agar ngampus nggak sekadar status

Resensi Buku “Agar Ngampus Tak Sekedar Status”

Judul : Agar Ngampus Tak Sekadar Status
Pengarang : Robi’ah al-Adawiyah & Hatta Syamsuddin
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tempat terbit : Surakarta
Tahun Terbit : 2008
Tebal Buku : 216 Halaman

Transisi dari siswa menjadi mahasiswa tentunya mengundang berbagai macam pertanyaan bagi siswa. Mahasiswa selama ini dikenal sebagai sosok yang identik dengan kebebasan, keberanian, suka demo, dan kritis. Paradigma inilah yang kira-kira membuat siswa suka berpikir yang enggak-enggak tentang mahasiswa. Namun ada satu hal lagi yang pasti terjadi pada mahasiswa, yakni perubahan. Tak hanya perubahan status dari siswa yang belajar di sekolah menjadi mahasiswa yang ngampus di perguruan tinggi. Akan tetapi, juga perubahan tanggungjawab yang mulanya hanyalah seorang siswa yang masa bodoh dengan masyarakat sekitarnya lantas menjadi mahasiswa yang bukan hanya kritis namun juga humanis.
Menjadi mahasiswa sukses merupakan impian siapa saja. Untuk mewujudkannya, tentunya dibutuhkan persiapan yang matang. Banyak diantara calon mahasiswa yang asal saja dalam menentukan pilihannya, yang penting di jurusan, fakultas, dan perguruan tinggi yang bergengsi. Padahal yang terpenting dalam menentukan pilihan adalah menyesuaikan dengan potensi diri yang dimiliki. Sehingga proses perkuliahan dapat berjalan dengan baik tanpa ada unsur paksaan.
Begitu masuk ke perguruan tinggi, OSPEK adalah kegiatan awal yang harus dihadapi oleh mahasiswa baru. OSPEK sering menjadi momok bagi mahasiswa baru karena OSPEK cenderung dikenal sebagai ajang ploncoan senior kepada juniornya, yakni mahasiswa baru. Namun pada hakikatnya OSPEK bertujuan untuk mengenalkan lingkungan kampus. Selain itu, OSPEK merupakan proses penyesuaian diri dan pendewasaan siswa menjadi mahasiswa.
Setelah resmi menjadi mahasiswa, mahasiswa akan dihadapkan pada model belajar yang jauh berbeda dengan di SMA. Pun juga dihadapkan pada berbagai macam organisasi baik intra kampus maupun ekstra kampus. Organisasi ini penting sebagai wadah pengembangan potensi diri. Jika mahasiswa telah membulatkan tekad untuk aktif di organisasi maka mahasiswa pun harus siap dengan segala konsekuensinya. Menjadi aktivis bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan yang dihadapi namun banyak pula manfaat yang akan diperoleh.
Buat yang indekos, banyak hal-hal penting seputar indekos yang harus diketahui meskipun kelihatannya sepele. Di sekitar kampus, hampir di setiap sudutnya ada kos-kosan. Bergitu pula pada setiap gangnya. Namun bukan berarti kita dapat dengan mudah memilih kos yang pas buat kita. Memilih kos-kosan tidak bisa sembarangan karena di kos itulah anda tinggal dengan keluarga yang baru. Cara anda bersikap juga harus diperhatikan agar tidak menurunkan self-esteem anda. Dan satu hal lagi, jaga kepercayaan yang telah diberikan oleh orang tua kepada anda.
Lantas, bagaimana menetukan pilihan studi yang sesuai dengan potensi yang dimiliki? Setelah diterima di perguruan tinggi, bagaimana menghadapi OSPEK yang nota bene dianggap sebagai ajang ploncoan? Bagaimana seharusnya menjadi mahasiswa baru? Apakah menjadi aktivis itu selalu mengganggu prestasi kuliah? Sebagai mahasiswa yang tinggal di kos, bagaimana menjadi warga kos yang baik dan disukai?
Buku “Agar Ngampus Tak Sekedar Status” inilah jawabannya. Penulis mengulas tuntas jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Penulis berhasil mengemasnya dalam bahasa yang komunikatif, bersahabat, dan terkesan tidak menggurui sehingga anda akan menikmatinya saat membaca. Format tulisan dan desainnya pun cukup menarik. Anda akan merasa terarah dan mendapat bimbingan dengan segala uraian hikmahnya. Plus Tips dan Trik kuliah ke luar negeri yang disuguhkan dalam bab terakhir juga mampu memberikan pencerahan yang sangat berarti. Bagi anda yang awalnya takut dan tidak bisa membayangkan ‘bagaimana sih kuliah di negeri orang?’, anda tidak akan merasa takut atau ragu lagi karena dalam bab terakhir ini disajikan beberapa sisi keuntungan dan kelemahan kuliah ke luar negeri dan hal-hal lain yang berhubungan dengan proses kuliah di luar negeri, sehingga bisa dijadikan referensi untuk pertimbangan dalam membuat suatu keputusan.
Menurut saya, ada satu hal lagi yang mestinya menjadi pembahasan dalam buku ini, yakni pandangan penulis mengenai aktivis yang ngampus belasan semester bahkan tidak sedikit yang sampai terancam DO (Drop Out). Dengan pandangan penulis –yang mantan aktivis kampus- ini menurut saya bisa dijadikan bahan perbandingan dengan paradigma kawan-kawan saya baik dari kalangan aktivis maupun bukan aktivis. Karena hal ini sempat menjadi pertanyaan besar dalam otak saya. Tidak jarang aktivis yang terancam DO namun kemudian mereka mampu berkiprah dan menjadi sukses baik di dunai politik maupun yang lainnya.
Buku ini sangat layak dibaca oleh para calon mahasiswa atau yang telah menjadi mahasiswa termasuk yang sudah ngampus bertahun-tahun dan ingin melakukan perubahan. Buku ini bukan untuk mahasiswa yang hanya ingin sekadar bergelar, enggan mengevaluasi diri, takut terprovokasi menjadi berbeda, dan cuma ingin jadi ‘mahasiswa biasa’.
Sebagai penulis yang masih muda, Robi’ah al-Adawiyah berhasil menciptakan buku yang mampu memberikan pencerahan dan merekonstruksi paradigma orang banyak tentang dunia mahasiswa. Kekompakannya bersama suaminya dalam mencipta buku ini mampu menjadikan karyanya sebagai karya yang menakjubkan. Muatan intelektualitas dan spiritualitas yang tinggi mampu menjadikan karya-karyanya sebagai best seller. Benar-benar bisa memberikan pencerahan dan mendobrak semangat mahasiswa yang menginginkan perubahan. Akhirnya, sekaranglah saat yang tepat untuk berubah. Tidak ada gunanya hanya berdiam diri tanpa melakukan suatu hal yang berarti.

Iklan

artikel

Agar Ngampus Tak Sekedar Status

Oleh : A’yun El_falasy*

Transisi dari siswa menjadi mahasiswa tentunya mengundang berbagai macam pertanyaan bagi siswa. Mahasiswa selama ini dikenal sebagai sosok yang identik dengan kebebasan, keberanian, suka demo, dan kritis. Paradigma inilah yang kira-kira membuat siswa suka berpikir yang enggak-enggak tentang mahasiswa. Namun ada satu hal lagi yang pasti terjadi pada mahasiswa, yakni perubahan. Tak hanya perubahan status dari siswa yang belajar di sekolah menjadi mahasiswa yang ngampus di perguruan tinggi. Akan tetapi, juga perubahan tanggungjawab yang mulanya hanya siswa yang masa bodoh dengan masyarakat lantas menjadi mahasiswa yang bukan hanya kritis namun juga humanis, yang berperan sebagai agent of change sekaligus agent of control.
Setelah resmi menjadi mahasiswa, kita akan dihadapkan pada model belajar yang jauh berbeda dengan di SMA. Pun juga dihadapkan pada berbagai macam organisasi baik intra kampus maupun ekstra kampus. Organisasi ini penting sebagai wadah pengembangan potensi diri. Jika mahasiswa telah membulatkan tekad untuk aktif di organisasi maka mahasiswa pun harus siap dengan segala konsekuensinya. Menjadi aktivis bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan yang dihadapi namun banyak pula manfaat yang akan diperoleh.
Organisasi merupakan jalur yang tepat untuk aktualisasi diri. Semua yang kita dapat dari bangku kuliah tidak bisa menjamin kesuksesan kita. Tanpa sejuta pengalaman berorganisasi, kita tidak akan mampu bersosialisasi dengan baik nantinya ketika terjun ke masyarakat. Lantas apa kata orang jika mahasiswa hanya kuliah dan mencari gelar, tanpa memikirkan nasib masyarakat sekitarnya? Nah, dari sinilah muncul tuntutan moral bagi seorang mahasiswa. Namun kebanyakan mahasiswa tidak menyadari hal itu.
Perlu diketahui bahwa mahasiswa merupakan aktor sosial yang diharapkan mampu mempunyai kesadaran dan kepedulian tinggi dalam menyentuh realitas sosial. Lebih-lebih realitas yang diakibatkan oleh kebijakan. Mahasiswa diharapkan pula mampu menciptakan ranah dialektika pembelajaran menuju proses pendewasaan diri. Akhirnya, dengan bekal pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan serta gagasan-gagasan yang dinamis progresif dan revolusioner, mahasiswa mampu menjadi bagian dari generasi muda bangsa yang memiliki tangggungjawab untuk memajukan bangsa.
Mahasiswa, khususnya mahasiswa baru, nampaknya mulai tahu dan sadar akan urgensi organisasi. Namun dalam prakteknya banyak mahasiswa yang pinter ngomong alias mampu mengkritisi dan menganalisa realitas sosial dengan baik namun tidak mampu mengetengahkan sebuah solusi sehingga perubahan realitas sosial yang diharapkan hanya menjadi mimpi belaka. Di sisi lain, mayoritas mahasiswa saat ini adalah manusia-manusia yang berorientasi SO (Sleeping Oriented, Shooping Oriented, SMS Oriented) dan hanya 3K (Kos, Kantin, Kuliah).
Oleh karena itu, organisasi penting bagi mahasiswa guna menjembatani kebutuhan menjawab relitas sosial yang ada. Organisasi merupakan wadah yang tepat untuk aktualisasi diri, belajar bertanggung jawab, dan mengasah kepekaan sosial. Di samping itu, kuliah pun juga penting karena kuliah di perguruan tinggi merupakan jenjang pendidikan formal di Indonesia yang mesti ditempuh pasca SMA.
Akhirnya, marilah bersama-sama berusaha untuk menjadi mahasiswa yang pinter menata waktu sehingga mampu mensinergikan antara kuliah dan organisasi karena keduanya sama-sama penting. Salam Pergerakan!!!

*kader PMII Komisariat Tarbiyah Kombes Sunan Ampel Cabang Surabaya, semester 3.