sebab keraguan terhadap hadits

SEBAB KERAGUAN TERHADAP HADITS

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada masa Rasulullah saw. dan masa Khulafaur Rosyidin, umat Islam sepakat bahwa sunnah merupakan salah satu sumber ajaran Islam disamping Al-Qur’an. Kemudian pada awal masa Abbasiyah (750-1258 M), muncul sekelompok kecil umat Islam yang menolak sunnah sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan golongan inkar al-sunnah atau munkir al-sunnah. Banyak alasan kenapa mereka menolak sunnah nabi, yaitu: Yang dijamin Allah hanya al-Qur’an, bukan Sunnah; Nabi sendiri melarang penulisan hadits; Hadits baru dibukukan pada abad kedua Hijriyah; Banyak pertentangan antara satu hadits dengan hadits yang lain; Hadits adalah buatan manusia; Hadits bertentangan dengan al-Qur’an; Hadits merupakan saduran dari umat lain; Hadits membuat umat Islam terpecah belah, mundur dan terbelakang.
Hal ini pada dasarnya dikarenakan para inkar al-Sunnah kurang memahami Islam dengan benar atau bahkan pemahamannya masih sempit. Oleh karena itu perlu adanya pemahaman yang menyeluruh terhadap Islam agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat mengakibatkan perpecahan umat Islam itu sendiri.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami menjelaskan tentang:
1. Sebab keraguan karena jumlah As-Sunnah yang banyak
2. Sebab keraguan karena masa penulisannya

C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Pembaca dapat memahami tentang Sebab keraguan terhadap as-Sunnah karena jumlah As-Sunnah yang banyak
2. Pembaca dapat memahami tentang Sebab keraguan terhadap as-Sunnah karena masa penulisannya

BAB II
PEMBAHASAN

Perlu dipahami, dalam makalah ini istilah sunnah disamakan pengertiannya dengan istilah hadits sebagaimana yang dinyatakan oleh ulama hadits pada umumnya, yakni segala sabda, perbuatan, taqrir, dan sifat Rasulullah saw.
Baik pada masa Rasulullah saw. maupun masa Khulafaur Rosyidin, umat Islam sepakat bahwa sunnah merupakan salah satu sumber ajaran Islam disamping Al-Qur’an. Baru pada awal masa Abbasiyah (750-1258 M), muncul sekelompok kecil umat Islam yang menolak sunnah sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan golongan inkar al-sunnah atau munkir al-sunnah. Mereka itu oleh Syafi’i, dalam kitabnya al-‘Um, dibagi menjadi tiga golongan, yakni: (1) golongan yang menolak seluruh sunnah (2) golongan yang menolak sunnah, kecuali bila sunnah itu memiliki kesamaan dengan petunjuk al-Qur’an (3) golongan yang menolak sunnah yang berstatus ahad, dan hanya menerima sunnah yang berstatus mutawattir.
Adapun diantara dalil naqli yang mereka jadikan landasan adalah:
 Q. S. An-Nahl: 89
“Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu.”
 Q. S. Al-An’am: 38
“Tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab.”
 Q. S. Fathir: 31
“Dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Quran) Itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya.”

 Q. S. Yunus: 36
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.”
 Juga sejumlah riwayat hadis yang antara lain berbunyi sebagai berikut:

ما اتاكم عني فاعرضوه على كتاب الله فان وافق كتاب الله فلم اقله و انما انا موافق كتا ب الله وبه هدانى الله
“Apa yang datang kepadamu dari saya, maka konfirmasikan dengan kitabullah. Jika sesuai dengan kitabullah, maka hal itu berarti saya telah mengatakannya. Dan jika ternyata menyalahi kitabullah maka hal itu bukanlah saya yang mengatakannya. Dan sesungguhnya saya (selalu) sejalan dengan kitabullah dan dengannya Allah telah memberi petunjuk kepada saya.”
Ironis sekali, mereka menolak sunnah akan tetapi juga menggunakan sunnah sebagai landasan berpikirnya. Apalagi hadits tersebut adalah hadits ahad. Hal ini menunjukkah betapa sedikitnya pengetahuan mereka mengenai hadits.
Para inkar al- sunnah sebenarnya mengakui bahwasanya yang mereka tolak bukanlah sunnah Rasul, karena sunnah Rasul adalah al-Qur’an itu sendiri. Akan tetapi, yang mereka tolak sejatinya adalah hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Nabi. Sebab, hadits-hadits tersebut menurut mereka merupakan perkataan-perkataan yang dikarang oleh orang-orang setelah Nabi. Dengan kata lain, hadits-hadits itu adalah buatan manusia.
Menurut Abduh Zulfidar Akaha, dalam bukunya “Debat Terbuka Ahlu-Sunnah versus Inkar-Sunnah”, setidaknya ada sembilan alasan kenapa mereka menolak sunnah nabi, yaitu:
a. Yang dijamin Allah hanya al-Qur’an, bukan Sunnah.
b. Nabi sendiri melarang penulisan hadits
c. Hadits baru dibukukan pada abad kedua Hijriyah
d. Banyak pertentangan antara satu hadits dengan hadits yang lain.
e. Hadits adalah buatan manusia.
f. Hadits bertentangan dengan al-Qur’an.
g. Hadits merupakan saduran dari umat lain.
h. Hadits membuat umat Islam terpecah belah.
i. Hadits membuat umat Islam mundur dan terbelakang.
Namun dalam makalah ini kami akan memaparkan dua sebab golongan inkar-sunnah meragukan sunnah, yaitu (1) Sebab keraguan karena jumlah As-Sunnah yang banyak dan (2) Sebab keraguan karena masa penulisannya.

1. Sebab keraguan karena jumlah As-Sunnah yang banyak
Mencatat dan membukukan sabda, perilaku dan mu’amalah Rasulullah dalam catatan tersendiri merupakan pekerjaan yang berat, dibutuhkan banyak tenaga para sahabat, padahal di zaman Rasulullah sedikit sekali yang pandai menulis. Oleh karena itu, Rasulullah melarang pembukuan sunnah karena saat itu masih fokus pada pembukuan al-Qur’an. Dikhawatirkan akan terjadi pencampuradukan antara al-Qur’an dan as- Sunnah.
Oleh karena hadits tidak dibukukan dalam satu kitab yang khusus itulah maka orang-orang inkar sunnah berpendapat bahwa hadits itu hanya berdasarkan ingatan. Timbullah pemalsuan dan pendustaan atas nama Rasulullah.
Sejalan dengan semakin berkembanganya daerah Islam, kebutuhan akan hadis semakin meningkat, sementara sahabat sudah banyak yang meninggal, maka Abu Hurairah menjadi tumpuan umat. Beliau berusaha mengumpulkan hadits secara intensif dengan jalan bertanya kepada para sahabat nabi. Menurut ‘Ajjaj al-Khatib, Abu Hurairah meriwayatkan sebanyak 5000 hadits. Jumlah hadits yang demikian banyak itu menimbulkan keraguan di kalangan ahli hadits. Apalagi kalangan Mutaqaddimin menilai bahwa Abu Hurairah terlalu banyak ngomong, sehingga cenderung berdusta, dan haditsnya diragukan. Sedangkan kalangan mu’assirin menilai Abu Hurairah sebagai mudallis (orang yang menyembunyikan nama sahabat yang meriwayatkan hadits), penjilat, dan dianggap membuat hadits maudlu’.
Bantahan
Apakah arti sesungguhnya dari jumlah hadits yang demikian banyak itu? Apakah dari sejumlah itu termasuk hadits yang berbeda matannya? Ataukah karena banyaknya jalur silsilah yang dilalui? Apakah semua hadits itu langsung berasal dari Nabi? Ataukah termasuk juga atsar sahabat dan tabi’in? Bagaimana dengan hadits riwayat Abu Hurairah?
Perlu diketahui bahwasanya dari sejumlah hadits yang banyak itu ada yang bertautan dengan Rasulullah saw., ada ucapan para sahabat, ada pula tabi’in. Mungkin melalui rangkaian rawi yang berlainan, sehingga ada kalanya satu hadits diriwayatkan oleh beberapa sahabat dan beberapa tabi’in. Artinya, ada kalanya suatu hadits melalui sepuluh jalur, dan kasus seperti itu dianggap sebagai sepuluh hadits, padahal sesungguhnya satu hadits saja.
Dengan demikian, apabila dikumpulkan sabda Nabi, perilaku serta taqrirnya hingga ucapan sahabat dan tabi’in dan dihimpun pula semua jalur yang dilalui hadits sejak Nabi dan sahabat serta tabi’in, tidaklah mengherankan bahwa jumlah seluruhnya mencapai rarusan ribu.
Mengenai Hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, dapat diambil dua sikap. Pertama, sikap husnu al-zhan dengan melihat tiga kemungkinan:
a. Dari 5000 hadits itu boleh jadi sebagiannya berasal dari orang lain, dengan menggunakan nama Abu Hurairah sendiri.
b. Kemungkinan Abu Hurairah salah paham terhadap apa yang diterima dari Nabi.
c. Abu Hurairah mungkin salah ingat.
Kedua, sikap su’u al-dzan, dengan mengatakan bahwa hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah yang bertentangan dengan akal dan al-Qur’an bisa merupakan kebohongan. Apalagi dihubungkan dengan kritik negatif terhadap pribadinya. Akhirnya, dalam hal ini diperlukan adanya penelitian lebih lanjut.

2. Sebab keraguan karena masa penulisannya
Hadits di zaman Nabi, sahabat Khulafaur Rasyidin dan Umayyah belum dibukukan seperti yang dikenal sekarang. Hadits baru disusun di zaman Umar bin Abd al-Aziz. Dialah yang berhasil meyakinkan umat Islam akan pentingnya penulisan hadits, meletakkan dasar kodifikasi hadits secara resmi, dan mendorong timbulnya kegiatan pengumpulan hadits. Namun demikian, masa penulisan hadits yang jaraknya demikian jauh dari masa Rasululllah menimbulkan keraguan sebagian orang terhadap keotentikan hadits yang dikumpulkan itu.
Orang-orang inkar sunnah mengatakan bahwa hadits-hadits Rasulullah saw. yang terdapat dalam kitab-kitab sunnah banyak bohongnya dan mengada-ngada karena baru dibukukan ratusan tahun setelah Nabi wafat. Isi kitab-kitab yang diklaim berasal dari Nabi itu merupakan hasil dari gejolak politik, sosial, dan keagamaan yang dialami kaum muslimin pada abad pertama dan kedua. Jadi, bagaimana mungkin kitab yang dibukukan sekitar dua abad setelah wafatnya Nabi diyakini sebagai sunnah Nabi? Menurut mereka, apabila memang benar bahwa hadits-hadits itu bersumber dari Nabi, semestinya sudah dibukukan sejak masa Nabi hidup.
Bantahan
Perlu diketahui, arti dari pembukuan hadits adalah pengumpulan dari tulisan-tulisan yang telah disusun secara rapi. Adapun pembukuan hadits sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum abad kedua Hijriyah. Buktinya:
a. Khalifah Umar bin Abdul Aziz (w. 99 H), termasuk generasi tabi’in.
b. Abu Bakar Muhammad bin Amru bin Hazm (w. 98 H).
c. Imam Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (58 – 124 H).
d. Ibnu Juraij (w. 150 H) di Makah.
e. Ibnu Ishaq (w. 151 H) di Makah.
f. Dan lain-lain.
Kemudian memasuki abad kedua yang sebetulnya adalah kelanjutan dari masa sebelumnya. Pembukuan hadits mulai lebih teratur penyusunannya dari segi pembagian bab, masalah yang dibahas, dan sahabat yang meriwayatkan. Lalu, muncullah kitab-kitab hadits berikutnya.
Perlu dikatahui pula bahwasanya tidak adanya perintah Nabi saw. untuk menuliskan al-Sunnah, bukan berarti beliau melarangnya dan bukan pula menunjukkan bahwa al-Sunnah tidak dapat dijadikan hujjah. Nabi saw. tidak memerintahkan penulisan al-Sunnah karena kepentingan umum waktu itu mengharuskan pemusatan kemampuan para penulis di kalangan sahabat untuk menulis al-Qur’an.

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada masa Rasulullah saw. dan masa Khulafaur Rosyidin, umat Islam sepakat bahwa sunnah merupakan salah satu sumber ajaran Islam disamping Al-Qur’an. Kemudian pada awal masa Abbasiyah (750-1258 M), muncul sekelompok kecil umat Islam yang menolak sunnah sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan golongan inkar al-sunnah atau munkir al-sunnah. Banyak alasan kenapa mereka menolak sunnah nabi, diantaranya dikarenakan oleh jumlah as-Sunnah yang banyak dan masa penulisannya.
Menurut ‘Ajjaj al-Khatib, Abu Hurairah meriwayatkan sebanyak 5000 hadits. Jumlah hadits yang demikian banyak itu menimbulkan keraguan di kalangan ahli hadits. Para inkar Sunah kurang menyadari bahwasanya dari 5000 hadits itu boleh jadi sebagiannya berasal dari orang lain, dengan menggunakan nama Abu Hurairah sendiri.
Orang-orang inkar sunnah juga mengatakan bahwa hadits-hadits Rasulullah saw. yang terdapat dalam kitab-kitab sunnah banyak bohongnya dan mengada-ngada karena baru dibukukan ratusan tahun setelah Nabi wafat. Padahal pembukuan hadits yang dilakukan pada abad kedua sebetulnya adalah kelanjutan dari masa sebelumnya. Pembukuan hadits mulai lebih teratur penyusunannya dari segi pembagian bab, masalah yang dibahas, dan sahabat yang meriwayatkan. Lalu, muncullah kitab-kitab hadits berikutnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: