Alat Pendidikan

A. Definisi Alat Pendidikan dan Alat Pendidikan Islam
Sebelum membahas apa itu alat pendidikan, terlebih dahulu penulis ingin menegaskan bahwa yang penulis maksudkan dengan alat pendidikan disini adalah media pembelajaran. Kebanyakan para ahli pendidikan membedakan antara media dan alat, namun kedua istilah tersebut juga digunakan saling bergantian. Perbedaan antara media dengan alat terletak pada fungsi, bukan pada substansinya. Sumber belajar dikatakan alat peraga jika hal tersebut fungsinya hanya sebagai alat bantu saja. Sumber belajar dikatakan media jika hal itu merupakan bagian yang integral dari seluruh kegiatan belajar.
Media secara bahasa memiliki arti perantara atau pengantar. Kata media merupakan bentuk jamak dari kata medium. Medium dapat didefinisikan sebagai perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima. Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan. Sedangkan proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi yaitu guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan pembelajaran.
Secara istilah Media adalah sesuatu yang bersifat meyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya. Sedangkan media pendidikan adalah seperangkat alat bantu ataupun segala sesuatu yang digunakan oleh pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan peserta didik.
Media pendidikan Islam adalah semua aktivitas yang ada hubungannya dengan materi pendidikan Islam, baik yang berupa alat yang dapat diragakan oleh pendidik pendidikan Islam dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Penggunaan media bukan sekedar upaya untuk membantu pendidik dalam mengajar, tetapi lebih daripada itu sebagai usaha yang ditujukan untuk memudahkan peserta didik dalam mempelajari materi pembelajaran.

B. Jenis Media
Rudi Bretz (1977) mengklasifikasi media menjadi delapan, yaitu Media audio visual gerak, Media audio visual diam, Media audio semi gerak, Media visual gerak, Media visual diam, Media visual semi gerak, Media audio, dan Media cetak.
Menurut Oemar Hamalik (1985: 63) ada empat klasifikasi media pengajaran, yaitu Visual, Audio, Audio Visual, serta Dramatisasi, bermain peran, sosiodrama, sandiwara boneka, dan sebagainya.
Di samping itu para ahli media lainnya juga membagi jenis-jenis media pengajaran itu kepada Media asli dan tiruan, Media bentuk papan, Media bagan dan grafis, Media proyeksi, Media dengar (audio), dan Media cetak dan printed materials.
Briggs mengidentifikasi macam-macam media pembelajaran menjadi Objek, Model, Suara langsung, Rekaman audio, Media Cetak, Pembelajaran terprogram, Papan tulis, Media transparansi, serta Film bingkai, film, televisi, dan gambar.
Sedangkan Gegne membuat tujuh macam pengelompokan media yaitu Benda untuk didemonstrasikan, Komunikasi lisan, Gambar cetak, Gambar diam, Gambar gerak, Film bersuara, dan Mesin belajar.
Wilbur Scharmm (1977), memandang media dari segi kerumitan dan besarnya biaya. Dia membedakan antara media rumit dan mahal serta media sederhana dan murah. Schramm juga mengelompokkan menurut daya liputnya yaitu (1) liputan luas dan serentak seperti TV, radio, dan faksimile; (2) liputan terbatas pada ruangan, seperti film, video, slide, poster audio tape; (3) media untuk relajar individual, seperti buku, modul, program belajar dengan komputer. Selain itu ia juga membagi media menurut kontrol pemakaiannya dalam pengertian probabilitasnya dan kesesuaiannya uintuk di rumah, kesiapan pemakaiannya setiap saat diperlukan, cepat atau tidaknya dalam penyampaian dan dapat dikontrol, kesesuaiannya untuk belajar mandiri, dan kemampuannya untuk memberi umpan balik.
Menurut Allen, terdapat sembilan kelompok media, yaitu: visual diam, film, televisi, obyek tiga dimensi, rekaman, pelajaran terprogram, demonstrasi, buku teks cetak, dan sajian lisan. Di samping mengklasifikasikan, Allen juga mengaitkan antara jenis media pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Allen melihat bahwa, media tertentu memiliki kelebihan untuk tujuan belajar tertentu tetapi lemah untuk tujuan belajar yang lain. Allen mengungkapkan enam tujuan belajar, antara lain: info faktual, pengenalan visual, prinsip dan konsep, prosedur, keterampilan, dan sikap. Setiap jenis media tersebut memiliki perbedaan kemampuan untuk mencapai tujuan belajar; ada tinggi, sedang, dan rendah.
Menurut Gerlach dan Ely, media dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri fisiknya atas delapan kelompok, yaitu benda sebenarnya, presentasi verbal, presentasi grafis, gambar diam, gambar bergerak, rekaman suara, pengajaran terprogram, dan simulasi.
Menurut Ibrahim, media dikelompokkan berdasarkan ukuran serta kompleks tidaknya alat dan perlengkapannya atas lima kelompok, yaitu media tanpa proyeksi dua dimensi; media tanpa proyeksi tiga dimensi; media audio; media proyeksi; televisi, video, komputer.

C. Tujuan Penggunaan Alat
Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah proses komunikasi. Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan suatu dunia komunikasi tersendiri dimana pendidik dan peserta didik bertukar pikiran untuk mengembangkan ide dan pengertian. Dalam komunikasi sering timbul dan terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi tersebut tidak efektif dan efisien. Hal ini antara lain disebabkan oleh adanya kecenderungan verbalisme, ketidaksiapan peserta didik, kurangnya minat dan kegairahan, dan sebagainya.
Salah satu usaha untuk mengatasi keadaan demikian ialah penggunaan media secara terintegrasi dalam proses belajar mengajar. Media dalam kegiatan tersebut disamping sebagai penyaji stimulus informasi, sikap, dan lain-lain, juga untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan informasi.
Secara umum media pembelajaran digunakan untuk membantu peserta didik dalam memahami materi pembelajaran. Selain itu, ada beberapa tujuan penggunaan media pembelajaran yaitu:
1. Proses belajar mengajar akan lebih menarik perhatian peserta didik sehingga dapat menumbuhkan motivasi peserta didik
2. Bahan pengajaran akan lebih mudah dipahami dan memungkinkan peserta didik menguasai tujuan pengajaran lebih baik
3. Mengatasi berbagai keterbatasan dan perbedaan pengalaman peserta didik
4. Memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungan
5. Menghasilkan keseragaman pengamatan
6. Menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.

D. Konsep Alat Pendidikan Islam
Media pendidikan Islam adalah semua aktivitas yang ada hubungannya dengan materi pendidikan agama Islam, baik yang berupa alat yang dapat diragakan maupun teknik/metode yang secara efektif dapat digunakan oleh pendidik agama Islam dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Para nabi menyebarkan agama kepada umat manusia dengan menggunakan media perbuatan nabi sendiri, dan dengan jalan memberikan contoh teladan yang bersifat uswatun hasanah. Nabi selalu menunjukkan sifat-sifat yang terpuji. Hal ini diungkapkan dalam al-Qur’an surat al-Ahzab: 21
                 
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”
Melalui suri tauladan atau model perbuatan dan tindakan yang baik oleh seorang pendidik, maka pendidik agama Islam akan dapat menumbuh-kembangkan sifat dan sikap yang baik pula terhadap peserta didik. Istilah uswatun hasanah dapat diidentifikasikan dengan demonstrasi yaitu memberikan contoh dan menunjukkan tentang cara berbuat atau melakukan sesuatu.
Selain itu, semua alat yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi mengenai pendidikan dan pengajaran agama kepada peserta didik juga termasuk sebagai media pendidikan agama. Contoh benda yang merupakan media pendidikan agama adalah papan tulis, buku pelajaran, buletin board, film atau gambar hidup, radio pendidikan, televisi pendidikan, komputer, karyawisata dan lain-lain. Contoh karyawisata (rihlah) yang dapat dipakai sebagai media pengajaran agama adalah kisah Nabi Musa yang berpendidik kepada Nabi Khidir sebagaimana tercantum dalam Q. S. Al-Kahfi: 66-82.
Dalam pemilihan media pengajaran agama selalu diperhatikan hal-hal yang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah agama atau sesuatu tindakan atau perbuatan yang dicontohkan oleh Nabi sendiri. Pemilihan media pengajaran agama tersebut disesuaikan dengan tujuan pengajaran agama, bahan atau materi yang akan disampaikan, ketersediaan alat, pribadi pendidik, minat dan kemampuan peserta didik, dan situasi pengajaran yang akan berlangsung.

E. Alat Pendidikan dan Subyek Pendidikan
Dalam menentukan media yang akan digunakan dalam pembelajaran harus pula memperhatikan kebutuhan subyek pendidikan. Yang dimaksud subyek pendidikan disini adalah peserta didik. Seorang pendidik yang akan merancang dan mengembangkan media pembelajar terlebih dahulu harus mengetahui pengetahuan dan keterampilan awal yang dimiliki para peserta didik sebelum mengikuti pelajaran. Dengan penelitian secara cermat tentang pengetahuan awal maupun pengetahuan prasyarat yang dimiliki oleh para peserta didik, maka akan dapat menentukan secara tepat pula pengembangan program media yang dirancang. Penelitian ini dapat dilakukan dengan menggunakan pretes dengan menggunakan tes yang sesuai dengan apa yang diinginkan, sehingga pembelajaran yang dirancang dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
Adapun yang dimaksud dengan kebutuhan subyek pendidikan dalam proses belajar mengajar adalah kesenjangan antara apa yang dimiliki peserta didik dengan apa yang diharapkan. Sebagai contoh, pendidik mengharapkan peserta didik dapat melakukan shalat wajib dengan baik dan sempurna dimana mereka dapat melakukan gerakan-gerakan shalat dengan benar. Setelah menentukan tujuan pembelajaran tersebut, pendidik mengamati keadaan peserta didik sehingga bisa diketahui kebutuhannya. Dalam hal ini bisa terjadi kesenjangan apabila peserta didik diketahui hanya baru dapat melakukan gerakan takbir dan masih banyak kesalahan dalam membaca bacaan shalat. Untuk itu, diperlukan latihan ruku’, i’tidal, sujud, duduk tahiyat, dan gerakan-gerakan lainnya serta bacaan-bacaannya dengan baik dan benar.
Dalam memilih media juga harus disesuaikan dengan taraf berpikir peserta didik sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh para peserta didik. Misalnya, menyajikan grafik yang berisi data dan angka atau proporsi dalam bentuk persen bagi peserta didik SD kelas-kelas rendah tidak ada manfaatnya. Mungkin lebih tepat dalam bentuk gambar atau poster. Demikian juga diagram yang menjelaskan alur hubungan suatu konsep atau prinsip hanya bisa dilakukan bagi peserta didik yang telah memiliki kadar berpikir yang tinggi.
Penggunaan media dalam proses pembelajaran tidak bisa dipaksakan sehingga mempersulit tugas pendidik, tapi harus sebaliknya yakni mempermudah pendidik dalam menjelaskan bahan pengajaran. Oleh karena itu media bukan keharusan tetapi sebagai pelengkap jika dirasa perlu untuk mempertinggi kualitas proses belajar mengajar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: