salahku tak menghiraukanmu

SALAHKU TAK MENGHIRAUKANMU

“Umi Farah serius?” tanya Abi Hilman seakan tak percaya dengan keputusanku.
“Ya, Bi! Abi ngizinin kan?” tanyaku.
“Kalaupun masih banyak yang lebih mampu dari Umi Farah, bukankah lebih baik Umi Farah mundur?” sarannya.
“Memang sih, masih ada yang lebih bisa diandalkan. Tapi aku ngrasa aku juga mampu dan koneksiku juga banyak di fakultas.” Tukasku.
“Oke lah kalau Umi Farah tetap bersikeras untuk itu. Aku nggak bisa berbuat apa-apa selain mendo’akan Umi Farah.” Jawabnya pasrah.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan Pasya dari sudut kamarnya.
“Eh… Pasya nangis. Pasti Umi Salwa kerepotan. Aku masuk kamar Umi Salwa dulu ya?” pinta Abi Hilman.
“Ya, Bi! Kasihan Pasya.” Jawabku.
Lalu Abi beranjak ke kamar Salwa dan aku menuju ke kamarku. Kulihat Nisa telah tertidur pulas. Aku lega mendengar persetujuan Abi Hilman. Ini artinya, tak ada seorangpun yang bisa menghalangiku untuk maju karena bagaimanapun juga suamiku telah mengizinkanku.
Jika suntuk, aku sering merasa ingin sendiri sehingga Abi hilman tidur di kamar Umi Salwa. Pun juga malam ini. Entah kenapa dulu aku hanya diam ketika Abi Hilman mengutarakan keinginannnya untuk menikah lagi dengan wanita lain, yaitu Salwa. Alasannya klasik, katanya aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sehingga aku sering mengelak saat Abi Hilman ‘lagi pengen’. Disamping itu, Nisa juga kurang mendapat perhatian. Karena alasan-alasan logisnya itulah, aku meng’iya’kan permintaannya. Malam semakin larut. Aku pun terlelap.
Esoknya, seperti biasa, aku memasak dan membersihkan rumah sedangkan Salwa mencuci pakaian. Tepat pukul 06.45 kami semua berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Dengan honda revo biruku aku meluncur ke kampus Universitas Al-Hikmah. Salwa dan Nisa menuju ke sekolah yang sama, SD Ulul Albab. Salwa mengajar kelas satu SD disana sedangkan Nisa masih duduk di kelas dua SD di SD yang sama sehingga mereka selalu berangkat dan pulang bersama. Oleh karena itulah, tidak mengherankan jika Nisa lebih sayang kepada Salwa dari pada terhadapku, ibu kandungnya. Pasya di rumah dengan Abi Hilman. Kami punya toko alat-alat listrik yang besar, tepat berada di samping rumah kami. Abi Hilman mempekerjakan dua pemuda untuk membantunya. Sehingga Pasya ada yang menemani meskipun ibu kandungnya, Salwa, pergi mengajar. Namun pukul 11 siang Salwa sudah pulang bersama Nisa.
Hari ini aku resmi mencalonkan diri untuk menjadi Dekan Fakultas Syari’ah. Hal ini tentunya membuatku menjadi semakin sibuk. Pekerjaan rumah pasti sudah terbengkalai seandainya tidak ada Salwa yang mampu menyelesaikan semuanya. Semakin hari aku semakin disibukkan dengan segala persiapan menuju pergulatan politik memperebutkan kursi nomer satu di fakultas itu. Sehingga semua pekerjaan rumah Salwa yang mengerjakan, mulai dari mencuci baju, memasak, mengepel hingga menyeterika. Aku hanya mencuci baju-bajuku sendiri.

Dua bulan kemudian…
Hening. Malam ini begitu sunyi. Yang terdengar hanya suara hembusan angin sepoi-sepoi dari balik celah-celah kamarku. Aku tenggelam dalam untaian dzikir yang mengalir dari bibirku. Aku lemah dihadapan-Nya. Kucoba untuk mengumpulkan segenap keyakinan dalam hatiku sehingga mampu menjadi kekuatan yang maha dahsyat dalam diriku. Ya Tuhan… Jika memang aku pantas dan mampu mengemban amanat ini maka aku siap untuk menjalaninya. Tak terasa air mataku menetes. Bulu kudukku berdiri. Angin malam ini berhembus begitu kencang. Udara dingin menusuk tulangku. Tiba-tiba aku merasa rindu, rindu belai kasih sayang Abi Hilman. Lama sudah aku tak menghirukannya. Ya Tuhan… Ampunilah dosa-dosa hamba.
Esok harinya, aku sudah siap untuk berangkat ke kampus lebih awal dari biasanya. Hari ini adalah hari yang paling bersejarah sepanjang perjalanan hidupku. Apakah impianku akan benar-benar terwujud? Ataukah hanya akan menjadi harapan kosong yang menyisakan butir-butir kenangan? Ah… aku tak tahu.
Semua seisi rumah mengantarku hingga pintu gerbang. Termasuk Pasya, dia tampak riang dalam dekapan Salwa. Mereka berdo’a untukku. Tapi Nisa tidak, dia tetap duduk di depan meja makan dan menatapku sinis ketika aku hendak melangkah keluar rumah. ‘Maafkan aku, Nisa. Aku nggak pernah merhatiin kamu. Mungkin aku terlalu sibuk mencari uang untuk bekalmu menuntut ilmu sampai engkau menjadi seorang dokter, seperti yang engkau cita-citakan. Semoga tercapai.’ do’aku dalam hati.
“Assalamu’alaikum” aku pamit.
“Wa’alaikum salam wa rahmatullah” jawab Abi Hilman dan Umi Salwa serentak.
Begitu aku sampai di kampus, suasana kampus sudah tampak ramai. Kukumpulkan kekuatan keyakinan dalam hatiku. Aku optimis. Akulah Farah. Akulah yang akan menjadi Dekan disini.
Hari semakin siang. Lalu senjapun tiba. Terdengar seruan adzan Maghrib dari salah satu sudut kampus. Sejenak kuhentikan seluruh aktivitasku untuk menghadap kepada Sang Khalik. Tak lupa pula kupanjatkan do’a kepada-Nya. Waktu menunjukkan pukul 18.30. Perhitungan suara telah usai. Detik-detik yang paling menegangkan bagi tiga kandidat Dekan Fakultas Syari’ah ini, pak Subhan, aku, dan pak Syaref. Jumlah tertinggi mencapai 937 suara, disusul 934 suara, dan sisanya, yang terakhir adalah 368 suara.
Tepat pukul 19.20 aku tiba di rumah. Dengan gontai kulangkahkan kaki menuju kamarku. Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Tak kuhiraukan jilbab merah yang masih bertengger di kepalaku, kaos kaki yang masih nempel di kakiku, serta tasku yang masih menghimpit di sela lenganku. Kupejamkan mataku. Bumi seakan berhenti berputar. Semua gelap. Tak ada setitikpun cahaya yang menerangi dunia. Lelah, penat, semua menjadi satu. Aku seperti tertimpa puluhan ton beban. Dadaku terasa sesak. Tiba-tiba terdengar suara Abi Hilman membuyarkan lamunanku.
“Umi Farah… makan malam dulu yuk!” Ajak Abi Hilman
Aku diam…
“Nisa sama Pasya udah nunggu tuh di ruang makan.” Sahut Umi Salwa
Aku tetap diam…
Umi Salwa mendekatiku.
“Umi Farah… kamu harus tegar. Mana Umi Farah yang kukenal dulu? Mana Umi Farah yang nggak pernah menyerah itu? Umi Farah… ini semua adalah permainan. Dalam permainan pasti ada yang menang dan pasti ada yang kalah. Aku tahu kamu adalah wanita yang tegar dan kamu ikhlas atas kekalahanmu ini. Namun kamu masih belum bisa terima akan perolehan suara pak Subhan yang hanya tiga angka di atas kamu, bukan?” ucap Salwa dengan nada tinggi namun pelan. Dia mencoba memberi pengertian kepadaku. Aku seperti mendapat siraman air sejuk yang mengalir perlahan ke seluruh aliran darahku. Semua jadi lebih ringan terasa. Aku bersyukur telah mengenal Salwa. Ku dekap tubuhnya. Aku merasa tenang dalam peluknya. Ku curahkan semua isi hatiku. Meski tak sepatah katapun keluar dari bibirku tapi aku yakin Salwa tahu apa yang ada dalam pikiranku. Diam-diam aku mengaguminya. Dia adalah sosok wanita sederhana nan penuh kharisma. Dia tak pernah menuntut apa-apa. Meskipun dia bekerja di luar rumah akan tetapi dia tak pernah lalai dengan tanggungjawabnya di rumah. Kulepas dekapannya lalu kuusap air mataku.
“Sudahlah! Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Coba Umi Farah renungkan, ada apa sebenarnya dibalik kekalahan ini? Allah Maha Tahu. Allah tidak akan membebani umat-Nya diluar kemampuan umat-Nya. Mungkin saja kamu belum mampu untuk mengemban tugas berat itu sehingga Dia tidak menganugerahkan jabatan ini kepadamu.” Sambung Abi Hilman.
“Em… sekarang kita makan dulu yuk! Kasian anak-anak udah nunggu dari tadi”
Aku, Abi Hilman dan Umi Salwa bersama-sama menuju meja makan. Nisa dan Pasya tidak ada disana.
“Tangkap bolanya, Pasya.” Terdengar teriakan Nisa dari ruang depan. Ternyata mereka sedang bermain bola di ruang tamu.
“Nisa… Pasya… ayo makan dulu sayang!” Salwa memanggil mereka lalu mereka pun berlari menuju ke arah Salwa. Salwa langsung meraih Pasya dan menggendongnya.
“Umi Salwa… Nisa juga dong?” pinta Nisa sambil merengek kepada Salwa, membuatku iri kepada Salwa. Kuhampiri Nisa,
“Sini! Nisa digendong sama Umi Farah.” Pintaku sambil mengulurkan kedua tanganku ke arahnya namun Nisa tak menghiraukanku.
“Nggak mau! Aku bisa jalan sendiri kok.” Jawab Nisa sambil berjalan menuju meja makan. ‘Aku sadar ini semua salahku karena tak mangiraukanmu, Nisa.’ Ucapku dalam hati
Esoknya, aku berniat untuk menemani Nisa ke sekolah karena kebetulan hari Jum’at ini aku libur, begitu juga besok.
“Nisa… hari ini dan besok Umi Farah libur. Nisa dianter sama Umi Farah ya? Nanti disana Umi Farah nungguin Nisa sampai pelajaran selesai.” Pintaku penuh harap.
“beneran nih? Umi nggak sibuk hari ini?” Nisa balik bertanya seakan tak percaya dengan tawaranku.
“Bener. Buat apa Umi Farah bohong sama Nisa.” Jawabku meyakinkannya.
“Hore… hore..! Umi Salwa, hari ini Nisa dianter sama Umi Farah.” Teriak Nisa girang sambil berlari menuju kamar Salwa. Setelah sarapan aku dan Nisa langsung berangkat ke SD Ulul Albab. Begitu juga Salwa. Sejak saat itu, aku menjadi berubah. Aku mulai sadar akan sikapku selama ini yang hanya mementingkan diriku sendiri tanpa memperhatikan keluarga. Semua pekerjaan rumah yang dulu menjadi tanggung jawabku, kini aku kerjakan lagi dengan senang hati. Sempat terpikir olehku akan kegigihan Salwa. Dia tak pernah mengeluh kepadaku perihal seluruh pekerjaan rumah yang dikerjakannya seorang diri. Mengerjakan sebagian pekerjaan rumah saja sudah terasa capek apalagi semuanya. ‘Maafkan aku Salwa’ bisikku dalam hati. Karena kejadian itu pula, aku sadar akan tingkahku kepada Nisa selama ini. Aku kurang memperhatikannya. Justru Salwa lah yang banyak mencurahkan kasih sayang dan perhatian kepada Nisa. Wajar jika sikap Nisa begitu dingin kepadaku. Namun setelah semua berubah, Nisa pun mulai akrab denganku.
Sekian…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: