tafsir maudhu’i

PENDAHULUAN

A. Definisi Tafsir
Tafsir secara bahasa mengikuti wazan “taf’il”, berasal dari akar kata al-fasr yang berarti menjelaskan, menyingkap, dan menampakkan atau menerangkan makna yang bastrak. Tafsir menurut istilah adalah ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafadz-lafadz Qur’an, tentang petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun serta hal-hal lain yang melengkapinya.
Abu Thalib al-Tsa’laby berkata: Tafsir ialah menjelaskan status lafadz apakah hakikat atau majaz. Tafsir pada asalnya ialah membuka dan melahirkan. Dalam istilah syara’ ialah menjelaskan makna ayat, urusannya, kisahnya, dan sebab diturunkannya ayat, dengan lafadz yang menunjuk kepadanya secara terang.

B. Kegunaan Tafsir
Tafsir Al-Qur’an al-Karim mempunyai banyaka kegunaan dintaranya:
1. Mengetahui maksud Allah yang terdapat di dalam syari’atnya yang berupa perintah dan larangan, sehingga keadaan manusia menjadi lurus dan baik.
2. Untuk mengetahui petunjuk Allah mengenai akidah, ibadah, dan akhlak agar masyarakat berhasil meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
3. Untuk mengetahui aspek-aspek kemukjizatan yang terdapat di dalam al-Qur’an al-Karim.
4. Untuk menyampaikan seseorang kepada derajat ibadah yang paling baik.

C. Hukum Mempelajari Tafsir
Para Ulama sepakat hukumnya mempelajari tafsir adalah fardhu kifayah.

D. Keutamaan Tafsir
Ditinjau dari materi bahasanya, materi tafsir adalah kalam Allah yang merupakan sumber segala hikmah, berisi berita tentang umat terdahulu dan yang akan datang, menjadi hukum bagi manusia, dan keajaibannya tidak akan pernah sirna.
Ditinjau dari aspek tujuannya, tujuan karya tafsir adalah untuk berpegang teguh kepada buhul tali (agama) yang kokoh taat, dan untuk mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya.
Ditinjau dari aspek kebutuhan, kesempurnaan agama dan dunia terletak pada ilmu-ilmu agama, dan hal itu tergantung kepada pengetahuan tentang kitab Allah (al-Qur’an) itu sendiri.

E. Macam-macam Metode Tafsir
1. Metode tahlili
Muhammad Baqir memberi nama metode tahlili dengan nama tafsir tazi’ie. Tafsir tahlili adalah tafsir yang menyoroti ayat-ayat al-Qur’an dengan memaparkan segala makna yang terkandung di dalamnya sesuai dengan urutan bacaan yang terdapat dalam mushaf utsmani.
Metode tahlili mempunyai keunggulan dan juga kelemahan yaitu metode ini sering digunakan mufassir sebagai alat untuk melegitimasi pendapat-pendapatnya dengan dalil-dalil al-Qur’an sehingga nilai objektivitas penafsiran menjadi berkurang.
Akibat dari metode tahlili yang sangat luas, para Ulama kemudian membagi corak penafsiran tahlili menjadi beberapa macam yang antara lain: Tafsir bil Ma’tsur, Tafsir bil Ra’yi, Tafsir Fiqih, Tafsir Sufi, Tafsir al-Falsafi, Tafsir Ilmi dan Tafsir Adabi Ijtima’ie.
2. Metode Ijmali
Metode Ijmali adalah cara menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan menyajikan makna-maknanya secara global. Kelebihan metode Ijmali ini antara lain adalah mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an apa adanya tanpa harus menghubungkan kepada hal-hal lain diluar keagungan arti ayat tersebut, uraian penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an mudah dipahami dan dimengerti, tidak bertele-tele, maksud yang dikandung oleh suatu ayat dapat ditang kap dengan mudah dan cepat, objektivitas penafsiran tetap terjaga. Sedangkan kelemahannya adalah penafsirannya sangat sempit dan terbatas, rahasia-rahasia dan hikmah yang terkandung di dalam ayat tidak terungkap banyak, pembahasan terhadap pokok-pokok masalah tidak tuntas.
3. Metode Muqarran
Metode Muqarran atau perbandingan adalah metode penafsiran dengan membandingkan ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi, yang berbicara tentang masalah yang berbeda, atau redaksi yang berbeda dengan masalah yang diduga sama. Metode ini adalah membandingkan ayat-ayat al-Qur’an dengan hadits-hadits Nabi yang tampaknya bertentangan serta membandingkan pendapat-pendapat Ulama tafsir menyangkut penafsiran ayat-ayat al-Qur’an.
4. Tafsir Maudlu’i
Tafsir Maudlu’i atau tematik adalah cara menafsirkan ayat al-Qur’an melalui penetapan topik tertentu dengan jalan menghimpun seluruh atau sebagian ayat-ayat dari berbagai surat yang berbicara tentang topik tersebut untuk dikaitkan satu dengan yang lain lalu diambil kesimpulan secara menyeluruh.
Dalam makalah tugas Ujian Tengah Semester mata kuliah Ulumul Qur’an ini sengaja kami menggunakan metode Tafsir Maudlu’i. Adapun tema yang kami angkat adalah “sumpah”, yakni putusnya perkawinan karena sumpah Ila’, termasuk juga mengenai talak dan fasakh.

Iklan

amtsal qur’an

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Allah menggunakan banyak perumpamaan (amtsal) dalam Al-Qur’an. Perumpamaan-perumpamaan itu dimaksudkan agar manusia memperhatikan, memahami, mengambil pelajaran, berpikir dan selalu mengingat. Sayangnya banyaknya perumpamaan itu tidak selalu membuat manusia mengerti, melainkan tetap ada yang mengingkarinya/ tidak percaya. Karena memang tidaklah mudah untuk memahami suatu perumpamaan. Kita perlu ilmu untuk memahaminya. Sudah digambarkan dengan perumpamaan saja masih susah apalagi tidak. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami mencoba menjelaskan sedikit tentang ilmu amtsal Al-Qur’an.

B. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah tentang amtsal Qur’an ini adalah menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu amtsal sehingga para pembaca yang awalnya belum pernah mengetahuinya menjadi tahu. Setelah memahami ilmu amtsal Qur’an diharapkan para pembaca mampu memahami, mangambil pelajaran, berpikir, dan selalu mengingat ayat-ayat Al-Qur’an.

C. Rumusan masalah
Dalam makalah ini kami hanya membahas beberapa ruang lingkup saja, yaitu:
1. Definisi Amtsal Al-Qur’an
2. Unsur-unsur Amtsal Al-Qur’an
3. Macam-macam Amtsal Al-Qur’an
4. Faedah Amtsal Al-Qur’an

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Amtsal Al-Qur’an
Dari segi bahasa, Amtsal merupakan bentuk jama’ dari matsal, mitsl, dan matsil yang berarti sama dengan syabah, syibh, dan syabih, yang sering diartikan dengan perumpamaan. Sedangkan dari segi istilah, amtsal adalah menonjolkan makna dalam bentuk perkataan yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh mendalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih ataupun perkataan bebas (lepas, bukan tasybih).

B. Unsur-unsur Amtsal Al-Qur’an
Sebagian Ulama mengatakan bahwa Amtsal memiliki empat unsur, yaitu:
1. Wajhu Syabah: segi perumpamaan
2. Adaatu Tasybih: alat yang dipergunakan untuk tasybih
3. Musyabbah: yang diperumpamakan
4. Musyabbah bih: sesuatu yang dijadikan perumpamaan.
Sebagai contoh, firman Allah swt. (Q. S. Al-Baqarah: 261)
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Wajhu Syabah pada ayat di atas adalah “pertumbuhan yang berlipat-lipat”. Adaatu tasybihnya adalah kata matsal. Musyabbahnya adalah infaq atau shadaqah di jalan Allah. Sedangkan musyabbah bihnya adalah benih.

C. Macam-macam Amtsal dalam Al-Qur’an
1. Al-Amtsal Al-Musharrahah
Yaitu matsal yang di dalamnya dijelaskan dengan lafadz matsal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih. Contohnya Q. S. Al-Baqarah: 261 sebagaiamana telah dijelaskan di atas.
2. Al-Amtsal Al-Kaminah
Yaitu matsal yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafadz tamsil tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik dalam kepadatan redaksinya dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya.
Misalnya adalah firman Allah Q. S. Al-Furqan: 67
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
Contoh lainnya adalah Q. S. Al-Isra’: 29
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.”
Kedua ayat di atas menggambarkan tentang keutamaan sebaik-baik perkara adalah yang pertengahannya.
3. Al-Amtsal Al-Mursalah
Yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafadz tasybih secara jelas, tetapi kalimat-kalimat tersebut berlaku sebagai tasybih.
Contohnya adalah Q. S. Hud: 81
“Bukankah subuh itu sudah dekat?”

Q. S. Fathir : 43
“rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.”

D. Faedah Amtsal Al-Qur’an
1. Menonjolkan sesuatu yang hanya dapat dijangkau dengan akal menjadi bentuk kongkrit yang dapat dirasakan atau difahami oleh indera manusia.
2. Menyingkapkan hakikat dari mengemukakan sesuatu yang tidak nampak menjadi sesuatu yang seakan-akan nampak. Contohnya Q. S. Al-Baqarah: 275
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
3. Mengumpulkan makna yang menarik dan indah dalam ungkapan yang padat, seperti dalam amtsal kaminah dan amtsal mursalah dalam ayat-ayat di atas.
4. Memotivasi orang untuk mengikuti atau mencontoh perbuatan baik seperti apa yang digambarkan dalam amtsal
5. Menghindarkan diri dari perbuatan negatif
6. Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat memuaskan hati. Dalam Al-Qur’an Allah swt. banyak menyebut amtsal untuk peringatan dan supaya dapat diambil ibrahnya.
7. Memberikan kesempatan kepada setiap budaya dan juga bagi nalar para cendekiawan untuk menafsirkan dan mengaktualisasikan diri dalam wadah nilai-nilai universalnya.

BAB III
KESIMPULAN

Allah menggunakan banyak perumpamaan (amtsal) dalam Al-Qur’an. Perumpamaan-perumpamaan itu dimaksudkan agar manusia memperhatikan, memahami, mengambil pelajaran, berpikir dan selalu mengingat. Sayangnya banyaknya perumpamaan itu tidak selalu membuat manusia mengerti, melainkan tetap ada yang mengingkarinya/ tidak percaya. Karena memang tidaklah mudah untuk memahami suatu perumpamaan. Kita perlu ilmu untuk memahaminya.
Amtsal Qur’an penting untuk memotivasi orang untuk mengikuti atau mencontoh perbuatan baik seperti apa yang digambarkan dalam amtsal, menghindarkan diri dari perbuatan negatif. Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat memuaskan hati. Dalam Al-Qur’an Allah swt. banyak menyebut amtsal untuk peringatan dan supaya dapat diambil ibrahnya. Amtsal juga memberikan kesempatan kepada setiap budaya dan juga bagi nalar para cendekiawan untuk menafsirkan dan mengaktualisasikan diri dalam wadah nilai-nilai universalnya.

sebab keraguan terhadap hadits

SEBAB KERAGUAN TERHADAP HADITS

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada masa Rasulullah saw. dan masa Khulafaur Rosyidin, umat Islam sepakat bahwa sunnah merupakan salah satu sumber ajaran Islam disamping Al-Qur’an. Kemudian pada awal masa Abbasiyah (750-1258 M), muncul sekelompok kecil umat Islam yang menolak sunnah sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan golongan inkar al-sunnah atau munkir al-sunnah. Banyak alasan kenapa mereka menolak sunnah nabi, yaitu: Yang dijamin Allah hanya al-Qur’an, bukan Sunnah; Nabi sendiri melarang penulisan hadits; Hadits baru dibukukan pada abad kedua Hijriyah; Banyak pertentangan antara satu hadits dengan hadits yang lain; Hadits adalah buatan manusia; Hadits bertentangan dengan al-Qur’an; Hadits merupakan saduran dari umat lain; Hadits membuat umat Islam terpecah belah, mundur dan terbelakang.
Hal ini pada dasarnya dikarenakan para inkar al-Sunnah kurang memahami Islam dengan benar atau bahkan pemahamannya masih sempit. Oleh karena itu perlu adanya pemahaman yang menyeluruh terhadap Islam agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat mengakibatkan perpecahan umat Islam itu sendiri.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami menjelaskan tentang:
1. Sebab keraguan karena jumlah As-Sunnah yang banyak
2. Sebab keraguan karena masa penulisannya

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Pembaca dapat memahami tentang Sebab keraguan terhadap as-Sunnah karena jumlah As-Sunnah yang banyak
2. Pembaca dapat memahami tentang Sebab keraguan terhadap as-Sunnah karena masa penulisannya

BAB II
PEMBAHASAN

Perlu dipahami, dalam makalah ini istilah sunnah disamakan pengertiannya dengan istilah hadits sebagaimana yang dinyatakan oleh ulama hadits pada umumnya, yakni segala sabda, perbuatan, taqrir, dan sifat Rasulullah saw.
Baik pada masa Rasulullah saw. maupun masa Khulafaur Rosyidin, umat Islam sepakat bahwa sunnah merupakan salah satu sumber ajaran Islam disamping Al-Qur’an. Baru pada awal masa Abbasiyah (750-1258 M), muncul sekelompok kecil umat Islam yang menolak sunnah sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan golongan inkar al-sunnah atau munkir al-sunnah. Mereka itu oleh Syafi’i, dalam kitabnya al-‘Um, dibagi menjadi tiga golongan, yakni: (1) golongan yang menolak seluruh sunnah (2) golongan yang menolak sunnah, kecuali bila sunnah itu memiliki kesamaan dengan petunjuk al-Qur’an (3) golongan yang menolak sunnah yang berstatus ahad, dan hanya menerima sunnah yang berstatus mutawattir.
Adapun diantara dalil naqli yang mereka jadikan landasan adalah:
 Q. S. An-Nahl: 89
“Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu.”
 Q. S. Al-An’am: 38
“Tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab.”
 Q. S. Fathir: 31
“Dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Quran) Itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya.”

 Q. S. Yunus: 36
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.”
 Juga sejumlah riwayat hadis yang antara lain berbunyi sebagai berikut:

ما اتاكم عني فاعرضوه على كتاب الله فان وافق كتاب الله فلم اقله و انما انا موافق كتا ب الله وبه هدانى الله
“Apa yang datang kepadamu dari saya, maka konfirmasikan dengan kitabullah. Jika sesuai dengan kitabullah, maka hal itu berarti saya telah mengatakannya. Dan jika ternyata menyalahi kitabullah maka hal itu bukanlah saya yang mengatakannya. Dan sesungguhnya saya (selalu) sejalan dengan kitabullah dan dengannya Allah telah memberi petunjuk kepada saya.”
Ironis sekali, mereka menolak sunnah akan tetapi juga menggunakan sunnah sebagai landasan berpikirnya. Apalagi hadits tersebut adalah hadits ahad. Hal ini menunjukkah betapa sedikitnya pengetahuan mereka mengenai hadits.
Para inkar al- sunnah sebenarnya mengakui bahwasanya yang mereka tolak bukanlah sunnah Rasul, karena sunnah Rasul adalah al-Qur’an itu sendiri. Akan tetapi, yang mereka tolak sejatinya adalah hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Nabi. Sebab, hadits-hadits tersebut menurut mereka merupakan perkataan-perkataan yang dikarang oleh orang-orang setelah Nabi. Dengan kata lain, hadits-hadits itu adalah buatan manusia.
Menurut Abduh Zulfidar Akaha, dalam bukunya “Debat Terbuka Ahlu-Sunnah versus Inkar-Sunnah”, setidaknya ada sembilan alasan kenapa mereka menolak sunnah nabi, yaitu:
a. Yang dijamin Allah hanya al-Qur’an, bukan Sunnah.
b. Nabi sendiri melarang penulisan hadits
c. Hadits baru dibukukan pada abad kedua Hijriyah
d. Banyak pertentangan antara satu hadits dengan hadits yang lain.
e. Hadits adalah buatan manusia.
f. Hadits bertentangan dengan al-Qur’an.
g. Hadits merupakan saduran dari umat lain.
h. Hadits membuat umat Islam terpecah belah.
i. Hadits membuat umat Islam mundur dan terbelakang.
Namun dalam makalah ini kami akan memaparkan dua sebab golongan inkar-sunnah meragukan sunnah, yaitu (1) Sebab keraguan karena jumlah As-Sunnah yang banyak dan (2) Sebab keraguan karena masa penulisannya.

1. Sebab keraguan karena jumlah As-Sunnah yang banyak
Mencatat dan membukukan sabda, perilaku dan mu’amalah Rasulullah dalam catatan tersendiri merupakan pekerjaan yang berat, dibutuhkan banyak tenaga para sahabat, padahal di zaman Rasulullah sedikit sekali yang pandai menulis. Oleh karena itu, Rasulullah melarang pembukuan sunnah karena saat itu masih fokus pada pembukuan al-Qur’an. Dikhawatirkan akan terjadi pencampuradukan antara al-Qur’an dan as- Sunnah.
Oleh karena hadits tidak dibukukan dalam satu kitab yang khusus itulah maka orang-orang inkar sunnah berpendapat bahwa hadits itu hanya berdasarkan ingatan. Timbullah pemalsuan dan pendustaan atas nama Rasulullah.
Sejalan dengan semakin berkembanganya daerah Islam, kebutuhan akan hadis semakin meningkat, sementara sahabat sudah banyak yang meninggal, maka Abu Hurairah menjadi tumpuan umat. Beliau berusaha mengumpulkan hadits secara intensif dengan jalan bertanya kepada para sahabat nabi. Menurut ‘Ajjaj al-Khatib, Abu Hurairah meriwayatkan sebanyak 5000 hadits. Jumlah hadits yang demikian banyak itu menimbulkan keraguan di kalangan ahli hadits. Apalagi kalangan Mutaqaddimin menilai bahwa Abu Hurairah terlalu banyak ngomong, sehingga cenderung berdusta, dan haditsnya diragukan. Sedangkan kalangan mu’assirin menilai Abu Hurairah sebagai mudallis (orang yang menyembunyikan nama sahabat yang meriwayatkan hadits), penjilat, dan dianggap membuat hadits maudlu’.
Bantahan
Apakah arti sesungguhnya dari jumlah hadits yang demikian banyak itu? Apakah dari sejumlah itu termasuk hadits yang berbeda matannya? Ataukah karena banyaknya jalur silsilah yang dilalui? Apakah semua hadits itu langsung berasal dari Nabi? Ataukah termasuk juga atsar sahabat dan tabi’in? Bagaimana dengan hadits riwayat Abu Hurairah?
Perlu diketahui bahwasanya dari sejumlah hadits yang banyak itu ada yang bertautan dengan Rasulullah saw., ada ucapan para sahabat, ada pula tabi’in. Mungkin melalui rangkaian rawi yang berlainan, sehingga ada kalanya satu hadits diriwayatkan oleh beberapa sahabat dan beberapa tabi’in. Artinya, ada kalanya suatu hadits melalui sepuluh jalur, dan kasus seperti itu dianggap sebagai sepuluh hadits, padahal sesungguhnya satu hadits saja.
Dengan demikian, apabila dikumpulkan sabda Nabi, perilaku serta taqrirnya hingga ucapan sahabat dan tabi’in dan dihimpun pula semua jalur yang dilalui hadits sejak Nabi dan sahabat serta tabi’in, tidaklah mengherankan bahwa jumlah seluruhnya mencapai rarusan ribu.
Mengenai Hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, dapat diambil dua sikap. Pertama, sikap husnu al-zhan dengan melihat tiga kemungkinan:
a. Dari 5000 hadits itu boleh jadi sebagiannya berasal dari orang lain, dengan menggunakan nama Abu Hurairah sendiri.
b. Kemungkinan Abu Hurairah salah paham terhadap apa yang diterima dari Nabi.
c. Abu Hurairah mungkin salah ingat.
Kedua, sikap su’u al-dzan, dengan mengatakan bahwa hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah yang bertentangan dengan akal dan al-Qur’an bisa merupakan kebohongan. Apalagi dihubungkan dengan kritik negatif terhadap pribadinya. Akhirnya, dalam hal ini diperlukan adanya penelitian lebih lanjut.

2. Sebab keraguan karena masa penulisannya
Hadits di zaman Nabi, sahabat Khulafaur Rasyidin dan Umayyah belum dibukukan seperti yang dikenal sekarang. Hadits baru disusun di zaman Umar bin Abd al-Aziz. Dialah yang berhasil meyakinkan umat Islam akan pentingnya penulisan hadits, meletakkan dasar kodifikasi hadits secara resmi, dan mendorong timbulnya kegiatan pengumpulan hadits. Namun demikian, masa penulisan hadits yang jaraknya demikian jauh dari masa Rasululllah menimbulkan keraguan sebagian orang terhadap keotentikan hadits yang dikumpulkan itu.
Orang-orang inkar sunnah mengatakan bahwa hadits-hadits Rasulullah saw. yang terdapat dalam kitab-kitab sunnah banyak bohongnya dan mengada-ngada karena baru dibukukan ratusan tahun setelah Nabi wafat. Isi kitab-kitab yang diklaim berasal dari Nabi itu merupakan hasil dari gejolak politik, sosial, dan keagamaan yang dialami kaum muslimin pada abad pertama dan kedua. Jadi, bagaimana mungkin kitab yang dibukukan sekitar dua abad setelah wafatnya Nabi diyakini sebagai sunnah Nabi? Menurut mereka, apabila memang benar bahwa hadits-hadits itu bersumber dari Nabi, semestinya sudah dibukukan sejak masa Nabi hidup.
Bantahan
Perlu diketahui, arti dari pembukuan hadits adalah pengumpulan dari tulisan-tulisan yang telah disusun secara rapi. Adapun pembukuan hadits sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum abad kedua Hijriyah. Buktinya:
a. Khalifah Umar bin Abdul Aziz (w. 99 H), termasuk generasi tabi’in.
b. Abu Bakar Muhammad bin Amru bin Hazm (w. 98 H).
c. Imam Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (58 – 124 H).
d. Ibnu Juraij (w. 150 H) di Makah.
e. Ibnu Ishaq (w. 151 H) di Makah.
f. Dan lain-lain.
Kemudian memasuki abad kedua yang sebetulnya adalah kelanjutan dari masa sebelumnya. Pembukuan hadits mulai lebih teratur penyusunannya dari segi pembagian bab, masalah yang dibahas, dan sahabat yang meriwayatkan. Lalu, muncullah kitab-kitab hadits berikutnya.
Perlu dikatahui pula bahwasanya tidak adanya perintah Nabi saw. untuk menuliskan al-Sunnah, bukan berarti beliau melarangnya dan bukan pula menunjukkan bahwa al-Sunnah tidak dapat dijadikan hujjah. Nabi saw. tidak memerintahkan penulisan al-Sunnah karena kepentingan umum waktu itu mengharuskan pemusatan kemampuan para penulis di kalangan sahabat untuk menulis al-Qur’an.

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada masa Rasulullah saw. dan masa Khulafaur Rosyidin, umat Islam sepakat bahwa sunnah merupakan salah satu sumber ajaran Islam disamping Al-Qur’an. Kemudian pada awal masa Abbasiyah (750-1258 M), muncul sekelompok kecil umat Islam yang menolak sunnah sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan golongan inkar al-sunnah atau munkir al-sunnah. Banyak alasan kenapa mereka menolak sunnah nabi, diantaranya dikarenakan oleh jumlah as-Sunnah yang banyak dan masa penulisannya.
Menurut ‘Ajjaj al-Khatib, Abu Hurairah meriwayatkan sebanyak 5000 hadits. Jumlah hadits yang demikian banyak itu menimbulkan keraguan di kalangan ahli hadits. Para inkar Sunah kurang menyadari bahwasanya dari 5000 hadits itu boleh jadi sebagiannya berasal dari orang lain, dengan menggunakan nama Abu Hurairah sendiri.
Orang-orang inkar sunnah juga mengatakan bahwa hadits-hadits Rasulullah saw. yang terdapat dalam kitab-kitab sunnah banyak bohongnya dan mengada-ngada karena baru dibukukan ratusan tahun setelah Nabi wafat. Padahal pembukuan hadits yang dilakukan pada abad kedua sebetulnya adalah kelanjutan dari masa sebelumnya. Pembukuan hadits mulai lebih teratur penyusunannya dari segi pembagian bab, masalah yang dibahas, dan sahabat yang meriwayatkan. Lalu, muncullah kitab-kitab hadits berikutnya.

jurnal statistik pendidikan

Pengaruh Metode Mengajar dan Ragam Tes
Terhadap Hasil Belajar Matematika dengan Mengontrol Sikap Siswa
(Eksperimen pada Siswa Kelas I SMU Negeri DKI Jakarta)
Baso Intang Sappaile
Abstrak: Mengingat pentingnya matematika, maka sangat diharapkan siswa sekolah menengah untuk menguasai pelajaran matematika SMU. Karena disamping matematika sebagai sarana berpikir ilmiah yang sangat diperlukan oleh siswa, juga untuk mengembangkan kemampuan berpikir logiknya. Matematika juga diperlukan untuk menunjang keberhasilan belajar siswa dalam menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Untuk itu diperlukan metode mengajar berlandaskan permasalahan yang merupakan pendekatan yang sangat efektif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode mengajar mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa yang tergantung pada ragam tes, setelah mengurangi pengaruh linear sikap siswa terhadap matematika.

Kata kunci: Metode mengajar, Ragam tes, Hasil belajar matematika siswa dan Sikap siswa terhadap matematika.

1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Hasil belajar dipandang sebagai salah satu indikator pendidikan dan perlu disadari bahwa hasil belajar adalah bagian dari hasil pendidikan (Soedjadi, 1991: 10).
Matematika merupakan pengetahuan dasar yang diperlukan oleh peserta didik untuk menunjang keberhasilan belajarnya dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan matematika diperlukan oleh semua orang dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan umum pendidikan matematika pada jenjang pendidikan menengah memberi tekanan pada penataan nalar, dasar, dan pembentukan sikap siswa serta memberi tekanan pada keterampilan dalam penerapan matematika (GBPP Matematika, 1995: 1)
Mengingat pentingnya matematika, maka sangat diharapkan siswa sekolah menengah untuk menguasai pelajaran matematika SMU. Di lain pihak kenyataan menunjukkan bahwa hasil belajar matematika di sekolah menengah masih relatif rendah. Karena itu, diperlukan upaya perbaikan yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika khususnya pada jenjang pendidikan menengah.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan urain yang telah dikemukakan di atas maka secara umum, masalah penelitian adalah bagaimana pola pengaruh Metode Mengajar, Ragam Tes dan Sikap siswa terhadap hasil belajar matematika siswa.
1.3. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh metode mengajar dan ragam tes terhadap hasil belajar matematika, setelah mengontrol sikap siswa terhadap matematika.

2. Kajian Literatur
2.1. Hasil Belajar Matematika
Matematika sebagai bahan pelajaran yang obyeknya berupa fakta, konsep, operasi, dan prinsip yang kesemuanya adalah abstrak. Hasil belajar matematika siswa sebagian besar dinilai oleh guru pada ranah kognitifnya. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Penilaiannya dilakukan dengan tes hasil belajar matematika
2.2. Metode Mengajar
2.2.1. Metode Pemecahan Masalah Matematika
Tugas atau soal pemecahan masalah matematika dapat diberikan dalam bentuk individu atau kelompok. Pemecahan masalah matematika memuat pemecahan masalah sebagai perilaku kognitif dan matematika sebagai objek yang dipelajari. Proses berpikir dalam pemecahan masalah matematika memerlukan kemampuan intelek tertentu yang akan mengorganisasi strategi yang ditempuh sesuai dengan data dan permasalahan yang dihadapi.
Cara yang baik untuk menyajikan masalah adalah dengan menggunakan kejadian yang mencengangkan yang menimbulkan misteri dan suatu keinginan untuk memecahkan masalah (Ibrahim & Nur, 2000: 33).
Polya (1956:2) mengembangkan empat langkah penting dalam strategi pemecahan masalah, yaitu memahami masalah, mencari alternatif penyelesaian, melakukan perhitungan, dan memeriksa ulang hasil perhitungan.
2.2.2. Metode Konvensional
Yang dimaksud dengan pembelajaran matematika melalui konvensional adalah metode ceramah yang disertai dengan pertanyaan. Metode mengajar ini sering digunakan oleh guru pada umumnya.

2.3. Ragam Tes
Ragam Tes yang dimaksudkan dalam tulisan ini dibatasi hanya pilihan ganda biasa dan asosiasi pilihan ganda. Ragam tes pilihan ganda dapat digunakan untuk mengukur kemampuan siswa yang lebih tinggi dan dapat diskor secara objektif (Safari, 1997: 64).
2.3.1. Asosiasi Pilihan Ganda
Asosiasi pilihan ganda terdiri dari pokok soal berupa kalimat pertanyaan yang belum lengkap yang diikuti alternatif jawaban yang merupakan pelengkap. Pada alternatif jawaban tersebut memuat beberapa jawaban. Dari sejumlah alternatif jawaban yang tersedia hanya ada satu jawaban yang benar dan lainnya sebagai pengecoh.
Kelebihannya. (1) Jawaban yang benar sudah pasti, (2) pemeriksaan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat, dan (3) dapat mengaktifkan proses berpikir siswa.
Kekurangannya. (1) Kesempatan testi untuk menerka-nerka cukup besar, (2) bagi testi yang berkemampuan rendah merasa terlalu terbebani oleh soal, dan (3) waktu untuk mengerjakan untuk tiap soal cukup lama, sehingga memungkinkan testi mengerjakan soal hanya sebagian saja.
2.3.2. Pilihan Ganda Biasa
Pilihan ganda biasa terdiri dari pokok soal berupa kalimat pertanyaan yang belum lengkap yang diikuti alternatif jawaban yang merupakan pelengkap. Dari sejumlah alternatif jawaban yang tersedia hanya ada satu jawaban yang benar dan lainnya sebagai pengecoh. Testi ditugaskan memilih salah satu alternatif jawaban yang benar.
Kelebihannya. (1) Jawaban yang benar sudah pasti, (2) pemeriksaan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat, dan (3) testi dapat mengerjakan soal sebanyak mungkin.
Kekurangannya. (1) Kesempatan testi untuk menerka-nerka cukup besar, (2) kurang mengaktifkan proses berpikir siswa, dan (3) bagi testi yang berkemampuan rendah merasa tidak terlalu terbebani oleh soal.
2.4. Sikap Siswa terhadap Matematika
Sikap siswa terhadap matematika dimaksudkan sebagai tendensi mental yang diaktualkan atau diverbalkan terhadap matematika yang didasarkan pada pengetahuan atau perasaannya terhadap matematika. Objek yang disikapi adalah matematika yang meliputi materi matematika dan manfaat matematika, baik manfaat matematika terhadap mata pelajaran lain maupun manfaat matematika pada kehidupan sehari-hari.
2.5. Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan
Berikut beberapa hasil penelitian yang relevan dengan hasil penelitian ini. Penelitian yang dilakukan oleh Sunandar (2001: 175), mengungkapkan bahwa untuk siswa yang diajar dengan metode deduksi, hasil belajar matematika siswa yang diberi tes formatif bentuk pilihan ganda lebih tinggi daripada hasil belajar matematika siswa yang diberi tes formatif bentuk esai.
Penelitian yang dilakukan oleh Sofyan (2003: 184), mengungkapkan bahwa hasil belajar otomotif siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran kooperatif lebih tinggi daripada hasil belajar motor otomotif siswa yang diajar dengan strategi konvensional.
Penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2003: 201), mengungkapkan bahwa mahasiswa yang mempunyai TPA tinggi, hasil belajar ilmu gizi yang diajar dengan CBL lebih tinggi daripada hasil belajar ilmu gizi yang diajar dengan metode ceramah. Selanjutnya mahasiswa yang mempunyai TPA rendah, hasil belajar ilmu gizi yang diajar metode ceramah lebih tinggi daripada hasil belajar ilmu gizi yang diajar dengan metode CBL.
Penelitian yang dilakukan oleh Sumarno, dkk (1993: 31), mengungkapkan bahwa pada umumnya siswa masih menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika dalam bentuk pemecahan masalah, terutama pada langkah strategi melaksanakan perhitungan dan memeriksa ulang hasil perhitungan.
Penelitian yang dilakukan oleh Damiyanti (2004: 17), mengungkapkan bahwa skor rata-rata tes kemampuan memecahkan masalah tergolong tinggi dibandingkan nilai rata-rata skor teoretik.
Penelitian yang dilakukan oleh Putera (2004: 27), mengungkapkan bahwa hasil belajar matematika warga belajar yang diberikan evaluasi formatif, tes diagnostik dan remedial lebih tinggi dari yang diberikan evaluasi formatif dan pengajaran kembali.
Penelitian yang dilakukan oleh Arief (2004: 187), mengungkapkan bahwa dalam proses pembelajaran etika administrasi negara bagi mahasiswa yang memiliki sikap positif, maka metode concept mapping lebih efektif digunakan dibandingkan metode ceramah. Sedangkan untuk mahasiswa yang memiliki sikap negatif, metode ceramah lebih efektif daripada metode concept mapping.
Penelitian yang dilakukan oleh Safari (1996: 77), mengungkapkan bahwa penggunaan bentuk soal pilihan ganda berpengaruh secara signifikan terhadap antarmata pelajaran yang diajarkan guru di pendidikan dasar sembilan tahun.
Penelitian yang dilakukan oleh Syafrudie (1996: 98), mengungkapkan bahwa sikap siswa SMK terhadap lingkungan hidup berkorelasi positif dengan penguasaan konsep lingkungan hidup.
2.6. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teoretik dan hasil-hasil penelitian terdahulu, maka dirumuskan hipotesis penelitian, yaitu: (1) untuk siswa yang diajar melalui pemecahan masalah, hasil belajar matematika siswa yang diberi ragam tes asosiasi pilihan ganda lebih tinggi dibanding siswa yang diberi ragam tes pilihan ganda biasa, setelah mengurangi pengaruh linear sikap siswa terhadap matematika, (2) untuk siswa yang diajar melalui konvensional, hasil belajar matematika siswa yang diberi ragam tes asosiasi pilihan ganda lebih rendah dibanding siswa yang diberi ragam tes pilihan ganda biasa, setelah mengurangi pengaruh linear sikap siswa terhadap matematika, (3) untuk siswa yang diberi ragam tes asosiasi pilihan ganda, hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui pemecahan masalah lebih tinggi dibanding siswa yang diajar melalui konvensional, setelah mengurangi pengaruh linear sikap siswa terhadap matematika, (4) untuk siswa yang diberi ragam tes pilihan ganda biasa, hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui pemecahan masalah lebih rendah dibanding siswa yang diajar melalui konvensional, setelah mengurangi pengaruh linear sikap siswa terhadap matematika, dan (5) metode mengajar mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa yang tergantung pada ragam tes, setelah mengurangi pengaruh linear sikap siswa terhadap matematika.

3. Metodologi Penelitian
3.1. Disain Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan disain 2×2 faktorial. Variabel respon adalah hasil belajar matematika siswa. Sedang faktor perlakuan adalah (1) metode mengajar, dan (2) ragam tes yang masing-masing mempunyai dua tingkat perlakuan.
Sebelum pelaksanaan eksperimen, terlebih dahulu dilakukan pengukuran sikap terhadap pengukuran kepada semua siswa, baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Oleh karena itu sikap siswa terhadap matematika dapat dinyatakan sebagai covariable atau covariate dalam menerapkan model linear.
Dalam eksperimen ini, satu kelas dengan pembelajaran matematika melalui pemecahan masalah sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas dengan pembelajaran matematika melalui konvensional sebagai kontrol. Baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol masing-masing diajar dan diberikan tes formatif dalam ragam tes asosiasi pilihan ganda dan ragam tes pilihan ganda biasa oleh guru mata pelajaran matematika. Sebelum guru mengajar materi matematika pada kelompok eksperimen, terlebih dahulu guru tersebut diberikan rambu-rambu serta diingatkan oleh peneliti cara dan langkah yang harus dilakukan di dalam kelas dalam hal pembelajaran matematika melaui pemecahan masalah. Sedang pada kelompok siswa dengan pembelajaran matematika melalui konvensional dimonitor oleh peneliti Materi matematika yang diajarkan adalah materi kelas I semester I dengan pertemuan sebanyak 15 kali tatap muka.
3.2. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas I SMUN 30 dan SMUN 58 DKI Jakarta yang dipilih secara purposif. Sebuah sampel kelas I dipilih secara random dari masing-masing SMU. Dari SMUN 30 terpilih kelas I-6 dan dari SMUN 58 terpilih kelas I-5. Di SMUN 30 diberi metode pemecahan masalah matematika dan di SMUN 58 diberi metode konvensional.
3.3. Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilakukan di dua Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri di DKI Jakarta, yaitu SMU Negeri 30 dan SMU Negeri 58 Jakarta. Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan pada semester satu tahun pelajaran 2003/2004, terhitung sejak 21 Juli 2003 sampai dengan 20 Desember 2003.
Pelaksanaan penelitian disesuaikan dengan jadwal mata pelajaran matematika.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan adalah hasil belajar matematika siswa dan sikap siswa terhadap matematika. Hasil belajar matematika siswa diperoleh dengan menggunakan tes hasil belajar matematika siswa yang dilakukan pada akhir eksperimen, sedang sikap siswa terhadap matematika digunakan angket yang dilakukan sebelum eksperimen.
3.5. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis dengan menerapkan Model Linear Univariat yang terdiri dari (1) analisis regresi linear dengan koefisien arah heterogen (heterogeneous slopes) dan (2) analisis kovarian (homogeneous slopes).

4. Hasil dan Pembahasan
4.1. Deskripsi Data
Tabel 1. Deskripsi Data
Metode Mengajar
Melalui Pemecahan Masalah Melalui Konvensional
Ragam Tes Asosiasi Pilihan Ganda n=18
Y=62,78
s=6,94 n=18
Y=47,83
s=10,29 n=36
Y=55,31
s=11,50
Pilihan Ganda Biasa n=18
Y=47,89
s=8,19 n=18
Y=53,72
s=8,98 n=36
Y=50,81
s=8,97
n=36
Y=55,33
s=10,63 n=36
Y=50,78
s=9,97 n=72
Y=53,06
s=10,49

4.2. Pengujian Hipotesis
Untuk pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan dua analisis, yaitu (1) analisis regresi linear dengan koefisien arah heterogen (heterogeneous slopes) dan (2) analisis kovarian (homogeneous slopes).
4.3. Hasil Analisis Kovarian (Homogeneous Slopes)
Model I: Y= + R M + R M + R M + X+
Model II: Y= + R M + R M + R M + X+ (Agung, 2004: 96)
Tabel 2 Hasil Estimasi Parameter dari Model I
Parameter B Std. Error th Nilai-p
Konstanta 35,163 11,856 2,966 0,004
[R=2]*[M=2] -8,563 2,810 -3,048 0,003
[R=2]*[M=1] -13,483 2,870 -4,698** 0,000
[R=1]*[M=2] -14,206 2,817 -5,043** 0,000
X 0,286 0,121 2,362 0,021

Tabel 3 Hasil Estimasi Parameter dari Model II
Parameter B Std. Error th Nilai-p
Konstanta 26,600 11,650 2,283 0,026
[R=1]*[M=1] 8,563 2,810 3,048 0,003
[R=1]*[M=2] -5,643 2,803 -2,013* 0,048
[R=2]*[M=1] -4,920 2,832 -1,737 0,087
X 0,286 0,121 2,362 0,021

Tabel 4 Test of Between-Subject Effect
Sumber
Variasi Dk JK RJK Fh F tabel
=.05 =.01
Interaksi
(IR*IM) 3 2236,63 745,54 10,55 2,74 4,09
Kovarian
(X) 1 394,41 394,41 5,58 3,98 7,03
Kekeliruan
(Dalam Sel) 67 4734,59 70,67 – – –
Total 71 7809,78 – – – –
Keterangan: RJK : Rata-rata Jumlah Kuadrat
dk : derajat kebebasan Fh : F Hitung
JK : Jumlah Kuadrat * : Sangat signifikan pada = 0,05
Berdasarkan hasil dalam Tabel 2, Tabel 3, dan Tabel 4 dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut.
(1) Ho: g >0 ditolak, karena t =-4,698 < t = -1,996. Kesimpulan, lihat 5.1.Simpulan yang Pertama.
(2) Ho: g >0 ditolak, kareba t =-5,043 < t = -1,996. Kesimpulan, lihat 5.1.Simpulan yang Ketiga.
(3) Ho: b >0 ditolak, karena t =-2,013 < t = -1,996. Kesimpulan, lihat 5.1.Simpulan yang Kedua.
(4) Ho: b >0 diterima, karena t =1,737 > t = -1,996. Kesimpulan lihat 5.1.Simpulan yang Keempat.
(5) Ho: (RM) = 0 ditolak, karena Fh = 10,55>F = 2,74. Kesimpulan lihat 5.1.Simpulan yang Kelima.
5. Simpulan dan Saran
5.1. Simpulan
Pertama, untuk siswa yang diajar melalui pemecahan masalah, hasil belajar matematika siswa yang diberi ragam tes asosiasi pilihan ganda lebih tinggi dibanding siswa yang diberi ragam tes pilihan ganda biasa, setelah mengurangi pengaruh linear sikap siswa terhadap matematika.
Kedua, untuk siswa yang diajar melalui konvensional, hasil belajar matematika siswa yang diberi ragam tes asosiasi pilihan ganda lebih rendah dibanding siswa yang diberi ragam tes pilihan ganda biasa, setelah mengurangi pengaruh linear sikap siswa terhadap matematika.
Ketiga, untuk siswa yang diberi ragam tes asosiasi pilihan ganda, hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui pemecahan masalah lebih tinggi dibanding siswa yang diajar melalui konvensional, setelah mengurangi pengaruh linear sikap siswa terhadap matematika.
Keempat, data tidak mendukung kebenaran hipotesis yang menyatakan untuk siswa yang diberi ragam tes pilihan ganda biasa, rata-rata hasil belajar matematika yang diajar melalui pemecahan masalah lebih rendah dibanding yang diajar melalui konvensional, setelah mengurangi pengaruh linear sikap siswa terhadap matematika. Namun secara deskriptif rata-rata simpangan hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui pemecahan masalah lebih rendah dibanding yang diajar melalui konvensional, bagi siswa yang diberi ragam tes pilihan ganda biasa.
Kelima, Metode mengajar mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa yang tergantung pada ragam tes, setelah mengurangi pengaruh linear sikap siswa terhadap matematika.
5.2. Saran
Pertama. Dalam pembelajaran matematika pada siswa yang bersikap positif terhadap matematika, bagi guru matematika yang akan menggunakan ragam tes formatif asosiasi pilihan ganda, disarankan dalam pembelajaran matematika digunakan metode pemecahan masalah.
Kedua. Dalam pembelajaran matematika pada siswa yang bersikap positif terhadap matematika, bagi guru matematika yang akan menggunakan ragam tes formatif pilihan ganda biasa, disarankan dalam pembelajaran matematika digunakan metode konvensional.
Ketiga. Diharapkan para guru matematika untuk berlatih mangkondisikan baik ragam tes asosiasi pilihan ganda maupun ragam tes pilihan ganda biasa, sehingga setiap butir dapat berfungsi dengan baik.
Keempat. Diharapkan para guru dalam memberikan soal-soal matematika yang merupakan salah satu masalah bagi siswa, diharapkan soal-soal tersebut tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar tetapi dapat menantang bagi siswa.
Kelima. Dalam pembelajaran matematika melalui pemecahan masalah, diharapkan guru membantu dan memandu siswa bagi yang mengalami kesulitan menyelesaikan matematika.

sang pemimpi

Para Patriot Nasib

Judul : Sang Pemimpi
Pengarang : Andrea Hirata
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : Februari 2008
Tebal Buku : 288 halaman

Jika sebelumnya, novel ‘Laskar Pelangi’ bercerita tentang masa SD dan SMP Ikal bersama sepuluh anggota Laskar Pelangi, maka kali ini dalam novel ‘Sang Pemimpi’ Andrea mengisahkan masa-masa SMA Ikal bersama dua sahabatnya, Arai dan Jimbron.
Ikal dan saudara sepupunya, Arai, adalah sosok anak cerdas yang tak kenal lelah. Pukul dua pagi mereka sudah bangun untuk bekerja sebagai kuli ngambat. Dengan berbekal sebatang bambu, mereka sempoyongan memikul puluhan kilo ikan dari perahu menuju stanplat. Semua itu mereka lakukan demi sekolah mereka. Dan Jimbron, adalah sahabat mereka yang amat terobsesi, obsesif kompulsif terhadap kuda. Untuk pekerjaan itu, mereka bertiga mengontrak sebuah los sempit di dermaga dan pulang ke rumah orang tua setiap dua minggu. Mereka adalah para pemberani, para patriot nasib. Mereka tetap tegar menghadapi sikap pak Mustar, guru yang super galak namun penuh perhatian. Mereka pernah nyaris dikeluarkan dari SMA karena kepergok nonton film biru di bioskop. Namun dikarenakan oleh suatu hal, akhirnya keputusan itu dibatalkan. Sebagai gantinya, mereka dihukum berat dan yang pasti hukuman itu sangat mempermalukan mereka.
Mereka mempunyai pribadi yang unik. Ikal, sosok anak manusia yang mempunyai optimisme tinggi. Arai, anak sebatang kara yang penuh kejutan, pikirannya sulit untuk ditebak. Dan Jimbron, si gagap yang berhati mulia dan tulus dalam persahabatan. Yang tak kalah seru disini adalah pergolakan bathin mereka ketika memasuki fase pubertas. Pun juga kisah cinta Arai pada wanita indifferent bernama Nurmala. Kira-kira apa hukuman yang diberikan pak Mustar kepada mereka? Bagaimana kisah cinta Arai? Dan bagaimana pula perjuangan Ikal dan Arai hingga mereka menjadi sarjana untuk kemudian mendapatkan beasiswa melanjutkan studinya ke Univesite’ de Paris, Sorbonne, Prancis? Temukan jawabannya di novel kedua tetralogi Laskar Pelangi ini. Dalam novel ini, Andrea menyajikan humor yang halus namun memiliki efek filosofis yang mendalam.

resensi saat cinta berhijrah

Pergulatan Rurani dan Jati Diri ‘Si Gadis Haram’

Judul : Saat Cinta Berhijrah
Pengarang : Andi Bombang
Penerbit : Diva Press, Jogjakarta
Tempat Terbit : Jogjakarta
Tahun Terbit : Agustus, 2008
Tebal buku : 460 halaman

Tidak mudah hidup di bawah tekanan psikis macam Febi. Si gadis cantik nan mempesona ini tiada hentinya menyesali kelahirannya sebagai gadis haram. Apalagi setelah mendengar kabar tegas, “anak haram tidak pantas hidup di muka bumi”. Dia pun semakin merasa hina dan tak berguna. Bahkan dia berani membenci Tuhan karena ‘ketidakadilan-Nya’ telah menggariskannya terlahir ke alam fana dengan menanggung kutuk anak haram.
Berawal dari perkenalan yang terjadi secara kebetulan. Perkenalan Febi dengan Bu Endang telah membuka rahasia besar tentang Febi yang selama ini tersimpan rapi dan tak terungkap barang sedikitpun. Ternyata Febi anak haram. Karena secuil dogma yang membingungkan inilah Febi semakin terjungkal di terjang prahara dosa dan kegelapan jiwa. Febi yang lemah lembut tiba-tiba menjadi dingin dan liar. Kini, dia muak melihat orang tuanya di rumah. Semuanya palsu, semuanya bertopeng. Oleh sebab itulah, dia memilih hidup sendiri dari pada terus-terusan tersiksa melihat ayah dan ibunya. Ia meninggalkan keluarganya dan memilih hidup mandiri di kos.
Pada mulanya, kehidupannya di kos biasa-biasa saja. Namun setelah kedekatannya dengan salah seorang penghuni kos yang bernama Sri, dia pun berubah fikiran. Dia nekat menempuh jalan yang sama dengan Sri demi menemui bahagia karena dia melihat Sri menemukan bahagia disitu. Masa bodoh dengan komentar orang lain. Tak terkecuali nasihat dari sahabat karibnya, Rini dan Vina. Semuanya lewat begitu saja. Keputusannya sudah bulat meskipun, menurut banyak orang, profesi yang ditempuhnya sangatlah hina. Ia tak peduli. Apapun yang dilakukannya, toh ia tetap saja anak haram yang hina.
Seiring berjalannya waktu, kebahagiaan yang dicari tak juga ia temukan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Abah dan Haji Imron Japati. Sejak saat itu, ia memutuskan hijrah sepenuh jiwa, hidup, cinta, dan air mata untuk membangkitkan jati diri, kekuatan hati, dan kebahagiaan sejati. Dia berhijrah dengan energi jiwa dan ruhaninya.
Siapakah gerangan Bu Endang? Bagaimana dia bisa tahu semua tentang Febi? Dalam perjuangannya mencari kebahagiaan, jalan ‘hina’ apakah yang ditempuh Febi? Siapa pula Abah dan Haji Imron Japati? Berhasilkah perjuangan Febi dalam mencari bahagia?
Anda akan menemukan jawabannya di dalam novel “Saat Cinta Berhijrah” karya Andi Bombang ini. Penulis novel ‘Kun…Fayakun’ ini begitu cerdas mengemas novelnya dalam bahasa yang sederhana namun bergelora. Novel ini mengusung motivasi penuh tenaga untuk menuju hidup yang lebih positif. Novel ini layak dibaca oleh semua kalangan.

Sekian.

agar ngampus nggak sekadar status

Resensi Buku “Agar Ngampus Tak Sekedar Status”

Judul : Agar Ngampus Tak Sekadar Status
Pengarang : Robi’ah al-Adawiyah & Hatta Syamsuddin
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tempat terbit : Surakarta
Tahun Terbit : 2008
Tebal Buku : 216 Halaman

Transisi dari siswa menjadi mahasiswa tentunya mengundang berbagai macam pertanyaan bagi siswa. Mahasiswa selama ini dikenal sebagai sosok yang identik dengan kebebasan, keberanian, suka demo, dan kritis. Paradigma inilah yang kira-kira membuat siswa suka berpikir yang enggak-enggak tentang mahasiswa. Namun ada satu hal lagi yang pasti terjadi pada mahasiswa, yakni perubahan. Tak hanya perubahan status dari siswa yang belajar di sekolah menjadi mahasiswa yang ngampus di perguruan tinggi. Akan tetapi, juga perubahan tanggungjawab yang mulanya hanyalah seorang siswa yang masa bodoh dengan masyarakat sekitarnya lantas menjadi mahasiswa yang bukan hanya kritis namun juga humanis.
Menjadi mahasiswa sukses merupakan impian siapa saja. Untuk mewujudkannya, tentunya dibutuhkan persiapan yang matang. Banyak diantara calon mahasiswa yang asal saja dalam menentukan pilihannya, yang penting di jurusan, fakultas, dan perguruan tinggi yang bergengsi. Padahal yang terpenting dalam menentukan pilihan adalah menyesuaikan dengan potensi diri yang dimiliki. Sehingga proses perkuliahan dapat berjalan dengan baik tanpa ada unsur paksaan.
Begitu masuk ke perguruan tinggi, OSPEK adalah kegiatan awal yang harus dihadapi oleh mahasiswa baru. OSPEK sering menjadi momok bagi mahasiswa baru karena OSPEK cenderung dikenal sebagai ajang ploncoan senior kepada juniornya, yakni mahasiswa baru. Namun pada hakikatnya OSPEK bertujuan untuk mengenalkan lingkungan kampus. Selain itu, OSPEK merupakan proses penyesuaian diri dan pendewasaan siswa menjadi mahasiswa.
Setelah resmi menjadi mahasiswa, mahasiswa akan dihadapkan pada model belajar yang jauh berbeda dengan di SMA. Pun juga dihadapkan pada berbagai macam organisasi baik intra kampus maupun ekstra kampus. Organisasi ini penting sebagai wadah pengembangan potensi diri. Jika mahasiswa telah membulatkan tekad untuk aktif di organisasi maka mahasiswa pun harus siap dengan segala konsekuensinya. Menjadi aktivis bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan yang dihadapi namun banyak pula manfaat yang akan diperoleh.
Buat yang indekos, banyak hal-hal penting seputar indekos yang harus diketahui meskipun kelihatannya sepele. Di sekitar kampus, hampir di setiap sudutnya ada kos-kosan. Bergitu pula pada setiap gangnya. Namun bukan berarti kita dapat dengan mudah memilih kos yang pas buat kita. Memilih kos-kosan tidak bisa sembarangan karena di kos itulah anda tinggal dengan keluarga yang baru. Cara anda bersikap juga harus diperhatikan agar tidak menurunkan self-esteem anda. Dan satu hal lagi, jaga kepercayaan yang telah diberikan oleh orang tua kepada anda.
Lantas, bagaimana menetukan pilihan studi yang sesuai dengan potensi yang dimiliki? Setelah diterima di perguruan tinggi, bagaimana menghadapi OSPEK yang nota bene dianggap sebagai ajang ploncoan? Bagaimana seharusnya menjadi mahasiswa baru? Apakah menjadi aktivis itu selalu mengganggu prestasi kuliah? Sebagai mahasiswa yang tinggal di kos, bagaimana menjadi warga kos yang baik dan disukai?
Buku “Agar Ngampus Tak Sekedar Status” inilah jawabannya. Penulis mengulas tuntas jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Penulis berhasil mengemasnya dalam bahasa yang komunikatif, bersahabat, dan terkesan tidak menggurui sehingga anda akan menikmatinya saat membaca. Format tulisan dan desainnya pun cukup menarik. Anda akan merasa terarah dan mendapat bimbingan dengan segala uraian hikmahnya. Plus Tips dan Trik kuliah ke luar negeri yang disuguhkan dalam bab terakhir juga mampu memberikan pencerahan yang sangat berarti. Bagi anda yang awalnya takut dan tidak bisa membayangkan ‘bagaimana sih kuliah di negeri orang?’, anda tidak akan merasa takut atau ragu lagi karena dalam bab terakhir ini disajikan beberapa sisi keuntungan dan kelemahan kuliah ke luar negeri dan hal-hal lain yang berhubungan dengan proses kuliah di luar negeri, sehingga bisa dijadikan referensi untuk pertimbangan dalam membuat suatu keputusan.
Menurut saya, ada satu hal lagi yang mestinya menjadi pembahasan dalam buku ini, yakni pandangan penulis mengenai aktivis yang ngampus belasan semester bahkan tidak sedikit yang sampai terancam DO (Drop Out). Dengan pandangan penulis –yang mantan aktivis kampus- ini menurut saya bisa dijadikan bahan perbandingan dengan paradigma kawan-kawan saya baik dari kalangan aktivis maupun bukan aktivis. Karena hal ini sempat menjadi pertanyaan besar dalam otak saya. Tidak jarang aktivis yang terancam DO namun kemudian mereka mampu berkiprah dan menjadi sukses baik di dunai politik maupun yang lainnya.
Buku ini sangat layak dibaca oleh para calon mahasiswa atau yang telah menjadi mahasiswa termasuk yang sudah ngampus bertahun-tahun dan ingin melakukan perubahan. Buku ini bukan untuk mahasiswa yang hanya ingin sekadar bergelar, enggan mengevaluasi diri, takut terprovokasi menjadi berbeda, dan cuma ingin jadi ‘mahasiswa biasa’.
Sebagai penulis yang masih muda, Robi’ah al-Adawiyah berhasil menciptakan buku yang mampu memberikan pencerahan dan merekonstruksi paradigma orang banyak tentang dunia mahasiswa. Kekompakannya bersama suaminya dalam mencipta buku ini mampu menjadikan karyanya sebagai karya yang menakjubkan. Muatan intelektualitas dan spiritualitas yang tinggi mampu menjadikan karya-karyanya sebagai best seller. Benar-benar bisa memberikan pencerahan dan mendobrak semangat mahasiswa yang menginginkan perubahan. Akhirnya, sekaranglah saat yang tepat untuk berubah. Tidak ada gunanya hanya berdiam diri tanpa melakukan suatu hal yang berarti.

Previous Older Entries