keranda

KERANDA

Panas siang ini begitu menyengat. Matahari tepat di atas ubun-ubunku. Tetes demi tetes peluh membasahi dahi dan leherku. Kakiku melangkah cepat dan kepalaku enggan menoleh ke kiri dan ke kanan. Aku ingin segera tiba di kamarku dan membuka surat yang tadi diberikan oleh pihak Tata Usaha Kususuri lorong asrama yang tak begitu luas. Di tepi lorong, ada sederetan kamar yang sepi tak berpenghuni karena si empunya baru saja buyaran pulang sekolah. Di antara mereka ada yang masih dalam perjalanan dan ada juga yang masih bercengkrama satu sama lain. Kamarku terletak di ujung barat, 10 meter dari pintu masuk asrama.
Begitu sampe kamar, kubuka amplop surat itu pelan-pelan. Surat dari ibuku. Cukup singkat isinya namun entah mengapa setelah membacanya hatiku serasa bergetar. Ada kebahagiaan yang tak terkira menyeruak di sekujur tubuhku. Sungguh, secarik kertas itu bisa menjadi motivator belajarku, the power of my study. Ibu menuliskan, “Ayah mengizinkanmu untuk melanjutkan studimu di SMUN 6.” Seketika aku bersujud di hadapan-Nya, bersyukur atas terkabulnya do’aku yang kulantunkan dalam setiap malamku. Dulu, aku selalu berusaha untuk meyakinkan ayah agar aku diperbolehkan melanjutkan di SMUN 6, SMA favorit di kotaku. Namun, ayah tetap bertahan pada pendiriannya, ayah ingin agar aku melanjutkan di MA (Madrasah Aliyah) dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Dan kini, Tuhan telah membukakan pintu hatinya meskipun sebenarnya aku belum percaya sepenuhnya dengan semua ini. Pasalnya, ayah adalah sosok yang gigih dan teguh pendiriannya. Ayah tidak suka jika keputusannya dibantah. Pun juga aku. Aku selalu berharap semua keinginanku bisa terwujud tanpa menghiraukan pertimbangan-pertimbangan dari pihak lain yang menurutku tidak logis.
Sebulan kemudian…
Aku mendaftarkan diri di SMUN 6 dengan mengantongi NEM 23,75. Beruntung, pada hari terakhir pendaftaran, kulihat posisiku tak terlalu di bawah. Aku berada di urutan ke-197 dari 270 siswa baru yang diterima. Sepulang dari SMUN 6, aku pun langsung memberitahukan kabar gembira ini kepada keluargaku. Akan tetapi, mungkin ini bukan kabar gembira buat ayah. Tak sedikitpun ada guratan cahaya kebahagiaan dan rasa bangga di wajahnya. Keraguanku akan keputusan ayah mengizinkanku melanjutkan di SMA semakin kuat.
Senja mulai merangkak di peraduannya. Kumantapkan langkahku menuju asrama yang dulu merupakan tempatku bersarang selama tiga tahun. Letaknya tak begitu jauh. Hanya butuh waktu 45 menit untuk sampai disana. Mobil kami melaju dalam kebisuan. Semua terperangkap dalam angan masing-masing. Aku mulai gelisah oleh tingkah ayah yang hanya bisa diam seribu bahasa. Ibu adalah sosok periang tapi tertutup. Sesekali Ibu mangajakku bercanda meski hanya sekejap. Namun, memang lebih baik begini. Dari pada semua berbicara dan tak pernah bertemu dalam satu titik kedamaian oleh karena perbedaan ide yang dihantam oleh hembusan egositas. Aku dan keluarga pun sampai di tempat tujuan. Kuambil barang-barangku yang sudah kukemas rapi. Aku berpamitan kepada teman-temanku. Dengan ditemani oleh ayah dan ibu, aku berpamitan kepada pengasuh asrama, yang dulunya adalah teman senasib dan seperjuangan dengan ayah. Kali ini, ayah baru angkat bicara. Kadang-kadang tertawa ringan, kadang-kadang tertawa terbahak-bahak. Tapi aku tahu, itu semua palsu. Di hati ayah, yang ada hanya beban luka mendalam karena asa yang terabaikan, yang dihempaskan begitu saja oleh buah hatinya yang angkuh ini. Tak lama kemudian kami berpamitan lalu pulang.

Seminggu kemudian…
“Sana makan dulu!” perintah Ibu. Aku pun menuju ke meja makan. Kulihat jam di dinding. Pukul 15.30. Hari yang cukup melelahkan. Hampir separuh waktu MOS (Masa Orientasi Siswa) hari kedua ini digunakan untuk penggembelengan di lapangan. Sedangkan hari pertama kemarin masih banyak indoornya. Aku mulai menyantap makanan dengan lahap.
“Ayah mana?” tanyaku.
“Istirahat di kamar. Hari ini ayah agak nggak enak badan. Tadi Ibu melayani pembeli di toko hanya bertiga, bersama Rudi dan Deni.” jawab Ibu.
Toko elektronik adalah usaha ayah dan ibu semenjak keduanya mengikrarkan janji untuk selalu bersama dalam suka dan duka, saat menikah. Ayah adalah lulusan STM. Selama menempuh MTs dan STM ia tinggal di pesantren. Sehingga agamanya cukup kuat. Tak mengherankan jika ia menginginkan semua buah hatinya belajar di lembaga pendidikan Islam. Rudi dan Deni adalah tetanggaku yang dulunya adalah pengangguran. Namun mereka lulusan STM. Maka ayah berinisiatif untuk memintanya membantu pekerjaan ayah di toko.
Ya Tuhan! Sudah empat hari ayah hanya berbaring dan duduk di tempat tidurnya. Ada apa dengan ayah? Mungkinkah ini semua gara-gara aku? Apa ayah masih belum bisa menerima kenyataan ini? Mungkin saja. Aku tak tahu.

Esoknya…
Pukul 5 dini hari, dengan seragam hitam putihku aku sudah siap berangkat ke sekolah.
“Berangkat ya, Bu…” ucapku sambil mencium tangan ibu.
“Sudah sarapan?” tanya ibu.
“Sudah.” jawabku singkat.
Aku masuk kamar ayah…
“Ayah, Dara berangkat ya?” bisikku lirih. Ayah tak menjawab. Wajahnya tampak pucat. Bibirnya kering. Matanya sayu.
“Cepetan berangkat gih!” suara ibu pelan.
“Ibu, ayah kenapa?” tak kusadari air mataku meleleh membasahi pipiku.
“Nggak apa-apa kok! Sejak semalam ayah nggak bisa bangun dari tempat tidurnya dan nggak mampu berbicara. Tapi ayah baik-baik saja kok.” jawab ibu mencoba menenangkanku. Wajah ibu masih saja tampak riang dan cerah, tak kan terhapus oleh duka dan lara yang melanda. Tapi sorot matanya tak bisa berbohong. Matanya mengisyaratkan akan kepedihan hatinya yang kini sedang menjerit dan menangis.
Aku keluar dari kamar dan kulihat banyak orang di depan kamar. Di tangan mereka tergenggam buku kecil bertuliskan “Yasin dan Terjemahannya”. Ternyata mereka datang hendak menjenguk dan mendo’akan ayah.

Pukul 14.30 di sekolah…
Aku dan teman-temanku sedang mengikuti materi “Antropologi SMUN 6” selama satu jam di aula yang terletak di bagian depan bangunan sekolah. Di depannya, ada lapangan basket berdiameter 12,5 meter yang juga digunakan untuk upacara setiap hari Senin. Di depan lapangan, ada pagar pemisah antara lingkungan sekolah dengan jalan raya. Posisi duduk siswa di aula membelakangi lapangan dan jalan raya. Aku duduk di barisan paling belakang karena aku tahu hari ini aku nggak bakalan bisa konsentrasi. Semua materi MOS hari ini hanya lewat saja di telingaku, enggan mampir ke otakku karena pikiranku sedang penuh sesak oleh beban derita ayah. Apakah aku salah mengambil keputusan ini? Egokah aku? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu saja menghantuiku.
Kubalikkan tubuhku membelakangi forum. Mataku terarah pada kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Tiba-tiba, kulihat ada banyak orang lewat dan ternyata mereka sedang mengiringi keranda mayat menuju tempat pemakaman umum yang tidak jauh dari sekolahku. Seketika aku menangis. Aku tak peduli dengan puluhan pasang mata yang tengah memandangku. Siapa gerangan yang ada di dalam keranda itu? ayah-kah? Tapi mengapa para pelayat itu sama sekali tak ada yang kukenal? Apa karena pandanganku yang kabur? Seribu tanya menari-nari di kepalaku.
“Kamu kenapa, Dara?” tanya Ike yang duduk di sampingku.
“Kepalaku pusing.” jawabku sekenanya sambil mengusap air mataku.
“Izin pulang aja!” usulnya.
“Nggak ah. Lima belas menit lagi juga kelar kok materinya dan kita udah boleh pulang.” jawabku dengan suara serak.

Pukul 15.40 di rumah…
“Assalamu’alaikum” teriakku sambil menuju ke arah ibu dan mencium tangannya. Tak ada yang aneh di rumah ini. Wajah Ibu pun tak menggambarkan duka sedikitpun. Masih seperti biasanya, tampak riang dan cerah. Ah, ibu memang selalu begitu. Wajahnya bertopeng, tak bisa dipercaya. Aku masih penasaran.
“Wa’alaikumsalam. Sukses MOSnya?” tanya ibu.
Aku langsung berlari menuju kamar ayah. Tak kuhiraukan pertanyaan ibu. Ah… syukurlah, ayah ada disitu. Seketika kusandarkan kepalaku di dadanya dan kugenggam tangannya.
“Ma…ma…maafkan aku ayah. A…aku tahu ayah masih sangat keberatan menerima keputusanku. Ta…tapi aku yakin, suatu saat ayah pasti bisa menerimanya. Entah sampai kapanpun, akan kutunggu ridhomu, ayah…” ucapku tertatih-tatih. Lidahku kelu, dadaku sesak menahan tangis. Aku tak ingin menangis di depan ayah. aku tak mau menambah penderitaannya.
“Semua butuh waktu.” jawab ayah singkat. Ada selaksa kebahagiaan terselip di benakku. Ayah sudah bisa bicara lagi. Aku berucap syukur dalam hati.
“Ayah nggak kenapa-kenapa kok. Cuma kencing batu. Tadi dokter Anggoro sudah memeriksanya dan memberi obat. Besok juga sembuh. Asalkan kita yakin.” suara Ibu mengagetkanku. Ibu mendekatiku lalu memelukku dengan haru. Ada pesan bisu tersirat di balik dekapan hangatnya. “Tegarlah, Dara!”
Sekian

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: