jangan marah dan bersabarlah

JANGAN MARAH DAN BERSABARLAH

Senin, 27 Desember 2004, pukul 22.00
Malam semakin larut, aku belum juga beranjak dari meja belajarku. Entah mengapa tugas fisika dari SMA kurasa begitu berat. Ada satu soal yang kurasa sangat sulit. Sudah beberapa rumus coba kuaplikasikan tapi hasilnya nihil semua jawaban yang kuperoleh tidak sesuai dengan opsi yang ada di LKS. Aku teliti kembali mungkin penghitunganku yang salah, dan aku baca lagi pertanyaannya mungkin ada yang salah dalam pemahamanku sehingga aku kurang tepat menggunakan rumusnya. Malam semakin merangkak dan sunyi seolah tak ada satu kehidupanpun yang terjaga. Jangkrik- jangkrikpun enggan bersuara, hanya suara jam dinding di kamarku yang terdengar sangat keras, kedua jarumnya menunjuk tepat angka dua belas. Sementara tugasku belum selesai. Aku pun memilih diam dan termenung daripada mengerjakan soal. Rupanya kejadian tadi sore masih mengganjal di pikiranku.
Senin, 27 Desember 2004, pukul 14.30
Aku mengajar di Taman Pendidikan Al Qur’an ( TPQ ) Al Huda, salah satu Lembaga Pendidikan Al Qur’an di kota Nganjuk. Kegiatan belajar mengajar berlangsung dari jam setengah tiga hingga jam empat lebih lima belas menit sore. TPQ Al Huda mengasuh lebih dari dua ratus lima puluh santri, yang rata- rata masih duduk di bangku TK dan SD. Karena banyaknya jumlah santri maka tidaklah cukup jika semuanya berada di gedung TPQ, yang berukuran 30 x 8 meter. Namun hal itu tidak menghambat kegiatan belajar mengajar di TPQ karena masih tersedia tempat lain  yang bisa digunakan yakni serambi masjid Al Huda, yang terletak di sebelah selatan gedung TPQ Al Huda. Ada tiga kelas yang bertempat di serambi masjid dan salah satunya adalah kelas yang aku pegang. Jumlah santriku tidak lebih dari dua puluh santri.
Tadi sore aku terlalu capek dan pusing karena tugas yang sangat banyak dari guru SMA, ditambah lagi beban hafalan nadzom dari madrasah diniyah Al Huda karena saat itu selain sebagai murid salah satu SMA Negeri di kota Nganjuk dan ustadzah TPQ, aku juga merupakan salah satu santri diniyah Al Huda yang juga satu yayasan dengan TPQ Al Huda tersebut. Sore tadi, emosiku labil, temperamenku naik, aku tidak bisa obyektif dalam menghadapi masalah sehingga jadilah hari ini hari yang paling mengerikan bagi santri- santriku. Sebenarnya aku tidak ada niatan untuk menjadikan mereka sebagai ajang pelampiasan emosiku. Namun apalah daya aku telah lepas kendali. Awalnya santri- santri nampak seperti hari-hari sebelumnya. Seperti biasa tidak semua santri memperhatikan penjelasanku, masih ada saja diantara mereka yang suka ramai, maklum anak kecil. Saat situasi demikian, biasanya aku berusaha menguasai suasana dan berusaha agar mereka bisa tenang dan memahami apa yang kusampaikan. Namun kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan emosi, aku merasa pusing dan stress menghadapi mereka. Aku lepaskan amarahku hingga merekapun ketakutan.
Sepulang dari ngajar TPQ, aku mengambil air wudlu dan sholat ashar. Setelah itu, aku merenung, mencoba menenangkan diri. Aku mulai sadar bahwa apa yang baru saja aku perbuat tadi di TPQ adalah salah. Namun tak bisa diingkari lagi bahwasanya berupaya agar dalam seluruh hidup sama sekali tidak pernah marah adalah mengingkari kodrat kemanusiaan. Sebab amarah merupakan tabiat dasar perwatakan manusia. Maka akupun tak bisa bermimpi untuk bisa nenghindari sepenuhnya. Alangkah arifnya jika pada saat marah, hal itu dilakukan secara proporsional dan fungsional. Dan alangkah ngerinya sekedar membayangkan sebuah amarah yang lepas tak terkendali. Sebab sudah dapat diduga madharat yang bakal diakibatkannya. Tak henti- hentinya aku merenung hingga aku lupa dengan kitab nadzom yang dari tadi cuma aku pegangin. Sang mentari mulai beranjak ke peraduannya, langit senja hendak berlalu. Aku belum menghafal nadzom satupun. Mulai kucoba menghafalnya kata per kata hingga satu nadzom tapi entah mengapa sulit rasanya aku menghafalnya. Tak biasanya aku seperti ini. Ya Rosyid, berikanlah kemudahan pada hamba.
Selasa, 28 Desember 2004, pukul 00.40
Mataku terasa berat untuk tetap terjaga. Aku sudah mulai ngantuk. Tubuhku terasa lelah. Kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Aku tak peduli dengan tugasku dari SMA yang belum juga aku selesaikan. Dengan menyebut nama-Mu Ya Allah hidupku juga matiku.
Selasa, 28 Desember 2004, pukul 07.00
Begitu memasuki ruang kelas aku langsung  menuju ke bangku temanku yang paling genius di kelasku. Seperti biasa dia pasti sudah ngerjain tugas dan siap buat dicopy. Aku mengcopy satu soal yang semalam belum juga kutemukan jawabannya. Beberapa menit kemudian guruku datang. Syukurlah aku sudah selesai ngerjain tugas dan tadi juga sempat minta penjelasan dari temanku yang aku mintai copy-an tugas. Lumayan jelas sich. Jadi aku sudah siap seandainya nanti kebagian ngerjain dan jelasin soal satu yang sulit itu.
Selasa, 28 desember 2004, pukul 14.30
Aku mengajar seperti hari- hari biasa dan tidak seperti hari kemarin. Emosiku mulai stabil. Syukurlah semua berjalan lancar. Semua santriku tampak seperti biasa. Mereka tidak ketakutan lagi seperti kemarin.
Selasa, 28 Desember 2004, pukul 19.30
Jam istirahat madrasah diniyah. Saatnya melaksanakan sholat isya’ berjamaah. Usai sholat, temanku diniyah yang juga salah satu ustadzah TPQ, Iin namanya, dia menyapaku dan sambil melepas mukenanya dia berkata, “Udah do’ain santri-santrinya belum?“. Oh… aku bingung menjawabnya karena aku sadar kalau akhir-akhir ini aku telah lalai mendo’akan mereka. “Belum“ jawabku singkat. Tapi perlahan-lahan aku coba untuk menceritakan semua masalahku ke dia “In, aku kemarin bla bla bla“ aku jelasin semua dengan gambling. “Jadi kamu marahin mereka tanpa alasan yang jelas?“ tanyanya dengan heran. “Iya. Yach… Cuma gara-gara mereka terlalu rame dan nggak merhatiin pelajaran, itu sich udah biasa terjadi tapi nggak tahu kenapa kemarin aku ngerasa ulah mereka itu keterlaluan“ jawabku. “Ya udah, mulai sekarang coba dech do’ain mereka setiap usai sholat” sarannya. “Ya dech, Insyaallah. Do’ain aku supaya bisa istiqomah ya!”. Thet… thet… bel masuk jam kedua berbunyi. Waduh!!! gimana nich? padahal aku belum membereskan mukenaku. Dengan terburu-buru aku dan Iin beranjak ke kelas.
Rabu, 29 desember 2004, pukul 14.30
Aku mulai mendo’akan mereka dan kuharap aku bisa istiqomah. Setelah kejadian itu, aku mencoba tersenyum ramah kepada mereka seperti dulu. Seperti biasa, setelah salam dan membaca do’a iftitah, mereka kupandu membaca jilid bersama-sama dan subhanalloh, santri-santri semuanya membaca padahal biasanya ada yang masih makan snack, masih ngobrol, tidak mau membaca. Tapi kali ini mereka benar-benar lain. Dalam angan aku bertanya, “Apakah mereka takut aku marahi seperti tempo hari?“ lalu aku perhatikan satu per satu dan tidak ada yang terlihat ketakutan bahkan mereka terlihat ramah. Dalam hati aku berucap syukur kepadaNya, “Alhamdulillah! Ya Allah, Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan do’a hamba-Mu. Terimakasih teman! Kau ingatkan aku yang telah lalai melantunkan do’a untuk santri-santri”.
Mungkin benar bahwasanya “Experience is the best teacher“. Aku banyak mendapat pelajaran dari pengalamanku tersebut. Aku tidak boleh mudah marah, tidak mengambil keputusan untuk bertindak saat emosi sedang labil, dan supaya senantiasa bersabar dalam menghadapi cobaan. Dalam hal ini, Allah berfirman :
“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi yang lain. Sanggupkah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.”(Q.S. Al Furqon : 20).
Abu Hurairah pernah bercerita :
ان رجلا قال للنبي صلىالله عليه وسلم اوصيني قال لا تغضب فرد د مرارا قال لاثغضب ( رواه البخارى ومسلم )
Artinya : “Sesungguhnya pernah berkata seorang lelaki kepada Nabi SAW.: Berilah aku wasiat. Maka Rasulullah menjawab : jangan marah! Lantas orang itu pun mengulanginya lagi  hingga beberapa kali. Dan beliaupun tetap menjawabnya: jangan marah!.” (H.R. Bukhori Muslim).
Maka jelaslah, dari berbagai musibah dan cobaan yang datang, terkandung hikmah agar kita bersabar. “Setiap keletihan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, perlakuan jahat, dan kegalauan yang menimpa seorang muslim, hingga duri yang menusuknya sekalipun, semua itu akan menyebabkan Allah menghapuskan kesalahan (dosa-dosanya).” (H.R. Bukhori, Muslim, Tirmidzi, dan Ahmad).

Iklan

8 Komentar (+add yours?)

  1. Asfahul mukhib
    Okt 22, 2009 @ 10:14:41

    hmmmmmmmm………

    Balas

  2. Asfahul mukhib
    Okt 22, 2009 @ 10:19:36

    kok bagus tulisannya…..

    Balas

    • elfalasy88
      Okt 23, 2009 @ 13:26:25

      thanks… masih belajar Bang…

      Balas

      • mukhib
        Nov 02, 2009 @ 04:06:03

        kalo itu udah bagus menurutku,aq gak begitu bisa maen kmpter,
        sampean Ustadzah TPQ ya?
        aq jg ngajar di TPQ di daerahq,TPQ Al-Basyar namanya,
        ngomong2 metodenya apa di TPQ sampean?
        kalo di TPQ yang aku ikut bantu itu pake metode QIRO’ATI.

      • elfalasy88
        Nov 05, 2009 @ 13:33:09

        alhamdulillah iya. metode an nahdliyah… di Nganjuk kok. kl skrg d Sby udah nggak ngajar TPQ. d SBY mayoritas juga qiro’ati

  3. Muhib
    Sep 28, 2010 @ 08:58:27

    hallo………
    blognya bagus………..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: