan al-Qur’an

  1. Tujuan

Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah:

    1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf
    2. Mahasiswa memahami konsep Fana dan Baqa
    3. Mahasiswa berusaha untuk mensucikan diri dari dosa

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Fana dan Baqa

Fana (الفناء) artinya hilang, hancur. Fana adalah proses menghancurkan diri bagi seorang sufi agar dapat bersatu dengan Tuhan. Sedangkan Baqa (البقاء) artinya tetap, terus hidup. Baqa adalah sifat yang mengiringi dari proses fana dalam penghancuran diri untuk mencapai ma’rifat. Seorang sufi untuk ma’rifat harus bisa menghancurkan diri terlebih dahulu, dan proses penghancuran diri inilah di dalam tasawuf disebut “Fana” yang diiringi oleh “Baqa”.[1]

Dalam ‘Risalatul Qusyairiyah’ dinyatakan bahwa Fana adalah menghilangkan sifat-sifat yang tercela dan Baqa artinya mendirikan sifat-sifat yang terpuji. Barang siapa yang menghilangkan sifat tercela maka timbullah sifat yang terpuji. Jika sifat tercela menguasai diri maka tertutuplah sifat yang terpuji bagi seseorang.[2]

Dari segi bahasa Al-Fana berarti hilangnya wujud sesuatu, sedangkan Fana menurut kalangan sufi adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazim digunakan pada diri. Menurut pendapat lain Fana berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan dan dapat pula berarti hilangnya sifat-sifat yang tercela.[3]

  1. Konsep Fana dan Baqa menurut beberapa tokoh
    1. Al-Qusyairi

Fana adalah gugurnya sifat-sifat tercela, sedangkan Baqa adalah berdirinya sifat-sifat terpuji.

    1. Junaid al-Baghdadi

Tauhid bisa dicapai dengan membuat diri Fana dari dirinya sendiri dan alam sekitarnya, sehingga keinginannya dikendalikan oleh Allah.

    1. Ibn ‘Arabi

Fana dalam pengertian mistik adalah hilangnya ketidaktahuan dan Baqa pengetahuan yang pasti/ sejati yang diperoleh dengan intuisi mengenai kesatuan esensial dari keseluruhan ini.

Fana dalam pengertian metafisika adalah hilangnya bentuk-bentuk dunia fenomena dan berlanjutnya substansi universal yang tunggal. Hal ini ia simpulkan dengan hilangnya sesuatu bentuk pada saat Tuhan memanifestasikan (tajalli) diri-Nya dalam bentuk lain.

    1. E. A. Affifi

Pemikiran tentang Fana dan Baqa dapat dibagi ke dalam tahapan-tahapan sebagai berikut:

a. Si Sufi menjauhkan dirinya dari dosa (al-Fana’ ‘an al-Ma’asi)

b. Memfana’kan dirinya dari semua perbuatan (af’al) apapun, ia hanya menyadari bahwa Tuhan sendirilah satu-satunya pelaku segala perbuatan (af’al) di alam ini.

c. Memfana’kan dirinya dari sifat-sifat dan kulitas wujud yang bersifat mungkin, sebab semuanya merupakan kepunyaan Allah.

d. Memfana’kan personalitas atau dzat dirinya sendiri, ia menyadari dengan sungguh-sungguh ketidakberadaan (non-eksistensi) dari fenomena dirinya serta baqa di dalam substansi yang tidak berubah dan tidak hancur yang merupakaan esensinya.

e. Si Sufi melepaskan semua sifat-sifat Tuhan serta hubungannya, yaitu ia lebih memandang Tuhan sebagai esensi dari alam ini daripada sebagai sebab, sebagaimana pendapat para filosof. Maksudnya Si Sufi tidak menganggap alam ini sebagai akibat dari satu sebab, melainkan sebagai suatu realitas dalam pemunculan Tuhan (Al-Haqq fid dzuhur).

Pada tahap kelima inilah sebagai tujuan akhir dari semua upaya para sufi di dalam latihan mistik wahdatul wujud, yakni berupa kesadaran penuh terhadap esensi dari semua yang ada, dan sekaligus sebagai pelaksanaan fana dan baqa.[4]

    1. Muhammad Nafis

Maqam Fana adalah musyahadah secara bertahap dari maqam ke maqam selanjutnya, sebagai berikut:

a. Maqam Tauhid al-Af’al

b. Maqam Tauhid al-Asma’

c. Maqam Tauhid al-Shifat

d. Maqam Tauhid al-Dzat

Kemudian Muhammad Nafis menjelaskan bahwa maqam Baqa lebih tinggi dari maqam Fana. Maqam Fana sirna di bawah Ahadiyat Allah, sedangkan maqam Baqa kekal dengan Wahdiyat allah. Dengan kata lain, maqam Fana itu memandang bahwa yang maujud (ada) hanya Allah, sedangkan maqam Baqa memandang ke-Dia-an Allah dan kemandirian-Nya meliputi segala yang ada (zarrat al-wujud). Ia menyebut maqam Baqa sebagai maqam tajalli atau dhuhur.

Dengan harmonis dia padukan pandangan wahdat al-Syuhud dengan wahdat al-Wujud, yaitu memandang alam semesta yang serba majemuk ini sebagai penampakan dari wujud Tuhan. Fana dan Baqa melalui proses yang berasal dari ma’rifat dapat menyampaikan pada Kasyaf, yakni terbukanya hakikat sesuatu bagi sufi, kasyaf dapat menyampaikan Fana. Fana menyampaikan pada Fana al-Fana, yaitu Sufi tidak melihat dan tidak merasakan bahwa dia sendiri yang memfana’kan dirinya, yang dia lihat dan rasakan adalah Allah yang memfana’kan dirinya. Dan Fana al-Fana inilah yang mengantarkan ke tingkat Baqa.[5]

    1. R. A. Nicholson dalam bukunya The Mystics of Islam.

Ia mengatakan tentang tiga tingkat Fana yaitu perubahan moral, penghayatan jiwa, dan lenyapnya kesadaran. Dalam hal ini, Imam al-Ghazali yang membatasi sampai ke Fana tingkat dua, masih mempertahankan adanya perbedaan yang fundamental antara hamba yang melihat dengan Tuhan yang dilihatnya. Sebaliknya Husain bin Mansur al-Hallaj, yang menekankan pencapaian Fana tingkat tiga cenderung ke paham Manunggaling kawula-gusti. Dalam penghayatan ini manusia merasa mengalami sama dan jadi seperti Tuhan itu sendiri.

Adapun salah satu jalan untuk mencapai penghayatan Fana fillah (ecstasy) disamping mendalamnya cinta rindu, adalah dengan meditasi (pemusatan kesadaran) dengan perantaraan zikir.[6]

    1. Abu Bakar M. Kalabadzi

Keluruhan (Fana) adalah suatu keadaan yang di dalamnya seluruh hasrat meluruh darinya, sehingga para Sufi tidak mengalami perasaan apa-apa, dan kehilangan kemampuan membedakan. Dia telah luruh dari segala sesuatu, dan sepenuhnya terserap pada suatu yang menyebabkan dia luruh. Baqa mengandung arti bahwa para Sufi itu meluruh dari sesuatu yang menjadi miliknya sendiri, dan tetap tinggal dikarenakan sesuatu yang menjadi milik Tuhan.[7]

    1. Abu Sa’id al-Kharraz

Tanda keluruhan sang Sufi adalah keluruhannya dari hasratnya akan dunia ini dan dunia nanti, kecuali hasratnya akan Tuhan.

    1. Abu al-Qasim Faris

Keluruhan adalah keadaan seseorang yang tidak menyaksikan sifatnya sendiri, tapi menyaksikannya sebagai disembunyikan oleh Dia yang membuat sifat itu lenyap. Keluruhan sifat manusia jangan ditafsirkan sebagai tidak ada, tetapi tafsirkan bahwa sifat itu tertutup oleh suatu kesenangan yang menggantikan realisasi rasa sakit.[8]

  1. Faham antara Fana seiring dengan Baqa

Proses penghancuran diri (Fana) rupanya tidak dapat dipisahkan dari Baqa (tetap, terus hidup), maksudnya adalah apabila proses penghilangan sifat manusia dari hasil penghancuran diri manusia itu sendiri, maka yang muncul kemudian adalah sifat yang ada pada manusia. Adapun salah satu paham Sufi yang menyatakan bahwa Fana seiring Baqa:

من فني عن المخالفات بقي فىالموافقات

Artinya: “Jika seseorang dapat menghilangkan maksiatnya, maka yang akan tinggal ialah takwanya”.

Ibnu Qayyim memberikan penjelasan tentang istilah Fana dan Baqa yaitu Fana dalam pengertian tauhid bebarengan (beriringan) dengan Baqa adalah penetapan terhadap Tuhan yang haq dalam hatimu dan menghilangkan Tuhan selain Allah. Disinilah bertemu antara Nafi dan Istbat. Nafi adalah fana dan Istbat adalah baqa.

  1. Tujuan dan kedudukan Fana dan Baqa

Setelah mengetahui pengertian Fana dan Baqa, perlu diketahui tujuan Fana dan Baqa adalah mencapai penyatuan secara ruhaniyah dan bathiniyiah dengan Tuhan sehingga yang disadarinya hanya Tuhan dalam dirinya.

Sedangkan kedudukan Fana dan Baqa merupakan hal, karena hal yang demikian itu terjadi terus menerus dan juga karena dilimpahkan oleh Tuhan. Fana merupakan keadaan dimana seseorang hanya menyadari kehadiran Tuhan dalam dirinya, dan kelihatannya lebih merupakan alat, jembatan atau maqam menuju ittihad (penyatuan Rohani dengan Tuhan). Tatkala Fana dan Baqa berjalan selaras dan sesuai dengan fungsinya maka seorang Sufi merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, suatu tingkatan yang mencintai dan dicintai telah menjadi satu.[9]

  1. Tokoh yang mengembangkan Fana dan Baqa

Dalam sejarah tasawuf, Abu Yazid al-Bustami disebut-sebut sebagai Sufi yang pertama kali memperkenalkan paham Fana dan Baqa. Nama kecilnya adalah Thaifur. Nama beliau sangat istimewa dalam hati kaum Sufi seluruhnya.[10] Sebagai paham Abu Yazid yang dapat dianggap sebagai timbulnya Fana dan Baqa adalah:

اعرفه بي ففنيت ثم عرفته به فحييت

Artinya: “Aku tahu pada Tuhan melalui diriku, hingga aku hancur, kemudian aku tahu padanya melalui dirinya, maka aku pun hidup.”[11]

Abu Yazid adalah salah satu tokoh sufi yang telah melewati ma’rifah melalui Fana dan Baqa.

  1. Fana dan Baqa dalam pandangan Al-Qur’an

Fana dan Baqa merupakan jalan menuju Tuhan, hal ini sejalan dengan firman Allah yang berbunyi:

`yJsù tb%x. (#qã_ötƒ uä!$s)Ï9 ¾ÏmÎn/u‘ ö@yJ÷èu‹ù=sù WxuKtã $[sÎ=»|¹ Ÿwur õ8Ύô³ç„ ÍoyŠ$t7ÏèÎ/ ÿ¾ÏmÎn/u‘ #J‰tnr& ÇÊÊÉÈ

Artinya: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”( Q. S. Al-Kahfi: 110)

Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa Allah swt. telah memberi peluang kepada manusia untuk bersatu dengan Tuhan secara rohaniyah atau bathiniyah, yang caranya antara lain dengan beramal shaleh, dan beribadat semata-mata karena Allah, menghilangkan sifat-sifat dan akhlak buruk (Fana), meninggalkan dosa dan maksiat, dan kemudian menghias diri dengan sifat-sifat Allah, yang kemudian ini tercakup dalam konsep Fana dan Baqa, hal ini juga dapat dipahami dari isyarat ayat di bawah ini:

‘@ä. ô`tB $pköŽn=tæ 5b$sù ÇËÏÈ 4’s+ö7tƒur çmô_ur y7În/u‘ rèŒ È@»n=pgø:$# ÏQ#tø.M}$#ur ÇËÐÈ

Artinya: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Q. S. Al-Rahman: 26-27)

BAB III

KESIMPULAN

Akhlak Tasawuf merupakan disiplin ilmu murni dalam Islam. Akhlak dan Tasawuf mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebelum bertasawuf, seseorang harus berakhlak. Ditinjau dari paradigma pengalamannya, tasawuf terbagi menjadi tasawuf Salaf, tasawuf Suni, dan tasawuf Falsafi. Dalam makalah ini kami membahas tentang Fana dan Baqa yang merupakan salah satu komponen dari tasawuf Suni. Setelah melalui maqam Fana dan Baqa maka Sufi akan menemui maqam ma’rifat.

Fana adalah proses menghancurkan diri bagi seorang sufi agar dapat bersatu dengan Tuhan. Sedangkan Baqa adalah sifat yang mengiringi dari proses fana dalam penghancuran diri untuk mencapai ma’rifat. Secara singkat, Fana adalah gugurnya sifat-sifat tercela, sedangkan Baqa adalah berdirinya sifat-sifat terpuji. Adapun tujuan Fana dan Baqa adalah mencapai penyatuan secara ruhaniyah dan bathiniyiah dengan Tuhan sehingga yang disadarinya hanya Tuhan dalam dirinya. Sedangkan kedudukan Fana dan Baqa merupakan hal. Dalam sejarah tasawuf, Sufi yang pertama kali memperkenalkan paham Fana dan Baqa adalah Abu Yazid al-Bustami.


[1] A. Mustofa, Akhlak Tasawuf untuk Fakultas Tarbiyah komponen MKDK, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hlm. 259.

[2] Ibid, hlm. 260.

[3] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 231-232.

[4] Ahmadi Isa, Ajaran Tasawuf Muhammad Nafis dalam Perbandingan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 144-147.

[5] Ibid, hlm. 149-151.

[6] Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, 1996, hlm. 105-109.

[7] Abu Bakr M. Kalabadzi, Menggapai Kecerdasan Sufistik, (Jakarta Selatan: Hikmah, 2002), hlm. 35-36.

[8] Ibid, hlm. 39-41.

[9] Ibid, Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, hlm. 234-235.

[10] Ibid, hlm. 235.

[11] Ibid, A. Mustofa, Akhlak tasawuf, hlm.

Metodologi Memahami Islam

islamBAB I

PENDAHULUAN

Sejak kedatangan Islam pada abad ke-13 M hingga saat ini fenomena pemahaman ke-Islaman umat Islam Indonesia masih ditandai oleh keadaan umat variatif, ada sejumlah orang yang pengetahuannya tentang keislaman cukup luas dan mendalam, namun tidak terkoordinasi dan tidak tersusun secara sistematik. Hal ini disebabkan karena orang tersebut ketika menerima ajaran Islam tidak sistematik dan tidak terorganisasikan secara baik. Selanjutnya kita melihat pula ada orang yang penguasaannya terhadap salah satu bidang keilmuan cukup mendalam, tetapi kurang memahami disiplin ilmu keislaman lainnya, hingga saat ini pemahaman Islam yang terjadi di masyarakat masih bercorak parsial belum utuh dan belum pula komprehensif.[1] Dan sekalipun kita menjumpai kita menjumpai adanya pemahaman Islam yang sudah utuh dan komprehensif,[2] Namun semuanya itu belum tersosialisasikan secara merata keseluruh masyarakat Islam.

Untuk kepentingan akademis dan untuk membuat islam lebih Responsif dan Fungsional dalam memandu perjalanan umat serta menjawab berbagai masalah yang dihadapi saat ini diperlukan metode yang dapat menghasilkan pemahaman Islam yang utuh dan komprehensif. Oleh karena itu metode memiliki peranan sangat penting dalam kemajuan dan kemunduran pemahaman Islam. Demikian pentingnya metodologi ini, Mukti Ali mengatakan bahwa yang menentukan dan membawa stagnasi dan masa kebodohan atau kemajuan bukanlah karena metode penelitian dan cara melihat sesuatu.[3] Penguasaan metode yang tepat dapat menyebabkan seseorang mengembangkan ilmu yang dimilikinya. Jika kita meninjau Islam dan satu pandangan saja, maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dan gejalanya yang bersegi banyak.

Dan untuk memahami Islam secara garis besar ada 2 macam pertama Metode Komparasi, yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama lainnya, dengan cara demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. Kedua Metode Sintesis, yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara Metode Ilmiah dengan segala cirinya yang rasional, obyektif, kritis, dan seterusnya dengan metode teologis Normatif. Metode Ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang nampak dalam kenyataan historis, Empiris, dan Sosiologis, sedangkan metodologi teologis normatif digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci.

Metode-metode yang digunakan untuk memahami Islam itu suatu saat mungkin dipandang tidak cukup lagi, sehingga diperlukan pendekatan baru yang harus terus digali oleh para pembaharu. Diantara metodologi-metodologi hasil galian para pembaharu adalah metodologi Tafsir dan Studi Al-Qur’an, metodologi Ulumul Hadist, metodologi Filsafat dan Teologi (Kalam), metodologi Tasawuf dan Mistis Islam. Metodogi inilah yang akan diulas dan dikaji secara mendalam dalam makalah ini dengan tujuan lebih mengenal tentang Metodologi memahami Islam I.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Metode Ilmu Tafsir dan Studi Al-Qur’an

Dilihat dari segi usianya, penafsiran tentang ilmu tafsir termasuk yang paling tua dibandingkan dengan kegiatan ilmiah lainnya dalam Islam. Dengan demikian secara singkat dapat diambil suatu pengertian bahwa yang dimaksud dengan model penelitian tafsir adalah suatu contoh, ragam, acuan atau macam dari penyelidikan secara seksama terhadap penafsiran Al-Qur’an yang pernah dilakukan generasi terdahulu untuk diketahui secara pasti tentang berbagai hal yang terkecil dengannya.

Obyek pembahasan tafsir yaitu Al-Qur’an karena Al-Qur’an merupakan sumber ajaran Islam dan juga pemandu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang lima belas abad sejarah pergerakan umat ini, sekaligus penafsiran-penafsiran itu dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran mereka.

  1. Macam-macam metode penafsiran Al-Qur’an

Menurut hasil penelitian Quraish Sihab, bermacam-macam metodologi dan coraknya telah diperkenankan dan diterapkan oleh pakar-pakar Al-Qur’an metode penafsiran Al-Qur’an secara garis besar dapat dibagi dua bagian yaitu corak Ma’tasur (riwayat) dan corak penalaran. Kedua metode ini dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Corak ma’tsur (riwayat)

Metode ma’tsur (riwayat) tersebut memiliki keistimewaan antar lain:

1) Menekankan pentingnya bahasa dalam memahami Al-Qur’an

2) Memaparkan ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan pesan pesannya.

3) Mengikat musafir dalam bingkai teks ayat-ayat sehingga membatasinya terjerumus dalam subyektifitas berlebihan.

Metode Ma’tsur (riwayat) juga memiliki kelemahan, antar lain:

1) Terjerumusnya sang musafir ke dalam uraian kebahasaan dan kesustraaan yang bertele-tele sehingga pesan pokok Al-Qur’an kabur dialah uraian tersebut.

2) Seringkali konteks turunnya ayat atau sisi kronologis turunnya ayat-ayat hukum yang dipahami.

b. Corak Penalaran

Banyak cara, pendekatan dan corak tafsir yang mengandalkan nalar, sehingga akan sangat luas pembahasannya apabila kita bermaksud menelusurinya. Untuk itu, menurut Al-Farmawi membagi metode tafsir yang bercorak penalaran ini kepada empat macam metode:

1) Metode Tahlily

Metode Tahlily atau yang dinamai oleh Baqir Al-Shadr sebagai metode Tajzi’iya adalah satu metode tafsir yang menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai seginya dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana tercantum di dalam Washuf. Kelebihan metode ini antar lain adanya potensi untuk memperkaya arti kata-kata melalui usaha penafsiran terhadap kosa kata ayat, dan kaidah-kaidah ilmu Nahwu, metode ini, walaupun dinilai luas, namun tidak menjelaskan pokok bahasan, karena seringkali satu pokok bahasan diuraikan sisinya atau kelanjutannya.

2) Metode ijmali

Metode ini disebut juga metode global adalah cara menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan menunjukkan kandungan makna yang terdapat pada suatu ayat secara global. Metode ini sering terintegrasi dengan metode Tahlily karena itu sering kali metode ini tidak dibahas secara tersendiri. Dengan metode ini seorang mufasir cukup dengan menjelaskan kandungan yang terkandung dalam ayat tersebut secara garis besar saja.


3) Metode Muqarin

Metode muqarin adalah metode tafsir Al-Qur’an yang dilakukan dengan cara membandingkan ayat Al-Qur’an yang satu dengan yang lain, atau membandingkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan hadist nabi Muhammad, SAW, serta membandingkan pendapat ulama’ tafsir menyangkut penafsiran Al-Qur’an.

4) Metode maudlu’iy

Metode ini mufasirnya berupaya menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai surat yang berkaitan dengan persoalan atau topik yang diterapkan sebelumnya menurut Quraish Shihab bahwa metode Maudlu’iy mempunyai dua pengertian, pertama, penafsiran menyangkut satu surat dalam Al-Qur’an dengan menjelaskan tujuan-tujuannya secara umum, sehingga satu surat tersebut dengan berbagai masalahnya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan kedua, penafsiran yang bermula dari menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas satu masalah tertentu dari berbagai ayat atau surat Al-Qur’an belikan petunjuk Al-Qur’an secara utuh tentang masalah yang dibahas itu.

  1. Model-model penelitian tafsir

Dalam kajian kepustakaan dapat dijumpai berbagai hasil-hasil penelitian para pakar Al-Qur’an terhadap penafsiran yang dilakukan generasi terdahulu berikut ini akan ada model penafsiran Al-Qur’an yang dilakukan para ulama’ tafsir sebagai berikut:

a. Model Quraish Shihab

Model penelitian tafsir yang dikembangkan oleh H.M. Quraish Shihab lebih banyak bersifat eksploratif, deskriptif, analitis dan perbandingan, yaitu model penelitian yang berupaya menggali sejauh mungkin produk tafsir yang dilakukan ulama-ulama tafsir terdahulu berdasarkan berbagai literatur tafsir baik yang primer, yakni yang ditulis oleh ulama tafsir yang bersangkutan maupun ulama lainnya, data-data yang dihasilkan dari berbagai literatur tersebut kemudian dideskripsikan secara lengkap serta dianalisis dengan menggunakan pendekatan kategorisasi dan perbandingan. Sehingga, Qurasih Shihab telah meneliti hampir seluruh karya tafsir yang dilakukan para ulama terdahulu. Dari penelitian tersebut telah dihasilkan beberapa kesimpulan yang berkenaan dengan tafsir antara lain tentang:

1) Periodesasi pertumbuhan dan perkembangan tafsir

Corak-corak penafsiran

a) Macam-macam metode penafsiran Al-Qur’an

b) Syarat-syarat dalam penafsiran Al-Qur’an

c) Hubungan tafsir modernisasi

b. Model Ahmad Al-Syarbashi

Ahmad Al-Syarbashi melakukan penelitian tentang tafsir dengan menggunakan metode deskriptif, eksploratif dan analisis sebagaimana halnya yang dilakukan Quraish Shihab. Sedangkan sumber yang digunakan adalah bahan-bahan bacaan atau kepustakaan yang ditulis para ulama tafsir seperti Jarir al-Thabari, al-Zamakhsyri, Jalaluddin Al-Suyuthi, dll. Hasil penelitiannya itu mencakup tiga bidang:

1) Mengenali sejarah penafsiran Al-Qur’an yang dibagi kedalam tafsir pada masa sahabat nabi

2) Mengenai corak tafsir

3) Mengenai pergerakan pembaharuan di bidang tafsir

Selanjutnya mengenai gerakan pembaharuan di bidang tafsir, Ahmad Al-Syarbashi mendasarkan pada beberapa karya lama yang muncul awal Ahad ke-20. langkah selanjutnya ia menghimpun dan menambah penjelasan seperlunya dalam sebuah kita tafsir yang diberi nama tafsir Al-Manar yaitu kita tafsir yang mengandung pembaharuan dan sesuai dengan perkembangan zaman.

c. Model Syaikh Muhammad Al-Ghazali

Banyak hasil penelitian yang ia lakukan, termasuk dalam bidang tafsir Al-Qur’an, sebagaimana para peneliti tafsir lainnya, Muhammad Al-Ghozali menempuh cara penelitian tafsir yang bercorak eksploratif deskriptif dan analisis dengan berdasar pada rujukan kita-kitab tafsir yang ditulis ulama terdahulu.

Tentang macam-macam metode memahami Al-Qur’an, Al-Ghozali membaginya kedalam metode klasik dan metode modern dalam memahami Al-Qur’an berbagai macam metode atau kajian yang dikemukakan Muhammad dan Al-Ghozali tersebut oleh ulama lainnya disebut sebagai pendekatan, dan bukan metode, karena sebagai sebuah disiplin ilmu biasanya memiliki metode. Dalam hubungan ini Muhammad Al-Ghozali kelihatannya ingin mengatakan bahwa metode yang terdapat dalam berbagai disiplin ilmu tersebut ingin digunakan dalam memahami Al-Qur’an.

Selanjutnya Muhammad Al-Ghozali mengemukakan adanya metode modern dalam memahami Al-Qur’an metode modern ini timbul sebagai akibat dari adanya kelemahan pada berbagai metode yang telah disebutkan dan digunakan. Muhammad Al-Ghozali mengemukakan ada juga tafsir yang bercorak dialogis, seperti yang pernah dilakukan oleh Al-Razi dalam tafsirnya Al-Tafsir Al-Kabir. Tafsir ini banyak menyajikan tema-tema menarik, namun sebagian dari tema tafsir terebut sudah keluar dari batasan tafsir itu sendiri.

  1. Model penelitian tafsir dan studi Al-Qur’an lainnya.

Banyak penelitiannya dilakukan para ulama terhadap aspek tertentu dari Al-Qur’an diantaranya ada yang menfokuskan penelitiannya terhadap kemu’jizatan Al-Qur’an, metode-metode, kaidah-kaidah dalam menafsirkan Al-Qur’an, kunci-kunci untuk memahami Al-Qur’an, serta ada pula yang khusus meneliti mengenai corak dan arah penafsiran Al-Qur’an. Pada mulanya usaha penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan Ijtihad masih sangat terbatas dan terikat dengan kaidah-kaidah bahasa serta arti-arti yang terkandung oleh satu kosakata namun sejalan dengan lajunya perkembangan masyarakat, berkembang dan tertambah besar pula peranan akal atau ijtihad dalam penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga bermunculan berbagai kitab atau penafsiran yang beraneka ragam. sehingga adanya supaya penafsiran Al-Qur’an sejak zaman Rasulullah SAW, hingga dewasa ini, serta adanya sifat dari kandungan Al-Qur’an yang tersusun menurut memancarkan cahaya kebenaran itulah yang mendorong timbulnya dua kegiatan, yaitu kegiatan-kegiatan penelitian tentang penafsiran yang dilakukan generasi terdahulu dan kegiatan penafsiran Al-Qur’an itu sendiri.

B. Metodologi Ulumul Hadis

Secara bahasa, Hadis berarti khabar yaitu sesuatu yang diperbincangkan, dibicarakan, atau dialihkan dari seseorang kepada orang lain. Secara istilah, Jumhur Ulama’ umumnya berpendapat bahwa Hadis, khabar, dan atsar mempunyai pengertian yang sama, yaitu segala sesuatu yang dinukilkan dari Rasulullah saw., sahabat atau tabi’in baik dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun ketetapan, baik semuanya itu dilakukan sewaktu-waktu saja maupun lebih sering dan banyak diikuti oleh para sahabat.[4] Peneliti-peneliti awal di bidang Hadis diantaranya adalah Imam Bukhori dan Muslim.

1. Beberapa model penelitian Ilmu Hadis

a. Model H. M. Quraish Shihab

Meneliti dua sisi dai keberadaan Hadis, yaitu mengenai hubungan Hadis dan Al Qur’an serta fungsi dan posisi Sunnah dalam tafsir. Bahan-bahan penelitian yang digunakan adalah bahan kepustakaan atau bahan bacaan. Sedangkan sifat penelitiannya adalah deskriptif analitis, dan bukan uji hipotesis.[5]

b. Model Musthafa Al Siba’iy

Penelitiannya bercorak eksploratif dengan menggunakan pendekatan historis dan disajikan secara deskriptif analitis. Yakni dalam sistem penyajiannya menggunakan pendekatan kronologi urutan waktu dalam sejarah.[6]

c. Model Muhammad al Ghazali

Penelitiannya termasuk penelitian eksploratif. Corak penelitiannya bersifat deskriptif analitis.[7]

d. Model Zain Al Din ‘Abd Al Rahim bin Al Husain Al Iraqiy

Penelitiannya bersifat penelitian awal, yaitu penelitian yang ditujukan untuk menemukan bahan-bahan untuk digunakan membangun suatu ilmu.[8]

2. Pembagian ilmu Hadis

a. Ilmu Hadis Riwayah

Ilmu Hadis Riwayah adalah suatu ilmu pengetahuan untuk mengetahui cara-cara penukilan, pemeliharaan, dan pendewanan apa-apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. Baik berupa oerkataan, perbuatan, ikrar, maupun lain sebagainya. Obyek ilmu Hadis Riwayah, ialah bagaimana cara menerima, menyampaikan kepada orang lain, dan memindahkan atau mendewankan dalam suatu Dewan Hadis.

b. Ilmu Hadis Dirayah (Ilmu Mushthalahul Hadis)

Ilmu Hadis Dirayah adalah Undang-Undang (kaidah-kaidah) untuk mengetahui hal ihwal sanad, matan, cara-cara menerima dan menyampaikan Al Hadis, sifat-sifat Rawi, dan lain sebagainya. Obyek ilmu Hadis Dirayah, ialah meneliti kelakuan para Rawi dan keadaan Marwinya (sanad dan matannya).[9]

Cabang-cabang Ilmu Mushthalahul Hadis adalah sebagai berikut:[10]

cabang-cabang yang berpangkal pada sanad, antara lain:

1) Ilmu Rijali’l Hadis

2) Ilmu Thabaqati’r Ruwah

3) Ilmu Tarikh Rijali’l Hadis

4) Ilmu Jarh wa Ta’dil

cabang-cabang yang berpangkal pada matan adalah sebagai berikut;

1) Ilmu Gharibi’l Hadis

2) Ilmu Asbabi Wurudi’l Hadis

3) Ilmu Tawarikhi’l Mutun

4) Ilmu Nasikh wa Mansukh

5) Ilmu Talfiqi’l Hadis

cabang-cabang yang berdasarkan pada sanad dan matan, ialah:

1) Ilmu ‘Ilali’l Hadis

3. Penelitian Sanad dan Matan Hadis

Faktor yang paling utama perlunya dilakukan penelitian terhadap sanad dan matan Hadis, ada dua hal. Pertama, karena beredarnya Hadis palsu (Hadis Maudhu’) pada kalangan masyarakat. Kedua, hadis-hadis tidak ditulis secara resmi pada masa Rasul saw. (berbeda dengan Al Qur’an), sehingga penulisan dilakukan hanya bersifat individual (tersebar di tangan pribadi para sahabat) dan tidak menyeluruh.[11]

Takhrij Al Hadis, merupakan solusi yang perlu terus dikembangkan mengingat dewasa ini banyak bermunculan buku-buku atau kitab-kitab dalam masalah ibadah, akidah, dan akhlak yang menggunakan dalil-dalil Hadis, dengan tidak menyertakan sumber rujukan dan keterangan tentang kualitas hadis-hadis tersebut.[12]

4. Pembagian Hadis secara umum

a. Dari segi jumlah perawinya.

1) Hadis Mutawattir

2) Hadis Ahad

b. Dari segi kualitas sanad dan matan Hadis

1) Hadis Shahih

2) Hadis Hasan

3) Hadis Dhaif

c. Dari segi kedudukan dalam hujjah

1) Hadis Maqbul

2) Hadis Mardud

d. Dari segi perkembangan sanadnya

1) Hadis Muttashil

2) Hadis Munqathi’

C. Metode Filsafat dan Ilmu Kalam (teologi)

Filsafat Islam merupakan salah satu bidang studi Islam yang keberadaannya telah menimbulkan pro dan kotra, sebagai mereka yang berpikiran maju dan bersifat liberal cenderung mau menerima pemikiran filsafat Islam dewasa ini kajian dan penelitian filsafat yang dilakukan para ahli, kiranya dapat diraih kembali kejayaan Islam di bidang ilmu pengetahuan.

Filsafat Islam berdasar pada ajaran Islam yang bersumberkan Al-Qur’an dan hadist, pembahasannya mencakup bidang kosmalogi, bidang metafisika, masalah kehidupan di dunia, kehidupan di akhirat, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya, kecuali masalah zat Tuhan. Filsafat Islam hadir sejalan dengan perkembangan ajaran Islam itu sendiri, pemikiran filsafat Islam dikembangkan oleh orang-orang Islam. Kedudukan filsafat Islam sejajar dengan bidang studi keislaman lainnya. Untuk dapat mengembangkan pemikiran filsafat Islam diperlukan metode dan pendekatan secara seksama.

Berbagai metode penelitian filsafat Islam dilakukan oleh para ahli dengan tujuan untuk dijadikan bahan perbandingan bagi pengembangan filsafat Islam selanjutnya. Diantara adalah sebagai berikut:

2. H. Amin Abdullah: metode deskriptif, pendekatan studi tokoh dengan cara melakukan studi komparatif.

3. Sheila Mc Donough: penelitian kategori kualitatif, corak penelitian deskriptif analitis, pendekatan tokoh dan komparatif studi.

4. Otto Horrossowitz: penelitian kategori kualitatif, metode deskriptif analitis, pendekatan historis dan tokoh.

5. Masjid Fakhry: pendekatan campuran yakni pendekatan historis, kawasan, dan substansi

6. Harusn Nasution: pendekatan tokoh dan pendekatan historis, penelitian deskriptif, penelitian kategori kualitatif

7. Ahmad Fuad Al-Ahwani: metode kepustakaan, corak penelitian deskriptif kualitatif, pendekatan campuran yakni pendekatan historis, kawasan, dan tokoh

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pada umumnya penelitian yang dilakukan para ahli bersifat penelitian kepustakaan, yakni penelitian yang menggunakan bahan-bahan gerakan sebagai sumber rujukannya. Metode yang digunakan umumnya bersifat deskriptif analitis. Sedangkan pendekatan yang digunakan umumnya pendekatan historis, kawasan, substansial.[13]

Berbagai kajian di bidang keagamaan yang dilihat dari segi demikian filosofis nya, maka akan dapat ditangkap dan dihayati makan substansial, hakikat, ini, dan pesan spiritual dari setiap ajaran keagamaan tersebut.

Teologi adalah ilmu yang pada intinya berhubungan dengan masalah ketuhanan. Dengan ilmu ini diharapkan seseorang menjadi yakin dalam hatinya secara mendalam dan mengikatkan dirinya hanya pada alam sebagai Tuhan. Pemikiran teologis memiliki loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta menggunakan bahasa yang bersifat subyektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat.[14]

Secara umum penelitian ilmu kalam ada dua bagian yakni penelitian yang bersifat dasar (penelitian pemula) dan penelitian yang bersifat lanjutan atau pengembangan dari penelitian.

6) Penelitian pemula

a. Abu Mansur Muhammad: mengemukakan riwayat hidup secara singkat dari Al-Maturidy, juga berbagai masalah yang detail dan rumit di bidang ilmu kalam.

b. Al-Imam Abi Al-Hasan: membahas masalah-masalah yang rumit dan mendetail tentang teologi

c. Abd Al-Jabbar Bin Ahmad: membahas secara detail lima ajaran pokok Mu’tazilah dan juga berbagai masalah teologi.

d. Thahawiyah: membahas teologi di kalangan ulama salaf, yaitu ulama yang belum dipengaruhi pemikiran Yunani dan pemikiran lainnya yang berasal dari luar Islam, atau bukan dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah.

e. Al-Imam Al-Haramain Al-Juwainy: membahas tentang penciptaan alam, kitab Tahid, Akidah, kesucian Allah SWT, Ta’wil, sifat-sifat bagi Allah, Illat atau sebab

f. Al-Ghozali: membahas tentang ilmu zat Allah dan kenabian Muhammad SAW.

g. Al-Amidy: membahas sifat-sifat bagi allah, tentang barunya lam, tidak adanya sifat tasalsul dan tentang Imamah.

h. Al-Syahrastani: berbicara tentang Islam, Iman, dan Ihsan, juga berbagai alasan dalam teologi Islam lengkap dengan tokoh-tokohnya

i. Al-Bazdani: mengemukakan tentang perbedaan pendapat para ulama’ mengenai ilmu Kalam.

Dapat disimpulkan bahwa penelitian pemula bersifat eksploratif yakni menggali sejauh mungkin ajaran teologi Islam yang diambil dari Al-Qur’an dan hadsit serta berbagai pendapat yang dijumpai dari para pemikir di bidang teologi Islam. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan doktriner atau substansi ajaran, karena yang dicari adalah rumusan ajaran dari berbagai golongan atau aliran yang ada dalam ilmu kalam.

7) Penelitian lanjutan

a) Abu Zahrah: mengangkat masalah obyek-obyek yang dijadikan pangkal pertentangan oleh berbagai aliran dalam bidang politik yang berdampak pada masalah teologi.

b) Ali Mushthofa Al-Ghurabi: memusatkan penelitiannya pada masalah berbagai aliran yang tedapat dalam Islam serta pertumbuhan ilmu kalam di kalangan masyarakat Islam.

c) Abd Al-Lathif Muhammad Al-‘Asyr: membahas tentang pokok-pokok yang menyebabkan timbulnya perbedaan pendapat di kalangan umat Islam.

d) Ahamd Mahmud Shubdi: berbicara mengenai aliran Mu’tazilah dan aliran Asy’ariyah

e) Ali Sami Al-Nasyr dan Ammar Jam’iy Al-Thaliby: mengungkap tentang pemikiran kau Salaf yang berasal dari tokoh-tokohnya yang menonjol.

f) Harun Nasution: mengemukakan tentang sejarah timbulnya persoalan-persoalan teologi dalam Islam, berbagai aliran teologi Islam lengkap dengan tokoh-tokoh dan pemikirannya.

Dari berbagai penelitian lanjutan tersebut dapat diketahui bahwa penelitiannya termasuk penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang mendasarkan pada data yang terdapat dalam berbagai sumber rujukan di bidang teologi Islam. Corak penelitiannya yaitu deskriptif, yaitu penelitian yang tekannya pada kesungguhan dalam mendeskripsikan data selengkap mungkin. Pendapatan yang digunakan adalah pendekatan historis, yaitu mengkaji masalah teologi berdasarkan data sejarah yang ada dan juga melihatnya sesuai dengan konteks waktu yang bersangkutan. Dalam analisisnya, menggunakan analisis doktrin dan juga analisis perbandingan, yaitu dengan mengemukakan isi doktrin ajaran dari masing-masing aliran sedemikian rupa, kemudian baru dilakukan perbandingan

D. Metode Tasawuf dan Mistis Islam

Mistisme adalah Islam diberi nama Tasawuf dan oleh kaum orientalis barat disebut sufisme. Kata sufisme dalam istilah orientalis barat khusus dipakai untuk mistisme Islam tasawwuf atau sufisme mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan.[15]

Islam sebagai agama yang bersifat universal, menghendaki kebersihan lahirian (dimensi eksoterik), dan keberhasilan batiniah (dimensi esoteric). Tasawuf merupakan salah satu bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada memberikan aspek rohani manusia yang selanjutnya dapat menimbulkan akhlak mulia, di dalam tasawuf, seseorang dibina secara intensif tentang cara-cara agar seseorang selalu merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Terdapat hubungan yang erat antar akidah, Syari’ah dan akhlak. Berkenaan dengan ini telah bermunculan para peneliti yang mengkonsentrasikan kajiannya pada masalah tasawuf. Keadaan ini selanjutnya mendorong timbulnya kajian dan penelitian di bidang tasawuf.

Berbagai bentuk dan modal penelitian tasawuf adalah sebagai berikut:

1) Sayyed Husein Nasr: modal penelitiannya kualitatif, pendekatan tematik yang berdasarkan pada studi kritis terhadap ajaran tasawuf yang pernah berkembang dalam sejarah.

2) Mustafa Zahri: penelitiannya bersifat eksploratif, menekankan pada ajaran yang terdapat dalam tasawuf berdasarkan literatur yang ditulis oleh para ulama terdahulu serta dengan mencari sandaran ada Al-Qur’an dan Al-Hadist.

3) Kautsar Azharri Noor: penelitian yang ditempuh adalah studi tentang tokoh dengan pahamnya yang khas.

4) Harun Nasution: pendekatan tematik, bersifat deskriptif eksploratif.

5) A. J. Arberry: penelitian bersifat deskriptif, pendekatan kombinasi yakni kombinasi antar pendekatan tematik dengan pendekatan tokoh, menggunakan analisa kesejahteraan.

6) Imam Al-Ghozali: penelitian bersifat deskriptif

Berangkat dari uraian tersebut diatas maka tampaknya terdapat tiga modal pendekatan pemikiran tasawuf, yakni pendekatan tematik, pendekatan tokoh, dan pendekatan kombinasi, antar keduanya.[16] Pendekatan tematik adalah penelusuran tema-tema tertentu sebagai jalan untuk dekat pada Allah. Sedangkan pendekatan tokoh adalah mengenai tokoh-tokoh tasawuf tertentu berikut ajaran-ajarannya. Selanjutnya pendekatan kombinasi ialah menggunakan Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagai standar dalam memahami tema-tema dari ajaran tasawuf berikut mengenal tokohnya. Analisanya adalah analisa kesejahteraan yakni memahami berbagai tema berdasarkan konteks sejarahnya.


BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Sejak kedatangan Islam pada abad ke-13 M hingga saat ini fenomena pemahaman ke-Islaman umat Islam Indonesia masih ditandai oleh keadaan umat variatif. Hingga saat ini pemahaman Islam yang terjadi di masyarakat masih bercorak parsial belum utuh dan belum pula komprehensif. Oleh karena itu metode memiliki peranan sangat penting dalam kemajuan dan kemunduran pemahaman Islam. Metode-metode yang digunakan untuk memahami Islam itu suatu saat mungkin dipandang tidak cukup lagi, sehingga diperlukan pendekatan baru yang harus terus digali oleh para pembaharu. Diantara metodologi-metodologi hasil galian para pembaharu adalah metodologi Tafsir dan Studi Al-Qur’an, metodologi Ulumul Hadist, metodologi Filsafat dan Teologi (Kalam), metodologi Tasawuf dan Mistis Islam. Model penelitian tafsir adalah suatu contoh, ragam, acuan atau macam dari penyelidikan secara seksama terhadap penafsiran Al-Qur’an. Penelitian terhadap Hadist dikaji dari segi keautentikannya, kandungan makna dan ajaran yang terdapat didalamnya, macam-macam tingkatannya, maupun fungsinya dalam menjelaskan kandungan Al-Qur’an.. Penelitian yang dilakukan para ahli filsafat bersifat penelitian kepustakaan, yakni penelitian yang menggunakan bahan-bahan gerakan sebagai sumber rujukannya. Metode yang digunakan umumnya bersifat deskriptif analitis. Sedangkan pendekatan yang digunakan umumnya pendekatan historis, kawasan, substansial. Secara umum penelitian ilmu kalam ada dua bagian yakni penelitian yang bersifat dasar (penelitian pemula) dan penelitian yang bersifat lanjutan atau pengembangan dari penelitian. Dalam metode tasawuf, terdapat tiga modal pendekatan pemikiran, yakni pendekatan tematik, pendekatan tokoh, dan pendekatan kombinasi antar keduanya.


DAFTAR PUSTAKA

Raza,, Nasrudin, Dienul (Bandung : Al-Ma’arif, 1977)

Nasution, Harun, Falsafat dan Mistisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973)

Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1998)

Studi Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengantar Studi Islam, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2004)


METODE MEMAHAMI ISLAM I

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Pengantar Studi Islam

Dosen Pembimbing:

Mukhlisin, S.Ag

Disusun Oleh

Ahmad Farih DO1207211

Siti Qurroti A’yuni DO1207214

Iin Fribuati DO1207223

FAKULTAS TARBIYAH

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2007


[1] Lihat Nasrudin Raza, Dienul (Bandung : Al-Ma’arif, 1977), hal. 49-50

[2] Lihat pemahaman Islam yang dikemukakan reformer seperti Muhammad Abdul (pembaharuan dari Mesir) Muhammad Iqbal dan Fazlur Rahman (keduanya pembaharu dari Pakistan), Harun Nasution dan Nurcholis Majid )dari Indonesia)

[3] A. Mukti Ali, op.cit, hal. 44

[4] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hal.237

[5] Ibid, hal.241

[6] Ibid, hal.244

[7] Ibid, hal.246

[8] Ibid, hal.247

[9] Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahu’l Hadis, (Bandung: PT. Al Ma’arif), hal.73

[10] Ibid, hal.77

[11] Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), hal.100

[12] Ibid, hal.104

[13] Ibid, Metodologi Studi Islam, hal.215

[14] Ibid, hal.221

[15] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 56

[16] Studi Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengantar Studi Islam, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2004)

Pendidikan Pada Masa Abbasiyah

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 3.0in right 6.0in; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; vertical-align:super;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/perpus03/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) fs; mso-footnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/perpus03/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) fcs; mso-endnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/perpus03/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) es; mso-endnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/perpus03/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) ecs;} @page Section1 {size:595.35pt 842.0pt; margin:1.0in 89.85pt 1.0in 89.85pt; mso-header-margin:35.45pt; mso-footer-margin:35.45pt; mso-page-numbers:1; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:166602071; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:502324254 -1768756780 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.25in;} @list l1 {mso-list-id:470250999; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1609639240 -46360516 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.25in;} @list l2 {mso-list-id:1540555807; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-504098536 231511640 67698689 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ascii-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-hansi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l2:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l3 {mso-list-id:2118403133; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1036099878 67698709 152583682 936557268 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3:level2 {mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3:level3 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:117.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:117.0pt; text-indent:-.25in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pendidikan Zaman Abbasiyah

Masa keemasan Abbasiyah adalah zaman keemasan peradaban (pendidikan) Islam yang berpusat di Baghdad yang berlangsung selama kurang lebih lima abad (750-1258 M). Hal ini dibuktikan oleh keberhasilan tokoh-tokoh Islam dalam menjalani keilmuan dan dengan karya-karyanya. Mulai dari aliran fiqih, tafsir, ilmu hadis, teologi, filsafat sampai dengan bidang keilmuan umum seperti matematika, astronomi, sastra sampai ilmu kedokteran.

Keberhasilan dalam bidang keilmuan tersebut disebabkan adanya kesadaran yang tinggi akan pentingnya ilmu pengetahuan untuk sebuah peradaban. Mereka memahami bahwa sebuah kekuasaan tidak akan kokoh tanpa didukung oleh ilmu pengetahuan.[1] Hal itu dapat ditunjukkan melalui antusias mereka dalam mencari ilmu, penghargaan yang tinggi bagi para ulama’, para pencari ilmu, tempat-tempat menuntut ilmu, dan banyaknya perpustakaan yang dibuka, salah satunya adalah Bait al-Hikmah.

Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun al-Rasyid (768-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M).[2] Masa pemerintahan Harun al-Rasyid yang 23 tahun itu merupakan permulaan zaman keemasan bagi sejarah dunia Islam bagian timur. Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Al-Ma’mun pengganti al-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.[3]

Kehidupan intelektual di zaman dinasti Abbasiyah diawali dengan berkembangnya perhatian pada perumusan dan penjelasan panduan keagamaan terutama dari dua sumber utama yaitu al-Qur’an dan Hadis. Dalam bidang pendidikan di awal kebangkitan Islam lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat:

1. Maktab/ kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan; dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadis, fiqih, dan bahasa.

2. Tingkat pendalaman, para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam agama. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa, pendidikan biasanya berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan mendatangkan ulama ahli.

Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas dengan berdirinya perpustakaan dan akademik.

Kemajuan dalam bidang keilmuan tersebut dikarenakan oleh:

1. Keterbukaan budaya umat Islam untuk menerima unsur-unsur budaya dan peradaban dari luar, sebagai konsekuensi logis dari perluasan wilayah yang mereka lakukan.

2. Adanya penghargaan, apresiasi terhadap kegiatan dan prestasi-prestasi keilmuan.[4]

3. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan.

4. Gerakan penterjemahan guna menciptakan tradisi keilmuan yang kondusif. Gerakan terjemahan berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, masa khalifah al-Manshur hingga Harun al-Rasyid. Banyak menterjemahkan karya-karya bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua, masa khalifah al-Ma’mun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga, setelah tahun 300 H terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.

Perhatian masyarakat sangat tinggi di bidang sastra dan sejarah, dalam periode awal Abbasiyah telah didapati banyak terjemahan dari bahasa Pahleli atau adaptasi dari bahasa Persia. Berkembangnya pemikiran intelektual dan keagamaan pada periode ini antara lain karena kesiapan umat Islam untuk menyerap budaya dan khazanah peradaban besar dan mengembangkannya secara kreatif, ditambah dengan dukungan dari khalifah pada waktu itu dengan memfasilitasi terciptanya iklim intelektual yang kondusif. Tradisi yang berkembang pada waktu itu adalah tradisi membaca, menulis, berdiskusi, keterbukaan/ kebebasan berfikir, penelitian serta pengabdian mereka akan keilmuan yang mereka kuasai. Bagi mereka adalah kepuasan tersendiri bisa mempunyai kekayaan ilmu.

Tradisi intelektual terlihat dari kecintaan mereka akan buku-buku yang hal itu dibarengi dengan adanya perpustakaan-perpustakaan baik atas nama pribadi yang diperuntukkan kepada khalayak umum atau disponsori oleh khalifah. Hasil membaca mereka kemudian didiskusikan dan dikembangkan lagi, mereka menjadikan perpustakaan dan masjid sebagai tempat berdiskusi. Dari sinilah memunculkan ide/ keilmuan baru, tercipta tradisi menulis, menyadarkan kebutuhan untuk berkarya yang sangat tinggi. Tradisi penelitian juga kita lihat dari temuan-temuan (eksperimen) ilmu dalam bidang sains, matematika, kedokteran, astronomi, dan lain-lain.

  1. Kemajuan Bidang Pengetahuan dan Teknologi

Pada masa pemerintahan daulah Abbasiyah mengalami kemajuan dalam bidang pengetahuan dan teknologi. Hal ini disebabkan para khalifah memfokuskan pada pengembangan pengetahuan dan teknologi. Mereka menterjemahkan berbagai karya-karya baik dari bahasa Yunani, Persia, dan lain-lain. Kemajuan bidang pengetahuan dan teknologi yang telah dicapai meliputi:

    1. Geometri, perhatian cendekiawan muslim terhadap geometri dibuktikan oleh karya-karya matematika. Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi telah menciptakan ilmu Aljabar. Kata al-Jabar berasal dari judul bukunya, al-Jabr wa al-Muqoibah. Ahli geometri muslim lain abad itu ialah Kamaluddin ibn Yunus, Abdul Malik asy-Syirazi yang telah menulis sebuah risalah tentang Conics karya Apollonius dan Muhammad ibnul Husain menulis sebuah risalah tentang “Kompas yang sempurna dengan memakai semua bentuk kerucut yang dapat digambar”. Juga al-Hasan al-Marrakusy telah menulis tentang geometri dan gromonics.
    2. Trigonometri, pengantar kepada risalah astronomi dari Jabir ibnu Aflah dari Seville, ditulis oleh Islah al-Majisti pada pertengahan abad, berisi tentang teori-teori trigonometrikal. Dalam bidang astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. Al-Fargani yang dikenal di Eropa dengan nama al-Faragnus menulis ringkasan ilmu astronomi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis.
    3. Musik, banyak risalah musikal telah ditulis oleh tokoh dari sekolah Maragha, Nasiruddin Tusi dan Qutubuddin asy-Syirazi, tetapi lebih banyak teoritikus besar pada waktu itu adalah orang-orang Persia lainnya. Safiuddin adalah salah seorang penemu skala paling sistematis yang disebut paling sempurna dari yang pernah ditemukan.[5]
    4. Geografi, al-Mas’udi ahli dalam ilmu geografi diantara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma’aadzin al-Jawahir.
    5. Antidote (penawar racun), ibnu Sarabi menulis sebuah risalah elemen kimia penangkal racun dalam versi Hebrew dan Latin. Penerjemahan dalam bahasa Latin (mungkin suatu adaptasi atau pembesaran) terbukti menjadi lebih populer dan lebih berpengaruh daripada karya aslinya dalam bahasa Arab. Di bidang kimia terkenal nama Jabir ibn Hayyan. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan sesuatu zat tertentu.
    6. Ilmu kedokteran dikenal nama al-Razi dan ibn Sina. Al-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya ilmu kedokteran berada di tangan ibn Sina. Ibnu Sina yang juga seorang filosuf berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Diantara karyanya adalah al-Qanun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitami, yang di Eropa dikenal dengan nama al-Hazen. Dia terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya, bendalah yang mengirim cahaya ke mata.
    7. Filsafat, tokoh yang terkenal adalah al-Farabi, ibn Sina dan ibn Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika, dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat. Yang terkenal diantaranya ialah al-Syifa’. Ibn Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes, banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga disana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme.

C. Tokoh-tokoh/ Para ilmuwan zaman Abbasiyah

Para ilmuwan yang lahir dari peradaban abbasiyah adalah para ilmuwan yang sangat dikenal di berbagai pelosok dunia. Buku-buku karya mereka juga menjadi acuan utama bagi para ilmuwan lainnya, baik di Barat maupun di Timur.[6]

1. Bidang Astronomi: Al-Fazari, Al- Fargani (Al-Faragnus), Jabir Batany, Musa bin Syakir, dan Abu Ja’far Muhammad.

2. Bidang Kedokteran: Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Masiwaihi, Ibnu Sahal, Ali bin Abbas, Al-Razi, Ibn Rusyd, dan Al-Zahawi.

3. Bidang Optika: Abu Ali al-Hasan ibn al-Haythani (al-Hazen).

4. Bidang Kimia: Jabir ibn Hayyan dan Ibn Baitar.

5. Bidang Matematika: Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, Tsabit ibn Qurrah al-Hirany, dan Musa bin Syakir.

6. Bidang Sejarah: Al-Mas’udi dan Ibn Sa’ad.

7. Bidang Filsafat: Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, dan Musa bin Syakir.

8. Bidang Tafsir: Ibn Jarir ath Tabary, Ibn Athiyah al-Andalusy, Abu Bakar Asam, dan Ibn Jaru al-Asady.

9. Bidang Hadis: Imam Bukhori (karyanya adalah kitab al-Jami’ al-Shahih yang merupakan kumpulan hadis)[7], Imam Muslim, Ibn Majah, Baihaqi, dan At-Tirmizi.

10. Bidang Kalam: Al-Asy’ari, Imam Ghozali, dan Washil bin Atha.

11. Bidang Geografi: Syarif Idrisy dan Al-Mas’udi.

12. Bidang Tasawuf: Shabuddin Sahrawardi, Al-Qusyairi, dan Al-Ghozali (karya terpentingnya adalah Ihya ‘Ulum al-Din.[8]

13. Munculnya empat madzhab: Al-Syafi’i (peletak dasar ilmu ushul fiqih dan pencetus teori ijma’ (konsensus) yang menjadi salah satu sumber syari’ah)[9], Imam Maliki, Imam Hambali, dan Imam Hanafi.

BAB III

KESIMPULAN

1. Pada masa Abbasiyah bidang pendidikan mengalami masa keemasan. Popularitasnya mencapai puncaknya pada masa khalifah al-Rasyid dan putranya, khalifah al-Makmun.Kemajuan tersebut ditentukan oleh dua hal:

a. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa lain yang telah dahulu mengalami perkembangan dalam ilmu pengetahuan.

b. Gerakan penterjemahan guna menciptakan tradisi keilmuan yang kondusif.

Disamping itu juga didukung oleh tradisi intelektual yakni tradisi membaca, menulis, berdiskusi, keterbukaan/ kebebasan berfikir, penelitian, serta pengabdian mereka akan keilmuan yang mereka kuasai.

2. Kemajuan bidang Iptek yang telah dicapai meliputi:

a. Geometri

b. Trigonometri

c. Musik

d. Geografi

e. Antidote (penawar racun)

f. Ilmu Kedokteran

g. Filsafat

3. Para ilmuwan yang lahir dari peradaban abbasiyah adalah para ilmuwan yang sangat dikenal di berbagai pelosok dunia. Buku-buku karya mereka juga menjadi acuan utama bagi para ilmuwan lainnya, baik di Barat maupun di Timur.


[1] Yusuf Qardhawi, Meluruskan Sejarah Umat Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm.123.

[2] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 52.

[3] Ibid, hlm. 53.

[4] M. Masyhur Amin, Dinamika Islam, (Yogyakarta: LKPSM, 1995), hlm. 55.

[5] Mehdi Nakasteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat, (Surabaya: Risalah Gusti, 1995), hlm. 245.

[6] Yusuf Qardhawi, Ibid, hlm. 120.

[7] Bahruddin Fanani, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999), hlm. 90.

[8] Ibid, hlm. 177

[9] Ibid, hlm. 66

Para Ilmuwan Zaman Abbasiyah

abbasiyah

Tokoh-tokoh/ Para ilmuwan zaman Abbasiyah

  1. Bidang Astronomi
    • Al-Fazari, astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe
    • Al- Fargani (Al-Faragnus), menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis.
    • Jabir Batany
    • Musa bin Syakir
    • Abu Ja’far Muhammad
  2. Bidang Kedokteran
    • Ibnu Sina (Avicenna), bukunya yang fenomenal yaitu al-Qanun fi al-Tiib. Ia juga berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia.
    • Ibnu Masiwaihi
    • Ibnu Sahal
    • Ali bin Abbas
    • Al-Razi, tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak
  3. Bidang Optika
    • Abu Ali al-Hasan ibn al-Haythani (al-Hazen), terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihatnya. Menurut teorinya, bendalah yang mengirim cahaya ke mata
  4. Bidang Kimia
    • Jabir ibn Hayyan, ia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi, dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak
    • Ibn Baitar
  5. Bidang Matematika
    • Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, yang juga mahir dalam bidang astronomi. Dialah yang menciptakan ilmu al-Jabar.
    • Tsabit ibn Qurrah al-Hirany
    • Musa bin Syakir
  6. Bidang Sejarah
    • Al-Mas’udi, diantara karyanya adalah Muruj al-Zahab wa Ma’adin al-Jawahir
    • Ibn Sa’ad
  7. Bidang Filsafat
    • Al-Farabi, banyak menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika, dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles
    • Ibn Sina, bukunya yang terkenal dalam filsafat adalah al-Syifa’
    • Ibn Rusyd, banyak berpengaruh di Barat, sehingga disana terdapat aliran Averroisme.
    • Musa bin Syakir
  8. Bidang Tafsir
    • Ibn Jarir ath Tabary
    • Ibn Athiyah al-Andalusy
    • Abu Bakar Asam
    • Ibn Jaru al-Asady
  9. Bidang Hadis
    • Imam Bukhori
    • Imam Muslim
    • Ibn Majah
    • Baihaqi
    • At-Tirmizi
  10. Bidang Kalam
    • Al-Asy’ari
    • Imam Ghozali
    • Washil bin Atha
  11. Bidang Geografi
    • Syarif Idrisy
    • Al-Mas’udi
  12. Bidang Tasawuf
    • Shabuddin Sahrawardi
    • Al-Qusyairi
    • Al-Ghozali

Tentang Kemiskinan

miskin

BICARA KEMISKINAN, BICARA SDM

Kemiskinan selalu menjadi permasalahan pokok yang tak pernah ada habisnya di Indonesia ini. Kemiskinan juga tak jarang menjadi prioritas utama di antara serentetan komitmen dalam orasi para penguasa negeri ini. Karena sudah menjadi masalah yang menjamur di negeri ini, maka membicarakan kemiskinan adalah hal yang menjenuhkan bahkan mampu melemahkan mentalitas anak bangsa karena mereka hanya disuguhi tontonan-tontonan tentang keterpurukan bangsa tanpa motivasi untuk bangkit kembali.

Dimana-mana dibicarakan bagaimana caranya mengentaskan kemiskinan, usaha apa saja yang harus dilakukan untuk itu, serta siapa saja yang bertanggung jawab memerangi kemiskinan. Tidak sedikit seminar ataupun forum-forum diskusi yang membicarakan hal itu. Sayangnya semua hanya menjadi teori tanpa ada tindak lanjut yang nyata.

Mengingat kemiskinan merupakan suatu permasalahan maka diperlukan suatu pemecahan atas kemiskinan tersebut. Dalam menyelesaikan suatu masalah, sebelumnya perlu dikaji apa saja faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya suatu permasalahan tersebut. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya kemiskinan diantaranya adalah bencana alam yang akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesia, minimnya investasi yang masuk serta PHK di berbagai perusahaan. Juga karena kebijakan pemerintah misalnya kenaikan harga BBM yang disusul dengan melambungnya harga bebagai kebutuhan pokok. Selain itu, keterpencilan letak suatu wilayah juga berpotensi menjadi sumber tumbuhnya kemiskinan. Masyarakat terpencil tidak punya akses bagi pemenuhan kabutuhan hidupnya.

Di antara beberapa faktor tersebut sebenarnya ada faktor yang lebih urgen yakni faktor rendahnya SDM. Kemiskinan sangat erat kaitannya dengan kualitas SDM. Jika SDM berkualitas maka kemiskinan akan dapat ditangani dengan cepat. Begitu juga sebaliknya, jika kualitas SDM rendah maka butuh waktu lama untuk mengentaskan rakyat dari belenggu kemiskinan. SDM yang berkualitas merupakan hasil konstruksi dari pendidikan yang terarah.

Bila melihat potret pendidikan di Indonesia, disitu terlihat jelas adanya kekaburan arah kebijakan pendidikan yang disusun oleh pemerintah. Hal ini terefleksikan dari adanya pergantian kurikulum yang terlalu sering dilakukan oleh pemerintah. Para pembuat kebijakan berdalih bahwasanya kurikulum itu sifatnya kondisional. Artinya kurikulum harus sesuai dengan keadaan pendidik dan anak didik dalam suatu masa tertentu. Tapi pada kenyataannya, kurikulum yang dihasilkan sama sekali tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat. Akhirnya, tidak mengherankan jika dalam pelaksanaannya terjadi banyak kekeliruan dan ketidaksesuaian dengan harapan si pembuat kabijakan. Ini baru segelintir contoh kasus nyata dari sekian banyak hegemoni yang dilakukan oleh penguasa kepada rakyat di negeri Indonesia ini.

Memperhatikan mental bangsa Indonesia, sepertinya perlu adanya rekonstruksi. Mental bangsa kita memang kerdil. Ironisnya, pemerintah –entah secara sadar atau tidak- malah mengajari bangsa ini menjadi bangsa yang kerdil. Pemberian BLT pasca kenaikan harga BBM merupakan salah satu bukti nyata dari sekian banyak kebijakan pemerintah yang mengkonstruk bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lemah. Di satu sisi, pemberian BLT memang merupakan upaya pemerintah untuk mensejahterakan rakyat dengan meratakan pembangunan nasional sehingga tidak terjadi kesenjangan sosial. Tak salah apa yang disampaikan pemerintah mengenai sebab dan tujuan kenaikan harga BBM. Tetapi hal ini disalahartikan oleh rakyat. Mereka malah saling berebut untuk mendapatkan BLT bak pengemis yang kelaparan tanpa tahu bahwa mereka telah menjadi korban hegemoni penguasa. Rakyat tidak pernah tahu kalau ada stake holder di balik fenomena tersebut. Ketika pemerintah menaikkan harga BBM oktober 2005, hal yang segera tampak adalah makin lemahnya daya beli masyarakat dan merosotnya tingkat kesejahteraan. Belum pulih dari permasalahan ekonomi tersebut, masyarakat sudah dibingungkan kembali oleh keputusan pemerintah 23 Mei lalu, yakni pemerintah pusat kembali menaikkan harga BBM. Tentu saja ini merupakan pukulan keras bagi masyarakat kecil.

Bukanlah ikan yang tinggal dimasak kemudian dimakan lalu habis, yang seharusnya diberikan kepada rakyat. Akan tetapi kail-lah yang harus diberikan. Dengan kail itu diharapkan orang bisa berusaha bagaimana caranya agar memperoleh ikan sebanyak-banyaknya. Artinya, pemerintah seharusnya memberikan modal usaha kepada rakyat agar kemudian rakyat membuka lapangan kerja baru meskipun itu hanya lapangan usaha kecil, karena segala sesuatu yang besar pasti berawal dari sesuatu yang kecil. Jika hal ini terwujud, maka pengangguran akan terminimalisir. Berkurangnya pengangguran berarti terkikisnya kemiskinan.

Banyak hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam upaya percepatan pengentasan kemiskinan. Diantaranya melalui program pembangunan infrastruktur dasar di daerah tertinggal, program permodalan usaha bagi warga miskin, serta program padat karya. Semua ini tentunya tidak lepas dari campur tangan rakyat sebagai salah satu komponen suatu negara.

Dengan demikian, memerangi kemiskinan bukan semata-mata tugas seorang pemimpin ataupun jajaran birokrat tetapi juga tanggung jawab semua masyarakat. Kita tidak bisa hanya memandang secara sepihak, hanya bisa menyalahkan pemerintah yang bebannya sudah sangat berat. Oleh karena itu, diperlukan suatu sinergitas antara pemerintah dan rakyat dalam upaya pengentasan kemiskinan di negeri kita, Indonesia tercinta ini.

PilGub Jatim Dihantui Golput

PILGUB JATIM DIHANTUI GOLPUT

Setelah penetapan nomor urut pasangan cagub – cawagub Jawa Timur 16 Juni lalu, para pasangan kandidat pun beramai-ramai memaknai nomor masing-masing dengan makna yang bervariasi menurut perspektif mereka. Kesemuanya tampak optimis akan memenangkan pertarungan politik yang bakal digelar 23 Juli mendatang. Kemudian, Beberapa hari yang lalu tepatnya pada tanggal 6 Juli para kandidat gubernur Jatim mulai berorasi. Ini adalah hari pertama kampanye cagub Jatim. Baik pasangan Ka-Ji, SR, SaLam, AchSan, maupun KarSa mulai membentangkan benderanya. Kampanye dilakukan dalam berbagai bentuk mulai dari jalan santai hingga mendatangkan artis-artis ibukota.

Hari selanjutnya, 7 Juli, para cagub Jatim menyampaikan visi misi di gedung DPRD Jatim. Mereka menyampaikan visi misi serupa yakni mengenai kemiskinan dan pengangguran di Jawa Timur. Tidak ada yang mengangkat masalah lumpur Lapindo yang justru merupakan masalah utama di Jatim.

Meskipun kampanye besar-besaran telah dilakukan namun entah mengapa adanya golput masih saja membayangi pilgub Jatim. Hal ini diantaranya dipicu oleh keberadaan masyarakat Jatim yang masih awam dan hidup dalam lingkungan terpencil. Oleh karena itu diperlukan sosialisasi mengenai prosedur pencoblosan 23 Juli nanti secara merata.

Kegelisahan para cagub – cawagub dan tim KPUD akan meningkatnya angka golput semakin diperparah oleh banyaknya jumlah penduduk musiman di berbagai daerah di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. Ketua KPUD Surabaya, Edward Dewaruci, mengatakan bahwasanya 15 ribu penduduk musiman di Surabaya tidak tercatat sebagai pemilih di Kecamatan. Mereka ini jelas-jelas terancam golput. Apalagi KPUD Jatim mengeluarkan peraturan, penduduk musiman boleh memilih di Surabaya setelah mendapat surat keterangan dari daerah asalnya. Hal ini tentunya menyulitkan mereka apalagi mereka yang berasal dari daerah yang cukup jauh, dari luar Jawa misalnya. Seharusnya mereka diperbolehkan memilih cukup dengan menunjukkan KTP Jatim. PP 6/2005 dalam salah satu pasalnya membolehkan penduduk musiman hanya berbekal KTP Jatim untuk mencoblos.

Sudah saatnya para cagub – cawagub dan tim KPUD menemukan solusi atas permasalahan tersebut mengingat permasalahan golput adalah permasalahan yang pelik dalam setiap pesta demokrasi di negeri ini. Harapan selanjutnya, pilgub Jatim bisa benar-benar menjadi tempat penyaluran aspirasi rakyat. Apa gunanya demokrasi kalau ternyata hanya segelintir orang yang ikut berpartisipasi di dalamnya. Diharapkan seluruh lapisan masyarakat Jatim ikut berpartisispasi dalam upaya mensukseskan pesta demokrasi yang menetukan nasib Jawa Timur ke depan ini. Bagaimanapun juga, sukses tidaknya pilgub Jatim 23 Juli mendatang adalah tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Break through a Bali with ooze’s victims

Break through a Bali with ooze’s victims

Pacification of Bali when United Nations for Climate Change Conference (UNFCC) realization, 2007, December 3-14 is very closely guarde. Not easy entering that location except must get ready to frisked. If suspected, we will detained for several time to interrogated or to deportated. This forum advantaged by Porong ooze’s victims to express their fate, to express environment and human crime that matter in Porong. Because of that, Although great difficulty, finally the group can follow every program in Civil Society Forum (CSF) village.

The arrival a small group which consist of nine ooze’s victims to Bali is their target. They do very hard to go to Bali before they are go, they confuse, seek an assistance funds. Their trip also not easy. The names of that nine persons identified completely. Moreover it’s name sticked in inspection post. All of them are investigated one by one. The KTP is scanned, their photos are taken half body, their finger prints are taken too, their high are measured. It is unsufficient. They are forced to sign a declaration letter. Bambang Wuryanto, as coordinator, feel treated unfair, because this nine persons not go to Bali for make disturbance. It is better to the Police Agencies not to do it. Because they (nine persons) are citizen of country, not teroris.

The group arrive in Bali on Wednesday, December, 5, in the morning. In there, they feel not quiet because they always in controlling. It’s done since they were go to Bali. Bambang Wuryanto often called by phone by a Police Agencies to ask their condition and what are they doing. In addition, they must moving from one place to other place for get a place where peaceful. They are protecting one and the others. They also becarefull to earn their living. It must do by one person and the others unchanged. They never feel comfortable.

That treatment is excessive. It is not suitable to do, for citizen our country who have not crime purpose. They just want to advantage this international forum as media of express their aspiration, that always not interested and responsed by a government. In this case, we can not see from just one side because it is cause a refutation for a government.

Many disaster matter in everywhere, exspecially in our Country, Indonesia. Because of that, a government confuce for facing many problems. Therefore, a government need to construct a special team who handle a disaster. For example, a special team who handle an ooze’s flood in Porong.

Respecting for the United Nations for Climate Change conference (UNFCC) in Bali, the ooze’s victims not remained motionless. They delegate nine persons to express their fate. This conference talk about climate change in the world, exspecially a global warming which more serious condition and become wider. This condition cause apprehension a human life. The vein of ozone which protecting earth atmosphere is eroded little by little by Carbon Dioksida’s emition and other carbon’s emition. For example, what a matter in Porong, a gas which produced by ooze is destroy an environment air. If this case allowed, the greenhouse effect will be mattered.

They (nine persons) follow several program in CSF village very full. They are seminar, discuss, and testimony. In other ooze’s victims, there are a farmer, group, fisherman, tradition guard, inhabitant community in forest where attacked by the crime of environment and humanbeings.

On Thursday, December, 6, minister of environment affairs, Rahmat Witoelar arrive in CSF village. He said that the announcement to citizen of country about the long time effect of smoke from outpouring center which inhaled, is a sector national tragedi’s order. In the afternoon, Slamet Rahardjo arrive and talk about culture and environment.

After jum’at’s pray, December, 7, ooze’s victims and farmers which united in farmer group testimony get an opportunity in CSF village. They make use of this forum as sharing arena about their suffering and opportunity to support a motivation from society at large. They (the ooze’s victims) more and more feel that the government bring permit his citizen of country be a separated class and chased from their country theirself. In the night, held a discuss with Walhi (wahana lingkungan hidup), LSM of environment from Malaysia, German, and Belanda.

Refleksi Maulid Nabi


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:right; mso-pagination:widow-orphan; direction:rtl; unicode-bidi:embed; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:595.3pt 841.9pt; margin:1.0in 89.85pt 1.0in 89.85pt; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0; mso-gutter-direction:rtl;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Refleksi Perayaan

Maulid Nabi Muhammad saw.

A’yun El-Falasy

Peringatan Maulid Nabi sudah menjadi tradisi yang mengakar kuat dalam kehidupan keberagamaan umat islam Indonesia. Perayaan ini biasanya dirayakan dengan acara-acara yang variatif, mulai dari yang paling sederhana sampai pada yang elitis sekali. Hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah sudah di hapal di luar kepala oleh anak-anak. Itulah hari kelahiran Nabi saw. yang kemudian disebut sebagai Maulid Nabi Muhammad saw. atau terkadang maulud saja. Masyarakat muslim Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi. pembacaan syair Barzanji dan juga pengajian. Acara muludan biasanya juga dirayakan dengan permainan gamelan Sekaten. Asal dari istilah Sekaten adalah Syahadatain yang oleh lidah Jawa diucapkan menjadi Sekaten. Syahadatain ini adalah sebutan lain dari perayaan Maulid Nabi. Pasalnya, dulu wali songo memanfaatkan perayaan Maulid Nabi untuk sarana dakwah dengan berbagai kegiatan yang menarik, salah satunya meminta masyarakat mengucapkan Syahadatain sebagai pertanda memeluk Islam. Sebelum menabuh dua gamelan Sekaten, orang-orang yang baru masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat Syahadat, terlebih dulu harus memasuki pintu gerbang “pengampunan” yang disebut gapura (dari Bahasa Arab Ghafura, artinya Dia mengampuni). Pada zaman kesultanan Mataram, perayaan Maulid Nabi disebut Gerebeg Mulud. Tak hanya muslim Indonesia, masyarakat muslim Sunni dan Syi’ah di dunia pun juga merayakan Maulid Nabi. Muslim Sunni merayakannya pada tanggal 12 Rabi’ul Awal sedangkan muslim Syi’ah merayakannya tanggal 17 Rabi’ul Awal, sekaligus merayakan hari lahirnya Imam Syi’ah yang keenam, yaitu Imam Ja’far ash-Shadiq.

Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad saw. wafat. Diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Ibril, di Irak, pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin al-Ayyubi. Adapula yang berpendapat bahwa peringatan Maulid Nabi merupakan ide Salahuddin. Tujuannya adalah untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara Salib Eropa pada musim Perang Salib atau The Crusade. Saat itu umat Islam kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Melihat hal itu, Salahuddin berupaya untuk membakar kembali semangat umat Islam dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi Muhammad saw.

Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad saw. dirayakan secara massal. Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh Ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja’far al-Barzanji. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul “Iqd Al-Jawahir’ (artinya kalung permata). Tapi kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya. Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerussalem direbut kembali oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali.

Namun dalam hal ini Salahuddin ditentang oleh para Ulama sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Kaum Ulama yang berpaham Salafiyah dan Wahhabi, umumnya tidak merayakannya karena menganggap perayaan Maulid Nabi merupakan sebuah bid’ah, yaitu kegiatan yang yang bukan merupakan ajaran Nabi Muhammad saw. Mereka berpendapat bahwa kaum muslim yang merayakannya keliru dalam menafsirkannya sehingga keluar dari esensi kegiatan.

Para Ulama NU memandang peringatan Maulid Nabi ini sebagai bid’ah, namun termasuk bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) yang diperbolehkan dalam Islam. Banyak memang amalan seorang muslim yang pada zaman Nabi tidak ada namun sekarang dilakukan umat Islam, antara lain berzanjen, diba’an, yasinan, dan tahlilan. Kini peringatan Maulid Nabi banyak disuguhkan dalam kegiatan yang amat variatif, dan kadang diselenggarakan sampai hari-hari bulan berikutnya, bulan Rabius Tsany (Bakdo Mulud). Ada yang hanya mengirimkan masakan-masakan spesial untuk dikirimkan ke beberapa tetangga kanan dan kiri, ada yang menyelenggarakan upacara sederhana di rumah masing-masing, ada yang agak besar seperti yang diselenggarakan di mushala dan masjid-masjid, bahkan ada juga yang menyelenggarakan secara besar-besaran, dihadiri puluhan ribu umat Islam. Namun ada yang hanya membaca Barzanji atau Diba’ (kitab sejenis Barzanji). Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.

Permasalahannya sekarang, apakah serangkaian kegiatan seremonial tersebut mampu menumbuhkan kesadaran dalam diri umat Islam? Ironis memang, umat Islam hanya merayakannya tanpa tahu esensi dari perayaan Maulid itu sendiri. Harusnya kita mampu meneladani Rasulullah dan semangat Islam kita menjadi lebih menyala sebagaimana Sultan Salahuddin mampu menghidupkan kembali semangat umat Islam pada zamannya. Betapa Rasulullah telah melakukan perubahan-perubahan dalam sistem kehidupan masyarakat supaya dapat terarah sebagaimana mestinya, dengan menekankan arti penting potensi kemanusiaan karena memang potensi kemanusiaan itu melebihi segala yang ada di dunia ini. Pengembangan potensi kemanusiaan itulah sebenarnya yang menjadi spirit utama terbentangnya peradaban. Peradaban yang dimaksudkan disini tentunya berkaitan dengan substansi ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. yang telah mampu melakukan perubahan total kehidupan dalam hitungan waktu yang relatif singkat. Hanya dalam hitungan 23 tahun komunitas masyarakat yang begitu tidak beradab menjadi sangat beradab, dan disinilah letak keluarbiasaan Maulid Nabi yang telah mampu sekaligus memaulidkan suatu peradaban kemanusiaan.

