resensi saat cinta berhijrah

Pergulatan Rurani dan Jati Diri ‘Si Gadis Haram’

Judul : Saat Cinta Berhijrah
Pengarang : Andi Bombang
Penerbit : Diva Press, Jogjakarta
Tempat Terbit : Jogjakarta
Tahun Terbit : Agustus, 2008
Tebal buku : 460 halaman

Tidak mudah hidup di bawah tekanan psikis macam Febi. Si gadis cantik nan mempesona ini tiada hentinya menyesali kelahirannya sebagai gadis haram. Apalagi setelah mendengar kabar tegas, “anak haram tidak pantas hidup di muka bumi”. Dia pun semakin merasa hina dan tak berguna. Bahkan dia berani membenci Tuhan karena ‘ketidakadilan-Nya’ telah menggariskannya terlahir ke alam fana dengan menanggung kutuk anak haram.
Berawal dari perkenalan yang terjadi secara kebetulan. Perkenalan Febi dengan Bu Endang telah membuka rahasia besar tentang Febi yang selama ini tersimpan rapi dan tak terungkap barang sedikitpun. Ternyata Febi anak haram. Karena secuil dogma yang membingungkan inilah Febi semakin terjungkal di terjang prahara dosa dan kegelapan jiwa. Febi yang lemah lembut tiba-tiba menjadi dingin dan liar. Kini, dia muak melihat orang tuanya di rumah. Semuanya palsu, semuanya bertopeng. Oleh sebab itulah, dia memilih hidup sendiri dari pada terus-terusan tersiksa melihat ayah dan ibunya. Ia meninggalkan keluarganya dan memilih hidup mandiri di kos.
Pada mulanya, kehidupannya di kos biasa-biasa saja. Namun setelah kedekatannya dengan salah seorang penghuni kos yang bernama Sri, dia pun berubah fikiran. Dia nekat menempuh jalan yang sama dengan Sri demi menemui bahagia karena dia melihat Sri menemukan bahagia disitu. Masa bodoh dengan komentar orang lain. Tak terkecuali nasihat dari sahabat karibnya, Rini dan Vina. Semuanya lewat begitu saja. Keputusannya sudah bulat meskipun, menurut banyak orang, profesi yang ditempuhnya sangatlah hina. Ia tak peduli. Apapun yang dilakukannya, toh ia tetap saja anak haram yang hina.
Seiring berjalannya waktu, kebahagiaan yang dicari tak juga ia temukan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Abah dan Haji Imron Japati. Sejak saat itu, ia memutuskan hijrah sepenuh jiwa, hidup, cinta, dan air mata untuk membangkitkan jati diri, kekuatan hati, dan kebahagiaan sejati. Dia berhijrah dengan energi jiwa dan ruhaninya.
Siapakah gerangan Bu Endang? Bagaimana dia bisa tahu semua tentang Febi? Dalam perjuangannya mencari kebahagiaan, jalan ‘hina’ apakah yang ditempuh Febi? Siapa pula Abah dan Haji Imron Japati? Berhasilkah perjuangan Febi dalam mencari bahagia?
Anda akan menemukan jawabannya di dalam novel “Saat Cinta Berhijrah” karya Andi Bombang ini. Penulis novel ‘Kun…Fayakun’ ini begitu cerdas mengemas novelnya dalam bahasa yang sederhana namun bergelora. Novel ini mengusung motivasi penuh tenaga untuk menuju hidup yang lebih positif. Novel ini layak dibaca oleh semua kalangan.

Sekian.

Iklan

7 Komentar (+add yours?)

  1. Aska
    Des 11, 2008 @ 05:54:46

    Saya udah baca Novel ini. Di awal sampe tengah bagus. Sangat detil menceritakan tentang profesi Febi sebagai gadis panggilan. Tapi di akhir, membosankan, mudah ditebak, kurang seru, karena munculnya Ki Imran alias Hardi Kobra. Tapi secara umum, novel ini bagus, meski masih di bawah Kun Fayakuun.

    Balas

  2. ABang
    Des 11, 2008 @ 12:55:20

    Dari kedalaman samudera hati, terima kasihku buat Mbak Elfalasy atas apresiasinya ini. Dia ada, meliput segalanya…

    Balas

  3. n mursidi
    Des 13, 2008 @ 07:37:44

    resensinya kurang kritis, jadi beberapa komponen/unsur resensi mohon diperhatikan!

    Balas

  4. ferdinan mares
    Agu 31, 2009 @ 15:47:25

    allmandullah
    novel yang di buat oleh andai bombang membawa perubahan dalam hidup saya

    Balas

    • elfalasy88
      Okt 15, 2009 @ 06:17:54

      kalo boleh tahu perubahan yang seperti apa? apa ada satu sisi cerita yang mirip dengn apa yang ferdinan alami saat ini?

      Balas

  5. ipunk
    Okt 17, 2010 @ 14:22:41

    Sebuah novel yang sangat kurang bermutu yang pernah dibuat. Nggak ada perubahan setelah baca novel ini, cerita dan gaya hidup semua tokoh dalam novel ini terlalu “muluk muluk”!!! Nggak ada pengaruhnya sama sekali buat pembaca.
    Konflik didalamnya lemah, nuansa islamicnya kurang (nggak kayak judulnya), ceritanya sangat amat “khayal”, malah terkesan primitif.
    Apa itu “Uwa”, Ki Imron Japati, Hardi Cobra???

    Serasa baca dongeng murahan!!!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: