aqiqah

  1. Apa pengertian Aqiqah secara bahasa dan istilah?

Dari segi bahasa Aqiqah berarti rambut yang tumbuh di kepala anak yang baru dilahirkan. Dan dari segi istilah hukum (syara’) Aqiqah adalah hewan yang disembelih ketika mencukur rambut anak.

  1. Apa hukum Aqiqah? Dan apa dasarnya?

Aqiqah hukumnya tidak wajib sebagaimana dijelaskan oleh hadits Abu Dawud “barang siapa yang suka untuk beribadah untuk anaknya, maka lakukanlah.” Aqiqah dilakukan bukan karena membayar denda tindak kejahatan dan bukan pula merupakan nadzar. Maka hukumnya tidak wajib sebagaimana pada kurban.

  1. Berapa kambing untuk anak laki-laki dan berapa kambing untuk anak perempuan?

Yang paling utama adalah dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan. Hal ini berdasarkan hadits at-Turmudzi yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, “Rasulullah saw. Memerintahkan kami untuk menyembelih dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan.”

  1. Kapan pelaksanaan Aqiqah?

Aqiqah dilaksanakan dari sejak kelahiran keseluruhan tubuh si anak hingga si anak berusia baligh. Disunnahkan pada hari ketujuh dari kelahiran si anak. Jika si anak sudah baligh maka gugurlah tuntutan hukum  untuk orang selain si anak tersebut. Yang baik adalah si anak beraqiqah untuk dirinya sendiri sebagaimana telah dijelaskan di dalam hadits bahwa Nabi saw. beraqiqah untuk dirinya sendiri setelah masa kenabian.

  1. Kapan pemberian nama kepada bayi? Bagaimana nama yang baik dan bagaimana nama yang buruk?

Disunnahkan memberi nama pada hari ketujuh, karena Nabi saw. memerintahkan pemberian nama untuk anak pada hari ketujuh kelahirannya dan membuang hal-hal yang menyakitkannya dan beraqiqah, sebagaimana diriwayatkan oleh at-Turmudzi. Diperbolehkan memberi nama sebelum dan sesudah hari ketujuh.

Nama yang baik adalah nama-nama yang dikaitkan dengan kehambaan kepada salah satu nama-nama Allah swt. seperti Abdullah, Abdur Rahman, dan Abdul Khaliq. Boleh menggunakan nama Nabi atau Malaikat seperti Musa atau Jibril. Penamaan menggunakan nama Muhammad mempunyai beberapa keutamaan, seperti sabda Nabi saw., “pada hari kiamat ada suara yang memanggil, wahai berdirilah orang yang bernama Muhammad dan hendaklah dia masuk surga karena penghormatan kepada nabinya Muhammad saw.”

Nama yang buruk adalah nama yang berarti sesuatu yang diramalkan ada atau tidak ada seperti Barakah, Ghanimah, Nafi’, Yasar, Harb, Murrah, Syihab, Syaitan. Sangat dimakruhkan menggunakan nama sittunnas (enam orang), sittulArab (enam orang Arab), sittul Ulama (enam Ulama), sittul Qudlat (enam hakim), sayyidunnas (raja manusia), ulama, dan al-Arab karena hal itu lebih dari kebohongan. Haram memberi nama dengan malik al-muluk, syahin syah, qadli al-Qudlat karena semua itu hanya pantas untuk Allah swt.

Iklan

fiqh

Pengertian Fiqh Muamalah
Fiqh Muamalah berasal dari dua kata, yaitu kata ‘fiqh’ dan ‘muamalah’, yang masing-masing memiliki pengertian yang luas. Menurut etimologi, Fiqh adalah faham (الفهم ). Fiqh secara terminologi, pada mulanya diartikan sebagai pengetahuan keagamaan yang mencakup seluruh ajaran agama, baik berupa akidah (ushuliah) maupun amaliah (furu’ah). Ini berarti fiqh sama dengan pengertian Syari’ah Islamiyah. Namun, pada perkembangan selanjutnya, fiqh merupakan bagian dari Syari’ah Islamiyah.
Menurut pendapat para ahli fiqh terdahulu, fiqh adalah:
العلم بالاحكام الشرعية العملية المكتسبة من ء ذلتها التفصيلية
“Ilmu tentang hukum syara’ tentang perbuatan manusia (amaliah) yang diperoleh melalui dalil-dalilnya yang terperinci.”
Menurut pendapat ulama lain, fiqh adalah:
مجموعة الاحكام الشرعية العملية المكتسبة من ء ذلتها التفصيلية
“Himpunan tentang hukum syara’ tentang perbuatan manusia (amaliah) yang diperoleh melalui dalil-dalilnya yang terperinci.”
Adapun pengertian Muamalah, menurut etimologi ialah bentuk masdar dari kata ‘amala ( ( عا مل – يعا مل – معا ملةyang artinya saling bertindak, saling berbuat, dan saling beramal. Sedangkan secara terminologi, muamalah adalah hubungan manusia dengan manusia lain untuk mendapatkan alat-alat yang dibutuhkan jasmaninya dengan cara yang sebaik-baiknya, sesuai dengan ajaran dan tuntutan agama.
Firman Allah swt.:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q. S. Al-Qashash: 77)
Dalam sebuah hadits disebutkan:
عن ابىعمررضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلعم: من كان في حاجةاخيه كان الله في حاجته ومن فرج على مسلم كربة فرج الله عنه بها كربة من كرب يوم القيامة. (رواه البخارى مسلم)
“Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, Rasulullah saw. telah bersabda, “Barang siapa yang melepaskan hajat saudaranya, maka Allah akan melepaskan pula hajatnya. Dan barang siapa yang suka melapangkan kesempitan seorang muslim maka Allah akan melapangkan kesempitan dari beberapa kesempitan di hari kiamat.”
Jadi, Fiqh Muamalah adalah aturan-aturan Allah SWT., yang ditujukan untuk mengatur kehidupan manusia dalam urusan keduniaan dan sosial kemasyarakatan. Jika dipahami secara sempit, Fiqh Muamalah adalah aturan-aturan Allah yang telah ditetapkan untuk mengatur hubungan antara manusia dengan cara memperoleh, mengatur, mengelola, dan mengembangkan mal (harta benda).

