sekilas tentang al-Qur’an dan hadits

  1. Sebelum sanad dilembagakan, kecurangan yang bekenaan dengan hadis-hadis Nabi pada dasarnya berupa pemalsuan matan (isi) hadis. Akan tetapi, setelah itu pemalsuan sanad pun tak terelakkan.
    1. Bagaimana cara paling mudah untuk menggulirkan sebuah hadis yang dipertanyakan dengan sebuah sanad pada waktu itu?

Jawab: caranya adalah dengan cara membuat hadis yang dikatakan berasal  dari Nabi atau beberapa sumber awal yang terpercaya. (Jeffrey Lang, 2006, h.164)

  1.  
    1. Bagaimana bila sanad yang dibuat-buat ini tak pernah didengar? Atau para perawinya tidak pernah saling bertemu?

Jawab: bila demikian, pemalsuan ini biasanya akan segera diketahui. Adapun cara yang lebih efektif untuk menyebarkan hadis palsu adalah membajak sebuah sanad yang sangat mutawattir dan menyambungnya dengan sebuah sanad lain yang masuk akal dan dimulai dengan nama pemalsunya. (Jeffrey Lang, 2006, h.164)

 

  1. Nabi saw. sebagai bagian dari masyarakat yang melakukan aktivitas sebagaimana lazimnya masyarakat pada umumnya, sebenarnya tidak memiliki tempat khusus untuk menyampaikan hadis atau mempraktekkan sunnah. Nabi saw. tidak mempunyai madrasah (sekolah) atau pondok khusus.
    1. Dimana biasanya Nabi saw. menyampaikan hadis atau mempraktekkan sunnah?

Jawab: di mana pun Nabi saw. berada dan memiliki kesempatan, beliau menyampaikan hadisnya, baik dalam suasana perang, dalam bepergian, di rumah ataupun di masjid. Meski demikian kegiatan tersebut lebih sering disampaikan di masjid dengan diikuti oleh banyak sahabat. (Fazlur Rahman dkk., 2002, h.10)

  1.  
    1. Bagaimana cara Nabi saw. menyampaikan hadis?

Jawab: Nabi menyampaikan hadisnya dengan tiga cara. Pertama, secara verbal. Penyampaian secara verbal adalah hal pertama yang dilakukan Nabi karena Nabi adalah seorang penyampai (Muballigh). Penyampaian hadis dengan cara tersebut adakalanya didahului oleh suatu peristiwa, seperti pertanyaan dari sahabat, dan adakalanya tanpa melalui pertanyaan seperti itu. Kedua, secara tertulis. Dilakukan ketika Nabi berdakwah secara terang-terangan. Tulisan tersebut berupa surat ajakan Nabi kepada pemimpin-pemimpin Negara tetangga untuk ber-Islam. Ketiga, secara demonstratif. Penyampaian hadis secara demonstratif adalah perilaku Nabi untuk menjelaskan hal-hal yang sifatnya praktis, seperti shalat, wudlu, tayammum, dan lain-lain. (Fazlur Rahman dkk., 2002, h.10)

 

  1. Hadits di zaman Nabi, sahabat Khulafaur Rasyidin dan Umayyah belum dibukukan seperti yang dikenal sekarang. Hadits baru disusun di zaman Umar bin Abd al-Aziz. Dialah yang berhasil meyakinkan umat Islam akan pentingnya penulisan hadits, meletakkan dasar kodifikasi hadits secara resmi, dan mendorong timbulnya kegiatan pengumpulan hadits. Namun demikian, masa penulisan hadits yang jaraknya demikian jauh dari masa Rasululllah menimbulkan keraguan sebagian orang terhadap keotentikan hadits yang dikumpulkan itu.
    1. Apa sebenarnya makna istilah pembukuan hadis?

Jawab: istilah pembukuan hadis yang berasal dari kata tadwin al-hadis, banyak menimbulkan kesalahpahaman terminologis di antara beberapa ahli. Ada yang mengartikan dengan pencatatan hadis, penulisan hadis, serta pembukuan hadis. Namun, pembukuan hadis yang banyak digunakan oleh ahli hadis adalah pembukuan hadis dalam artian yang bersifat resmi atau massal. Jadi, bukan bersifat individual seperti yang-di antaranya-dilakukan demikian oleh para sahabat sejak masa Nabi saw. (H.M. Erfan Soebahar, 2003, h.159)

  1.  
    1. Sebutkan alasan tidak dibukukannya hadis pada masa Nabi saw.!

Jawab: di antara alasan tidak dibukukannya hadis pada masa Nabi adalah, (H.M. Erfan Soebahar, 2003, h.163)

1)      bahwa Nabi hidup bersama sahabat selama 23 tahun sehingga menuliskan ucapan, perbuatan, dan pergaulan beliau dalam mushaf dan lembaran-lembaran secara utuh, sulit dilakukan dari segi masalah lokasi,

2)      bahwa orang-orang Arab waktu itu masih banyak yang buta huruf, menyandarkan diri kepada ingatan mereka untuk hal-hal yang harus mereka pelihara dan lahirkan kembali, dan

3)      juga dikhawatirkan silapnya sebagian sabda Nabi yang singkat dan padat itu dengan al-Qur’an, karena alpa dan tanpa sengaja. Hal itu mengandung bahaya terhadap kitab Allah, karena pintu keraguan padanya akan terbuka untuk musuh-musuh Islam, yang mereka gunakan untuk jalan menembus pertahanan orang-orang Muslim guna menyeret mereka kepada sikap mengendorkan hukum-hukumnya dan melunturkan wibawanya.

 

  1. Salah satu sifat ilmu pengetahuan adalah dapat diterima oleh rasio/akal. Al-Qur’an memberikan penghargaan yang amat tinggi terhadap akal. Tidak sedikit ayat yang menganjurkan dan mendorong manusia agar mempergunakan pikiran dan akalnya. Dengan penggunaan akal dan pikiran tersebut ilmu pengetahuan dapat diperoleh dan dikembangkan.
    1. Pernyataan apa saja yang dipakai dalam al-Qur’an untuk menggambarkan perbuatan berpikir?

Jawab: ‘Aqala, Nazara, Tadabbara, Tafakkara, Faqiha, Tazakkara, dan Fahima.

  1.  
    1. Jelaskan masing istilah tersebut di atas!

Jawab:

         ‘Aqala, yaitu yang menggunakan akal dan rasio

         Nazara, yaitu melihat secara abstrak dalam arti berpikir dan merenung

         Tadabbara, yaitu merenungkan sesuatu yang tersurat dan tersirat

         Tafakkara, yaitu berfikir secara mendalam

         Faqiha, yaitu mengerti secara mendalam

         Tazakkara, yaitu mengingat, memperoleh peringatan, mendapat pelajaran, memperlibatkan dan mempelajari, yang semuanya mengandung perbuatan berpikir dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan

         Fahima, yaitu memahami dalam bentuk pemahaman yang mendalam.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: