Sejarah Masuknya Islam ke Desa Mbonggah

SEJARAH MASUKNYA ISLAM
DI DUSUN BONGGAH PLOSO NGANJUK

Pada tahun berapa tepatnya Islam masuk di dusun Bonggah Ploso Nganjuk tidak ada yang mengetahui. Namun sebagian orang di dusun mengetahui awal perkembangan Islam. Dikatakan bahwasanya Islam mulai berkembang di Bonggah pada tahun 1940. Orang yang pertama kali mengembangkan Islam di Bonggah adalah K. H. Abdullah Hasyim (mbah Hasyim). Beliau awalnya tidak tinggal di Bonggah tapi di salah satu dusun di Nganjuk entah apa nama dusunnya lupa. Beliau pindah ke Bonggah tepatnya tahun 1940.
Awalnya, Islam yang awalnya memang sudah ada disitu tidak begitu berkembang. Islam belum menjadi budaya disana. Masyarakat masih sangat kental dengan budaya yang berbau mitos. Di dusun tersebut ada satu pohon besar yang dijadikan sesembahan oleh masyarakat setempat walaupun sebenarnya mereka sudah Islam. Setiap tahunnya ada upacara sesembahan yang menyajikan pertunjukan kledek, jaranan, dan ludruk. Di tengah-tengah upacara sesembahan tersebut masyarakat menyediakan sesajen yang diletakkan di bawah pohon besar sesembahan mereka. Di setiap pertunjukan, tidak jarang ada diantara penonton pria yang mendampingi si penari wanita untuk berjoget lalu mabuk oleh karena minuman keras.
Melihat kondisi yang demikian, mbah Hasyim resah dan mulai berpikir bagaimana mengarahkan masyarakat pada budaya Islam dengan tidak membuang budaya mereka. Mbah Hasyim pun mulai mengajak sedikit demi sedikit orang untuk mengkaji al-Qur’an. Seperti model pembelajaran yang umum digunakan waktu itu, mbah Hasyim pun menggunakan merode sorogan. Selain itu mbah hasyim juga mulai mengajak masyarakat untuk mengikuti tahlilan, ceramah-ceramah agama, dan lain sebagainya. Di awal perjalanannya, mbah Hasyim tak gentar meskipun hanya sebagian kecil masyarakat yang megikutinya. Di tengah-tengah upayanya menyebarkan syiar Islam di Bonggah, ada beberapa orang yang datang untuk nyantri kepada beliau. Sebagian besar mereka adalah orang asal Saradan Madiun. Akhirnya beliau pun mendirikan pondok kecil-kecilan yang diberi nama ”Al-Huda” yang berarti petunjuk.
Untuk lebih melancarkan syiar Islam di dusun Bonggah, mbah Hasyim berpikir untuk mendirikan masjid dan hal ini terealisasi pada tahun pada tahun 1964. sebagaimana pondoknya, masjid itu diberi nama ”Al-Huda”. Dengan ini, mbah Hasyim berharap masyarakat Bonggah benar-benar dibukakan pintu hidayah-Nya sehingga bisa menjalankan ajaran-ajaran Islam dengan ikhlas. Satu tahun berikutnya, berdiri musholla ”Mujahidin” yang tidak jauh dari masjid al-Huda. Adapun budaya-budaya tidak islami masyarakat sedikit demi sedikit mulai berkurang bahkan akhirnya hilang.
Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, orang yang berdatangan untuk nyantri kepada mbah Hasyim semakin banyak. Model pengajaran lama yang hanya sistem sorogan dirasa tidak cukup untuk memenuhi tuntutan santri yang haus akan ilmu agama. Untuk itu, pada tahun 1975 beliau mendirikan Madrasah Diniyah yang menampung baik itu santri yang ada di pondok pesantren al-Huda maupun santri sekitar Bonggah. Madrasah diniyah ini berlangsung setelah maghrib hingga pukul delapan malam. Pembelajaran yang ada menjadi lebih sistematis karena ada struktural kepengurusan yang bertanggung jawab atas perkembangan madrasah diniyah tersebut.
Beberapa tahun kemudian mbah Hasyim wafat. Perjuangan penyebaran dan pengembangan ajaran Islam di Bonggah dilanjutkan oleh putra bungsunya, K. H. Ahmad Badrus Sholeh. Kyai Ahmad tidak hanya berdakwah di lingkungan Bonggah akan tetapi juga mengembangkannya hingga ke beberapa dusun sebelah dengan cara mengisi pengajian-pengajian dalam forum kecil-kecilan. Majelis pengajian yang beliau ampu ini ada bermacam-macam, ada majelis pengajian ibu-ibu, ada pula majelis pengajian bapak-bapak.
Usaha beliau yang merupakan terobosan baru adalah mendirikan Taman Pendidikan Al-Qur’an Al-Huda (TPQ Al-Huda) pada tahun 1995. Pada awal berdirinya, jumlah santri tidak lebih dari 50 siswa. Selanjutnya, setiap tahun jumlah santri terus meningkat hingga 200 sampai 300 santri. Hingga saat ini jumlah santri kurang lebih 350 santri. TPQ ini masuk pukul 14.30 sampai pukul 16.15. Selain itu, kyai Ahmad juga menambahkan durasi waktu madrasah diniyah karena menurut beliau porsi ilmu agama yang diperoleh oleh anak jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan ilmu umum yang diperolehnya. Jam diniyah menjadi pukul 18.30 hingga pukul 20.00 bagi kelas bawah (kelas sifir), dan hingga pukul 20.30 bagi kelas atas (tsanawiyah dan aliyah).
Pada tahun 2006, kyai Ahmad bersama putra sulungnya dan Ustadz Imam Mahmud, mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI Al-Huda). Sebagaimana perkembangan yang ada di TPQ dan Madrasah Diniyah, MI al-Huda ini juga berkembang begitu pesat. Melihat perkembangan-perkembangan yang ada bisa disimpulkan bahwa dakwah Islam di dusun Bonggah diterima baik oleh masyarakat setempat, hingga saat ini.

Iklan

MURI nganjuk

Sepuluh Ribu Obor Pecahkan Rekor MuRI
1 Syawal 1429 H adalah hari istimewa bagi semua umat Islam di segala penjuru dunia. Hari raya Idul Fitri adalah momen yang sangat tepat untuk saling memaafkan satu sama lain. Di hari yang fitri ini, semua umat Islam bagaikan bayi yang baru lahir dari rahim sang ibu. Semuanya suci. Terlahir dalam keadaan yang fitri.
Hari raya Idul Fitri juga disebut sebagai Hari Kemenangan. Gema takbir berkumandang dimana-mana, meneriakkan Asma Allah dan mengagungkan kebesaran-Nya. Iringan obor dengan api yang menyala terang membuat suasana semakin meriah.
Semua umat Islam berambisi untuk menyemarakkan hari kemenangan ini. Tak terkecuali warga Nganjuk. Lebaran tahun ini terasa sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, pada malam 1 Syawal 1429 H ini, pemerintah daerah kabupaten Nganjuk melangsungkan Takbir Akbar Sepuluh Ribu Obor.
Takbir ini diikuti oleh siswa-siswi SMP dan sederajat serta siswa-siswi SMA dan sederajat se kecamatan Nganjuk. Adapun rute perjalanan takbir keliling ini adalah Jl. Anjuk Ladang, Jl. Trunojoyo, Jl. Imam Bonjol, Jl. Veteran, serta Jl. Panglima Sudirman dengan start Stadion Anjuk Ladang dan finish Pendopo Kabupaten Nganjuk. Pembukaan dipimpin langsung oleh Bupati Nganjuk, Drs. H. Taufiqurrohmann di Stadion Anjuk Ladang pada pukul 19.00. Perjalanan takbir akbar tersebut diawali oleh satu pleton barisan para Kepala Sekolah kemudian beberapa pleton siswa-siswi SMPN 1 Nganjuk disusul oleh SMPN 2 Nganjuk lalu SMPN 3 Nganjuk hingga yang terakhir, tepatnya no urut 2.., yaitu MAN Nganjuk. Masing-masing siswa membawa satu obor sehingga obor-obor itu pun tampak berjajar rapi bak seekor ular naga yang sedang meliuk-liuk tatkala dilihat dari kajauhan. Terhitung ada lebih dari sepuluh ribu siswa yang berpartisipasi menjadi peserta takbir ini. Jumlah penotonnya pun tak kalah banyak dari jumlah peserta takbir. Bahkan melebihi jumlah penonton karnaval Agustus-an.
Sayangnya, hampir seluruh peserta takbir tidak mengumandangkan takbir dalam perjalanan takbir keliling ini. Yang terdengar hanya bunyi takbir dari suara tape recorder yang diusung mobil ataupun becak yang ada di depan barisan tiap-tiap sekolah. Sehingga yang ada bukanlah Takbir Akbar Sepuluh Ribu Obor akan tetapi hanya sepuluh ribu obor berjalan.
Namun, di sisi lain hal ini dapat dimaklumi. Bisa saja, hanya karena membawa obor menempuh rute yang demikian jauhnya (… km), mereka sudah merasa cukup lelah. Dari Stadion Anjuk Ladang, pemberangkatan berakhir pada pukul 22. .