barack obama

MEMERANGI STAGNASI REGENERASI POLITIK DI INDONESIA
Judul Buku :”Obama-Obama” Indonesia
Pengarang :Muhammad Ja’far & Didi Ahmadi
Penerbit :RMBOOKS
Tempat Terbit : Jakarta Selatan
Tahun Terbit :Oktober, 2008
Tebal Buku :220 halaman

Kini, siapa tak kenal Barack Obama. Popularitasnya melejit pesat. Prestasi politiknya menginspirasi, hingga ke Indonesia. Kenapa Barack Obama? Karena ia dinilai sebagai simbol regenerasi politik, representasi pemimpin generasi muda yang hadir dengan harapan baru yaitu membawa visi perubahan (change).
Saat ini adalah saat yang tepat untuk nenjadikan lelaki bernama lengkap Barack Hussein Obama ini sebagai figur yang menjadi inspirasi perubahan bagi politisi muda. Obama sedang menggejala hebat di perpolitikan global. Publik dunia dengan cepat mengendus kemunculannya.
Lalu, kenapa yang terpilih sebagai “Obama Indonesia” jumlahnya 11 orang? Di dalam buku ini, penulis tidak memancangkan sebuah kriteria, apalagi sebuah metodologi seleksi yang amat ketat untuk menyaring 11 sosok “Obama Indonesia” ini. Dua pertimbangan sederhana, kenapa akhirnya mereka yang terpilih adalah selama ini mereka memiliki latar belakang peran yang penting, sehingga pada saat yang sama mereka pun memiliki masa depan kiprah politik yang prospektif.
Penulis mengaku bisa saja pilihannya pada 11 tokoh ini kurang mengena, seperti halnya juga peluangnya untuk tepat sasaran. Bisa saja “Obama-Obama” Indonesia justru ada “di luar” yang 11 ini. Obama hanyalah simbol dan representasi, sebagaimana halnya jumlah 11 tokoh di buku ini. Kesebelas tokoh tersebut adalah Yuddy Chrisnandi, Pramono Anung, Anas Urbaningrum, Zulkifli Hasan, Priyo Budi Santoso, Budiman Sudjatmiko, Angelina Sondakh, Muhaimin Iskandar, Tifatul Sembiring, Lukman Hakim Saifuddin, dan Jeffrey Johannes Massie. Kesemuanya memiliki pemikiran-pemikiran yang kritis dan progressif dalam menganalisa situasi politik negeri ini, khususnya isu kepemimpinan kaum muda di tengah-tengah situasi politik Indonesia yang sampai saat ini masih mengutamakan kaum tua dalam memilih pemimpin.
Yuddy Chrisnandi menilai isu kepemimpinan kaum muda harus ditempatkan dalam cara pandang yang positif. Namun tak jarang di berbagai kesempatan, kaum muda disindir dengan alasan minim pengalaman. Sementara memimpin sebuah negara jelas-jelas membutuhkan pengalaman. Namun menurut Pramono Anung, usia tidaklah relevan untuk dijadikan tolak ukur. Parameter dalam proses regenerasi politik bukan terletak pada persoalan usia. Kuncinya terletak pada kulitas kinerja yang berawal dari komitmen, kapabilitas, dan kualifikasi.
Dalam amatan Zulkifli Hasan, sebenarnya di perpolitikan Indonesia belakangan ini telah muncul “fenomena Obama”. Yaitu naiknya generasi muda ke tampuk pimpinan tertinggi. Hanya saja, levelnya baru pada tingkat daerah, untuk jabatan Bupati dan Gubernur, belum pada level kepemimpinan Nasional. Senada dengan hal itu, Angelina Sondakh meramalkan, seiring terbukanya kran regenerasi, tahun 2014 nanti para pemimpin muda akan banyak bermunculan. Momen 2009 sekarang baru akan menjadi fase perkenalan mereka untuk bersiap-siap menerima estafet pada pemilu berikutnya.
Berbicara mengenai sistem politik Indonesia, Anas Urbaningrum menilai masih belum melihat kuatnya meritokrasi di dalamnya, yang mana di dalam meritokrasi politik terbuka kemungkinan bagi siapapun untuk meraih prestasi-prestasi politik, asal memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan. Hal ini membutuhkan kesadaran kaum tua untuk memberikan kepercayaan kepada kaum muda dan membuang ambisi pribadi atas kaum muda dalam meneruskan perjuangannya membangun negara. Sayangnya, menurut Tifatul Sembiring, sikap membuang atau minimal menekan ambisi itulah yang sama sekali alpa dari para politisi senior negeri ini.
Oleh karena itu, benar apa yang dikatakan Jeffrey Johannes Massie, bahwa kunci utama proses regenerasi politik adalah rasa legowo dan percaya. Rasa legowo penting sebagai ekspresi kerelaan melepas kursi kepemimpinan. Sementara rasa percaya lebih penting lagi sebagai bentuk keyakinan bahwa apa yang dicapai oleh generasi sebelumnya, bukan hanya dapat dipertahankan, tetapi dapat ditingkatkan pencapaiannya oleh kalangan muda yang menggantikannya.
Mengingat kondisi sebagian besar bangsa Indonesia yang masih ternina-bobokkan dengan kuatnya daya pikat para pemimpin model lama, maka buku ini menjadi penting untuk dibaca oleh siapapun sebagai usaha penyadaran pola pikir yang selama ini tampak begitu hegemonik. Penulis menyuguhkan isi yang menarik dengan menampilkan tokoh-tokoh muda negeri yang memang layak mendapat julukan “Obama-Obama Indonesia”. Semua tokoh di dalam buku ini menyajikan pemikiran-pemikiran cemerlangnya dengan pisau analisis yang tajam. Pemikiran yang beragam dan mempunyai argumen yang sama-sama kuat memang sangat menarik untuk dikaji dan dikritisi. Akhirnya, jangan biarkan regenerasi proses politik negeri ini stagnan sehingga yang kemudian muncul adalah sosok pemimpin muda yang benar-benar memiliki keberanian dan tanggungjawab.img256

Iklan

sang pemimpi

Para Patriot Nasib

Judul : Sang Pemimpi
Pengarang : Andrea Hirata
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : Februari 2008
Tebal Buku : 288 halaman

Jika sebelumnya, novel ‘Laskar Pelangi’ bercerita tentang masa SD dan SMP Ikal bersama sepuluh anggota Laskar Pelangi, maka kali ini dalam novel ‘Sang Pemimpi’ Andrea mengisahkan masa-masa SMA Ikal bersama dua sahabatnya, Arai dan Jimbron.
Ikal dan saudara sepupunya, Arai, adalah sosok anak cerdas yang tak kenal lelah. Pukul dua pagi mereka sudah bangun untuk bekerja sebagai kuli ngambat. Dengan berbekal sebatang bambu, mereka sempoyongan memikul puluhan kilo ikan dari perahu menuju stanplat. Semua itu mereka lakukan demi sekolah mereka. Dan Jimbron, adalah sahabat mereka yang amat terobsesi, obsesif kompulsif terhadap kuda. Untuk pekerjaan itu, mereka bertiga mengontrak sebuah los sempit di dermaga dan pulang ke rumah orang tua setiap dua minggu. Mereka adalah para pemberani, para patriot nasib. Mereka tetap tegar menghadapi sikap pak Mustar, guru yang super galak namun penuh perhatian. Mereka pernah nyaris dikeluarkan dari SMA karena kepergok nonton film biru di bioskop. Namun dikarenakan oleh suatu hal, akhirnya keputusan itu dibatalkan. Sebagai gantinya, mereka dihukum berat dan yang pasti hukuman itu sangat mempermalukan mereka.
Mereka mempunyai pribadi yang unik. Ikal, sosok anak manusia yang mempunyai optimisme tinggi. Arai, anak sebatang kara yang penuh kejutan, pikirannya sulit untuk ditebak. Dan Jimbron, si gagap yang berhati mulia dan tulus dalam persahabatan. Yang tak kalah seru disini adalah pergolakan bathin mereka ketika memasuki fase pubertas. Pun juga kisah cinta Arai pada wanita indifferent bernama Nurmala. Kira-kira apa hukuman yang diberikan pak Mustar kepada mereka? Bagaimana kisah cinta Arai? Dan bagaimana pula perjuangan Ikal dan Arai hingga mereka menjadi sarjana untuk kemudian mendapatkan beasiswa melanjutkan studinya ke Univesite’ de Paris, Sorbonne, Prancis? Temukan jawabannya di novel kedua tetralogi Laskar Pelangi ini. Dalam novel ini, Andrea menyajikan humor yang halus namun memiliki efek filosofis yang mendalam.

