fitnah

FITNAH YANG MEMBUNUHKU
Senja mulai merangkak ke peraduannya. Semua anak manusia berhenti sejenak dari segala aktivitas yang telah menguras otak dan tenaganya. Sebagian yang lain menuju ke rumah Tuhan, memenuhi seruan adzan maghrib yang terdengar mengalun lembut bersama hembusan angin yang dingin menusuk tulangku.
Bogor, masih merupakan kota yang asri nan sejuk. Udaranya yang segar membuat siapa saja yang tinggal di kota itu menjadi betah. Dua semester sudah aku lalui dan sekarang aku sedang melangsungkan kuliahku yang masih semester tiga. Dalam setahun kemarin aku hanya pulang dua kali yaitu saat libur hari raya dan libur semester genap. Pertama kali aku pulang, semua terasa menyenangkan. Sambutan hangat dan senyuman tulus dari keluargaku masih bisa aku rasakan. Namun tidak untuk kepulanganku yang kedua, saat liburan semester genap, tepatnya tiga minggu yang lalu.
Sedikit tenang hatiku setelah sujud menghadap-Nya dan melantunkan sejuta permintaan kepada-Nya. Aku duduk seorang diri di salah satu sudut masjid Al-Islam, masjid kampusku, sambil menunggu Ega. Aku dan Ega punya janji untuk menyelesaikan tugas mata kuliah hukum perdana malam ini. Setiap kali menyendiri, kejadian tiga minggu silam itu selalu menghantuiku.
Tiga minggu lalu, aku berlibur di rumah selama satu minggu. Aku pulang kampung karena libur panjang semester genap. Meskipun libur semester genap berlangsung selama satu bulan namun aku hanya pulang selama satu minggu terakhir karena minggu-minggu sebelumnya aku punya banyak kesibukan di Bogor. Selain karena jadi pengurus ospek, aku juga sudah punya kerjaan meski hanya seorang cleaning service di salah satu supermarket di Bogor. Suasana di rumah tak seperti biasanya. Kucari jawabannya lewat sorot mata sayu ibuku, namun tak kutemukan. Pun juga pada ayah dan dua saudara kecilku. Ayah memang selalu begitu, bersikap dingin dan sedikit bicara. Meskipun setiap hari selama liburan aku berinteraksi dengan ayah namun ayah tetap tidak mau terbuka. Aku juga sulit untuk memulai perbincangan mengenai masalah yang menimpa keluargaku. Meski telah berulang kali kucoba, tetap tak bisa.
Akhirnya, pertanyaan-pertanyaan yang mengendap di kapalaku pun terjawab. Malam itu, dua hari sebelum aku balik ke Bogor, secara tidak sengaja aku mendengar percakapan antara ayah dan ibu. Tengah malam yang sungguh menegangkan. Baru kali ini aku mendengar ayah dan ibu bertengkar. Suara mereka pelan dan tidak meledak-ledak. Namun amarah yang kubaca dari suara ayah begitu meluap-luap, menggebu-gebu dan tak terkendalikan. Diiringi dengan suara isak tangis ibu yang membuat hatiku bagai tersayat sembilu.
“Ini fitnah, Yah…!” ucap ibu entah sedang membela siapa.
“Tidak. Pak Broto adalah teman baikku sejak SMA hingga sekarang. Tidak mungkin dia membohongiku. Waktu SMA, Rena, keponakan pak Broto kan pernah dekat dengan Dimas?” Ayah mengelak pernyataan ibu. Ya Tuhan… ayah menyebut namaku.
Jadi, pusat ketegangan di rumah ini adalah aku. Aku pun semakin merapatkan telingaku di dinding yang menjadi tabir antara kamar orang tuaku dengan kamarku.
“Memang benar. Tapi antara anak kita dengan Rena tidak pernah ada hubungan khusus. Jadi mana mungkin Dimas yang melakukannya? Bisa saja dia dihamili teman kuliahnya.” Ibu membelaku untuk kedua kalinya.
“Terserah Ibu! Untuk saat ini aku masih belum bisa memaafkan Dimas.” Ucap ayah dengan nada tinggi.
Ibu terdiam. Dialog pun terhenti. Yang terdengar tinggallah suara isak tangis ibuku. Aku tak sanggup mendengarnya. Seketika tubuhku menjadi lemas. Semua tulangku enggan lagi menopangku. Aku terjatuh dan tertunduk lemas. Ingin rasanya aku berteriak dan mengatakan aku difitnah, tapi tak bisa.
Dua hari kemudian, aku berpamitan kepada ayah dan ibu hendak kembali ke Bogor. Sunyi. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut ayah.
“Hati-hati, Nak.” Kata ibu penuh kasih.
“Ya. Do’anya, Bu.” Pintaku tulus.
“Pergilah sana!” perintah ayah yang sedang berdiri di depanku dengan posisi membelakangiku, tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Perih. Sungguh perih hatiku mendengardua kata itu. Aku ingin membela diri tapi tak sanggup. Bibirku terkunci, lidahku kelu, tenggorokanku kering, suaraku parau. Aku hanya bisa menjerit dalam hati, ini fitnah!

“Dimas! Udah lama nunggunya? Maaf telat. Sepedaku mogok tadi di jalan.” Suara Ega tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
“Eh…Oh…nggak kok, baru aja tiga puluh lima menit.” Jawabku ketus.
“Ngambek? Ya wes lah, sorry…sorry…! Oya, jadi nggak yang mau ngerjain tugas? Kalo jadi, ayo kita ngerjain di sebelah sana!” Ucapnya sambil menunjuk ke arah bedug besar di bagian timur masjid. Aku diam…
“Hei! Jangan mematung gitu dong! Ada apa sich?” tanyanya sedikit penasaran. Aku diam…
“O…ow… aku tahu. Kamu masih kepikiran dengan fitnah itu kan?” Ega mencoba menebak pikiranku. Aku mengangguk…
“Tiga Minggu sudah kamu larut dalam masalah ini. Aku nggak tega ngeliatnya. Kadang aku ngerasa capek juga ndengerin keluh kesahmu.” Ucapnya kesal. Aku diam…
“Baiklah, dari pada kita ngerjain tugas, kamunya nggak konsen gitu, mending sekarang kamu ikut aku aja. Tak jamin, kamu akan melupakan masalahmu itu
seketika, gimana?” dia mencoba menawarkan solusi. Aku pun tak mau pikir panjang. Itung-itung waktuku untuk hidup di dunia bebas tinggal beberapa hari. Pasalnya, tujuh hari lagi aku akan pulang ke kampung untuk memenuhi panggilan dari kepolisian. Rena telah berhasil merekayasa sebuah bukti dengan didukung ocehan pengacara bayarannya yang sudah lihai menyusun kata-kata busuknya.
“Oke! Kemana?” tanyaku.
“Udah lah, nggak usah banyak nanya!” ucapnya sambil menarik lenganku. Ega bukanlah teman dekatku. Dia dekat denganku hanya karena kebetulan kita berdua sekelompok dalam tugas mata kuliah hukum perdana. Tugas yang membutuhkan waktu lama dalam penyelesaiannya sehingga frekuensi pertemuanku dan Ega menjadi bertambah. Karena itulah, hanya dia yang mengetahui masalahku ini. Hanya dia yang tahu aku sedang difitnah dan menjadi buah bibir warga kampungku.
Aku memang sempat dekat dengan Rena tapi aku tak pernah punya hubungan spesial dengannya, hanya sahabat, nggak lebih. Saat ini, Rena sedang hamil tiga bulan dan tak diketahui siapa ayahnya. Warga pun menuduhku sebagai pelakunya. Ironisnya, Rena menguatkan pernyataan yang nggak bener itu. Pihak kepolisian tak berani menahanku karena sama sekali tak ada bukti yang menguatkan hal itu. Aku tahu dia nekat melakukan ini lantaran aku pernah menolak cintanya. Dulu, tepatnya saat aku dan dia sama-sama masih semester satu, dia pernah mengirim sms ke aku. Dia tulis “Aku tak akan pernah berhenti untuk berusaha memilikimu meskipun aku telah membencimu dengan cintaku. Cara apapun akan aku lakukan untuk membalas sakit hatiku.” Dan sms terakhir yang dikirimnya, tepatnya dua minggu lalu, berisikan “Tunggu saja! Kau akan mendekap di balik sel hingga bayiku lahir. Setelah dia lahir, kemungkinan besar kau akan kembali ke dunia bebasmu. Namun, itu semua sudah cukup untuk membalas sakit hatiku ini. Maafkan aku.” Dia benar-benar telah dibutakan oleh perasaannya. Dia telah mengkhianati persahabatan yang tulus ini. Aku selalu menanggapinya dengan bijak namun tak mampu jua meredamkan amarahnya. Dan sekarang, aku hanya menunggu waktu sampai kelahiran bayinya. Bayinya-lah yang akan menjawab semua ini. Hasil tes DNA tak mungkin berbohong.
40 menit kemudian, di kafe yang hanya dua puluh meter dari kos Ega…
Semua serasa melayang. Masalah-masalahku pun sirna. Bukan karena telah kutemukan sebuah solusi atas masalhku akan tetapi karena aku telah mampu melupakannya. Tak pernah aku merasakan jiwaku setenang ini, pikiranku seringan ini, ragaku seringan kapas yang mampu melayang tinggi. Aku merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini, yang tak punya masalah sedikitpun. Aku tenggelam dalam imajiku. Lalu aku terlelap.
Esok paginya…
“Bangun, Mas!” tubuhku serasa digoyang-goyang oleh seseorang. Kucoba untuk membuka mataku meski terasa berat. Kabur. Aku sulit mengenal siapa gerangan orang yang di depanku. Tak lama kemudian,
“Aku masih ngantuk, Ga.” Ucapku singkat.
“Kita ada jam lho sekarang. Lima belas menit lagi masuk.” Ucapnya mengagetkanku. Aku pun tersentak lalu bangun. Namun… Oh… Kepalaku pusing sekali. Tubuhku berantakan. Ada apa denganku semalam?
“Aku???”
“Kamu semalam nyabu di kafe sebelah” Ucapnya pelan. Ya, pelan. Namun sangat menyayat hatiku, menusuk jantungku, menggelitik telingaku, mengaduk-aduk otakku, melempar tubuhku jauh dari dunia, lalu bagai insan yang termarginalkan. Seketika tubuhku menjadi lemas. Aku tak berdaya. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Aku berharap telingaku sedang tuli.
“Barusan kamu ngomong apa?” tanyaku dengan tampang blo’on.
“Semalam kamu nyabu.” Ucapnya agak keras. Tak sedikitpun tergambar penyesalan di wajahnya. Dia tak merasa bersalah sama sekali. Begitulah Ega, selalu enjoy every where every time. Namun, memang aku yang salah, aku yang mengambil langkah ini. Dia hanya menjadi mediator bisikan setan yang membujukku dengan berjuta jurusnya. Wajar dia nggak merasa bersalah.
Lalu dia meninggalkanku dan mendekati rak bukunya, tampaknya sedang menyiapkan buku.
“Aku nggak ke kampus dech. Kepalaku pusing. Izinin ya?” pintaku.
“Hah! Nggak salah denger nich? Seorang ‘Dimas’ bolos kuliah? Apa kata dunia?” ejeknya.
“Aku pusing, Ga. Jangan bercanda! Aku serius, aku nggak masuk kuliah.” Kataku dengan nada agak tinggi.
“Oke dech! Beres Bos!” jawabnya sambil mengenakan sepatunya lalu beranjak pergi.
Aku pun kini hanya seorang diri, mematung di kamar Ega, kamar sempit yang hanya berukuran 4×5 meter dengan satu jendela yang berada di salah satu sudutnya. Tepat disamping jendela, ada almari bajunya yang tingginya hanya 1 meter. Di atasnya berjejer buku-buku yang agak berantakan dengan putung rokok berserakan di asbak yang ada di samping deretan buku itu. Di depan almarinya, ada kasur lusuh yang spreinya mungkin hanya dicuci dua bulan sekali. Di situlah aku berbaring, menatap langit-langit kamar yang ditempeli poster sexi Britney Spears dan Avril Lavigne. Namun yang kulihat bukan Britney, bukan pula Avril. Hanya bayang-bayang ayah ibuku yang kini menghantuiku. Apa yang akan mereka katakan dan rasakan seandainya mereka mengetahui aku seperti ini. Aku telah menjadi pengisap narkoba dan mungkin akan menjadi pecandu. Maafkan aku, Ayah, Ibu. Lingkungan telah menguasai nafsuku dan nafsu telah menguasai diriku. Aku lemah. Aku bodoh. Masihkah aku bisa menjadi anak kebanggaan mereka?

Iklan

keranda

KERANDA

Panas siang ini begitu menyengat. Matahari tepat di atas ubun-ubunku. Tetes demi tetes peluh membasahi dahi dan leherku. Kakiku melangkah cepat dan kepalaku enggan menoleh ke kiri dan ke kanan. Aku ingin segera tiba di kamarku dan membuka surat yang tadi diberikan oleh pihak Tata Usaha Kususuri lorong asrama yang tak begitu luas. Di tepi lorong, ada sederetan kamar yang sepi tak berpenghuni karena si empunya baru saja buyaran pulang sekolah. Di antara mereka ada yang masih dalam perjalanan dan ada juga yang masih bercengkrama satu sama lain. Kamarku terletak di ujung barat, 10 meter dari pintu masuk asrama.
Begitu sampe kamar, kubuka amplop surat itu pelan-pelan. Surat dari ibuku. Cukup singkat isinya namun entah mengapa setelah membacanya hatiku serasa bergetar. Ada kebahagiaan yang tak terkira menyeruak di sekujur tubuhku. Sungguh, secarik kertas itu bisa menjadi motivator belajarku, the power of my study. Ibu menuliskan, “Ayah mengizinkanmu untuk melanjutkan studimu di SMUN 6.” Seketika aku bersujud di hadapan-Nya, bersyukur atas terkabulnya do’aku yang kulantunkan dalam setiap malamku. Dulu, aku selalu berusaha untuk meyakinkan ayah agar aku diperbolehkan melanjutkan di SMUN 6, SMA favorit di kotaku. Namun, ayah tetap bertahan pada pendiriannya, ayah ingin agar aku melanjutkan di MA (Madrasah Aliyah) dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Dan kini, Tuhan telah membukakan pintu hatinya meskipun sebenarnya aku belum percaya sepenuhnya dengan semua ini. Pasalnya, ayah adalah sosok yang gigih dan teguh pendiriannya. Ayah tidak suka jika keputusannya dibantah. Pun juga aku. Aku selalu berharap semua keinginanku bisa terwujud tanpa menghiraukan pertimbangan-pertimbangan dari pihak lain yang menurutku tidak logis.
Sebulan kemudian…
Aku mendaftarkan diri di SMUN 6 dengan mengantongi NEM 23,75. Beruntung, pada hari terakhir pendaftaran, kulihat posisiku tak terlalu di bawah. Aku berada di urutan ke-197 dari 270 siswa baru yang diterima. Sepulang dari SMUN 6, aku pun langsung memberitahukan kabar gembira ini kepada keluargaku. Akan tetapi, mungkin ini bukan kabar gembira buat ayah. Tak sedikitpun ada guratan cahaya kebahagiaan dan rasa bangga di wajahnya. Keraguanku akan keputusan ayah mengizinkanku melanjutkan di SMA semakin kuat.
Senja mulai merangkak di peraduannya. Kumantapkan langkahku menuju asrama yang dulu merupakan tempatku bersarang selama tiga tahun. Letaknya tak begitu jauh. Hanya butuh waktu 45 menit untuk sampai disana. Mobil kami melaju dalam kebisuan. Semua terperangkap dalam angan masing-masing. Aku mulai gelisah oleh tingkah ayah yang hanya bisa diam seribu bahasa. Ibu adalah sosok periang tapi tertutup. Sesekali Ibu mangajakku bercanda meski hanya sekejap. Namun, memang lebih baik begini. Dari pada semua berbicara dan tak pernah bertemu dalam satu titik kedamaian oleh karena perbedaan ide yang dihantam oleh hembusan egositas. Aku dan keluarga pun sampai di tempat tujuan. Kuambil barang-barangku yang sudah kukemas rapi. Aku berpamitan kepada teman-temanku. Dengan ditemani oleh ayah dan ibu, aku berpamitan kepada pengasuh asrama, yang dulunya adalah teman senasib dan seperjuangan dengan ayah. Kali ini, ayah baru angkat bicara. Kadang-kadang tertawa ringan, kadang-kadang tertawa terbahak-bahak. Tapi aku tahu, itu semua palsu. Di hati ayah, yang ada hanya beban luka mendalam karena asa yang terabaikan, yang dihempaskan begitu saja oleh buah hatinya yang angkuh ini. Tak lama kemudian kami berpamitan lalu pulang.

Seminggu kemudian…
“Sana makan dulu!” perintah Ibu. Aku pun menuju ke meja makan. Kulihat jam di dinding. Pukul 15.30. Hari yang cukup melelahkan. Hampir separuh waktu MOS (Masa Orientasi Siswa) hari kedua ini digunakan untuk penggembelengan di lapangan. Sedangkan hari pertama kemarin masih banyak indoornya. Aku mulai menyantap makanan dengan lahap.
“Ayah mana?” tanyaku.
“Istirahat di kamar. Hari ini ayah agak nggak enak badan. Tadi Ibu melayani pembeli di toko hanya bertiga, bersama Rudi dan Deni.” jawab Ibu.
Toko elektronik adalah usaha ayah dan ibu semenjak keduanya mengikrarkan janji untuk selalu bersama dalam suka dan duka, saat menikah. Ayah adalah lulusan STM. Selama menempuh MTs dan STM ia tinggal di pesantren. Sehingga agamanya cukup kuat. Tak mengherankan jika ia menginginkan semua buah hatinya belajar di lembaga pendidikan Islam. Rudi dan Deni adalah tetanggaku yang dulunya adalah pengangguran. Namun mereka lulusan STM. Maka ayah berinisiatif untuk memintanya membantu pekerjaan ayah di toko.
Ya Tuhan! Sudah empat hari ayah hanya berbaring dan duduk di tempat tidurnya. Ada apa dengan ayah? Mungkinkah ini semua gara-gara aku? Apa ayah masih belum bisa menerima kenyataan ini? Mungkin saja. Aku tak tahu.

Esoknya…
Pukul 5 dini hari, dengan seragam hitam putihku aku sudah siap berangkat ke sekolah.
“Berangkat ya, Bu…” ucapku sambil mencium tangan ibu.
“Sudah sarapan?” tanya ibu.
“Sudah.” jawabku singkat.
Aku masuk kamar ayah…
“Ayah, Dara berangkat ya?” bisikku lirih. Ayah tak menjawab. Wajahnya tampak pucat. Bibirnya kering. Matanya sayu.
“Cepetan berangkat gih!” suara ibu pelan.
“Ibu, ayah kenapa?” tak kusadari air mataku meleleh membasahi pipiku.
“Nggak apa-apa kok! Sejak semalam ayah nggak bisa bangun dari tempat tidurnya dan nggak mampu berbicara. Tapi ayah baik-baik saja kok.” jawab ibu mencoba menenangkanku. Wajah ibu masih saja tampak riang dan cerah, tak kan terhapus oleh duka dan lara yang melanda. Tapi sorot matanya tak bisa berbohong. Matanya mengisyaratkan akan kepedihan hatinya yang kini sedang menjerit dan menangis.
Aku keluar dari kamar dan kulihat banyak orang di depan kamar. Di tangan mereka tergenggam buku kecil bertuliskan “Yasin dan Terjemahannya”. Ternyata mereka datang hendak menjenguk dan mendo’akan ayah.

Pukul 14.30 di sekolah…
Aku dan teman-temanku sedang mengikuti materi “Antropologi SMUN 6” selama satu jam di aula yang terletak di bagian depan bangunan sekolah. Di depannya, ada lapangan basket berdiameter 12,5 meter yang juga digunakan untuk upacara setiap hari Senin. Di depan lapangan, ada pagar pemisah antara lingkungan sekolah dengan jalan raya. Posisi duduk siswa di aula membelakangi lapangan dan jalan raya. Aku duduk di barisan paling belakang karena aku tahu hari ini aku nggak bakalan bisa konsentrasi. Semua materi MOS hari ini hanya lewat saja di telingaku, enggan mampir ke otakku karena pikiranku sedang penuh sesak oleh beban derita ayah. Apakah aku salah mengambil keputusan ini? Egokah aku? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu saja menghantuiku.
Kubalikkan tubuhku membelakangi forum. Mataku terarah pada kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Tiba-tiba, kulihat ada banyak orang lewat dan ternyata mereka sedang mengiringi keranda mayat menuju tempat pemakaman umum yang tidak jauh dari sekolahku. Seketika aku menangis. Aku tak peduli dengan puluhan pasang mata yang tengah memandangku. Siapa gerangan yang ada di dalam keranda itu? ayah-kah? Tapi mengapa para pelayat itu sama sekali tak ada yang kukenal? Apa karena pandanganku yang kabur? Seribu tanya menari-nari di kepalaku.
“Kamu kenapa, Dara?” tanya Ike yang duduk di sampingku.
“Kepalaku pusing.” jawabku sekenanya sambil mengusap air mataku.
“Izin pulang aja!” usulnya.
“Nggak ah. Lima belas menit lagi juga kelar kok materinya dan kita udah boleh pulang.” jawabku dengan suara serak.

Pukul 15.40 di rumah…
“Assalamu’alaikum” teriakku sambil menuju ke arah ibu dan mencium tangannya. Tak ada yang aneh di rumah ini. Wajah Ibu pun tak menggambarkan duka sedikitpun. Masih seperti biasanya, tampak riang dan cerah. Ah, ibu memang selalu begitu. Wajahnya bertopeng, tak bisa dipercaya. Aku masih penasaran.
“Wa’alaikumsalam. Sukses MOSnya?” tanya ibu.
Aku langsung berlari menuju kamar ayah. Tak kuhiraukan pertanyaan ibu. Ah… syukurlah, ayah ada disitu. Seketika kusandarkan kepalaku di dadanya dan kugenggam tangannya.
“Ma…ma…maafkan aku ayah. A…aku tahu ayah masih sangat keberatan menerima keputusanku. Ta…tapi aku yakin, suatu saat ayah pasti bisa menerimanya. Entah sampai kapanpun, akan kutunggu ridhomu, ayah…” ucapku tertatih-tatih. Lidahku kelu, dadaku sesak menahan tangis. Aku tak ingin menangis di depan ayah. aku tak mau menambah penderitaannya.
“Semua butuh waktu.” jawab ayah singkat. Ada selaksa kebahagiaan terselip di benakku. Ayah sudah bisa bicara lagi. Aku berucap syukur dalam hati.
“Ayah nggak kenapa-kenapa kok. Cuma kencing batu. Tadi dokter Anggoro sudah memeriksanya dan memberi obat. Besok juga sembuh. Asalkan kita yakin.” suara Ibu mengagetkanku. Ibu mendekatiku lalu memelukku dengan haru. Ada pesan bisu tersirat di balik dekapan hangatnya. “Tegarlah, Dara!”
Sekian

salahku tak menghiraukanmu

SALAHKU TAK MENGHIRAUKANMU

“Umi Farah serius?” tanya Abi Hilman seakan tak percaya dengan keputusanku.
“Ya, Bi! Abi ngizinin kan?” tanyaku.
“Kalaupun masih banyak yang lebih mampu dari Umi Farah, bukankah lebih baik Umi Farah mundur?” sarannya.
“Memang sih, masih ada yang lebih bisa diandalkan. Tapi aku ngrasa aku juga mampu dan koneksiku juga banyak di fakultas.” Tukasku.
“Oke lah kalau Umi Farah tetap bersikeras untuk itu. Aku nggak bisa berbuat apa-apa selain mendo’akan Umi Farah.” Jawabnya pasrah.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan Pasya dari sudut kamarnya.
“Eh… Pasya nangis. Pasti Umi Salwa kerepotan. Aku masuk kamar Umi Salwa dulu ya?” pinta Abi Hilman.
“Ya, Bi! Kasihan Pasya.” Jawabku.
Lalu Abi beranjak ke kamar Salwa dan aku menuju ke kamarku. Kulihat Nisa telah tertidur pulas. Aku lega mendengar persetujuan Abi Hilman. Ini artinya, tak ada seorangpun yang bisa menghalangiku untuk maju karena bagaimanapun juga suamiku telah mengizinkanku.
Jika suntuk, aku sering merasa ingin sendiri sehingga Abi hilman tidur di kamar Umi Salwa. Pun juga malam ini. Entah kenapa dulu aku hanya diam ketika Abi Hilman mengutarakan keinginannnya untuk menikah lagi dengan wanita lain, yaitu Salwa. Alasannya klasik, katanya aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sehingga aku sering mengelak saat Abi Hilman ‘lagi pengen’. Disamping itu, Nisa juga kurang mendapat perhatian. Karena alasan-alasan logisnya itulah, aku meng’iya’kan permintaannya. Malam semakin larut. Aku pun terlelap.
Esoknya, seperti biasa, aku memasak dan membersihkan rumah sedangkan Salwa mencuci pakaian. Tepat pukul 06.45 kami semua berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Dengan honda revo biruku aku meluncur ke kampus Universitas Al-Hikmah. Salwa dan Nisa menuju ke sekolah yang sama, SD Ulul Albab. Salwa mengajar kelas satu SD disana sedangkan Nisa masih duduk di kelas dua SD di SD yang sama sehingga mereka selalu berangkat dan pulang bersama. Oleh karena itulah, tidak mengherankan jika Nisa lebih sayang kepada Salwa dari pada terhadapku, ibu kandungnya. Pasya di rumah dengan Abi Hilman. Kami punya toko alat-alat listrik yang besar, tepat berada di samping rumah kami. Abi Hilman mempekerjakan dua pemuda untuk membantunya. Sehingga Pasya ada yang menemani meskipun ibu kandungnya, Salwa, pergi mengajar. Namun pukul 11 siang Salwa sudah pulang bersama Nisa.
Hari ini aku resmi mencalonkan diri untuk menjadi Dekan Fakultas Syari’ah. Hal ini tentunya membuatku menjadi semakin sibuk. Pekerjaan rumah pasti sudah terbengkalai seandainya tidak ada Salwa yang mampu menyelesaikan semuanya. Semakin hari aku semakin disibukkan dengan segala persiapan menuju pergulatan politik memperebutkan kursi nomer satu di fakultas itu. Sehingga semua pekerjaan rumah Salwa yang mengerjakan, mulai dari mencuci baju, memasak, mengepel hingga menyeterika. Aku hanya mencuci baju-bajuku sendiri.

Dua bulan kemudian…
Hening. Malam ini begitu sunyi. Yang terdengar hanya suara hembusan angin sepoi-sepoi dari balik celah-celah kamarku. Aku tenggelam dalam untaian dzikir yang mengalir dari bibirku. Aku lemah dihadapan-Nya. Kucoba untuk mengumpulkan segenap keyakinan dalam hatiku sehingga mampu menjadi kekuatan yang maha dahsyat dalam diriku. Ya Tuhan… Jika memang aku pantas dan mampu mengemban amanat ini maka aku siap untuk menjalaninya. Tak terasa air mataku menetes. Bulu kudukku berdiri. Angin malam ini berhembus begitu kencang. Udara dingin menusuk tulangku. Tiba-tiba aku merasa rindu, rindu belai kasih sayang Abi Hilman. Lama sudah aku tak menghirukannya. Ya Tuhan… Ampunilah dosa-dosa hamba.
Esok harinya, aku sudah siap untuk berangkat ke kampus lebih awal dari biasanya. Hari ini adalah hari yang paling bersejarah sepanjang perjalanan hidupku. Apakah impianku akan benar-benar terwujud? Ataukah hanya akan menjadi harapan kosong yang menyisakan butir-butir kenangan? Ah… aku tak tahu.
Semua seisi rumah mengantarku hingga pintu gerbang. Termasuk Pasya, dia tampak riang dalam dekapan Salwa. Mereka berdo’a untukku. Tapi Nisa tidak, dia tetap duduk di depan meja makan dan menatapku sinis ketika aku hendak melangkah keluar rumah. ‘Maafkan aku, Nisa. Aku nggak pernah merhatiin kamu. Mungkin aku terlalu sibuk mencari uang untuk bekalmu menuntut ilmu sampai engkau menjadi seorang dokter, seperti yang engkau cita-citakan. Semoga tercapai.’ do’aku dalam hati.
“Assalamu’alaikum” aku pamit.
“Wa’alaikum salam wa rahmatullah” jawab Abi Hilman dan Umi Salwa serentak.
Begitu aku sampai di kampus, suasana kampus sudah tampak ramai. Kukumpulkan kekuatan keyakinan dalam hatiku. Aku optimis. Akulah Farah. Akulah yang akan menjadi Dekan disini.
Hari semakin siang. Lalu senjapun tiba. Terdengar seruan adzan Maghrib dari salah satu sudut kampus. Sejenak kuhentikan seluruh aktivitasku untuk menghadap kepada Sang Khalik. Tak lupa pula kupanjatkan do’a kepada-Nya. Waktu menunjukkan pukul 18.30. Perhitungan suara telah usai. Detik-detik yang paling menegangkan bagi tiga kandidat Dekan Fakultas Syari’ah ini, pak Subhan, aku, dan pak Syaref. Jumlah tertinggi mencapai 937 suara, disusul 934 suara, dan sisanya, yang terakhir adalah 368 suara.
Tepat pukul 19.20 aku tiba di rumah. Dengan gontai kulangkahkan kaki menuju kamarku. Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Tak kuhiraukan jilbab merah yang masih bertengger di kepalaku, kaos kaki yang masih nempel di kakiku, serta tasku yang masih menghimpit di sela lenganku. Kupejamkan mataku. Bumi seakan berhenti berputar. Semua gelap. Tak ada setitikpun cahaya yang menerangi dunia. Lelah, penat, semua menjadi satu. Aku seperti tertimpa puluhan ton beban. Dadaku terasa sesak. Tiba-tiba terdengar suara Abi Hilman membuyarkan lamunanku.
“Umi Farah… makan malam dulu yuk!” Ajak Abi Hilman
Aku diam…
“Nisa sama Pasya udah nunggu tuh di ruang makan.” Sahut Umi Salwa
Aku tetap diam…
Umi Salwa mendekatiku.
“Umi Farah… kamu harus tegar. Mana Umi Farah yang kukenal dulu? Mana Umi Farah yang nggak pernah menyerah itu? Umi Farah… ini semua adalah permainan. Dalam permainan pasti ada yang menang dan pasti ada yang kalah. Aku tahu kamu adalah wanita yang tegar dan kamu ikhlas atas kekalahanmu ini. Namun kamu masih belum bisa terima akan perolehan suara pak Subhan yang hanya tiga angka di atas kamu, bukan?” ucap Salwa dengan nada tinggi namun pelan. Dia mencoba memberi pengertian kepadaku. Aku seperti mendapat siraman air sejuk yang mengalir perlahan ke seluruh aliran darahku. Semua jadi lebih ringan terasa. Aku bersyukur telah mengenal Salwa. Ku dekap tubuhnya. Aku merasa tenang dalam peluknya. Ku curahkan semua isi hatiku. Meski tak sepatah katapun keluar dari bibirku tapi aku yakin Salwa tahu apa yang ada dalam pikiranku. Diam-diam aku mengaguminya. Dia adalah sosok wanita sederhana nan penuh kharisma. Dia tak pernah menuntut apa-apa. Meskipun dia bekerja di luar rumah akan tetapi dia tak pernah lalai dengan tanggungjawabnya di rumah. Kulepas dekapannya lalu kuusap air mataku.
“Sudahlah! Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Coba Umi Farah renungkan, ada apa sebenarnya dibalik kekalahan ini? Allah Maha Tahu. Allah tidak akan membebani umat-Nya diluar kemampuan umat-Nya. Mungkin saja kamu belum mampu untuk mengemban tugas berat itu sehingga Dia tidak menganugerahkan jabatan ini kepadamu.” Sambung Abi Hilman.
“Em… sekarang kita makan dulu yuk! Kasian anak-anak udah nunggu dari tadi”
Aku, Abi Hilman dan Umi Salwa bersama-sama menuju meja makan. Nisa dan Pasya tidak ada disana.
“Tangkap bolanya, Pasya.” Terdengar teriakan Nisa dari ruang depan. Ternyata mereka sedang bermain bola di ruang tamu.
“Nisa… Pasya… ayo makan dulu sayang!” Salwa memanggil mereka lalu mereka pun berlari menuju ke arah Salwa. Salwa langsung meraih Pasya dan menggendongnya.
“Umi Salwa… Nisa juga dong?” pinta Nisa sambil merengek kepada Salwa, membuatku iri kepada Salwa. Kuhampiri Nisa,
“Sini! Nisa digendong sama Umi Farah.” Pintaku sambil mengulurkan kedua tanganku ke arahnya namun Nisa tak menghiraukanku.
“Nggak mau! Aku bisa jalan sendiri kok.” Jawab Nisa sambil berjalan menuju meja makan. ‘Aku sadar ini semua salahku karena tak mangiraukanmu, Nisa.’ Ucapku dalam hati
Esoknya, aku berniat untuk menemani Nisa ke sekolah karena kebetulan hari Jum’at ini aku libur, begitu juga besok.
“Nisa… hari ini dan besok Umi Farah libur. Nisa dianter sama Umi Farah ya? Nanti disana Umi Farah nungguin Nisa sampai pelajaran selesai.” Pintaku penuh harap.
“beneran nih? Umi nggak sibuk hari ini?” Nisa balik bertanya seakan tak percaya dengan tawaranku.
“Bener. Buat apa Umi Farah bohong sama Nisa.” Jawabku meyakinkannya.
“Hore… hore..! Umi Salwa, hari ini Nisa dianter sama Umi Farah.” Teriak Nisa girang sambil berlari menuju kamar Salwa. Setelah sarapan aku dan Nisa langsung berangkat ke SD Ulul Albab. Begitu juga Salwa. Sejak saat itu, aku menjadi berubah. Aku mulai sadar akan sikapku selama ini yang hanya mementingkan diriku sendiri tanpa memperhatikan keluarga. Semua pekerjaan rumah yang dulu menjadi tanggung jawabku, kini aku kerjakan lagi dengan senang hati. Sempat terpikir olehku akan kegigihan Salwa. Dia tak pernah mengeluh kepadaku perihal seluruh pekerjaan rumah yang dikerjakannya seorang diri. Mengerjakan sebagian pekerjaan rumah saja sudah terasa capek apalagi semuanya. ‘Maafkan aku Salwa’ bisikku dalam hati. Karena kejadian itu pula, aku sadar akan tingkahku kepada Nisa selama ini. Aku kurang memperhatikannya. Justru Salwa lah yang banyak mencurahkan kasih sayang dan perhatian kepada Nisa. Wajar jika sikap Nisa begitu dingin kepadaku. Namun setelah semua berubah, Nisa pun mulai akrab denganku.
Sekian…

cerpenQ

Malam 20 februari
Aku berjalan melewati gang dosen, gang kecil menuju kampus yang tak pernah luput dari hiruk pikuk mahasiswa kampusku. Sesekali kusunggingkan senyumku ketika ada orang yang menyapaku. Sesekali aku berhenti, bercengkrama, dan bercanda sejenak dengan teman sekelas atau seorganisasi yang kebetulan juga lewat gang itu. Beberapa menit kemudian, aku sampai di depan kelas. Aku masuk dan seperti biasa aku mengambil tempat tepat di depan meja dosen. Aku ikuti kuliah hari pertama setelah libur panjang ini dengan ogah-ogahan. Mungkin karena otakku terlalu lama berhibernasi. Kuperhatikan seisi ruanganku, cuma ada dua temanku yang tidak masuk. Tidak sedikit teman sekelasku yang berasal dari Madura. Kelas-kelas lainpun mungkin juga demikian. Penghuni kosku juga didominasi oleh orang Madura. Di lingkungan organisasi, organ-organ Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) baik itu BEM Fakultas maupun BEM Institut pun dipimpin oleh orang Madura. Sungguh mengerikan jika membandingkan fenomena ini dengan kerusuhan Sampit satu tahun silam, yang melibatkan suku Dayak dan suku Madura.
Tragedi di Sampit hanyalah salah satu rangkaian peristiwa kerusuhan yang terjadi oleh etnis Madura yang sejak berdirinya Kalimantan Tengah telah melakukan lebih dari enam belas kali kerusuhan besar dan banyak sekali kerusuhan kecil yang banyak mengorbankan warga non Madura. Berawal dari tahun 1972 di Palangka Raya, seorang gadis Dayak digodai dan diperkosa, terhadap kejadian itu diadakan penyelesaian dengan mengadakan perdamaian menurut hukum adat. Sepuluh tahun kemudian, terjadi kasus pembunuhan, pelakunya tidak tertangkap, penyelesaian secara hukum tidak ada. Menyusul tahun berikutnya, terjadi kasus pembunuhan di Kasongan. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1996, terjadi kasus pembunuhan di Palangka Raya. Semua itu dilakukan oleh suku Madura atas suku Dayak. Banyak masalah -misalnya masalah sengketa tanah, penambangan emas, dan balas dendam keluarga- antara orang  Dayak dan orang Madura yang berujung pada pertikaian dan pembunuhan. Ironisnya, menilik dari tahun 1972 hingga tahun 2001, penyelesaian secara hukum atau pengusutan yang dilakukan terasa berat sebelah. Jika orang Madura yang bersalah maka hukuman yang diberikan sangat ringan atau bahkan tidak ada penyelesaian secara hukum. Namun jika orang Dayak yang bersalah, mereka langsung dihukum berat. Pihak berwenang nampaknya belum mampu menyelesaikan secara tuntas.
“Ayu, kamu nunggu siapa? yang lain udah pada pulang tuch.” suara Kaka, teman sekelasku, membuyarkan lamunanku.
“Eh… oh… nggak nunggu siapa-siapa kok. Aku lagi ngelamunin kamu, nggak tahu kenapa akhir-akhir ini aku tertarik buat ngelamunin orang Madura.” jawabku sekenanya.
“Nggak usah bingung kali… kita emang menarik buat dilamunin, apalagi cowok cakep kayak aku ini.” candanya sambil melangkah pergi.
“Mau ke kantin ya?” tebakku.
“Tau aja! Perhatian banget sich sama aku.” teriaknya sambil keluar dari ruangan. Kaka memang suka bercanda, tingkah konyolnya tidak pernah ada habisnya. Dia mulai akrab denganku kira-kira dua bulan yang lalu, ketika dia nyomblangin aku sama Syahriel, kakak angkatanku, empat tingkat di atasku, yang kebetulan tinggal sekos sama Kaka dan satu organisasi di IKAMADU (Ikatan Mahasiswa Madura).
Setelah sadar bahwa aku sedang di kelas sendirian, aku segera meninggalkan kelas. Aku ingin segera menuangkan pikiranku ini di atas kertas yang tak pernah membantahku jika aku salah dan tak pernah memujiku jika aku benar. Begitu sampai di kos, ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Lelah, penat, pusing serasa membebaniku. Linda, Alma, dan Dina sedang bercerita, entah apa yang mereka bicarakan. Maklumlah, setelah libur panjang roomateku selalu bawa oleh-oleh segudang cerita. Mereka semua adalah anak Madura. Sembilan dari tiga belas penghuni kosku adalah asli Madura. Mereka selalu menggunakan bahasa Madura setiap kali bertemu dengan lawan bicara sesama Madura. Sehingga tak lama tinggal satu kos dengan mereka membuatku banyak tahu tentang bahasa Madura.
“Kamu kok kelihatan bingung gitu? Wah pasti mau nelur nich. Ngomong-ngomong mau nulis artikel tentang apa, Yu?” Dina mencoba menebak apa yang ada dalam pikiranku.
“Tambah pinter aja kamu, Din. Yup! Kamu bener banget, aku lagi bingung mikir artikelku, tentang orang Madura.” jawabku jujur.
“Emang ada apa dengan orang Madura? Cantik-cantik dan cakep-cakep yach?” Linda yang sedang duduk di samping pintu kamar bertanya penasaran.
“Ye… narsis banget sich. Ntar aja baca sendiri, mungkin minggu-minggu ini udah kelar kok.” jawabku bikin mereka tambah penasaran.
“Oke dech, nggak apa-apa kalau emang kamu nggak mau cerita. Tapi kamu tanggungjawab ya kalau sampai jerawatku tambah banyak, abis…kamu selalu bikin penasaran.” sahut Linda.
“Pesanku, kamu jangan asal nulis, pikir juga konsekuensinya. Kamu nggak pengen kejadian dulu itu terulang lagi kan? Ketika kamu nulis artikel berjudul my lecture, my rival? Kamu di drop out selama satu minggu. Nggak enak juga kan kalau kita sampai ketinggalan materi kuliah…” kata Alma mengingatkanku.
“sok bijak kamu, Ma.” ledek Linda. Spontan Alma melempar bantal ke arah Linda tapi…
“Au!? Dasar kamu Alma, tambah pusing nich kepalaku.” kataku kesakitan sambil mengelus-elus kepalaku.
“Hwahaha… salah sasaran.” tawa Linda seolah tak berdosa.
Lindapun beranjak dan menuju kamar mandi, hendak mengambil air wudlu, sudah masuk waktu sholat ashar. Aku menyusul dibelakangnya. Alma dan Dina masih asyik bercerita di kamar.
Tanggal 20 Februari 2002….
Artikel berjudul “Apa maumu, orang Madura?” yang kutulis dua hari lalu dimuat di salah satu buletin di kampusku. Hari ini, kuikuti kuliah dengan penuh semangat dari jam pertama sampai jam terakhir. Begitu mata kuliah terakhir selesai, tepatnya pukul empat sore, aku segera meninggalkan kelas. Namun tiba-tiba ada yang memangggilku dari belakang. Aku menoleh.
“ada apa, Kaka?”
“Yu, Aku pengen ngajak kamu ke camp IKAMADU sekarang. Penting banget, jadi nggak bisa ditunda.”
“Tumben kamu kelihatan serius? Biasanya aja kamu pasang tampang ala Tukul Arwana?”
“Ayolah!” serentak dia menarik tanganku dan mengajakku pergi. Aku mencoba mengelak namun tak bisa. Dia bahkan sudah tak peduli lagi dengan semua mata yang melihat tingkahku dan dia. Akhirnya, dengan terpaksa aku mengiyakannya dan diapun melepas genggamannya. Aku berjalan di belakangnya, mengikuti langkahnya. Begitu sampai di camp IKAMADU aku langsung dibawa ke ruangan sempit kira-kira berukuran 3X4 meter dengan putung rokok berserakan di atas asbak yang terletak tepat di samping computer pentium empat yang sepertinya baru saja dibeli  satu minggu lalu, baju dan tas menggantung di salah satu sudut ruangan, Koran tertanggal 17 februari 2002 berserakan di atas lantai. Aku masih berdiri dan Kaka memintaku untuk duduk di atas kasur yang terletak disamping komputer.
“Kalau kamu mau sholat, kamu ke belakang aja, disana ada kamar mandi dan itu mukenanya, di atas rak itu” jelasnya sambil menunjuk rak buku yang ada dibelakangku. Setelah itu, dia langsung pergi. Aku sendirian, sesekali kulihat orang lewat depan kamar, sepertinya mau ke kamar mandi. Diantara mereka ada yang kukenal dan sebagian lagi tidak. Sempat kulihat juga Syahriel, dia hanya menoleh dan tak mengucapkan apapun.
Setelah aku sholat Isya’, Syahriel nyelonong masuk ke ruangan dimana aku berada. Dia sendirian. Jantungku berdebar tak karuan, lebih kencang dari yang pernah kurasakan dulu, ketika dia menyatakan cinta kepadaku. Masih tercatat dalam memori ingatanku, dua bulan lalu dia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Syahriel, dia memang cowok kriteriaku. Perawakannya tinggi tegap, wajahnya khas Madura, otaknya encer, senyumnya indah, siapapun akan terpesona olehnya, tatapan matanya penuh cinta, dia aktivis, pengetahuannya luas. Tapi aku menolak cintanya, mungkin karena aku kurang suka dengan kecongkakannya. Di samping itu, aku ingin tetap komitmen pada janjiku pada diriku sendiri. Aku belum ingin membebani pikiranku dengan hadirnya lelaki yang mencoba mengisi kekosongan hatiku.
Lama aku dan dia terdiam. Akhirnya aku mencoba memecah keheningan,
“Kenapa kau undang aku kesini?”
“Langsung saja jelaskan! Kenapa kamu mengklaim kita seperti itu?”
“Tapi sebelumnya aku ingin tahu, apa yang bisa kamu tangkap dari tulisanku?”
“Dalam artikelmu kamu menuliskan kekhawatiranmu akan kemungkinan terjadinya pengambilalihan kekuasaan oleh suku Madura atas yang lainnya, kamu mengatakan demikian karena kamu berkaca pada kasus tragedi Sampit. Bukankah begitu?”
“Ya, kamu benar. Perlu kamu ketahui, tulisanku itu bermula dari keherananku atas fenomena yang ada di kampus kita. Kamu pasti tahu siapa yang dominan di kampus, siapa pemimpin BEM baik itu BEMF maupun BEMI. Bukannya su’udzon, aku hanya membuat perbandingan saja antara fenomena tersebut dengan tragedi Sampit satu tahun silam, tepatnya tanggal 17-20 februari 2001, yang melibatkan suku Madura dan suku Dayak dimana suku Maduralah yang pertama melakukan penyerangan.”
“kamu nggak sepenuhnya salah. Memang watak orang Madura keras. Tapi perlu kamu ketahui, sekeras-kerasnya watak kita, nggak mungkinlah kita ngelakuin itu. Kita adalah mahasiswa, orang-orang yang berpendidikan tinggi dan bermoral. Kita sadar benar akan pluralitas bangsa kita. Sedangkan mereka yang terlibat dalam kasus Sampit adalah orang-orang yang berpendidikan rendah, orang pedalaman yang kurang paham tentang moral dan tidak tahu bagaimana hidup rukun berdampingan satu sama lain. Disinilah kesalahanmu, kamu hanya memandang dari satu sisi saja.”
“Oke! Aku terima argumenmu. Aku sadar aku salah. Tapi menurutku sangat tidak menutup kemungkinan orang berpendidikan menjadi otak dalam kasus kerusuhan antar etnis. Jadi mahasiswapun bagiku bisa melakukan hal serupa.”
“Sangat kecil kemungkinan bagi mahasiswa seperti kita untuk menjadi dalang politik karena terlalu kecil bekal kita untuk bisa masuk dalam permainan politik dalam skop nasional.”
“Kalau boleh tahu, dalam tragedi Sampit tahun lalu kenapa suku Madura tidak bermoral barang sedikitpun? Buktinya suku Dayak telah memperlakukan mereka baik-baik, suku Dayak mau menerima mereka. Tapi mereka malah melakukan hal-hal yang tidak toleran terhadap hampir seluruh aspek kehidupan suku Dayak. Bukankah ini merupakan arogansi budaya suku Madura yang memandang remeh budaya lokal suku Dayak? Yang pada akhirnya menimbulkan berbagai gesekan yang mana akumulasi gesekan-gesekan tersebut menimbulkan perseteruan dan perkelahian massal yang membesar dan memuncak dari waktu ke waktu.”
“Kamu tadi mengatakan bahwa warga suku Dayak mau menerima suku Madura siapapun dia. Nah, disinilah letak kesalahannya, mereka menerima siapa saja tanpa melakukam seleksi terlebih dahulu.”
“Lantas bagaimana dengan pertimbangan dari tokoh-tokoh Madura yang menelorkan ancaman-ancaman kepada para petinggi Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah untuk memaksakan kehendak mereka dalam penyelesaian kerusuhan? Apakah mereka tidak berpikir bahwasanya Kalimatan Tengahlah yang menjadi korban kelalaian para tokoh-tokoh suku Madura yang gagal membina warganya yang mencari kehidupan di Kalimantan Tengah?”
“Itu hanya kebodohan suku Dayak, mengapa mereka mau dikebiri begitu saja. Tapi di sisi lain itu juga kesalahan suku Madura karena mereka tidak bisa membina warganya dengan baik”
Aku suka berdskusi dengannya karena dia tahu banyak hal dan pandai berargumen.  Beberapa detik kemudian dia berdiri dan hendak meninggalkan ruangan ini. Tapi sebelumnya dia bertanya padaku,
“Masih pengen ngejomblo?” tanyanya sambil melirik ke arahku.
“iya.” jawabku singkat.
“Oh ya, kamu harus merevisi artikelmu malam ini juga dan besok pagi kamu boleh pulang.” ucapnya tegas.
Entah kenapa mataku begitu sulit untuk kupejamkan. Meski telah kucoba tapi tetap tak bisa. Akhirnya aku putuskan untuk membuat revisi artikelku. Diantaranya aku hilangkan dan aku tambah beberapa paragaraf. Aku  juga mencoba menyimpulkan hasil diskusiku dengan Syahriel. Aku menambahkan diantaranya tentang alternatif solusi atas konflik etnis di negeri ini.
Setelah semua selesai, kucoba untuk memejamkan mataku meski hanya sejenak. Beberapa menit kemudian, aku tertidur. Kulepas semua penatku, kubawa hidupku ke alam mimpi, mimpi indah yang selalu temani malam-malamku.
21 februari 2002….
Mentari pagi itu manyapaku dengan senyum indahnya. Namun senyumku pagi ini tak kalah indahnya dengan senyum sang mentari di balik jendela itu. Puas! Itulah yang kurasa saat ini karena semuanya telah terselesaikan dan beban di kepalaku mulai hilang satu per satu.
Aku keluar dari camp IKAMADU dan menuju kampus pukul 07.30. Aku malas untuk memikirkan penampilanku hari ini. Aku berusaha untuk tidak menampakkan sama sekali kepada siapapun kalau hari ini AYU adalah mahasiswi bekas tawanan semalam. Sampai di kampus, beberapa mata memandangku dengan tatapan tak seperti biasanya. Ada tatapan kagum, benci, heran, dan bahkan kasihan. Masa bodoh dengan semua itu. Aku tetap berjalan tanpa menghiraukan suara-suara yang memanggilku. Akhirnya akupun sampai di kelas dan tak kusangka teman-temanku langsung menyambutku dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Tak kusangka kabar ini begitu cepat terekspose. Aku lebih memilih diam daripada menanggapi pertanyaan-pertanyaan konyol mereka. Aku selalu memilih diam ketika emosiku sedang labil. Aku tidak ingin orang-orang tak bersalah menjadi korban pelampiasan emosiku. Pikiranku melayang, anganku menerawang. Dalan hati ku berucap syukur kepada Sang Rabb karena Dia masih menyayangiku.