Ruang Lingkup Fiqh Muamalah
Menurut terjemah buku ‘Fiqh Madzhab Syafi’i’, ruang lingkup fiqh muamalah meliputi: Jual Beli, ikhtikar (Spekulasi), perjudian, simsar (badan perantaraan), murabahah, memesan barang (salam salaf), utang-piutang, hiwalah, gadai-menggadai, riba, suap, mahjur, muflis, jaminan, pinjaman, syarikat dagang (syirkah), berwakil, iqrar, merampas, syuf’ah, qiradh, muzara’ah, mukhobaroh, ijarah, ihyaul mawaat, perdamaian, wakaf, hibah, luqathah, ji’alah, wadi’ah, wasiat, dan faraidh.
Menurut kitab “Tahdzib”, ruang lingkup fiqh muamalah adalah: Buyu’, rahn, hijr, shuluh, hiwalah, dzom’an, syirkah, wikalah, iqrar, ‘ariyah, ghosob, syuf’ah, qiradh, musaqah, ijarah, ihya’ul mawat, athoya wal habs, dan luqothoh.
Menurut kitab “Zarul Mutqoni” (Fiqh Imam Sunnah Ahmad bin Hanbal), ruang lingkup fiqh muamalah meliputi: Bai’, waqaf, washoya, faraidh, ‘atiq, nikah, thalaq, ila’, dzihar, li’an, adad, istibro’, ridho’, nafaqah, jinayah, diyat, hudud, ath’imah, aiman, qodho’, syahadat, dan iqrar.
Menurut Ibnu Abidin, fiqh muamalah dapat digolongkan menjadi; Muawadhah Maliyah (Hukum Kebendaan), Munakahat (Hukum Perkawinan), Muhasanat (Hukum Acara), Amanat dan ‘Aryah (Pinjaman), Tirkah (Harta Peninggalan).
Sedangkan Al-Fikri membagi Fiqh Muamalah menjadi; Al-Muamalah Al-Madiyah dan Al-Muamalah Al-Adabiyah. Berdasarkan pembagian tersebut maka ruang lingkup fiqh muamalah pun terbagi dua; ruang lingkup Muamalah Adabiyah dan ruang lingkup Muamalah Madiyah. Yang termasuk muamalah adabiyah adalah ijab dan kabul, saling meridai, tidak ada keterpaksaan dari salah satu pihak, hak dan kewajiban, kejujuran pedagang penipuan, pemalsuan, penimbunan, dan segala sesuatu yang bersumber dari indera manusia yang ada kaitannya dengan peredaran harta. Sedangkan yang termasuk muamalah madiyah adalah al-bai’ at-tijarah, rahn, kafalah dan dhaman, hiwalah, tafjis, al-hajru, asy-syirkah, al-mudharabah, al-musaqah l-mukhabarah, ujral al-amah, asy-syuf’ah, al-ji’alah, al-qismah, al-hibbah, al-ibra’, ash-shulhu, dan muhaditsah.
Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwasanya para Ulama’ ahli fiqh berbeda-beda dalam memberikan pengertian Fiqh Muamalah sehingga ruang lingkupnya pun juga berbeda berdasarkan pada pemahaman masing-masing mengenai definisi Fiqh Muamalah.
Ketika Fiqh Muamalah diartikan sebagai – aturan-aturan Allah yang telah ditetapkan untuk mengatur hubungan antara manusia dengan cara memperoleh, mengatur, mengelola, dan mengembangkan mal (harta benda) -, maka ruang lingkupnya hanya sebatas hal ihwal buyu’ (jual beli).
Namun jika Fiqh Muamalah diartikan sebagai aturan-aturan Allah SWT., yang ditujukan untuk mengatur kehidupan manusia dalam urusan keduniaan dan sosial kemasyarakatan, maka ruang lingkup Fiqh Muamalah pun menjadi lebih luas, yakni mencakup buyu’, munakahat, dan faraidh.