resensi saat cinta berhijrah

Pergulatan Rurani dan Jati Diri ‘Si Gadis Haram’

Judul : Saat Cinta Berhijrah
Pengarang : Andi Bombang
Penerbit : Diva Press, Jogjakarta
Tempat Terbit : Jogjakarta
Tahun Terbit : Agustus, 2008
Tebal buku : 460 halaman

Tidak mudah hidup di bawah tekanan psikis macam Febi. Si gadis cantik nan mempesona ini tiada hentinya menyesali kelahirannya sebagai gadis haram. Apalagi setelah mendengar kabar tegas, “anak haram tidak pantas hidup di muka bumi”. Dia pun semakin merasa hina dan tak berguna. Bahkan dia berani membenci Tuhan karena ‘ketidakadilan-Nya’ telah menggariskannya terlahir ke alam fana dengan menanggung kutuk anak haram.
Berawal dari perkenalan yang terjadi secara kebetulan. Perkenalan Febi dengan Bu Endang telah membuka rahasia besar tentang Febi yang selama ini tersimpan rapi dan tak terungkap barang sedikitpun. Ternyata Febi anak haram. Karena secuil dogma yang membingungkan inilah Febi semakin terjungkal di terjang prahara dosa dan kegelapan jiwa. Febi yang lemah lembut tiba-tiba menjadi dingin dan liar. Kini, dia muak melihat orang tuanya di rumah. Semuanya palsu, semuanya bertopeng. Oleh sebab itulah, dia memilih hidup sendiri dari pada terus-terusan tersiksa melihat ayah dan ibunya. Ia meninggalkan keluarganya dan memilih hidup mandiri di kos.
Pada mulanya, kehidupannya di kos biasa-biasa saja. Namun setelah kedekatannya dengan salah seorang penghuni kos yang bernama Sri, dia pun berubah fikiran. Dia nekat menempuh jalan yang sama dengan Sri demi menemui bahagia karena dia melihat Sri menemukan bahagia disitu. Masa bodoh dengan komentar orang lain. Tak terkecuali nasihat dari sahabat karibnya, Rini dan Vina. Semuanya lewat begitu saja. Keputusannya sudah bulat meskipun, menurut banyak orang, profesi yang ditempuhnya sangatlah hina. Ia tak peduli. Apapun yang dilakukannya, toh ia tetap saja anak haram yang hina.
Seiring berjalannya waktu, kebahagiaan yang dicari tak juga ia temukan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Abah dan Haji Imron Japati. Sejak saat itu, ia memutuskan hijrah sepenuh jiwa, hidup, cinta, dan air mata untuk membangkitkan jati diri, kekuatan hati, dan kebahagiaan sejati. Dia berhijrah dengan energi jiwa dan ruhaninya.
Siapakah gerangan Bu Endang? Bagaimana dia bisa tahu semua tentang Febi? Dalam perjuangannya mencari kebahagiaan, jalan ‘hina’ apakah yang ditempuh Febi? Siapa pula Abah dan Haji Imron Japati? Berhasilkah perjuangan Febi dalam mencari bahagia?
Anda akan menemukan jawabannya di dalam novel “Saat Cinta Berhijrah” karya Andi Bombang ini. Penulis novel ‘Kun…Fayakun’ ini begitu cerdas mengemas novelnya dalam bahasa yang sederhana namun bergelora. Novel ini mengusung motivasi penuh tenaga untuk menuju hidup yang lebih positif. Novel ini layak dibaca oleh semua kalangan.

Sekian.

agar ngampus nggak sekadar status

Resensi Buku “Agar Ngampus Tak Sekedar Status”

Judul : Agar Ngampus Tak Sekadar Status
Pengarang : Robi’ah al-Adawiyah & Hatta Syamsuddin
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tempat terbit : Surakarta
Tahun Terbit : 2008
Tebal Buku : 216 Halaman

Transisi dari siswa menjadi mahasiswa tentunya mengundang berbagai macam pertanyaan bagi siswa. Mahasiswa selama ini dikenal sebagai sosok yang identik dengan kebebasan, keberanian, suka demo, dan kritis. Paradigma inilah yang kira-kira membuat siswa suka berpikir yang enggak-enggak tentang mahasiswa. Namun ada satu hal lagi yang pasti terjadi pada mahasiswa, yakni perubahan. Tak hanya perubahan status dari siswa yang belajar di sekolah menjadi mahasiswa yang ngampus di perguruan tinggi. Akan tetapi, juga perubahan tanggungjawab yang mulanya hanyalah seorang siswa yang masa bodoh dengan masyarakat sekitarnya lantas menjadi mahasiswa yang bukan hanya kritis namun juga humanis.
Menjadi mahasiswa sukses merupakan impian siapa saja. Untuk mewujudkannya, tentunya dibutuhkan persiapan yang matang. Banyak diantara calon mahasiswa yang asal saja dalam menentukan pilihannya, yang penting di jurusan, fakultas, dan perguruan tinggi yang bergengsi. Padahal yang terpenting dalam menentukan pilihan adalah menyesuaikan dengan potensi diri yang dimiliki. Sehingga proses perkuliahan dapat berjalan dengan baik tanpa ada unsur paksaan.
Begitu masuk ke perguruan tinggi, OSPEK adalah kegiatan awal yang harus dihadapi oleh mahasiswa baru. OSPEK sering menjadi momok bagi mahasiswa baru karena OSPEK cenderung dikenal sebagai ajang ploncoan senior kepada juniornya, yakni mahasiswa baru. Namun pada hakikatnya OSPEK bertujuan untuk mengenalkan lingkungan kampus. Selain itu, OSPEK merupakan proses penyesuaian diri dan pendewasaan siswa menjadi mahasiswa.
Setelah resmi menjadi mahasiswa, mahasiswa akan dihadapkan pada model belajar yang jauh berbeda dengan di SMA. Pun juga dihadapkan pada berbagai macam organisasi baik intra kampus maupun ekstra kampus. Organisasi ini penting sebagai wadah pengembangan potensi diri. Jika mahasiswa telah membulatkan tekad untuk aktif di organisasi maka mahasiswa pun harus siap dengan segala konsekuensinya. Menjadi aktivis bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan yang dihadapi namun banyak pula manfaat yang akan diperoleh.
Buat yang indekos, banyak hal-hal penting seputar indekos yang harus diketahui meskipun kelihatannya sepele. Di sekitar kampus, hampir di setiap sudutnya ada kos-kosan. Bergitu pula pada setiap gangnya. Namun bukan berarti kita dapat dengan mudah memilih kos yang pas buat kita. Memilih kos-kosan tidak bisa sembarangan karena di kos itulah anda tinggal dengan keluarga yang baru. Cara anda bersikap juga harus diperhatikan agar tidak menurunkan self-esteem anda. Dan satu hal lagi, jaga kepercayaan yang telah diberikan oleh orang tua kepada anda.
Lantas, bagaimana menetukan pilihan studi yang sesuai dengan potensi yang dimiliki? Setelah diterima di perguruan tinggi, bagaimana menghadapi OSPEK yang nota bene dianggap sebagai ajang ploncoan? Bagaimana seharusnya menjadi mahasiswa baru? Apakah menjadi aktivis itu selalu mengganggu prestasi kuliah? Sebagai mahasiswa yang tinggal di kos, bagaimana menjadi warga kos yang baik dan disukai?
Buku “Agar Ngampus Tak Sekedar Status” inilah jawabannya. Penulis mengulas tuntas jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Penulis berhasil mengemasnya dalam bahasa yang komunikatif, bersahabat, dan terkesan tidak menggurui sehingga anda akan menikmatinya saat membaca. Format tulisan dan desainnya pun cukup menarik. Anda akan merasa terarah dan mendapat bimbingan dengan segala uraian hikmahnya. Plus Tips dan Trik kuliah ke luar negeri yang disuguhkan dalam bab terakhir juga mampu memberikan pencerahan yang sangat berarti. Bagi anda yang awalnya takut dan tidak bisa membayangkan ‘bagaimana sih kuliah di negeri orang?’, anda tidak akan merasa takut atau ragu lagi karena dalam bab terakhir ini disajikan beberapa sisi keuntungan dan kelemahan kuliah ke luar negeri dan hal-hal lain yang berhubungan dengan proses kuliah di luar negeri, sehingga bisa dijadikan referensi untuk pertimbangan dalam membuat suatu keputusan.
Menurut saya, ada satu hal lagi yang mestinya menjadi pembahasan dalam buku ini, yakni pandangan penulis mengenai aktivis yang ngampus belasan semester bahkan tidak sedikit yang sampai terancam DO (Drop Out). Dengan pandangan penulis –yang mantan aktivis kampus- ini menurut saya bisa dijadikan bahan perbandingan dengan paradigma kawan-kawan saya baik dari kalangan aktivis maupun bukan aktivis. Karena hal ini sempat menjadi pertanyaan besar dalam otak saya. Tidak jarang aktivis yang terancam DO namun kemudian mereka mampu berkiprah dan menjadi sukses baik di dunai politik maupun yang lainnya.
Buku ini sangat layak dibaca oleh para calon mahasiswa atau yang telah menjadi mahasiswa termasuk yang sudah ngampus bertahun-tahun dan ingin melakukan perubahan. Buku ini bukan untuk mahasiswa yang hanya ingin sekadar bergelar, enggan mengevaluasi diri, takut terprovokasi menjadi berbeda, dan cuma ingin jadi ‘mahasiswa biasa’.
Sebagai penulis yang masih muda, Robi’ah al-Adawiyah berhasil menciptakan buku yang mampu memberikan pencerahan dan merekonstruksi paradigma orang banyak tentang dunia mahasiswa. Kekompakannya bersama suaminya dalam mencipta buku ini mampu menjadikan karyanya sebagai karya yang menakjubkan. Muatan intelektualitas dan spiritualitas yang tinggi mampu menjadikan karya-karyanya sebagai best seller. Benar-benar bisa memberikan pencerahan dan mendobrak semangat mahasiswa yang menginginkan perubahan. Akhirnya, sekaranglah saat yang tepat untuk berubah. Tidak ada gunanya hanya berdiam diri tanpa melakukan suatu hal yang berarti.

resensi malaika humaira

Kisah Inspiratif Pembangkit Keindahan Hati

Judul : Malaika Humaira
Pengarang : Zahrotul Atiyah
Penerbit : DIVA Press
Tempat terbit : Jogjakarta
Tahun terbit : Juli, 2008
Tebal buku : 358 halaman

Novel ini bertutur tentang persaudaraan antara dua orang wanita yang dipertemukan oleh takdir lalu merajut hari-hari bersama dalam jalinan kisah yang diwarnai suka dan duka. Meskipun belum lama kenal namun keduanya sepakat menjadi saudara sehati. Mereka menyebut demikian karena mereka menganggap persaudaraan mereka bukan karena ikatan darah, melainkan ikatan hati.
Adalah Malaika Humaira dan Rehanna Sulastin, figur manusia yang begitu gigih dalam menjaga sebuah persahabatan. Lenggam hati mereka sangat dalam dan sejuk. Tak ada seorang pun diluar mereka yang mengetahui secara pasti jenis hubungan macam apa yang mengikat mereka. Karena terlalu kentalnya persahabatan mereka bahkan terkesan begitu intim, hubungan mereka pun tak henti-hentinya menjadi bahan gunjingan teman-teman sekos mereka. Terdapat hubungan yang ganjil di antara mereka.
Malaika mencintai Rehanna dengan setulus hati dan Rehanna pun membalasnya. Namun hal ini tak berlangsung selamanya. Rehanna dengan segala ke-ego-annya meninggalkan dan mengabaikan Malaika yang masih mencintainya. Malaika mencoba bertahan dengan segenap kekuatan hatinya. Namun cinta tak kunjung berbalas lagi.
Seiring berjalannya waktu, Rehanna pun merasakan akan kepingan hatinya yang hilang, terbang bersama saudara sehatinya. Ia begitu merindukan Malaika. Namun pertemuan itu tinggallah mimpi. Malaika telah pergi untuk selamanya. Yang ditemuinya justru seorang gadis kecil yang sorotan matanya seakan menyingkap kembali tabir-tabir sejarah sebuah rahasia terdalam kehidupan Malaika dan Rehanna, penuh misteri, penuh makna dan cahaya.
Bagaimana kisah pertemuan mereka hingga akhirnya mereka sepakat menjadi saudara sehati? Apa yang terjadi pada Rehanna sehingga dia mengabaikan Malaika begitu saja? Lalu sipakah gerangan gadis kecil itu? Bahagiakah cinta mereka?
Anda akan menemukan jawabannya di dalam novel “Malaika Humaira” ini. Novel ini bercerita secara ringan dengan bahasa yang sederhana, sehingga layak dibaca oleh semua kalangan dengan tanpa batasan usia, utamanya bagi para pencari kekuatan hati dan kehidupan. Anda akan tertegun mengikuti jeram-jeram emosi, suka, duka, prahara, bencana, air mata, cemburu, dan cinta.
Pada awalnya, mungkin anda akan merasa bingung oleh karena alur cerita yang maju mundur yang disuguhkan di bagian awal cerita. Namun jangan berhenti dulu! Pada pertengahan cerita, anda akan menikmatinya dan benar-benar tak mampu berhenti membacanya…..

petuah al-Ghazali

Petuah al-Ghazali Pada Muridnya
Oleh : Nur Faishal

Judul asli : Ayyuhal Walad (karya al-Ghazali)
Judul terjemahan : Surat-surat Cinta al-Ghazali: Nasihat-nasihat Pencerah Hati
Penerjemah/Penyunting : Islah Gusmian
Penerbit : Mizania, Bandung
Cet III : Maret, 2007
Tebal : 236 halaman
Membaca buku ini jangan mengandai akan menemukan surat-surat cinta al-Ghazali pada seorang gadis cantik (sebagaimana tertulis pada judul buku ini). Karena kata-kata puitis nan indah yang dirangkai dia persembahkan sepenuhnya kepada Robb al-‘Ibad, Tuhan segala makhluk. Bagi al-Ghazali, hanya Dialah cinta sejatinya. Tiada lain cinta yang patut dipersembahkan kecuali pada-Nya.
Karena cintanya kepada Allah pula dia menulis surat-surat ini. Surat (risalah) yang dia peruntukkan kepada salah seorang muridnya, yang mengadu kepadanya tentang kebingungan yang menimpa, pasca mendalami macam-macam ilmu pengetahuan. Si murid merasa bingung untuk menentukan pilihan, ilmu yang manakah yang harus dia praktekkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Karena ketulusan si murid, al-Ghazali menulis suatu risalah yang kemudian dia beri judul Ayyuhal Walad (Wahai anak-ku). Suatu risalah tentang tasawuf. Tentang bagaimana seharusnya menyikapi dan menghargai hidup agar selalu berjalan di atas tuntunan Allah. Ajaran al-Ghazali yang terkandung pada risalahnya ini tidak melulu ilahiah. Dia juga menuntun si murid agar menghargai dimensi-dimensi keduniawian (alam dan manusia) sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Cermatilah pada bagian 4 buku ini. Al-Ghazali bernasehat kepada muridnya, bagaimana menyeimbangkan antara alam ide dan alam realitas, ilmu dan amal, das solen dan das sain, cita-cita dan usaha. Jika keduanya berjalan timpang, maka kerusakan yang akan menimpa.
Al-Ghazali memberikan perumpamaan akan nasehatnya itu pada muridnya. Dia mencontohkan: di tengah hutan ada seorang laki-laki yang perkasa dan pemberani. Ia membawa sepuluh pedang yang tajam, dilengkapi juga dengan senjata yang lain. Tiba-tiba datang seekor singa besar yang sangat buas, dan siap menerkamnya. Menurutmu, mampukah pedang tajam itu melindungi dirinya dari bahaya jika senjata itu tidak diangkat, dihunus, lalu ditikamkan pada singa itu? Tentu saja “tidak!” (halaman 39).
Ibarat ilmu, pedang dan senjata lainnya yang dipegang lelaki perkasa tersebut adalah ilmunya. Jika tak sedikit pun ilmu (pedang) itu kita pergunakan (padahal hidup penuh dengan ancaman mara bahaya), maka musnahlah kita.
Di bab yang lain, al-Ghazali menandaskan kepada muridnya tentang kesaktian ilmu. Dia mengatakan, bahwa ilmu dapat digunakan sebagai “penakluk setan”. Sebab, dengan ilmu, seseorang akan dijauhkan dari perbuatan-perbuatan yang disenangi oleh setan (seperti mencuri, korupsi, menebang hutan secara liar, dan lain-lain), yang dapat merugikan dirinya dan orang lain. Dengan ilmu pula seseorang akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah dan manusia.

Hubungan Guru-Murid
Selain berisi tuntunan menjalani hidup di dunia serta pintu menuju dekatnya hamba kepada Allah, buku ini juga menyiratkan suatu pelajaran penting tentang bagaimana idealnya hubungan antara guru dan murid. Suatu hubungan yang tidak hanya mendasarkan polanya pada posisi dan status (subjek-objek). Hubungan yang dibangun melalui proses kedekatan emosional antara guru dan murid. Sehingga, antara al-Ghazali (guru) dengan muridnya tampak seperti hubungan ibu dan anak.
Dalam hal ini, al-Ghazali tidak hanya berperan sebagai pengajar saja, tapi juga pendidik. Dia tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan kepada muridnya, tapi menuntunnya hingga mampu mengamalkan ilmu yang dia ajarkan. Hubungan al-Ghazali sebagai guru dengan muridnya juga tidak dibatasi dengan waktu. Hubungan itu terjalin sepanjang masa, sehingga proses pendidikan tak putus-putus.
Bisa dikatakan, pendidikan yang dilakukan oleh al-Ghazali adalah pendidikan yang mencerahkan. Proses pendidikan yang humanis dan menumbuhkan penyadaran manusia terhadap hakekat realitas kemanusiaan dan dunia. Proses pendidikan sebagaimana dilakukan al-Ghazali kepada muridnya ini tidak hanya bisa dilalui melalui pendekatan kognisi saja. Tapi, diperlukan proses pendidikan yang afektif. Suatu proses yang melibatkan emosi si guru untuk bersedia mencintai, merawat, menjaga, dan meluruskan si murid apabila berada dalam kondisi linglung.
Tentu saja jalinan hubungan guru-murid model al-Ghazali ini amat sulit ditemukan pada saat ini. Kalau pun ada hanya segelintir guru/dosen saja yang bersedia melakukan pendidikan macam ini. Selebihnya, adalah guru/dosen yang mengajar berdasarkan kewajiban dinas (guru/dosen PNS), jam tugas, dan tuntutan hidup pribadi saja.
Dari buku ini kita bisa belajar menjadi pribadi yang mulia di sisi Allah dan manusia. Dari buku ini pula para guru/dosen dapat merubah orientasi tugasnya, dari sekedar “mengajar” berkembang menjadi “mendidik”. Selamat menyelami.

* Nur Faishal, mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel, aktif di Komunitas Baca Surabaya (KOMBAS)

Kontak Person : 081330000406 / 08995044492
No Rekening : 0125678270, BNI Kedungdoro Sby, a/n Zainul Mustofa

resensi laskar pelangi

Laskar Pelangi Judul    :    Laskar Pelangi

Pengarang    :    Andrea Hirata

Penerbit    :    PT Bentang Pustaka

Tempat terbit    :    Yogyakarta

Tahun terbit    :    2008

Tebal buku    :    533 halaman

Yang begini memang langka dan aneh. Di tengah-tengah sajian sastra bertema urban super-ringan, pornografi, serta hedonistik, Andrea berani mencipta novel yang sama sekali tak sejalan dengan trend pasar tersebut. Ia mampu mengobati dahaga para pecinta buku akan buku-buku Indonesia bermutu. Laskar Pelangi adalah novel pertama dari rangkaian empat karya tetralogi Laskar Pelangi. Novel keduanya adalah Sang Pemimpi, kemudian disusul novel berjudul Edensor yang mana keduanya, novel kedua dan ketiga, mampu mencapai best seller. Adapun novel terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi adalah Maryamah Karpov. Cerita Laskar Pelangi berawal dari sepuluh bocah Melayu Belitong yang bersama-sama memulai pendidikannya di SD Muhammadiyah, sekolah miskin yang termarginalkan. Sejak kehadiran bocah yang disebut-sebut sebagai Laskar Pelangi itu, SD Muhammadiyah seperti menemukan ruhnya. Mereka disebut sebagai Laskar Pelangi karena kegemaran mereka menatap dan menikmati indahnya pelangi. Dengan penuh ketabahan, Pak Harfan dan Bu Mus membimbing murid-muridnya. Mereka berdua adalah sosok guru yang memiliki dedikasi yang tinggi dalam dunia pendidikan. Mereka selalu memberi motivasi dan tak lupa pula membekali murid-muridnya dengan akhlak yang mulia. Anak-anak Laskar Pelangi adalah anak-anak yang luar biasa dan tak pernah menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka. Karena merekalah, sekolah miskin yang tak pernah terdengar gaungnya atau bahkan telah diremehkan banyak orang itu menggeliat bangun dan menunjukkan eksistensinya. Adalah Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya, namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus. Yang cukup mencengangkan disini adalah kejahatan terencana yang dilakukan Mahar dibalik tatanan artistik karnaval buatannya itu, yang membuat teman-temannya tak bisa berbuat apa-apa untuk melawannya. Selang beberapa hari kemudian, datang murid baru pindahan dari sekolah PN (Perusahaan Negara) Timah, Flo namanya. Entah mengapa dia lebih memilih sekolah miskin itu dari pada sekolah PN, sekolah yang sangat bergengsi di Belitong. Jadilah Laskar Pelangi beranggotakan sebelas anak. Semenjak kehadiran Flo sikap Mahar semakin aneh dan tak masuk akal karena mereka berdua memiliki pribadi unik yang paradoks namun mereka sangat kompak dalam segala hal. Tak hanya Mahar, tapi juga Lintang, seorang kuli kopra cilik yang genius, yang juga berhasil mengharumkan nama perguruan Muhammadiyah melalui prestasinya mendapat nilai seratus mutlak dalam Lomba Kecerdasan melawan sekolah-sekolah bergengsi termasuk sekolah PN Timah. Kira-kira bagaimana tatanan artistik karnaval buatan Mahar? Mengapa Flo ingin pindah ke sekolah miskin itu? dan bagaimana jurus Lintang dalam Lomba Kecerdasan? serta bagaimana pula karakter-karakter unik tokoh-tokoh Laskar Pelangi lainnya? Temukan jawabannya dalam novel Laskar Pelangi. Begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam masa kecil para anggota Laskar Pelangi. Novel ini sangat layak dibaca khususnya oleh para pemerhati pendidikan atau siapa saja yang masih percaya akan adanya pintu keajaiban lain untuk mengubah dunia, yakni pendidikan. Setiap orang, bagaimanapun terbatas keadaannya, berhak memiliki cita-cita. Keinginan yang kuat untuk mencapai cita-cita itu mampu menimbulkan prestasi-prestasi lain sebelum cita-cita sesungguhnya tercapai. Keinginan kuat itu juga memunculkan kemampuan-kemampuan besar yang tersembunyi dan keajaiban-keajaiban di luar perkiraan. Namun jangan heran jika anda nantiya merasa jenuh atau kadang harus memeras otak oleh karena bahasa dan juga istilah-istilah yang digunakan terlalu ilmiah atau kadang juga ditemui bahasa-bahasa Melayu Belitong yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja. Namun di bagian akhir novel ini tersedia Glosarium yang cukup membantu pemahaman anda. Sebagai penulis pemula, Andrea sangat menakjubkan. Ia mampu langsung menulis tetralogi dengan gaya realis yang bertabur metafora yang berani, tak biasa, tak terduga, kadangkala ngawur, namun amat memikat. Muatan intelektualitas dan spiritualitas yang tinggi mampu menjadikan karya-karyanya sebagai best seller.