Analisis Kritis Buku Logika Karya Mundiri

logikaANALISIS KRITIS

BUKU “LOGIKA” KARYA MUNDIRI

Logika merupakan suatu ilmu berpikir secara sistematis. Sebagai suatu ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah, logika lahir dari pemikiran pemikir-pemikir Yunani yaitu Aristoteles, Theoprostus dan kaum Stoa. Dalam perkembangannya, logika telah menarik minat dan dipelajari secara luas oleh para filosof. Logika juga telah menarik minat filosof-folosof muslim sehingga menjadi pembahasan yang menarik dalam masalah agama.

Setiap ilmu yang dipelajari mempunyai aspek aksiologi atau nilai guna. Adapun manfaat mempelajari logika adalah membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktivitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas prinsip ini. Logika menyampaikan kepada berpikir benar, lepas dari pelbagai prasangka emosi dan keyakinan seseorang; karena itu ia mendidik manusia bersikap obyektif, tegas, dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala suasana dan tempat.

Buku Logika karya Mundiri merupakan salah satu dari beberapa buku yang sangat diminati oleh peminat bacaan-bacaan logika. Selain sebagai buku acuan utama mahasiswa IAIN, buku ini disarankan kepada mahasiswa jurusan filsafat dan peminat bacaan-bacaan filsafat.

1. Sampul (cover)

Penerbit biasanya membuat sampul semenarik mungkin dan relevan dengan judul bukunya. Menurut saya, sampul buku ini cukup menarik dari segi warna maupun gambarnya. Sampul buku ini bergambar seseorang yang sedang berpikir. Gambar-gambar semacam ini tidak jauh beda dengan gambar-gambar yang ada pada sampul buku-buku filsafat. Memang ilmu logika dan filsafat merupakan ilmu yang membahas proses berpikir hanya saja pada logika lebih spesifik lagi yaitu proses berpikir secara sistematis.

2. Bentuk Huruf (font)

Sebagimana buku pada umumnya, buku ini menggunakan AGaramond sebagai bentuk hurufnya.

3. Sasaran

Seharusnya buku ini bukan hanya diperuntukkan bagi para mahasiswa IAIN/ perguruan tinggi Islam yang mengambil mata kuliah ilmu manthiq/ logika. Akan tetapi, juga untuk para mahasiswa di perguruan tinggi lainnya.

4. Referensi

Mengingat buku ini disusun pada tahun 1994, maka buku-buku referensi yang digunakan saya rasa terlalu lawas, yaitu buku-buku tahun 70-an, bahkan ada buku referensi tahun 60-an. Hanya sebagian kecil saja yang menggunakan buku tahun 80-an. Apalagi ilmu logika adalah ilmu yang berhubungan dengan proses penalaran manusia. Hal ini tidak lepas dari pengaruh-pengaruh dari luar. Misalnya, sekarang ini adalah era komputerisasi sehingga manusia cenderung berpikir secara lebih sistematis. Dengan kata lain, ilmu bernalar (logika) pun juga mengalami perkembangan.

5. Penyusunan

Menurut saya, buku ini telah disusun secara sistematis. Dalam buku ini, dijelaskan logika secara luas mulai dari logika formal hingga logika material. Bab I sampai dengan bab VIII berisi uraian tentang logika formal yang meliputi pokok-pokok bahasan: pengertian logika, pembahasan kata, definisi, klasifikasi, oposisi, eduksi, silogisme, dan dilema. Sedangkan bab IX sampai dengan bab XV berisi uraian tentang logika material yang meliputi pokok-pokok bahasan: generalisasi, analogi, hubungan kausalitas, hipotesis dan teori, penjelasan, dan probabilitas.

Namun demikian, pembagian logika sebagaimana disebut di atas adalah pembagian logika jika dilihat dari obyeknya. Padahal, dalam buku ini dijelaskan bahwasanya logika dapat disistematisasikan menjadi beberapa golongan, tergantung dari mana kita meninjaunya.

Ditinjau dari segi kualitasnya, logika dapat dibedakan menjadi logika naturalis dan logika ilmiah. Logika naturalis adalah kecakapan berlogika berdasarkan kemampuan akal bawaan manusia. Akal manusia yang normal dapat bekerja secara spontan sesuai hukum-hukum logika dasar. Sedangkan logika ilmiah adalah kecakapan berlogika yang memperhalus, mempertajam, serta menunjukkan jalan pemikiran agar akal dapat bekerja lebih teliti, efisien, mudah, dan aman.

Ditinjau dari metodenya, logika dapat dibedakan atas logika tradisional dan logika modern. Logika tradisional adalah logika Aristoteles dan logika lain yang masih mengikuti sistem logika Aristoteles. Sedangkan logika modern tumbuh dan dimulai pada abad XIII, sejak Raymundus Lullus menemukan metode Ars Magna.

Jika kita mau memperhatikan lebih dalam, sebenarnya beberapa macam logika tersebut sudah dibahas secara tidak langsung dalam beberapa bab. Misalnya, logika Ilmiah. Mundiri menyatakan

logika ilmiah (mantiq as-Suri) memperhalus, mempertajam, serta menunjukkan jalan pemikiran agar akal dapat bekerja lebih teliti, efisien, mudah, dan aman. Mantiq inilah yang menjadi pembahasan kita. (Mundiri, hlm. 15)

Hal ini bisa kita lihat ketika membaca bab per bab. Disitu pasti menggunakan jalan pemikiran yang teliti, efisien, mudah, dan aman sehingga mudah untuk dipahami. Seharusnya beberapa macam logika berdasarkan berbagai perspektif di atas juga dijelaskan dalam bab tersendiri agar diperoleh pemahaman yang utuh.

Mengenai hubungan antarbab cukup koherensif sehingga pola pikir kita tersistematika jika kita mengikuti alur buku ini dengan benar. Sedangkan penyusunan subbab-subbab dalam tiap bab cukup sitematis. Pada setiap bab dijelaskan mulai dari pengertian, macam-macamnya, dan juga hal-hal penting lainnya. Tak ketinggalan pula, soal-soal latihan yang ada pada bagian akhir tiap bab sebagai evaluasi pemahaman kita terhadap isi buku. Hanya saja Mundiri tidak menjelaskan pengertian atau definisi pada bab oposisi dan silogisme. Dalam bab silogisme hanya dijelaskan pengertian dari tiap jenis silogisme, tidak dijelaskan pengertian silogisme secara umum terlebih dahulu.

6. Isi Buku

Buku Logika karya Mundiri ini berisi penjelasan yang singkat, padat, dan jelas. Dengan demikian, maksud dari penulis mudah untuk dipahami. Akan tetapi penjelasan yang terlalu sederhana ini justru tidak memberikan pemahaman yang utuh. Sehingga pembaca hanya memahami dasar-dasarnya saja, untuk kemudian pembaca akan merasa kesulitan dalam pengaplikasiannya. Pembaca kurang mampu merepresentasikan ilmu logika dalam kegiatan bernalarnya.

Kebetulan kemarin saya kebagian menulis makalah mengenai analogi. Ketika itu, saya menggunakan tujuh buku sebagai sumber referensinya. Dari kesekian banyak buku tersebut, buku karya Mundiri ini merupakan buku yang, menurut saya, paling sistematis. Akan tetapi, sebagaimana saya paparkan di depan bahwasanya penjelasan dalam buku ini terlalu sederhana.

Buku ini hanya menjelaskan poin-poin pentingnya saja. Sehingga terkadang dalam membuat pengertian atau definisi sesuatu pun langsung pada pengertian menurut perspektif Mundiri, tanpa mendahuluinya dengan definisi-definisi menurut para ilmuwan atau pun yang diambil dari buku-buku lain. Kalaupun ada, Mundiri hanya mengutip satu atau dua definisi dari orang lain. Hal ini bisa kita temui misalnya pada bab klasifikasi, proposisi, oposisi, generalisasi, dan analogi.

Mundiri menjelaskan definisi-definisi mengenai hal tersebut menurut perspektifnya sendiri. Menurutnya,

Klasifikasi adalah pengelompokan barang yang sama dan memisahkan dari yang berbeda menurut spesianya.

Proposisi merupakan unit terkecil dari pemikiran yang mengandung maksud sempurna. Jika kita menganalisis suatu pemikiran, taruhlah suatu buku, kita akan mendapati kesatuan pemikiran dalam buku itu, kemudian lebih khusus lagi dalam bab-babnya, kemudian pada paragrafnya dan akhirnya pada unit yang tidak bisa dibagi lagi yakni yang disebut proposisi.

Kemudian relasi antar proposisi ini disebut sebagai oposisi.

Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan umum yang mengikat seluruh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki.

Analogi yaitu proses penalaran dari satu fenomena menuju fenomena lain yang sejenis kemudian disimpulkan bahwa apa yang terjadi pada fenomena yang pertama akan terjadi juga pada fenomena yang lain.

Memang, saya menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna. Kalaupun buku ini berisi penjelasan yang lengkap maka buku ini nyaris sempurna. Sehingga menjadi keniscayaan apabila pembahasan dalam buku ini tidak lengkap atau terlalu sederhana.

Adapun mengenai bahasa yang digunakan, cukup komunikatif dan sederhana. Akan tetapi, terkadang ditemui penjelasan dengan bahasa yang tidak lugas sehingga dalam memaparkan sesuatu menjadi kurang komperhensif. Pemahaman yang diterima pembaca pun menjadi setengah-setengah.

Sebagaimana saya paparkan sebelumnya, buku ini juga memuat soal-soal latihan yang bisa dijadikan sebagai evaluasi. Mengenai soal-soal latihan yang disajikan, menurut saya, standar kesulitannya terlalu tinggi apabila dibandingkan dengan materi yang disajikan. Setelah membaca materi, kita memang mempunyai pemahaman meskipun tidak secara menyeluruh. Setelah itu, pastinya kita melakukan evaluasi dengan cara mengerjakan soal-soal latihan yang ada. Dalam mengerjakan soal-soal latihan ini, menurut pengalaman saya, masih ditemukan banyak kesulitan sehingga perlu buku referensi lain yang mampu menunjang penyelesaian soal-soal tersebut.

Demikian analisis kritis saya terhadap buku Logika karya Mundiri. Saya menyadari memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Oleh karena itu, semoga analisis kritis, yang berisi penilaian baik dari sisi positif maupun dari sisi negatif, ini dapat memberikan sumbangsih bagi upaya penyempurnaan buku ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: