petuah al-Ghazali

Petuah al-Ghazali Pada Muridnya
Oleh : Nur Faishal

Judul asli : Ayyuhal Walad (karya al-Ghazali)
Judul terjemahan : Surat-surat Cinta al-Ghazali: Nasihat-nasihat Pencerah Hati
Penerjemah/Penyunting : Islah Gusmian
Penerbit : Mizania, Bandung
Cet III : Maret, 2007
Tebal : 236 halaman
Membaca buku ini jangan mengandai akan menemukan surat-surat cinta al-Ghazali pada seorang gadis cantik (sebagaimana tertulis pada judul buku ini). Karena kata-kata puitis nan indah yang dirangkai dia persembahkan sepenuhnya kepada Robb al-‘Ibad, Tuhan segala makhluk. Bagi al-Ghazali, hanya Dialah cinta sejatinya. Tiada lain cinta yang patut dipersembahkan kecuali pada-Nya.
Karena cintanya kepada Allah pula dia menulis surat-surat ini. Surat (risalah) yang dia peruntukkan kepada salah seorang muridnya, yang mengadu kepadanya tentang kebingungan yang menimpa, pasca mendalami macam-macam ilmu pengetahuan. Si murid merasa bingung untuk menentukan pilihan, ilmu yang manakah yang harus dia praktekkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Karena ketulusan si murid, al-Ghazali menulis suatu risalah yang kemudian dia beri judul Ayyuhal Walad (Wahai anak-ku). Suatu risalah tentang tasawuf. Tentang bagaimana seharusnya menyikapi dan menghargai hidup agar selalu berjalan di atas tuntunan Allah. Ajaran al-Ghazali yang terkandung pada risalahnya ini tidak melulu ilahiah. Dia juga menuntun si murid agar menghargai dimensi-dimensi keduniawian (alam dan manusia) sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Cermatilah pada bagian 4 buku ini. Al-Ghazali bernasehat kepada muridnya, bagaimana menyeimbangkan antara alam ide dan alam realitas, ilmu dan amal, das solen dan das sain, cita-cita dan usaha. Jika keduanya berjalan timpang, maka kerusakan yang akan menimpa.
Al-Ghazali memberikan perumpamaan akan nasehatnya itu pada muridnya. Dia mencontohkan: di tengah hutan ada seorang laki-laki yang perkasa dan pemberani. Ia membawa sepuluh pedang yang tajam, dilengkapi juga dengan senjata yang lain. Tiba-tiba datang seekor singa besar yang sangat buas, dan siap menerkamnya. Menurutmu, mampukah pedang tajam itu melindungi dirinya dari bahaya jika senjata itu tidak diangkat, dihunus, lalu ditikamkan pada singa itu? Tentu saja “tidak!” (halaman 39).
Ibarat ilmu, pedang dan senjata lainnya yang dipegang lelaki perkasa tersebut adalah ilmunya. Jika tak sedikit pun ilmu (pedang) itu kita pergunakan (padahal hidup penuh dengan ancaman mara bahaya), maka musnahlah kita.
Di bab yang lain, al-Ghazali menandaskan kepada muridnya tentang kesaktian ilmu. Dia mengatakan, bahwa ilmu dapat digunakan sebagai “penakluk setan”. Sebab, dengan ilmu, seseorang akan dijauhkan dari perbuatan-perbuatan yang disenangi oleh setan (seperti mencuri, korupsi, menebang hutan secara liar, dan lain-lain), yang dapat merugikan dirinya dan orang lain. Dengan ilmu pula seseorang akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah dan manusia.

Hubungan Guru-Murid
Selain berisi tuntunan menjalani hidup di dunia serta pintu menuju dekatnya hamba kepada Allah, buku ini juga menyiratkan suatu pelajaran penting tentang bagaimana idealnya hubungan antara guru dan murid. Suatu hubungan yang tidak hanya mendasarkan polanya pada posisi dan status (subjek-objek). Hubungan yang dibangun melalui proses kedekatan emosional antara guru dan murid. Sehingga, antara al-Ghazali (guru) dengan muridnya tampak seperti hubungan ibu dan anak.
Dalam hal ini, al-Ghazali tidak hanya berperan sebagai pengajar saja, tapi juga pendidik. Dia tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan kepada muridnya, tapi menuntunnya hingga mampu mengamalkan ilmu yang dia ajarkan. Hubungan al-Ghazali sebagai guru dengan muridnya juga tidak dibatasi dengan waktu. Hubungan itu terjalin sepanjang masa, sehingga proses pendidikan tak putus-putus.
Bisa dikatakan, pendidikan yang dilakukan oleh al-Ghazali adalah pendidikan yang mencerahkan. Proses pendidikan yang humanis dan menumbuhkan penyadaran manusia terhadap hakekat realitas kemanusiaan dan dunia. Proses pendidikan sebagaimana dilakukan al-Ghazali kepada muridnya ini tidak hanya bisa dilalui melalui pendekatan kognisi saja. Tapi, diperlukan proses pendidikan yang afektif. Suatu proses yang melibatkan emosi si guru untuk bersedia mencintai, merawat, menjaga, dan meluruskan si murid apabila berada dalam kondisi linglung.
Tentu saja jalinan hubungan guru-murid model al-Ghazali ini amat sulit ditemukan pada saat ini. Kalau pun ada hanya segelintir guru/dosen saja yang bersedia melakukan pendidikan macam ini. Selebihnya, adalah guru/dosen yang mengajar berdasarkan kewajiban dinas (guru/dosen PNS), jam tugas, dan tuntutan hidup pribadi saja.
Dari buku ini kita bisa belajar menjadi pribadi yang mulia di sisi Allah dan manusia. Dari buku ini pula para guru/dosen dapat merubah orientasi tugasnya, dari sekedar “mengajar” berkembang menjadi “mendidik”. Selamat menyelami.

* Nur Faishal, mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel, aktif di Komunitas Baca Surabaya (KOMBAS)

Kontak Person : 081330000406 / 08995044492
No Rekening : 0125678270, BNI Kedungdoro Sby, a/n Zainul Mustofa

Iklan

1 Komentar (+add yours?)

  1. ¤ HILAL ALIFI
    Agu 10, 2010 @ 03:30:01

    salam kenal.;)

    sekedar berbagi ulasan tentang al-ghazali: http://curusetra.wordpress.com/2009/06/26/sejenak-dengan-al-ghazali-2/

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: