filsafat

DOKTRIN DAN PERADABAN ISLAM
Iman dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Peradaban Islam Klasik : Sebuah masyarakat terbuka
Umat Islam masa lalu, semangat keterbukaannya merupakan wujud nyata dari ummat wasath
Pusat kelahiran peradaban manusia, timur tengah dari sungai nil sampai sungai oxus. Orang yunani menyebutnya daerah oikumene islam
Semangat keterbukaan melahirkan sikap positif terhadap kebudayaan asing khususnya terhadap ilmu pengetahuan sehingga peradaban islamlah yang pertama kali menyatukan khazanah bersama secara imternasional dan kosmopolit
Orisinalitas dan kontribusi ilmuwan islam
Para peneliti modern berselisih pendapat tentang nilai orisinalitas kontribusi dan peranan orang-orang muslim, misalnya :
Bertrand Russel, dia meremehkan tingkat orisinalitas di bidang filsafat. Namun dia mengisyaratkan tingkat orisinalitas di bidang matematika dan ilmu kimia
Tidak adanya orisinalitas dikarenakan para filosuf klasik islam adalah orang-orang yang religius dimana pemikiran spekulatif kefilsafatan terjadi hanya dalam batas-batas yang masih dibenarkan oleh agama. Selain itu disebabkan juga oleh polemik-polemik antara para filosuf dan ulama keagamaan. Seperti :
Al Ghozali dengan Ibn Rusyd, ada tiga masalah :
Keabadian alam
Pengetahuan Tuhan tentang individu-individu
Kebangkitan jasmani dari kubur di hari kiamat
Al Ghozali yang memenangkan argumennya
Ibn Taymiyyah, 2 abad setelah Al Ghozali, inti kritiknya :
Metode pemikiran ala Aristoteles tidak akan menemukan kebenaran disebabkan adanya klaim akan kebenaran universal di dunia. Adagium dari Ibn Taymiyyah “Al Haqiqah fi al a’yan la fi al adzhan” Hakikat ada dalam kenyataan-kenyataan, tidak dalam pikiran-pikiran. Adagium tersebut oleh Moh. Iqbal dianggap sebagai rintisan metode empiris dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern
Peng-internasionalisasi-an ilmu pengetahuan oleh peradaban islam terjadi dalam dua bentuk :
Menyatukan dan mengembangkan semua ilmu pengetahuan
Kemudian menyebarkan tanpa parokialisme dan fanatisisme
Umat islam klasik menjadi pemimpin intelektual dunia selama -+4 abad, puncaknya pada zaman Khalifah Harun Al Rasyid dan Al Ma’mun, puteranya. Menarik sekali bahwasanya Harun Al Rasyid adalah seorang paham ahl al sunnah sedangkan Al Ma’mun adalah paham al mu’tazilah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: