barack obama

MEMERANGI STAGNASI REGENERASI POLITIK DI INDONESIA
Judul Buku :”Obama-Obama” Indonesia
Pengarang :Muhammad Ja’far & Didi Ahmadi
Penerbit :RMBOOKS
Tempat Terbit : Jakarta Selatan
Tahun Terbit :Oktober, 2008
Tebal Buku :220 halaman

Kini, siapa tak kenal Barack Obama. Popularitasnya melejit pesat. Prestasi politiknya menginspirasi, hingga ke Indonesia. Kenapa Barack Obama? Karena ia dinilai sebagai simbol regenerasi politik, representasi pemimpin generasi muda yang hadir dengan harapan baru yaitu membawa visi perubahan (change).
Saat ini adalah saat yang tepat untuk nenjadikan lelaki bernama lengkap Barack Hussein Obama ini sebagai figur yang menjadi inspirasi perubahan bagi politisi muda. Obama sedang menggejala hebat di perpolitikan global. Publik dunia dengan cepat mengendus kemunculannya.
Lalu, kenapa yang terpilih sebagai “Obama Indonesia” jumlahnya 11 orang? Di dalam buku ini, penulis tidak memancangkan sebuah kriteria, apalagi sebuah metodologi seleksi yang amat ketat untuk menyaring 11 sosok “Obama Indonesia” ini. Dua pertimbangan sederhana, kenapa akhirnya mereka yang terpilih adalah selama ini mereka memiliki latar belakang peran yang penting, sehingga pada saat yang sama mereka pun memiliki masa depan kiprah politik yang prospektif.
Penulis mengaku bisa saja pilihannya pada 11 tokoh ini kurang mengena, seperti halnya juga peluangnya untuk tepat sasaran. Bisa saja “Obama-Obama” Indonesia justru ada “di luar” yang 11 ini. Obama hanyalah simbol dan representasi, sebagaimana halnya jumlah 11 tokoh di buku ini. Kesebelas tokoh tersebut adalah Yuddy Chrisnandi, Pramono Anung, Anas Urbaningrum, Zulkifli Hasan, Priyo Budi Santoso, Budiman Sudjatmiko, Angelina Sondakh, Muhaimin Iskandar, Tifatul Sembiring, Lukman Hakim Saifuddin, dan Jeffrey Johannes Massie. Kesemuanya memiliki pemikiran-pemikiran yang kritis dan progressif dalam menganalisa situasi politik negeri ini, khususnya isu kepemimpinan kaum muda di tengah-tengah situasi politik Indonesia yang sampai saat ini masih mengutamakan kaum tua dalam memilih pemimpin.
Yuddy Chrisnandi menilai isu kepemimpinan kaum muda harus ditempatkan dalam cara pandang yang positif. Namun tak jarang di berbagai kesempatan, kaum muda disindir dengan alasan minim pengalaman. Sementara memimpin sebuah negara jelas-jelas membutuhkan pengalaman. Namun menurut Pramono Anung, usia tidaklah relevan untuk dijadikan tolak ukur. Parameter dalam proses regenerasi politik bukan terletak pada persoalan usia. Kuncinya terletak pada kulitas kinerja yang berawal dari komitmen, kapabilitas, dan kualifikasi.
Dalam amatan Zulkifli Hasan, sebenarnya di perpolitikan Indonesia belakangan ini telah muncul “fenomena Obama”. Yaitu naiknya generasi muda ke tampuk pimpinan tertinggi. Hanya saja, levelnya baru pada tingkat daerah, untuk jabatan Bupati dan Gubernur, belum pada level kepemimpinan Nasional. Senada dengan hal itu, Angelina Sondakh meramalkan, seiring terbukanya kran regenerasi, tahun 2014 nanti para pemimpin muda akan banyak bermunculan. Momen 2009 sekarang baru akan menjadi fase perkenalan mereka untuk bersiap-siap menerima estafet pada pemilu berikutnya.
Berbicara mengenai sistem politik Indonesia, Anas Urbaningrum menilai masih belum melihat kuatnya meritokrasi di dalamnya, yang mana di dalam meritokrasi politik terbuka kemungkinan bagi siapapun untuk meraih prestasi-prestasi politik, asal memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan. Hal ini membutuhkan kesadaran kaum tua untuk memberikan kepercayaan kepada kaum muda dan membuang ambisi pribadi atas kaum muda dalam meneruskan perjuangannya membangun negara. Sayangnya, menurut Tifatul Sembiring, sikap membuang atau minimal menekan ambisi itulah yang sama sekali alpa dari para politisi senior negeri ini.
Oleh karena itu, benar apa yang dikatakan Jeffrey Johannes Massie, bahwa kunci utama proses regenerasi politik adalah rasa legowo dan percaya. Rasa legowo penting sebagai ekspresi kerelaan melepas kursi kepemimpinan. Sementara rasa percaya lebih penting lagi sebagai bentuk keyakinan bahwa apa yang dicapai oleh generasi sebelumnya, bukan hanya dapat dipertahankan, tetapi dapat ditingkatkan pencapaiannya oleh kalangan muda yang menggantikannya.
Mengingat kondisi sebagian besar bangsa Indonesia yang masih ternina-bobokkan dengan kuatnya daya pikat para pemimpin model lama, maka buku ini menjadi penting untuk dibaca oleh siapapun sebagai usaha penyadaran pola pikir yang selama ini tampak begitu hegemonik. Penulis menyuguhkan isi yang menarik dengan menampilkan tokoh-tokoh muda negeri yang memang layak mendapat julukan “Obama-Obama Indonesia”. Semua tokoh di dalam buku ini menyajikan pemikiran-pemikiran cemerlangnya dengan pisau analisis yang tajam. Pemikiran yang beragam dan mempunyai argumen yang sama-sama kuat memang sangat menarik untuk dikaji dan dikritisi. Akhirnya, jangan biarkan regenerasi proses politik negeri ini stagnan sehingga yang kemudian muncul adalah sosok pemimpin muda yang benar-benar memiliki keberanian dan tanggungjawab.img256

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: