metode sosiodrama

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Metode pembelajaran adalah cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajikan pelajaran,baik secara individual atau kelompok.
Oleh karenanya kita sebagai calon guru harus memahami berbagai metode yang dapat untuk menciptakan proses belajar mengajar yang menarik.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat kita kupas pada makalah ini antara lain:
1. Bagaimana konsep metode sosio drama itu?
2. Bagaimana langkah-langkah penyajiannya?
3. Materi apa saja yang cocok dengan metode sosio drama?
4. Apa saja kelebihan dan kekurangan metode sosio drama?
5. Bagaimana RPP yang menggunakan metode sosio drama?

C. Tujuan
Adapun tujuan di buatnya makalah ini adalah agar kita memahami dan bisa menerapkan metode sosio drama ketika proses belajar mengajar.

BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP SOSIO DRAMA/BERMAIN PERAN
1. Pengertian sosio drama/Bermain peran.
Metode sosiodrama dan bermain peranan merupakan dua buah metode mengajar yang mengandung pengertian yang dapat dikatakan sama dan karenanya dalam pelaksanaan sering disilih gantikan. Istilah sosiodrama berasal dari kata sosio = sosial dan drama. Kata drama adalah suatu kejadian atau peristiwa dalarn kehidupan manusia yang mengandung konflik kejiwaan, pergolakan, clash atau benturan antara dua orang atau lebih. Sedangkan bermain peranan berarti memegang fungsi sebagai orang yang dimainkannya, misalnya berperan sebagai Lurah, penjudi, nenek tua renta dan sebagainya.
Sosiodrama dimaksudkan adalah suatu cara mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial
Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Kedua istilah ini (sosiodrama dan bermain peranan), kadang-kadang juga disebut metode dramatisasi. Hanya bedanya kedua metode tersebut tidak disiapkan terlebih dahulu naskahnya.
Kedua metode tersebut biasanya disingkat menjadi metode “sosiodrama” yang merupakan metode mengajar dengan cara mempertunjukkan kepada siswa tentang masalah-masalah hubungan sosial, untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Masalah hubungan sosial tersebut didramatisasikan oleh siswa dibawah pimpinan guru, Melalui metode ini guru ingin mengajarkan cara-cara bertingkah laku dalam hubungan antara sesama manusia.

2. Penggunaan sosio drama/ bermain peran dalam pembelajaran.
Peranan sosiodrama dapat digunakan apabila:
1. Pelajaran dimaksudkan untuk melatih dan menanamkan pengertian dan perasaan seseorang.
2. Pelajaran dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa kesetiakawanan sosial dan rasa tanggung jawab dalam memikul amanah yang telah dipercayakan.
3. Jika mengharapkan partisipasi kolektif dalam mengambil suatu keputusan
4. Apabila dimaksudkan untuk mendapatkan ketrampilan tertentu sehingga diharapkan siswa mendapatkan bekal pengalaman yang berharga, setelah mereka terjun dalam masyarakat kelak
5. Dapat menghilangkan malu, dimana bagi siswa yang tadinya mempunyai sifat malu dan takut dalam berhadapan dengan sesamanya dan masyarakat dapat berangsur-angsur hilang, menjadi terbiasa dan terbuka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya
6. Untuk mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki oleh siswa sehingga amat berguna bagi kehidupannya dan masa depannya kelak, terutama yag berbakat bermain drama, lakon film dan sebagainya.
Bila metode ini dikendalikan dengan cekatan oleh guru, banyak manfaat yang dapat dipetik, sebagai metode cara ini :
1. Dapat mempertinggi perhatian siswa melalui adegan-adegan, hal mana tidak selalu terjadi dalam metode ceramah atau diskusi.
2. Siswa tidak saja mengerti persoalan sosial psikologis, tetapi mereka juga ikut merasakan perasaan dan pikiran orang lain bila berhubungan dengan sesama manusia, seperti halnya penonton film atau sandiwara, yang ikut hanyut dalam suasana film seperti, ikut menangis pada adegan sedih, rasa marah, emosi, gembira dan lain sebagainya.
3. Siswa dapat menempatkan diri pada tempat orang lain dan memperdalam pengertian mereka tentang orang lain.
Sebaliknya betapapun besar nilai metode ini ditangan yang kurang bijaksana akan menjadi nihil. Pada umumnya karena guru sendiri tidak paham akan tujuan yang dicapai, atau guru memilih metode ini walaupun sebenarnya kurang tepat untuk tujuan tertentu. Dapat terjadi guru tidak menyadari pentingnya langkah langkah dalam metode ini.
Saran-saran yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan metode ini:
1. Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan melalui metode ini. Dan tujuan tersebut diupayakan tidak terlalu sulit/berbelit-belit, akan tetapi jelas dan mudah dilaksanakan
2. Melatar belakang cerita sosiodrama dan bermain peranan tersbeut. Misalnya bagaimana guru dapat menjelaskan latar belakang kehidupan sahabat Aku Bakar sebelum menceritakan kisah sahabat Abu Bakar masuk Islam. Hal ini agar materi pelajaran dapat dipahami secara gamblang dan mendalam oleh siswa/anak didik
3. Guru menjelaskan bagaimana proses pelaksanaan sosiodrama dan bermain peranan melalui peranan yang harus siswa lakukan/mainkan
4. Menetapkan siapa-siapa diantara siswa yang pantas memainkan/melakonkan jalannya suatu cerita. Dalam hal ini termasuk peranan penonton
5. Guru dapat menghentikan jalannya permainan apabila telah sampai titik klimaks. Hal ini dimaksudkan agar kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dapat didiskusikan secara seksama
6. Sebaiknya diadakan latihan-latihan secara matang, kemudian diadakan uji coba terlebih dahulu, sebelum sosiodrama dipentaskan dalam bentuk yang sebenarnya.

B. Langkah-langkah penyajian metode sosio drama.
Dalam rangka menyiapkan suatu situasi bermain peran di dalam kelas, guru mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Persiapan dan instruksi
a. Guru memiliki situasi/ dilema bermain peran
Situasi-situasi masalah yang dipilih harus menjadi ”sosiodrama” yang menitikberatkan pada jenis peran, masalah dari situasi pamiliar, serta pentingnya bagi siswa. Keseluruhan situasi harus dijelaskan, yang meliputi deskripsi tentang keadaan pristiwa, individu-individu, yang dilibatkan, dan posisi-posisi dasar yang diambil oleh pelaku khusus. Para pemeran khusus tidak didasarkan kepada individu nyata di dalam kelas, hindari tipe yang sama pada waktu merancang pemeran supaya tidak terjadi gangguan hak pribadi secara psikologis dan merasa aman.
b. Sebelum pelaksanaan bermain peran, siswa harus mengikuti latihan pemanasan, latihan-latihan ini diikuti oleh semua siswa, baik sebagai partisipasi aktif maupun sebagai para pengamat aktif. Latihan-latihan ini dirancang untuk menyiapkan siswa, membantu mereka mengembangkan imajinasinya dan untuk membentuk kekompakan kelompok dan interaksi. Misalnya latihan pantonim.
c. Guru memberikan intruksi khusus kepada peserta bermain peran setelah memberikan penjelasan pendahuluan kepada keseluruhan kelas. Penjelasan tersebut meliputi latar belakang dan karakter-karakter dasar melalui tulisan atau penjelasan lisan. Para peserta (pemeran) dipilih secara suka rela. Siswa diberi kebebasan untuk menggariskan suatu peran. Apabila siswa telah pernah mengamati suatu situasi dalam kehidupan nyata maka situasi tersebut dapat dijadikan sebagai situasi bermain peran. Peserta bersangkutan diberi kesempatan untuk menunjukkan tindakan/ perbuatan ulang pengalaman. Dalam brifing, kepada pemeran diberikan deskripsi secara rinci tentang kepribadian, perasaan dan keyakinan dari para karakter. Hal ini diperlukan guna membangun masa lampau dari karakter. Dengan demikian dapat ddirancang ruangan dan peralatan yang perlu digunakan dalam bermain peran tersebut.
d. Guru memberitahukan peran-peran yang akan dimainkan serta memberikan intruksi-intruksi yang bertalian dengan masing-masing peran kepada para audience. Para audience diupayakan mengambil bagian secara aktif dalam bermain peran itu. Untuk itu kelas dibagi dua kelompok, yakni kelompok pengamat dan kelompok spekulator, masing-masing melaksanakan fungsinya. Kelompok I bertindak sebagai pengamat yang bertugas mengamati: (1) perasaan individu karakter, (2) karakter-karakter khusus yang diinginkan dalam situasi, dan (3) mengapa karakter merespon cara yang mereka lakukan. Kelompok II bertindak sebagai spekulator yang berupaya menanggapi bermain peran itu dari tujuan dan analisis pendapat. Tugas kelompok ini mengamati garis besar rangkaian tindakan yang telah dilakukan oleh karakter-karakter khusus.
2. Tindakan dramatik dan diskusi
a. Para aktor terus melakukan perannya sepanjang situasi bermain peran, sedangkan para audience berpartisipasi dalam penugasan awal kepada pemeran
b. Bermain peran harus berhenti pada titik-titik penting atau apabila terdapat tingkah laku tertentu yang menuntut dihentikannya permainan tersebut.
c. Keseluruhan kelas selanjutnya berpartisipasi dalam diskusi yang terpusat pada situasi bermain peran. Masing-masing kelompok audience diberi kesempatan untuk menyampaikan hasil observasi dan reaksi-reaksinya. Para pemeran juga dilibatkan dalam diskusi tersebut. Diskusi dibimbing oleh guru dengan maksud berkembang pemahaman tentang pelaksanaan bermain peran serta bermakna langsung bagi hidup siswa, yang pada gilirannya menumbuhkan pemahaman baru yang berguna untuk mengamati dan merespon situasi lainnya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Evaluasi bermain peran
a. Siswa memberikan keterangan, baik secara tertulis maupun dalam kegiatan diskusi tentang keberhasilan dan hasil-hasil yang dicapai dalam bermain peran. Siswa diperkenankan memberikan komentar evaluatif tentang bermain peran yang telah dilaksanakan, misalnya tentang makna bermain peran bagi mereka, cara-cara yang telah dilakukan selama bermain peran, dan cara-cara meningkatkan efektifitas bermain peran selanjutnya.
b. Guru menilai efektifitas dan keberhasilan bermain peran. Dalam melakukan evaluasi ini, guru dapat menggunakan komentar evaluatif dari siswa, catatan-catatan yang dibuat oleh guru selama selama berlangsungnya bermain peran. Berdasarkan evalusi tersebut, selanjutnya guru dapat menentukan tingkat perkembangan pribadi sosial, dan akademik para siswanya.
c. Guru membuat bermain peran yang telah dilaksanakan dan telah dinilai tersebut dalam sebuah jurnal sekolah (kalau ada) atau pada buku catatan guru. Hal ini penting untuk pelaksanaan bermain peran selanjutnya.
C. Materi yang cocok dengan metode sosio drama.
Dalam pendidikan agama metode sosiodrama dan bermain peranan ini efektif dalam menyajikan pelajaran akhlak, sejarah Islam dan topik-topik lainnya. Dalam pelajaran sejarah, misalnya guru ingin menggambarkan kisah sahabat khalifah Abu Bakar, ketika beliau masuk Islam. Kisah tersebut tentu amat menarik jika disajikan melalui metode sosiodrma dan bermain peranan. Sebab siswa disamping mengetahui proses jalannya khalifah Abu Bakar masuk Islam, juga dapat menghayati ajaran dan hikmah yang terkandung dalam kisah tersebut.
Demikian pula halnya pada pelajaran akhlak. Misalnya bagaimana sosok akhlaqul karimah (seorang yang berakhlak mulia) dan anak yang saleh ketika berhadapan dengan orang tuanya maupun anak durhaka kepada orang tuanya, misalnya sebagaimana cerita “Si Malin Kundang” yang tersohor itu. Dan lain-lainnya yang bersifat sosiodrama dan bermain peranan.
Untuk penghayatan sifat-sifat tertentu dapat diterapkan metode Sosiodrama dan untuk materi cerita dapat diterapkan metode Roll Playing.

D. Kebaikan dan Kelemahan.
Metode sosio drama selain mempunyai kelebihan juga mempunyai beberapa kelemahan,antara lain:
1. Kelebihan metode sosio drama.
a. Melatih anak untuk mendramatisasikan sesuatu secara kreatif serta melatih keberanian.
b. Menarik perhatian anak sehingga suasana kelas menjadi hidup.
c. Menghayati suatu peristiwa sehingga mudah mengambil kesimpulan berdasarkan penghayatan sendiri.
d. Melatih anak untuk menyusun pikirannya secara teratur
e. Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya
f. Bahasa lisan murid dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami
2. Kekurangan metode sosio drama
a. Sebagian anak yang tidak ikut bermain drama menjadi kurang aktif
b. Memerlukan waktu cukup banyak
c. Memerlukan persiapan yang teliti dan matang
d. Kadang-kadang anak tidak mau mendramatisasikan karena malu
e. Tidak dapat mengambil kesimpulan apabila pelaksanaan dramatisasi gagal
f. Kelas sering terganggu oleh suara para pemain dan penonton yang terkadang bertepuk tangan dan prilaku lainnya.

E. RPP
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Atas (SMA)
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam (Aqidah Akhlak)
Kelas/Semester : XI/I
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit (1 x pertemuan)

A. Standar Kompetensi : Membiasakan prilaku terpupji
B. Kompetensi Dasar : Menampilkan contoh-contoh prilaku taubat dan raja’
C. Indikator :
1. Siswa mampu menunjukkan contoh-contoh prilaku taubat
2. Siswa mampu menunjukkan contoh-contoh prilaku raja’
D. Materi Pembelajaran :
1. Pengertian taubat dan raja’
2. Hikma taubat dan raja’
3. Membiasakan diri taubat dan raja’
E. Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan Belajar Metode Media
Kegiatan pendahuluan
a. Guru memberikan apersepsi, pretest pri-laku terpuji
b. Guru menyampaikan tujuan pembela-jaran yang akan di capai
Tanya jawab

Ceramah

Buku paket PAI dan BKS
Kegiatan inti
a. Guru menyuruh 2 siswa kedepan untuk bermain peran tentang contoh prilaku taubat dan raja’
b. Guru menyuruh siswa untuk mendis-kusikan drama yang tentang taubat dan raja’
c. Guru menjelaskan dan menyimpulkan materi contoh-contoh prilaku taubat dan raja’
d. Guru memberi kesempatan kapada siswa untuk bertanya
Sosiodrama

Diskusi

Cerama

Tanya jawab
Skrip dialog, Buku paket, LKS, buku yang relevan
Kegiatan penutup
a. Guru memberikan post test
b. Guru memberikan motivasi untuk berprilaku taubat dan raja’ dalam kehidupan sehari-hari
Tanya jawab
Ceramah

F. Sumber, Materi dan Bahan
Untuk menunjang pembelajaran, diperlukan hal-hal sebagai berikut:
– Buku paket PAI XI/I
– Lembar Kerja Siswa (LKS)
G. Penilaian
Jenis Penilaian : Performance
Kriteria penilaian :
– Keaktifan dalam diskusi kelompok
– Keaktifan dalam kelas
– Keseriusan dalam kegiatan belajar
Format penilaian
No Keaktifan dalam diskusi Keaktifan dalam kelas Keseriusan belajar

Rubrik penilaian
Tingkat Penilaian Kualifikasi Deskripsi
80 – 100
60 – 79
40 – 59
0 A
B
C
D Siswa memenuhi 3 kriteria
Siswa memenuhi 2 kriteria
Siswa memenuhi 1 kriteria
Siswa tidak ikut serta

Jenis penilaian : Project
Kriteria penilaian :
– Kesesuaian
– Orisinilitas
– Kualitas isi
– Kerapian tulisan
Format Penilaian
No Penilaian
Kesesuaian Orisinilitas Kualitas isi Kerapian tulisan

Rubrik penilaian
Tingkat Penilaian Kualifikasi Deskripsi
80 – 100
60 – 79
40 – 59
20 – 39
0 A
B
C
D
E Siswa memenuhi 4 kriteria
Siswa memenuhi 3 kriteria
Siswa memenuhi 2 kriteria
Siswa memenuhi 1 kriteria
Siswa tidak mengumpulkan tugas

LAMPIRAN 1: URAIAN MATERI

Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat marupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya. Agama Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan dan dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari ampunan Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuat manusia. Bahkan Nabi Muhammad telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi: “Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut).”
Raja’ adalah sura hati seorang untuk mencapai sesuatu yang dicintai’ yaitu Allah SWT. Adanya pengertian tersebut berarti mengingatkan kepada seseorang bahwa dirinya hamba yang lemah dan hendaknya selalau berharap lindungan Alla dalam segala hal
Hikmah taubat antara lain:
1. Mendapat kebahagian/ pahala yang berllipat ganda
2. Mendapat kasih saying Allah karena Allah SWT sangat mencintai orang yang bertaubat
3. Menghapus semua kealahan/ dosa yang telah diperbuatnya
Hikmah raja’ antara lain:
1. Mengharapo rahmat Allah dan tidak mudah putus asa
2. Meningkatklan rasa saling menintai sesame manusia
3. Menjadikan dirinya tenang ,aman, dan tidak merasa takut kepaqda siapapun , kecuali kepada Allah SWT
Membiasakan diri bertaubat pada Allah dilakukan dengan cara menjalankan syriatnya dengan tekun dan tepat waktu serta menjaga diri sepenuhnya untuk tidak mengulangi lagi perbuatan buruk/ jahat.
Membmiasakan diri raja’ (mengharap karunia Allah) harus dilakukan setiap saat. Hal ini menunjukkan bahwa manusia hidup tidak lepas dari godaan dunia baik berupa harta maupun anak, karena terkadang harta dan anak menjadi sumber fitnah. Bentuk raja’ ini berupa doa-doa positif pada Allah agar tetap menjaganya dari godaan syetan yang menyesatkan.

LAMPIRAN II: SOAL

1. Apakah yang dimaksud dengan taubat dan raja’?
2. Sebutkan syarat-syarat orang yang bertaubat?
3. Sebutkan contoh-contoh raja’ yang mempunyai sikap dinamis?

JAWAB
1. Taubat adalah memohon ampun Allah dengan benar-benar menyesali perbuatnya dan tidak akan menulangi lagi kesalahan serupa. Sedangkan raja’ adalah mengharap keridhaan Allah SWT dan rahmanya.
2. Syarat-syarat orang-orang yang bertaubat antara lain:
a. Menyesal terhadap perbuatan maksiat yang telah diperbuat
b. Meninggalkan pernuatan maksiat itu
c. Bertekad dan berjanji dengan sungguh-sungguh tudakl akan mengulangi lagi perbuatan itu.
d. Mengikutinya dengan perbuatan baik karena perbuatan baik akan menghapus keburukan.
3. Diantara contoh-contoh raja’ yang mempunyai sikap dinamis antara lain:
a. Seorang petani akan berusaha agar hasil pertaniannya meningkat
b. Seorang pelajar akan meningkatkan kegiatan belajarnya agar ilmunya bertambah

SOSIODRAMA
CONTOH-CONTOH PERILAKU TAUBAT DAN RAJA’
Deskripsi:
1. Siswa I (Rara) : Siswi yang selalu memaafkan orang lain
2. Siswa II (Intan) : Siswi yang melakukan akhlak tercela

Bel bordering menunjukkan waktu istirahat telah tiba. Semua siswa keluar dari kelas untuk menuju kantin sekolah. Dan tanpa sengaja uang Rara terjatuh dilantai.

Rara : Uangku mana ya? Kok ga’ ada… (Sambil merogoh saku dibaju seragamnya)
Intan : Eh ada uang!!! Uang siapa ya? Kuambil aja deh, dari pada ga’ ada yang ngambil.
Rara : (Mencari uang dalam tas, kemudian bertanya kepada Intan) Tan, tadi kamu
liat uangku jatuh ga’?
Intan : Nggak Ra, aku juga baru dating ke kelas. Emangnya tadi kamu taruh mana?
Rara : Tadi waktu mau kekantin udah aku masukkan saku, eh… Ternyata ga’ ada. Tapi yaudahlah ga’ apa-apa mungkin Allah sedang menguji orang yang kurang bersedekah.he…he…he… (Dengan mimik bercanda).
Dua hari kemudian, Intan kehilangan ciincin pemberian mamanya.
Intan : Aduh, mana ya cincinku?
Rara : Ada apa Tan? Kok panik gitu?
Intan : Cincin pemberian mamaku hilang, padahal itu cincin satu-satunya yang aku punya.
Rara : Oh ya Tan… tadi aku nemuin cincin bermata putih dibelakang pintu kelas. Apa ini punya kamu?
Intan : Iya Ra… makasih banyak ya. Kamu memang temenku yang paling baik.
Rara : Kan udah seharusnya kita tidak boleh mengambil hak milik orang lain.
Intan : (Kemudaian teringat kalau dia pernah mengambil uang Rara dan tidak mengembalikan uang tersebut). Ra, aku mau brekata jujur, tapi kamu jangan marah ya?
Rara : Emang ada apa Tan?
Intan : Sebenarnya beberapa hari yang lalu aku yang nemuin uang kamu, tapi malah ga’ aku balikin ke kamu. Apa mau kamu memafkan kesalhanku?
Rara : Oh… tentang itu! Gak apa-apa kok, ya pastilah aku maafin, Allah aja Maha Pemaaf masa’ aku sendiri ga’ bisa jadi orang pemaaf.
Intan : (Tiba-tiba dalam hatinya bergumam, “aku tidak akan mengulangi perbuatan tercela itu lagi dan bertaubat kepada Allah). Terimakasih ya Ra, kamu memang temanku yang paling baik.
Rara : Sama-sama Tan, kita kan sama-sama makhluk Allah yang harus saling memaafkan.
Intan : (Ya Allah aku berharap semoga aku menjadi manusia yhghgfjhhvhgkukjgjhgkjang lebih baik, dan semoga Engkau mendengar semua permohonan maaf hambaMu ini. Amiin…)
Kemudian mereka berdua saling berpelukan deh…