Untuk itu sangatlah tepat jika peringatan Maulid Nabi ini dilihat dalam perspektif peradaban kemanusiaan karena manusia modern yang ada sekarang ini kemanusiaannya telah berpenyakit yang mana apabila tidak segera disembuhkan dapat menjangkiti seluruh sel tubuh manusia, dan jika itu telah terjadi maka harapan untuk menyembuhkannya akan sangat sulit sekali, kemudian menyebarlah kepada manusia lainnya. Apabila sudah mencapai tahap itu “kematian kemanusiaan” sudah tiba, dan yang akan terjadi perilaku penyimpangan akan dianggap sebagai sesuatu yang legal. Untuk itu perlu diwujudkan Maulid Nabi berkualitas peradaban kemanusiaan dengan cara meneladani nilai ajaran kemanusiaan yang dibawa Nabi saw., serta berupaya menghidupkan dan mengaktualisasikan nilai kamanusiaan dari ajaran Nabi saw. dalam setiap aktivitas kehidupan.

Analisis Kritis Buku Logika Karya Mundiri

logikaANALISIS KRITIS

BUKU “LOGIKA” KARYA MUNDIRI

Logika merupakan suatu ilmu berpikir secara sistematis. Sebagai suatu ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah, logika lahir dari pemikiran pemikir-pemikir Yunani yaitu Aristoteles, Theoprostus dan kaum Stoa. Dalam perkembangannya, logika telah menarik minat dan dipelajari secara luas oleh para filosof. Logika juga telah menarik minat filosof-folosof muslim sehingga menjadi pembahasan yang menarik dalam masalah agama.

Setiap ilmu yang dipelajari mempunyai aspek aksiologi atau nilai guna. Adapun manfaat mempelajari logika adalah membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktivitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas prinsip ini. Logika menyampaikan kepada berpikir benar, lepas dari pelbagai prasangka emosi dan keyakinan seseorang; karena itu ia mendidik manusia bersikap obyektif, tegas, dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala suasana dan tempat.

Buku Logika karya Mundiri merupakan salah satu dari beberapa buku yang sangat diminati oleh peminat bacaan-bacaan logika. Selain sebagai buku acuan utama mahasiswa IAIN, buku ini disarankan kepada mahasiswa jurusan filsafat dan peminat bacaan-bacaan filsafat.

1. Sampul (cover)

Penerbit biasanya membuat sampul semenarik mungkin dan relevan dengan judul bukunya. Menurut saya, sampul buku ini cukup menarik dari segi warna maupun gambarnya. Sampul buku ini bergambar seseorang yang sedang berpikir. Gambar-gambar semacam ini tidak jauh beda dengan gambar-gambar yang ada pada sampul buku-buku filsafat. Memang ilmu logika dan filsafat merupakan ilmu yang membahas proses berpikir hanya saja pada logika lebih spesifik lagi yaitu proses berpikir secara sistematis.

2. Bentuk Huruf (font)

Sebagimana buku pada umumnya, buku ini menggunakan AGaramond sebagai bentuk hurufnya.

3. Sasaran

Seharusnya buku ini bukan hanya diperuntukkan bagi para mahasiswa IAIN/ perguruan tinggi Islam yang mengambil mata kuliah ilmu manthiq/ logika. Akan tetapi, juga untuk para mahasiswa di perguruan tinggi lainnya.

4. Referensi

Mengingat buku ini disusun pada tahun 1994, maka buku-buku referensi yang digunakan saya rasa terlalu lawas, yaitu buku-buku tahun 70-an, bahkan ada buku referensi tahun 60-an. Hanya sebagian kecil saja yang menggunakan buku tahun 80-an. Apalagi ilmu logika adalah ilmu yang berhubungan dengan proses penalaran manusia. Hal ini tidak lepas dari pengaruh-pengaruh dari luar. Misalnya, sekarang ini adalah era komputerisasi sehingga manusia cenderung berpikir secara lebih sistematis. Dengan kata lain, ilmu bernalar (logika) pun juga mengalami perkembangan.

5. Penyusunan

Menurut saya, buku ini telah disusun secara sistematis. Dalam buku ini, dijelaskan logika secara luas mulai dari logika formal hingga logika material. Bab I sampai dengan bab VIII berisi uraian tentang logika formal yang meliputi pokok-pokok bahasan: pengertian logika, pembahasan kata, definisi, klasifikasi, oposisi, eduksi, silogisme, dan dilema. Sedangkan bab IX sampai dengan bab XV berisi uraian tentang logika material yang meliputi pokok-pokok bahasan: generalisasi, analogi, hubungan kausalitas, hipotesis dan teori, penjelasan, dan probabilitas.

Namun demikian, pembagian logika sebagaimana disebut di atas adalah pembagian logika jika dilihat dari obyeknya. Padahal, dalam buku ini dijelaskan bahwasanya logika dapat disistematisasikan menjadi beberapa golongan, tergantung dari mana kita meninjaunya.

Ditinjau dari segi kualitasnya, logika dapat dibedakan menjadi logika naturalis dan logika ilmiah. Logika naturalis adalah kecakapan berlogika berdasarkan kemampuan akal bawaan manusia. Akal manusia yang normal dapat bekerja secara spontan sesuai hukum-hukum logika dasar. Sedangkan logika ilmiah adalah kecakapan berlogika yang memperhalus, mempertajam, serta menunjukkan jalan pemikiran agar akal dapat bekerja lebih teliti, efisien, mudah, dan aman.

Ditinjau dari metodenya, logika dapat dibedakan atas logika tradisional dan logika modern. Logika tradisional adalah logika Aristoteles dan logika lain yang masih mengikuti sistem logika Aristoteles. Sedangkan logika modern tumbuh dan dimulai pada abad XIII, sejak Raymundus Lullus menemukan metode Ars Magna.

Jika kita mau memperhatikan lebih dalam, sebenarnya beberapa macam logika tersebut sudah dibahas secara tidak langsung dalam beberapa bab. Misalnya, logika Ilmiah. Mundiri menyatakan

logika ilmiah (mantiq as-Suri) memperhalus, mempertajam, serta menunjukkan jalan pemikiran agar akal dapat bekerja lebih teliti, efisien, mudah, dan aman. Mantiq inilah yang menjadi pembahasan kita. (Mundiri, hlm. 15)

Hal ini bisa kita lihat ketika membaca bab per bab. Disitu pasti menggunakan jalan pemikiran yang teliti, efisien, mudah, dan aman sehingga mudah untuk dipahami. Seharusnya beberapa macam logika berdasarkan berbagai perspektif di atas juga dijelaskan dalam bab tersendiri agar diperoleh pemahaman yang utuh.

Mengenai hubungan antarbab cukup koherensif sehingga pola pikir kita tersistematika jika kita mengikuti alur buku ini dengan benar. Sedangkan penyusunan subbab-subbab dalam tiap bab cukup sitematis. Pada setiap bab dijelaskan mulai dari pengertian, macam-macamnya, dan juga hal-hal penting lainnya. Tak ketinggalan pula, soal-soal latihan yang ada pada bagian akhir tiap bab sebagai evaluasi pemahaman kita terhadap isi buku. Hanya saja Mundiri tidak menjelaskan pengertian atau definisi pada bab oposisi dan silogisme. Dalam bab silogisme hanya dijelaskan pengertian dari tiap jenis silogisme, tidak dijelaskan pengertian silogisme secara umum terlebih dahulu.

6. Isi Buku

Buku Logika karya Mundiri ini berisi penjelasan yang singkat, padat, dan jelas. Dengan demikian, maksud dari penulis mudah untuk dipahami. Akan tetapi penjelasan yang terlalu sederhana ini justru tidak memberikan pemahaman yang utuh. Sehingga pembaca hanya memahami dasar-dasarnya saja, untuk kemudian pembaca akan merasa kesulitan dalam pengaplikasiannya. Pembaca kurang mampu merepresentasikan ilmu logika dalam kegiatan bernalarnya.

Kebetulan kemarin saya kebagian menulis makalah mengenai analogi. Ketika itu, saya menggunakan tujuh buku sebagai sumber referensinya. Dari kesekian banyak buku tersebut, buku karya Mundiri ini merupakan buku yang, menurut saya, paling sistematis. Akan tetapi, sebagaimana saya paparkan di depan bahwasanya penjelasan dalam buku ini terlalu sederhana.

Buku ini hanya menjelaskan poin-poin pentingnya saja. Sehingga terkadang dalam membuat pengertian atau definisi sesuatu pun langsung pada pengertian menurut perspektif Mundiri, tanpa mendahuluinya dengan definisi-definisi menurut para ilmuwan atau pun yang diambil dari buku-buku lain. Kalaupun ada, Mundiri hanya mengutip satu atau dua definisi dari orang lain. Hal ini bisa kita temui misalnya pada bab klasifikasi, proposisi, oposisi, generalisasi, dan analogi.

Mundiri menjelaskan definisi-definisi mengenai hal tersebut menurut perspektifnya sendiri. Menurutnya,

Klasifikasi adalah pengelompokan barang yang sama dan memisahkan dari yang berbeda menurut spesianya.

Proposisi merupakan unit terkecil dari pemikiran yang mengandung maksud sempurna. Jika kita menganalisis suatu pemikiran, taruhlah suatu buku, kita akan mendapati kesatuan pemikiran dalam buku itu, kemudian lebih khusus lagi dalam bab-babnya, kemudian pada paragrafnya dan akhirnya pada unit yang tidak bisa dibagi lagi yakni yang disebut proposisi.

Kemudian relasi antar proposisi ini disebut sebagai oposisi.

Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan umum yang mengikat seluruh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki.

Analogi yaitu proses penalaran dari satu fenomena menuju fenomena lain yang sejenis kemudian disimpulkan bahwa apa yang terjadi pada fenomena yang pertama akan terjadi juga pada fenomena yang lain.

Memang, saya menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna. Kalaupun buku ini berisi penjelasan yang lengkap maka buku ini nyaris sempurna. Sehingga menjadi keniscayaan apabila pembahasan dalam buku ini tidak lengkap atau terlalu sederhana.

Adapun mengenai bahasa yang digunakan, cukup komunikatif dan sederhana. Akan tetapi, terkadang ditemui penjelasan dengan bahasa yang tidak lugas sehingga dalam memaparkan sesuatu menjadi kurang komperhensif. Pemahaman yang diterima pembaca pun menjadi setengah-setengah.

Sebagaimana saya paparkan sebelumnya, buku ini juga memuat soal-soal latihan yang bisa dijadikan sebagai evaluasi. Mengenai soal-soal latihan yang disajikan, menurut saya, standar kesulitannya terlalu tinggi apabila dibandingkan dengan materi yang disajikan. Setelah membaca materi, kita memang mempunyai pemahaman meskipun tidak secara menyeluruh. Setelah itu, pastinya kita melakukan evaluasi dengan cara mengerjakan soal-soal latihan yang ada. Dalam mengerjakan soal-soal latihan ini, menurut pengalaman saya, masih ditemukan banyak kesulitan sehingga perlu buku referensi lain yang mampu menunjang penyelesaian soal-soal tersebut.

Demikian analisis kritis saya terhadap buku Logika karya Mundiri. Saya menyadari memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Oleh karena itu, semoga analisis kritis, yang berisi penilaian baik dari sisi positif maupun dari sisi negatif, ini dapat memberikan sumbangsih bagi upaya penyempurnaan buku ini.

Previous Older Entries