Sekolah Karbit

ANALISIS KRITIS ARTIKEL

BERJUDUL “SEKOLAH KARBIT” (Mimbar, juni 2008)

Dari artikel berjudul “Sekolah Karbit”, saya bisa mengambil kesimpulan bahwasanya pendidikan saat ini cenderung memaksa anak didiknya untuk menguasai program yang telah dicanangkan sekolah dalam bentuk kurikulum.

Dari judulnya, mulanya saya menangkap bahwa yang dimaksud Sekolah Karbit adalah sekolah yang sedang dalam proses menuju kematangan. Sehingga disitu ada sinergitas antara integritas moral intelektual guru dan murid dalam usaha mencapai sekolah yang benar-benar matang. Namun ternyata yang dimaksud oleh penulis tidak demikian. Yang dimaksud Sekolah Karbit adalah sekolah yang membuat kurikulum yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa. Sekolah membuat program-program sesuai dengan permintaan orang tua siswa. Hal ini justru membuat siswa menjadi merasa terbebani sehingga siswa tidak bisa berkembang secara maksimal. Akibatnya, ke depan siswa tidak menjadi dirinya sendiri, melainkan ia menjadi copian obsesi orang tua. Siswa akan menjadi robot yang bisa dioperasikan sesuai kemauan operator.

Ironisnya, sekolah karbit yang tengah menjamur ini mendapat dukungan positif dari obsesi orang tua. Orang tua saat ini akan merasa bangga bila anaknya diterima di sekolah unggulan, favorit, terpadu, atau plus. Mereka tidak pernah memperhatikan faktor-faktor dan fakta-fakta yang menyebabkan sekolah itu berlabel unggulan, favorit, terpadu, atau plus. Padahal mungkin saja itu hanya merupakan label belaka tanpa bukti nyata.

Dalam lingkup pendidikan Islam, fenomena ini juga terjadi. Banyak lembaga pendidikan Islam yang juga memberikan embel-embel unggulan, favorit, terpadu, atau plus di belakang nama sekolahnya. Misalnya saja ada SDIT. Tidak bisa dipungkiri, hal ini dimaksudkan untuk menarik massa sehingga banyak orang tua yang berminat menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah tersebut. Meskipun sebenarnya mereka, para manajer lembaga, juga menyadari akan ketidaklayakannya memberi label-label semacam itu kepada lembaga pendidikannya.

Sekolah karbit demikian mulai dilirik oleh para pengusaha sebagai bisnis pendidikan karena bagaimanapun pendidikan yang dikelola secara profesional akan mendatangkan keuntungan yang besar. Pendidikan dianggap sangat prospektif.

Alternatif solusi dari permasalahan di atas adalah reorientasi kurikulum. Kurikulum yang merupakan sarana perangkat lunak pendidikan adalah langkah operasional yang menjabarkan konsep pendidikan dalam rangka mencapai tujuannya. Karena kurikulum merupakan konsep operasional suatu konsep pendidikan, maka makna kurikulum menjadi luas, seluas makna pendidikan itu. Dalam hal ini, kurikulum merupakan usaha menyeluruh dari suatu lembaga pendidikan untuk mewujudkan hasil yang diinginkan; atau secara singkat, kurikulum dapat dikatakan sebagai program suatu lembaga pendidikan untuk para subjek didiknya.

Suatu kurikulum biasanya terdiri dari komponen-komponen seperti tujuan yang dilandasi prinsip dasar dan filsafat pendidikan yang dianut, kualifikasi pendidik, masalah subjek didik, materi dan buku teks, organisasi kurikulum, penjenjangan, metode, bimbingan dan penyuluhan, administrasi, prasarana, biaya, lingkungan, evaluasi, pengembangan, dan tindak lanjut. Semuanya dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi suatu proses dan dinamika yang menuju ke arah yang sudah ditentukan.

Dalam pendidikan Islam, paling tidak ada tiga prinsip dalam merancang kurikulum, yaitu (1) pengembangan pendekatan religius kepada dan melalui semua cabang ilmu pengetahuan; (2) isi dari pelajaran-pelajaran yang bersifat religius seharusnya bebas dari ide dan materi yang bersifat jumud dan hampa; serta (3) perencanaan dengan perhitungan setiap komponen.

Akhirnya, dalam menyongsong masa depan, pendidikan seyogyanya lebih ditekankan kepada upaya mengembangkan suatu tipe proses mental yang menetapkan kemampuan hasil didik untuk mentransfer pengetahuan ke masa kininya, menciptakan pendekatan kreatif terhadap pemecahan masalah, mewujudkan verifikasi metodologi penemuan dan kreasi, mewujudkan rehumanisasi dan revitalisasi nilai-nilai budaya dengan tetap bergerak dalam kerangka paradigma pendidikan.

Iklan