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Sosiodrama dimaksudkan adalah suatu cara mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan social. Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Kedua istilah ini (sosiodrama dan bermain peranan), kadang-kadang juga disebut metode dramatisasi. Hanya bedanya kedua metode tersebut tidak disiapkan terlebih dahulu naskahnya.
Bila metode ini dikendalikan dengan cekatan oleh guru, banyak manfaat yang dapat dipetik, sebagai metode cara ini :
1. Dapat mempertinggi perhatian siswa melalui adegan-adegan, hal mana tidak selalu terjadi dalam metode ceramah atau diskusi.
2. Siswa tidak saja mengerti persoalan sosial psikologis, tetapi mereka juga ikut merasakan perasaan dan pikiran orang lain bila berhubungan dengan sesama manusia, seperti halnya penonton film atau sandiwara, yang ikut hanyut dalam suasana film seperti, ikut menangis pada adegan sedih, rasa marah, emosi, gembira dan lain sebagainya.
3. Siswa dapat menempatkan diri pada tempat orang lain dan memperdalam pengertian mereka tentang orang lain.
Sebaliknya betapapun besar nilai metode ini ditangan yang kurang bijaksana akan menjadi nihil. Pada umumnya karena guru sendiri tidak paham akan tujuan yang dicapai, atau guru memilih metode ini walaupun sebenarnya kurang tepat untuk tujuan tertentu. Dapat terjadi guru tidak menyadari pentingnya langkah langkah dalam metode ini.
Dalam rangka menyiapkan suatu situasi bermain peran di dalam kelas, guru mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Persiapan dan instruksi
a. Guru memiliki situasi/ dilema bermain peran
b. Sebelum pelaksanaan bermain peran, siswa harus mengikuti latihan pemanasan, latihan-latihan ini diikuti oleh semua siswa, baik sebagai partisipasi aktif maupun sebagai para pengamat aktif.
c. Guru memberikan intruksi khusus kepada peserta bermain peran setelah memberikan penjelasan pendahuluan kepada keseluruhan kelas
d. Guru memberitahukan peran-peran yang akan dimainkan serta memberikan intruksi-intruksi yang bertalian dengan masing-masing peran kepada para audience.
2. Tindakan dramatik dan diskusi
a. Para aktor terus melakukan perannya sepanjang situasi bermain peran, sedangkan para audience berpartisipasi dalam penugasan awal kepada pemeran
b. Bermain peran harus berhenti pada titik-titik penting atau apabila terdapat tingkah laku tertentu yang menuntut dihentikannya permainan tersebut.
c. Keseluruhan kelas selanjutnya berpartisipasi dalam diskusi yang terpusat pada situasi bermain peran.
d. Evaluasi bermain peran
a. Siswa memberikan keterangan, baik secara tertulis maupun dalam kegiatan diskusi tentang keberhasilan dan hasil-hasil yang dicapai dalam bermain peran.
b. Guru menilai efektifitas dan keberhasilan bermain peran.
c. Guru membuat bermain peran yang telah dilaksanakan dan telah dinilai tersebut dalam sebuah jurnal sekolah (kalau ada) atau pada buku catatan guru. Hal ini penting untuk pelaksanaan bermain peran selanjutnya.
Dalam pendidikan agama, metode sosiodrama dan bermain peranan ini efektif dalam menyajikan pelajaran akhlak, sejarah Islam dan topik-topik lainnya.
Kelebihan dan kekurangan metode sosiodrama, antara lain:
1. Kelebihan metode sosio drama.
a. Melatih anak untuk mendramatisasikan sesuatu secara kreatif serta melatih keberanian.
b. Menarik perhatian anak sehingga suasana kelas menjadi hidup.
c. Menghayati suatu peristiwa sehingga mudah mengambil kesimpulan berdasarkan penghayatan sendiri.
d. Melatih anak untuk menyusun pikirannya secara teratur
e. Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya
f. Bahasa lisan murid dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami
2. Kekurangan metode sosio drama
a. Sebagian anak yang tidak ikut bermain drama menjadi kurang aktif
b. Memerlukan waktu cukup banyak
c. Memerlukan persiapan yang teliti dan matang
d. Kadang-kadang anak tidak mau mendramatisasikan karena malu
e. Tidak dapat mengambil kesimpulan apabila pelaksanaan dramatisasi gagal
f. Kelas sering terganggu oleh suara para pemain dan penonton yang terkadang bertepuk tangan dan prilaku lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Joko Tri Prasetya. 2005. Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Pustaka Setia.
Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
http://syaifullaheducationinformationcenter.blogspot.com/2008/11/metode-pengajaranpendidikan-agama.html.
http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_b12.html

Iklan

Metodologi Memahami Islam

islamBAB I

PENDAHULUAN

Sejak kedatangan Islam pada abad ke-13 M hingga saat ini fenomena pemahaman ke-Islaman umat Islam Indonesia masih ditandai oleh keadaan umat variatif, ada sejumlah orang yang pengetahuannya tentang keislaman cukup luas dan mendalam, namun tidak terkoordinasi dan tidak tersusun secara sistematik. Hal ini disebabkan karena orang tersebut ketika menerima ajaran Islam tidak sistematik dan tidak terorganisasikan secara baik. Selanjutnya kita melihat pula ada orang yang penguasaannya terhadap salah satu bidang keilmuan cukup mendalam, tetapi kurang memahami disiplin ilmu keislaman lainnya, hingga saat ini pemahaman Islam yang terjadi di masyarakat masih bercorak parsial belum utuh dan belum pula komprehensif.[1] Dan sekalipun kita menjumpai kita menjumpai adanya pemahaman Islam yang sudah utuh dan komprehensif,[2] Namun semuanya itu belum tersosialisasikan secara merata keseluruh masyarakat Islam.

Untuk kepentingan akademis dan untuk membuat islam lebih Responsif dan Fungsional dalam memandu perjalanan umat serta menjawab berbagai masalah yang dihadapi saat ini diperlukan metode yang dapat menghasilkan pemahaman Islam yang utuh dan komprehensif. Oleh karena itu metode memiliki peranan sangat penting dalam kemajuan dan kemunduran pemahaman Islam. Demikian pentingnya metodologi ini, Mukti Ali mengatakan bahwa yang menentukan dan membawa stagnasi dan masa kebodohan atau kemajuan bukanlah karena metode penelitian dan cara melihat sesuatu.[3] Penguasaan metode yang tepat dapat menyebabkan seseorang mengembangkan ilmu yang dimilikinya. Jika kita meninjau Islam dan satu pandangan saja, maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dan gejalanya yang bersegi banyak.

Dan untuk memahami Islam secara garis besar ada 2 macam pertama Metode Komparasi, yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama lainnya, dengan cara demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. Kedua Metode Sintesis, yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara Metode Ilmiah dengan segala cirinya yang rasional, obyektif, kritis, dan seterusnya dengan metode teologis Normatif. Metode Ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang nampak dalam kenyataan historis, Empiris, dan Sosiologis, sedangkan metodologi teologis normatif digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci.

Metode-metode yang digunakan untuk memahami Islam itu suatu saat mungkin dipandang tidak cukup lagi, sehingga diperlukan pendekatan baru yang harus terus digali oleh para pembaharu. Diantara metodologi-metodologi hasil galian para pembaharu adalah metodologi Tafsir dan Studi Al-Qur’an, metodologi Ulumul Hadist, metodologi Filsafat dan Teologi (Kalam), metodologi Tasawuf dan Mistis Islam. Metodogi inilah yang akan diulas dan dikaji secara mendalam dalam makalah ini dengan tujuan lebih mengenal tentang Metodologi memahami Islam I.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Metode Ilmu Tafsir dan Studi Al-Qur’an

Dilihat dari segi usianya, penafsiran tentang ilmu tafsir termasuk yang paling tua dibandingkan dengan kegiatan ilmiah lainnya dalam Islam. Dengan demikian secara singkat dapat diambil suatu pengertian bahwa yang dimaksud dengan model penelitian tafsir adalah suatu contoh, ragam, acuan atau macam dari penyelidikan secara seksama terhadap penafsiran Al-Qur’an yang pernah dilakukan generasi terdahulu untuk diketahui secara pasti tentang berbagai hal yang terkecil dengannya.

Obyek pembahasan tafsir yaitu Al-Qur’an karena Al-Qur’an merupakan sumber ajaran Islam dan juga pemandu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang lima belas abad sejarah pergerakan umat ini, sekaligus penafsiran-penafsiran itu dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran mereka.

  1. Macam-macam metode penafsiran Al-Qur’an

Menurut hasil penelitian Quraish Sihab, bermacam-macam metodologi dan coraknya telah diperkenankan dan diterapkan oleh pakar-pakar Al-Qur’an metode penafsiran Al-Qur’an secara garis besar dapat dibagi dua bagian yaitu corak Ma’tasur (riwayat) dan corak penalaran. Kedua metode ini dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Corak ma’tsur (riwayat)

Metode ma’tsur (riwayat) tersebut memiliki keistimewaan antar lain:

1) Menekankan pentingnya bahasa dalam memahami Al-Qur’an

2) Memaparkan ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan pesan pesannya.

3) Mengikat musafir dalam bingkai teks ayat-ayat sehingga membatasinya terjerumus dalam subyektifitas berlebihan.

Metode Ma’tsur (riwayat) juga memiliki kelemahan, antar lain:

1) Terjerumusnya sang musafir ke dalam uraian kebahasaan dan kesustraaan yang bertele-tele sehingga pesan pokok Al-Qur’an kabur dialah uraian tersebut.

2) Seringkali konteks turunnya ayat atau sisi kronologis turunnya ayat-ayat hukum yang dipahami.

b. Corak Penalaran

Banyak cara, pendekatan dan corak tafsir yang mengandalkan nalar, sehingga akan sangat luas pembahasannya apabila kita bermaksud menelusurinya. Untuk itu, menurut Al-Farmawi membagi metode tafsir yang bercorak penalaran ini kepada empat macam metode:

1) Metode Tahlily

Metode Tahlily atau yang dinamai oleh Baqir Al-Shadr sebagai metode Tajzi’iya adalah satu metode tafsir yang menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai seginya dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana tercantum di dalam Washuf. Kelebihan metode ini antar lain adanya potensi untuk memperkaya arti kata-kata melalui usaha penafsiran terhadap kosa kata ayat, dan kaidah-kaidah ilmu Nahwu, metode ini, walaupun dinilai luas, namun tidak menjelaskan pokok bahasan, karena seringkali satu pokok bahasan diuraikan sisinya atau kelanjutannya.

2) Metode ijmali

Metode ini disebut juga metode global adalah cara menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan menunjukkan kandungan makna yang terdapat pada suatu ayat secara global. Metode ini sering terintegrasi dengan metode Tahlily karena itu sering kali metode ini tidak dibahas secara tersendiri. Dengan metode ini seorang mufasir cukup dengan menjelaskan kandungan yang terkandung dalam ayat tersebut secara garis besar saja.


3) Metode Muqarin

Metode muqarin adalah metode tafsir Al-Qur’an yang dilakukan dengan cara membandingkan ayat Al-Qur’an yang satu dengan yang lain, atau membandingkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan hadist nabi Muhammad, SAW, serta membandingkan pendapat ulama’ tafsir menyangkut penafsiran Al-Qur’an.

4) Metode maudlu’iy

Metode ini mufasirnya berupaya menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai surat yang berkaitan dengan persoalan atau topik yang diterapkan sebelumnya menurut Quraish Shihab bahwa metode Maudlu’iy mempunyai dua pengertian, pertama, penafsiran menyangkut satu surat dalam Al-Qur’an dengan menjelaskan tujuan-tujuannya secara umum, sehingga satu surat tersebut dengan berbagai masalahnya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan kedua, penafsiran yang bermula dari menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas satu masalah tertentu dari berbagai ayat atau surat Al-Qur’an belikan petunjuk Al-Qur’an secara utuh tentang masalah yang dibahas itu.

  1. Model-model penelitian tafsir

Dalam kajian kepustakaan dapat dijumpai berbagai hasil-hasil penelitian para pakar Al-Qur’an terhadap penafsiran yang dilakukan generasi terdahulu berikut ini akan ada model penafsiran Al-Qur’an yang dilakukan para ulama’ tafsir sebagai berikut:

a. Model Quraish Shihab

Model penelitian tafsir yang dikembangkan oleh H.M. Quraish Shihab lebih banyak bersifat eksploratif, deskriptif, analitis dan perbandingan, yaitu model penelitian yang berupaya menggali sejauh mungkin produk tafsir yang dilakukan ulama-ulama tafsir terdahulu berdasarkan berbagai literatur tafsir baik yang primer, yakni yang ditulis oleh ulama tafsir yang bersangkutan maupun ulama lainnya, data-data yang dihasilkan dari berbagai literatur tersebut kemudian dideskripsikan secara lengkap serta dianalisis dengan menggunakan pendekatan kategorisasi dan perbandingan. Sehingga, Qurasih Shihab telah meneliti hampir seluruh karya tafsir yang dilakukan para ulama terdahulu. Dari penelitian tersebut telah dihasilkan beberapa kesimpulan yang berkenaan dengan tafsir antara lain tentang:

1) Periodesasi pertumbuhan dan perkembangan tafsir

Corak-corak penafsiran

a) Macam-macam metode penafsiran Al-Qur’an

b) Syarat-syarat dalam penafsiran Al-Qur’an

c) Hubungan tafsir modernisasi

b. Model Ahmad Al-Syarbashi

Ahmad Al-Syarbashi melakukan penelitian tentang tafsir dengan menggunakan metode deskriptif, eksploratif dan analisis sebagaimana halnya yang dilakukan Quraish Shihab. Sedangkan sumber yang digunakan adalah bahan-bahan bacaan atau kepustakaan yang ditulis para ulama tafsir seperti Jarir al-Thabari, al-Zamakhsyri, Jalaluddin Al-Suyuthi, dll. Hasil penelitiannya itu mencakup tiga bidang:

1) Mengenali sejarah penafsiran Al-Qur’an yang dibagi kedalam tafsir pada masa sahabat nabi

2) Mengenai corak tafsir

3) Mengenai pergerakan pembaharuan di bidang tafsir

Selanjutnya mengenai gerakan pembaharuan di bidang tafsir, Ahmad Al-Syarbashi mendasarkan pada beberapa karya lama yang muncul awal Ahad ke-20. langkah selanjutnya ia menghimpun dan menambah penjelasan seperlunya dalam sebuah kita tafsir yang diberi nama tafsir Al-Manar yaitu kita tafsir yang mengandung pembaharuan dan sesuai dengan perkembangan zaman.

c. Model Syaikh Muhammad Al-Ghazali

Banyak hasil penelitian yang ia lakukan, termasuk dalam bidang tafsir Al-Qur’an, sebagaimana para peneliti tafsir lainnya, Muhammad Al-Ghozali menempuh cara penelitian tafsir yang bercorak eksploratif deskriptif dan analisis dengan berdasar pada rujukan kita-kitab tafsir yang ditulis ulama terdahulu.

Tentang macam-macam metode memahami Al-Qur’an, Al-Ghozali membaginya kedalam metode klasik dan metode modern dalam memahami Al-Qur’an berbagai macam metode atau kajian yang dikemukakan Muhammad dan Al-Ghozali tersebut oleh ulama lainnya disebut sebagai pendekatan, dan bukan metode, karena sebagai sebuah disiplin ilmu biasanya memiliki metode. Dalam hubungan ini Muhammad Al-Ghozali kelihatannya ingin mengatakan bahwa metode yang terdapat dalam berbagai disiplin ilmu tersebut ingin digunakan dalam memahami Al-Qur’an.

Selanjutnya Muhammad Al-Ghozali mengemukakan adanya metode modern dalam memahami Al-Qur’an metode modern ini timbul sebagai akibat dari adanya kelemahan pada berbagai metode yang telah disebutkan dan digunakan. Muhammad Al-Ghozali mengemukakan ada juga tafsir yang bercorak dialogis, seperti yang pernah dilakukan oleh Al-Razi dalam tafsirnya Al-Tafsir Al-Kabir. Tafsir ini banyak menyajikan tema-tema menarik, namun sebagian dari tema tafsir terebut sudah keluar dari batasan tafsir itu sendiri.

  1. Model penelitian tafsir dan studi Al-Qur’an lainnya.

Banyak penelitiannya dilakukan para ulama terhadap aspek tertentu dari Al-Qur’an diantaranya ada yang menfokuskan penelitiannya terhadap kemu’jizatan Al-Qur’an, metode-metode, kaidah-kaidah dalam menafsirkan Al-Qur’an, kunci-kunci untuk memahami Al-Qur’an, serta ada pula yang khusus meneliti mengenai corak dan arah penafsiran Al-Qur’an. Pada mulanya usaha penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan Ijtihad masih sangat terbatas dan terikat dengan kaidah-kaidah bahasa serta arti-arti yang terkandung oleh satu kosakata namun sejalan dengan lajunya perkembangan masyarakat, berkembang dan tertambah besar pula peranan akal atau ijtihad dalam penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga bermunculan berbagai kitab atau penafsiran yang beraneka ragam. sehingga adanya supaya penafsiran Al-Qur’an sejak zaman Rasulullah SAW, hingga dewasa ini, serta adanya sifat dari kandungan Al-Qur’an yang tersusun menurut memancarkan cahaya kebenaran itulah yang mendorong timbulnya dua kegiatan, yaitu kegiatan-kegiatan penelitian tentang penafsiran yang dilakukan generasi terdahulu dan kegiatan penafsiran Al-Qur’an itu sendiri.

B. Metodologi Ulumul Hadis

Secara bahasa, Hadis berarti khabar yaitu sesuatu yang diperbincangkan, dibicarakan, atau dialihkan dari seseorang kepada orang lain. Secara istilah, Jumhur Ulama’ umumnya berpendapat bahwa Hadis, khabar, dan atsar mempunyai pengertian yang sama, yaitu segala sesuatu yang dinukilkan dari Rasulullah saw., sahabat atau tabi’in baik dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun ketetapan, baik semuanya itu dilakukan sewaktu-waktu saja maupun lebih sering dan banyak diikuti oleh para sahabat.[4] Peneliti-peneliti awal di bidang Hadis diantaranya adalah Imam Bukhori dan Muslim.

1. Beberapa model penelitian Ilmu Hadis

a. Model H. M. Quraish Shihab

Meneliti dua sisi dai keberadaan Hadis, yaitu mengenai hubungan Hadis dan Al Qur’an serta fungsi dan posisi Sunnah dalam tafsir. Bahan-bahan penelitian yang digunakan adalah bahan kepustakaan atau bahan bacaan. Sedangkan sifat penelitiannya adalah deskriptif analitis, dan bukan uji hipotesis.[5]

b. Model Musthafa Al Siba’iy

Penelitiannya bercorak eksploratif dengan menggunakan pendekatan historis dan disajikan secara deskriptif analitis. Yakni dalam sistem penyajiannya menggunakan pendekatan kronologi urutan waktu dalam sejarah.[6]

c. Model Muhammad al Ghazali

Penelitiannya termasuk penelitian eksploratif. Corak penelitiannya bersifat deskriptif analitis.[7]

d. Model Zain Al Din ‘Abd Al Rahim bin Al Husain Al Iraqiy

Penelitiannya bersifat penelitian awal, yaitu penelitian yang ditujukan untuk menemukan bahan-bahan untuk digunakan membangun suatu ilmu.[8]

2. Pembagian ilmu Hadis

a. Ilmu Hadis Riwayah

Ilmu Hadis Riwayah adalah suatu ilmu pengetahuan untuk mengetahui cara-cara penukilan, pemeliharaan, dan pendewanan apa-apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. Baik berupa oerkataan, perbuatan, ikrar, maupun lain sebagainya. Obyek ilmu Hadis Riwayah, ialah bagaimana cara menerima, menyampaikan kepada orang lain, dan memindahkan atau mendewankan dalam suatu Dewan Hadis.

b. Ilmu Hadis Dirayah (Ilmu Mushthalahul Hadis)

Ilmu Hadis Dirayah adalah Undang-Undang (kaidah-kaidah) untuk mengetahui hal ihwal sanad, matan, cara-cara menerima dan menyampaikan Al Hadis, sifat-sifat Rawi, dan lain sebagainya. Obyek ilmu Hadis Dirayah, ialah meneliti kelakuan para Rawi dan keadaan Marwinya (sanad dan matannya).[9]

Cabang-cabang Ilmu Mushthalahul Hadis adalah sebagai berikut:[10]

cabang-cabang yang berpangkal pada sanad, antara lain:

1) Ilmu Rijali’l Hadis

2) Ilmu Thabaqati’r Ruwah

3) Ilmu Tarikh Rijali’l Hadis

4) Ilmu Jarh wa Ta’dil

cabang-cabang yang berpangkal pada matan adalah sebagai berikut;

1) Ilmu Gharibi’l Hadis

2) Ilmu Asbabi Wurudi’l Hadis

3) Ilmu Tawarikhi’l Mutun

4) Ilmu Nasikh wa Mansukh

5) Ilmu Talfiqi’l Hadis

cabang-cabang yang berdasarkan pada sanad dan matan, ialah:

1) Ilmu ‘Ilali’l Hadis

3. Penelitian Sanad dan Matan Hadis

Faktor yang paling utama perlunya dilakukan penelitian terhadap sanad dan matan Hadis, ada dua hal. Pertama, karena beredarnya Hadis palsu (Hadis Maudhu’) pada kalangan masyarakat. Kedua, hadis-hadis tidak ditulis secara resmi pada masa Rasul saw. (berbeda dengan Al Qur’an), sehingga penulisan dilakukan hanya bersifat individual (tersebar di tangan pribadi para sahabat) dan tidak menyeluruh.[11]

Takhrij Al Hadis, merupakan solusi yang perlu terus dikembangkan mengingat dewasa ini banyak bermunculan buku-buku atau kitab-kitab dalam masalah ibadah, akidah, dan akhlak yang menggunakan dalil-dalil Hadis, dengan tidak menyertakan sumber rujukan dan keterangan tentang kualitas hadis-hadis tersebut.[12]

4. Pembagian Hadis secara umum

a. Dari segi jumlah perawinya.

1) Hadis Mutawattir

2) Hadis Ahad

b. Dari segi kualitas sanad dan matan Hadis

1) Hadis Shahih

2) Hadis Hasan

3) Hadis Dhaif

c. Dari segi kedudukan dalam hujjah

1) Hadis Maqbul

2) Hadis Mardud

d. Dari segi perkembangan sanadnya

1) Hadis Muttashil

2) Hadis Munqathi’

C. Metode Filsafat dan Ilmu Kalam (teologi)

Filsafat Islam merupakan salah satu bidang studi Islam yang keberadaannya telah menimbulkan pro dan kotra, sebagai mereka yang berpikiran maju dan bersifat liberal cenderung mau menerima pemikiran filsafat Islam dewasa ini kajian dan penelitian filsafat yang dilakukan para ahli, kiranya dapat diraih kembali kejayaan Islam di bidang ilmu pengetahuan.

Filsafat Islam berdasar pada ajaran Islam yang bersumberkan Al-Qur’an dan hadist, pembahasannya mencakup bidang kosmalogi, bidang metafisika, masalah kehidupan di dunia, kehidupan di akhirat, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya, kecuali masalah zat Tuhan. Filsafat Islam hadir sejalan dengan perkembangan ajaran Islam itu sendiri, pemikiran filsafat Islam dikembangkan oleh orang-orang Islam. Kedudukan filsafat Islam sejajar dengan bidang studi keislaman lainnya. Untuk dapat mengembangkan pemikiran filsafat Islam diperlukan metode dan pendekatan secara seksama.

Berbagai metode penelitian filsafat Islam dilakukan oleh para ahli dengan tujuan untuk dijadikan bahan perbandingan bagi pengembangan filsafat Islam selanjutnya. Diantara adalah sebagai berikut:

2. H. Amin Abdullah: metode deskriptif, pendekatan studi tokoh dengan cara melakukan studi komparatif.

3. Sheila Mc Donough: penelitian kategori kualitatif, corak penelitian deskriptif analitis, pendekatan tokoh dan komparatif studi.

4. Otto Horrossowitz: penelitian kategori kualitatif, metode deskriptif analitis, pendekatan historis dan tokoh.

5. Masjid Fakhry: pendekatan campuran yakni pendekatan historis, kawasan, dan substansi

6. Harusn Nasution: pendekatan tokoh dan pendekatan historis, penelitian deskriptif, penelitian kategori kualitatif

7. Ahmad Fuad Al-Ahwani: metode kepustakaan, corak penelitian deskriptif kualitatif, pendekatan campuran yakni pendekatan historis, kawasan, dan tokoh

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pada umumnya penelitian yang dilakukan para ahli bersifat penelitian kepustakaan, yakni penelitian yang menggunakan bahan-bahan gerakan sebagai sumber rujukannya. Metode yang digunakan umumnya bersifat deskriptif analitis. Sedangkan pendekatan yang digunakan umumnya pendekatan historis, kawasan, substansial.[13]

Berbagai kajian di bidang keagamaan yang dilihat dari segi demikian filosofis nya, maka akan dapat ditangkap dan dihayati makan substansial, hakikat, ini, dan pesan spiritual dari setiap ajaran keagamaan tersebut.

Teologi adalah ilmu yang pada intinya berhubungan dengan masalah ketuhanan. Dengan ilmu ini diharapkan seseorang menjadi yakin dalam hatinya secara mendalam dan mengikatkan dirinya hanya pada alam sebagai Tuhan. Pemikiran teologis memiliki loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta menggunakan bahasa yang bersifat subyektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat.[14]

Secara umum penelitian ilmu kalam ada dua bagian yakni penelitian yang bersifat dasar (penelitian pemula) dan penelitian yang bersifat lanjutan atau pengembangan dari penelitian.

6) Penelitian pemula

a. Abu Mansur Muhammad: mengemukakan riwayat hidup secara singkat dari Al-Maturidy, juga berbagai masalah yang detail dan rumit di bidang ilmu kalam.

b. Al-Imam Abi Al-Hasan: membahas masalah-masalah yang rumit dan mendetail tentang teologi

c. Abd Al-Jabbar Bin Ahmad: membahas secara detail lima ajaran pokok Mu’tazilah dan juga berbagai masalah teologi.

d. Thahawiyah: membahas teologi di kalangan ulama salaf, yaitu ulama yang belum dipengaruhi pemikiran Yunani dan pemikiran lainnya yang berasal dari luar Islam, atau bukan dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah.

e. Al-Imam Al-Haramain Al-Juwainy: membahas tentang penciptaan alam, kitab Tahid, Akidah, kesucian Allah SWT, Ta’wil, sifat-sifat bagi Allah, Illat atau sebab

f. Al-Ghozali: membahas tentang ilmu zat Allah dan kenabian Muhammad SAW.

g. Al-Amidy: membahas sifat-sifat bagi allah, tentang barunya lam, tidak adanya sifat tasalsul dan tentang Imamah.

h. Al-Syahrastani: berbicara tentang Islam, Iman, dan Ihsan, juga berbagai alasan dalam teologi Islam lengkap dengan tokoh-tokohnya

i. Al-Bazdani: mengemukakan tentang perbedaan pendapat para ulama’ mengenai ilmu Kalam.

Dapat disimpulkan bahwa penelitian pemula bersifat eksploratif yakni menggali sejauh mungkin ajaran teologi Islam yang diambil dari Al-Qur’an dan hadsit serta berbagai pendapat yang dijumpai dari para pemikir di bidang teologi Islam. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan doktriner atau substansi ajaran, karena yang dicari adalah rumusan ajaran dari berbagai golongan atau aliran yang ada dalam ilmu kalam.

7) Penelitian lanjutan

a) Abu Zahrah: mengangkat masalah obyek-obyek yang dijadikan pangkal pertentangan oleh berbagai aliran dalam bidang politik yang berdampak pada masalah teologi.

b) Ali Mushthofa Al-Ghurabi: memusatkan penelitiannya pada masalah berbagai aliran yang tedapat dalam Islam serta pertumbuhan ilmu kalam di kalangan masyarakat Islam.

c) Abd Al-Lathif Muhammad Al-‘Asyr: membahas tentang pokok-pokok yang menyebabkan timbulnya perbedaan pendapat di kalangan umat Islam.

d) Ahamd Mahmud Shubdi: berbicara mengenai aliran Mu’tazilah dan aliran Asy’ariyah

e) Ali Sami Al-Nasyr dan Ammar Jam’iy Al-Thaliby: mengungkap tentang pemikiran kau Salaf yang berasal dari tokoh-tokohnya yang menonjol.

f) Harun Nasution: mengemukakan tentang sejarah timbulnya persoalan-persoalan teologi dalam Islam, berbagai aliran teologi Islam lengkap dengan tokoh-tokoh dan pemikirannya.

Dari berbagai penelitian lanjutan tersebut dapat diketahui bahwa penelitiannya termasuk penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang mendasarkan pada data yang terdapat dalam berbagai sumber rujukan di bidang teologi Islam. Corak penelitiannya yaitu deskriptif, yaitu penelitian yang tekannya pada kesungguhan dalam mendeskripsikan data selengkap mungkin. Pendapatan yang digunakan adalah pendekatan historis, yaitu mengkaji masalah teologi berdasarkan data sejarah yang ada dan juga melihatnya sesuai dengan konteks waktu yang bersangkutan. Dalam analisisnya, menggunakan analisis doktrin dan juga analisis perbandingan, yaitu dengan mengemukakan isi doktrin ajaran dari masing-masing aliran sedemikian rupa, kemudian baru dilakukan perbandingan

D. Metode Tasawuf dan Mistis Islam

Mistisme adalah Islam diberi nama Tasawuf dan oleh kaum orientalis barat disebut sufisme. Kata sufisme dalam istilah orientalis barat khusus dipakai untuk mistisme Islam tasawwuf atau sufisme mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan.[15]

Islam sebagai agama yang bersifat universal, menghendaki kebersihan lahirian (dimensi eksoterik), dan keberhasilan batiniah (dimensi esoteric). Tasawuf merupakan salah satu bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada memberikan aspek rohani manusia yang selanjutnya dapat menimbulkan akhlak mulia, di dalam tasawuf, seseorang dibina secara intensif tentang cara-cara agar seseorang selalu merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Terdapat hubungan yang erat antar akidah, Syari’ah dan akhlak. Berkenaan dengan ini telah bermunculan para peneliti yang mengkonsentrasikan kajiannya pada masalah tasawuf. Keadaan ini selanjutnya mendorong timbulnya kajian dan penelitian di bidang tasawuf.

Berbagai bentuk dan modal penelitian tasawuf adalah sebagai berikut:

1) Sayyed Husein Nasr: modal penelitiannya kualitatif, pendekatan tematik yang berdasarkan pada studi kritis terhadap ajaran tasawuf yang pernah berkembang dalam sejarah.

2) Mustafa Zahri: penelitiannya bersifat eksploratif, menekankan pada ajaran yang terdapat dalam tasawuf berdasarkan literatur yang ditulis oleh para ulama terdahulu serta dengan mencari sandaran ada Al-Qur’an dan Al-Hadist.

3) Kautsar Azharri Noor: penelitian yang ditempuh adalah studi tentang tokoh dengan pahamnya yang khas.

4) Harun Nasution: pendekatan tematik, bersifat deskriptif eksploratif.

5) A. J. Arberry: penelitian bersifat deskriptif, pendekatan kombinasi yakni kombinasi antar pendekatan tematik dengan pendekatan tokoh, menggunakan analisa kesejahteraan.

6) Imam Al-Ghozali: penelitian bersifat deskriptif

Berangkat dari uraian tersebut diatas maka tampaknya terdapat tiga modal pendekatan pemikiran tasawuf, yakni pendekatan tematik, pendekatan tokoh, dan pendekatan kombinasi, antar keduanya.[16] Pendekatan tematik adalah penelusuran tema-tema tertentu sebagai jalan untuk dekat pada Allah. Sedangkan pendekatan tokoh adalah mengenai tokoh-tokoh tasawuf tertentu berikut ajaran-ajarannya. Selanjutnya pendekatan kombinasi ialah menggunakan Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagai standar dalam memahami tema-tema dari ajaran tasawuf berikut mengenal tokohnya. Analisanya adalah analisa kesejahteraan yakni memahami berbagai tema berdasarkan konteks sejarahnya.


BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Sejak kedatangan Islam pada abad ke-13 M hingga saat ini fenomena pemahaman ke-Islaman umat Islam Indonesia masih ditandai oleh keadaan umat variatif. Hingga saat ini pemahaman Islam yang terjadi di masyarakat masih bercorak parsial belum utuh dan belum pula komprehensif. Oleh karena itu metode memiliki peranan sangat penting dalam kemajuan dan kemunduran pemahaman Islam. Metode-metode yang digunakan untuk memahami Islam itu suatu saat mungkin dipandang tidak cukup lagi, sehingga diperlukan pendekatan baru yang harus terus digali oleh para pembaharu. Diantara metodologi-metodologi hasil galian para pembaharu adalah metodologi Tafsir dan Studi Al-Qur’an, metodologi Ulumul Hadist, metodologi Filsafat dan Teologi (Kalam), metodologi Tasawuf dan Mistis Islam. Model penelitian tafsir adalah suatu contoh, ragam, acuan atau macam dari penyelidikan secara seksama terhadap penafsiran Al-Qur’an. Penelitian terhadap Hadist dikaji dari segi keautentikannya, kandungan makna dan ajaran yang terdapat didalamnya, macam-macam tingkatannya, maupun fungsinya dalam menjelaskan kandungan Al-Qur’an.. Penelitian yang dilakukan para ahli filsafat bersifat penelitian kepustakaan, yakni penelitian yang menggunakan bahan-bahan gerakan sebagai sumber rujukannya. Metode yang digunakan umumnya bersifat deskriptif analitis. Sedangkan pendekatan yang digunakan umumnya pendekatan historis, kawasan, substansial. Secara umum penelitian ilmu kalam ada dua bagian yakni penelitian yang bersifat dasar (penelitian pemula) dan penelitian yang bersifat lanjutan atau pengembangan dari penelitian. Dalam metode tasawuf, terdapat tiga modal pendekatan pemikiran, yakni pendekatan tematik, pendekatan tokoh, dan pendekatan kombinasi antar keduanya.


DAFTAR PUSTAKA

Raza,, Nasrudin, Dienul (Bandung : Al-Ma’arif, 1977)

Nasution, Harun, Falsafat dan Mistisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973)

Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1998)

Studi Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengantar Studi Islam, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2004)


METODE MEMAHAMI ISLAM I

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Pengantar Studi Islam

Dosen Pembimbing:

Mukhlisin, S.Ag

Disusun Oleh

Ahmad Farih DO1207211

Siti Qurroti A’yuni DO1207214

Iin Fribuati DO1207223

FAKULTAS TARBIYAH

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2007


[1] Lihat Nasrudin Raza, Dienul (Bandung : Al-Ma’arif, 1977), hal. 49-50

[2] Lihat pemahaman Islam yang dikemukakan reformer seperti Muhammad Abdul (pembaharuan dari Mesir) Muhammad Iqbal dan Fazlur Rahman (keduanya pembaharu dari Pakistan), Harun Nasution dan Nurcholis Majid )dari Indonesia)

[3] A. Mukti Ali, op.cit, hal. 44

[4] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hal.237

[5] Ibid, hal.241

[6] Ibid, hal.244

[7] Ibid, hal.246

[8] Ibid, hal.247

[9] Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahu’l Hadis, (Bandung: PT. Al Ma’arif), hal.73

[10] Ibid, hal.77

[11] Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), hal.100

[12] Ibid, hal.104

[13] Ibid, Metodologi Studi Islam, hal.215

[14] Ibid, hal.221

[15] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 56

[16] Studi Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengantar Studi Islam, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2004)